Disclamer: Naruto and all character is belong to Masashi Kishimoto

Sasuhina Gaahina fanfiction

Alternatif Universe

Ooc, typo, DLDR

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Happy Reading!

Suara deringan alarm dari ponsel di dalam tas Hinata membuat gadis itu tersentak sesaat lalu terbangun. Kelopak mata putihnya mengerjap beberapa kali sampai kesadarannya benar-benar kembali, gadis itu mengusak matanya pelan lalu mulai menyadari kini terdapat selimut dan bantal leher yang melekat ditubuhnya.

"Milik siapa ini?" Tanyanya lirih, tapi karena dering alarm yang terus meminta perhatian ia segera rogoh benda pipih itu dan mengecek jam yang tertera disana.

"Sudah pukul 4.45, ada waktu 15 menit untukku berjalan ke halte Bis terdekat agar mendapat perjalanan pertama." Ujarnya, namun ia menatap bingung kembali pada selimut dan bantal leher itu. Dan saat ada seorang suster yang lewat di hadapannya Hinata segera bertanya.

"Permisi suster, apa selimut dan bantal ini diberikan rumah sakit untuk penjaga pasien?" Tanya Hinata ragu.

Sang suster menatap Hinata dan barang-barang itu tak mengerti. "Kurasa tidak, kami tidak menyediakan hal semacam itu disini."

"Ah begitu, baiklah terima kasih." Angguk Hinata sopan.

"Baiklah, sama-sama." Suster itu pun kembali berjalan, meninggalkan Hinata dalam keadaan termenung.

"Siapa yang memberikan ini padaku?" Keningnya berkerut bingung namun samar-samar ingatannya seolah mendengar suara seorang pria yang berbicara dalam tidurnya. "Itu mimpi ataukah...?"

"Ah entahlah, kubawa dulu saja barang-barang ini." Hinata pun bergegas merapihkan selimut dan bantal itu ke dalam tasnya. Gadis itu berdiri dan mengecek kembali ruang perawatan Ayahnya melalui kaca, untunglah monitor yang memperlihatkan kondisi tekanan darah dan pernapasan pria itu masih normal.

"Otou-san aku pergi bekerja dulu, jangan khawatir hari ini aku pasti akan mendapat biaya operasi untuk Tou-san. Bertahanlah." Bisik Hinata yang menatap pilu pada kondisi ayahnya.

Kemudian gadis itu pergi ke kamar mandi sebentar dan dilanjutkan pulang untuk bersiap bekerja.

.

.

.

Pukul 7.30 Hinata akhirnya sampai di meja kerjanya, ia melihat ke bilik kerja Ino dan ternyata wanita itu belum datang. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa nanti jika diberi pertanyaan tentang kejadian kemarin, ia bahkan tak tahu untuk apa Sasuke datang berbicara padanya disana.

Perasaan Hinata tambah tidak enak karena sejak dia memasuki gedung kantor ada beberapa karyawan yang diam-diam memperhatikannya seolah menilai dan membicarakannya. Ia tak mengerti apa yang mereka pikirkan, tapi sepertinya kejadian kemarin menyebar dengan cepat, ia takut jika masalah ayahnya akan ada yang mengungkit disini.

Tak ingin terus gelisah Hinata mencoba membuat teh ke pantry sebelum jam kerjanya dimulai. Tapi saat ia akan masuk ke ruang pantry terdengar obrolan dari dua orang wanita di dalam sana.

"Hei kau tahu tidak? Temanku Hanare dari Divisi Produksi semalam bercerita, saat divisi mereka kemarin sedang makan-makan tiba-tiba saja Bos baru kita Uchiha Sasuke datang."

"Kau serius? Untuk apa pimpinan atas seperti itu datang di acara makan-makan karyawannya?"

"Mereka juga tidak mengerti kenapa Uchiha-sama bisa tahu acara mereka, tapi yang membuat ini akan menjadi gosip panas adalah ternyata dia ingin berbicara berdua dengan pegawai baru yang bernama Hyuga Hinata, kau bayangkan itu? Aaahh... Jika aku yang didatangi aku akan langsung pingsan."

"Wah beruntungnya gadis itu, tapi memang mereka membicarakan apa?"

"Entahlah tidak ada yang mendengar pasti, tapi menurut Hanare itu terlihat seperti pembicaraan serius dan gadis Hyuga itu seolah menolak berbicara. Lalu ada juga rumor yang berkata ayah gadis Hyuga itu sedang terjerat hukum dan merugikan perusahaan Uchiha."

"Merugikan perusahaan Uchiha? Apa ayahnya seorang koruptor? Sayang sekali kalau seperti itu, sepertinya Uchiha-sama justru mendatanginya untuk menagih hutang hahaha."

"Hahaha kau benar, siapa yang ingin berdekatan dengan wanita yang ayahnya sudah merugikan usahanya."

Semua pembicaraan itu membuat Hinata terdiam kaku di tempat, ia gigit bibirnya menahan sakit hati. Gadis itu tak bisa masuk ke dalam sekarang jadi ia segera bergegas kembali ke dalam ruangannya.

Hinata menutup pintu ruangannya cepat lalu bersandar dengan helaan napas yang menyesakkan dada di sana.

"Otou-san belum tentu bersalah, aku yakin itu. Otou-sanku bukanlah orang yang seperti mereka kira." Hinata berbisik pilu, jika Ino tau kebenaran ini apakah wanita itu masih mau menerimanya bekerja?

Suara dari layar monitor yang menyala membuat Hinata tersentak, ternyata Ino sudah berada di meja kerjanya.

"Ohayou Hinata, tadi kau kemana?" Wanita itu berdiri dan menyapanya. Untuk sesaat gadis itu menatap tak mengerti, kenapa Ino masih bisa terlihat ramah.

"O-ohayou Ino, aku tadi ke pantry." Jawab Hinata pelan.

"Ah benar juga, kurasa aku juga ingin membuat kopi pagiku. Oh ya untuk hari ini tolong olah data Daftar Kegiatan Produksi ya." Ino mendekati meja Hinata dan memberikan beberapa dokumen.

"Hei kenapa diam saja di sana?" Tanya Ino merasa aneh. Gadis itu pun mulai berjalan mendekat dan memaksakan senyumnya.

"Emm Ino, mengenai kejadian kemarin apa kau-- tak merasa aneh?" Cicit Hinata memandang was-was. Ino terdiam sebentar lalu terdengar gelak tawa darinya.

"Ahahaha tenang saja Hinata, aku tak terlalu suka ikut campur. Memang aneh jika Bos Besar seperti Uchiha-sama tiba-tiba datang untuk berbicara denganmu, tapi itu privasimu jadi selama tak mengganggu pekerjaan tak apa-apa. Jika kau tak ingin bercerita tak masalah." Ino mengedipkan matanya membuat Hinata seketika tersenyum lega.

"Ino... Terima kasih telah mengerti." Ucap Hinata penuh syukur.

"Sepertinya kau merasa tidak nyaman karena mendengar gosip dari karyawan lain ya? Biarkan saja, orang-orang memang suka bergosip kan? nanti juga mereka lupa. Yasudah aku ke pantry dulu ya." Ino melambaikan tangannya lalu berjalan ke pintu keluar.

Setelah kepergian Ino, Hinata berusaha mengenyahkan kegundahannya dan mulai melakukan rentetan pekerjaan serta mengolah data yang Ino minta tadi.

.

.

.

Setelah makan siang ada suatu pesan yang masuk ke ponsel Hinata, saat ia mengeceknya ternyata itu pesan dari Toneri. Pria itu akhirnya ingat untuk menghubunginya.

Bonjour belle, ou peut-être après-midi à Tokyo. Est-ce que je te manque? (Selamat pagi cantik, atau mungkin siang di Tokyo. Apa kau merindukanku?) - Mr. Milkova.

Hinata sedikit mengernyit kenapa pria ini bertanya seperti itu, dia sebenarnya merasa tak nyaman dengan pertanyaan itu tapi sebisa mungkin ia harus sopan pada kolega.

Bonjour monsieur Milkova, j'espère que vous allez bien. (Selamat pagi Tuan Milkova, saya harap anda dalam keadaan baik.)

Il semble que tu sois timide pour dire que je me manque. Mais ce n'est pas grave car dans une semaine tu viendras à Paris pour l'inauguration du pop up store Flashy? (Sepertinya kau malu-malu untuk mengatakan rindu padaku. Tapi tidak apa-apa karena seminggu lagi kau akan datang ke paris kan untuk acara Grand Opening Pop Up Store Flashy?) - Mr. Milkova.

Melihat balasan Toneri, Hinata segera meneliti data pada Daftar Kegiatan Produksi perusahaannya, dan ternyata benar ada rincian produk yang harus dikirimkan ke Paris untuk Grand Opening Pop Up Store Flashy, sepertinya Ino dan dirinya memang harus pergi ke sana sekalian meninjau tempat penyimpanan stock barang.

Je pense que dès que M. Malkova, a dit félicitations pour votre succès en tant qu'ambassadeur de la marque Flashy. Merci pour le dur travail. (Kurasa begitu Tuan Milkova, ngomong-ngomong selamat atas suksesnya anda menjadi Brand Ambasador Flashy. Terima kasih atas kerja kerasnya.) Hinata membalas hanya sebatas untuk menghargai pekerjaan pria itu namun disisi lain sepertinya Toneri berpikir lebih.

Quand nous nous reverrons plus tard, me ferez-vous un cadeau de félicitations? (Saat bertemu nanti maukah kau memberikan hadiah selamat untukku?) - Mr. Milkova.

Jawaban Toneri membuat Hinata mengigit bibir risau, pria ini seolah berusaha mencari kesempatan padanya dan ia tak mau didekati seperti ini.

Bien entendu, notre entreprise se fera un plaisir de vous offrir un cadeau. Désolé, M. Milkova, j'ai un travail urgent en ce moment, à la prochaine. Bon après-midi. (Tentu perusahaan kami akan dengan senang hati memberi hadiah untukmu. Maaf tuan Milkova saat ini saya sedang ada pekerjaan yang mendesak, sampai jumpa di lain kesempatan. Selamat siang.) Setelah membalas itu dengan cepat ia mengembalikan ponselnya ke dalam tas dan menghela napas. Pria selalu membuatnya pusing, sama halnya dengan pria Uchiha menyebalkan itu yang membuatnya kini digosipi seisi kantor.

"Astaga, kenapa pikiranku tiba-tiba mengingatnya?" Hinata memijit dahinya, kesal pada pikirannya sendiri yang selalu terganggu akan sosok Sasuke.

"Tidak, pria itu bukanlah siapa-siapa. Jangan membuat dirinya mempengaruhi mu." Sambung Hinata mencoba meyakinkan dirinya sendiri, lalu ia segera kembali melakukan pekerjaan.

.

.

.

Jam kantor akhirnya selesai, setelah Ino dan dirinya berpamitan gadis itu segera menuju halte bis untuk mendatangi lokasi organisasi yang mencari para pendonor. Dari informasi yang ia dapat tempatnya berada di Distrik Odaiba, jadi ia hanya perlu menaiki dua kali rute bis.

Setelah sampai di tempat tujuan Hinata melihat gedungnya cukup terang dan bersih, untunglah tidak seburuk yang gadis itu bayangka. Dia sebenarnya masih ragu apakah organisasi legal atau tidak namun setidaknya ia harus mencoba.

Saat masuk dirinya langsung disambut seorang wanita ramah berumur sekitar awal 30an yang bertanya apa keperluannya.

"Apa benar disini organisasi yang biasa mencari para pendonor organ?" Tanya Hinata ragu.

"Ya benar, kami membantu seluruh jaringan Rumah Sakit di Jepang yang sedang mencari pendonor. Biasanya kami melayani untuk pendonoran darah, dan organ dalam dengan cara yang aman." Sang wanita menjelaskan dengan ramah.

"Kalau begitu aku ingin mengajukan sebagai pendonor." Balas Hinata pelan sambil mencoba memantapkan hatinya.

"Ah senang mendengarnya, lalu apa yang anda ingin daftarkan untuk didonorkan?" Tanya kembali sang petugas wanita.

"Em a-ano sebenarnya aku belum tahu apa yang ingin ku donorkan, ji-jika bisa apakah disini ada yang menyediakan bayaran dengan cepat? Jika ada aku akan menerimanya." Hinata menatap khawatir petugas wanita itu takut dirinya akan diusir karena langsung meminta bayaran.

Sang petugas terdiam sebentar seakan berpikir, namun akhirnya berbicara. "Pada umumnya setiap pendonor akan kami periksa dulu kondisi fisiknya, misalkan saja jika kau ingin mendonorkan ginjalmu kami akan memasukan data kondisi organmu ke dalam sistem database kami lalu jika ada Rumah Sakit yang cocok kau akan dihubungi jadi itu memerlukan waktu. Tapi..." Wanita itu menjeda ucapannya dan mendekati wajah Hinata lalu berbisik pelan.

"Kita juga menawarkan pendonoran secara ilegal dengan pembayaran yang cepat." Setelah berkata seperti itu sang wanita memundurkan wajahnya dan menatap Hinata dengan senyum formalnya kembali.

"Pendonoran apa itu?" Tanya Hinata tak mengerti.

"Sel telurmu, saat ini banyak sekali pasangan yang sulit memiliki anak dan sel telur yang sehat sangat dibutuhkan dengan segera jadi itu tak perlu melakukan pencocokan data. Tapi pencangkokan ini biasanya menimbulkan beberapa efek samping, namun itu setimpal dengan bayarannya. Disini kami bisa menjamin kau pasti mendapatkan bayaran yang sesuai." Jelas sang wanita lagi mulai mencoba menilai reaksi Hinata.

"A-apakah dengan mendonorkan itu aku masih bisa hamil?" Nadanya mulai bergetar ketakutan.

"Setelah operasi tentu saja kami akan memberikan obat dan suplemen kesuburan untukmu dan sejauh ini belum ada penelitian yang mengatakan tidak bisa memiliki anak. Menopause dini dan lainnya mungkin menjadi efek jangka panjangnya, tapi prosedur disini sudah cukup aman dan juga kau akan berjasa telah menolong pasangan yang ingin memiliki anak. Jadi ini win win solution bukan?" Tawar sang wanita ceria.

Hinata menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba berpikir apakah ini adalah jalan yang benar atau tidak? Tapi jika ia tak melakukannya ia tak tahu lagi dari mana akan mendapat uang sebanyak itu dengan cepat.

"Bayarannya akan sekitar ¥800,000. Bagaimana apa kau tertarik? Kebetulan sekarang sedang ada Dokter yang berjaga, kau akan diminta menunggu sekitar 30 menit untuk meminum obat agar menghasilkan sel telur yang lebih banyak saat pengangkatan."

"¥800,000?" Ulang Hinata dengan nada syok, nominal itu lebih dari cukup untuk seluruh proses operasi ayahnya yang membutuhkan sekitar ¥750,000 (sekitar 99juta rupiah).

'Kami-sama semoga pengorbanan untuk ayahku ini bukanlah langkah yang salah' batin Hinata sedih. Dia menarik napas sebentar sebelum memantapkan hatinya.

"Ba-baiklah, aku akan menerima tawarannya." Jawab Hinata mencoba menyemangati dirinya. Wanita di depannya tersenyum lalu bergerak memberikan kertas dan pulpen untuknya.

"Kalau begitu silahkan isi formulir ini terlebih dahulu, disana tertulis syarat dan ketentuannya kau bisa membacanya kembali untuk memastikan. Jika sudah siap ikut aku ke ruang praktik di belakang ya."

"Baik, terima kasih." Hinata mengambil formulir itu lalu duduk di kursi yang disediakan, gadis itu membaca seluruh ketentuannya dan untunglah tidak ada yang menyimpang. Setelah menandatangi dokumen itu Hinata diajak ke belakang lalu diberikan beberapa obat, wanita itu meninggalkannya sendirian untuk memberikan waktu bagi Hinata meminum obat.

Mata amethysnya menatap ragu beberapa butir obat yang disimpan pada meja di depannya, ketakutan sedikit menghantuinya. Ia menarik napas sebelum mengambil obat itu.

"I-ini demi Otou-san." Lirihnya khidmat bagaikan mengiringi dengan doa.

Saat tangan lentik itu akan memasukan obat ke dalam mulutnya tiba-tiba terdengar dering panggilan dari ponsel di dalam tas membuat gerakannya terhenti. Hinata melihat keterangan nama yang meneleponnya dan mengernyit bingung, 'Untuk apa pihak Rumah Sakit menghubungiku apakah terjadi sesuatu pada Tou-san?' batin Hinata risau.

"Moshi-moshi... Ya ada apa?" Tanya Hinata takut.

"Moshi-moshi Nona Hyuga ini dari bagian Administrasi Medical Center Tokyo, kami ingin memberi tahu bahwa ayah anda terpilih sebagai penerima bantuan dana pengobatan dari Dinas Sosial. Sebelumnya kami sudah mendaftarkan beberapa pasien yang memiliki kekurangan dana dan hari ini Dinas Sosial memberikan daftarnya. Jika bisa diharap anda segera ke rumah sakit untuk menandatangani persetujuan operasi ayah anda." Jelas suara di sebrang sana.

Penjelasan itu membuat Hinata tercengang dan untuk sesaat tak bisa berkata apa-apa. 'Kami-sama inikah bantuan darimu?' batin Hinata hampir menangis karena bahagia.

"Nona Hyuga, halo anda masih disana?"

"A-ah iya, te-terima kasih. Sekali lagi terima kasih atas infonya, aku akan ke sana sekarang juga." Balas Hinata cepat dengan nada bergetar.

"Baiklah, selamat sore."

"Selamat sore."

Setelah sambungan terputus Hinata segera keluar dari ruangan praktik dan menuju ke meja resepsionis tadi.

"Ma-maaf tapi sepertinya aku tidak jadi melakukan pendonoran. Sekali lagi maafkan aku. Aku harus segera pergi." Ucap Hinata panik dan merasa bersalah.

"Eh tapi kenapa?" Tanya petugas wanita itu bingung.

"Tidak apa-apa hanya saja sekarang aku belum butuh uang itu. Sekali lagi terima kasih atas penjelasannya aku pergi dulu." Hinata membungkuk sebagai permintaan maaf dan salam perpisahannya. Wanita penjaga itu membalas bungkukan Hinata dengan pandangan yang masih kebingungan.

"Ah, baiklah. Sampai jumpa."

Hinata segera keluar dari gedung berlantai dua itu dan langsung kembali menuju halte bis. Untunglah begitu dia sampai bertepatan dengan bis yang datang.

"Otou-san tunggu Hinata." Hinata tersenyum dengan raut wajah menahan haru dan bahagia, sebutir air mata lolos begitu saja karena dia begitu lega.

.

.

.

Sesampainya di Rumah Sakit Hinata segera menuju meja administrasi, petugas disana menjelaskan jenis bantuan tersebut akan menanggung hingga Ayahnya benar-benar sembuh. Hal itu semakin membuat Hinata terharu, bahkan hampir menangis lagi di meja administrasi.

Tapi gadis itu mencoba menahannya dan mendengarkan penjelasan petugas tentang operasi yang sudah dijadwalkan oleh Dokter. Setelah menandatangani dokumen persetujuan operasi Hinata berbicara dengan dokter, dan menurut Dokter saat ini kondisi ayahnya kembali kritis sehingga runtutan operasi pertamanya bisa dilakukan malam ini juga. Gadis itu mengantar saat ranjang ayahnya didorong ke dalam ruang operasi, ia menyatukan kedua tangannya dan berdoa yang terbaik untuk ayahnya saat pintu ruang operasi mulai tertutup.

Hinata berjalan ke kanan kiri begitu khawatir dan risau, Dokter bilang ini mungkin memakan waktu sekitar 3-4 jam dan setiap detik yang ia rasakan seperti ada jarum yang menghujam jantungnya.

"Hinata akan selalu berada disini menemani Tou-san, Kami-sama lancarkanlah operasi ini." Kedua tangannya semakin bergenggaman erat, doa tak pernah putus terlantun dari bibirnya. Ia mencoba duduk di kursi lorong Rumah Sakit setelah berdiri cukup lama tak tentu perasaan.

.

.

.

Alunan musik klasik menguar ke seluruh penjuru ruangan mewah bergaya Victorian dengan kesan merah dan sedikit gelap. Terdapat beberapa sofa nyaman dan meja bartender yang membentang sepanjang ruangan dilengkapi lemari yang menyimpan ratusan botol-botol anggur dan champaigne dengan kualitas terbaik.

Di sudut ruangan terlihat Sasuke sedang duduk sambil menyilangkan kaki dan merilekskan punggungnya pada sandaran sofa. Pandangannya lurus ke depan seolah memikirkan sesuatu dengan tak tenang, genggaman tangannya memutar perlahan gelas berisi white wine yang tinggal setengah.

Pimpinan Uchiha Enterprise itu biasa menenangkan pikirannya di Private Bar ini. Bar yang khusus hanya untuk kalangan atas karena di sini tidak menyajikan keributan seperti Pub biasanya. Pria itu melirik pada jam Rolex di tangannya, anak buahnya belum menghubunginya kembali.

Tak lama terdengar dering panggilan dari ponselnya dan dengan cepat ia mengangkatnya. "Bagaimana?" Tanya pria itu tanpa basa-basi.

"Dia sudah kembali ke Rumah Sakit, pihak Rumah Sakit juga telah menghubunginya sesuai apa yang kita minta." Jelas seorang pria yang merupakan seorang mata-mata yang selama ini mengikuti Hinata.

"Oke, bagus. Awasi terus, nanti beritahu hasilnya padaku." Perintah Sasuke kembali.

"Baik Uchiha-sama." Tut. Sasuke segera mematikan panggilan setelah mendengar jawaban anak buahnya, kini pria itu bisa sedikit tersenyum lega.

"Hinata... Aku tak akan pernah membiarkan mu merusak tubuhmu." Ucapnya parau, dengan sorot mata intens seolah mengingat gadis Hyuga itu. Pria itu hampir saja membiarkan gadis itu terluka hanya karena uang, meskipun ia pernah menawarkan kemudahan dan hidup mewah agar Hinata menjadi wanitanya tapi gadis itu tak tertarik sama sekali. Hal itu membuatnya harus memutar otak agar bisa melindungi Hinata apapun caranya.

Sasuke segera menegak sisa white wine dalam gelasnya kemudian berdiri. Merapihkan sedikit jasnya lalu berjalan ke pintu keluar, beberapa kolega bisnisnya yang datang ke tempat itu menyapanya dan hanya Sasuke beri anggukan formal. Ia tak memiliki waktu untuk berbasa-basi.

.

.

.

Gaara sedang memeriksa semua pembukuan keuangan dari dokumen Uchiha Enterprise mengenai proyek pembangunan hotel yang bermasalah itu, saat meneliti perkembangan terbarunya dia merasa aneh karena perusahaan yang menangani konstruksinya berubah.

"Seharusnya jika yang bermasalah disini hanyalah Hyuga Hiashi mereka tak perlu mengganti pihak kontraktor, apa karena mereka juga tak mempercayai kontraktor pilihan pria itu?" Dahinya sedikit berkerut mencoba mencerna informasi baru ini.

"Sekarang siapa yang menggantikan jalannya memimpin pembangunan ini?" Tanya Gaara kembali. Ditengah lamunannya suara ketukan pintu terdengar lalu masuklah seorang pria yang merupakan anggota timnya.

"Ya, Darui ada apa?"

"Bos ada laporan terbaru dari pemeriksaan Tuan Shii, dia mengakui jika ia memang diajak bekerja sama oleh Hyuga Hiashi dalam penyelundupan dana proyek itu." Jelas pria bernama Darui itu.

Gaara semakin tertegun. "Benarkah?" Tanyanya spontan, karena alam bawah sadarnya seakan menolak mempercayai pria yang memiliki anak gadis sebaik Hinata bisa melakukannya. Ia tahu tidak boleh terpengaruh dalam urusan pekerjaan hanya karena Hinata, tapi kata hatinya seolah terus mengelak.

"Darui tolong kau cari tahu siapa sekarang yang mengambil alih pimpinan proyek itu, aku mau dia ditambahkan menjadi saksi dalam kasus ini." Perintah Gaara. Anak buahnya itu terdiam sesaat dan memandang Ketua Timnya bingung.

"Bos, kau belum mempercayai Hyuga Hiashi adalah pelakunya?" Tanyanya sedikit tak percaya karena bagi dirinya, bukti yang ada sudah cukup banyak untuk menyatakan Hyuga Hiashi bersalah.

"Sekecil apapun bukti, itu bisa memiliki peluang dan aku tak ingin melewatkannya. Dengarlah, terkadang pekerjaan ini membuat kita harus memahami apa yang tidak tersurat. Aku hanya tak ingin menjerat orang yang salah." Jelas Gaara memandang rekannya itu memberi pengertian. Untuk sesaat Darui memandang pria itu kagum, sebagai staff junior dia harus belajar lebih banyak dari Gaara.

"Baiklah kalau begitu, aku akan membuat surat pemanggilannya." Darui melambaikan tangan dan izin pergi keluar dari ruangan itu. Setelah kepergian rekan timnya Gaara mengusap rambut merahnya ke belakang mencoba kembali memfokuskan pikirannya pada setumpuk dokumen yang menjadi bukti ini.

Saat ia akan kembali membaca dokumen tersebut ada sebuah pesan yang masuk.

Gaara, Tou-sanku malam ini sedang menjalani operasi pertamanya. Akan kukabari dirimu jika Tou-sanku sudah sadar dan bisa melakukan pemeriksaan. - White Lily.

Ternyata itu pesan dari Hinata, mengapa pria itu menamainya white lily? Karena bagi dia keindahan wajah Hinata bagaikan bunga lily putih yang sedang bermekaran. Gaara seketika tersenyum bahagia membaca isi pesan itu.

"Syukurlah." Pria itu berucap lega dengan tulus, karena sejak pertemuan pertamanya dengan Hinata entah mengapa dia langsung merasa begitu peduli pada gadis itu. Dan ia tak mengerti akan rasa yang baru dialaminya pertama kali ini.

Aku ikut senang mengetahuinya, kapan Tou-sanmu selesai operasi? Aku akan datang, tenang saja bukan untuk mengintrogasinya. Hanya ingin melihat kondisi Tuan Hyuga. Gaara segera membalas.

Tapi ini sudah malam, dan sepertinya operasi akan selesai satu jam lagi. Jika kau sibuk tak apa, aku yakin operasi tou-sanku akan baik-baik saja. - White Lily. Membaca balasan pesan itu Gaara mengerti, Hinata hanya merasa tak enak jika sampai merepotkannya. Tapi percayalah justru kelelahan pekerjaannya ini akan sirna saat ia melihat Hinata.

Tenang saja, kalau begitu tunggu kedatanganku. Setelah membalas pesan itu Gaara meyimpan ponselnya, dan segera menyelesaikan pemeriksaan beberapa dokumen lagi agar bisa secepatnya menuju Rumah Sakit. Saat ini sudah jam 9 malam dan akhir-akhir ini memang timnya selalu lembur mendekati tenggat akhir masa penyidikan.

.

.

.

Gaara memarkirkan mobil Mercedesnya di area parkiran Rumah Sakit pukul setengah sebelas malam. Tadi ada pekerjaan yang tak bisa ditunda jadilah ia datang terlambat dan sepertinya Tuan Hyuga sudah dipindahkan ke ruang perawatan.

Sebelum pria itu keluar mobil ia meraih barang bawaannya yang tadi ia beli sebelum ke Rumah Sakit, setelahnya pria itu masuk ke area loby untuk bertanya letak ruang perawatan Hiashi Hyuga. Namun bertepatan dengan Gaara yang memasuki gedung, di sisi lain area parkiran Sasuke yang juga baru tiba melihat pria berusai merah itu.

Kedua tangan pria Uchiha itu seketika mengepal erat di kemudi mobil menahan gejolak amarah, menyadari jika Hinata pasti memberi tahu tentang kabar ayahnya pada pria itu tapi tidak padanya.

"Tch... Pria itu sudah bermain-main terlalu dekat." Sasuke mendencih tak suka, pancaran obisidian menawannya menatap tajam.

Di lain sisi Gaara yang sudah mendapatkan informasi bangsal ruangan rawat inap Hiashi Hyuga segera menuju ruangan tersebut, untunglah dia masuk melalui IGD sehingga petugas wanita yang berjaga dengan baik hati masih membiarkannya menjenguk meskipun waktunya sudah ditutup. Yah tentu saja dengan sedikit menunjukan senyum menawannya. Setelah sampai ia mengetuk pelan pintu ruang perawatan, namun tak ada jawaban dari dalam dan saat ketukan kedua ternyata pintunya tak tertutup rapat sehingga terbuka sedikit.

Dari celah pintu, ia bisa melihat Hinata yang tertidur sambil duduk di sisi ranjang perawatan Hiashi dengan melipat kedua tangan sebagai tumpuan kepalanya.

"Sepertinya dia kelelahan sehabis pulang kerja langsung menunggu operasi ayahnya." Ucap Gaara khawatir, pria itu mencoba berjalan perlahan dan mendekat pada ranjang untuk melihat kondisi Hiashi yang belum sadarkan diri namun sepertinya sudah tidak separah saat di ICU.

"Kurasa aku akan kembali lagi nanti, aku tak mau membangunkan Hinata." Bisiknya pada diri sendiri, namun gumaman itu ternyata membuat Hinata sedikit terusik dan akhirnya menyadarkan gadis itu dari tidurannya.

"Emh..." Hinata sedikit mengerjapkan mata lalu mengangkat wajahnya, saat pandanganya sudah jelas ia tersentak karena dihadapanya telah berdiri Gaara dengan senyum yang merasa bersalah.

"A-ah Gaara kau sudah datang? Maaf aku tadi tertidur dan tak menyadarimu." Ucap Hinata sedikit panik dan segera merapihkan rambutnya. Gaara terkekeh pelan melihatnya, tawa pertamanya hari itu telah terbit.

"Hinata seharusnya aku yang meminta maaf telah mengganggu waktu istirahat mu. Ah ini kubawakan parcel buah, aku tak tahu harus membawa apa karena sepertinya Tuan Hyuga belum bisa memakan apapun." Pria itu menyerahkan keranjang kecil berisi beberapa buah-buahan dan segera Hinata terima lalu ia simpan di meja samping ranjang.

"Terima kasih Gaara, ya kau benar Tou-sanku masih berada dalam pengaruh obat bius pasca operasi. Dokter bilang paling cepat besok Tou-san akan sadar, dengan begini saja aku sudah sangat bersyukur operasinya berjalan lancar. Terima kasih sekali lagi atas perhatianmu pada Tou-sanku." Hinata tersenyum namun seolah menahan kesedihannya. Gaara menebak mungkin karena kasus ini tak ada kerabat mereka yang peduli.

Pria itu berjalan ke hadapan Hinata dan mengusap bahu mungil itu lembut memberi dukungan. "Sudah tidak perlu khawatir, aku yakin Tou-san mu bisa segera pulih dan membaik. Sebisa mungkin aku akan selalu ada untukmu." Tanpa sadar Gaara mengucapkan kalimat terakhirnya dan membuat Hinata mengangkat wajahnya sedikit terkejut menatap pria tampan itu.

"Ada apa?" Tanya Gaara tak mengerti arti pandangan Hinata.

"K-kau akan selalu ada untukku?" Tanya Hinata mengulangi dengan bingung makna dari kalimat itu.

"A-aku berbicara seperti itu?" Tanyanya yang terkejut sendiri dan mendapat anggukan dari Hinata.

"Ahaha maksudku-- emm sebagai Jaksa yang menangani kasus ini sudah sepatutnya aku selalu siaga untuk mencari tahu kondisi Tou-sanmu dan dirimu." Pria itu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dan tidak sadar barang di tangan kirinya terangkat membuat Hinata kini melihatnya.

"Eh untuk siapa bunga itu?" Tanya Hinata spontan. Pertanyaan itu membuat Gaara semakin gugup dan bingung hingga akhirnya pria itu menghembuskan napas pasrah.

"Apakah akan terdengar konyol jika bunga mawar ini kubawakan untuk Tou-sanmu?" Tanya Gaara kikuk, ia sejujurnya cukup malu mengakui tingkah romantisnya ini.

Bola mata gadis itu sedikit melebar hingga akhirnya tangan gadis itu menutupi mulutnya yang seketika tergelak tak bisa menahan tawa. "Ahahaha... Astaga Gaara, kau benar-benar membawakan bunga mawar untuk Tou-sanku?" Tanya Hinata dengan masih terkekeh pelan menatap lucu pada Gaara.

"Emm entahlah, jika buah-buahan itu untuk Tou-sanmu berarti bunga mawar ini untukmu bukan? Jadi... Kuharap kau mau menerimanya." Gaara akhirnya menyerahkan buket mawar merah berukuran sedang itu, karena saat membeli buah-buahan ia tak sengaja melihat toko bunga yang akan segera tutup dan hatinya langsung merasa ingin membelikan bunga untuk Hinata.

Mendengar ucapan pria bermata jade itu membuat kekehan Hinata terhenti.

"Benarkah ini untukku?" Tanya Hinata pelan tak menyangka, Gaara mengangguk pasti dengan senyum mempesonanya. Dengan perlahan tangan putih Hinata menerima rangkaian bunga itu dan menghirupnya sebentar.

"Terima kasih, ini indah." Balas Hinata tulus menghargai pemberian itu.

Hatchi!

Tiba-tiba Hinata mengeluarkan bersinnya.

"Eh apa kau alergi bunga?" Tanya Gaara panik merasa bersalah.

"A-ah tidak kurasa ini karena suhu udara malam yang sudah semakin dingin." Jelas Hinata.

Gaara memperhatikan keadaan sekitar dan segera meraih remote AC dan menaikan suhunya, sebenarnya menurut pengamatan pria itu dia cukup bingung kenapa Hyuga Hiashi bisa mendapat kamar inap kelas pertama yang private seperti ini padahal ia tahu keadaan ekonomi Hinata sedang terbatas. Tapi gadis itu tak menceritakan apapun mengenai kesulitan biaya.

"Kau kedinginan? Kalau begitu pake saja jasku ini, kau tidak membawa jaket ya?" Gaara segera melepas jas coklatnya dan memyampirkan pada bahu Hinata.

"Ga-gaara tidak perlu, kau sendiri nanti kedinginan. Aku terus merepotkanmu." Hinata berujar tak enak dan akan melepas jas itu, tapi pria itu mencegahnya.

"Jangan, aku akan baik-baik saja. Emm kalau kau kedinginan kurasa aku bisa membawakanmu kopi hangat tunggulah aku pergi ke cafetaria dulu." Gaara mengedipkan satu matanya memberikan ekspresi meyakinkan pada Hinata, gadis itu mencoba mencegahnya tapi pria itu begitu bersemangat keluar dari ruangan.

"Tu-tunggu Gaara..." Sahutan Hinata mengambang di udara karena pria itu sudah keluar dari pintu.

"Astaga, kenapa pria itu sangat perhatian. Aku merasa menjadi orang yang merepotkan." Bibirnya mengerucut gemas, ia melirik kembali buket bunga di tangannya dengan senyuman lalu menyimpan bunga itu di meja samping ranjang.

Hinata duduk kembali sambil merapatkan Jas pemberian Gaara, sepertinya dia memang membutuhkan sebuah jaket karena dirinya hanya memakai kemeja kerjanya di udara malam dingin seperti ini.

Gadis itu kini menatap wajah ayahnya dan mulai menggenggam tangan pria rapuh itu menyalurkan kekuatan.

"Hinata disini Tou-san, sekarang semuanya akan baik-baik saja. Dinas Sosial sudah membiayai pengobatannya, apapun kebenarannya nanti Hinata akan selalu berada untuk mendukung Tou-san." Jemarinya mengusapi tangan ayahnya yang terasa dingin, tatapannya kembali menyendu setiap kali menatap pria tua itu.

Suara pintu yang terbuka membuat Hinata menoleh ke belakang. "Kau sudah kembali? Kenapa begitu ce--" Ucapan Hinata tertelan kembali, karena pria yang datang bukanlah Gaara.

"Kau menunggu kedatangan ku?" Sapa seorang pria yang kini sudah menutup pintu ruangan. Mata elangnya mengamati Hinata intens dan mulai berjalan mendekat.

Hinata dengan cepat berdiri, deru napas dan degupan jantungnya seketika meningkat mengetahui pria brengsek yang suka memaksanya itu berada di sekitarnya. Hinata sungguh kesal akan reaksi tubuhnya yang tak bisa tenang di dekat pria ini.

"Untuk apa lagi kau menemuiku?" Tanya Hinata sedikit bergetar. Sasuke sudah satu langkah di depannya, pria itu melirik sebentar pada keadaan Hiashi lalu tersenyum meremehkan.

"Sekarang kau sedang merasa begitu bahagia bukan? Ayah tercintamu akhirnya mendapat pengobatan, dan pria yang berusaha kau goda akhirnya balik mengejar-ngejarmu?" Sasuke melirik tajam pada buket bunga di atas meja lalu mengambilnya.

"Kau pikir hanya karena Jaksa itu memberimu bunga dan jasnya kau bisa memenangkan persidangan hm? Bermainlah dengan adil." Bisiknya menatap tajam amethys itu.

Ctak

Dengan satu tangan Sasuke mematahkan rangkaian bunga dan melemparnya ke ujung ruangan. Perkataan dan tindakan Sasuke seketika membuat Hinata kesal dan sakit hati.

"Kau?!" Hinata mengangkat satu tangannya ingin mendorong Sasuke menjauh tapi pria itu dengan mudah menangkap pergelangan tangannya dan menahannya di udara.

"Tidak semudah itu mengenaiku." Balas Sasuke yang kini merunduk mendekatkan wajahnya pada Hinata. Gadis itu mencoba memberontak tapi genggaman Sasuke cukup kuat.

"Lepaskan aku! Aku tak butuh kata-katamu jika kau hanya ingin menghinaku. Apa hakmu bersikap seperti ini? kau bahkan tak memiliki empati sama sekali pada Tou-sanku yang dulu bekerja begitu keras untuk perusahaanmu." Mata Hinata memancarkan amarah dengan sedikit berkaca-kaca memandang Sasuke.

"Tch..." Sasuke berdecih mendengar kalimat Hinata. Satu tangannya yang lain segera melingkari pinggang gadis itu dan membawa tubuhnya mendekat sehingga kini dada mereka bertubrukan.

"Haah..." Hinata langsung terkejut saat merasakan dada bidang itu menyentuh perutnya, sekarang perasaannya bercampur aduk antara rasa amarah dan debaran hati yang semakin menggila. Aura Sasuke sangat sulit dia abaikan, tapi dari jarak sedekat ini ia bisa merasakan debaran pria itu sama cepat dengan dirinya.

"Benarkah kau tak membutuhkanku? Apa kau sama sekali tak berdebar untukku? Katakan Hinata, kau tak merasakan debaran dari jantungku ini?" Satu tangan Sasuke melepas perlahan genggaman erat di tangan Hinata karena merasakan tubuh gadis itu seolah lemas tak bisa melawan. Dan kini tangannya beralih merangkum satu sisi wajah gadis manis itu, memberikan tatapan dalam yang membuat Hinata tertegun.

'Kenapa pria ini menatapku begitu dalam tapi bukan kebencian yang terpancar darinya?' batin Hinata gundah.

"Apa detak jantungmu yang meningkat itu hanya karena membeciku? Atau kau mulai merasakan hal lain untukku?" Ibu jari pria itu mulai mengelus perlahan pipi selembut porselennya, dengan pandangan kedua mata yang belum terputus.

"Sekarang katakan padaku, jika kau memang tak memiliki perasaan apapun untukku. Ucapkanlah kata-kata yang menyakitiku dan membuatku sadar kau tak menginginkanku." Wajah Sasuke semakin mendekat hingga dahi pria itu berhasil menyentuh kening Hinata, sementara gadis itu sebenarnya ingin menjauh namun dari dalam lubuk hatinya ia sadar afeksi dan sentuhan pria ini membuatnya nyaman. Bahkan saat mereka hampir berakhir bercinta di rumah pria ini, Sasuke memperlakukannya begitu lembut.

"A-aaku..." Lidahnya seolah kelu, sulit untuk berucap, yang bisa dia lakukan hanyalah balas memandang sama dalamnya obisidian hitam itu. 'Kami-sama, beri aku petunjuk apakah semua sikapnya ini murni ataukah hanya jebakan?'

Di tengah lamunannya, Hinata tak sadar saat tiba-tiba merasakan sebuah gumpalan lembut yang menyentuh bibirnya. Sentuhan serta lumatan yang begitu hati-hati dan perlahan, bibir Sasuke dengan ahli melumati bibir bawahnya lalu beralih ke bibir atas. Hinata sungguh panik apakah ini pemaksaan dan pelecehan? Tapi dia tidak merasa terancam.

Saat Hinata hanya diam Sasuke semakin mengeratkan pegangan di sisi wajah gadis itu dan memperdalam ciuman ini, ia mulai menjulurkan lidahnya dan mencoba membuka gerbang pertahanan Hinata.

"Emh..." Kini Hinata mulai merasa kakinya seperti jeli, tubuhnya meremang karena sentuhan ini. Gadis itu mencoba mendorong perlahan dada Sasuke tapi justru mulutnya terbuka dan pria itu berhasil menyelipkan lidahnya. Jika sudah seperti ini pikiran Hinata mulai sulit menolak, kepalanya justru sedikit terdorong ke belakang karena gerakan Sasuke mulai mendominasi.

Tanpa terasa kakinya perlahan terdorong ke belakang karena Sasuke semakin meningkatkan intensitas cumbuannya, tubuh mereka berdua bergerak mundur hingga akhirnya menyentuh dinding ruang perawatan. Tangan Hinata mulai merambat naik meremas jas di lengan Sasuke, mencoba mencari pegangan agar tubuhnya tidak ambruk.

Saat mereka berdua kehabisan napas, Sasuke melepas ciumannya. Kedua insan itu terengah bersama dengan saling berpandangan.

"Sa-sasuke... Tungguhh..." Hinata mencoba menggapai akal rasionalnya dan mulai mendorong bahu itu perlahan tapi pria itu kembali menyerangnya, kini leher wanita itulah sasaran Sasuke. Kecupan, lumatan, dan jilatan lembut terus Sasuke lancarkan.

'Ah tidak, aku harus menghentikan ini. Gaara akan datang, dan aku seharusnya tidak boleh melakukan ini dengan Sasuke.'

"Sa-sasuke... Ku-mohon!" Kini Hinata mencoba lebih keras, tapi jantungnya seakan berhenti berdetak saat terdengar pintu ruang perawatan terbuka.

"Hinata, aku bawakan kop-" Ucapan Gaara langsung terhenti saat melihat posisi dua orang di depannya. Senyum di wajahnya seketika sirna digantikan ekspresi menahan gejolak amarah, dengan perlahan dia menyimpan dua cangkir kopi di meja dekat pintu.

"Gaara, ini tidak seperti yang kau pikirkan." Ujar Hinata panik.

"Sasuke menjauh dariku!" Kesal Hinata dan sekarang pria itu membiarkan dia terlepas dari rangkulannya.

"Gaara, maafkan aku. Aku tidak bermaksud--" Ucapan Hinata terpotong oleh Gaara.

"Apa pria itu memaksamu?" Tanyanya dingin, terlihat kedua genggaman tangan Jaksa muda itu mengerat. Ia tak ingin langsung berburuk sangka, tapi jika Hinata bilang dirinya dipaksa maka ia tak akan segan untuk langsung menghajar pria Uchiha itu.

"Gaara..." Lirih Hinata sedih yang melihat kekecewaan begitu dalam dari nada pemuda itu. Hinata tidaklah bodoh, ia tahu kepedulian baik pria itu karena apa tapi untuk sekarang dia bahkan belum mengerti dengan isi hatinya. Ia hanya tahu dirinya juga peduli pada Gaara, dan Sasuke yang berhasil mengusik hatinya.

"Katakan Hinata! Apa pria Uchiha itu yang memaksamu?!" Tanya Gaara kembali dengan nada begitu dingin dan sudah tak bersahabat, netra jadenya memandang Sasuke begitu murka. Tapi pria Uchiha itu hanya menatap dengan santai.

Hinata menggigit bibirnya bingung, awalnya pria itu memang memaksanya tapi ciuman itu? Hinata sadar dirinya pun tak melakukan penolakan lebih, jadi apakah itu paksaan? Dia tak mau menuduh sembarangan karena ia tahu pertikaian pasti terjadi.

"Ti-tidak." Jawab Hinata kecil merunduk penuh penyesalan.

Gaara seketika menutup matanya, merasakan sesuatu seakan merobek hatinya.

"Gaara-- Maafkan aku." Hinata beranikan menatap Gaara kembali. Sementara Sasuke yang mendengarnya begitu puas, ia tak menyangka Hinata tak menyudutkannya. Padahal ia sudah siap jika harus saling beradu jotos dengan pemuda merah itu.

Terlihat raut wajah Gaara yang menahan rasa syok dan kecewa, bola matanya ia putar ke atas mencoba terlihat tegar. Pria itu lalu paksakan seulas senyum.

"O-oh baiklah kalau begitu. Hah... Kurasa sudah malam aku sebaiknya segera pulang, maaf jika mengganggu waktu istirahatmu. Aku permisi." Gaara mengangguk singkat dan segera menjauh dari ruang perawatan itu.

"Gaara! Tunggu." Hinata segera berlari mengejar pria itu. Sasuke membiarkannya, karena ia sudah tahu Jaksa muda itu kini kecewa dengan Hinata.

Di luar ruangan terlihat Gaara yang berjelan dengan tergesa dan Hinata mencoba berlari mengejarnya.

"Gaara, kumohon jangan pergi dulu." Satu tangan Hinata berhasil meraih lengan Gaara, membuat pria itu tediam.

"Kumohon, maukah kau melihatku?" Tanya Hinata ikut terluka melihat reaksi Gaara.

Pria itu menarik napas panjang sebelum ia beranikan berbalik. "Ya, ada apa?"

"Gaara, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu melihat adegan seperti itu. Sasuke tiba-tiba datang dan membuatku marah, a-aku tak tahu apa yang terjadi dengan diriku sehingga kami bisa sampai melakukan itu. A-aku disini yang salah, maafkan perbuatanku itu Gaara." Mata amethysnya sedikit berkaca-kaca memandang Gaara.

Pria itu dengan tenang melepas pegangan Hinata. "Tak apa, itu hakmu untuk melakukannya. Justru mungkin aku yang sudah mengganggu waktumu. Selama kau berkata bukan pria itulah yang memaksamu maka aku tak perlu mencampuri urusan kalian. Jadi aku pergi dulu." Gaara dengan cepat mencoba berbalik lagi, tapi Hinata menahannya kembali.

"Tidak Gaara, jangan meminta maaf. Dan setidaknya ini ambilah jasmu, kau lebih membutuhkannya untuk perjalanan pulang." Hinata dengan cepat melepas Jas pria itu dan menyerahkannya. Gaara berbalik kembali dengan berat hati, dia tadi ingin menolaknya tapi ternyata pria Uchiha itu sudah keluar dari ruang perawatan dan melipat kedua tangannya ke dada dengan angkuh seolah berkata 'Ya ambilah, Hinata tak membutuhkan itu darimu!'.

"Baiklah, aku ambil. Permisi." Tangannya dengan cepat meraih jas itu dan tak ingin melihat siapa-siapa lagi, meninggalkan Hinata dengan pandangan terluka dan rasa bersalah.

"Hati-hati di jalan Gaara." Bisik Hinata pelan dengan nada bergetar, yang sebenarnya masih bisa di dengar pria itu namun rasa sakit ini membuat hatinya kebas dan ingin segera pergi.

"Kau tidak merasa kehilangannya bukan?" Suara Sasuke tiba-tiba terdengar di samping Hinata, membuat gadis itu mendelik tajam. Tapi sungguh dia tak mengerti perasaannya, pria ini selalu membuatnya kesal tapi ia tak bisa menolak pesonanya.

"Dia adalah Jaksa yang berintegritas, jika ayahmu tak bersalah maka begitu pula yang akan dia ungkap, tapi jika memang bersalah sejauh apapun kau mendekatinya itu tak akan merubah keputusannya. Jadi kurasa kau tak perlu merasa sedih kehilangan simpati darinya." Jelas Sasuke tanpa beban.

"Khe... Selalu itu yang kau bahas? Apa aku terlihat seperti seorang wanita yang akan menggunakan tubuh untuk menggoda pria demi kepentinganku? Aku tak pernah berpikir untuk menggodanya, dan aku patut sedih karena kau tak akan pernah mengerti rasanya memiliki orang yang peduli padamu kini menjauh di saat seluruh kerabat yang kau kenal memusuhi mu." Hinata menatap kesal Sasuke lalu segera berbalik pergi menuju ruang perawatan ayahnya lagi.

"Tidakkah kepedulian dariku cukup?" Tanya Sasuke dari tempat berdirinya memandang Hinata yang akan membuka pintu.

"Memangnya apa yang telah kau lakukan untukku?" Balas Hinata sedih dan segera menutup ruang pintu perawatan dengan kesal.

"Yeah, tentu saja kau tak akan tahu." Lirih Sasuke berbicara sendiri. Pria itu mengusap rambut hitamnya ke belakang, merasa kesal pada dirinya sendiri karena selalu bertindak salah di mata gadis itu.

"Selamat beristirahat Hinata." Pria itu akhirnya memutuskan untuk tidak mengganggu Hinata, sekarang sudah malam dan lebih baik membiarkan gadis itu tidur.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To be continue

Hai minna...

Kembali lagi dengan cerita penuh drama lebay ini hahahah...

Mohon saran dan koreksinya ya kalau ada plot dan informasi yang kurang nyambung atau kesalahan apapun itu, diriku masih belajar jadi butuh banyak saran hehehe.

Gimana-gimana konflik di chap ini? Hinata salah g? Apa malah kasian sama Gaara?

Atau justru Sasuke yang nyebelin bgt? Wkwkwk.

Terima kasih sudah baca. Jangan lupa vote dan reviewnya guys biar aku semangat terus. Jaa nee...

By Chichiyulalice