Disclamer: Naruto and all character is belong to Masashi Kishimoto

Sasuhina Gaahina fanfiction

Alternatif Universe

Ooc, Typo, DLDR

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Happy Reading!

Gaara membuka pintu ruang pemeriksaan lalu segera menarik kursi dari satu-satunya meja yang disediakan di ruangan itu. Dihadapannya sudah duduk seorang pria paruh baya dengan ekspresi tak berminat.

Jaksa muda itu membaca kembali beberapa dokumen yang dibawanya, pria di depannya bernama Danzo Shimura, seorang karyawan Uchiha Enterprise yang menggantikan Hiashi Hyuga menjadi pimpinan dalam proyek bermasalah itu.

"Selamat siang Shimura-san, terima kasih telah datang untuk pemeriksaan." Sambut Gaara bersikap sopan.

"Untuk apa sebenarnya kalian memanggilku? Pekerjaanku sedang banyak, dan aku tak tahu menahu dengan masalah sebelumnya dalam proyek itu." Jawab pria itu sedikit kesal.

"Tenang saja, jika tak ada indikasi keterlibatan kau bisa bebas setelah pemeriksaan ini. Aku hanya ingin bertanya, sebagai pimpinan baru proyek tersebut kenapa kau perlu mengganti pihak kontraktor nya? Bisa dijelaskan alasannya?" Tanya Gaara mengangkat alis. Pemuda itu dengan intens memperhatikan setiap gerak gerik raut wajah lawan bicaranya, karena menjadi Jaksa ia mempelajari ilmu untuk membaca ekspresi wajah meskipun tidak sehandal pakarnya.

"Tentu saja aku perlu menggantinya karena kinerja mereka jauh dari target yang sudah ditetapkan. Kau bisa melihat dari laporan timeline kerja lapangan, progres mereka tertinggal jauh. Sebagai pimpinan proyek yang baru aku tak ingin kinerja mereka merusak citraku." Jawab Danzo melipat kedua tangannya ke dada.

"Bukankah kau bisa menegur dan meminta mereka memperbaiki kinerjanya? Mengganti kontraktor juga membutuhkan proses yang memakan waktu lagi untuk tender." Selidik Gaara lebih jauh.

"Aku tak ingin memberi kesempatan kedua pada pihak yang telah lalai. Dan mencari pengganti mereka itu gampang saja, aku tinggal memanggil vendor terbaik kedua dari data tender sebelumnya." Jawab Danzo mengangkat bahu.

Gaara terdiam sebentar, ucapan pria ini terlihat benar tapi dia seolah bersikap defensive entah untuk hal apa.

"Aku sudah memeriksa laporan itu, tapi bisa anda lihat disini." Gaara membuka dokumen catatan pengeluaran dana proyek.

"Dari dokumen ini bisa kita lihat kontraktor sudah mendapat dana sesuai yang mereka butuhkan di setiap proses, jadi tak ada alasan untuk mereka bekerja di bawah target. Apa ada hal lain yang kau tahu mengenai kondisi itu?" Sambung Gaara.

"Hei aku hanya pimpinan pengganti yang baru, kau harusnya bertanya pada staff yang terlibat disana. Bukankah dengan kondisi seperti itu kau juga harus mencurigai pihak kontraktor? Bisa saja mereka menggunakan dana proyek tidak sebagaimana mestinya." Tebak Danzo menatap Gaara.

"Benar, aku sudah memeriksa beberapa pegawai disana dan hanya ada satu pegawai yang terindikasi terlibat tapi dia tidak pernah menyebutkan keterlibatan pihak kontraktor. Dia hanya terus mengaku dirinya di ajak bekerja sama oleh Hiashi Hyuga dalam penyelundupan dana." Gaara memandang lurus ke depan memang ada yang janggal dengan kasus ini, mengingat ia bahkan hampir dicelakai.

Danzo menyatukan kedua tangannya di meja. "Hmm... Jika seperti itu bukankah sudah sepatutnya itu tugasmu menyelidikinya? Atau kau memang kesulitan menangani kasus ini?" Sindir Danzo dengan seringai meremehkan.

Gaara menatap dingin tak suka atas ucapan Danzo. Pemuda itu mengeratkan genggamannya, mulai merasa kesal akan sikap arogan pria di hadapannya.

"Sedikit hambatan adalah hal yang biasa, karena aku tak akan melewatkan apapun untuk mengungkap kasus ini. Akan kuungkap setiap orang yang berani terlibat dalam masalah ini." Geram Gaara, ia sedikit mencondongkan wajahnya seakan ingin menarik kerah pak tua itu.

'Kuso!' Maki Gaara dalam hati ia hampir hilang kendali, setelah kejadian semalam ia jadi lebih sensitive. Pria itu mencoba menarik napas agar tenang, sepertinya pemeriksaan ini sudah harus ia akhiri.

"Jika keterangan anda seperti itu berarti kami akan menemui pihak kontraktor sebelumnya karena bisa jadi penyelundupan dana terjadi di pihak mereka."

"Ya ya terserah saja, yang penting sekarang urusanku sudah selesai kan?" Tanya Danzo tak sabar ingin segera berdiri.

"Ya silahkan. Terima kasih atas waktu anda." Gaara berdiri dan tetap berusah bersikap sopan. Terdengar decakan tak suka dari pria paruh baya itu saat berjalan menuju pintu keluar karena waktunya telah diganggu.

Gaara membereskan dokumen yang dia bawa dan ikut keluar, di luar sudah ada Darui anggota timnya yang ingin menanyakan hasilnya.

"Bagaimana Bos? Kau membebaskan pria itu, jadi dia tidak mencurigakan?" Tanya Darui berjalan di samping Gaara.

"Cukup mencurigakan tapi kita tak memiliki alasan kuat untuk menahannya. Sekarang kita harus menemui pihak kontraktor itu. Ayo." Ajak Gaara dengan wajah serius.

"Ada apa Bos? Kau terlihat begitu tegang?" Selidik Darui.

"Tidak apa-apa." Balas Gaara pelan.

Merasa tak ingin membuang waktu Gaara dan Darui segera menuju lokasi kantor Vendor Kontraktor sebelumnya, untunglah pria yang mereka cari sedang berada di sana.

"Permisi kami dari Kejaksaan Kota Tokyo, ini surat tugas kami. Kedatangan kami ingin meminta keterangan mengenai proyek Uchiha Enterprise yang sebelumnya anda tangani." Ucap Darui sambil memperlihatkan surat tugasnya pada pimpinan kontraktor yang bernama Denki Kagami, kini mereka sudah duduk di ruang kerja pria tersebut.

Pria itu membaca surat itu lalu mengangkat wajah tak mengerti. "Lalu ada apa mencariku? Apa terjadi masalah?" Tanyanya bingung.

"Ya benar, ada penggelapan dana dalam proyek itu. Sebelumnya perkenalan saya Sabaku No Gaara Jaksa yang menangani kasus ini. Menurut catatan pengeluaran mereka anda sebagai pihak kontraktor telah menerima dana yang sesuai untuk proses kerja tapi kinerja karyawan anda dibawah dari yang ditargetkan sehingga mereka mengganti kontraktor." Jelas Gaara menatap penuh selidik.

"Sesuai dana? Apa maksudnya ini? Kinerja para pegawaiku terhambat justru karena mereka sulit mencairkan dana untuk kami jadi pergerakan kami terbatas. Dan entah kenapa kesalahan mereka itu justru dilimpahkan pada kami sehingga mereka lebih memilih mengganti pihak kontraktor." Jelas Denki menyangkal penjelasan Gaara.

"Maaf tapi penjelasan anda tidaklah sesuai dengan dokumen yang kita miliki. Darui!" Perintah Gaara melirik anggota timnya agar bertindak.

"Kau yakin Bos?" Tanya Darui kaget karena Gaara memutuskan sangat cepat. Pria itu mengangguk yakin, membuat mau tak mau Darui mengeluarkan borgol dari dalam sakunya lalu berdiri mendekat pada Tuan Kagami.

"Oi oi apa ini? Kenapa aku tiba-tiba akan ditahan?" Denki langsung berdiri dan melangkah mundur dengan panik.

"Kagami-san dengan situasi ini anda terindikasi menggunakan dana proyek tidak sebagaimana mestinya, jadi untuk sementara anda kami tahan." Jelas Gaara tanpa ragu.

"Hei hei, kau juga harus melihat catatan penerimaan kami. Shina! Shina! Bawakan aku catatan keuangan proyek Uchiha!" Teriak Denki panik memanggil pegawainya.

"Ba-baik Kagami-sama." Sahut seorang wanita dari luar ruangan.

"Selain catatan itu apa yang bisa kau jadikan alasan untuk menyangkal dugaan ini?" Tanya Gaara melangkah maju, dan Denki hanya terlihat panik.

"Darui cepat borgol dia!" Perintah Gaara lagi tak sabar.

"Oi Gaara ada apa denganmu ini? Tolong sabar pria ini ingin membuktikan sangkalannya." Jelas Darui berdiri dengan bimbang.

"Kau menolak perintah ku?!" Tanya Gaara tak suka. Darui melotot takut.

"Bu-bukan seperti itu." Jawab Darui gelagapan.

"Kagami-sama. Ini dokumennya." Seorang wanita membuka pintu dan menyerahkan bindex berisi beberapa dokumen. Terlihat engahan napas dari wanita itu yang sepertinya mencari dengan panik.

"Ba-bagus, sekarang tolong kau buka dokumen pemasukan dana proyek." Ucap Denki dengan bergetar karena takut dengan aura Gaara.

"Baik." Jawab Shina dan memperlihatkan dokumen yang diminta pada Darui dan Gaara. Setelah melihatnya kedua Jaksa itu terdiam karena ternyata benar dana yang mereka terima sangat jauh dari catatan keuangan proyek yang pihak Uchiha berikan.

"Darui sekarang borgol Kagami-san." Perintah Gaara sekali lagi.

"Apa?!" Tanya kaget ketiga orang di ruangan itu, karena mereka kira Gaara akan percaya.

"Sekarang catatan keuangan pihak manapun bisa dimanipulasi dan kita belum mengetahui mana yang benar. Jadi dokumen ini akan aku ambil, Kagami-san tolong ikut dengan kami. Dan silahkan hubungi pengacara anda untuk menunjukkan bukti-bukti lain jika anda memang tidak bersalah. Darui kita pergi sekarang, permisi." Angguk Gaara sambil meraih bindex merah itu. Darui sebenarnya masih cukup terkejut atas keputusan Gaara tapi kali ini ia tak bisa menolak dan segera memborgol kedua tangan pimpinan kantrakor itu.

"Kagami-sama..." Ucap Shina menjulurkan tangan khawatir pada atasannya yang tiba-tiba di tangkap dan diseret ke luar ruangan.

"Shina! Tolong hubungi anak dan istriku kenapa aku tidak bisa pulang malam ini. Hua... Kenapa aku jadi masuk penjara." Denki merengek sedih dan tak percaya ditangkap seperti ini.

Mereka bertiga akhirnya keluar dari gedung kantor diiringi tatapan terkejut para karyawan disana yang melihat Bos mereka ditangkap. Gaara membawa 3 anggota polisi yang merupakan anak buahnya untuk pengawalan. Setelah di luar gedung Denki dimasukan ke dalam mobil polisi dan Darui menutup pintunya.

"Yo, kalian pergilah lebih dulu mengantar Kagami-san ke ruang pemeriksaan." Perintah Darui pada ketiga polisi itu.

"Baik." Ucap mereka, dan segera melajukan mobil tahanan. Setelah kepergian mobil itu, Darui berbalik dan menatap Gaara yang sedang termenung.

"Bos, kenapa terdiam? Kau tidak salah mengambil keputusan kan? Akan repot jika kita sembarangan menahan orang." Tanya Darui masih tak mengerti. Gaara yang sedang terdiam tiba-tiba menarik kerah anggota timnya itu.

"Kau meragukan keputusanku? Untuk apa aku menjadi ketua tim penyidikan kasus ini jika kau tak percaya padaku?" Tanya Gaara terdengar marah.

"Bos, bu-bukan seperti itu. Baiklah-baiklah maafkan aku. Tolong lepaskan aku." Darui mencoba melepas cengkraman tangan Gaara, pria itu tiba-tiba tersentak dan segera melepas cengkramannya.

"Astaga Darui, maafkan aku. Aku-- aku hanya sedang banyak pikiran. Kau sebaiknya kembalilah lebih dulu." Gaara merunduk memijit dahinya pelan, menyesal telah bersikap impulsif pada rekan sendiri.

"Bos, jika kau kelelahan istirahatlah dulu." Ucap Darui simpati menepuk pundak Gaara memberi semangat, karena ia tahu seberapa besar tekanan dalam pekerjaan ini.

"Ya, aku mengerti terima kasih." Sahut Gaara pelan.

"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu." Balas Darui yang kini berjalan ke arah mobilnya dan segera pergi dari tempat parkir tersebut.

"Ck! Sialan, kenapa emosi ku tak bisa diatur seperti ini." Gaara menendang batu di sekitarnya, dan segera berjalan ke mobilnya lalu menutup pintu cukup keras. Pria itu terdiam dengan genggaman erat pada setir kemudi.

"Sebesar inikah Hinata mempengaruhi ku? Kenapa aku begitu tak rela dia lebih memilih pria arogan itu. Tch, aku benci perasaan seperti ini." Gaara memukul pelan setirnya lalu segera menghidupkan mobil dan melaju pergi. Ia harus lebih fokus dan mengeyampingkan perasaan yang mengganggu kinerjanya.

.

.

.

"Hinata tolong berikan Pengajuan Biaya Produksi bulan ini pada Divisi Finance ya." Ino menghampiri meja Hinata lalu menyimpan beberapa dokumen yang telah ia periksa dan tanda tangani.

"Ah baik Ino." Hinata yang sedang mengetik sesuatu pada layar komputernya segera mengalihkan perhatian dan berdiri mengambil dokumen itu.

"Jangan lupa setelah mengantar dokumen itu segera kembali ya, 20 menit lagi kau harus menemaniku ke rapat rencana perilisan produk baru. Tenang saja kita hanya perlu hadir dan memberi saran, nanti tolong buatkan notulensi untukku ya." Jelas Ino sebelum gadis itu keluar.

"Baik." Jawab Hinata.

"Oh iya Hinata, kau harus mempersiapkan mentalmu saat ke Divisi itu." Canda Ino mengedipkan mata.

"Mempersiapkan mental?" Tanya Hinata bingung.

"Ahahaha nanti kau juga tahu. Hmm... benar, kurasa kau sasaran idealnya." Perkataan Ino semakin membuat Hinata panik.

"A-apa maksudnya itu?" Cicit Hinata menjadi ragu.

"Sudah, sudah, tak apa. Ayo segera kesana." Ino memegang bahu Hinata agar segera keluar dari ruangan sambil tertawa-tawa kecil.

Setelah keluar dari ruangannya Hinata menghembuskan napas pasrah. Ini pertama kalinya dia akan ke Divisi Finance, ia tak tahu sikap pegawai di sana akan seperti apa. Divisi itu satu lantai dengan ruang rapat, sebenarnya ia bisa langsung menuju ruang rapat tapi sebagai Asisten Manajer ia harus datang bersama Ino.

"Sudahlah, tak perlu dipikirkan. Aku kan tidak membuat kesalahan apapun." Ujarnya berusaha ceria dan mulai berjalan menuju lift untuk ke lantai 15. Berbicara mengenai kesalahan membuat Hinata memikirkan tentang kesalahannya pada Gaara kemarin malam, dengan begitu bodohnya ia tergoda sentuhan Sasuke, dan membuat Gaara sakit hati.

"Ya Tuhan, aku tak akan sanggup menatap wajah Gaara lagi." Ia menjitak kepalanya sendiri pelan dan menepuk-nepuk pipinya.

"Sadar Hinata! Apa yang kau pikirkan sampai menerima ciuman itu." Bibirnya memberengut sedih dan malu.

"Ah itu tidak penting, sekarang aku hanya harus fokus pada keadaan Tou-san. Aku harap hari ini Tou-san sudah sadar." Bisiknya sendu, karena berharap saat ayahnya membuka mata ia ada disamping pria itu tapi dirinya harus bekerja.

Suara dentingan lift menyadarkannya dari lamunan bahwa ia telah sampai di lantai yang dituju, untunglah tidak ada siapapun di dalam lift jika tidak mereka akan menatap aneh pada Hinata yang sudah berbicara sendiri.

Akhirnya gadis itu sampai di Divisi Finance dan disambut seorang staff wanita yang terlihat seumuran Ino, dia cukup ramah tidak seperti yang Hinata bayangkan.

"Dokumen ini akan ku agendakan dulu, nanti Manajerku akan meninjaunya. Tolong tulis nama dan tanda tangan pengirim disini." Wanita berambut hitam pendek itu menunjuk kolom dalam daftar penyerahan dokumen.

'Oh ini bukan manajernya ternyata' batin Hinata, dengan segera gadis itu menandatangani dan menulis namanya.

"Oke terima ka--" Ucapan wanita itu terhenti saat melihat nama Hinata dalam buku itu.

"Kau Hyuga Hinata yang itu ya?" Tanya wanita itu mulai menatap Hinata dengan senyum aneh.

"Eh yang itu seperti apa ya?" Tanya Hinata tersenyum kaku.

"A-ah tidak apa-apa. Oh iya, Akio! Lihatlah disini siapa yang datang." Wanita itu meninggikan suara saat memanggil rekan kerjanya.

"Hei untuk apa berteriak-teriak memanggilku." Seorang pria langsung berdiri dari bilik kerja yang jauh dari pandangan Hinata, dan saat pemuda itu melihat kearah Hinata wajah pria itu tiba-tiba terbelalak.

"Oi Akio kenapa diam seperti itu?" Rekan pria yang lain ikut berdiri dan mengikuti arah pandangan temannya.

"Hee...!" Pria itu kini sama-sama terkejut.

"A-ada apa ini?" Bisik Hinata semakin tidak nyaman dipandangi seperti itu.

Setelah bisa kembali dari keterkejutannya, rekan pria Akio berbicara. "Ah ternyata ini Hyuga Hinata, akhirnya aku bisa melihatmu secara langsung. Ternyata kau jauh lebih cantik dari yang orang-orang ceritakan ya hehehe."

Hinata yang dibicarakan seperti itu justru semakin gugup dan tersipu malu.

"Hei hei kalian ini, jangan seperti itu. Lihatlah kasian Hyuga-san jadi tidak nyaman." Sahut wanita berambut hitam tadi.

"Oh iya Hyuga-san sebenarnya temanku Akio ini sudah menaruh perasaan padamu sejak hari pertama kau bekerja, tapi dia tak berani berbicara padamu. Ayo Akio, jangan gugup seperti itu, berikan coklatmu yang hampir kedaluarsa itu hahaha." Sindir pria yang ternyata bernama Genma sambil tertawa.

"Sialan kau Genma!" Tatap tajam Akio yang marah dan malu.

"Em ano, sebenarnya aku harus segera kembali." Cicit Hinata berusaha keluar dari situasi tidak nyaman ini.

"Ah tunggu Hyuga-san." Akio langsung berjalan mendekat ke depan Hinata dan berojigi sambil menyerahkan bungkusan coklat yang terlihat sudah disimpan lama.

"Te-terima lah coklat ini sebagai salam perkenalan dariku." Terlihat nada dan tangan pria itu yang bergetar. Ucapan Akio membuat staff Finance yang lain berdiri dan menyoraki Hinata agar menerima pemberian Akio.

"Terima! Terima! Ayo Hyuga-san terima saja!" Sahut beberapa orang.

Gadis itu menggigit bibirnya panik, Ino benar ia harus menyiapkan mentalnya. Jika seperti ini ia akan kapok datang ke Divisi Finance. Hinata menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

"Emm a-aku..." Kami-sama buat aku menghilang sekarang juga jerit Hinata dalam hati, para karyawan itu terus menggodanya agar menerima coklat itu.

"HEI! Apa yang kalian ributkan ini?!" Suara teriakan wanita tiba-tiba keluar dari bilik kaca geser dan ternyata itu adalah Manajer Finance bernama Mitarashi Anko. Teriakan Anko membuat seketika para karyawan itu kembali ke tempat duduk mereka.

"Gomenasai, a-aku tidak terlalu suka coklat." Balas Hinata mencari alasan agar bisa segera pergi. Pria bernama Akio itu kini berdiri dan memandang sedih.

"Ah begitu, kalau nomermu boleh aku minta?" Kedip satu mata Akio menggoda tak memperdulikan atasannya.

"Astaga Akio, kau apakan pegawai baru itu. Sudah abaikan saja dia, kau boleh kembali ke kantormu." Perintah Anko menatap Hinata.

"Hyuga-san tunggu! Lain kali kita makan siang bersama ya." Akio terus berusaha mengajaknya berbicara tapi pria itu justru dijewer Anko agar menjauh.

"Hentikan godaanmu itu!" Geram Anko, membuat mau tak mau Akio kembali terseret ke meja kerjanya.

"Kalau begitu saya permisi." Melihat keadaan itu Hinata segera membungkuk pamit lalu dengan cepat menuju pintu keluar dan menutupnya. Begitu berada di balik pintu Hinata menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Astaga rasanya aku tak pernah ingin kembali lagi ke Divisi ini." Ia bisa merasakan wajahnya memerah akibat malu, tapi ia langsung tersadar akan sesuatu.

"Ya ampun aku sudah terlalu lama, nanti Ino menungguku." Ucapnya panik dan mencoba mengenyahkan rasa malunya. Ia segera berjalan tergesa, namun baru beberapa kali melangkah ia langsung tersentak bukan main karena beberapa meter di hadapannya ia melihat rombongan berjumlah 4 orang yang baru keluar dari lift. Dan yang semakin membuat hatinya berdebar adalah orang yang berada di paling depan, pria dengan balutan Jas yang membentuk sempurna tubuh ateletisnya berjalan dengan elegan dan penuh wibawa. Tidak salah lagi itu Uchiha Sasuke yang kini menjadi Bos Besar Mitzuko Inc.

'Untuk apa dia ada disini? Tunggu! Jangan-jangan rapat produk baru nanti akan dihadiri olehnya?' Kesadaran itu membuat Hinata semakin panik. Tapi gadis itu berusaha berjalan dengan tenang.

Saat jarak diantara semakin dekat, terdengar orang-orang disekitar pria itu menjelaskan sesuatu dengan begitu hormat pada Sasuke. Salah satu yang Hinata ingat adalah pria yang dikuncir tinggi bernama Shikamaru Nara asistennya.

"Setelah sukses dengan ekspansi apparel mereka di Perancis, anak perusahaan ini ingin meluncurkan series perhiasan mereka dengan nama Sparkles. Melihat dari proposal mereka kurasa cukup meyakinkan untuk menarik beberapa investor, tapi ini jenis bidang yang baru pertama kali kita coba. Apa kau yakin akan tertarik?" Tanya Shikamaru sambil berjalan di samping Sasuke dan melirik ke arah iPad yang dia bawa.

'Ternyata benar, dia datang untuk rapat itu.' batin Hinata.

"Hn, kita lihat nanti bagaimana presentasi mereka." Balas Sasuke datar, untuk sepersekian detik obsidian hitam itu tiba-tiba berpandangan dengannya namun pria itu segera mengalihkannya seolah ia tak terkejut melihat Hinata.

Melihat reaksi seperti itu hati Hinata seketika menjadi linu tapi ia mencoba tetap meluruskan pandanganya. Tapi ternyata ia tidak bisa, amethysnya tak kuat untuk melirik pada wajah rupawan nan dingin itu namun sepertinya itu keputusan yang salah. Karena tepat saat mereka saling berpapasan pria Uchiha itu tak meliriknya sama sekali, berjalan melewatinya dengan tenang seolah mereka tidak saling mengenal dan tak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Gadis itu sedikit menggigit bibirnya dan segera berjalan ke arah lift lalu menekan tombol lantai tempatnya bekerja.

Saat pintu lift tertutup, gadis itu bisa melihat pantulan wajahnya yang berubah menjadi sendu di besi stainless mengkilap itu. "Hah... apa yang aku pikirkan? Bukankah itu bagus jadi dia tak akan mengganggu ku lagi?"

Setelah sampai di ruangannya ia melihat Ino sedang bersiap-siap untuk pergi rapat. "Akhirnya kau kembali, bagaimana? Apa yang mereka tanyakan tentang pengajuan itu?" Tanya Ino berjalan mendekat.

"Emh tidak ada, sepertinya sudah benar tapi manajer mereka akan meninjaunya dulu. Kurasa jika sudah disetujui mereka akan menelepon kita." Jelas Hinata berusaha tersenyum menyembunyikan kegundahannya.

"Oh begitu kukira ada yang salah karena kau cukup lama disana. Kalau kau lelah minumlah dulu, setelah itu bawa catatan atau tabmu untuk notulensi. 5 menit lagi rapat akan dimualai." Perkataan Ino membuat Hinata meringis, memang ada yang salah tapi pada orang-orang disana.

Akhirnya mereka berdua menuju ruang rapat dengan Hinata yang terus menerus merasakan kegugupan dan kegundahan hatinya. Rasanya sungguh menyesakkan jika ia benar-benar diabaikan oleh pria yang telah mencuri ciumannya berkali-kali. Mungkinkah memang itu sifat asli seorang Sasuke? Dia memang benar-benar ingin mempermainkan Hinata?

Selama rapat Hinata hanya diam dan fokus membuat catatan notulensinya saat beberapa orang dari perusahaannya mempresentasikan produk baru pada Sasuke. Sesekali Ino menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan masalah produksi.

Mereka duduk di meja oval besar, dan kursi Sasuke berada di depan dekat layar proyeksi membuatnya berseberangan dengan pria itu dari ujung ke ujung.

Di saat seperti ini Hinata menyadari, jika pria itu sedang bekerja ekspresinya begitu serius dan tajam. Tidak ada lagi gambaran pria yang selalu berusaha menggodanya, jari-jari panjang maskulin pria itu sesekali bergerak di atas meja atau kedua tangan yang melipat ke dalam dada sambil memberikan pertanyaan-pertanyaan yang cukup mematikan dan membuat semua orang berpikir.

"Target market dari series perhiasan ini adalah wanita berumur 23-40 tahun. Dimana biasanya rentang usia itu sudah memiliki penghasilan sendiri, dan memiliki citra wanita karir atau Ibu muda yang masih terlihat segar. Perhiasan ini cocok digunakan untuk pemakaian sehari-hari namun tetap menonjolkan kesan elegan dan mewah, sehingga dengan harga yang affordable dapat membuka peluang produk ini dibeli beberapa kali dalam setahun oleh target market kita." Jelas General Manager Hinata mengakhiri presentasinya, membuat beberapa orang disana bertepuk tangan karena terkesan atas penjelasannya yang menarik disertai slide-slide yang menampilkan contoh perhiasan dan beberapa contoh produk di depan.

Namun presentasi yang orang anggap sudah menarik itu nyatanya tidak membuat Sasuke terkesan sama sekali. Pria itu hanya menatap datar pada sang General Manager membuatnya gugup ditatap Sasuke seolah memiliki kesalahan.

"U-uchiha-sama, bagaimana menurut anda?" Tanya panik General Manager itu.

"Menurutku? Tadi itu adalah sebuah presentasi produk yang salah besar." Jawab Sasuke datar, membuat seluruh orang di sana terkejut akan responnya.

"Kau tahu dimana letak kesalahan mu?" Tanya Sasuke tajam, membuat sang General Manger menelan ludahnya gugup.

"Kesalahanmu adalah hanya mempresentasikan gambar-gambar dari produk ini tanpa model target marketmu. Sebagus apapun video presentasimu ini tak akan ada artinya jika positioning product ini salah. Sudahkah kau melihat seorang wanita dengan pakaian kerja mengenakan kalung dan gelang-gelang ini?" Sasuke mengangkat alis bertanya, yang dijawab gelengan oleh General Manager.

"Tch." Decih Sasuke kesal mengetahuinya.

"Kau gadis yang duduk diujung sana maju ke depan!" Perintah Sasuke tiba-tiba, membuat semua orang saling melirik namun di setiap sudut yang duduk adalah pria kecuali Hinata. Hingga akhirnya semua orang disana menatapnya membuat gadis itu mengangkat wajahnya panik.

"A-aku?" Tanya Hinata menunjuk dirinya gugup, ia merasa tak melakukan kesalahan.

"Yeah itu kau Hinata, hanya kau gadis yang duduk di ujung." Ino berbisik kecil membantu agar anak buahnya tidak terkena amukan Sasuke. Dengan perlahan Hinata bangkit dari duduknya dan menutup mata sesaat merasa kesal harus dipanggil ke depan oleh pria itu.

Saat Hinata sudah berdiri di depan menghadap para peserta rapat yang tak lain adalah para manajer perusahaannya dan beberapa orang dari pihak Sasuke membuat dirinya semakin tegang, ia hanya berharap pria Uchiha itu tak mempermalukannya.

Sasuke kini terlihat beranjak dari duduknya dan berjalan ke hadapan Hinata, gadis itu menatap penuh antisipasi takut akan apa yang akan dilakukan Sasuke. Tapi ternyata pria itu justru mengambil sebuah kalung yang menjadi contoh produk di meja depan dan berdiri dengan jarak yang begitu dekat dihadapan Hinata. Dengan santainya tangan pria itu mulai mencoba memasangkan kalung pada leher Hinata, karena tubuh tingginya yang satu kepala di atas Hinata pria itu dengan mudah melakukannya. Kepala Hinata benar-benar berhadapan dengan dada bidang yang menguarkan aroma memikat itu, ia rasakan tangan Sasuke justru seolah mengelusi rambut panjangnya.

Hinata menggigit bibirnya cukup keras, ia yakin sekarang pipinya benar-benar memerah karena suasan tiba-tiba begitu hening saat Sasuke memasangkan kalung ini. Semua orang pasti menatap aneh pada mereka berdua.

"Kenapa begitu tegang cantik?" Bisik Sasuke ke samping telinga Hinata sambil berusaha memasangkan kalung. Hal itu sukses membuat jantung Hinata seakan sedang konser di dalam sana, gadis itu beranikan melirik ke atas dan melihat Sasuke menatapnya intens dengan sedikit seringai nakalnya.

Mulut Hinata berdecak pelan dan memutar mata kesal. 'Sialan! Pria ini hanya ingin mengerjaiku di hadapan seluruh manajer.' teriak Hinata kesal dalam hati.

"Sekarang lihatlah?" Tangan Sasuke tanpa permisi memegang lengannya agar membuat ia menghadap para audience kembali.

"Kalian berpikir seseorang dengan pakaian kerja seperti ini cocok menggunakan perhiasan ini?" Sasuke menatap seluruh anak buahnya. Mendengar hal itu seketika membuat Hinata sedikit membuka mulutnya tak percaya dan memandang kesal Sasuke. 'Enak saja! Apa maskud dia aku tak pantas memakai perhiasan?' Gadis itu memberengut sebal, pria ini selalu berhasil membuatnya emosi.

"Perhatikan baik-baik maka kalian akan menyadari letak kesalahan produk ini." Perintah Sasuke tegas, ucapan pria itu kini membuat Hinata ikut berpikir. Nadanya bukan ingin menjatuhkan Hinata, gadis itu kini melihat pada kaca lipat di kotak penyimpanan perhiasan yang ada pada meja di hadapannya.

Setelah ia meneliti memang benar, ternyata perhiasan ini terlalu mencolok jika tujuannya untuk penggunaan sehari-hari dan pekerja kantoran. "Sas-- emm U-uchiha-sama. Saya rasa saya mengerti letak kesalahannya." Hinata hampir salah berbicara, tapi ia beranikan mengutarakan pendapatnya.

Sasuke masih berdiri di dekatnya lalu memiringkan kepala. "Jelaskanlah." Perintah pria itu.

"Setelah melihat tampilan saya di cermin, memang perhiasan ini terlihat begitu indah, tapi saya rasa ini terlalu mencolok jika untuk penggunaan di lingkungan kantor ataupun kegiatan sehari-hari. Sehingga tidak memunculkan kesan minimalis dan elegan dari tema yang ingin diusung dan melenceng dari brand image yang tadi dijelaskan. Mungkin akan lebih cocok jika untuk udangan pesta atau perayaan, butiran-butiran mutiaranya terlalu besar jadi saya rasa liontin dengan butiran permata sebagai highlight utamanya sudah cukup." Jelas Hinata sedikit malu karena tatapan orang-orang. Gadis itu menilai rekasi Sasuke tapi pria itu hanya diam memandangnya. 'Semoga aku tidak salah berbicara' harap Hinata takut Sasuke justru menjelek-jelekan pendapatnya.

"Hn, baiklah kau boleh kembali ke tempatmu." Balas Sasuke datar, itu membuat Hinata bingung apakah pria itu setuju dengan pendapatnya atau tidak. Tapi gadis itu dengan segera melepas kalungnya dan berjalan kembali ke tempat duduk.

"Kalian semua mendengar apa yang dikatakan gadis tadi?" Tanya Sasuke pada semua orang.

"Hai, Uchiha-sama." Jawab semua orang.

"Aku ingin kalian memperbaiki desain perhiasan ini, ingat penilaian konsumen adalah pandangan pertama mereka pada produk berlanjut membandingkan harganya. Dengan desain seperti itu target market kalian akan berpikir perhiasan ini akan terlalu mewah untuk mereka, dan kalangan atas akan berpikir ini perhiasan murahan karena desain berlebihan tetapi memiliki harga yang standar. Kalian mengerti tentang itu?" Tanya Sasuke sekali lagi dengan nada peringatan.

"Kami mengerti Uchiha-sama." Jawab kembali para bawahannya.

Penjelasan dari Sasuke menjadi akhir dari bagian rapat lalu ditutup oleh General Manager tadi. Kini seluruh manajer dan asistennya telah kembali menuju ruang masing-masing termasuk Hinata dan Ino. Di dalam ruangan kini tersisa Shikamaru yang sedang merapihkan berkasnya dan Sasuke yang bersiap pergi.

"Hei... tak kusangka kau berani melakukan itu di hadapan para manajernya. Aku sempat terkejut kukira tadi kau ingin berbuat keributan dengan gadis Hyuga itu." Sindir Shikamaru menatap Sasuke geli.

"Memang apa yang kulakukan?" Tanya Sasuke mengangkat bahu santai.

Shikamaru menaikan alisnya dan menatap Sasuke curiga. "Dari sikap gadis itu yang bisa balik memandangmu dari jarak sedekat tadi, kurasa itu bukan pertama kalinya kalian berdekatan. Aku bisa melihat tatapan kemarahan mu saat pertama kali melihatnya dirapat pemegang saham sudah berganti." Tebak Shikamaru tepat sasaran.

"Bukankah setiap wanita memang selalu ingin berdekatan denganku?" Elak Sasuke berusaha tetap terlihat santai, padahal dia ingin segera mengalihkan pembicaraan ini.

"Kau pergi saja duluan ke loby, nanti aku menyusul." Pria Uchiha itu segera keluar dari ruang rapat menghindari Shikamaru.

"Oi, tunggu dulu. Kenapa meninggalkan ku? Ah merepotkan, kenapa juga mereka memberikan banyak dokumen yang harus kubawa." Gerutu Shikamaru masih merapihkan beberapa dokumen yang berserakan.

.

.

.

Hinata baru saja duduk di meja kerjanya dan akan segera mengirimkan notulensi rapat tadi ke email Ino tapi getaran di ponselnya menandakan ia memiliki sebuah pesan.

Pergilah ke Balkon lantai 12.

"Siapa yang mengirim pesan ini?" Tatapnya bingung, ia sejujurnya takut Akio dari Divisi Finance tadi akan terus mencoba mendekatinya. Apa ia harus pergi? tapi jika tidak ia akan terus penasaran, Hinata menggigit bibirnya terlihat mempertimbangkan.

"Hah... Baiklah daripada aku penasaran, kuharap ini akan berlangsung cepat." Hinata bergumam pelan, lalu berdiri dari kursi kerjanya.

"Ino, aku ke kamar mandi dulu." Izin Hinata menatap Ino yang berada di mejanya. Itu tak sepenuhnya bohong mungkin nanti ia akan cuci tangan.

"Ah, baiklah." Sahut wanita itu yang sedang fokus pada Macbooknya.

Gadis itu itu keluar dari ruang kerjanya dan mulai melangkah ke ujung bangunan dimana terdapat pintu besi penghubung menuju balkon kantor, biasanya tempat itu hanya ramai saat jam istirahat.

Hinata mendorong pelan pintu besi itu, baru selangkah ia memasuki area balkon tubuhnya langsung dikejutkan oleh sebuah benda berbentuk kotak yang terlempar ke arah dadanya. Untunglah insting refleknya cukup bagus sehingga dapat menangkap benda itu tepat dengan kedua tangannya.

"Apa ini?" Ia melirik pada benda itu bingung.

"Siapa bilang kau boleh melepaskan kalung tadi?" Suara bariton terdengar dari tembok di dekat pintu. Kini amethys itu bisa menangkap siluet Sasuke yang sedang bersandar santai pada tembok sambil memasukan kedua tangan ke dalam saku celana formalnya. Untuk sesaat posisi itu membuat Hinata terdiam, karena Sasuke terlihat begitu menggoda dengan sejumput poni yang sedikit panjang dan cahaya keemasan sore hari yang menyinarinya. 'Tunggu! Apa yang kupikirkan?!' Hinata dengan cepat menggelengkan kepalanya.

Gadis itu segera membuka kotak beludru berwarna biru tua yang dipegangnya, ternyata benar isinya adalah kalung yang tadi ia kenakan dan ada juga gelang serta anting yang masuk ke dalam serie contoh produk. "Kenapa kau memberikan ini padaku? Ini properti perusahaan." Tatap Hinata aneh.

Sasuke mulai berdiri tegak. "Tidak lagi, itu adalah produk gagal. Mereka memberikan barang tak berguna itu padaku, dan tak tahu harus kuapakan. Jadi lebih baik kau menyimpannya." Sasuke mulai memperhatikan Hinata.

Sesuatu dalam hati Hinata seolah berperang, ada sisi yang merasa Sasuke sebenarnya mengingatnya dan ingin memberikan sebuah hadiah. Tapi disisi lain cara pria itu menjelaskan seolah Hinata layak diberi sebuah sampah yang sudah tak terpakai. Genggaman gadis itu sedikit mengerat, ia tak terima ini. Hinata segera melempar kotak itu kembali pada Sasuke yang dengan mudah pria itu tangkap.

"Aku tak memerlukan barang seperti itu jika kau hanya ingin merendahkanku dan membuatku seolah tempat penyimpanan barang bekasmu." Tatap Hinata dingin merasa sakit hati, mereka berpandangan sesaat lalu gadis itu segera memalingkan wajah dan beranjak pergi.

Namun belum sempat Hinata menarik handle pintu, Sasuke berhasil meraih lenganya dan mendorong Hinata pelan pada tembok. Membuat kini tubuh mungilnya terkurung Sasuke, satu tangan pria itu bersandar di atas kepala Hinata. Wajah tampannya merunduk merapat pada wajah manis sang Hyuga.

"Kau ingin aku memberikannya dengan cara seperti ini?" Tatap intens Sasuke, jemari di tangannya yang bebas membelai pelan pipi porselen itu. Hinata seketika tercekat dan memandang pria itu terkejut, sensasi ini lagi jeritnya. Perut dan jantungnya seolah bergejolak, ia mencoba mendorong dada Sasuke tapi pria itu justru menautkan tangan mereka agar saling bergenggaman dan menahannya pada tembok.

"Kau ingin aku memujimu bahwa kau sangat cantik mengenakan perhiasan itu, bahwa aku sangat terpesona saat kau memakainya?" Sasuke berbicara dengan pelan dan dalam, ia semakin eratkan genggaman tangan mereka.

"A-apa yang kau lakukan? Lepaskan! Ini di kantor, bagaimana jika ada yang melihat?" Peringat Hinata panik. Pria itu justru menyeringai kecil dan tak menanggapi ucapan Hinata.

"Dengar... Seribu kalipun aku menatapmu kau akan selalu terlihat cantik. Aku ingin kau menyimpan kalung itu karena kau yang pertama memakainya dan itu begitu indah padamu. Tapi keindahan kalung itu tak mampu membuatku berpaling dari wajah manis ini." Satu tangan Sasuke yang bersandar mendekat pada dagu Hinata dan mengelusnya pelan. Seketika bola amethys itu melebar, Hinata tak menyangka Sasuke akan mengungkapkan kalimat seperti itu padanya.

"Itu hanya permulaan dari hal yang ingin kuberikan padamu. Jadi simpanlah." Sambung Sasuke lalu melepaskan genggaman mereka, tapi Hinata masih terus terdiam tak tahu harus menanggapi bagaimana sikap pria ini. Sasuke terkekeh kecil melihat kediaman Hinata, pria itu memasukan kotaknya ke dalam saku blezer Hinata dan sebelum pergi ia mengusap pelan pucuk rambutnya.

"Aku pergi dulu." Setelahnya Sasuke membuka pintu besi dan berjalan keluar terlebih dahulu dari area balkon.

Untuk beberapa saat Hinata masih terdiam hingga akhirnya gadis itu bisa menghembuskan napas panjang tertahannya. Tangannya meraba jantungnya yang masih berpacu cepat.

"Perasaan apa ini?" bisiknya tak mengerti.

Tak ingin berlama-lama disana gadis itu segera kembali ke ruang kerjanya dan dengan hati-hati menyimpan kotak perhiasan itu ke dalam tasnya. Ia masih gundah harus mengembalikan perhiasan itu atau tidak.

Waktu terus berjalan hingga akhirnya jam kerja selesai dan ia segera turun ke lantai satu agar bisa segera menuju Rumah Sakit, ia tak sabar untuk melihat ayahnya sadar. Namun di loby kantor seperti biasa ada beberapa pria yang selalu menawarinya untuk pulang bersama dengan mobil mereka termasuk kini Akio yang sangat bersemangat saat melihatnya. Dan Hinata hanya bisa menolak sambil berjalan tergesa menuju halte bis.

.

.

.

Di Rumah Sakit gadis itu dengan tak sabar membuka pintu ruang perawatan ayahnya, begitu masuk ia tak bisa menahan bulir air mata yang menumpuk di sudut matanya saat ia melihat ayahnya telah membuka mata.

"Otou-san... Hiks..." Hinata segera berhambur memeluk ayahnya yang masih terbaring. Ia peluk dada pria itu erat, terus terisak belum sanggup menatap wajah Hiashi.

"Maafkan Hinata Tou-san, maafkan Hinata tak bisa segera memberikan pengobatan saat itu. Hiks... Hinata sangat takut kehilangan Tou-san." Bulir air mata terlihat mengaliri pipinya.

"A-a.. Anak-ku." Gumam Hiashi pelan dengan susah payah, tangan rapuhnya berusaha membelai rambut panjang sang anak. Saat merasakan sapuan itu Hinata segera mengangkat wajah menatap Hiashi. Ia menggenggam tangan yang mulai keriput itu erat.

"Maafkan Hinata tak ada saat Tou-san membuka mata. Hinata ingin terus menemani Tou-san, tapi Hinata harus bekerja hiks..." Tangan putihnya berusaha menghapus air mata di sekitar pipinya. Hinata menatap Hiashi yang berusaha tersenyum di tengah wajah pucatnya.

"K-kau su-dah bekerja nak?" Tanya Hiashi dengan senyum bangga bercampur sedih, karena seingat dia anaknya baru akan masuk semester terakhir kuliah. Berapa lama ia meninggalkan putri satu-satunya ini? Batinnya pilu.

Hinata mengangguk menahan isak. "Hinata sangat bersyukur pada Kami-sama karena masih diberi kesempatan bertemu Tou-san di saat sadar seperti ini. Tou-san tak perlu khawatir, Hinata hanya sedang menunda kuliah dan pekerjaan Hinata cukup bagus. Sekarang Tou-san hanya perlu beristirahat ya." Gadis itu tersenyum sambil merapihkan rambut panjang ayahnya lembut.

"Apa dokter sudah memeriksa Tou-san?" Tanya Hinata lagi dengan suara yang sumbang sehabis menangis. Hiashi mengangguk lemah sebagai jawaban, pria itu kini mulai termenung. Ia ingin bertanya berbagai hal termasuk keberadaan istrinya, namun hatinya begitu takut mendengar sesuatu yang tak ia inginkan.

"Tou-san sudah makan? Atau sedang haus? Ayo Hinata bantu?" Hinata bertanya segala hal agar menghentikan kesedihannya.

"H.. Hi-nata, di-mana Ibu... mu?" Bisik Hiashi pelan pada akhirnya. Seketika mata amethys itu kembali berkaca-kaca tak sanggup harus menceritakan segala hal yang belakangan ini telah ia lalui. Ia gigit bibirnya menahan kepedihan saat teringat mendiang Ibunya yang meninggal dengan sekujur tubuh penuh luka.

"T-tou-san..." Hinata bergetar sedih karena bingung harus berkata apa. Ditengah kebimbangannya ia mendengar suara pintu terbuka diikut beberapa orang yang saling berbincang, ternyata itu adalah Dokter yang sedang berbicara pada kedua Jaksa. Ya, tak salah lagi Gaara dan Darui mendatangi ruang perawatan Hiashi.

Saat Hinata melihat pria Sabaku itu dirinya sedikit terkejut dan bingung kenapa Gaara datang lagi? Tapi pria itu seolah berusaha menghindari tatapan darinya.

"Tuan Hyuga masih cukup lemah dan kondisi tubuhnya belum stabil meskipun telah sadar. Tapi jika urusan kalian mendesak atas perintah Pengadilan aku hanya bisa memberi izin pemeriksaan sekitar 30 menit. Tuan Hyuga belum boleh berpikiran terlalu keras." Jelas sang Dokter sambil berjalan ke arah ranjang Hiashi.

"Gaara a-ada apa ini?" Tanya Hinata sambil mencerna keadaan.

"Kami disini untuk melakukan pemeriksaan karena kemarin aku mendapat informasi Tuan Hyuga akan sadar hari ini. Ini surat tugasnya, pemeriksaan ini mendesak karena waktu penyidikan akan berakhir besok jadi kami harus mengumpulkan sebanyak mungkin keterangan." Gaara menjawab tenang, namun kini nadanya begitu formal dan ekspresinya hanya menatap datar pada Hinata.

"Pemeriksaan? Tapi bukankah Tou-sanku harus didampingi pengacaranya?" Balas Hinata khawatir, ia takut ayahnya belum kuat.

"Kami sudah menghubungi pengacara Tuan Hyuga, dan hari ini dia sedang ada keperluan mendesak jadi tidak bisa hadir." Jawab Darui, Hinata sedikit mengernyit karena Kakashi belum mengabarinya apapun namun seketika ia teringat sebelum pulang ponselnya kehabisan daya dan mati. Mungkin pria itu menelepon tapi tak terangkat.

Dokter maju untuk menyenteri bola mata Hiashi, dan mengecek infusan, serta monitor pendeteksi detak jantung yang terhubung melalui kabel-kabel pada dada pria itu. "Untuk saat ini kondisi Tuan Hyuga cukup stabil. Baiklah aku izinkan pemeriksaan ini, jika bisa lebih cepat lebih baik." Jelas sang Dokter.

"Tuan Hyuga, jika terjadi sesuatu segera katakan ya." Sang Dokter menepuk pundak Hiashi pelan, yang dijawab anggukan pria rapuh itu.

"Baiklah aku permisi." Dokter itu pamit dan berjalan keluar. Kini Hinata menatap pada kedua Jaksa itu.

"To-tolong, jangan terlalu memaksa Tou-san saya. Tubuhnya masih lemah." Pinta Hinata sedih.

"Kami akan melakukan sebagai mana mestinya." Balas Gaara cepat tak bersahabat, Hinata menatap nanar mendengarnya. Kini pria itu telah berubah.

"Ya tenang saja Nona Hyuga, jika terjadi apa-apa kami akan segera memberitahumu." Lajut Darui sopan tersenyum menatapnya.

"Tolong, sekarang beri kami waktu." Lanjut Gaara memberi isyarat agar Hinata segera keluar dari ruang perawatan. Gadis itu sekali lagi menatap begitu khawatir pada ayahnya.

"Tou-san, Hinata akan menunggu di luar. Beritahu mereka jika Tou-san kelelahan ya." Hinata menggenggam tangan Ayahnya sebentar dan dibalas anggukan, lalu gadis itu mulai berjalan keluar ruangan. Saat ia akan menutup pintu, ia melirik pada Gaara tapi tetap pria itu sama sekali tak memperdulikannya.

Hinata akhirnya hanya bisa duduk menunggu di luar sambil terus berdoa agar ayahnya baik-baik saja. Dari pertanyaan ayahnya yang mencari ibunya, berarti Dokter belum menjelaskan apapun. Dan kini Hinata begitu takut jika di dalam sana Gaara memang harus menjelaskan segala hal yang terjadi, ia sangat takut ayahnya akan begitu sedih mengetahui kematian ibunya dan mempengaruhi kondisi kesehatannya. Tangan putih gadis itu menutup mulutnya pilu menahan tangis.

.

.

.

Kini sudah berjalan 45 menit tapi Gaara dan Darui belum juga keluar, Hinata ingin membuka pintu ruangan tapi takut itu tak sopan dan mengganggu namun ia juga tak tenang.

"Semoga Tou-san kuat menerima semuanya." Bisik Hinata sendu.

Sementara di dalam ruangan terlihat Hiashi yang menampilkan wajah datarnya namun begitu menunjukkan ekspresi tertekan dan syok yang mendalam setelah seluruh kebenaran diungkap kedua Jaksa ini. Karena sebelum dirinya berangkat perjalanan bisnis Hiashi tak tahu semuanya akan jadi begini, dan kini hatinya seolah terbagi dua mengetahui belahan jiwanya, wanita yang begitu ia sayangi dan cintai telah pergi selamanya.

"Gaara ini sudah 45 menit, lebih baik kita lanjutkan pertanyaan yang lain nanti." Saran Darui yang melihat kondisi Hiashi semakin lemah dan tegang.

"Tak ada lagi kata nanti Darui, besok kita harus menyerahkan berkas perkaranya. Tinggal 5 pertanyaan lagi." Kukuh Gaara.

"Tapi Bos, jawaban dari Tuan Hyuga pun belum jelas dia masih kesulitan berbicara. Ayolah Bos, kau tidak biasanya seperti ini. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Selidik Darui simpati.

Gaara menghela napas pelan, benar pikirnya ia tidak boleh egois. Masalahnya tidak boleh mencampuri pekerjaan ini, dan ia pun harus peduli pada pria lemah yang kini sepertinya syok dan sedih atas kabar hancurnya karir dan kematian istrinya.

"Baiklah, cukup itu saja yang kita laporkan." Putus Gaara dan bangkit dari kursi di samping ranjang.

"Terima kasih atas keterangan dan waktu anda Hyuga-san. Surat pemanggilan persidangan akan segera kami kirimkan setelah ini. Kami permisi." Gaara dan Darui berojigi sebagai penghormatan lalu berjalan ke pintu keluar.

Begitu keluar mereka langsung disambut Hinata yang seketika berdiri dan memandang penuh tanya akan kondisi ayahnya. Karena Gaara tak berbicara apapun, maka Darui menjelaskan.

"Pemeriksaannya telah selesai meskipun belum semua pertanyaan terjawab. Tapi Tuan Hyuga masih tetap sadar, kalau begitu tugas kami telah selesai permisi." Pamit Darui dan dibalasan anggukan Hinata. Gadis itu menatap ke arah Gaara tapi pria itu hanya ikut mengangguk dan segera berbalik pergi.

"Gaara." Ucap Hinata cepat meraih lengannya sebelum pria itu berhasil melangkah lebih jauh membuatnya terdiam di tempat tak berbalik.

"Jika kau masih marah padaku. Aku ingin meminta maaf sekali lagi, tapi tak apa jika kau belum bisa memaafkanku. Aku hanya ingin bilang aku menghargai apapun hasil kerja kerasmu. Arigatou gozaimasu." Ujar Hinata tulus.

Pemuda itu terlihat menutup matanya sesaat, sebenarnya ia tak kuat mendengar nada sedih dan memohon seperti itu dari Hinata. Tapi ia belum bisa menjernihkan pikirannya.

"Sudah menjadi tugasku." Balas Gaara singkat tanpa berbalik dan kembali berjalan meninggalkan Hinata, membuat gadis itu menatapnya pedih. Gaara yang akan mengatakan semuanya baik-baik saja telah hilang, Hinata mencoba menabahkan hatinya, tak apa dia tetaplah pria yang baik dan dapat diandalkan bantin Hinata menyemangati.

Gadis itu kembali masuk ke dalam ruang perawatan ayahnya, namun dirinya seketika syok karena kini monitor detak jantung ayahnya terlihat melemah.

"Tou-san! Otousan! Ada apa ini? Kumohon bicaralah." Hinata segera berlari dan mengguncang pelan bahu Hiashi, karena pria itu hanya menatap kosong ke atas tanpa berkedip dengan air mata yang terlihat mengalir.

"Hi-ka-ri..." Bisik tertahan Hiashi sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

"TOU-SAN!" Teriak Hinata panik, gadis itu segera menekan-nekan tombol pemanggil Dokter dengan cepat dan panik.

"TOU-SAN! TOU-SAN! HINATA MOHON SADARLAH." Tapi gadis itu tak sabar dan sangat ketakutan sehingga langsung berlari keluar mencari suster atau Dokter.

.

.

.

Sasuke sedang membungkuk sambil fokus untuk membidikan tongkat billiard pada tumpukan bola-bola yang telah disusun berbentuk segitiga di tengah meja hijau, dan menghasilkan shoot yang mencetak 5 bola masuk bersamaan ke dalam lubang. Pria itu menyeringai senang atas bidikannya.

"Sejak kapan kau jadi semakin mahir?" Sindir Shikamaru yang ikut bermain bersama, meskipun mereka atasan dan bawahan tapi hubungan keduanya lebih seperti teman karib. Mereka biasa menghabiskan waktu bersama sepulang kantor di ruang bermain milik Sasuke ini.

"Aku berlatih keras agar tak pernah kalah lagi darimu." Sahut Sasuke percaya diri.

"Tch." Kekeh Shikamaru.

Sasuke mundur membiarkan giliran bermain untuk Shikamaru. Lengan kemejanya telah digulung hingga kesikut, dan dua kancing yang telah dilepas membuat penampilan pria itu terlihat lebih santai. Ia duduk pada mini bar yang tersedia disana dan meneguk Vodka dari gelas pendek yang telah ia tuang sebelumnya.

"Akhir-akhir ini kau terlihat sering menyembunyikan senyummu, ah tidak lebih tepatnya menyeringai. Ada apa? Apa karena gadis Hyuga itu berhasil kau jadikan mainan?" Shikamaru mencoba memulai obrolan sambil fokus membidikan tongkatnya.

"Mainan ya?" Tanya Sasuke seolah berpikir tentang kata itu.

"Entahlah, gadis itu berbeda dari semua wanita yang pernah kukencani." Jawab Sasuke mengangkat bahu.

"Kencani? Seingatku kau hanya mendatangi mereka sekali lalu meninggalkannya." Balas Shikamaru telak.

"Khe, haruskah kau memperjelasnya." Tatap Sasuke sinis, membuat Shikamaru terkekeh pelan. Tiba-tiba terdengar panggilan dari ponsel Sasuke dengan cepat pria itu angkat.

"Ya ada apa?"

"Hiashi Hyuga sekarang kembali tak sadarkan diri setelah melakukan pemeriksaan dengan kedua Jaksa itu." Jelas informan Sasuke. Pria itu seketika berdiri dan mencengkram ponselnya.

"Kenapa bisa seperti itu?" Tanyanya tajam dan menyimpan gelas dengan sedikit keras.

"Kondisi pria itu memang masih belum stabil, tapi sepertinya karena tekanan dari berpikir keras selama pemeriksaan yang melebihi batas waktu yang diperintahkan Dokter dan juga kenyataan yang dijelaskan oleh Jaksa."

"Sialan." Tatap Sasuke murka dan tanpa berbasa basi langsung mematikan sambungan. Rahangnya mengeras menahan gejolak amarah.

"Shikamaru, aku harus pergi." Ujar Sasuke cepat lalu berjalan sambil menarik jasnya dari sofa.

"Oi, ada apa?" Tanya Shikamaru bingung melihat kepergian Sasuke yang terburu-buru.

.

.

.

Sasuke terlihat berlari di sepanjang lorong Rumah Sakit, wajahnya memancarkan kekhawatiran yang begitu nyata. Lalu setelah ia sampai di luar ruangan ICU laju kakinya memelan, ia melihat Hinata sedang duduk sambil menangis tersedu. Pria itu mendekat perlahan dan berlutut di hadapan Hinata.

"S-Sasuke?" Tanya Hinata sedikit terkejut tak menyangka kehadirannya.

"Apa yang terjadi?" Bisik Sasuke. Pria itu bisa melihat amethys rembulan Hinata semakin berkaca-kaca mendapat pertanyaan darinya hingga satu isakan berhasil lolos.

Kepalan tangan Sasuke mengerat, kekhawatirannya pada gadis ini membuat ia murka pada orang yang telah membuat Hinata menangis.

Terdengar suara pintu ruang tindakan dibuka, membuat keduanya menatap Dokter yang baru saja keluar.

"Bagaimana bisa sampai seperti ini?" Desak Sasuke mendekat pada Dokter menuntut penjelasan.

"Saya rasa Tuan Hyuga sudah berpikir terlalu keras dan ada sesuatu yang membuatnya begitu syok. Tadi jantungnya sempat berhenti sesaat tetapi kami sudah menggunakan defibrilator, syukurlah pasien bisa selamat hanya saja kondisinya kembali kritis. Sepertinya pemeriksaan tadi menjadi penyebab utamanya." Jelas Dokter tak enak.

"Lalu kenapa kau mengijinkan mereka?" Tatap Sasuke tak terima.

"Seharusnya pemeriksaan selama 30 menit tidak masalah, tapi sepertinya mereka melebihi waktu. Saya akan mengevaluasi itu, untuk sekarang Tuan Hyuga akan kembali di rawat di ruang ICU. Saya permisi." Pamit sang Dokter diikuti beberapa suster di belakangnya. Tatapan Sasuke kini berubah semakin dingin, ia harus memberi pelajaran pada Jaksa itu!

Sasuke merilik kembali pada Hinata yang hanya bisa merunduk sedih. "Aku akan membuat perhitungan." Ucap Sasuke yakin.

"A-apa maksudmu? Kenapa kau bersikap peduli pada Tou-sanku? Siapa sebenarnya dirimu?!" Nada Hinata bergetar menahan tangis. Sasuke memegang bahu Hinata memandang gadis itu dengan kesungguhan hatinya.

Pria itu terdiam sesaat. "Tunggu aku." Sasuke hanya bisa mengatakan itu, lalu segera berjalan menjauh. Ada yang harus ia lakukan saat ini juga.

.

.

.

Gaara sedang mengetik laporan dari hasil keterangan Hiashi saat ponselnya berdering, ia sedikit mengernyit saat nomor tak dikenal tertera di layar. Ia sedikit ragu namun akhirnya ia putuskan menjawabnya.

"Ha--" Ucapannya seketika terpotong.

"Temui aku sekarang juga di Taman Hibiya! Jika tidak aku sendiri yang akan mendatangimu!" Tut... Sambung langsung terputus. Gaara terdiam sesaat mencerna suara dengan nada tajam dan dingin itu, tak salah lagi ia mengenal suara itu.

Pria itu memijat dahinya pelan. "Untuk apa dia meminta bertemu di jam 9 malam seperti ini?" Liriknya pada jam dinding, tapi dari nadanya pria itu tak main-main. Sepertinya Gaara memang harus datang, akhirnya pria itu memutuskan beranjak dan mengambil jaketnya. Lalu segera keluar gedung Kejaksaan dan masuk ke mobilnya untuk menuju Taman Hibiya.

Begitu Gaara memarkirkan mobilnya di area taman, ia mengamati sekitar hanya satu mobil lain yang terparkir dan suasana ditaman sudah begitu sepi dengan beberapa lampu taman yang terlihat temaran. Pria itu keluar dari mobil dan mulai mencari keberadaan pria yang meneleponnya. Hingga akhirnya tiba di tengah taman dimana terdapat kolam kecil disana.

Ia melihat seseorang itu membelakanginya dengan melipat kedua tangan ke dada.

Gaara berjalan mendekat perlahan ke belakang pria itu. "Ada apa kau memanggilku?" Tanya Gaara dingin.

"Cih, ternyata kau punya nyali." Sasuke berbalik dan memandang tajam Gaara.

"Tak perlu basa-basi, cepat katakan tujuan mu!" Peringat Gaara, sama-sama menatap tak gentar.

"Tak ingin berbasa-basi? Oke, bersiaplah." Tatap kejam Sasuke, lalu dengan cepat berjalan ke hadapan Gaara dan seketika memberikan hantaman kuat tangannya ke sisi wajah Jaksa muda itu.

BUGH

"Ini balasan karena telah membuat Hinata menangis!" Hardik Sasuke saat melayangkan tinjuannya.

Hantaman kuat itu berhasil membuat Gaara langsung tersungkur dan jatuh ke tanah. Pria itu seketika ikut murka dan dengan cepat bangkit berdiri. Ia mencengkram kerah Sasuke begitu kuat.

"Kurang ajar! Apa maksudmu?!" Tatap sengit Gaara.

"Tch, terima kasih atas tindakan tak bertanggung jawab mu aku tak perlu repot mencari cara agar Hinata membencimu!" Ujar remeh Sasuke, membuat Gaara terdiam tak mengerti. Sasuke menggunakan kesempatan saat Gaara berpikir untuk menghajarnya lagi dengan cara meninju dadanya, dan menendang perutnya. Membuat kini Gaara terbaring kesakitan di tanah.

"SIALAN kau Uchiha!" Teriak Gaara murka, sambil mencoba bangkit.

"Kau telah membuat Hiashi tidak sadarkan diri setelah pemeriksaan sialanmu itu!" Teriak Sasuke kesal.

"Apa?!" Jadenya melebar tak percaya, niatnya yang ingin membalas pukulan Sasuke menjadi seakan kehilangan tenaga. Kini ia menyadari telah membuat kesalahan besar pada Hinata.

Sasuke maju lagi dan menarik kemeja Gaara kencang membuat pria itu kembali berdiri. Saat pria Uchiha itu akan menghantamnya kembali, kini tangan Gaara bisa dengan mudah menangkis serangan itu tapi pandangannya hanya lurus ke depan karena merasa begitu khawatir.

"Aku harus berbicara pada Hinata." Bisik Gaara sedih.

"Jangan pernah berpikir untuk mendekati Hinata lagi!" Ancam Sasuke kini sudah benar-benar murka.

BUGH

Sebuah tinjuan kembali terdengar dari dalam taman yang sunyi itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To be continue

This chapter may be a quite long, but hope this make you enjoy. Semua saran atau ide aku terima.

Kira-kira kalian bisa nebak g nih sebenarnya Sasuke tuh siapa sih sampe sepeduli itu juga sama Hiashi? Hehehehe

Jangan lupa riview dan vote ceritaku ya biar aku semangat terus dan up kilat.

See you in the next chap...

Thanks for reading n_n

By Chichiyulalice