Disclamer: Naruto and all character is belong to Masashi Kishimoto

Sasuhina, Gaahina fanfiction

Ooc, typo, DLDR

.

.

.

.

.

.

.

.

Happy Reading!

Di lantai 12 gedung Mitzuko Inc. lebih tepatnya di ruang Manajer Produksi terlihat seorang gadis cantik yang bekerja sebagai Asisten Manajer sedang memfokuskan padangannya ke arah layar monitor. Cahaya keemasan mentari pagi yang menembus jendela besar di ruangan itu menyinarinya dengan indah. Suara ketukan jari dengan keyboard terdengar teratur dan sesekali berhenti saat wanita itu melirik pada beberapa berkas di sampingnya.

Hinata, gadis yang sedang memiliki masalah atas kasus korupsi yang dilayangkan pada ayahnya itu tetap mencoba menyemangati dirinya untuk tegar menghadapi hidup ini, meskipun informasi yang ia dapat dari Rumah Sakit kemarin sungguh membuatnya risau. Biaya operasi dan segala pengobatan ayahnya benar-benar membutuhkan dana besar sesegera mungkin dan ia tak tahu harus mencari kemana uang sebanyak itu.

Sambil tetap fokus menyusun laporan biaya produksi bulanan dan laporan ekspansi produk 'Flashy' perusahaannya di Paris, Hinata melirik ke ruangan yang dibatasi kaca transparan di hadapannya, itu ruangan Ino Yamanaka atasannya. Wanita itu sedang dipanggil ke Divisi Marketing.

Hinata menghela napas pelan sesaat.

"Ya Tuhan tolong bantu aku menyelesaikan masalah ini." Bisiknya menatap sendu.

Suara langkah high-heels yang mendekat membuat Hinata menoleh ke samping dan melihat Ino datang dari balik pintu dengan senyum riang di wajahnya.

"Ahhhh... Hinata aku sangat senang."

Ino segera mendekat pada kursi Hinata dan menariknya ke dalam pelukan, membuat gadis bermata amethys itu langsung berdiri dan hanya bisa mengerutkan dahinya bingung.

"Ada apa Ino?" Tanya Hinata memundurkan wajahnya.

"Tadi aku baru saja mendapat informasi dari bagian Marketing. Dan kau tahu? campaign kita bersama Tuan Milkova sukses besar Hinata, karena kepopuleran pria itu di Perancis ekspansi Flashy sukses dan sudah banyak produk yang sold out." Mata Hinata langsung ikut berbinar menatap Ino, dia ikut bahagia akan kabar ini.

"Benarkah? Syukurlah, aku senang mendengarnya."

"Oh astaga, aku sangat bahagia, ini semua juga berkat kerja kerasmu yang berhasil membuatnya menandatangani kontrak itu. Sepertinya kita harus meningkatkan quantitas dalam rencana anggaran produksi kita. Oh ya apa laporan bulan ini sudah selesai?" Tanya Ino, setelahnya wanita itu melepaskan rangkulannya.

"Sedikit lagi aku tinggal membuat rekap laporannya, 30 menit lagi akan kukirim email padamu." Jelas Hinata.

"Baiklah, santai saja kau sudah bekerja keras bersamaku sejauh ini. Terima kasih sudah banyak membantuku yang masih awam menjadi manajer ini." Ucap Ino sambil meraih satu tangan Hinata dan menangkupnya. Wanita itu tersenyum tulus penuh terima kasih.

"Sama-sama aku juga banyak belajar darimu." Jawab Hinata tulus.

"Baiklah, aku akan ke ruangan ku dulu." Ino kemudian bergerak ke bilik kerjanya namun terhenti dilangkah kedua dan segera berbalik kembali pada Hinata.

"Ah ya aku lupa, karena campaign kita ini berhasil aku akan mentraktir semua staf produksi makan-makan sepulang kantor, kau harus ikut ya." Ajak Ino semangat.

"Sepulang kantor?" Tanya Hinata pelan, dia bingung karena sebenarnya hari ini dia memiliki janji temu dan perlu menjenguk ayahnya.

"Ada apa? Kau memiliki rencana? Ayolah semua staf sudah setuju ikut tadi, perayaan ini akan terasa hambar jika kau yang sudah berjasa mengajak Toneri Milkova tidak datang. Ya ya, datang ya." Ekspresi Ino kini memohon dengan lucu.

"Eh, tapi... Sebenarnya aku harus--"

"Ah kau ada kencan ya? Dengan siapa?" Selidik Ino berusaha menggoda Hinata.

Hinata langsung terperanjat dan dengan cepat menggoyangkan kedua tanganya seolah berkata tidak. "Tidak tidak, bukan seperti itu aku..."

Hinata berpikir sebentar, jika dia menceritakan ayahnya yang sedang dirawat maka ia harus menjelaskan lebih jauh, dan ia tak mau orang-orang tahu masalah yang sedang ia hadapi ini. Ia pun tak mau berbohong untuk menutupinya, gadis itu akhirnya menghela napas pasrah.

"Baiklah aku sepertinya bisa ikut, tapi kurasa tidak akan lama." Putus Hinata akhirnya.

"Yeay, oke tenang saja kalau kau mau kencan suruh saja pacar mu itu menjemput ke restauran ya. Aku ingin melihat siapa yang bisa menaklukan gadis cantik ini." Satu mata Ino berkedip menggoda Hinata.

"A-ah Ino, aku belum memiliki pacar." Nada Hinata kebingungan dan malu.

"Tidak usah malu, justru aneh jika kau belum memiliki pacar. Ya meskipun aku sendiri masih jomblo sih hahaha, sungguh menyedihkan. Ya sudah aku kembali bekerja dulu." Lambai Ino dan masuk ke bilik kaca ruang kerjanya yang lumayan luas.

Hinata hanya bisa tersenyum getir, gadis itu kembali duduk ke kursi kerjanya. Ucapan Ino yang membahas tentang pacar tiba-tiba membuat pikiran Hinata melayang pada dua pria yang akhir-akhir ini seakan selalu berada di sekitarnya.

"Astaga, Hinata apa yang kau pikirkan? Kau bahkan bukan siapa-siapa bagi mereka. Oke, fokus berhenti memikirkan mereka terutama Uchiha menyebalkan itu." Hinata menggerutu pelan sambil memainkan pulpen ditangannya. Tapi semua perlakuan pria itu saat memaksanya, saat menatapnya, saat berdebat dengannya, dan saat... oke dia tidak mau menyebut yang satu itu.

Ah sial, kenapa dia harus ditakdirkan bertemu Uchiha Sasuke dalam hidupnya?! jerit Hinata pasrah dalam batinnya. Jika bisa memilih ia lebih baik bertemu lebih awal dengan Jaksa Muda baik hati itu, alias Sabaku No Gaara yang hari ini sudah memiliki janji temu dengannya untuk membahas kasus ayahnya.

.

.

.

Rokkasen Restauran, Shinjuku

Suara desisan daging yang bersatu dengan panasnya alat panggang menjadi pengisi diantara hiruk pikuk beberapa staf produksi Mitzuko Inc. yang sedang berbincang maupun menikmati sajian yakiniku serta barbeque dengan cara memasak sendiri di atas meja masing-masing.

Kini di meja panjang dengan alat panggang yang mampu menampung sekitar 15 orang itu Hinata hanya bisa memperhatikan dalam diam, sesekali gadis itu menjawab pertanyaan dari rekan-rekan staf produksinya yang sedang berbincang. Dia seharusnya menikmati perayaan ini namun hatinya tak tenang karena merasa khawatir akan keadaan ayahnya, dia seolah sedang bersenang-senang.

"Hinata ayo makanlah, ini dagingnya sudah matang." Ino yang sedang berbincang dengan seseorang disampingnya teralihkan karena melihat Hinata melamun, jadi wanita itu menyimpan beberapa potongan daging ke mangkuk kecil Hinata.

"Emh iya terima kasih Ino." Hinata merasa malu sudah ketahuan melamun.

"Hyuga-san, ayo makan saja. Tidak perlu diet-diet, tubuh mu itu sudah ideal." Seorang rekan pria di sebrangnya yang bernama Asahi Tanaka mencoba mengajaknya berbincang.

"A-aku tidak sedang diet Tanaka-san." Jawab Hinata seadanya.

"Kalau begitu makan ya, ini ambilah dagingku juga sudah matang." Pria itu segera menyerahkan potongan daging pada mangkuk Hinata sama seperti Ino, membuat Hinata sedikit melebarkan matanya sambil melirik ke bawah karena kini mangkuknya penuh dengan makanan.

Kami-sama kenapa aku jadi seperti anak kecil yang dipaksa makan, sedih Hinata yang tak tahu bisa menghabiskan makanan itu atau tidak.

Tring Tring

Suara dentingan gelas sake dengan sumpit tiba-tiba terdengar bersamaan dengan Ino yang berdiri diujung meja panjang ini.

"Teman-teman mohon perhatiannya sebentar ya." Ucap Ino membuat semua orang diruangan ini berhenti berbincang dan mulai mengalihkan perhatiannya pada wanita itu, karena mereka sudah menyewa ruang VIP yang terhubung dengan ruang koraoke jadi tidak masalah berbicara sedikit lantang.

"Oke terima kasih untuk perhatiannya. Baiklah sebelum kalian melanjutkan makan aku hanya ingin berbicara sebentar. Perayaan ini aku maksudkan sebagai rasa syukur atas keberhasilan ekspansi dan campaign Flashy di Paris, dan salah satu alas keberhasilan itu adalah karena Toneri Milkova yang menjadi Brand Ambasador kita membuat produk-produk Flashy mudah diterima di kalangan masyarakat. Tapi aku juga ingin mengapresiasi Hinata yang telah mempresentasikan kontrak kerja sama dengan baik berkat kemampuan bahasa Prancisnya sehingga Tuan Milkova setuju menandatangani kontrak. Terima kasih sekali lagi Hinata." Ino sedikit membungkukan badannya menatap Hinata.

"Arigatou Hyuga-san." Semua rekan-rekannya ikut membungkukan sedikit badannya pada Hinata, membuat gadis itu langsung tersenyum canggung dan segera membalas bungkukan beberapa rekannya. Ia merasa itu bukanlah hal luar biasa yang telah ia lakukan, karena pemuda Prancis itu mendesak meminta nomor teleponnya agar mau menandatangani kontrak.

"Jadi dikarenakan sudah banyak produk kita yang sold out dalam masa promo maka kita sebagai Divisi Produksi harus lebih semangat lagi dalam bekerja sebab tingkat produksi akan otomatis meningkat. Jadi mohon bantuan semuanya." Ino memberikan Ojigi dalam bentuk seikere sebagai ucapan rasa terima kasih yang mendalam karena dirinya yang masih baru menjadi Manajer namun para bawahannya sudah begitu banyak membantu.

"Mohon bantuannya juga Yamanaka-san." Semua bawahannya ikut berdiri dan memberikan ojigi juga pada Ino termasuk Hinata.

Setelah pidato singkat Ino mereka kembali melanjutkan acara makan malamnya, namun Hinata sedikit tersentak saat ia merasakan getaran ponsel dari dalam tas di sampingnya.

Aku akan menunggumu, katakan saja pukul berapa kau selesai aku akan menjemputmu. - Gaara.

Ternyata itu adalah pesan dari Gaara, sebelumnya Hinata sudah meminta maaf karena jadwal temu mereka harus sedikit diundur. Sementara Hatake Kakashi yang merupakan Pengacara bantuan dari Pengadilan setempat telah sepakat langsung bertemu di kantor Jaksa, namun Gaara justru menawarkan menjemput Hinata.

Kurasa akan selesai 20 menit lagi, tapi sebaiknya aku pergi dengan Bis saja, aku takut merepotkan mu. Balas Hinata cepat. Tak lama balasan kembali muncul.

Tidak apa-apa, kau berada di Rokkasen Restauran kan? Aku sedang ada pertemuan dan letaknya tak jauh dari sana jadi kita bisa berangkat bersama ke kantorku. - Gaara.

Hinata kembali membaca balasan itu cepat itu dan menghela napas pelan, yah sepertinya tidak ada alasan lagi untuk menolak ajakan baik pria itu.

Baiklah terima kasih Gaara, kalau begitu bisakah kau menjemputku pukul 18.30?

Tentu, sampai bertemu disana Hinata :). - Gaara.

Membaca balasan itu membuat Hinata sedikit tersenyum, pria itu sangat ramah dan sopan padanya, berbeda dengan tampilannya yang begitu berwibawa sebagai seorang Jaksa. Hinata sangat bersyukur Jaksa yang menangani kasus ayahnya adalah orang yang terlihat begitu jujur seperti pria itu.

"Hyuga-san kenapa tersenyum sendiri? Kau sedang kasmaran ya?" Pertanyaan tiba-tiba dari rekan wanita disampingnya membuat Hinata langsung cepat-cepat menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas.

"A-ah tidak Suzuki-san, a-aku hanya..." Hinata bingung harus berkata apa.

"Kau benar Suzuki-san Hinata ini sepertinya ada janji temu dengan pacarnya setelah ini, bahkan tadinya dia tidak akan ikut." Sambung Ino cepat mencoba kembali menggoda Hinata.

"Bu-bukan begitu aku hanya--" Hinata menjawab dengan kikuk namun tiba-tiba sebuah suara bariton menghentikan ucapannya.

"Benarkah? siapa pacar Hyuga itu?" Suara maskulin tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk tepat di belakang tempat duduk rekan-rekan Hinata.

"Sudah kubilang aku tidak memiliki pacar kan, kenapa tidak ada yang percaya?" Ujar Hinata mulai sedikit kesal dengan ekspresi mengerucutkan sedikit bibirnya. Tapi gadis itu kini mengerutkan keningnya karena semua orang di sekitarnya seketika terdiam dan langsung berdiri sambil membungkuk dalam.

Hinata yang keheranan segera melirik ke belakang dan... Astaga! wajahnya langsung panik dan terkejut. "K-k-kau?" Tanya Hinata dengan suara serak begitu syok.

"Selamat datang Uchiha-sama." Ucap seluruh rekan Hinata serentak menyambut Bos Besar mereka, karena semuanya sudah tahu jika perusahaan mereka telah diakuisisi oleh Uchiha Sasuke.

"Hinata ayo sambut Bos kita." Bisik Ino yang masih membungkuk, seakan panik Hinata tidak melakukan penghormatan juga.

Hinata menahan napas antara terkejut dan juga kesal, kenapa pria Uchiha itu harus ada disini sekarang. Baru saja Hinata akan ikut bangkit namun pria itu dengan tenang berjalan mendekat lalu mengangkat satu tangannya seolah berucap tidak perlu terlalu formal, membuat seluruh karyawan itu kembali duduk.

"Duduklah nikmati kembali makanan kalian." Ujar Sasuke dengan nada kepemimpinannya yang dingin namun begitu berwibawa.

"Baik Uchiha-sama." Balas para karyawan itu dan mulai kembali duduk namun sekarang suasana menjadi canggung.

Kini Sasuke sudah berdiri di depan Hinata yang duduk di sisi meja paling ujung. "Jadi benar kau ada rencana berkencan-- Hyuga?" Nada saat pria itu menyebut marga Hinata seakan mengejek.

Pertanyaan Sasuke membuat suasana menjadi semakin hening, di dalam semua benak karyawan itu langsung bertanya-tanya kenapa Bos Besar mereka bisa ada disini dan mengapa pula bertanya hal seperti itu pada Hinata yang hanya bawahan kecilnya.

Hinata mencoba menelan ludahnya dengan tenang karena dirinya kini diliputi perasaan yang mulai panik dan jantung yang begitu bertalu cepat. Entah mengapa perasaan seperti ini selalu hadir jika pria itu ada di dekatnya, perutnya seakan bergejolak mulas. Gadis itu beranikan mengangkat wajahnya menatap Sasuke.

Ia baru ingin mengucapkan sepatah kata namun bibirnya seketika kelu, karena demi Kami-sama kini Uchiha Sasuke berdiri di hadapannya dengan memasukan kedua tangan ke dalam saku celana, berdiri dengan jas dan kemeja formal yang begitu sempurna membentuk tubuh atletis itu. Hinata bisa merasakan lagi aroma musk dan kayu manis serta tatapan mata tajam itu membuat ingatannya tiba-tiba berlari pada moment terakhir mereka bertemu, ya saat dirinya terlena oleh ciuman panas di ruang tamu rumah pria itu.

"Aku-- tidak-- memiliki kekasih, Uchiha-sama." Jawab Hinata akhirnya dengan senyum formal yang seolah terpaksa memanggil Sasuke dengan surfiks -sama.

Sasuke mendegus pelan melihat ekspresi formal Hinata padanya.

"Uchiha-sama silahkan duduk disini, saya akan mengambil tempat duduk yang lain." Ino dengan segera berdiri dan mempersilahkan Sasuke duduk di kursinya. Namun pria itu justru segera menatap ke arah wajah Ino kemudian melirikan pada seluruh karyawan di sana seolah memberi sebuah perintah.

"Ah? Aaahhh..." Pikiran Ino tersendat sesaat mencoba mencerna arti perintah itu, namun karena dirinya yang peka untunglah wanita itu segera mengerti.

"O-oh baiklah." Ino segera berbalik menghadap para bawahannya.

"Oke teman-teman sekarang kita lanjutkan acara untuk koraoke ya. Ayo-ayo cepat sekarang kita ke ruang karaoke." Tangannya dengan cepat memberi isyarat agar semua orang segera berdiri, karena delikan tajam Ino mereka pun hanya bisa menurut dan tak ada yang berani bertanya.

"Eh apa aku harus ikut karaoke juga?" Tanya Hinata bingung dan akan beranjak berdiri.

"Tidak perlu, tidak perlu!" Seru Ino cepat dengan panik.

"Kau habiskan saja ya makanan ini, sayang jika tak habis lagi pula dari tadi kau belum makan dengan benar. Oke baiklah, selamat makan Hinata, Uchiha-sama." Ino dengan cepat membungkuk dan segera pergi mengikuti para bawahannya masuk ke ruang karaoke di dalam ruang VIP itu.

"T-ttapi Ino..." Tangan Hinata ingin meraih wanita itu tapi tidak bisa karena terhalang tubuh tinggi Sasuke dan juga wanita itu yang menghilang begitu cepat.

"Keh... belum berubah. Ternyata kau masih susah makan." Sindir Sasuke yang kini sudah membuka kancing jasnya dan duduk di kursi Ino tadi.

Hinata melirik sedih pada pintu karaoke di depannya yang sudah tertutup dan kembali duduk dengan pasrah.

"Ini makanlah dengan benar, kau itu sangat kurus jangan membuatku melihatmu seperti sumpit berjalan." Sarkas Sasuke sambil menyerahkan salada yang sudah diisi beberapa potongan daging.

"Kenapa semua orang memaksaku makan?" Runduk Hinata dalam sambil berbisik begitu pelan, merasa kesal dan juga bingung dengan situasi ini.

"Terima kasih atas tawarannya Uchiha-sama, tapi aku tidak lapar. Lagi pula untuk apa Bos besar seperti anda tiba-tiba hadir di pertemuan bawahannya?" Tanya Hinata memberanikan menatap wajah penuh pesona itu lagi dengan sindiran yang tersirat.

Sasuke melirik makanan yang berada ditangannya tidak juga diraih Hinata, pria itu akhirnya menyimpan kembali dengan sedikit kesal. Kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi dan melipat kedua tangannya ke dada.

"Kenapa kemarin kau tiba-tiba pergi?" Tanya Sasuke dingin menatap tajam tepat ke arah bola mata amethysnya.

Hinata sedikit tersentak karena pertanyaannya dijawab pertanyaan kembali, apalagi itu pertanyaan yang jawabannya sungguh membuat Hinata kalut.

"Tolong jawab pertanyaanku dulu." Balas Hinata tak mau kalah.

Sasuke menghela napas pelan dan sedikit mengangkat sudut bibirnya, wanita itu kini sudah tak memberikan pandangan hormat saat mereka hanya berdua. Wanita yang langka ia temukan.

"Hanya memantau kegiatan karyawanku." Jawab Sasuke tak acuh sambil mengangkat bahu santai, membuat Hinata membuka mulut tak percaya dengan jenis jawaban semacam itu. Memantau apanya jika sudah diluar jam kerja?! Kesal batin Hinata tapi percuma berdebat dengan pria itu.

"Sekarang jawab pertanyaanku-- Hinata..." Sasuke dengan elegan memajukan tubuhnya dan memandang lekat wajah mungil itu sambil mengucapkan namanya begitu lembut. Menjadikan kini Hinata bisa memandang begitu dekat pria berbahaya ini.

Debaran di hatinya menggila tak karuan lagi. "Jika... saat itu aku tidak pergi, mungkin... sekarang kau sedang tertawa puas karena aku berhasil masuk ke dalam jebakanmu. Mungkin sekarang... Kau tak mau berbicara padaku karena kau akan langsung melupakanku." Bisik Hinata menyiratkan perasaan ketakutan dalam hatinya.

"Apa aku terlihat akan melakukan semua itu padamu?" Tanya Sasuke sedikit tertegun menyadari gadis ini begitu tak percaya padanya.

"Ya, sekarang kau membenci tou-sanku, kau hanya ingin menghancurkanku dengan godaanmu itu. Setelah kau berhasil menjeratku, mungkin kau hanya akan memandang jijik padaku sebagai seorang wanita murahan." Balas Hinata dengan nada sendu namun ia tak takut pada Sasuke.

"Bukankah kita tak akan pernah tahu apa yang akan kita dapatkan sebelum membuka sebuah hadiah?" Jawab Sasuke dengan pengandaian.

"Sebuah hadiah atau justru jebakan yang tak diinginkan." Sahut Hinata.

Sasuke memundurkan wajah dan kembali menyandarkan punggungnya di kursi. "Baiklah, jika kau masih merasa aku akan memberi jebakan padamu. Lalu sekarang pertanyaanku, dari mana kau akan membayar semua denda putusan pengadilan dan ganti rugi pada perusahaan jika aku menang nanti? Sementara kau hanya bergantung pada gaji anak perusahaanku, karena jelas seluruh aset keluargamu yang telah aku sita tidaklah cukup." Tantang Sasuke mengangkat satu alisnya.

Hinata tertohok mendengarnya, benar tak ada lagi aset ayahnya yang tersisa. Entah dari mana akan ia cari uang sebanyak itu, bahkan dana untuk operasi ayahnya saja dia belum punya.

"Gajiku adalah uangmu maka ambilah sebanyak yang kau mau, aku akan menyicilnya seumur hidup jika perlu. Aku bisa mencari pekerjaan part time lain agar setidaknya aku bisa makan." Balas Hinata tak ingin terlihat lemah, meskipun matanya tak dapat menutupi kesedihan yang terpancar.

Hinata segera mengalihkan perhatiannya tak kuat menatap obisidian tajam itu, ia melirik pada jam tangan di lengannya. Ini sudah pukul 18.30 dan Gaara sepertinya sudah berada di depan Restauran.

"Jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku harus pergi. Permisi Uchiha-sama." Hinata dengan cepat berdiri dan membungkukan badan pada Sasuke.

Belum sempat Hinata menjauh tubuhnya seketika tertahan oleh Sasuke yang langsung meraih pergelangan tangannya. "Berhentilah memanggilku dengan sebutan formal seperti itu jika kau hanya bersamaku." Perintah Sasuke cepat.

Lalu tak lama pria itu bergerak bangkit dan kini menjulang tinggi di hadapan Hinata dengan masih menggenggam tangan gadis itu. "Jika aku mencuri barangmu apa kau akan berbuat jahat dan membenci keluargaku?" Tanya Sasuke menatap intens Hinata.

Akibat genggaman tangan yang sedikit erat itu Hinata tak bisa beranjak pergi dan kini justru terpaksa berhadapan dengan Sasuke. Untuk sejenak Hinata mencerna pertanyaan itu tapi akhirnya dia mengerti dan menjawabnya.

"Tidak akan, karena itu bukanlah kesalahan mereka." Ucap Hinata berusaha mempertahankan nadanya agar tak bergetar, karena ia begitu gugup berdekatan dengan Sasuke.

"Begitu pula diriku, kesalahan tou-sanmu adalah hal yang perlu dipertanggungjawabkan. Dan kau bukanlah tempatku untuk melampiaskan kekesalan, aku tak akan mencabut gugatanku karena aku pun ingin tahu semua kebenaran ini. Bukankah kau juga ingin tahu yang sebenarnya?" Tanya Sasuke yang kini menggunakan nada lembut, mencoba sedikit lunak agar wanita itu tak terus menjauh darinya.

Hinata kini tertegun menatap wajah tampan yang menatapnya penuh keyakinan. Kini Hinata sedikit sadar akan pikiran Sasuke, tapi kenapa pria itu selalu memaksa kehendak padanya?

"T-tapi kau selalu memaksaku, kau selalu menggunakan kata-kata yang membuatku percaya bahwa kau adalah musuhku." Jelas Hinata kalut.

"Aku bukanlah pria lemah lembut yang akan menebar kebaikan pada setiap orang. Maaf jika caraku berbicara padamu menyakitimu, tapi aku tak pernah bermaksud seperti itu."

Hinata merunduk, dan berpikir keras sebenarnya ada apa dengan suasana hati pria ini. Tadi dia begitu arogan tapi sekarang menjadi orang yang seperti takut kehilangan sesuatu, dengan pelan Hinata mencoba melepaskan gengaman tangan pria itu. "Maaf tapi sekarang aku benar-benar harus pergi."

Saat Hinata akan berbalik terdengar suara grasah-grusuh dari balik pintu ruang karaoke dan ternyata jika diperhatikan lebih detail pintu geser shoji itu terbuka sedikit dan sudah dipastikan orang-orang di dalam sana bukannya melakukan aktivitas mereka melainkan saling berusaha mengintip dengan bertumpukan badan ingin tahu apa yang terjadi dengan Bos Besar mereka dan gadis Hyuga karyawan baru itu.

Melihat pandangan Hinata yang melirik ke samping membuat Sasuke mengikutinya dan sadar ternyata mereka sedang menjadi tontonan. "Ekhmm..." Dehaman keras Sasuke membuat celah pintu itu dengan cepat langsung tertutup rapat kembali.

Di dalam ruangan itu beberapa orang langsung bergerak panik. "Kami-sama mati kita, Bos tahu tadi kita sedang mengintip tadi hua..." Ucap salah seorang karyawan dengan panik.

"Salahmu membuka pintu terlalu lebar." Jitak seorang karyawan wanita pada teman prianya.

Ino hanya bisa memutar matanya malas melarang bawahannya itu, karena sebenarnya dirinya juga ingin tahu.

Kembali lagi pada Hinata yang mengabaikan hal itu, biarlah nasi sudah menjadi bubur mungkin setelah ini seluruh isi kantor akan bergosip tentang dirinya.

"Kau akan pergi kemana? Biar kuantar." Tawar Sasuke dari belakang Hinata.

"Tidak perlu, sudah ada yang menjemputku." Ucap Hinata kembali berjalan dengan mengabaikan Sasuke, gadis itu berjalan ke arah ruang Karaoke dan mengetuk perlahan sebelum membukanya. Dia membungkuk dan berpamitan pada Ino dan rekan-rekannya akan pergi lebih dulu, karena pintu yang terbuka ada beberapa karyawan yang terlihat oleh Sasuke membuat mereka menunduk takut saling menyembunyikan wajah.

Setelah kegiatan pamit selesai Hinata kembali lagi berjalan melewati Sasuke dan keluar dari ruang makan VIP itu.

"Siapa yang menjemputmu? Kau benar-benar akan pergi berkencan?" Desak Sasuke sambil terus mengikuti Hinata berjalan keluar dari restauran.

"Arigatou gozai-masu." Ucap seorang penerima tamu begitu Hinata dan Sasuke keluar dari restauran. Hinata mengangguk pelan lalu berdiri di area teras restauran sementara Sasuke kini berdiri di sampingnya.

"Kau benar-benar memiliki waktu untuk berkencan?" Tanya Sasuke lagi dengan nada tak percaya.

Hinata menghela napas lelah lalu menatap Sasuke. "Aku tidak memiliki waktu untuk hal seperti itu, jika kau mau tahu aku akan pergi ke kantor Jaksa. Informasi seperti ini tidak penting kan untukmu?" Jawab Hinata cepat lalu pandangannya ia alihkan kembali mencoba mengamati sekitar mencari keberadaan mobil Gaara.

Kemudian tak lama terlihat mobil BMW Silver memasuki area parkiran restauran. Begitu Gaara selesai memarkirkan mobilnya dan membuka pintu Hinata segera melambaikan tangannya agar pria itu mengetahui keberadaannya, mata jade hijau pria itu langsung menangkap kehadirannya dan tersenyum kemudian mulai berjalan mendekat.

"Sungguh? Haruskah kalian berangkat bersama?" Tanya Sasuke curiga.

Sambil tetap memperhatikan Gaara yang mendekat, Hinata menjawab. "Gaara menawarkan ku pergi bersama karena dia tadi sedang ada pertemuan di sekitar sini. Dia adalah Jaksa yang menangani kasus ini, dan sudah sewajarnya aku serta pengacaraku bertemu dengannya untuk membahas itu bukan? Bukankah kau dan pengacaramu seharusnya juga begitu?" Tanya Hinata menatap risih, membuat Sasuke langsung terbungkam. Ya tentu saja sama, hanya saja bawahannya yang melakukan itu semua untuknya.

Pria gagah dengan surai merah bata cepaknya itu berjalan dengan langkah sedikit lebar tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok gadis yang belakangan ini selalu ia pikirkan itu, tapi setelah cukup dekat dengan pintu Restauran senyuman pemuda itu memudar disertai langkah kaki yang menjadi perlahan menyadari siapa pria yang berdiri di samping gadis yang ia kagumi itu.

Dengan perasaan berat hati Gaara tetap mendekat dan memaksakan senyumnya menatap Hinata dan berusaha mengabaikan pria yang telah membuatnya kesal saat itu.

"Hinata, maaf jika membuatmu menunggu lama." Sapa Gaara sambil tersenyum sopan, saat gadis itu akan maju dan membalas sapaannya Sasuke langsung melangkah ke depan Gaara. Menguarkan aura arogannya dan menatap Gaara begitu tajam.

"Ada apa Uchiha-san? Anda ingin melarang lagi Hinata untuk pergi denganku? Maaf tapi kali ini tidak bisa, aku membawa surat tugas dan pertemuan ini lebih penting dari keinginanmu." Jawab Gaara mengangkat dagunya, tak gentar akan ancaman dari pandangan Sasuke.

Hinata sudah akan menjauhkan kedua pria itu namun Sasuke tiba-tiba berucap.

"Menyetirlah dengan hati-hati!" Nadanya dingin namun terdengar helaan pasrah seolah kali ini ia mengalah tak ingin memaksa Hinata lagi. Pria itu terus menatap tajam kearah Gaara dengan pesan tersirat agar tidak macam-macam dengan Hinata.

Hinata yang mendengar itu sedikit melebarkan matanya terkejut, ia kira Sasuke akan mengancam seperti waktu itu lagi. Akhirnya pria itu mundur selangkah membiarkan Hinata mendekati Gaara.

"A-aku permisi." Ucap Hinata akhirnya sedikit membungkuk ke arah Sasuke dengan nada bergetar karena masih tak percaya.

"Hm." Angguk Sasuke pelan seolah begitu terpaksa merelakan kepergian Hinata. Diikuti anggukan Gaara yang mencoba tetap bersikap sopan padanya.

"Kami permisi." Lalu Gaara mempersilahkan Hinata berjalan lebih dulu.

Hinata mulai berjalan di samping Gaara, tapi Demi Tuhan entah mengapa dirinya begitu ingin berbalik melihat ekspresi Sasuke yang kini berdiri sendirian. Dan begitu ia menolehkan sedikit wajahnya hatinya seketika tertegun. Pria Uchiha itu masih disana tanpa mengalihkan sedikit pun pandangan darinya, mata mereka bertemu sepersekian detik namun dengan cepat Hinata alihkan. Kenapa tatapan intens pria itu seolah mengusik hatinya?

Hinata mulai bertanya-tanya dalam hati, kenapa pria itu terlihat begitu menginginkannya? Dia tidaklah spesial. Apa sebenarnya yang pria itu inginkan?

Akibat memikirkan ekspresi Sasuke, Hinata tak sadar Gaara sedang berbicara padanya hingga tak terasa gerimis tiba-tiba datang membuat mereka segera berlari kecil ke arah mobil Gaara. Dan dengan baik hati pria itu membuka setengah jasnya untuk menutupi kepala Hinata sambil berlari.

Melihat adegan itu Sasuke mendengus kesal lalu memutar matanya malas.

"Ternyata pria itu cukup menantang sebagai sainganku. Tch..." Sasuke berdecih kesal menatap ke arah Gaara. Pria itu akhirnya menghubungi supirnya agar membawa mobil ke depan pintu restauran.

.

.

.

Setelah sampai di depan mobil, Gaara dengan cepat membukakan pintu untuk Hinata.

"Silahkan Hinata." Ucap Gaara.

"Terima kasih Gaara." Hinata segera masuk agar menghindari gerimis yang semakin deras. Setelah memastikan Hinata masuk pria itu dengan cepat menyusul ke sisi pintu kemudi dan masuk ke dalam mobil.

"Apa bajumu basah? Maaf aku tak tahu akan hujan jadi tak membawa payung saat keluar." Ucap pria itu sambil memperhatikan Hinata yang sedang merapihkan rambut panjangnya yang sedikit basah.

Dengan cepat Hinata menatap pria di sampingnya yang justru keadaannya lebih parah darinya. "Gaara aku yang seharusnya meminta maaf padamu, jasmu jadi basah karena menutupi kepalaku. Maaf merepotkan mu." Ujar Hinata tak enak.

Gadis itu segera merogoh sapu tangan dari dalam tas kerjanya dan mengusap-usap bagian jas Gaara yang telah basah di beberapa tempat dengan panik, ya meskipun sepertinya hal itu tak akan berpengaruh apa-apa.

SET

Tiba-tiba pemuda itu meraih tangan Hinata membuat pergerakan gadis itu terhenti. Hinata yang bingung menatap pada bola mata zamrud itu seolah bertanya, namun pikiran kedua orang itu berbeda.

Hinata seketika sadar ternyata tangannya telah berani menyentuh Gaara, kepanikan melandanya. "Astaga, maafkan aku. Aku tidak bermaksud lancang, aku--"

"Tidak, jangan berpikir seperti itu. Maksudku tidak perlu repot, jasnya akan kugantung nanti juga kering." Balas Gaara dengan senyum menenangkan agar gadis di depannya itu tidak semakin merasa bersalah.

"Ah, ba-baiklah kalau begitu." Tangan Hinata mulai menjauh dan kini ia simpan di atas kedua pahanya, dan Gaara mulai membuka jasnya lalu menggantung di belakang jok mobilnya.

"Ayo kita pergi." Sebelum pria itu melajukan mobilnya ia lirik kembali Hinata yang kini hanya merunduk namun rona merah di pipinya begitu kentara terlihat membuat seulas senyum di bibir Jaksa tampan itu terlihat. Hinata adalah obat ampuhnya melepas penat.

.

.

.

Mereka akhirnya sampai di ruang kerja Gaara, Hinata sudah duduk di sebrang meja kerja Jaksa muda itu didampingi pengacaranya Hatake Kakashi.

"Sebelumnya aku ucapkan terima kasih telah datang untuk panggilan pemeriksaan kali ini. Dari keterangan Rumah Sakit tentang kondisi kesehatan Tuan Hyuga yang telah Hatake-san berikan padaku sebelumnya sepertinya peluangnya untuk segera sadar cukup kecil. Disana tertera bahwa beliau belum melakukan runtutan operasi sebagaimana yang dibutuhkan." Jelas Gaara menatap kedua orang itu bergantian, namun tatapan rasa bersalah tertangkap dari bolah mata Hinata.

"Dari tanggal surat pemanggilan Tuan Hyuga secara sah sebagai tersangka hanya tersisa 4 hari lagi dari 14 hari sebelum aku harus menyerahkan berkas perkara ke pengadilan, dan jika persidangan telah dimulai putusan pengadilan hanya dapat ditunda maksimal 1 bulan jika terdakwa sakit keras seperti ini. Jadi apakah dalam jangka waktu tersebut kalian bisa memastikan kapan Tuan Hyuga bisa sadar?" Tanya Gaara khawatir.

"Setelah berbicara dengan Dokter yang menangani Tuan Hyuga, 3 kali operasi pertamanya harus segera dilakukan dan mungkin setelah operasi itu dalam beberapa hari bisa segera sadar tergantung kondisi tubuhnya namun tetap masih memerlukan perawatan intens." Kakashi mencoba menjelaskan.

"Jadi apakah ada hal yang membuat operasi itu tertunda?" Tanya Gaara mengangkat alis.

Hinata menelan ludahnya dengan susah payah, dan segera menjawab Gaara. "Ti-tidak ada, a-aku hanya sedang berkonsultasi dengan Dokter kapan kondisi Tou-sanku kuat untuk melakukan operasi. Ta-tapi jangan khawatir setelah ini aku akan berbicara pada Dokter agar segera melakukan operasi." Hinata memaksakan senyumnya.

Namun sejujurnya dalam hati gadis itu merasa begitu sesak, ia merasa menjadi anak yang begitu tidak berguna karena belum bisa mengumpulkan uang untuk operasi ayahnya. Tapi setelah ini akan ia lakukan apapun demi kesembuhan ayahnya.

"Syukurlah kalau begitu, namun jika dalam 4 hari Tuan Hyuga belum sadar dan tidak bisa memberikan keterangan di persidangan maka Hinata harus hadir sebagai saksi dan perwakilan Tuan Hyuga. Nanti aku akan memberikan surat pemanggilan sidangnya, mungkin kalian bisa mempersiapkan eksepsi (bantahan atas gugatan) dari sekarang." Saran Gaara.

"Ba-baik kami mengerti. Terima kasih Gaara, aku harap kasus ini menemukan titik terang." Tatap Hinata penuh harap.

Pria itu memberikan tatapan simpati, memang ada beberapa celah jika Hiashi bukanlah pelaku penggelapan dana proyek itu, namun bukti-bukti yang lain lebih memberatkannya. Kini hanya tergantung pada beberapa penjelasan saksi yang sudah Gaara kumpulkan, dan kesaksian pria itu sendiri untuk membantah alur waktu tindak pidananya.

"Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengungkap semua kebenarannya." Balas Gaara memberikan keyakinan pada Hinata.

"Baiklah terima kasih atas penjelasannya Sabaku-san, saya hanya berharap dengan kondisi Tuan Hyuga yang seperti itu penyidikan ini dapat dipertimbangkan untuk dihentikan, apalagi jika Tuan Hyuga tidak bisa memberikan penjelasan apapun maka rasanya sangat tidak adil jika Pengadilan nantinya membuat keputusan yang bisa saja merugikan client saya. Jika tidak ada yang perlu dibahas lagi kami pamit undur diri. Saya dan Hinata akan mulai berdiskusi untuk bukti-bukti eksepsi kami." Kakashi berdiri diikuti Gaara lalu mereka berjabat tangan, begitu pula dengan Hinata.

Gaara mengantar mereka keluar sampai pintu ruang kerjanya, saat Hinata akan pergi pria itu memanggilnya. "Hinata, tunggu. Setelah ini kau akan kemana?"

Gadis yang dipanggil itu menoleh kembali pada Gaara. "Em tadinya aku akan langsung ke Rumah Sakit menjenguk Otou-sanku, tapi sepertinya aku harus berdiskusi terlebih dahulu degan Hatake-san. Ada apa?" Tanya Hinata sedikit bingung.

"Ini sudah malam, jika kau butuh tumpangan hubungi saja aku. Malam ini aku akan berjaga disini bersama rekan-rekan timku." Gaara memberikan senyum hangatnya.

Hinata tersenyum atas kebaikan pria itu. "Tidak apa-apa Gaara, tidak perlu menghawatirkanku. Gunakanlah waktumu untuk beristirahat dan menyelidiki kasus ini, aku mengandalkan mu."

"Aku takut terjadi apa-apa denganmu di jalan jika sudah selarut--" belum sempat Jaksa muda itu menyelesaikan ucapannya rekan timnya Samui memanggil dari ruang sebelah.

"Gaara kemarilah, kau harus melihat berkas ini."

"Ah sepertinya aku harus pergi, kau sudah dipanggil dan Hatake-san sedang menungguku. Sampai jumpa." Hinata segera melambaikan tangannya.

"Baiklah, sampai jumpa. Hubungi aku jika kau membutuhkan bantuan." Sahut Gaara sedikit keras melihat Hinata yang mulai menjauh. Dia belum rela berpisah dengan gadis itu.

"Tentu." Kekeh wanita itu berbalik sebentar ke arahnya sambil terus berjalan. Setelah Hinata tidak terlihat pria itu menghela napas lelah sebelum masuk ke dalam ruangan Samui.

Setelahnya Hinata dan Kakashi berdiskusi, gadis itu memberikan semua keterangan waktu yang dia ingat saat ayahnya memiliki janji temu, Kakashi menjelaskan bukti apa saja yang telah pria itu temukan untuk meringankan gugatan dan memberitahu cara Hinata agar menjawab nanti di pengadilan harus seperti apa. Setelah diskusi yang cukup panjang itu berakhir Hinata segera pergi ke Rumah Sakit.

.

.

.

Sesampainya di Rumah Sakit Hinata menatap pilu pada kaca ruang perawatan ICU tempat ayahnya berbaring. Masih sama, pria tua itu masih begitu kritis. Berbagai alat penunjang kehidupan masih membelenggu tubuh rapuhnya.

"Gomenasai Tou-san, Hinata belum bisa mengumpulkan uang sebanyak itu, maafkan Hinata yang tidak berbakti ini hiks..." Air mata kesedihan begitu saja mengalir, batinnya begitu terluka dan lelah atas semua kejadian ini. Ibunya yang meninggal, ayahnya yang koma, biaya operasi, dan tekanan dari musuhnya Uchiha Sasuke.

"Ta-tapi tou-san tidak perlu khawatir, Hinata akan lakukan apapun untuk kesembuhan tou-san. Hinata mohon bertahanlah sebentar lagi Hinata akan mendapat biaya operasi itu." Gadis itu segera menghapus riak air di sudut matanya lalu duduk di kursi pengunjung.

Ia berusaha menarik napas agar tenang dan mulai berpikir jernih cara pertama agar mendapatkan uang, ia mengecek di pencarian ponselnya syarat melakukan pinjaman pada Bank. Ternyata gaji saja sebagai jaminan saat ini tidak cukup harus ada aset juga, dan masalahnya dia tak memiliki aset apapun karena semuanya telah disita oleh Perusahaan Uchiha.

Tidak mungkin ia meminjam pada Ino atau Gaara, karena pada dasarnya mereka bukanlah siapa-siapa Hinata. Jikapun diberi pinjaman akan memakan waktu yang sangat lama untuk Hinata bisa melunasinya ia tak mau menjadi benalu untuk orang. Dan jalan keluar gila lainnya adalah menerima tawaran Sasuke tapi dia tidak ingin melakukan itu.

Gadis itu merunduk pasrah, "Kami-sama kumohon tolong aku." Bibirnya ia gigit menahan getaran tangis yang serasa ingin keluar kembali. Ditengah kesedihannya tak sengaja ia mendengar obrolan dua orang yang lewat di depannya.

"Hei memangnya tadi sepupumu itu sakit apa?"

"Hmmh, sebenarnya dia baru saja di operasi, tapi bukan dia yang sakit. Dia mencangkokan ginjalnya untuk orang."

"Hah? Kau serius kenapa bisa?"

"Yeah katanya dulu dia mendaftarkan organnya ke organisasi yang sering mencari pendonor, dan kau tahu? Keluarga si penerima donor membayar sepupuku dengan sangat mahal. Aku tak tahu harus senang atau sedih untuknya."

"Hahaha benar juga, dia menolong orang sekaligus menjadi kaya. Tapi kuharap sepupumu akan baik-baik saja ke depannya."

"Aku harap juga begitu."

Mendengar obrolan itu seketika Hinata terdiam, dia menatap ke depan dengan gundah dan linangan air mata yang tertahan. Haruskah? Itu sangat beresiko tapi sekarang apapun akan ia lakukan demi ayahnya, kesembuhan ayahnya lebih penting agar kasus ini bisa segera terselesaikan.

Dengan helaan napas berat Hinata mencoba duduk tegak dan meraih kembali ponselnya. Mulai mencari informasi tentang organisasi yang biasa mencari pendonor, setelah ketemu Hinata bisa bernafas sedikit lega karena setidaknya lokasi mereka masih di sekitar Tokyo. Mungkin besok setelah selesai kerja ia akan mendatangi organisasi itu.

"Kami-sama, aku harap ini bukanlah jalan yang salah." Bisiknya pilu, gadis itu melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul 11 malam.

"Sepertinya aku tidak bisa pulang, bis terakhir sudah pergi. Kurasa aku akan menunggu Tou-san saja malam ini, dan mengambil keberangkatan pertama, ya itu masih cukup untuk pulang dulu lalu pergi bekerja." Ujarnya menyakini dirinya, berusaha memaksakan senyumnya meskipun ia tahu hidupnya sedang tidak baik-baik saja.

Sekitar 20 menit Hinata terduduk sambil sesekali menatap kembali pada jendela perawatan Ayahnya, hingga akhirnya gadis itu mengantuk dan mencoba untuk tidur dalam posisi duduk.

Saat gadis itu sudah mulai terlelap terdengar suara langkah sepatu yang perlahan mendekat dan berhenti di dekat Hinata. Orang itu kemudian duduk di sampingnya, dengan perlahan menatap lekat wajah damai Hinata yang sedang tertidur, bahkan saat gadis itu hampir terjatuh ke depan dia segera menangkapnya dan untunglah Hinata tidak sampai terbangun. Dengan hati-hati tangan pria itu menyimpan kepala Hinata agar bersandar pada bahu tegapnya.

"Jika tak ada orang lain untuk kau jadikan sandaran, maka akulah yang akan berada disisimu." Bisik pria itu dalam dengan sungguh-sungguh.

Tangan maskulin itu mencoba sedikit merapihkan rambut indigo Hinata, sehingga kini terlihat jelas sisi wajahnya. Garis wajah yang begitu indah bagi orang itu.

"Setiap kali aku melukaimu dengan kata-kata ku, sebenarnya aku sedang melukai diriku sendiri. Hanya kumohon, jangan membahayakan dirimu sendiri dan pedulikan kondisi tubuhmu. Saat waktunya tiba nanti kuharap kau akan mengerti segalanya." Dia menatap sendu wajah Hinata yang terlihat begitu kelelahan.

"Percayalah aku begitu peduli padamu." Pria itu meraih tangan Hinata lalu ia kecup pelan, merasakan kelembuatan tangan kecilnya. Dia tak melepas genggaman tangan itu, terus ia dekap sambil mulai menyandarkan tubuhnya mencari posisi agar Hinata lebih nyaman.

Dia mulai bercerita tentang kegiatannya hari itu, tentang menyebalkannya rapat tadi, tentang seorang karyawan yang membuatnya kesal, dan lainnya yang sangat jarang ia ceritakan pada orang lain. Meskipun tak ada tanggapan sama sekali dari gadis disampingnya pria itu tersenyum kecil.

"Terima kasih, atas waktumu." Ujarnya tulus, lalu satu tangannya meraih ponsel untuk menghubungi supirnya agar segera menghampirinya. Dan tak berapa lama supir itu tiba di dekatnya.

"Permisi, Uchiha-sama. Ini barang-barang yang Anda minta. Apa anda akan bermalam disini?" Tanya seorang supir yang mendekat sambil membawa paper bag berisi beberapa barang.

"Tidak, aku akan pulang." Pria yang ternyata adalah Uchiha Sasuke itu meraih isi paper bag dan mengeluarkan bantal leher lalu dengan hati-hati memasangkannya pada Hinata, membuat gadis itu kini bersandar dengan nyaman pada sandaran kursi Rumah Sakit. Tak lupa dengan selimut kecil yang pria itu sampirkan pada pundaknya.

"Aku tahu kau akan memakiku jika terbangun dan melihatku ada disampingmu. Maka dari itu aku akan pulang, sekarang aku tenang meninggalkanmu." Bisik Sasuke menatap wajah tertidur Hinata sebelum beranjak pergi.

"Uchiha-sama apa tidak apa-apa meninggalkan Nona Hyuga sendirian disini?" Tanya supir bernama Ebisu itu yang sudah menemani Sasuke selama bertaun-tahun.

"Kau tahu aku tak pernah benar-benar meninggalkannya sendirian kan?" Lirik Sasuke penuh arti, yang dijawab anggukan mengerti Tuan Ebisu.

"Baiklah, sekarang ayo pergi." Lanjut Sasuke.

Meninggalkan Hinata dalam tidurnya yang nantinya akan membuat gadis itu bertanya-tanya dari siapa barang yang melekat di tubuhnya itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To be continue

Finaly...

After a thousand year, i can continue this story. After every drama like losing plot, energy, and idea for this story I decide to finish this.

Really strugling too remember the plot, character, and everythin. Hope people who ever read this story want reread again, and I hope this chapter satisfied you guys...This is really a shame for me to let this story left behind, i feel bad about that. But i will try to fix it with all my best. So enjoy!

Thanks for reading

Ps: next chapter is tomorrow

By Chichiyulalice