Disclamer: Naruto and all character is belong to Masashi Kishimoto
Sasuhina Gaahina fanfiction
Alternatif Universe
Ooc, Typo, DLDR
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading!
Hinata di tengah keputusasaan saat merasakan tangan Toneri mulai meyingkap gaun dan merambat menelusuri pahanya. Ciuman pria itu terus ia rasakan pada lehernya, menjadikan titik titik air matanya semakin tak terbendung. Ia menutup mata erat berharap ini hanyalah mimpi.
"Hentikan! Kumohon hentikan Toneri! Hikss..." Rontaan dan teriakan Hinata bagai angin lalu bagi model terkenal itu, kekuatannya tak seimbang, kali ini Hinata benar-benar dalam bahaya.
"Sudah cukup Ebisu. Hentikan rekamannya."
"Baik Tuan."
"Hah?!" Toneri seketika menghentikan pergerakannya saat mendengar suara di belakangnya. Ia berbalik dan terbelalak saat melihat dua orang pria menatap dingin ke arahnya.
""Que faites-vous ici?! (Mau apa kau kesini?!)" Bentak Toneri marah, dan kini Hinata menyadari bahwa ada orang lain di ruangan ini. Netranya seketika semakin mengucurkan air mata saat di hadapannya ia bisa melihat Sasuke bersama supirnya.
"S-sasuke?" Bisik Hinata bergetar penuh rasa syukur.
"Ferme ta gueule connard! (Tutup mulutmu brengsek!)" Kecam Sasuke tajam, lalu dalam gerakan yang begitu cepat pria Uchiha itu maju menarik kerah Toneri hingga pria itu tersungkur ke lantai dan tanpa membuang waktu Sasuke melancarkan aksinya.
"Kau pria keparat! Aku tak akan memaafkan perbuatanmu!" Geram Sasuke lalu melayangkan tinju secara membabi buta pada wajah dan tubuh Toneri.
Toneri sendiri hanya bisa menghindar seadanya karena ia kalah kuat dengan pria Uchiha ini. Sementara Hinata segera terduduk memeluk dirinya sendiri di ujung ranjang penuh ketakutan, ia merasakan kengerian saat melihat Sasuke begitu beringas menghajar Toneri tapi ia lebih takut lagi jika model itu berhasil memperkosanya.
"Kau tak pantas menyentuh Hinata satu inchi pun!" Bentak Sasuke terdengar semakin murka.
BUGH
BUGH
BUGH
"AKHHH!" Toneri berteriak kesakitan dengan memuntahkan sedikit darah dari mulutnya akibat tinjuan penuh tenaga Sasuke pada perutnya.
"Sudah cukup Sasuke-sama, kurasa dia akan pingsan." Ebisu mendekat pada tuannya, menyarankan agar Sasuke menahan amarahnya.
Dengan kemarahan yang belum mereda Sasuke angkat pria berambut putih itu hingga kakinya berjinjit dari lantai, Toneri terlihat sudah tak memiliki tenaga disertai darah dan babak belur di sekujur wajahnya. Lalu Sasuke berjalan ke area balkon menyeret Toneri, membuatnya terbungkuk di tembok pembatas seolah ingin menjorokannya.
"Tuan-" Ucap Ebisu sedikit terkejut akan aksi Sasuke.
Kepala pria Uchiha itu berbalik ke belakang menatap Hinata. "Apa kau menginginkan kematian pria ini Hinata?" Tuntut Sasuke dingin.
Hinata hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan disertai derai air mata yang belum berhenti, dia seolah tak bisa bergerak dan berbicara masih begitu ketakutan.
"Kalau kau tak menjawabnya aku dengan senang hati melempar pria ini dan menyaksikan kehancuran tubuhnya di bawah sana." Sambung Sasuke dengan nada yang masih begitu mencekam. Pria itu kembali mengeratkan cengkraman pada Toneri lalu berbisik di telinganya.
"Aku memakai sarung tangan saat menghajarmu, jadi tak akan ada yang tahu siapa yang membunuhmu. Akan kuhancurkan seluruh CCTV diruangan ini jika ada, bersiaplah menerima balasannya!" Bisik Sasuke tajam.
Toneri sedikit bergerak untuk menjauh di sisa-sisa kesadarannya, tapi membuka mulut pun saat ini terlalu sakit untuknya.
"Aku menunggu jawaban mu dalam hitungan ke tiga Hinata." Peringat Sasuke kembali. Pria itu menghitung dalam hati.
1
2
3
Ia melirik kembali Hinata sesaat sebelum melempar pria di depannya. Lalu...
"HENTIKAN!" Teriak Hinata tepat sebelum Sasuke mendorong Toneri, membuat pergerakan pria Uchiha itu terhenti.
"Ja-jangan membunuhnya hikss... A-aku tak ingin ada yang mati karenaku. Cu-cukup hukum dia saja hikss..." Hinata berbicara dengan terbata-bata sambil menangis, ia menatap ke arah Sasuke memohon agar pria itu menghentikan aksinya.
Sasuke menarik napas panjang lalu melempar kembali tubuh Toneri ke dalam ruangan. "Kau harus berterima kasih karena Hinata menyelamatkan nyawamu!" Hardik Sasuke menatap tajam Toneri, lalu ia meraih ponsel dari salam saku jasnya dan menelepon seseorang.
"Kalian masuklah sekarang." Perintah Sasuke kemudian segera mematikan sambung tanpa mendengar jawaban, setelahnya terdengar pintu kamar hotel terbuka menampilkan dua pria berbadan besar memakai pakaian serba hitam.
"Bawa pria ini, buat dia menyesal selama sisa hidupnya karena telah berani menyentuh Hinata." Tatap Sasuke memerintah pada kedua anak buah berbadan besar itu.
"Baik Tuan." Jawab kedua pria itu serempak patuh lalu segera membuat Toneri berdiri di kanan dan kirinya lalu berjalan pergi.
"Ebisu kau ikutlah dengan mereka, aku akan membawa mobilku sendiri. Pastikan rekaman tadi kau simpan dengan baik." Lanjut Sasuke.
"Baik Sasuke-sama. Ini kunci mobil Ferrari anda." Ebisu menyerahkan kunci mobil itu lalu membungkuk pada Sasuke kemudian pada Hinata sebelum ikut pergi.
Setelah kepergian supirnya Sasuke berjalan mendekat pada Hinata yang masih duduk dengan gemetar dan wajah yang syok. Pria itu melepaskan kedua sarung tangan hitamnya yang tercetak darah Toneri agar tak mengenai Hinata.
"Shhhh, tenanglah sekarang kau aman." Pria itu berbicara lembut sambil duduk mendekat pada Hinata di pinggir ranjang.
"Ja-jangan menyentuhku." Hinata terlihat begitu terguncang, ia kini bahkan terlihat ketakutan pada Sasuke.
"Aku tak akan menyakitimu." Sasuke mencoba sabar.
"K-kau dulu juga pernah melecehkanku! Kau memaksa menciumku di kantormu! Hikss..." Hinata kembali menangis merunduk sambil memeluk kedua lututnya.
"Maafkan aku, saat itu aku masih begitu marah atas kabar penghianatan ayahmu. Tapi aku tak pernah ingin berbuat lebih jauh, dulu aku membiarkanmu pergi ketika melihat kau ketakutan. Sekarang aku benar-benar ingin melindungimu." Sasuke mencoba merapihkan rambut Hinata yang kusut akibat ulah Toneri.
"Melindungi katamu? Kalau kau ingin melindungiku kenapa kau tak melarang Direktur Marketing agar Toneri tak membawa ku? A-aku begitu ketakutan hiks..." Hinata mengangkat wajahnya dengan tatapan luka pada Sasuke.
"Itu... Karena aku ingin memiliki alasan agar pria itu tak akan pernah mendekatimu lagi. Maaf jika itu terdengar jahat, tapi tadi aku merekam aksi Toneri saat memaksamu. Sekarang aku memiliki bukti kuat untuk memasukannya ke penjara atau bahkan merusak karirnya. Dia tak akan berani mendekatimu lagi." Sasuke berusaha terlihat lembut, meskipun amarah masih membara dalam hatinya. Ia ingin merengkuh Hinata ke dalam pelukannya, membuat gadis itu merasa terlindungi.
Amethys Hinata sedikit melebar saat mendengar penjelasan Sasuke, ia tak menyangka pria ini memikirkan hal sejauh itu untuknya.
"Te-terima kasih kalau begitu." Bisik Hinata pelan masih terlihat sendu mencoba menghentikan isakannya.
"Apa-- saat di rumahku kau juga merasa ketakutan menerima sentuhkan ku?" Tanya Sasuke ingin tahu. Hinata sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu membuat ia berusaha mengalihkan tatapan sambil menghapus jejak air mata di pipinya.
"En-entahlah. A-aku tak bisa menjawabnya, tolong jangan ingatkan aku tentang hal itu." Hinata mencoba mengalihkan pembicaraan, tapi Sasuke menyadari hal itu, terlihat senyum tipis dari wajah pria itu.
"Baiklah, sekarang apa ada yang sakit?" Sasuke mencoba memeriksa tubuh Hinata.
"Emm, ta-tadi dia mencengkram tanganku begitu kuat." Hinata memperlihatkan kedua pergelangan tangannya yang lecet dan memerah.
"Ayo kalau begitu aku bantu kau berdiri setelah itu akan kita obati." Sasuke dengan hati-hati memegang bahu Hinata membantunya berdiri karena takut gadis ini masih menolak sentuhannya.
Kaki Hinata masih terasa seperti jeli akibat syok.
Saat mereka berdua berhasil berdiri kini Sasuke bisa dengan jelas melihat bentuk gaun Hinata dan bagaimana itu terlihat di tubuhnya yang mulus dan berisi di tempat-tempat yang sempurna.
"Sialan si Yamanaka itu, kenapa dia memberinya gaun seperti ini? Aku tahu ini musim panas, tapi dia harus sadar bagaimana reaksi pria saat melihat Hinata." Gumam Sasuke kecil merasa kesal.
"Kau berbicara sesuatu?" Hinata melirik ke samping tak mengerti akan gumaman Sasuke.
"Lain kali kau harus memutuskan sendiri gaun yang ingin kau pakai. Jangan membuat atasanmu itu memakaikan baju kurang bahan seperti ini lagi." Yah kecuali nanti jika kita hanya berdua dan kau sudah membuka hatimu untukku sambung Sasuke dalam hati.
"Aku tahu, aku akan membicarkan itu pada Ino." Balas Hinata yang kali ini setuju akan ucapan Sasuke.
"Tunggu." Ucap Sasuke, pria itu sedikit menjauh lalu melepaskan jasnya kemudian memasangkan pada bahu Hinata, membuat bagian terbuka pada gaun itu berhasil tertutupi.
"Te-terima kasih lagi." Cicit Hinata malu, kini ia merasa Sasuke berbeda jauh. Pria itu ternyata bisa bersikap lembut dan romantis seperti ini.
"Hn, ayo kita obati lukamu." Lalu kedua orang itu segera berjalan keluar kamar dan menuruni lift, kemudian Sasuke membawa Hinata ke klinik Hotel lalu memberikan salep pereda nyeri pada pergelangan tangan gadis itu.
.
.
.
Mereka berdua kini berdiri di depan loby Hotel sambil menunggu petugas valet membawa mobil Sasuke. Pria itu sudah melipat lengan kemeja biru mudanya hingga ke sikut karena tak memakai jas. Berdiri di samping pria ini dengan keadaan tenang membuat Hinata bisa memperhatikan sisi wajah Sasuke, alis yang tebal dan rapih, hidung mancung yang sempurna, rahang tinggi yang mulus, dan bibir sedikit tebal yang menggoda.
Hinata merunduk sambil menggigit bibirnya malu telah memperhatikan pria itu. 'Apa yang kulakukan, jika Sasuke tahu aku terus menatapanya dia akan mengolok-olokku."
"Ada apa? Kau masih merasa sakit?" Tanya Sasuke kembali melirik Hinata.
"A-ah tidak, emm a-aku hanya memikirkan bagaimana cara kembali ke penginapanku dan Ino. Aku belum terlalu mengerti rute transportasi umum disini." Jawab Hinata cepat-cepat mencari alasan.
"Kalau aku mengatakan ingin mengajakmu ke suatu tempat apa kau mau?" Balas Sasuke.
"Ah baiklah. Eh-- tu-tunggu apa kau bilang?" Hinata dengan bodohnya langsung mengiyakan karena tadi dia mengira Sasuke pasti akan membalas tentang menawarkan mengatarnya pulang.
"Kalau kau masih takut padaku karena kejadian tadi, maka tak apa aku akan mengantarmu pulang. Mungkin kau juga butuh istirahat."
Hinata berpikir sesaat, apa pria ini akan melakukan hal yang tidak-tidak juga padanya? Tapi Sasuke tadi bilang ingin melindunginya.
"Memangnya kita akan kemana?"
"Aku ingin mengajakmu ke tempat yang bisa membuatmu melepaskan ketegangan. Tapi jika kau ingin ke tempat tertentu aku akan menurutimu." Jawab Sasuke tenang menatapnya. Hinata sedikit terkejut tak menyangka kali ini Sasuke seolah melepas arogansinya dan akan setuju-setuju saja atas permintaannya.
"Em itu terdengar menarik, baiklah setidaknya aku memang harus menghilangkan ketakutanku ini. Tapi jangan membawaku ke tempat-tempat sepi aku belum mempercayaimu sepenuhnya." Tatap Hinata sedikit memincing pada Sasuke, pria itu terkekeh pelan.
"Apa pantai tempat yang sepi?" Tanya Sasuke sedikit tersenyum.
"Pantai?" Ulang Hinata, tapi petugas valet sudah datang membawakan mobil membuat Sasuke menjauh darinya.
"Silahkan Tuan." Ucap petugas valet membukakan pintu untuk Sasuke.
"Hn." Jawab pria itu datar lalu menyerahkan tip beberapa lembar euro yang membuat sang petugas valet tercengang lalu dengan bahagia terus-menerus berterima kasih pada Sasuke.
"Merci Monsieur... Merci Monsieur..."
"Kau ingin terus berdiam diri di sana?" Tanya Sasuke saat sudah duduk di balik kursi kemudi dengan seringai lucu pada Hinata.
"A-ah baiklah." Hinata putuskan mengikuti pria itu, sang petugas valet tadi membukakan pintu di samping kemudi untuknya.
"Merci." Ucap Hinata sopan yang dibalas anggukan sang petugas vallet.
Setelah gadis itu duduk dengan nyaman dan memasang sabuk pengamannya, Sasuke mulai menghidupkan mesin dan menekan gas membuat mobil sport Ferrari California T merah itu meraung keras sebelum keluar dari area hotel.
"Tadi kau bilang pantai? Pantai mana maksudmu?" Tanya Hinata kembali memusatkan perhatian pada Sasuke.
"Le Havre, kau tahu tempat itu?" Lirik Sasuke sambil fokus menyetir.
"Aku hanya pernah mendengar namanya, tapi tidak begitu tahu kondisi pantai itu." Balas Hinata.
"Kalau begitu aku akan memperlihatkan suatu hal indah padamu disana." Sasuke menatapnya lembut.
Hinata terdiam, dibenaknya kini berkecamuk berbagai macam pertanyaan untuk Sasuke, tapi dia malu untuk mengungkapkannya. Setiap hal yang Sasuke lakukan untuknya selalu membuat ia kebingungan sendiri.
"Perjalanan ini biasanya akan memakan waktu 2 jam setengah, tapi dengan mobil ini kurasa bisa lebih cepat. Jadi nyamankan posisi mu, kuharap kau tidak akan berlumut duduk selama itu di sebelahku." Canda Sasuke sedikit menyeringai ke arah Hinata.
"Kau tahu tadi handphoneku rusak karena Toneri, dan sekarang kau ingin membawaku ke tempat yang cukup jauh. Bagaimana aku meminta pertolongan jika sebenarnya kau ingin menculikku?" Hinata mencoba menanggapi Sasuke dengan sedikit candaannya tapi pria itu terlihat gusar mendengar hal itu, tangannya terlihat lebih mengerat pada setir.
"Maafkan aku--" Sasuke tiba-tiba berbicara sendu dan sedikit merunduk.
"Aku membiarkan Toneri menyentuhmu untuk mendapatkan bukti yang menjeratnya, kurasa aku memang belum becus menjagamu." Ucap Sasuke pelan seolah berpikir keras.
"Menjagaku?" Tanya Hinata bingung.
Pria itu cepat-cepat menggelengkan kepalanya pelan. "Lupakanlah, aku sedang tidak ingin membahas tentang pria brengsek itu. Bisa kita membicarakan hal lain?"
"Emm... Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ku tanyakan padamu." Ujar Hinata jujur pada akhirnya. Mendengar ucapan itu Sasuke langsung mengalihkan perhatiannya menatap Hinata dalam beberapa detik lalu segera ia alihkan kembali ke jalan.
"Hmm katakanlah."
"Benarkah? Oke... Sebentar aku akan mengingat dan menghitungnya dulu." Hinata terlihat berfikir sambil tangannya bergerak seolah menghitung.
Sasuke yang merasa akan diberondong pertanyaan segera berbicara. "Hei hei, memangnya kau akan melakukan wawancara? aku tak ingin menjawab pertanyaan lebih dari 3."
"Ah tapi kenapa? Kalau 5?"
"1." Jawab cepat Sasuke.
"7 ya?" Tawar Hinata.
"Oke sesi pertanyaan habis." Putus Sasuke tak mau kalah.
"Eh?! Kenapa begitu aku belum bertanya." Rengek Hinata tidak terima.
"7 ya? Itu sebuah pertanyaan kan?" Ulang Sasuke menjelaskan.
Hinata membuka mulutnya ingin berdebat tapi menutupnya kembali menyadari pria ini benar. "Ya sudah, jadi apa jawabannya?" Bibir Hinata mengerucut dan nadanya terdengar merajuk.
Sasuke menyeringai dan mendekatkan mulutnya pada telinga Hinata, dengan sengaja menghembuskan nafas ke dekat tengkuk gadis itu. "Jawabannya adalah--"
"Ya manis, tentu saja kau boleh bertanya apapun padaku." Goda Sasuke sengaja dengan nada rendah dan sexy.
"Eh?" Hinata tak menyangka akan jawaban Sasuke dan berbalik menatap pria itu hingga hampir membuat kedua bibir mereka bertubrukan saking dekatnya jarak wajah mereka.
"Mu-mundur, fokuslah pada jalan." Ucap Hinata panik, dia mendorong dada Sasuke agar menjauh dari wajahnya membuat pria itu terkekeh senang telah menjahili Hinata.
Gadis itu kini memegang kedua pipinya, merasakan gumpalan itu memanas dan merona akibat tingkah Sasuke.
"Kenapa diam? Ayo aku menunggu pertanyaan mu."
"Na-nanti saja." Ujar Hinata gugup, ia harus menormalkan kondisi jantungnya terlebih dahulu. Gadis itu segera mengalihkan tatapannya ke luar jendela mobil dan melipat kakinya mencoba mengabaikan Sasuke.
Pria itu melirik kembali pada Hinata tapi onixnya teralihkan oleh paha jenjang nan mulus Hinata karena posisinya yang melipat kaki membuat gaun yang memang cukup pendek semakin terangkat ke atas. 'Sialan, gaun ini benar-benar membuatku kesal.' maki Sasuke dalam hati.
SRET
Sasuke tiba-tiba melempar sebuah jaket dari kursi belakang pada pangkuan Hinata. "Tolong tutupi kakimu, itu merusak konsentrasiku." Perintahnya gusar.
Hinata menerima jaket itu dengan pandangan bingung, 'Ternyata Sasuke masih bisa peduli hal-hal seperti itu.'
Setelah kejadian itu perjalanan mereka hanya diisi dengan percakapan ringan, karena Hinata masih malu untuk bertanya dan mereka pun sudah memasuki area tol jadi Sasuke harus lebih fokus menyetir.
1 setengah jam kemudian mereka akhirnya keluar tol dan mulai memasuki kawasan Le Havre, dimana dari sisi kiri mereka tepi pantai sudah mulai terlihat dan sisi kanan yang kebanyakan perbukitan hujan. Jalanan lurus dan cukup sepi cocok untuk menikmati pemandangan di sekitar pantai.
"Itu indah..." Bisik Hinata tanpa sadar saat melihat deburan ombak biru dari sisi kirinya, tangannya meraba kaca pelan.
"Kau ingin melihatnya lebih jelas?" Tawar Sasuke yang mendengar gumaman itu, lalu tangan pria itu menekan tombol untuk mengatur atap mobil Ferrarinya.
Detik berikutnya Hinata merasakan bahwa atap mobil sport itu mulai bergerak terbuka, melipat dengan otomatis ke dalam bagasi di bagian belakangnya. Gadis itu terlihat kagum, ia sempat lupa jika ini memanglah mobil sport. Kini angin menerpa kulitnya dan menerbangkan helaian rambut panjangnya, gadis itu menutup maat sesaat merasakan aroman pasir, air laut, dan kesejukan serta hangatnya pesisir pantai.
'Otou-san, Hinata merasa bahagia.' Batinnya begitu bersyukur bisa merasakan semua keindahan alam ini, satu tangan gadis itu terangkat merasakan terpaan angin mengenai telapak tangannya.
Sasuke memandang tanpa berkedip saat melihat semua pergerakan Hinata, dirinya seolah tersihir dan terpesona akan semua keanggunan gadis itu. Hatinya ikut membuncah bahagia bisa membawa seulas senyum di wajah gadis itu.
Hinata membuka kembali kelopaknya dan dengan segera Sasuke alihkan lagi perhatiannya. "Ah, iya bolehkan aku mendengarkan radio? Kurasa menikmati pantai dengan musik tidaklah buruk."
"Hn, silahkan." Balas Sasuke.
Hinata semakin tersenyum cerah mendengar Sasuke menyetujuinya lalu ia bergerak untuk menyalakan radio mobil, gadis itu mengotak-atik sekitar 5 menit hingga akhirnya menghela napas pasrah tak jadi menyetel musik.
"Ada apa?" Lirik Sasuke tak mengerti.
"Dari tadi aku terus mencari siaran lagu, tapi kebanyakan berbahasa Perancis aku tidak terlalu suka." Jelas Hinata.
"Kalau begitu putar ini saja." Sasuke mengatur audio mobil ke pilihan mp3 lalu memutar musik yang sudah ia simpan sebelumnya. Sesaat kemudian mengalun instrumen dan suara dentingan jam diikuti sebuah suara pria bergenre rock, Hinata langsung bisa mengenali lagu itu adalah Clock Strikes.
"Kau menyukai lagu ini? Aku juga suka One OK Rock." Ujar Hinata ceria.
"Hm." Angguk Sasuke tersenyum tipis.
Hinata mulai bernyanyi mengikuti lirik lagu, diikuti Sasuke yang secara diam-diam juga ikut bernyanyi. Tapi saat reff mulai terdengar mereka semakin menikmati lagunya dan bernyanyi bersama-sama.
"What will we have?" Mereka mengucapkan bersamaan membuat keduanya saling bertatapan geli tak menyangka lalu mulai bernyanyi bersama-sama.
"Believe that time is always forever
And I'll always be here
Believe it till the end
I won't go away
And won't say never
It doesn't have to be friend
You can keep it till the end..."
Hinata tertawa pelan memandang Sasuke. "Aku tak tahu ternyata kau bisa sesantai ini, dan-- em dan harus kuakui suaramu bagus." Cicit Hinata malu.
"Benarkah? Berarti kemampuanku saat SMA dulu belum menghilang." Jawab Sasuke datar.
"Kau dulu bergabung dalam sebuah band?" Tebak Hinata sedikit terkejut.
Pria itu mengangkat bahu tak acuh. "Yeah hanya band amatir, kita bubar saat aku harus kuliah di Inggris."
"Dan kau pasti vocalistnya kan? Kalau begitu tolong bernyanyi lagi." Pinta Hinata.
"Tidak terima kasih. Suaraku mahal."
"Ayolah, kumohon. Satu lagu saja nyanyikan untukku." Pinta Hinata memegang lengan Sasuke tanpa sadar membuat pria itu melirik ke bawah dan Hinata menyadarinya.
"Eh, ma-maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengganggu mu." Hinata akan melepasnya namun satu tangan Sasuke yang lain dengan cepat menahannya. Melihat gadis itu yang terdiam, ia pindahkan tangan Hinata pada genggaman tangannya yang gadis itu tahan. Kini tangan mungil itu saling tertaut dengannya di antara tubuh mereka sementara satu tangannya yang lain tetap pada kemudi.
"Biarkan tetap seperti ini, maka aku dengan senang hati akan bernyanyi untukmu." Tatap Sasuke intens.
Hinata menelan ludahnya pelan, ia merasakan kehangatan dari genggaman tangan besar itu. Entah mengapa sesuatu dalam hatinya mengakui ia merasa nyaman dan terlindungi. Akhirnya gadis itu pun mengangguk pelan ragu-ragu, dapat ia rasakan tangannya sedikit bergetar bersentuhan terus dengan Sasuke.
"Terima kasih." Jawab Sasuke lembut.
Pria itu mulai bernyanyi pelan membawakan lagu playlist selanjutnya yang berjudul Where ever you are.
"I'm telling you
I softly whisper
Tonight, tonight
You are my angel
Aishiteru yo..." Saat mengucapkan kata itu Sasuke kembali memandang Hinata tepat pada amethysnya, begitu dalam dan intens seolah berusaha mengungkapkan isi hatinya.
DEG
Sesuatu dalam hati Hinata seolah tersengat pada cara Sasuke menyanyikan lirik itu untuknya.
"Futari wa hitotsu ni
Tonight, tonight
I just to say
Wherever you are, I'll always make you smile
Wherever you are, I'm always by your side
Whatever you say, kimi wo omou kimochi
I promise you forever right now
I don't need a reason
I just want you, baby
Alright, alright
Day after day..."
Hinata mulai menyandarkan kepalanya dan memandang Sasuke sama dalamnya ada begitu banyak kejutan yang ia ketahui dari Sasuke hari ini. Pria itu sudah kembali memfokuskan pandangan pada jalan.
"Kurasa kau dulu selalu menggoda wanita dengan nyanyian mu ini." Sindir Hinata.
"Hanya kau satu-satunya wanita yang pernah ku goda." Balas Sasuke melirik Hinata menunjukkan keseriusannya.
Astaga, ucapan itu membuat Hinata tak bisa berkata-kata dan begitu malu. Kini ia salah tingkah di hadapan Sasuke, Hinata ingin berbalik memunggungi pria itu tapi tangan mereka masih saling tertaut.
Gadis itu terus terdiam hingga akhirnya tersadar mobil sudah berhenti di sebuah area parkir resort yang cukup mewah.
"Kita sudah sampai, ayo turunlah." Ajak Sasuke mulai melepas sabuk pengamannya.
"Bi-bisakah kau melepaskan tanganku dulu?" Pinta Hinata masih merasa salah tingkah akibat pengakuan tadi.
"Hmm." Pria itu pun melepaskannya meskipun seolah tak rela.
Akhirnya mereka berdua berjalan ke dalam resort, Sasuke berbicara bahasa Perancis dengan lancar pada pelayan disana dan memesan minum serta tempat duduk private di area pantai. Hinata ikut berjalan semakin masuk ke dalam area pantai, tetapi begitu melangkah ke dalam pasir ia menyadari akan susah berjalan karena masih mengenakan high heels.
Gadis itu pun membungkuk berusaha membuka sepatunya dengan susah payah karena jenisnya tali-tali kecil yang membelit pada betis. Sasuke yang tak menyadari Hinata berhenti di belakangnya masih terus berjalan, hingga beberapa meter kemudian pria itu tersadar dan melirik ke belakang melihat Hinata yang kesusahan dengan sepatunya. Pria itu menyeringai geli lalu berjalan kembali ke dekat sang gadis Hyuga.
"Kalau kau kesusahan berjalan seharusnya kau bilang padaku." Setelah mengucapkan itu tanpa aba-aba Sasuke langsung mengangkat tubuh Hinata ke dalam pangkuan kedua tangannya, membuat Hinata menjerit kecil karena kaget.
"Sasuke! A-apa yang kau lakukan? Turunkan aku, aku malu." Rengek Hinata yang gugup memperhatikan keadaan sekitar.
Sasuke tak menanggapinya dan mulai berjalan dengan kedua tangan menopang kaki dan punggung Hinata, membuat gadis itu mau tak mau merangkul leher Sasuke agar tidak terjatuh.
'Kami-sama kenapa pria ini terus menggodaku.' Hinata menelan kembali ludahnya susah payah saat melihat dihadapannya kini adalah leher jenjang pria itu, terlihat jakunnya yang sedikit naik turun dan entah mengapa itu terlihat seksi. Lalu bulu halus yang ternyata ada di sekitar rahang bawah Sasuke, ah rasanya Hinata gemas pada pria ini.
Pria itu mulai menurunkan Hinata dengan perlahan di kasur besar yang sudah dibentuk seperti kasur pantai, lalu ikut naik duduk di samping Hinata.
"Sekarang apa rencanamu jika sudah membawaku kemari?" Tanya Hinata menatap bingung.
Pria itu memandang ke depan pada hamparan laut biru sambil bersandar ke belakang pada kedua tangannya. "Hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu." Jawabnya tanpa ragu.
Hinata menunduk, ia sebelumnya memang setuju dibawa ke sini untuk menghilangkan ketegangannya tapi bersama Sasuke justru hatinya tak pernah tenang. "Mengenai pertanyaan ku tadi bolehkan aku bertanya sekarang?"
"Hn." Angguk Sasuke.
"Apa alasanmu mendekatiku?"
"Karena aku menginginkan mu." Jawab pria itu lancar tak ragu menatap Hinata.
"Menginginkan tubuhku maksudmu?" Hinata butuh kejelasan.
"Kau tahu? Jika aku menginginkan sebuah tubuh sexy dan wajah cantik maka akan selalu ada wanita yang lebih cantik dan sexy darimu. Kuharap kau mengerti maksudku."
Hinata memandang Sasuke berusaha mencari kebohongan di sana tapi tak ia temukan, membuat gadis itu menghela napas pelan.
"Tapi kenapa dulu kau menawariku menjadi wanita mu? Kau menilaiku seakan aku adalah murahan." Jawab Hinata sedih.
"Dulu aku berpikir karena kondisi mu yang susah maka kau akan menerima tawaranku dan berpangku tangan padaku, membiarkan aku melindungimu dengan caraku. Karena sejujurnya aku tak rela melihat mu kesusahan seperti itu, menyadari bahwa aku bisa makan dengan layak dan kau tidak membuat hatiku sakit." Jujur Sasuke sedikit bergetar.
Hinata memandang pria itu sedikit berkaca-kaca, kenapa? Kenapa pria ini baru jujur sekarang sampai membuatnya berpikir dia adalah pria jahat?
"Aku tetap harus menyita seluruh aset keluargamu karena itu adalah peraturannya. Kuharap kau mengerti itu." Lanjut Sasuke.
"S-sasuke... Aku masih tidak mengerti apa yang membuat mu masih begitu peduli padaku jika Otou-sanku sudah mengecewakan mu begitu dalam? Kita bukan orang yang saling mengenal." Tanya Hinata bergetar.
Pria itu memandangnya, hanya terus memandang memperhatikan seluruh detail wajah gadis itu dengan dalam. "Suatu saat kau akan tahu, sekarang aku tak bisa menceritakannya." Ujar Sasuke akhirnya dan mengalihkan tatapannya kembali ke depan.
Hinata menarik napas mencoba menetralkan perasaannya, Sasuke memang tidak bisa dipaksa. "Baiklah, lalu apa yang akan kau lakukan pada Toneri?"
"Tergantung, aku bisa dengan mudah menjebloskannya ke penjara dan merusak karirnya. Aku akan membicarakan ulang kontrak pria itu dengan atasanmu, meskipun harus kuaki pengaruhnya di bidang Fashion cukup tinggi." Jelas Sasuke dingin. Hinata mengangguk mengerti, memang kontrak kerja tidak semudah itu diputuskan ia hanya berharap pria itu mendapat pelajaran agar tak berani pada wanita lainnya.
"Kenapa kau terlihat begitu kesal saat di acara tadi? Tapi memutuskan untuk mengikuti ku." Tanya Hinata kembali.
"Melihatmu berdekatan dengan pria lain saja sudah membuatku gusar, apalagi melihat kau pergi begitu saja dengan pria penggoda itu. Aku tidak akan diam saja."
"Apa yang membuatku pantas dilindungi olehmu?" Balas Hinata cepat.
"Saat ini kau belum mengerti." Ucapnya pelan, Hinata menggigit bibirnya gundah ucapan Sasuke memang penuh teka-teki.
"Aku memang tidak akan mengerti jika kau hanya berbicara seperti itu. Lalu tentang perhiasan tempo hari aku ingin mengembalikannya."
"Tidak, itu keputusan finalku. Cukup simpan saja jika kau tak menginginkannya. Tapi jangan membuang, memberikan pada orang lain, dan mengembalikannya padaku." Mendengar jawaban seperti itu membuat Hinata malas berdebat.
Menyadari kediaman gadis itu Sasuke meliriknya. "Ada lagi? Apa masih banyak pertanyaan di dalam kepala cantikmu itu?"
Gadis itu terlihat berfikir sebelum akhirnya beranikan bertanya.
"Emmm... Kau tahu dari auramu dan caramu yang selalu menggodaku apa kau selalu tidur dengan banyak wanita?" Kali ini Hinata bertanya dengan perasaan takut jika Sasuke marah akan pertanyaan itu.
Pria itu mengusap rambutnya ke belakang seolah berpikir lau terkekeh pelan. "Hinata umurku sudah 28 tahun, dan aku melewati masa pubertas seperti kebanyakan pria. Dulu aku kuliah di Oxford dan kau tentu tahu bagaimana pergaulan pria di Inggris, yeah aku tak akan mengelak dulu aku memang pria bebas. Tapi itu semua berhenti 3 setengah tahun yang lalu, jadi jika kau masih berfikir aku akan dengan mudah menanamkan benihku ke sembarang wanita lagi tolong hentikan pikiran itu." Jelas Sasuke menatapnya dalam menyalurkan kepercayaan.
"Berapa banyak wanita yang pernah kau tiduri?" Tanya Hinata lagi, sial dia tak bisa menahan lidahnya padahal batinnya sudah memperingati agar tidak mencari penyakit dengan mengorek urusan pria.
Sasuke memejamkan matanya seolah berat menjawab itu lalu membukanya kembali dengan helaan napas berat.
"3, hanya 3 aku berusaha menjawab jujur padamu. Jika menurut mu aku terlalu brengsek untukmu percayalah aku tak pernah merusak para wanita itu mereka datang sukarela padaku."
"3? Kau bahkan ciuman pertama ku." Gumam Hinata kecil sedikit syok lalu merunduk sendu, namun hal itu masih terdengar Sasuke.
Pria itu mendengus geli. "Tentu saja, aku tahu itu." Balas Sasuke pelan.
"Apa kau bilang?" Hinata kini malu karena gumamannya terdengar Sasuke.
"Emmm tentu saja kan? maksudku dari melihat kepolosan di wajahmu saja aku tahu kau tak pernah tersentuh." Balas Sasuke mengangkat bahu.
"Lalu ada apa 3 setengah tahun lalu sehingga kau berubah?"
Pria itu menghela napas pelan lagi. "Untuk sekarang aku tak bisa menceritakannya, tolong pertanyaan selanjutnya."
Melihat Sasuke yang tidak nyaman Hinata coba mengerti dan tidak memaksa. "Baiklah, pertanyaan yang lain. Seandainya Tou-sanku dinyatakan bersalah apa kau akan benar-benar membenci Tou-san dan diriku?"
"Membenci? Kurasa kata benci memiliki suatu makna yang begitu dalam. Dan aku belum tahu akan seperti apa nanti, aku tak akan memintamu memahami perasaanku. Tapi coba kau bayangkan pada posisi terhianati seseorang yang begitu kau percaya? Kira-kira seperti itu rasa sakit yang aku terima. Kesalahan kasus itu bukan hanya masalah tentang uang Hinata, tapi membuat perusahaanku menunda pembangunan, kehilangan beberapa kepercayaan investor, membuat keuangan kas kami tidak stabil, bahkan bisa mengancam masa depan beberapa karyawan yang bekerja. Maka dari itu, sebuah kasus pidana tidak bisa hanya diselesaikan dengan kata maaf." Terlihat tatapan kesedihan dari mata pria itu.
Hinata sedikit tertegun, kali ini Sasuke berbicara begitu panjang lebar. Seolah tak lagi berusaha menutup dirinya, Hinata mulai mengerti perasaan pria itu dan tanggung jawab besar yang diembannya. Dia menyadari tak seharusnya terus menerus menganggap Sasuke pria jahat.
Hinata tersenyum tulus mulai berani menatap pada onix tajam itu. "Terima kasih telah mau membagi hal itu denganku."
Kini gadis itu mulai sedikit rileks dan membaringkan punggungnya pada kasur pantai.
Melihat gerakan itu Sasuke mengangkat alisnya tak mengerti tapi mengikuti berbaring di sebelah Hinata. "Kau tidak marah setelah aku menjelaskan hal itu?" Tatap Sasuke memperhatikan wajah Hinata, gadis itu ikut memiringkan kepalanya saling memandang dengan jarak wajah yang cukup dekat.
"Setelah semua yang terjadi aku harus mulai belajar memahami sudut pandang orang lain, masih ada keraguan dalam hatiku apakah semua tingkahmu ini hanya untuk menjebakku atau bukan tapi setidaknya sekarang aku bisa sedikit melihat sisi baik darimu. Kau telah menyelamatkanku dari Toneri, dan itu sesuatu yang mungkin membuatku akan terus berhutang budi padamu." Ujar Hinata pelan memandang haru, tak tahu akan seperti apa jika tak ada Sasuke.
Sasuke terdiam semakin menatapnya dalam, tak teralihkan oleh apapun karena jawaban Hinata membuat ia sungguh semakin jatuh terlalu dalam pada gadis ini.
"Hinata... tolong katakan sesuatu agar aku tidak menciummu saat ini juga." Ucap Sasuke cepat berusaha menekan keinginannya.
"Eh?" Tanya Hinata bingung, tapi selanjutnya gadis itu justru tersenyum kecil mengetahui kelakuan Sasuke yang selalu seperti ini. Dia memiringkan tubuhnya menghadap Sasuke.
"Terima kasih telah menyelamatkan ku Uchiha Sasuke." Ucap Hinata penuh ketulusan, lalu satu tangannya menangkup pipi pria itu dan dengan perlahan memberikan kecupan ringan di rahang bawahnya. Kemudian gadis itu memundurkan kepalanya tapi tangan Sasuke segera menahan sisi wajahnya, membuat amethys dan obisidian mereka saling memandang dan berbagi perasaan yang tak bisa terucap.
Hinata merasa kini detak jantungnya semakin berpacu cepat, ia tak bisa bergerak dan tak ingin mengalihkan perhatian dari wajah rupawan ini. Sementara Sasuke menatapnya tanpa ragu, aliran diantara mereka seolah terus meningkat hingga tanpa dapat dicegah kedua gumpalan lembut bibir mereka bertemu. Bermula saling bersentuhan lembut lalu saling mengecup, selanjutnya membiarkan naluri alami mereka mendikte gerakan. Kedua kelopak mata itu terpejam, merasakan aliran sensasi menyenangkan yang menguasai tubuh mereka.
Bibir Sasuke mulai melumati atas bawah bibir ranum Hinata, gadis itu sedikit meremas kemeja Sasuke saat rangkuman tangan pria itu semakin membawanya mendekat. Lidah Sasuke kini sudah mulai aktif membelai, kepala pria itu seolah tak sabar sehingga sedikit terangkat mendorong Hinata kembali berbaring sempurna.
"Excusez-moi monsieur et madame c'est votre commande de boisson. (Permisi Tuan dan Nona ini minuman pesanan kalian.)" Suara seorang pelayan yang mengantarkan pesanan tiba-tiba terdengar. Membuat kedua sejoli itu seolah mati gaya dan cepat-cepat melepaskan tautan bibir mereka.
"Je vous remercie. (Terima kasih.)" Balas Sasuke cepat pada pelayan itu karena dia yang menguasai kesadaran lebih dulu, pelayanan itu tersenyum lalu kembali menjauh seolah tak aneh dengan kegiatan kedua orang itu di tempat seperti ini.
Hinata dengan cepat bangun dan memeluk lututnya, lalu ikut menenggelamkan wajahnya pada lutut merasa begitu malu. Sasuke terkekeh pelan melihatnya.
"Tenanglah kau bukan selebriti tak akan ada yang peduli pada tingkah kita di sini." Ucap pria itu santai, tapi setelah mendengar candaan itu pun Hinata tak kunjung mengangkat wajahnya.
"Hei ada apa?" Tanya Sasuke khawatir ikut bangkit mendekati gadis itu.
Hinata sedikit mengangkat wajahnya meskipun sebagian yang lain masih tertutupi lipatan tangannya. "A-aku hanya merasa tak pantas melakukan itu, Tou-sanku sedang dalam masa kritis dan aku seharusnya tak bermain-main seperti ini. A-aku putri yang buruk bukan?" Tatapnya sendu pada lautan yang langitnya mulai senja kekuningan.
"Percayalah aku tidak ingin bermain-main denganmu." Bisik Sasuke sungguh-sungguh.
Hinata hanya bisa terdiam menenangkan hatinya, mereka berdua akhirnya hanya terdiam memandangi lautan dan menikmati saat matahari mulai terbenam di ufuk barat.
Saat langit sudah gelap Hinata meminta untuk di antar pulang kembali ke penginapannya. Sasuke menuruti karena melihat kegundahan di mata gadis itu, mereka kembali ke mobil dan memulai perjalanan. Kali ini Hinata tertidur selama perjalanan karena kelelahan dan Sasuke mengantarkannya ke penginapan yang sudah Hinata sebutkan sebelumnya.
Ketika sudah berhenti di area parkiran penginapan ternyata Hinata masih tertidur dan Sasuke tak enak membangunkannya. Pria itu melirik Hinata dan berinisiatif merapihkan rambut yang menutupi wajah gadis cantik itu, ia menyempatkan waktu mengagumi setiap lekukan lembut Hinata, dan jari panjangnya dengan perlahan menelusuri garis hidung mungil itu.
"Kau terasa begitu tak nyata bagiku." Bisiknya memandang lurus.
Karena sentuhan halus itu sang gadis menggeliat pelan lalu mulai mengerjapkan matanya, hingga kesadarannya kembali ia menyadari sudah tertidur cukup lama dan di sebelahnya terlihat Sasuke sedang duduk melipat tangan ke dada menghadap ke depan dengan raut wajah datar. Apa pria itu marah karena aku tertidur? batinnya.
"Ma-maafkan aku tertidur. Apa kita sudah sampai?" Tanyanya sedikit panik sambil duduk tegak dan merapihkan rambutnya.
"Hn, kembalilah kau butuh istirahat. Jika kau melihat pria itu bertindak aneh di depanmu lagi segera laporkan padaku." Ucap Sasuke.
"Baiklah, terima kasih untuk hari ini. Eh tapi aku tak memiliki nomormu?"
"Kau memilikinya." Jawab pria itu cepat.
Hinata berfikir, ah iya nomor yang memintanya pergi ke balkon kantor. Apa Sasuke sengaja ingin aku menghubunginya? pikir Hinata.
"Kalau begitu aku pergi." Gadis itu bergerak akan membuka pintu mobil tapi ternyata tangan Sasuke menahan pergelangan tangannya. Hinata terdiam melirik penuh tanya pada pria itu namun sesaat kemudian yang ia rasakan adalah sesuatu yang hangat menyentuh sisi pipinya.
Sasuke membawanya ke dalam pelukan membuat kepala gadis itu bersandar di dadanya. "Selamat malam dan mimpikanlah aku dalam tidurmu." Cup... Pria itu langsung mengecup rambut pada poninya beberapa detik seolah tak ingin mereka berjauhan tapi setelahnya pria itu melepaskan rangkulan membiarkan gadis itu menjauh.
Hinata yang merasakan kecupan di dahinya sungguh merasa gugup, tak pernah ia kira Sasuke bisa begitu perhatian seperti ini. Ia tidak bisa berkata apa-apa saking malunya dan segera keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam hotel.
Melihat kepergian Hinata, Sasuke hanya bisa tersenyum kecil menyadari gadis itu masih berusaha menutupi perasaannya.
.
.
.
Jam kantor Gaara baru saja usai tadinya ia ingin segera pulang namun mengingat ucapan Hinata yang menghawatirkan ayahnya Gaara menyempatkan diri untuk melihat kondisi pria itu.
Setelah sampai di Rumah Sakit ia segera pergi ke area ruang ICU, saat tiba di sana ia melihat di depan salah satu pintu ruang perawatan sudah ada dua anggota kepolisian yang ia tugaskan untuk mengawasi Hiashi.
"Selamat sore Sabaku-san." Sapa kedua anak buahnya itu berdiri melihat atasan mereka datang.
"Selamat sore, bagaimana keadaan Tuan Hiashi?" Tanya Gaara.
"Tadi baru saja masuk seorang dokter untuk melakukan pengecekan rutin." Jawab salah satu dari polisi tersebut.
"Ah begitu, kebetulan aku ingin menanyakan perkembangan kondisi Tuan Hiashi. Kalau begitu aku masuk dulu." Balas Gaara.
"Silahkan Sabaku-san." Ucap kedua polisi itu.
Jaksa muda itu akhirnya masuk dan memakai terlebih dahulu pakaian pelindung bagi pengunjung ICU. Setelah mendekat pada ranjang Hiashi ia melihat seorang Dokter yang akan menyuntikan sesuatu ke dalam selang infusan, namun dia sedikit merasa aneh karena hanya ada seorang Dokter tanpa di temani perawat dan seingat dia Dokter Serizawa yang menangani Hiashi tidak berperawakan kurus seperti itu.
"Dimana Dokter Serizawa? Apa dia sedang digantikan?" Tanya Gaara mengangkat alis dari belakang pria berjas Dokter itu.
Gerakan tangan sang Dokter seketika terhenti mendengar suara yang tiba-tiba datang di belakangnya. "Ya, aku sedang menggantikannya." Jawab pria itu datar.
Gaara merasakan keanehan jadi dia semakin mendekat, pria itu dengan perlahan meraih bahu sang Dokter agar berbalik menghadapinya. Dalam hitungan detik pria itu dengan cepat menganalisis, seorang pria yang mengenakan masker, datang sendirian, dan terlebih lagi tak ada tanda pengenal staff Rumah Sakit yang tergantung di saku jasnya seperti petugas medis lainnya disini.
Mata jadenya seketika menajam. "Kau bukan Dokter! Siapa kau?!" Ancam Gaara dingin.
Melihat seseorang telah menyadarinya pria itu terlihat murka dan justru berbalik menyerang Gaara dengan suntikan di tangannya yang belum berhasil ia masukan. Gaara dengan cepat menghindar tapi pria itu terus menyerang hingga punggung jaksa itu menabrak sebuah meja membuat suara gaduh benda berjatuhan, tapi Gaara tak ingin menyerah ia cekal pergelangan tangan pria itu dan menonjok perutnya cepat membuat suntikan itu terlempar karena merasa kekesakitan.
Tapi pria mencurigakan itu mendengar kedua polisi di luar akan masuk sehingga ia dengan cepat menendang perut Gaara membuat pemuda itu kesakitan dan melepaskan cengkramannya.
"Sabaku-san ada apa?" Tanya kedua polisi itu panik.
"Tangkap orang itu!" Teriak Gaara sambil menahan sakit di perutnya.
Tapi pria misterius tadi terlanjur berhasil melewati kedua polisi dan berlari dengan cepat.
"Satu orang jaga ruangan ini dan yang lain bantu aku mengerjarnya!" Geram Gaara menahan sakit tapi tetap berusaha berlari keluar.
"Baik."
Lalu Gaara dan seorang polisi langsung berlari ke arah lift karena terlihat seseorang baru saja masuk dan indikator lantai menunjukkan orang itu turun menuju loby Rumah Sakit.
"Sial! Ayo kita kejar dari tangga darurat!" Perintah Gaara panik dan segera masuk ke pintu tangga darurat. Pria itu berlari sekuat tenaga menuruni tangga dari lantai tiga, ia berhasil sampai di loby terlebih dahulu dan segera menunggu di depan lift.
"Bersiap!" Ia perintahkan polisi itu bersiap mengarahkan senjata apinya pada pintu lift termasuk dirinya yang membawa pistol sebagai persiapan. Gaara terlihat tegang menatap indikator lantai lift yang akan segera membuka di lantai loby. Orang-orang di sekitar sana terlihat sedikit ketakutan dan menatap bingung aksi kedua orang itu.
TING
Suara dentingan lift diikuti pintu yang terbuka membuat Gaara semakin mencengkram erat pistol di tangannya. Ketika seseorang di dalam lift itu terlihat Gaara membelalakan matanya, dengan hampa menurunkan todongan pistol di tangannya, karena yang ada di dalam sana hanyalah seorang wanita pengunjung biasa yang perawakannya jauh berbeda dari pria tadi.
"Ahhhh...!" Wanita paruh baya itu terlihat ketakutan ditodong senjata api seperti itu.
Gaara memberi kode melalui tangannya agar polisi itu ikut menurunkan senjatanya.
"Maafkan kami, ternyata kami salah orang." Ucap Gaara berojigi dalam diikuti sang polisi lalu segera menjauh dari loby yang telah ditatap banyak orang itu.
Pria itu berjalan sambil mengeratkan genggaman tangannya murka. "Kurasa orang yang dulu ingin mencelakaiku mulai bergerak kembali." Bisiknya tajam dengan tatapan tajam penuh ambisi untuk mengungkap semua hal ini.
"Lain kali jangan biarkan petugas medis manapun tanpa tanda pengenal masuk ke ruangan itu." Peringat Gaara dingin.
"Baik Sabaku-san."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continue
I hope still someone one waiting and reading this story... :) Sorry for the late up date, hope you guys can give some feedback like vote and review for me. Thank you for reading my story
Jaa nee...
By Chichiyulalice
