Disclamer: Naruto and all character is belong to Masashi Kishimoto

Sasuhina Gaahina fanfiction

Alternatif Universe

Ooc, Typo, DLDR

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Happy Reading!

BUGH

Suara tinjuan kembali terdengar menggema dari kesunyian taman Hibiya. Terlihat kepalan tangan kuat dan engahan napas dari pria berambut merah yang baru saja melancarkan pukulannya pada wajah pria Uchiha.

"Kau tidak berhak melarangku menjauhi Hinata." Peringat Gaara menatap tajam Sasuke yang kini tersungkur, pria Uchiha itu tak menyangka dia bisa diserang balik seperti ini.

"Cuh!" Sasuke yang tersungkur di tanah untuk sesaat membuang darah dari sudut mulutnya akibat pukulan Gaara yang tak main-main. Bibirnya menyeringai tipis, merasa semakin tertantang ingin menghajar Jaksa muda itu.

"Aku memang bersalah atas apa yang terjadi pada Tuan Hiashi, tapi aku tak pernah berniat sedikit pun menyakiti Hinata. Berbeda denganmu yang sudah membuat keadaannya susah, memaksanya, dan bertingkah seolah kau bisa mempermainkannya. Hinata sama sekali tak layak bersamamu." Ucap Gaara dengan tatapan sengit.

Sasuke berusaha bangkit dan merapihkan jasnya sebentar.

"Kau terlalu naif jika berpikir Hinata akan membalas perasaanmu. Apakah menurutmu yang kau lihat itu adalah ciuman pertama kami?" Jawab Sasuke mendengus geli, mendengar hal itu seketika Gaara merasa hatinya tercabik, rahangnya mengeras dengan kepalan tangan semakin mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Keparat kau Uchiha! Jangan berbicara seolah Hinata adalah wanita murahan!" Murka Gaara dan langsung maju dengan cepat menghajar kembali Sasuke dengan serangan karate yang dia kuasai. Kakinya terangkat menendang dada Sasuke cukup keras hingga targetnya mundur beberapa langkah, tapi Sasuke tak tinggal diam ia segera membalasnya dengan tinjuan pada perut Gaara lalu membaliknya hingga tubuh pria iyu membentur tanah. Dengan cepat Sasuke menaiki perut Gaara, tangannya mencengkram erat kerah kemeja pria itu dan satu tangan yang lain secara membabi buta menghajar wajah Gaara.

Beberapa tinjuan terus Gaara terima hingga terlihat mata, pipi, dan pelipisnya lebam serta tergores disertai darah dari sudut mulutnya.

"A-aku tak akan kalah darimu!" Bisik Gaara tak takut ketika tinjuan Sasuke berhenti sesaat karena pria itu mulai sedikit kelelahan. Jaksa muda itu segera membalik keadaan membuat kini Sasuke berada di bawahnya, tanpa bisa menahan lagi amarah Gaara pun memberikan bogemnya di berbagai tempat di wajah Sasuke.

Pria Uchiha itu kini merasakan rasa sakit yang serupa, hingga beberapa menit kemudian dua wajah tampan itu tak ada bedanya, mata membiru, bibir lecet, dan luka gores yang berdarah.

Tarikan napas Gaara terdengar keras saat ia sudah berhenti melancarkan tinjuannya, ia kelelahan dan kondisi Sasuke pun sudah tak bisa membalasnya. Pria itu melirik ke bawah.

"Aku tak ingin melakukan ini padamu, tapi jika kau berani mempermainkan Hinata maka kapanpun aku akan siap memberimu pelajaran!" Mata jadenya memancarkan emosi, hati kecilnya sadar seharusnya sebagai Jaksa ia tak boleh melakukan ini tapi jika itu tentang Hinata maka ia tak akan segan.

Begitu pula dengan pikiran Sasuke, karena tadi melihat Hinata begitu terluka dirinya seketika ingin memberi pelajaran. Tapi sekarang wajahnya seakan mati rasa, tangan, perut, dan dadanya nyeri.

'Kurang ajar, ternyata si Sabaku ini tadi hanya menahan kekuatannya.' Rutuk Sasuke dalam hati karena Gaara berhasil mengimbanginya.

"Tch, kau membuang waktuku!" Gaara melepaskan tarikan pada kerah Sasuke dengan kasar lalu segera berdiri. Pria itu mulai berjalan dengan tertatih ke arah mobilnya.

"Mau kemana kau?! Jika kau berpikir untuk mendatangi Hinata maka bersiaplah menerima kebencian darinya!" Teriak Sasuke memprovokasi karena tak terima ia berada diposisi kalah telak.

"Arghhhhhhh..." Teriak Sasuke kesal sambil mencabut rumput di dekat posisinya berbaring lalu meleparnya ke sembarangan arah, dia kini marah pada dirinya sendiri yang tak bisa membuat pria itu berhenti menemui Hinata.

Mendengar teriakan Sasuke, Gaara hanya mendelik tajam sambil tetap berjalan kesusahan, ia tak perlu meladeni pria Uchiha itu lagi untuk saat ini pikirnya, karena yang terpenting sekarang ia harus segera meminta maaf pada Hinata.

.

.

.

Kedua tangan gadis manis itu terus tertaut di atas pahanya sambil tak berhenti merapalkan doa untuk sang ayah. Terlihat tetes demi tetes air terkadang berjatuhan mengenai tangan Hinata karena ia sangat ketakutan jika harus kehilangan ayahnya, kini Hiashi adalah keluarga satu-satunya dan sumber semangatnya untuk melalui semua cobaan hidup ini dengan tegar.

Ia baru beberapa menit dapat melihat amethys ayahnya berbalik memandangnya setelah beberapa minggu, tapi kini ia harus bersiap jika memang nyawa ayahnya akan benar-benar terancam dan kelopak mata itu akan tertutup untuk selamanya.

"Tou-san... Otou-san... Bertahanlah hiks..." Gumaman pilu samar-samar terdengar dari posisinya yang merunduk.

Suara langkah kaki yang mendekat tak membuat tangisannya terhenti tapi saat ia melihat dihadapannya kini ada sepasang sepatu patofel pria, gadis itu mengangkat wajahnya. Dan matanya langsung melebar menatap syok wajah Gaara yang penuh dengan luka.

"G-gaara apa yang terjadi?" Bisik Hinata tak percaya memperhatikan beberapa luka di wajahnya.

Pria itu seketika menjatuhkan tubuhnya berlutut di hadapan Hinata yang sedang duduk. Kepalanya merunduk dengan penyesalan yang begitu dalam.

"Aku telah menyakitimu... Aku telah melakukan kesalahan yang begitu besar." Gumam Gaara seakan kehilangan tenaga. Hinata memandang terkejut akan sikap Gaara, ia tak menyangka pria yang tadi begitu dingin padanya ini ingin meminta maaf.

"Hinata... Aku begitu menyesal atas kebodohanku, maafkan aku... Maafkan aku yang tak bisa mengontrol emosiku. Aku telah membahayakan nyawa ayahmu." Terlihat kepalan tangan Gaara mengerat di atas pahanya, Jaksa muda itu beranikan menatap pada amethys Hinata dengan mata yang memerah.

"Aku bahkan tak tahu hukuman apa yang harus kuterima jika kondisi Ayahmu nanti semakin memburuk, maafkan aku-- aku begitu-- aku begitu egois karena tak bisa membendung rasa sakit hati ini. Hinata..." Gaara menjeda sebentar ucapannya sambil meraih satu tangan Hinata kedalam genggamannya yang terasa bergetar.

"Ternyata aku benar-benar mencintaimu hingga dititik aku merasa begitu sakit hati sehingga tak sadar bahwa sikapku ini telah menyakiti perasanmu dan orang-orang di sekitarku. Ternyata perasaan ini bukanlah kekaguman semata, aku... benar-benar tak bisa mengeyahkanmu dari pikiranku. Sekali lagi maafkan aku yang bodoh ini." Gaara menatapnya dengan sungguh-sungguh bahkan terlihat seperti hampir menangis.

Hinata membeku sesaat atas pernyataan itu.

"Gaara..." Ucap Hinata tak percaya dengan nada bergetar. Pria itu berusaha memaksakan seulas senyum diwajahnya dengan kondisi sudut bibir yang lecet.

"Saat ini tak apa jika kau belum mau menjawab perasaanku. Aku hanya tak ingin membuatmu salah paham dan menyakitimu lagi. Aku bahkan seharusnya menerima tamparan dan tuntutan atas sikap egoisku pada ayahmu ini. Jika kau ingin memukuliku sekarang tak apa, aku layak mendapatkannya." Gaara menyimpan telapak tangan mungil itu di pipinya, mempersilahkan jika Hinata ingin marah padanya.

Pria itu kembali merundukan wajah, pasrah akan sikap Hinata padanya. Namun bukan sebuah tamparan yang ia rasakan melainkan usapan lembut dipipinya dan jari yang mengangkat dagunya pelan. "Aku tak akan menamparmu, karena kau tak layak mendapatkannya. Aku memang sudah menduga Tou-sanku pasti syok menerima semua kabar itu. Justru aku begitu khawatir pada kondisimu, kenapa bisa seperti ini?" Tanya Hinata khawatir.

Jemari lentik itu perlahan menyusuri luka di wajah tampannya dengan hati-hati, gadis itu begitu sedih melihat kondisi Gaara. Pria ini untuk sesaat melebarkan jadenya tak menyangka Hinata tak dendam padanya, ia menahan senyum haru.

"Ada sedikit masalah sebelum aku kesini dan aku tak sempat mengobati lukanya. Tapi tak apa, aku baik-baik saja." Balas Gaara dengan senyum meyakinkan, tapi itu sama sekali tak membuat Hinata tenang.

"A-apa ini karena ulahnya?" Tanya Hinata pelan, berharap mendapat jawaban yang tak sesuai dengan pikirannya.

Gaara mengerti siapa yang dimaksud Hinata, pria itu hanya bisa mengalihkan tatapannya entah harus menjawab apa karena sejujurnya ia memang pantas mendapatkan ini.

Melihat reaksi Gaara, gadis itu seketika menatap nanar dan merasa begitu bersalah, ia remas kemeja di bahu Gaara. "A-aku yang menyebabkanmu seperti ini?" Tanya Hinata lebih pada dirinya sendiri, ia merasa kalut sungguh tak mengerti jalan pikiran Sasuke hingga seberani ini.

"Kami-sama... Maafkan aku Gaara, maafkan aku membuatmu berada dalam kondisi ini." Gadis itu seketika menunduk dan menangis, Gaara yang melihatnya merasa harus melindungi Hinata dari rasa bersalah yang tak seharusnya itu.

"Hei Hinata tenanglah, aku tak apa-apa. Ini semua bukan salahmu. Aku yang ceroboh karena meladeninya." Gaara segera mendekap tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, mengusap bahunya perlahan memberikan ketegaran.

"Hiks... Kau sudah bekerja begitu keras untuk kasus ini tapi aku justru mendatangkan masalah padamu. Maafkan aku." Hinata menangis di pundak Gaara, begitu malu karena pria sebaik ini harus terkena imbas sikap arogan Sasuke.

"Aku benar-benar tak apa, sungguh kau tak perlu meminta maaf." Gaara terus berbicara lembut sambil ikut menyandarkan wajahnya bahu mungil Hinata merasakan aroma lembut yang membuat dirinya nyaman.

Saat Hinata masih terus menangis ternyata tak jauh dari posisi duduk mereka seseorang berjalan mendekat dan langsung tertegun menatap posisi kedua orang dihadapannya. Kedua tangannya terkepal kuat, sesuatu dalam hatinya merasa kebas melihat Hinata berada dalam rengkuhan pria lain.

Dari sudut mata gadis hyuga itu ia bisa melihat sepasang kaki berdiri tak jauh darinya, dan saat ia melirik ke atas dirinya harus kembali syok karena melihat penampilan Sasuke yang sama menghawatirkannya dengan Gaara, penuh luka dan lebam.

Obisidian itu seolah memandang ke dalam jiwanya, hanya ekspresi datar namun penuh emosi yang memancarkan luka dan kesedihan. Pria Uchiha itu menghela napas lelah sesaat lalu memutar matanya dan berbalik melangkah pergi. Saat ini Sasuke merasa dia tak akan mungkin mendapat perhatian dan kekhawatiran Hinata.

"Tunggu!" Ucap Hinata berusaha mengeluarkan suara tegas membuat Sasuke menghentikan langkahnya, Hinata mengurai pelukan Gaara lalu segera berdiri. Dengan cepat ia meraih tangan Gaara dan membawanya berjalan mendekati Sasuke.

Tanpa berkata apapun Hinata yang telah sampai di dekat Sasuke meraih juga tangan pria itu dengan tangan yang lain dan terus berjalan tanpa ragu. Sasuke dan Gaara berpandangan bingung tak mengerti mengapa Hinata menarik mereka bersamaan.

"Kalian berdua perlu diobati sekarang juga. Jangan membuatku merasa menjadi orang paling jahat disini." Ucap Hinata seolah bisa melihat tatapan keduanya. Kedua pria itu tak menyangka akan tindakan Hinata ini dan terlihat senyum kecil terbit di wajah keduanya, gadis ini benar-benar bisa membuat mereka terperdaya dan menurut begitu saja.

Untunglah jarak menuju IGD tak terlalu jauh sehingga Hinata dengan cepat bisa meminta bantuan pada petugas medis. Ketika sampai di administrasi IGD petugas wanita disana akan meminta mereka mendaftar dan antri terlebih dahulu tetapi saat melihat wajah Sasuke yang ternyata salah satu pemilik dan pemegang saham sebagian besar Rumah Sakit ini membuat petugas itu segera mengangguk panik dan memangil perawat yang berjaga karena Bos besar berada di hadapannya dengan penuh luka.

"Asami! Asami! cepat tangani yang disini!" Sahut petugas administrasi itu memanggil perawat yang ia tahu sedang duduk. Perawat yang dipanggil segera melirik ke sumber suara dan melotot tak percaya.

"B-baik. K-kira ayo cepat bantu aku." Perawat itu menarik rekannya yang lain dan segera mempersiapkan bilik perawatan.

"Silahkan Uchiha-sama, Tuan, dan Nona menuju bilik di sebelah sana." Tunjuk sang petugas sopan. Hinata sedikit terkejut mendengarnya, ia kira mereka perlu duduk di kursi antrian. Tapi seketika ia menyadari jika tadi petugas ini langsung menyebut nama Sasuke, dia menghela napas pelan. Sebenarnya kenapa bisa pria Uchiha ini selalu memiliki kuasa?

Sasuke terlihat tak tertarik dengan kondisi di sekitarnya dan hanya menurut, yeah meskipun kali ini harus ia akui pengaruhnya membuat ia senang karena tak perlu mengantri. Sudut bibir pria itu sedikit terangkat saat melirik ke bawah dan Hinata belum melepaskan genggaman pada tangannya seperti Ibu yang takut anaknya berlarian.

Setelah ruang tindakan siap mereka bertiga berjalan ke bilik yang disediakan. Sasuke dan Gaara duduk bersisian di tepi ranjang sambil di hadapan mereka masing-masing telah ada perawat medis yang dengan sigap membersihkan luka dan mengobati beberapa lecet di wajah dan lengan mereka. Hinata duduk pada tepi ranjang di sebrang kedua pria itu, tatapannya memandang kosong ke depan tak ia pedulikan kedua pria yang terus memperhatikannya.

Jujur kini ia merasa sedih dan juga marah, ia kebingungan dengan perasaanya yang sama khawatirnya pada kedua pria ini, meskipun Sasuke salah telah bertindak anarkis tapi ia juga tak ingin melihat pria itu terluka.

"Pengobatannya telah selesai kami permisi dulu Tuan." Ucap salah seorang perawat lalu mereka berdua merunduk undur diri.

"Hn." Balas Sasuke datar, ia masih kesal pada Gaara dan kini harus duduk bersisian.

"Terima kasih." Balas Gaara mengangguk sopan pada kedua perawat, berbeda jauh dengan tanggapan Sasuke yang dingin.

Begitu kedua perawat keluar dari tirai kain yang menjadi penyekat Hinata pun ikut berdiri.

"Sekarang sudah malam, sebaiknya kalian segera pulang. Aku permisi." Ucap Hinata pelan dan segera menjauh, tapi Sasuke langsung berdiri dan menahan tangannya.

"Kau tidak bisa pergi begitu saja." Ujar Sasuke tak terima. Gaara yang melihat hal itu sudah bersiap akan menahan Sasuke tapi ternyata...

TAK

Hinata dengan cepat menghempaskan tangan Sasuke agar tak mencekalnya lalu berbalik. "Kenapa? Kenapa aku tak boleh pergi? Kau akan memaksaku lagi? Kau ingin membuatku ketakutan karena kau berkuasa disini?" Tanya Hinata memandang pilu seolah menahan tangis. Sasuke yang melihatnya sedikit terhenyak tak menyangka ia akan melihat Hinata terluka seperti ini.

"Kau selalu melakukan hal semaumu dan memaksa kehendakmu padaku, aku bahkan tak pernah memintamu mencampuri urusanku. Tapi kenapa? Kenapa kau harus melukai Gaara? Kenapa kau membuat dirimu sendiri terluka?" Tanya Hinata bergetar dengan geraman tertahan atas rasa marah akan kekhawatirnya ini. Setitik air mata jatuh tanpa dapat Hinata bendung, dan dengan cepat ia menghapusnya.

"Tolong biarkan aku sendiri." Pinta Hinata sendu menatap Sasuke sarat akan emosi.

"Aku permisi." Lanjut Hinata membungkuk pada Gaara lalu berbalik dan berjalan dengan tergesa.

Tangan Sasuke terangkat ingin mengejar Hinata tapi ucapan Gaara menghentikannya. "Biarkan dia, hari ini dia sudah cukup khawatir akan ayahnya. Biarkan Hinata menenangkan pikirannya." Ucap Gaara pelan, pria itu sedikit merenung karena menyadari arti dari ucapan Hinata. Ternyata gadis itu juga menyimpan kepedulian untuk pria Uchiha ini.

Sasuke menurunkan tangannya dengan terpaksa, ia menarik napas berat. Disini Hinatalah yang paling merasa terluka, kali ini ia akan mencoba untuk mengalah.

"Tch, baiklah tapi bukan berarti aku akan membiarkanmu mendekatinya begitu saja." Balas Sasuke dingin, ia kemudian sedikit merapihkan jasnya lalu pergi dari Rumah Sakit.

Gaara masih duduk terdiam, ia mulai gundah akan perasaannya ini. Haruskah ia benar-benar memperjuangkan Hinata jika gadis itu pun nyatanya memiliki kepedulian pada pria lain? Apakah perasaannya ini justru menyakiti Hinata?

.

.

.

Setelah kejadian itu Hinata mencoba bekerja seperti biasa dan selama 3 hari tak ada kabar apapun yang berkaitan dengan kedua pria itu sehingga Hinata bisa sedikit lebih tenang, meskipun hatinya tak henti terus mengkhawatirkan kondisi Gaara dan Sasuke takut jika kedua pemuda itu bertikai kembali. Ditambah kondisi ayahnya yang masih kritis sehingga operasi kedua harus ditunda.

Lalu pada sore hari pengacara ayahnya, Hatake Kakashi memberitahu kabar bahwa surat pemanggilan persidangan telah keluar dan meminta mereka bertemu di kantor Kakashi seusai Hinata bekerja. Sebenarnya Hinata sedikit merasa sedih karena Gaara mengirim surat melalui pengacara ayahnya seolah dia memang ingin menjaga jarak, apakah pemuda itu menjadi canggung bertemu dengannya?

"Terima kasih atas waktu anda Nona Hyuga, ini surat pemanggilan sidang dari Kejaksaan yang kuterima hari ini." Kakashi menyerahkan sebuah amplop berkop Kejaksaan pada Hinata yang kini sudah duduk dihadapannya.

Hinata menerima amplop itu lalu membaca surat di dalamnya, disana tertulis persidangan akan dilaksanakan dalam dua hari.

"Dua hari lagi? Tapi Tou-sanku kembali tak sadarkan diri. Bagaimana ini?" Tatap Hinata resah.

"Untuk sidang pertama Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) Pengadilan hanya akan membacakan surat gugatan, dan karena keadaan Tuan Hiashi yang tidak sehat kita akan mengajukan waktu untuk eksepsi (keberatan atas dakwaan), setelah itu mereka akan menunda sidang kedua maksimal 1 bulan. Jadi untuk saat ini Nona bisa sedikit tenang, anda hanya perlu hadir sebagai perwakilan Tuan Hiashi." Jelas Kakashi sambil mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tasnya.

"Begitukah? Yokatta, berarti kita masih memiliki waktu untuk mengumpulkan bukti bahwa Tou-sanku tidak bersalah kan?" Tanya Hinata dengan harapan dan keyakinan ayahnya memanglah tidak bersalah.

"Benar, sampai saat ini aku sudah mengumpulkan beberapa bukti, lihatlah ini mutasi rekening ayah anda." Tunjuk Kakashi pada lembaran rekening koran Hiashi.

"Ini cukup aneh karena Tuan Hiashi mendapat kiriman dana penyelundupan hanya beberapa jam sebelum kecelakaan pesawat dari orang yang mengaku diajak bekerja sama dengan ayah anda yaitu Tuan Shii. Tuan Shii juga dulu menyatakan pada tanggal 29 bulan lalu melakukan pertemuan dengan ayah anda tapi dari CCTV dan keterangan anda Tuan Hiashi hanya pergi ke kantor migrasi pada hari itu lalu segera kembali ke rumah, ini bisa menjadi kontradiksi kesaksian orang itu." Sambil menjelaskan Kakashi membuka dokumen salinan dari hasil pemeriksaan Hiashi kemarin yang diberikan Gaara.

"Apa ada hal lain yang harus kulakukan agar bisa membuktikan bahwa Tou-san tidaklah bersalah?" Tanya Hinata sendu, ia merasa dirinya belum melakukan sesuatu yang berarti.

"Tenanglah anda hanya perlu menjelaskan sesuai dengan yang anda ketahui tentang Tuan Hiashi. Lagipula tindak pidana tidak hanya semata-mata bergantung pada kesaksian, perlu sebuah bukti nyata untuk menyatakan sesuatu bersalah atau tidak. Oh ya ini, salinan pemeriksaan Tuan Hiashi kemarin, dari hasil jawabannya ayah anda memang menyatakan tak tahu kenapa bisa mendapat uang sebesar itu. Dan dia juga menjawab tak pernah mengajak Tuan Shii bekerja sama dalam kasus ini." Ucap Kakashi seolah sedang berpikir, dan jawaban itu sukses membuat mata Hinata langsung berbinar bahagia begitu lega.

"Kami-sama terima-kasih, syukurlah ternyata benar aku yakin Tou-san tak akan pernah melakukan hal seperti itu. Dia begitu berdedikasi pada pekerjaannya." Hinata berkata dengan haru, namun gadis itu sedikit bingung melihat reaksi Kakashi.

"Hatake-san ada apa?" Tanya Hinata tak mengerti.

"Hmmm, kondisi dengan client yang sakit seperti ini memang jarang kutangani. Nona Hyuga saya rasa wajar jika anda lega untuk saat ini tapi sebagai Pengacara, saya bertugas untuk melindungi client saya-- baik mereka memang bersalah atau tidak." Jawaban Kakashi membuat Hinata mengernyit.

"Dengar dari pengalamanku tentu saja setiap terdakwa akan menyangkal dugaan pada mereka, tapi aku sebagai Pengacara mereka harus tahu seluruh hal yang benar-benar terjadi baik itu buruk atau baik. Seorang client harus jujur dan mengungkapkan seluruh hal agar aku tak salah dalam melakukan pembelaan, karena jika mereka berbohong padaku maka alasan dan bukti yang kuberikan pasti blunder dan tak akan disetujui Penuntut Umum. Tapi karena kondisi Tuan Hiashi yang sakit beliau belum bisa menceritakan seluruh hal yang benar-benar terjadi padaku, jadi pembelaanku pun masih meraba-raba pada segala data yang ada." Ucap Kakashi menatap simpati, penjelasan itu membuat Hinata lemas. Benar seberapa dekatpun kita dengan seseorang tak akan ada yang pernah tahu 100% jati diri orang lain.

"Ba-baiklah terima kasih atas penjelasannya, saya akan hadir pada sidang itu." Hinata berusaha menguarkan senyumnya.

"Sama-sama Nonan Hyuga, kalau begitu sampai jumpa di persedingan." Kakashi dan Hinata pun berdiri lalu bersalaman untuk pamit, tapi sebelum Hinata menjauh Kakashi kembali berbicara sesuatu.

"Oh iya, Nona Hyuga karena aku merasakan keanehan dalam kasus ini jadi kesadaran Tuan Hiashi sangatlah penting. Saya harap anda bisa menjaga beliau dengan baik." Angguk Kakashi memberikan tatapan serius.

"Tentu, akan aku lakukan yang terbaik untuk Tou-sanku." Balas Hinata yakin. Setelahnya Hinata pun keluar dari kantor Kakashi dan kembali lagi menuju Rumah Sakit.

Yah begitulah kesehariannya, setelah pulang kerjapun Hinata akan langsung ke Rumah Sakit. Gadis baik hati itu akan menunggu Tou-sannya dan tertidur semalaman setiap hari di lorong Rumah Sakit karena Hiashi dirawat di ICU jadi ia tidak bisa masuk, lalu saat fajar ia baru kembali menuju kamar sewanya untuk bersiap kerja. Tapi terkadang jika ia lupa membawa bantal dan selimut ia pasti terbangun dengan mendapati dirinya tergelung selimut dan bantal yang nyaman membuat ia terus bertanya-tanya dari siapa semua ini.

Dia sempat berpikir mungkinkah Sasuke? tapi rasanya tidak, pria itu pasti akan begitu sombong jika melakukan sebuah kebaikan dan tak mungkin pria itu berbuat kebaikan secara sembunyi-bunyi pikir Hinata. Apa mungkin Gaara? tebak Hinata merasa itu tebakan yang paling masuk akal.

.

.

.

Hari persidangan akhirnya tiba, untunglah itu dilaksanakan pada hari Sabtu sehingga dirinya tidak perlu ijin bekerja.

Kini Hinata sebagai perwakilan Hiashi Hyuga dipanggil untuk duduk di tengah ruang sidang, gadis itu mengamati sekitar sudah ada Hakim dan dua anggota hakim lainnya, serta beberapa orang yang duduk di sisi kirinya tempat para Jaksa Penuntut Umum dan salah satunya tentu saja ada Gaara disana. Pria itu memberikan senyum seolah memberinya semangat, Hinata membalasnya namun ia merasa setelah kejadian itu mungkin membuat Gaara ingin menjaga jarak. Ditambah ia pun belum bisa menjawab pernyataan Gaara.

Tapi perhatiannya mencoba menelisik ke area tempat duduk yang lain, dan ia tidak menemukan apa yang ia cari. Benar, Uchiha Sasuke pria itu tidak menghadiri sidang dan hanya terlihat dua Pengacara sebagai perwakilan Uchiha Enterprise. Hinata tersenyum miris, bahkan pria itu sepertinya tak sudi untuk menghadiri sidang ini. Atau mungkin pria itu sudah muak padanya akibat kejadian malam itu.

Gadis itu menarik napas dalam mencoba tenang dan mengenyahkan bayangan Sasuke. Ia melirik Kakashi sebentar di samping kanannya yang dijawab dengan anggukan agar tenang. Lalu Ketua Hakim memukul palu sebagai tanda dimulainya persidangan.

Dug Dug Dug

"Sidang dimulai. Baiklah saat ini dihadapanku apakah benar anda Hinata Hyuga putri dari Hiashi Hyuga?" Tanya Ketua Hakim mengawali sidang.

"Benar Yang Mulia." Jawab Hinata pelan.

"Baik Nona Hyuga, anda dipanggil pada sidang hari ini karena merupakan satu-satunya keluarga dari Hiashi Hyuga serta ahli warisnya karena beliau sedang dalam keadaan sakit. Apa benar anda sudah membaca salinan surat dakwaan yang dilayangkan pada ayah anda?" Tanya kembali sang Hakim.

"Sudah, Yang Mulia." Ucap Hinata.

"Sesuai dengan pasal 56 KUHAP ayat 1 bahwa dakwaan terhadap ayah anda adalah tindak pidana korupsi dengan ancaman 5 tahu atau lebih penjara anda berada dalam kondisi untuk mendapat bantuan hukum berupa Pengacara dari Pengadilan setempat. Apakah benar telah ada pengacara yang membantu anda dan apakah bantuannya akan anda gunakan?"

"Ya benar, dan saya menggunakan bantuannya." Balas Hinata kembali.

"Baiklah, sekarang kita dengarkan pembacaan surat dakwaan oleh Penuntut Umum." Ujar Hakim mempersilahkan.

Dari tempat duduk Jaksa, Gaara berdiri dengan tenang sambil membawa sebuah dokumen. "Terima kasih yang mulia atas waktunya." Ucap Gaara lalu memandang Hinata yang kini memperhatikannya. Pria itu bisa melihat ketegangan di mata rembulannya.

"Sesuai gugatan yang dilayangkan oleh pihak Uchiha Enterprise atau dengan nama lain Sasuke Uchiha maka tergugat yang bernama Hiashi Hyuga didakwa atas tindak pidana korupsi karena telah bertindak memperkaya diri dengan merugikan pihak lain dengan cara yang melawan hukum yaitu melakukan penyelundupan dana dalam Proyek Pembangunan Hotel baru Uchiha Enterprise di daerah Fukushima. Dana yang diambil merupakan biaya operasional selama 3 bulan terakhir sejumlah ¥75 juta dan mengakibatkan ketidakstabilan saham serta hilangnya beberapa kepercayaan dari investor. Maka sesuai dengan bukti dan dokumen yang telah kami periksa terdakwa layak digugat dengan Pasal 2 ayat 1 UU Tipikor." Jelas Gaara cukup panjang menjelaskan pada seluruh audience di ruang sidang. Setelah membaca semua itu Gaara segera kembali memperhatikan Hinata, pria itu merasa ikut terluka saat Hinata yang mendengarnya seolah menahan air mata.

"Terima Jaksa Sabaku atas penyampaiannya dipersilahkan duduk kembali." Perintah Hakim dan Gaara mengangguk lalu duduk kembali.

"Nona Hyuga atas dibacakannya surat dakwaan itu apa anda sudah mengerti apa yang dilayangkan pada ayah anda Hiashi Hyuga?" Tatap Hakim pada Hinata.

Gadis itu menelah ludahnya perlahan. "Su-sudah Yang Mulia." Balas Hinata pelan, ia mencoba tegar tapi rasanya dengan mendengarkan gugatan saja hatinya seketika sedih.

"Jika sudah mengerti apakah ada tanggapan yang ingin Nona Hyuga sampaikan?" Ketua Hakim memberi kesempatan.

Hinata mengangkat sedikit wajahnya berusaha terlihat tegar. "Menurut saya ayah saya tidak berhak digugat atas tuduhan tersebut selama beliau belum menyampaikan keseluruhan alur yang terjadi. Selama 20 tahun hidup saya, ayah saya adalah orang dengan integritas, kejujuran, dan tanggung jawab yang begitu tinggi. Saya bertemu dengannya hampir setiap hari dan darinyalah saya tahu dia begitu mencintai pekerjaanya itu, 5 tahun bekerja di Uchiha Enterprise beliau selalu bercerita apa saja pencapaian yang telah ia lakukan untuk memajukan perusahaan itu. Bahkan kecelakaan pesawat itu pun karena ia sedang bertugas, d-dan saya tahu..." Suara Hinata terhenti sesaat karena kini dirinya mulai emosional dan berusaha menahan tangis.

"Saya tahu pria penuh budi pekerti seperti itu tidak akan pernah-- tidak akan pernah melakukan hal yang tak bermoral dan merugikan orang lain. Dialah yang mengajarkan saya arti dari sebuah kejujuran dan perjuangan. Jadi saya mohon hiks... J-jika bisa tolong mengerti kondisi Tou-san saya hingga beliau pulih." Tutup Hinata mengakhiri penjelasannya lalu dengan cepat menghapus beberapa tetes air mata yang mengalir dipipinya.

Gaara meremas dokumen dalam pegangannya, merasa begitu khawatir melihat kerapuhan gadis itu. Rasanya ia ingin saat itu juga menerjang maju dan memberikan Hinata pelukan sebagai dukungan.

Hampir semua orang disana tertegun mendengar penjelasan memilukan itu termasuk sang Hakim.

"Baiklah Nona Hyuga terima kasih atas tanggapannya saya turut prihatin atas kondisi yang menimpan Tuan Hyuga, semoga ayah anda lekas membaik sehingga pemeriksa dapat terus dilakukan. Kalau begitu penasihat hukum dari Hiashi Hyuga yaitu Kakashi Hatake apakah akan mengajukan eksepsi(keberatan) atau tidak atas gugatan tersebut?" Tanya sang Hakim akhirnya menatap pada Kakashi.

"Izin berbicara Yang Mulia." Ucap Kakashi mengangkat tangannya.

"Dipersilahkan." Lalu Kakashi pun berdiri.

"Terima kasih atas waktunya Yang Mulia, atas gugatan tersebut kami mengajukan eksepsi karena kami menilai Pengadilan belum berwenang mengadili sebab Tuan Hiashi Hyuga berada dalam kondisi kritis yang belum bisa memberikan keterangan sepenuhnya dengan jelas. Lalu kami masih dalam tahap pengumpulan beberapa bukti sebagai pembelaan, jadi kami mohon pertimbangannya untuk menunda sidang atau menghentikan penyidikan dan mencabut gugatan mengingat kondisi Tuan Hyuga yang belum diketahui akan pulih kapan." Jelas Kakashi memberikan pembelaannya.

Mendengar semua itu Hinata hanya dapat menunduk dengan terus menggenggam kedua tangannya, ia takut begitu takut akan semua yang sebenarnya terjadi. Ketua Hakim berdiskusi pada dua anggota Hakim lain yang duduk disampingnya apakah menerima permohonan pengajuan eksepsi atau tidak.

"Terima kasih Hatake-san atas penjelasannya dipersilahkan duduk kembali." Setelah Kakashi duduk sang Hakim melanjutkan ucapannya.

"Mempertimbangkan semua hal yang ada kami putuskan memberi waktu untuk pengajuan eksepsi sehingga sidang ditunda terhitung 30 hari sejak tanggal hari ini. Dan permohonan penghentian penyidikan ditolak karena menilai masih ada kesempatan dari Hiashi Hyuga untuk sadar, jadi kami memberikan waktu kembali pada Jaksa Penuntut Umum untuk mengungkapkan bukti lain yang mungkin masih ada." Putus Ketua Hakim lalu memukul palu sidang sebanyak dua kali.

Dug Dug

"Dengan ini sidang kami tunda ke tahap dua." Lanjutnya yang menandakan persidangan untuk kasus korupsi Hiashi kali ini telah selesai dan seluruh pihak dipersilahkan meninggalkan ruangan.

Hinata dengan lemah berdiri lalu berjalan ke dekat Kakashi. "Terima kasih atas penjelasannya Hatake-san." Ucap Hinata tulus, karena ia sempat khawatir jika eksepsi mereka akan ditolak.

"Tidak perlu berterima kasih, itu sudah tugasku. Seperti yang sudah aku duga kondisi Tuan Hiashi akan membuat persidangan ini ditunda. Kau juga sudah melakukannya dengan baik, Tuan Hiashi pasti bangga melihat anak semata wayangnya begitu percaya padanya." Ujar Kakashi memberi semangat sambil menepuk pundak Hinata.

Gadis itu akan berbicara sesuatu tapi terpotong saat ada yang memanggil namanya dari belakang.

"Hinata, bisakah kita berbicara sebentar?"

Hinata berbalik dan merasa sedikit terkejut karena kini Gaara berdiri di hadapannya.

"Emh... baiklah." Jawab Hinata lalu berpamitan terlebih dahulu pada Kakashi kemudian gadis itu mengikuti Gaara ke sebuah bangku di halaman gedung Pengadilan.

Kini mereka berdua terlihat duduk bersisian, Hinata hanya bisa menunduk. Ia merasa kini hubungan diantara mereka begitu canggung.

"Haaah... Entah kenapa meskipun aku tahu kita tak memiliki hubungan apapun tapi aku merasa bersalah tidak menghubungimu sama sekali beberapa hari terakhir ini. Maafkan aku, aku sedang disibukkan untuk pelaporan dan persiapan sidang ini." Gaara melirik Hinata dari ekor matanya, sejujurnya ia pun mencoba sedikit menjauh agar pernyataan cintanya tidak membebani Hinata.

"Gaara? Kau tidak perlu meminta maaf, aku mengerti kondisimu. Meskipun menurutmu kita tidak memiliki hubungan apapun tapi-- tapi bisakah aku menganggapmu sebagai seorang teman?" Tanya Hinata ragu. Pertanyaan Hinata sedekit membuat hati Gaara ngilu, ternyata gadis ini hanya ingin berteman denganku batin Gaara sedih.

Pria itu mencoba tetap tersenyum, yeah dia tidak boleh memaksa Hinata apapun keputusannya harus ia hormati. "Tentu, aku akan menjadi teman yang akan selalu berada disisimu mulai saat ini. Entah pertemanan kita ini akan bagaimana jadinya, tapi aku harap kau tidak merasa terganggu dengan apapun bukti yang kutemukan untuk ayahmu."

Terlihat Hinata meremas ujung gaun yang dikenakannya. "Maaf jika kau merasa aku adalah wanita yang jahat. Soal-- soal pernyataanmu itu bisakah aku menjawabnya suatu saat nanti? Karena saat ini aku hanya ingin fokus pada kasus Tou-sanku." Ucap Hinata tak enak. Kini Gaara mulai bisa tersenyum tulus memandangnya.

"Ya, itu lebih baik. Berarti aku masih memiliki banyak waktu untuk membuktikan bahwa aku adalah pria yang bisa berguna untukmu dan mungkin suatu saat nanti namaku bisa terukir dihatimu kan?" Ujar Gaara mencoba terdengar ceria.

Hinata mengangkat wajahnya sedikit terkejut atas ucapan itu tapi melihat ekspresi Gaara yang begitu tulus ia hanya bisa memandang lembut. "K-kau adalah pria yang begitu baik." Bisik Hinata haru tak menyangka Gaara akan tetap peduli padanya.

"Jangan lagi, kuharap kesedihan tidak pernah lagi tercetak di wajahmu." Ibu jari Gaara tiba-tiba terangkat mengusap lembut sudut mata Hinata yang ternyata terdapat setitik air, lalu menyampirkan rambut panjang itu ke belakang telinga sang gadis. Berdekatan seperti ini membuat Gaara semakin menyadari bahwa kecantikan gadis ini begitu indah untuk dipandang.

Mendapat tatapan intens seperti itu Hinata menjadi gugup dan menggigit bibirnya.

"Sisa hari ini jadwalku cukup luang, apa kau mau makan siang bersamaku?" Tawar Gaara.

"Kau tak sibuk? Emm baiklah ayo. Ah iya sekarang aku sudah memiliki sedikit uang jadi kali ini aku harus mentraktirmu untuk yang waktu itu." Melihat senyum semangat Hinata membuat Gaara terkekeh pelan.

"Ternyata kau masih mengingatnya, sejujurnya setelah mengantarmu pulang malam itu aku merasa menjadi pria paling bodoh karena telah membohongimu."

"Eh tidak, kau tidak bodoh. Justru aku yang konyol karena menyembunyikan rasa laparku, ah... mengingatnya saja masih membuatku malu." Hinata menutup wajah dengan satu tangannya, membuat tawa Gaara kembali terdengar.

"Kita berdua dulu begitu kikuk ya. Tapi aku bersyukur hari itu Tuhan mentakdirkanku bertemu denganmu. Hari ini saja kau berhasil membuatku tertawa." Ujar Gaara tulus.

Ucapan itu membuat Hinata bertanya-tanya kenapa dia bisa ditakdirkan bertemu Gaara dan Sasuke disaat bersamaan seperti ini? Karena jujur ia cukup nyaman bersama pria baik seperti Gaara, tapi saat bersama Sasuke pun ia seperti merasakan debaran menyenangkan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia pusing sendiri memahami hatinya.

"Ah iya Gaara, aku baru ingat lusa aku harus pergi ke Paris untuk pekerjaan kurang lebih 3 hari. Apa kau tahu informasi untuk menyewa seseorang agar bisa menjaga ayahku selama aku pergi? Em ya uangku tidak terlalu banyak jadi kurasa kau bisa menyarankan staff junior saja, yang penting aku tidak terlalu khawatir saat berjauhan dengan Tou-sanku."

"Kau yakin ingin menyewa mereka? Tarifnya tidaklah murah." Tanya Gaara mengangkat alis meragukan.

"Ah, begitu. Kau benar sepertinya aku tidak akan bisa membayarnya. Yasudah tak apa-apa em nanti kupikirkan solusinya." Jawab Hinata sedikit sedih, tapi Gaara justru terkekeh geli.

"Hei aku hanya bercanda, tenang saja akan ku kirimkan dua orang polisi dari timku untuk menjaga ayahmu. Nanti sesekali aku juga akan datang untuk mengecek kondisinya. Fokus saja pada pekerjaanmu."

"Ba-bagaimana bisa begitu?" Tanya Hinata terkejut.

"Itu karena sidang pertama sudah dilaksanakan dan ayahmu sekarang resmi menjadi tahanan, jadi terdakwa yang dirawat di luar lapas memang harus di berikan pengawalan." Ujar Gaara yang memang sudah menjadi tugasnya menjelaskan. Kini gadis itu terlihat begitu lega.

"Ya Tuhan syukurlah jika begitu. A-aku akan mentraktir makan siangmu sepuasnya. Ayo." Hinata segera berdiri dan berjalan, kini ia terlihat lebih bersemangat.

"Hei aku tidak mau ditraktir." Sahut Gaara ikut berdiri dan menyusul langkah Hinata.

"Tidak bisa, aku harus mentraktirmu." Balas Hinata menolak.

"Makanku banyak, nanti kau bangkrut." Canda Gaara.

Sambil berjalan kepala gadis itu berbalik memincingkan mata pada Gaara.

"Jangan menggodaku, kalau begitu kau saja yang makan siang. Kali ini aku benar-benar minum lemon tea saja." Ancam Hinata main-main tapi sudah berhasil membuat Gaara panik.

"Hei hei aku hanya bercanda." Timpal Gaara cepat, lalu Hinata segera tertawa mendengar nada pria itu.

"Hinata, kau jahil ya!" Rajuk Gaara dan berlari untuk menggelitik pinggang Hinata membuat gadis itu terkejut tapi Gaara sudah lebih dulu menjauh ke area parkir.

Hinata tersenyum cerah melihatnya. "Khe, ternyata pria seperti itu juga bisa bercanda."

.

.

.

Faubourg Saint-Honore, Paris

Saat ini Hinata dan Ino sudah berada di Pop Up Store Flashy yang berada di kawasan pusat toko fashion di Paris. Dimana di sepanjang jalannya kita akan dengan mudah menemukan berbagai macam toko merk terkenal seperti Hermes, Cartier, Chanel, YSL, Versace, dan lainnya.

Acara Grand Openingnya cukup meriah dan sukses. Beberapa artis dan model diundang serta puluhan wartawan yang dengan senang hati memotret setiap pergerakan publik figur itu saat melihat-lihat koleksi terbaru Flashy untuk dijadikan berita. Dan tentu saja Brand Ambasador utama Flashy yaitu Toneri Milkova yang baru tiba kini mencuri perhatian sorot kamera.

Pria dengan aura terkenal dan tampannya itu melambaikan tangan pada kamera dan tersenyum dengan mempesona mengenakan kemeja dan jas hitam. Lalu pria itu berjalan masuk ke dalam Store dan disambut oleh Direktur Marketing Flashy yang betugas di Paris, sementara Hinata dan Ino mengamati dari samping sambil memperhatikan apakah ada masalah pada kondisi barang.

Hari ini Ino membuat Hinata terlihat sangat modis dan cantik karena mengenakan dress biru tua sepanjang lutut dengan kain tipis pada kedua pundaknya yang memiliki potongan leher V sedikit rendah membuat bahu dan setengah punggung gadis itu cukup terekspose. Rambutnya ia kepang memanjang ke samping.

"Oh iya Hinata tadi kau diminta untuk mendampingi Tuan Milkova untuk sesi wawancara dengan Majalah jepang sebagai penstranslatenya. Jadi jangan jauh-jauh darinya ya." Ucap Ino yang berdiri di samping Hinata.

"Ah? ba-baiklah." Jawab Hinata ragu karena tak bisa menolak, sebenarnya ia tak nyaman berdekatan dengan pria itu.

Pandangannya kembali lagi pada Toneri yang sedang dijelaskan sebuah tas pria edisi musim panas oleh Direktur Marketing, dan untuk beberapa saat ternyata mata Toneri berhasil menemukannya lalu pria itu mengedipkan satu mata padanya sebelum kembali mengalihkan pandangan.

'A-apa dia berkedip padaku? Bagaimana jika ada wartawan yang melihat? Dia kan selebriti.' Batin Hinata resah, tapi ia mencoba mengabaikan pria itu.

Toneri kini berdiri disamping beberapa pentinggi Flashy dan sama-sama akan menggunting pita sebagai tanda resminya dibuka Pop Up Stor Flashy di wilayah ini.

Seluruh orang bertepuk tangan termasuk Hinata dan Ino merasa lega acara berjalan dengan lancar. Toneri mulai di wawancarai beberapa reporter dan juga perwakilan dari majalah di Paris. Lalu saat sudah waktunya wawancara dari Majalah Jepang Hinata dipanggil agar berdiri di samping Toneri.

Pria itu menatapnya dengan penuh minat dan tersenyum cerah. "Kau cantik seperti biasa." Sapa Toneri meraih tangan Hinata lalu menciumnya.

"E-em terima kasih, k-kau juga." Balas Hinata malu karena di depannya kini ada beberapa reporter dari Jepang yang menyoroti mereka, ia menjaga jarak dari Toneri tapi sepertinya pria itu tidak mau jauh-jauh darinya.

Para wartawan dari Majalah Nylon Jepang pun memberikan beberapa pertanyaan tentang item kesukaannya dari produk Flashy, kesibukannya, proyek yang sedang ia kerjakan sekarang, dan lainnya pada Toneri yang dengan lancar Hinata terjemahkan.

Lalu saat pertanyaan mengenai apakah Toneri memiliki pasangan pria itu justru tersenyum menatap Hinata dalam. "J'attends quelqu'un. (Aku sedang menunggu seseorang.)"

"S'il vous plaît, parlez à l'avance. (To-tolong berbicara ke depan.)" Peringat Hinata gugup, sungguh ia tak mau menjadi bahan gosip karena pria ini, tapi Toneri justru menyeringai dan merangkul pundak Hinata agar semakin mendekat padanya.

"Comment s'entend-on? (Bagaimana apa kita serasi?)" Tanyanya menghadap para wartawan jepang itu yang tentu saja membuat mereka bingung karena tak mengerti ucapan Toneri, tapi karena posisi rangkulan itu membuat wartawan lain yang masih berada di area sekitar situ serempak mendekat dengan berbinar merasa akan mendapat berita headline baru karena Toneri terlihat menyukai seseorang.

"Toneri siapa Nona cantik ini? Apa pacar barumu?"

"Apa sekarang kalian sedang dalam suatu hubungan?"

"Sudah berapa lama kalian menjalinnya?"

"Dimana kalian bertemu?"

Jepretan kameran dan pertanyaan-pertanyaan seketika tak berhenti mengarah pada mereka, Toneri senang-senang saja dengan situasi ini berbeda jauh dengan Hinata. Gadis itu berusah menjauh dan berbisik tajam.

"Apa yang kau lakukan?! Kau membuat mereka berpikir kita pacaran!"

"Bukankah itu benar? Aku memang berencana menjadikanmu pacarku." Balas Toneri berbisik disertai seringai menggodanya, membuat Hinata membuka mulut tak percaya. Ini sangat memalukan jika atasannya sampai percaya gosip bohong seperti ini rutuknya dalam hati. Ia terus berusaha melepas rangkulan Toneri senormal mungkin di hadapan para wartawan dengan tersenyum kaku, tapi usahanya terhenti saat amethysnya menangkap seseorang berdiri di sudut ruangan dengan tatapan tajam dan aura mencekamnya.

'Sasuke?!' Jantungnya langsung bertalu cepat, 'Bagaimana jika ia berpikir aku benar-benar berpacaran dengan Toneri?' panik Hinata. Tapi Tunggu! Untuk apa ia harus kalut akan pikiran Sasuke, pria itu sudah beberapa hari tak muncul dihadapannya bahkan menghadiri persidanganmu tidak!

Dengan berat hati gadis itu membiarkan Toneri tetap merangkulnya, gadis itu melirik kembali pada Sasuke yang masih memandangnya begitu intens sebelum pria itu berbalik pergi entah kemana. Wajah gadis itu seketika berubah sendu, berpikir Sasuke memang tidak merasakan apapun untuknya karena dia membiarkan situasi ini begitu saja.

Untunglah jawaban-jawaban Toneri tidak menyatakan secara langsung mereka berpacaran, hanya teman dekat yang ia harapkan memiliki hubungan lebih jauh. Tapi tetap saja pasti semua orang akan berpikir sesuatu tentangnya, karena ia tak bisa menentang terang-terangan ucapan Toneri.

Saat wawancara itu berakhir Hinata segera menjauh dari Toneri, dan pria itu pergi ke ruang istirahat khusus para tamu undangan.

"Hinata, kau benar-benar memiliki hubungan khusus dengan Tuan Milkova?" Tanya Ino terkejut sambil ikut duduk di samping sofa yang di duduki Hinata.

Gadis itu hanya bisa memijat dahinya pelan. "Entahlah, Toneri tiba-tiba saja memberikan pernyataan seperti itu. Kami bahkan tak pernah bertemu setelah Fashion Show di Jepang."

"Astaga berarti dia benar-benar mengincarmu. Ah Ya Tuhan kau benar-benar beruntung." Ucap Ino ceria memandang kagum. Beruntung? Tanya Hinata tak percaya dalam hati, ia justru merasa mendapat masalah.

"Oh iya, aku sebenarnya disuruh mencarimu karena Direktur Marketing memintamu menemani Tuan Milkova setelah acara ini selesai." Lanjut Ino.

"Menemani? Kenapa aku?" Hinata semakin kaget.

"Kurasa itu permintaan langsung darinya, yeah kau tahu kan Direktur Marketing sangat sayang pada dia karena sudah mendongkrak popularitas Brand kita dengan begitu cepat. Jadi dia mengizinkannya." Jawab Ino menyesal mengangkat bahu.

"Tanpa persetujuanku? Ah Ya Tuhan." Balas Hinata semakin resah, ia kira gosip itu akan ditentang atasannya agar tak berdekatan dengan Brand Ambasador tetapi ia justru didukung.

Tiba-tiba ponsel Ino berdering dan ia segera mengangkat telepon.

"Halo, ah baik Tuan akan saya sampaikan." Lalu Ino segera menutup panggilannya.

"Ayo Hinata, ternyata kau sudah ditunggu Toneri di dalam mobilnya, tadi Direktur Marketing meneleponku agar memberitahu mu."

Dengan menghela napas pasrah gadis itu mencoba berdiri. "Tapi bagaimana dengan jadwal kita memeriksa tempat penyimpanan stock barang?" Ia mencoba menghindar.

"Kurasa kita bisa melakukannya besok, masih ada dua hari jadwal kita untuk disini. Em... kau tenang saja kurasa Tuan Milkova pria yang baik dia hanya ingin lebih dekat denganmu." Balas Ino memberikan senyum menenangkan.

"Hmmm baiklah aku pergi dulu." Sahut Hinata pelan merasa pasrah.

"Jaa... Bersenang-senanglah." Kedip Ino menggodanya.

Hinata mulai berjalan keluar pintu yang ternyata masih terdapat begitu banyak wartawan, begitu melihatnya keluar mereka segera berhamburan mendekat pada Hinata untuk bertanya tentang gosip tadi kembali tapi untunglah beberapa pengawal Toneri segera menjaganya agar bisa masuk ke mobil yang sudah siap di depan Pop Up Store Flashy. Begitu menaiki mobil Toneri langsung menarik tangannya dan menutup pintu cepat lalu memerintahkan supir agar segera jalan.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Toneri berusaha perhatian pada Hinata yang terlihat kelelahan menghindari wartawan.

"Maaf, paparazi di Paris memang terlalu agresif." Ucap pria itu sedikit merasa bersalah.

"Kalau kau tahu mereka seperti itu kenapa kau berusaha menciptakan gosip di antara kita? Itu membuat ku tidak nyaman." Balas Hinata memandang sedikit kesal, meksipun sebenarnya ia ingin murka tapi ia harus tetap menjaga hubungan baik dengan kolega kerja.

"Karena ini satu-satunya kesempatanku, kau berjauhan denganku dan saat dekat denganmu aku ingin memastikan bahwa kau tahu aku memang ingin memilikimu." Jawabnya percaya diri.

Hinata memutar matanya tak mengerti, untuk apa pria ini jauh-jauh mencari wanita dari Jepang jika di Paris saja banyak wanita cantik?

"Baiklah karena ini sudah terjadi aku memaafkan mu, lalu kau ingin mengajakku kemana?" Desak Hinata.

"Sekarang baru jam 2 sore tapi sepertinya kau belum makan siang begitu pun diriku. Jadi aku ingin mengajak mu makan, aku sudah menyiapkan tempat yang spesial." Jawab Toneri tersenyum.

Makan? Yah baiklah tidak masalah jika hanya makan batin Hinata. Gadis itu mulai sedikit rileks, disepanjang perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 15 menit lebih banyak Toneri yang bertanya tentangnya dan ia hanya menjawab seperlunya.

Saat mobil sudah berhenti di tempat tujuan hati Hinata langsung tertegun dan merasa sedikit panik karena mereka kini berada di depan sebuah loby Hotel. 'Untuk apa dia membawaku ke sini?'

"Kita akan makan di restauran Hotel ini?" Tanya Hinata setelah keluar dari mobil dan Toneri memerintahkan supirnya untuk memarkirkan mobil.

"Tidak juga, tapi makanan dari Hotel ini sangat enak kau harus mencoba Confit de Canard-nya." Jelas pria itu sambil membimbing Hinata menuju lift. Hati gadis itu semakin resah tapi ia tetap mencoba berpikir positif, namun ia mengernyit bingung saat lantai tujuan mereka berada cukup tinggi yaitu di lantai 56 tapi tidak paling atas dimana kebanyakan Sky Lounge berada.

Setelah mereka keluar lift Toneri terus berjalan menuju sebuah pintu dan pria itu mengeluarkan sebuah kartu. "Tu-tunggu kau yakin kita akan makan di dalam sana? Ini terlihat seperti sebuah kamar bukan sebuah ruang makan sama sekali." Ucap Hinata menghentikan pergerakan pria itu.

Toneri hanya tersenyum miring. "Apa menurutmu kita tidak bisa makan di dalam sebuah kamar? Lihatlah kalau kau tak percaya." Dengan sekali gerakan pria itu membuka pintu kamar dan membuat Hinata dapat melihat isinya.

Itu merupakan sebuah kamar royal suite yang cukup luas serta mewah dengan nuasa putih dan biru laut serta emas di setiap ornamen hiasan dinding, dan ternyata benar di dalam sana sudah terdapat meja makan dengan sepasang kursi yang telah dihias begitu cantik dan tersaji beberapa hidangan.

"Beberapa menit sebelum sampai ke sini, aku mengirim pesan agar mereka menyiapkan hidangannya. Masuklah." Pria itu dengan sopan mempersilahkan.

Hinata rasanya ingin pergi tapi pria ini tidak berbohong soal membawanya makan, gadis itu melirik sebentar pada wajah Toneri memastikan pria itu tidak memiliki rencana buruk.

"Apa aku terlihat seperti seorang penjahat?" Canda Toneri menyeringai.

"A-ah tidak. Baiklah." Ucap Hinata pasrah lalu masuk ke dalam kamar itu. Lalu pria itupun ikut masuk dan menutup pintunya, suara ceklekan pintu yang tertutup untuk sesaat membuat Hinata meremang tegang tapi ia berusaha berpikir positif. Namun perhatiannya teralihkan oleh pintu geser kaca besar yang terbuka disertai kain putih yang melambai-lambai terkena hempasan angin menjadikan kamar itu bergitu cerah, terlebih lagi pemandangan kota Paris yang tersaji dari lantai setinggi ini membuat Hinata semakin tertarik.

"Bolehkah aku melihat keluar terlebih dahulu?" Izin Hinata yang merasa cukup terpukau.

"Of coure Ma belle." Toneri menatapnya lembut.

"Terima kasih." Lalu Hinata berjalan ke arah balkon dan menyandarkan tangannya pada tembok pembatas, bola amethys itu untuk sesaat berubah sayu saat dirinya menikmati hamparan pemandangan bangunan-bangunan indah kota Paris. Dari sini ia bisa melihat Museum Piramida Kaca Louvre - Tuileries yang terkenal.

"Kau menikmati pemandangannya?" Tanya Toneri mendekat ke belakang Hinata.

"Hmm, ini pertama kali aku Paris dulu aku hanya melihatnya dari foto-foto ayahku setelah perjalanan bisnisnya."

Toneri tiba-tiba melingkarkan tangan memeluk perut Hinata dan berbisik lembut sambil menciumi telinga gadis itu. "Kau tahu kurasa sekarang saatnya memberikan hadiah ucapan terima kasihmu itu."

"Toneri apa yang kau lakukan?!" Tangan Hinata seketika reflek melepas pelukan itu dan ia segera berbalik memandang terkejut atas tindakan Toneri. Pria itu terkekeh pelan mendapat penolakan yang begitu cepat.

Toneri dengan tenang maju lagi ke hadapan wajah Hinata. "Bukankah dulu kau pernah bilang akan memberikanku hadiah ucapan terima kasih dari perusahaanmu? Kurasa perusahaanmu memberikan dirimu sebagai hadiahnya." Seringainya semakin nakal.

"Ja-jangan bercanda mana mungkin mereka melakukan itu! Aku disini hanya karena permintaanmu untuk makan siang, jangan macam-macam atau aku akan berteriak!" Hinata berusaha memundurkan wajahnya hingga tubuhnya benar-benar menyentuh tembok pembatas.

Toneri mendengus geli. "Menurutmu siapa yang akan mendengar teriakanmu dari ruang kedap suara setinggi ini?" Tantang Toneri mengangkat alisnya.

"Aku tidak takut padamu!" Balas Hinata tak gentar meskipun nadanya bergetar. Pria itu justru dengan kasar memeluk Hinata hingga tubuh mereka bertubrukan dan berbicara di pipi Hinata dengan tajam.

"Kau mengenakan gaun sexy dan berdandan secantik ini tentu saja untuk menggodaku kan?" Tebak Toneri percaya diri. Hinata mendengus tak percaya akan pertanyaannya itu karena ia tak memiliki sama sekali niat seperti itu, gaun ini saja merupakan pilihan Ino.

"Menjauhlah dariku!" Hardik Hinata kesal berusah mendorong dada bidang itu sekuat tenaga tapi kekuatan Toneri justru membuat ia terdorong ke tembok, menjadikan belakang kepalanya terantuk cukup keras.

"Aaah!" Rintihnya kesakitan.

"Diamlah maka aku tak akan melukaimu!" Perintah Toneri tajam lalu mencengkram pergelangan tangan Hinata kuat dan menarik gadis itu ke dalam lalu mendorongnya terbaring di atas kasur king size dengan kasar.

"To-Toneri kau melukaiku." Bisik Hinata bergetar, kini perasaannya sudah diliputi ketakutan. Perasaan berdekatan ini sangat jauh saat dia berada dengan Sasuke, kini ia merasa terancam. Dengan panik gadis itu mencoba meraih ponsel dari saku gaunnya tapi dengan cepat Toneri merebut dan melemparnya ke tembok sehingga layar ponselnya retak dan mati.

'Sial! Itu satu-satunya cara aku meminta tolong!' Jerit batin Hinata.

"Ku-kumohon Toneri sadarlah, a-aku kolega kerjamu. Kau bisa mendapat masalah jika macam-macam denganku, kalau kau ingin makan siang a-aku akan menemanimu." Mohon Hinata dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

"Tentu aku ingin makan siang, tapi aku ingin memakanmu." Toneri dengan cepat menaiki ranjang dan mengurung Hinata di bawahnya, kedua tangan kuatnya menahan pergelangan tangan Hinata di atas kepala agar tak bisa bergerak.

"Dengan seperti ini kau tak akan memiliki alasan menghindariku lagi." Seringai Toneri menikmati wajah cantik Hinata dari jarak yang begitu dekat.

"Lepas! Toneri! Hentikan ini!" Jerit Hinata semakin kencang, kaki dan tangannya terus ia gerakan tak tentu arah. Saat Toneri berusaha menciuminya Hinata segera berpaling sehingga ciuman itu hanya mengenai rahangnya.

"Dengarlah, kau tak perlu bertingkah suci seperti ini. Kurang apa diriku? Semua wanita pasti ingin jadi milikku. Kau seharusnya senang aku memilihmu!" Geram Toneri sambil menjilati rahang Hinata.

Gadis itu kini tak bisa bergerak sedikit pun, setetes air mata terlihat mengalir dari sudut matanya. 'Kami-sama kumohon lindungi aku.', tatapannya begitu ketakutan dan terluka. Disaat seperti ini ia tiba-tiba teringat pada Sasuke dan Gaara. Tapi mana mungkin kedua pria itu berada disini? Terlebih Sasuke memandang tak suka padanya tadi.

'Adakah yang bisa menolongku?'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To be continue

Hai welcome back minna :)

How about this chapter? Penjelasan tentang kasus hukumnya bosenin ga? Sorry ya masih belajar soalnya kalo g dibahas kan sesuai tema cerita ini apa. Kalau kalian anak hukum atau ngerti tentang hukum boleh banget kasih sarannya, ya lumayan lah chapter ini mesti riset dulu dah berasa belajar hukum wkwkwkwk

Jangan lupa vote dan komen kalian selalu aku tunggu biar semangat terus. Thanks for reading

By Chichiyulalice