Disclaimer: Naruto and all characteris belong to Masashi Kishimoto
SasuhinaGaahina fanfiction
Alternatif Universe
Ooc, Typo, DLDR
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading! :)
Hinata berjalan dengan lesu menuju kamar hotelnya setelah diantar Sasuke, dibenaknya berpikir apa yang harus ia ceritakan pada Ino jika atasannya itu bertanya tentang pertemuan dia dengan Toneri. Bahkan saat ini Hinata tak tahu apa yang terjadi pada model tampan itu.
"Hahhh... Kami-sama kuharap semuanya akan baik-baik saja untuk ke depannya." Bisiknya merunduk sedih, ia keluar dari lift dan mendekat pada pintu kamar yang bersebelahan dengan kamar yang disewa Ino.
Saat ia akan menarik handle pintu terdengar suara pintu terbuka dari ruang sebelahnya, dan ternyata Ino baru saja keluar.
"Hinata? Kau baru pulang? aku khawatir dari tadi aku menelepon mu tapi tidak tersambung." Ucapan Ino reflek membuat ia meraba pada saku di gaunnya, benar ponselnya rusak dan tak bisa menyala.
"Maaf Ino, ponselku kehabisan daya." Ucap Hinata dengan mimik tak enak karena harus berbohong, masalah Toneri biarlah Sasuke yang menyelesaikannya.
"Oh begitu, syukurlah kau baik-baik saja. Jadi bagaimana pertemuan mu dengan Tuan Milkova? Kalian makan malam romantis atau hmmm?" Alis Ino naik turun sambil sikutnya menyenggol Hinata pelan, menggoda.
'Apanya yang romantis?! Pria itu justru ingin menyiksaku!' Batin Hinata berteriak, ia hanya bisa tersenyum getir memandang Ino.
"E-eh kami hanya makan siang biasa, lalu setelahnya aku putuskan untuk berjalan-jalan sendiri di sekitar Faubourg." Hinata harus menggigit bibirnya karena terus berbohong, tapi sungguh kebersamaannya dengan para pria itu bukan sesuatu yang ingin ia bagi.
"Ahaha tak usah malu, meskipun aku ini atasanmu umur kita hanya berbeda beberapa tahun, lagipula aku bukan orang yang terlalu serius. Oh ya tentang jalan-jalan, besok setelah selesai rapat dengan bagian produksi disini dan memeriksa tempat penyimpanan stock produk, kita memiliki waktu luang untuk berjalan-jalan di Paris kan?" Ino tersenyum dengan binar di matanya.
"Benar, besok setelah pukul 1 siang jadwal perjalanan dinas mu selesai, tapi sebaiknya jangan sampai larut malam jika ingin jalan-jalan karena besok paginya penerbangan kita kembali ke Tokyo." Jelas Hinata sebagai orang yang mengatur agenda kerja Ino.
"Oke, kalau begitu kau istirahatlah. Aku akan mengambil barang pesanan ku di loby."
"Mau aku ambilkan? Maaf seharian ini aku berpisah denganmu." Ucap Hinata merasa tak enak sebagai asistennya.
"Tak usah, tenanglah lagi pula kau kan ditugaskan Direktur Marketing menemani Tuan Malkova jadi itu juga bagian dari pekerjaan untuk menjaga hubungan baik dengan kolega. Dan setelah acara pembukaan tadi aku cukup senggang. Ayo beristirahatlah ke kamar." Ino memberi senyum menenangkan lalu mendorong pelan pundak Hinata untuk masuk ke kamarnya.
"Ba-baiklah. Selamat malam." Angguk Hinata sebagai salam perpisahan lalu masuk ke kamarnya.
"Hmm, jaa." Sahut Ino lalu berjalan ke arah lift.
Setelahnya gadis itu membersihkan diri dan berganti baju dengan gaun tidur. Lalu ia menatap ke luar jendela kamar hotelnya yang berada di lantai 15, kota yang begitu indah dengan gemerlap lampu dari gedung-gedung tinggi hampir sama seperti Tokyo hanya berbeda dari gaya bangunannya. Tapi ia tak tahu apakah kota ini akan tetap terlihat indah baginya mengingat kenangan buruk yang Toneri torehkan untuknya.
Setelah puas menatap langit malam ia naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya, karena gorden jendela yang tak tertutup mata amethystnya masih setia menatap pada Bulan yang malam ini bersinar terang.
"Kuharap Tou-san baik-baik saja." Pikirannya berkelana pada kondisi sang ayah, gadis itu ingin menghubungi Gaara untuk sekiranya tahu kabar tentang keduanya tapi niatnya pupus mengingat bagaimana kondisi ponselnya.
Gadis itu mengecek kembali ponsel rusaknya yang tadi ia simpan di meja dekat ranjang, tetap tak bisa menyala meskipun ia coba untuk mengisi dayanya.
"Gaara semoga kau dan Tou-san di sana baik-baik saja." Bisik Hinata memanjatkan doa.
Gadis itu mulai mencoba memejamkan mata tapi sedetik kemudian kelopaknya membuka kembali, karena sialnya tiba-tiba saja Pria Uchiha berambut raven yang muncul dalam pikirnya. Hinata menghela napas lelah. "Oh ayolah dia tidak perlu mengganggu tidur ku juga kan."
Hinata mencoba memiringkan tubuhnya dan memejamkan mata semakin erat, tapi justru setiap potongan kejadian tadi siang seolah bermunculan. Cara Sasuke melindunginya dari Toneri, cara pria itu bernyanyi, cara dia menggenggam tangannya penuh kehangatan, dan ciuman di pantai itu.
"Kau benar-benar ingin masuk ke dalam mimpi ku hm?" Bisik Hinata entah pada siapa, tapi terlihat senyum kecil terbit di sudut bibirnya.
"Oyasumi Sasuke." Lanjutnya, lalu mulai mencoba tidur dengan tenang.
.
.
.
Di sudut lain kota Paris terlihat seorang pemuda sedang merunduk dengan tumpuan sandaran pada sikutnya di besi pembatas balkon Hotel. Kepulan asap keluar dari mulutnya saat pria itu menghembuskan rokok yang dijepit diantara jemarinya.
Sasuke Uchiha yang merasa tak bisa tidur memutuskan menikmati segarnya angin malam, terlihat kemeja yang pria itu pakai sudah terbuka beberapa kancing membuat dada bidang dan perut berotot ramping yang ia miliki mengintip keluar.
Mata-matanya di Jepang baru saja memberi kabar bahwa Jaksa Sabaku itu melakukan pengejaran pada seseorang yang diduga sengaja masuk untuk membahayakan nyawa Hiashi, hal itu membuat ia termenung. Sebenarnya siapa dalang sebenarnya masalah ini? Kecurigaannya pada Hiashi memang tidak 100% mengingat bagaimana berjasa dan kerja keras pria itu pada perusahaan Uchiha, tapi ia sengaja untuk melanjutkan pemeriksaan kasus ini karena jika Hiashi bukanlah pelakunya maka ia ingin membuat penghianat yang selama ini bersembunyi di dekatnya keluar dengan sendirinya.
Pria itu terlihat memijat dahinya pelan, sehabis mengantar Hinata ia sengaja membuat dirinya sedikit mabuk agar menenangkan pikiran dari rasa amarah akibat tingkah Toneri dan kabar dari anak buahnya di Tokyo.
Sasuke berjalan ke dekat meja di balkon lalu menyimpan rokoknya pada asbak, ia kemudian mengambil gelas tinggi yang telah berisi Wiski lalu menenggaknya hingga tandas.
"Kau belum ingin tidur?" Suara seorang wanita terdengar dari arah dalam kamar hotel, berusaha mengajak pria itu masuk kembali.
"Hn." Hanya jawaban datar yang pria itu berikan, kini tubuhnya terduduk sambil menyesap kembali batangan nikotin itu. Tangannya mengusap rambutnya pelan berusaha merapihkan sejumput poni yang sudah cukup panjang.
Sasuke benar-benar menginginkan gadis Hyuga itu, tapi ia tak yakin apakah dirinya cukup baik untuk gadis manis dan polos itu? Rasanya ia bahkan tak berhak menyentuh seinci pun kulit porselen itu, tapi keinginannya tak bisa ia tahan. Seharian ini dia berusaha menjadi pria romantis dan baik untuk Hinata, tapi apakah itu cukup untuk membuat gadis itu memilihnya?
.
.
.
Cahaya matahari pagi menyingsing dari jendela kamar hotel yang di tempati Hinata, gadis itu mengejap pelan lalu terbangun dan segera bersiap ke kamar mandi.
Selama 45 menit akhirnya ia selesai mandi dan bersiap, setelahnya gadis itu keluar kamar dan mengetuk pintu Ino untuk mengajaknya sarapan di ruang makan hotel. Ino pun sudah siap dengan pakaian formalnya, dan mereka sarapan bersama di restauran hotel.
Setelah selesai mereka menuju gedung kantor Flashy untuk rapat mengenai jadwal eksporstok Flashy, di dalam rapat itu seseorang menjelaskan bahwa setiap produk yang dikenakan oleh Toneri dalam campaign mereka sold out dengan mudah sehingga Ino mengusulkan menambah kuota pengiriman. Tapi Hinata terdiam, ia bergetar ketakutan bahkan dengan hanya mendengar nama pria itu, ia sungguh takut jika tetap harus bekerja dengan model itu. Apakah Sasuke berhasil memberhentikan Toneri?
Tuk
Pulpen di tangannya terjatuh dan Ino meliriknya.
"Hinata, ada apa?"
"Ah, ti-tidak apa-apa." Balas Hinata cepat dan segera merunduk mengambil pulpen itu, tapi ia melihat kini tangannya benar-benar bergetar. Rasanya keringat dingin mulai mengalir di dahinya.
Ia bangkit duduk kembali dan merunduk dalam, sungguh semua ingatan pemaksaan itu kembali membuatnya ketakutan rasanya ia ingin menangis saat ini juga tapi ia coba menahannya.
"Mengingat kuotaeksporproduk yang meningkat haruskah kita mengganti metode pengiriman menjadi FCL (Full Container Loaded) sebelumnya kita masih menggunakan LCL (Less Container Loaded) kargo biasa yang menyatu dengan produk lain?" Tanya seseorang karyawan.
"Untuk itu aku akan memperhitungkan dulu jumlah kapasitas muatan kontainer FCL dengan kuota ekspor produk kita, karena biaya FCL biasanya lebih mahal." Jawab Ino.
"Hinata tolong kau cari informasi kapasitas pengiriman kargo FCL ya?" Sambung Ino melirik Hinata.
Tapi gadis itu masihlah terjebak dengan pikirannya, hingga akhirnya Ino menyenggol sedikit lengannya.
"Hinata?" Tanya Ino pelan.
"HAAAHH!" Hinata terkesiap begitu keras, napasnya terengah-engah membuat beberapa orang melirik ke arahnya bingung.
"Apa kau sakit?" Tanya Ino khawatir.
"Ti-tidak, jangan khawatir. Kau tadi ingin aku mencari informasi apa? Oh info FCL ya? Emm baiklah." Balas Hinata berusaha menetralkan suaranya. Ino terdiam sesaat memperhatikan raut wajah gadis itu merasa ada yang aneh, tapi ia hanya tersenyum singkat lalu kembali memusatkan perhatian ke depan.
Akhirnya rapat selesai dan mereka mengunjungi tempat penyimpan stok barang Flashy, meninjau beberapa hal untuk memastikan apakah prosedur lajur masuk keluarnya barang sudah sesuai dengan SOP dari kantor pusat. Sebelum pergi Ino mengatakan berencana untuk memindahkan gedung penyimpanan produk ke tempat yang lebih besar jika perkembangan Flashy semakin pesat di Perancis.
Mengetahui hal itu entah mengapa Hinata merasa bersalah, jika Toneri diganti apakah Flashy akan tetap sukses seperti saat ini? Apakah memang seharusnya ia mengorbankan dirinya untuk perusahaan ini? Setitik air mata tiba-tiba mengalir dari pipinya dan dengan cepat ia menghapusnya.
'Apa yang kupikirkan, ini semua bukan salahku kan? Atau memang--' Lamunannya terhenti saat suara Ino terdengar memanggilnya.
"Hinata ayo, taxi sudah datang. Kita akan ke coffee shop Honore, kudengar suasana jalanan di sekitar sana sangat indah. Kau setuju kan?" Tanya Ino sambil mengajak Hinata berjalan menuju Taxi.
"Mmm, aku setuju Ino." Balas Hinata cepat memaksakan senyumannya.
Sekitar 15 menit akhirnya Taxi yang mereka tumpangi berhenti di depan Coffee Shop Honore yang berlokasi tepat di sisi jalan. Mereka memilih duduk di area outdoor depan yang cukup luas, sehingga lalu lalang mobil bisa terlihat jelas. Area ini terlihat cukup padat oleh para pejalan kaki karena di sekitar sini banyak terdapat restauran dan fashion store.
Begitu mereka duduk seorang pelayan langsung menghampiri dan memberikan menu, Hinata hanya memesan latte serta beberapa macaroon, dan Ino memesan coffee machiato serta cream brulle.
"Psst, Hinata kau lihat? Astaga ternyata disini banyak sekali pria Paris yang begitu tampan, aku merasa sepertinya setengah dari penduduk negara ini memenuhi kriteria untuk menjadi model." Ucap Ino memandang kagum beberapa pria yang duduk di sekitar mereka.
Hinata terkekeh pelan. "Kurasa pria Jepang juga tak kalah tampan."
"Hah tapi pria Jepang itu kebanyakan terlalu kaku, mereka tidak romantis, dan hanya terus memikirkan pekerjaan mereka." Timpal Ino cemberut.
'Tidak berlaku pada orang itu.' batin Hinata dengan spontan menjawab. Tapi sedetik kemudian ia terkejut akan pikiran refleknya itu, cepat-cepat ia menggelengkan kepala.
"Oh ya aku lupa memesan kue Maunt Blanc, kudengar buatan toko ini yang paling enak." Lanjut Ino.
"Mau ku pesankan?" Tanya Hinata berinisiatif akan berdiri, karena tak melihat lagi pelayan di sekitar mereka.
"Ah tak usah, biar aku pesan sendiri saja ke dalam. Sekalian aku berkeliling menikmati wajah-wajah tampan pria Paris ini." Canda Ino mengedipkan mata lalu berjalan masuk ke toko.
Hinata hanya bisa tersenyum melihat sikap Ino yang ceria, rasanya ia butuh keceriaan itu menghujani dirinya yang sedang merasa resah ini. Oh ya, kini gadis itu teringat ternyata ia membawa buku di dalam tas kerjanya, ia rasa itu cocok untuk mengalihkan pikiran dari kejadian buruk. Hinata mulai membaca buku berjudul She: The History of Adventure, yang sengaja ia bawa untuk mengisi waktunya selama perjalanan di pesawat sebelumnya.
"Ternyata kau sangat feminis sampai membaca buku tentang wanita yang tak mau kalah dari otoritas?"
Pertanyaan dari suara bariton itu seketika membuat Hinata tercekat, ia sedikit melirik ke atas dan amethystnya jatuh pada bola mata obisidian yang menatapnya penuh minat, aroma citrus dan kayu manis yang begitu menggoda seketika menguar di sekitarnya. Untuk sesaat Hinata hanya bisa menatap wajah tegas Sasuke karena hari ini penampilan pria itu begitu segar dengan hanya memakai kaus putih dilengkapi jaket kulit hitam dan celana jeans.
"Ratu Ayesha menunggu sekitar 2000 tahun untuk bertemu reinkarnasi kekasihnya yang tak sengaja ia bunuh. Dan kau tahu? Di dalam kecantikan seorang wanita terkadang terpendam kekuatan yang lebih mematikan dari seorang pria." Balas Hinata mengangkat dagunya, berusaha terlihat tidak terus gugup di hadapan pria ini.
Sasuke terkekeh pelan. "Yeah wanita memang hal paling mematikan di dunia ini. Dan ada seorang wanita yang tak mau pergi dari mimpiku, apa aku berhasil mengusik mimpimu juga?"
Hinata segera menutup bukunya dengan panik. 'Apa dia bisa membaca ingatan ku?'
"Tidak, sama sekali tidak. Aku tak pernah mengingat-ingat dirimu sedetik pun." Jawab Hinata cepat berusaha mengalihkan perhatiannya dengan nada ketus.
"Hmm kurasa aku memang harus berusaha mempercayai itu." Sindir Sasuke dengan seringainya.
Hinata dengan cepat berbalik menatap pria itu lagi. "Apa kau pikir aku berbohong? Lagi pula untuk apa kau disini?" Desaknya tak suka.
"Hanya ingin menikmati kopi setelah makan siang di sini. Tidak masalah kan? Apa ini toko milikmu?"
"Masalahnya ini meja yang telah di pesan oleh ku dan Ino, kau bisa mencari meja lain yang kosong." Timpal Hinata cepat.
"Disini ada empat kursi, aku tak melihat itu sebagai sebuah masalah." Jawabnya enteng mengangkat bahu.
Hinata menarik napas perlahan, percuma berdebat dengan pria ini. "Kenapa kau masih di Paris? Bukankah kau seorang pimpinan yang sibuk?" Hinata mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sayangnya, aku bisa bekerja dimana pun yang aku mau." Jawab Sasuke berpura-pura menyesal.
"Hinata ini sekalian aku bawakan semua pesanan kit--... U-uchiha-sama." Bisik Ino di akhir kalimat yang tak menyangka Bos mereka ada di tempat ini juga.
"Duduklah, aku hanya ingin melihat sesuatu." Angguk Sasuke memberi perintah pada Ino untuk duduk pada kursi kosong di sebelah Hinata.
"A-ah, baik." Jawab Ino masih terbata dan mengikuti perintah Bosnya.
Setelahnya Sasuke meraih ponsel dari dalam saku jaketnya dan menelepon seseorang. "Ebisu kemarilah." Ucapnya singkat dan langsung mematikan sambungan.
"Kapan jadwal kepulangan kalian?" Tanya Sasuke tiba-tiba, kini dengan nada sebagai seorang atasan.
Ino dan Hinata saling melirik bingung.
"Besok pagi, Uchiha-sama." Jawab Ino pelan mewakili Hinata yang hanya bisa terdiam.
"Uchiha-sama, ada yang bisa saya bantu?" Suara seorang pria tiba-tiba menimpali dari arah belakang Sasuke, yang tak lain adalah Ebisu supir pribadi Sasuke.
"Yamanaka boleh aku meminjam Hinata? Supirku akan mengantarmu berbelanja sepuasnya disini, tak perlu menunggu Hinata untuk kepulangan mu. Jika mau kau bisa kembali malam ini juga, aku akan membelikan penerbangan first class ke Tokyo." Tawar Sasuke mengangkat satu alisnya.
Ino dan Hinata seketika menganga akan tawaran itu. "Apa maksudmu? Aku tak pernah menyetujui apapun untuk pergi denganmu hari ini." Tanya Hinata tak terima.
"Ebisu kau bawa Black Card ini, biarkan Nona Yamanaka memilih barang atau oleh-oleh yang dia mau." Lanjut Sasuke menyerahkan sebuah kartu credit dari lempengan aluminium yang terlihat sangat mewah.
"Baik Uchiha-sama." Angguk Ebisu patuh.
"Jadi bagaimana?" Tanya Sasuke sekali lagi pada Ino.
"Eh, emhh U-uchiha-sama ini terlalu mendadak. Em dan juga Hinata apa kau tidak apa-apa jika aku duluan?" Tanya Ino melirik khawatir meskipun sebenarnya ia sangat setuju dengan penawaran menggoda itu.
Hinata memejamkan matanya bingung, kedua orang ini adalah atasannya, dan ia pun tak punya hak melarang Ino jika wanita itu mau menerima tawaran Sasuke. "Aku akan menyetujui keputusan mu Ino." Balas Hinata dengan tatapan pasrah.
Ino sebenarnya menyadari keengganan gadis ini, tapi pekerjaannya juga dipertaruhkan jika ia tak menurut pada Sasuke. "Maaf Hinata, kurasa Uchiha-sama juga akan memastikan kepulangan mu dengan selamat. Jangan khawatir aku akan membelikan oleh-oleh untuk seluruh karyawan produksi di kantor ya." Ucap Ino memegang tangan gadis itu tak enak.
"Mmm, berhati-hatilah." Angguk Hinata tersenyum kecut, setelahnya terlihat raut wajah puas Sasuke mendengar persetujuan Hinata, dan memandang Ino memberi sinyal untuk segera berangkat.
Mendapat tatapan itu, Ino dengan panik segera membereskan barang-barangnya.
"Eh baiklah sebaiknya aku pergi sekarang saja jika Uchiha-sama ingin melanjutkan obrolan dengan Hinata. Kue dan kopi ini aku bawa saja untuk temanku di jalan. Kalau begitu aku permisi Uchiha-sama, Hinata Jaa." Ino terburu-buru berdiri dan melambaikan tangannya pada Hinata, lalu mengikuti Tuan Ebisu ke mobil lain Sasuke yang sedang diparkir di sisi jalan.
"Sekarang kau puas?" Tanya Hinata tersenyum sarkas.
Sasuke mencondongkan tubuhnya pada Hinata perlahan, lalu berbisik dengan sedikit memiringkan wajahnya begitu dekat dengan wajah Hinata.
"Belum, ada banyak hal lain yang ingin kulakukan denganmu." Tatapannya seolah menjelajahi setiap sudut wajah gadis Hyuga itu dengan intens.
Hinata balik memandang dengan berdebar pada paras tampan itu, padahal ini ditempat yang ramai tapi Sasuke selalu berhasil membuatnya begitu gugup.
"Se-setidaknya biarkan aku menikmati kopi ku dulu." Ucap Hinata akhirnya setelah terpesona akan tatapan obisidian indah itu.
"Hn, silahkan." Pria itu akhirnya menyandarkan punggungnya kembali pada sandaran kursi.
Hinata meraih cangkir kopinya dan mencoba menyeruput pelan yang untungnya tidak terlalu panas. Tapi tatapan Sasuke tak teralihkan sedikit pun darinya, dia merasa salah tingkah ditatap terus seperti itu.
"Tolong alihkan perhatianmu, itu menggangguku." Bisik Hinata memperingati.
"Aku hanya sedang menatap jalanan." Jawab Sasuke mengangkat bahu.
Hinata menghela napas lelah lalu segera menyimpan cangkirnya. "Baiklah, ayo kita pergi sekarang saja." Ucapnya kesal karena merasa suasana seperti ini sungguh canggung.
"Hn, ayo kita pergi." Balas Sasuke, tapi pria itu tidak berdiri justru mendekatkan lagi wajahnya membuat Hinata menatap was-was. Dan detik berikutnya yang gadis itu rasakan adalah sapuan lembut dari ibu jari Sasuke yang mengusap sudut bibirnya.
"Lain kali bukan jariku yang akan membersihkan jejak di sudut bibirmu." Bisik pria itu dalam membuat mereka saling memandang intens, Hinata menelan ludahnya saat pria itu menjilat ibu jari yang tadi digunakan membersihkan cipratan kopi Hinata.
"Kurasa rasa manis ini datang dari kulitmu." Goda Sasuke saat merasakan tetesan kopi itu.
'Kami-sama selamatkan aku.' batin Hinata memohon karena terus dibuat tak bisa berkata-kata oleh sikap Sasuke.
Gadis itu segera memundurkan wajahnya.
"Ayo cepat pergi, sebelum aku berubah pikiran." Hinata berusaha mengeluarkan nada juteknya dan lebih dulu berjalan menjauh untuk menghindari tatapan Sasuke, membuat pria itu terkekeh gemas melihat raut wajah Hinata.
Akhirnya Sasuke menyusul Hinata ke tepi jalan tempat mobilnya terparkir, pria itu membunyikan alarm mobilnya. Tapi itu membuat Hinata menatap kebingungan. "Dimana mobil Ferrari mu?"
"Hari ini aku sedang ingin memakai Porsche, masuklah." Ucap Sasuke yang sudah membukakan pintu penumpang mobil Porsche Cabriolet putih dengan atap terbuka.
Hinata mendengus geli lalu menggeleng pelan, ia tak akan pernah mengerti jalan pikiran Sasuke dan seberapa kaya pria itu sebenarnya. Ini di negara asing tapi pria itu bisa berganti mobil dengan begitu mudah? Tanpa banyak bicara ia segera duduk di dalam mobil kemudian diikuti Sasuke, dengan segera pria itu melajukan mobilnya entah kemana.
Tapi tak jauh dari Coffee Shop itu Sasuke segera memarkirkan kembali mobilnya. "Kenapa kita berhenti di sini?" Lirik Hinata bertanya.
"Ayo turun, nanti kau akan tahu." Ajak Sasuke tersenyum singkat, dengan tatapan bingung Hinata mengikuti keluar dan ternyata pria itu membawanya ke iBox Center.
"Pilihlah tipe ponsel yang kau suka." Ucap Sasuke setelah mereka masuk ke dalam toko.
Hinata tertegun sesaat, tak menyangka Sasuke akan memikirkan hal ini untuknya. Ia saja bahkan tak tahu kapan bisa mengganti ponselnya. Gadis itu akhirnya melihat-melihat pada beberapa meja yang memajang contoh produk, dan seorang sales man dengan senang hati menjelaskan dan memberi saran tipe ponsel yang terbaru serta memiliki banyak kelebihan yang cocok untuk para wanita. Tapi yang gadis itu perhatikan bukan spesifikasinya melainkan nominal harganya, karena tabungan yang ia miliki sepertinya tak mencukupi untuk membeli ponsel baru.
Hinata melirik dengan panik ke segala arah mencoba mencari ponsel dengan harga paling murah, hingga amethystnya bertemu dengan series ke 6 yang sudah cukup lama dan telah turun harga. 'Syukurlah, setidaknya tabunganku akan terisa sedikit jika membeli yang ini.' batinnya merasa lega.
"A-aku pilih yang ini saja." Ucap Hinata semangat menunjuk ponsel seri 6 itu. Membuat sang sales yang sedang menjelaskan segala hal tentang tipe terbaru seketika terdiam kebingungan, diikuti Sasuke yang mengangkat alis tak mengerti.
"Tidak dia akan memilih ponsel yang ini saja." Sasuke dengan cepat menunjuk keluaran terbaru.
"Ah, benar. Pilihan yang tepat, memori dan kualitas kamera ini jauh lebih bagus dari semua edisi sebelumnya." Ujar sang sales man setuju.
"Tidak, aku ingin membeli yang ini. Tolong bungkus sekarang juga aku akan bayar." Hinata dengan panik mengeluarkan dompetnya. Sasuke menghela napas pelan dan mendekati gadis itu.
"Jangan khawatir, aku akan membelikannya untukmu."
"Ini barang ku, dan aku tak mau berhutang padamu. Tolong jangan paksa aku, biarkan kali ini aku memutuskan apa yang aku inginkan." Pinta Hinata menunjukkan raut tak ingin dibantah.
Sasuke menghela napas pelan dan terpaksa mengangguk. "Kau bawa ponselmu yang rusak?" Tanya Sasuke.
"Ya, ini aku membawanya." Tunjuk Hinata sambil mengeluarkan dari tas selempangnya.
"Kemarikan." Sasuke meraih ponsel itu dan segera menyerahkannya pada petugas sales.
"Kita beli tipe yang ini dan pindahkan data dari ponsel rusak ini." Ucap Sasuke.
"Baik Tuan, tunggu sebentar." Sang sales berjalan ke meja konter lalu mengambil stok seri 6 dan memindahkan kartu memori serta kartu seluler. Begitu ponsel baru itu menyala bunyi dari notifikasi bermunculan terus menerus, Hinata segera meraih ponsel baru itu dan segera mengecek semua panggilan dan pesan yang masuk. Beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Ino, beberapa pesan dari rekan kerjanya yang menanyakan pekerjaan, dan ada sebuah pesan dari Gaara. Pesan dari pria merah itu yang membuat dia langsung tertarik, ia segera membukanya.
Hinata, bagaimana perjalanan mu? Kuharap itu berjalan menyenangkan. Oh ya kapan kau kembali? Jika waktumu sudah luang aku ingin kita bertemu, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan. - Gaara.
Gadis itu memegang ponselnya dengan sedikit berdebar, 'Apa yang ingin Gaara bicarakan? Kenapa ini membuatku gundah.' Batinnya merasa resah.
Sasuke yang melihat gadis di sampingnya terdiam kaku melirik curiga. "Kau membaca pesan dari siapa?" Tanya Sasuke.
"Bukan urusan mu." Jawab cepat Hinata dan segera beralih menatap sang petugas sales.
"Tolong segera bungkus ini, aku akan membayarnya." Pinta Hinata memberikan senyum formalnya.
"Baik Nona." Jawab sang sales yang sedikit bingung dengan interaksi dua orang di hadapannya ini.
"Tunggu bungkuskan juga aku seri terbaru ini." Ujar Sasuke tiba-tiba, membuat Hinata segera melirik tak mengerti.
"Untuk apa kau membeli handphone baru?"
"Hanya ingin." Jawab pria itu mengangkat bahu.
Hinata memutar mata mengabaikan keanehan pria itu lalu segera menyerahkan kartu debit yang sudah dibuatkan dari tempat kerjanya pada petugas sales. Saat pegawai itu akan mencobanya pada mesin EDC, Sasuke sengaja mundur sedikit ke belakang Hinata dan berbicara tanpa bersuara sambil menyilangkan tangannya seolah memerintah untuk menolak pembayaran.
"Ne soyez pas accepté! Imaginez que vous n'avez pas reçu la carte. (Jangan diterima! Berpura-puralah tidak menerima kartu itu!") Perintah Sasuke tanpa suara sambil menyilangkan tangan dengan tatapan memerintah. Sang petugas mengerutkan dahi kebingungan tapi untunglah dia mengerti dan mengangguk pelan.
"Ah maaf Nona mesin EDC kami hanya menerima kartu berlogo Visa, Mastercard, dan Maestro. Untuk jenis Cirrus kami belum menerimanya." Jawab petugas itu terlihat sedih.
"Tidak menerimanya?" Tanya Hinata terkejut, gadis itu mulai panik. Pasalnya ia tak membawa uang cash sebanyak itu dan segel kotak ponsel sudah dibuka karena permintaan Sasuke.
"Jadi apa rencana mu untuk membayarnya?" Sindir Sasuke dengan nada kemenangan.
"Kenapa kau tadi langsung meminta dia membukanya?" Bisik Hinata beralih menatap tajam Sasuke, berusaha menahan kekesalannya. Pria itu menjaga raut wajahnya agar tetap tenang meskipun ia ingin tertawa melihat kepanikan Hinata.
"Butuh bantuan ku Miss?" Tanya Sasuke memiringkan kepalanya dengan senyum menebar pesona.
Gadis itu menghela napas pasrah. "Haaah... baiklah kali ini aku membutuhkannya, tapi jangan senang dulu aku hanya meminjam uangmu. Nanti aku kembalikan." Tatap Hinata memicingkan matanya.
"My pleasure angel."
"Bayar untuk keduanya." Jawab Sasuke sambil tetap menatap Hinata dan menyerahkan Black Cardnya pada petugas sales tersebut. Akhirnya petugas itu melakukan pembayaran dan menyerahkan kedua bungkusan ponsel itu pada Hinata, setelah selesai mereka pun berjalan keluar toko.
"Ini ponsel barumu." Hinata menyerahkan ponsel itu pada Sasuke saat akan menuju mobil yang terparkir di sisi trotoar.
"Tolong kau pegang dulu untukku." Jawab Sasuke singkat seolah tak tertarik dengan benda itu.
"Hemm baiklah." Pasrah Hinata. "Oh ya, kau duluan saja masuk ke mobil aku ingin menghubungi seseorang." Lanjut Hinata.
"Menghubungi siapa?" Sergah Sasuke seketika berhenti melangkah.
"Rahasia, aku tak perlu memberitahu seluruh hal dalam hidupku padamu kan?" Jawab gadis itu masam.
"Secara teknis ponsel itu masih milikku, jadi akan kuputuskan kau boleh menelepon seseorang atau tidak." Bantahnya.
Hinata menyipitkan matanya kesal. "Kau begitu arogan, aku ingin menelepon Gaara. Kau puas? Sekarang biarkan aku menghubunginya." Pinta Hinata dengan senyum terpaksa.
Mendengar nama orang yang ingin gadis itu hubungi Sasuke langsung merasa tak terima, tapi ia memiliki cara lain menanggapinya. Dengan cepat pria itu meraih ponsel dari dalam saku jaket kulitnya dan mendial nomor seseorang, terdengar deringan beberapa detik sebelum akhirnya terhubung.
"Ada ap--"
"Hinata ingin berbicara denganmu!" Ujar Sasuke cepat, tak menunggu pria di sebrang sana menyelesaikan ucapannya.
"Bicaralah dengan Jaksa merah itu." Perintah Sasuke segera menyerahkan ponselnya pada Hinata, membuat gadis itu seketika ternganga tak mengerti jalan pikiran pria di hadapannya. Padahal dia tak ingin Sasuke mendengar pembicaraan mereka, dengan ragu gadis itu menempelkan ponsel Sasuke di telinganya.
Untuk beberapa saat hanya kekosongan diantara sambungan itu, Hinata bisa merasakan kediaman Gaara seolah terkejut mengetahui fakta dirinya justru bersama Sasuke di Paris.
"Ga-gaara, halo?" Ucap Hinata serak seolah susah mengeluarkan suaranya.
"Ya, Hinata ada apa?" Jawab Gaara pelan. Gadis itu melirik ke atas pada wajah Sasuke yang memperhatikannya tajam.
"E-em bagaimana kabarmu?" Sungguh pikirannya jadi kosong tak tahu harus berbicara apa jika Sasuke terus menatapnya.
Terdengar kekehan pelan Gaara di sebrang sana seolah mencoba memaklumi suasana ini. "Aku baik Hinata, bagaimana keadaanmu? Apa Paris benar-benar indah?"
Sasuke dengan cepat meraih ponsel itu lagi dan mengklik loud speaker. "Langsung bicarakan intinya saja." Ucap pria itu datar dan mengembalikan ponsel pada Hinata.
Hinata kembali memutar mata kesal, tapi berusaha melanjutkan. "Ya disini benar-benar indah. Oh ya, maaf tadi aku baru membaca pesan mu karena kemarin ada masalah pada ponselku. Jadwal kepulangan ku besok pagi jadi akan sampai cukup malam di Tokyo, kurasa kita bisa bertemu lusa. Apa di sana baik-baik saja? Apa Tou-sanku sehat?"
"Ya ayahmu baik-baik saja meskipun belum sadar dari masa kritisnya. Hanya aku menemukan sedikit masalah, tapi kurasa sebaiknya aku ceritakan secara langsung nanti."
Mendengar jawaban Gaara, amethystnya seketika melebar penuh kekhawatiran. "Masalah? Masalah apa maksudmu? Apa Tou-sanku tiba-tiba tak sadarkan diri lagi?" Ucapnya bertanya panik, tapi Sasuke segera meraih ponsel itu kembali dan berbicara di telepon.
"Waktu bicara habis. Terima kasih telah menggunakan jasa panggilan Uchiha Sasuke." Tut, pria itu segera mematikan sambungan.
"Hei tu-tunggu!" Hinata mencoba meraih ponsel itu tak rela tapi sambungan telah berakhir, kini raut wajah gadis itu merajuk. "Itu tidak sopan Uchiha Sasuke!"
"Kau dengar ucapannya tadi? Dia ingin menjelaskannya secara langsung jadi tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Ayo sekarang kita masuk ke mobil." Sasuke segera meraih tangan Hinata dan membawanya ke dekat mobil.
Gadis itu dengan cepat mencoba melepaskan genggaman tangan Sasuke. "Tunggu, sebenarnya kau ingin membawaku kemana? Jangan terus memaksaku!"
"Kita harus ke salon dan membelikan mu gaun, aku ingin membawamu ke sebuah pesta." Ungkap Sasuke akhirnya, membuat Hinata terdiam sesaat.
"Pesta siapa?"
"Salah satu temanku di Paris berulang tahun, dia mengetahui aku sedang disini dan mengundang ku. Jadi aku ingin memperkenalkan mu pada teman-temanku kau mau?" Tawar Sasuke mencoba terlihat lebih lembut.
Permintaan Sasuke sebenarnya tak aneh jadi gadis berpikir itu tidak masalah tapi satu hal yang tidak ia setujui.
"Untuk apa membelikan ku gaun? Apakah pakaian ku ini kurang pantas?" Lirik Hinata ke bawah pada penampilannya yang memakai sepatu boots setinggi lutut, disertai jeans biru langit yang sayangnya terlihat begitu ketat karena bentuk panggul dan pahanya yang semok, dipadukan kaos polos putih dan sweater semi formal berwarna pink dengan kancing terbuka.
"Sudah kukatakan kau akan terlihat cantik dengan pakaian apapun, tapi kita tetap harus menyesuaikan dengan acaranya." Yang lebih utamanya adalah Sasuke ingin menyembunyikan lekukan menggoda dari paha jenjang dan bokong gadis itu yang luar biasa sexy ketika memakai celana ketat.
Mendapat jawaban itu Hinata mengangkat alis mencoba mempertimbangkan, tapi baiklah perkataan pria itu ada benarnya juga dia harus menghormati pihak yang memiliki acara. Lagi pula, Hinata berpikir sepertinya Sasuke sudah mulai sedikit terbuka padanya dengan mau memperkenalkan dia pada teman-temannya karena sampai saat ini ia tak tahu apapun tentang pria itu. Keadaan keluarganya pun tak ia mengerti, hanya mendapat sedikit kabar berseliweran bahwa keluarga Sasuke tinggal mengurusi cabang perusahaan Uchiha di berbagai negara.
Setelahnya mereka memasuki mobil dan Sasuke membawa mereka ke berbagai macam toko pakaian, tapi yang tak ia sangka adalah Sasuke terus membawanya keluar masuk butik merk terkenal dan pasti keluar membawa beberapa tas belanja. Dari mulai tas, gaun pesta, gaun malam, pakaian kasual, sepatu, sandal, bahkan parfume dan kacamata yang tidak penting saja pria itu belikan untuk Hinata.
Hinata terus menolak tapi pria itu bilang hanya ingin meminjamkannya dan berpikir membeli semua barang itu untuk menilai mana yang paling cocok Hinata kenakan dengan make upnya. Gadis yang selalu belajar hidup sederhana meskipun dulu ayahnya orang yang mampu itu merasa sesak napas, saat harus membeli barang-barang yang senilai dengan ratusan ribu Yen.
Seperti saat ini, Sasuke menyuruhnya mencoba sepatu keluaran Versace dan Hinata melihat label harga di belakang alasnya dengan terbelalak. Sepatu sederhana seperti itu saja senilai 4,425 euro itu bisa melebihi gajinya selama lima bulan.
"Sasuke, kau dalam keadaan sehat? Kita sudah membeli lima pasang sepatu tadi, dan bagasi mobilmu sudah penuh. Kumohon hentikan kegiatan menghamburkan uang mu ini." Tatap Hinata lelah.
Sasuke justru melirik pada jam tangannya. "Kau benar, 2 jam lagi acaranya dimulai. Kita harus segera ke salon mendandani mu."
Hinata sedikit tersenyum lega Sasuke tak akan jadi membeli ini.
"Aku ambil semua yang sudah ia coba." Ucap Sasuke cepat pada para pelayan di sekeliling Hinata yang sedang duduk di sofa. Lalu pria itu pergi menjauh sebentar karena menerima telepon, namun sayang ucapan Sasuke justru membuat Hinata harus memutar mata pasrah.
"Terserahlah, aku tak ingin pusing memikirkan tingkahnya." Rutuk Hinata memijit pangkal dahinya.
Selanjutnya Sasuke membawa Hinata menuju salon dan meminta pegawai di sana mendandani gadis itu sementara dirinya juga berganti baju dengan pakaian yang sebelumnya ia beli untuk dirinya sendiri. Sekitar 40 menit Sasuke duduk di ruang tunggu menunggu Hinata hingga akhirnya seorang karyawan keluar dan membawa gadis itu.
Hinata terlihat sangat manis dan anggun dengan sanggul rendah yang diikat oleh tiara lalu beberapa anak rambut yang sengaja dibuat berjatuhan di kedua sisi wajahnya. Lengan gaunnya sepanjang sikut dan panjang gaun mencapai bawah lutut, gaun yang tidak terlalu sexy tapi akan tetap terasa berbeda jika yang memakai Hinata karena tubuh proporsional gadis itu sulit untuk di sembunyikan. Gaun yang ia kenakan melekat sempurna di tubuhnya, meskipun Sasuke sudah mencoba mencari baju yang tidak terlalu ketat tapi sepertinya itu tak berhasil untuk menyembunyikan aset Hinata.
"Sasuke? Sa-sasuke? Apa aku terlihat aneh?" Tanya Hinata ragu melihat Sasuke yang hanya menatapnya terkejut dan tidak berbicara apa-apa. Ia memegang sedikit erat clutch yang senada dengan warna gaun kremnya disertai high hills warna hitam setinggi 7 cm.
Mendengar pertanyaan Hinata Sasuke segera berdiri dan mendekat pada gadis itu. Pria itu merunduk dan mengamati wajah cantik itu dalam. "Kalau kau berpenampilan seperti ini, sepertinya aku harus menculik mu dan mengikatmu untuk diriku sendiri di sebuah kamar."
Nada rendah yang pria itu keluarkan semakin membuat Hinata tak percaya diri. "Apa aku harus mengganti gaunnya? Ini pilihan pertamamu tadi." Tatap Hinata ragu.
Sasuke menyeringai kecil, lalu menyampirkan anak rambut Hinata ke belakang telinga. "Kau benar aku ingin kau mengganti gaun ini dengan pakaian oversize tapi sayangnya tadi aku tak membeli yang seperti itu dan waktu kita sudah hampir habis."
"Oversize? Memang pestanya seperti apa?" Tanya Hinata tak mengerti.
"Nanti kau tahu, ayo kita pergi." Sasuke meraih tangan Hinata ke dalam genggamannya dan Hinata berterima kasih pada petugas salon di sana. Lalu mereka masuk ke dalam mobil dan mulai menuju tempat pesta ulang tahun teman Sasuke.
Saat sampai hari sudah mulai gelap, Hinata menatap cukup tercengang pada area parkirnya yang begitu luas dan sudah banyak mobil-mobil mewah terparkir di sana. Ulang tahun siapa sebenarnya ini?
Sasuke memarkirkan mobil Porschenya lalu membantu Hinata turun dari mobil, ketika gadis itu menginjakan kakinya di atas aspal ia semakin terkejut pasalnya pesta yang ia kira jauh dari dugaannya. Hampir semua orang di sana memakai pakaian seadanya dan bukan pakaian formal sesuai yang ia duga, ini lebih seperti club malam. Pantas Sasuke tak memintanya memakai gaun panjang.
"Sasuke, kau yakin ini sebuah pesta bukan sebuah diskotik?" Tanya Hinata memegang lengan pria itu agar berhenti sesaat sebelum mereka masuk, tatapannya sedikit gugup.
"Tentu saja, oh mungkin aku lupa bilang jika tema pestanya adalah Summer Pool Party. Ayo." Sasuke kembali menuntun lengannya masuk, tapi Hinata masih mencerna perkataan pria itu. Summer pool party? Berarti di sana banyak orang yang tak memakai pakaian dengan benar, lalu kenapa dia harus sibuk memilih gaun ini? Ia semakin bingung atas tindakan Sasuke.
Begitu mereka masuk semakin terdengarlah hingar bingar dari musik dan padatnya lalu lalang orang, untuk lantai satu hanya terdapat orang-orang yang berdansa dan minum, dan untuk lantai kedua barulah kita bisa melihat pria-pria bertelanjang dada serta wanita berbikini, di sana juga terdapat DJ yang sedang asik memainkan turntablenya. Hinata tak pernah sekali pun mendatangi pesta seperti ini dalam hidupnya, Tou-sannya benar-benar mendidik dia untuk tidak mendekati kehidupan liar seperti ini. Jadi ia eratkan rangkulan pada tangan Sasuke, merasa gugup berada di antara orang yang terlalu banyak seperti ini.
"Di-dimana temanmu yang berulang tahun?" Tanya Hinata gugup, menatap pada sekitar kolam renang yang penuh sesak di lantai dua.
"Kurasa dia sedang berkeliling, kita duduk saja dulu." Sasuke meraih tangannya dan berjalan ke kursi bar yang tersedia dan ada beberapa bartender yang melayani.
"Kau ingin minum wine? Vodka? Wiski? atau Tequila?" Tanya Sasuke sambil duduk di samping Hinata menghadap pada meja bar.
"E-em tidak, aku air putih saja kalau ada." Balas Hinata segera menolak.
"Maaf, aku memang tak minum hal seperti itu." Lanjutnya.
"Oke." Lalu pria itu memesan minuman mereka dan memilih jus lemon untuk Hinata.
"Sasuke, apa kau tak merasa aku salah dresscode? Lihatlah semua orang disini hampir tak mengenakan pakaian mereka, dan kurasa gaunku terlalu formal." Cicit Hinata sambil mengamati keadaan pesta dengan meringis tak nyaman.
"Itulah tujuanku, hanya aku yang boleh tahu apa yang tersembunyi dibalik gaun ini." Ucap Sasuke mengedipkan sebelah matanya pada Hinata, kemudian pria itu merogoh ponsel dari saku celana jeansnya karena terdengar dering panggilan.
Dia mengangkat jarinya pada Hinata meminta izin untuk mengangkat panggilan itu. "Halo,... ya aku sudah sampai. Man kau dimana?... oke, tunggu."
Setelah sambungan terputus, Sasuke bangkit dari kursinya. "Tunggu sebentar aku akan menemui temanku dulu."
Saat pria itu akan beranjak tangannya tertahan Hinata. "Kau tak ingin mengenalkan ku pada temanmu?" Tanya gadis itu ragu.
"Aku akan membawakannya padamu, tunggu disini itu lebih baik." Sasuke memberikan seulas senyum menenangkannya.
"Emmh, baiklah." Akhirnya Hinata melepaskan genggamannya meskipun sedikit tak rela, karena ia cukup takut ditinggal sendiri diantara kerumunan orang asing yang berpesta dengan cukup liar ini.
"Aku segera kembali." Lanjut pria itu kemudian segera melangkah pergi.
Hinata memperhatikan punggung tegap pria itu dengan seksama hingga akhirnya sosoknya tak dapat dijangkau lagi karena terhalang lalu lalang orang.
Untuk beberapa menit Hinata mencoba menikmati minumannya tapi ia duduk dengan resah karena Sasuke tak kunjung kembali, jadi ia putuskan berdiri dari kursi dan mulai mencari keberadaan Sasuke. Gadis itu dengan susah payah melangkah melewati beberapa orang yang sedang berdansa di tepi kolam agar bisa mendapat arah pandangan yang lebih luas, matanya untuk sesaat menjelajah ke setiap tempat hingga pandangannya tertuju pada beberapa orang yang berkumpul di seberang kolam renang yang cukup luas ini.
Terlihat Sasuke sedang berdiri sambil berbincang dengan kedua orang pria, Hinata tersenyum melihatnya dan akan bergerak untuk menghampiri pria itu, namun langkahnya seketika terhenti saat melihat ada seorang wanita berbikini yang berlari pelan kearah Sasuke dan segera memeluknya erat.
DEG
Senyuman dari wajahnya mulai menghilang menatap adegan itu, tapi ia berusaha berpikir positif dan mengira mungkin itu adalah teman Sasuke yang lain. Namun semakin ia perhatikan kini ia menyadari itu bukan hanya pelukan sapaan melainkan sebuah pelukan antara dua orang yang terasa begitu intim karena Sasuke balas merangkul sama eratnya lalu mencium rambut wanita itu lembut. Kaki Hinata terasa sedikit bergetar menyaksikan itu, ia tak mau langsung mengambil sebuah dugaan, karenanya ia mencoba mengirim pesan pada Sasuke dengan cepat.
Dimana? Apa kau ingin menelantarkan aku?
Terlihat Sasuke yang melerai pelukan itu karena merasakan getaran dari ponselnya, pria itu merogoh saku celana dan membaca pesan itu namun masih belum menyadari jika Hinata menatap kearahnya. Hinata kira pria itu akan pergi untuk menghampirinya tapi justru mengikuti tarikan tangan wanita dalam pelukannya tadi dan kini duduk di sofa bersama teman-temannya yang lain, dan wanita itu seolah begitu leluasa duduk di atas pangkuan paha Sasuke dan merangkul bahu pria itu.
Sasuke kembali membaca pesan itu seolah berusaha membalasnya, tapi ucapan wanita yang duduk di pangkuannya seakan lebih menarik dan ia kembali berbincang dengan wanita itu.
Kini kesadaran seakan menghantam penuh Hinata, benar. Ia tak tahu apapun tentang pria itu, pesta ini bukanlah untuk orang sepertinya, gaya kehidupannya tidak cocok dengan pria itu, bahkan mungkin Sasuke tadi ingin menertawakannya karena ia tak ingin meminum jenis-jenis minuman yang pria itu tawarkan pikirnya.
Dengan perlahan kakinya melangkah mundur, dengan mata berkaca-kaca sambil terus menatap pada pria itu yang sedang tertawa bersama teman-temannya.
"Hinata kau berhasil dibodohi." Batinnya menjerit ngilu, ia dengan bodohnya percaya semua perkataan pria itu. Disaat seharusnya ia sadar siapa dia sebenarnya, pria itu adalah musuhnya, orang yang membenci ayahnya dan mungkin dirinya. Mungkinkah wanita itu salah satu gadis yang Sasuke kencani?
Hatinya semakin sesak memikirkan hal itu, sehingga dengan cepat ia langsung berbalik dan berjalan tergesa keluar dari bangunan itu. Kini pikirannya hanya ingin segera keluar dari bangunan ini, terdengar dentingan pesan masuk yang ternyata dari Sasuke.
Oke, aku membawa temanku padamu sekarang.
Tapi itu hanya Hinata abaikan dan ia segera mematikan ponselnya, tak ingin tahu apapun lagi tentang pria itu.
Pantas saja sasuke tak mau mengajak Hinata mencari temannya, mungkin hanya teman tertentu yang boleh Hinata ketahui. Bibirnya bergetar mencoba menahan tangis sekuat tenaga, ia kini sungguh merasa benar-benar bodoh.
Setelah keluar dari bangunan itu, Hinata mencoba menarik napas dalam meskipun itu terasa begitu sesak. Pundaknya naik turun menolak keinginan untuk terisak.
Ia dengan cepat menggelengkan kepala dan dengan panik mencari taksi yang melewati jalan di dekat bangunan pesta itu, sekarang yang terpenting dirinya menjauh dari sini.
Ia akan segera kembali ke hotel dan mengepak barangnya lalu pergi ke bandara, ia tak mau Sasuke menyusul ke hotelnya itupun jika pria itu masih peduli padanya. Akan lebih baik jika ia tidur saja di Bandara, karena penerbangannya pun lumayan pagi.
.
.
.
Hinata hanya memandang begitu sedih pada kaca jendela pesawat di samping kirinya, ia mengeratkan selimut tipis yang ia gunakan menutupi tubuhnya.
Sekarang para pramugari sedang membantu para penumpang memasuki pesawat agar segera menduduki kursinya untuk bersiap sebelum lepas landas, seharusnya ia gunakan waktunya untuk tertidur karena semalam ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya.
"Kurasa kakiku akan sakit jika ditekuk dalam waktu lama di pesawat ini."
Sebuah suara maskulin terdengar dari kursi disampingnya, ia mengabaikan itu berpikir itu penumpang lain yang baru memasuki pesawat.
"Tidak bisakah kita setidaknya pindah ke business class di depan sana?" Ajak orang itu.
Pertanyaan itu mulai membuat Hinata mengerutkan keningnya, kenapa orang itu seakan berbicara padanya, dengan perlahan gadis itu alihkan pandangannya dan kini ia melihat siapa orang yang duduk di sampingnya itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continue
I know, I know, I come back from a really long time Hiatus. But, you know? sometimes people just have something that they can't tell. So yeah i don't wanna say a paragraph saying what is my reason, but i just wanna say Sorry. Again I'm feel so sorry for not uploading this story so long.
My job now is step up to another level which is very bussy, so yeah i hope you guys understand that. So this story will be a slow update.
I hope this chapter satisfied you, and don't forget to review and vote my story so I can know if my story still make people interested.
Thanks for reading. Jaa nee :)
By Chichiyulalice
