Wah... Reader-san terima kasih atas dukungan dan kritik yang Reader-san sampaikan untuk Karias. Karias akan berusaha sekuat mungkin untuk mewujudkan permintaan Reader-san. Karias membawakan chapter baru semoga Reader-san menyukainya. Warning! Naruto punya Masashi Kishimoto-sama

Karias : Naruto-san

Naruto : Hm?

Karias : Tadi Sasuke-san baru saja lewat

Naruto : (!) kearah mana?

Karias : Kesana (menunjuk arah)

Naruto : (menghilang)

Karias : Naruto-san! Ceritanya belum selesai jangan main tinggal aja

# # # # # # # # # # # # #

Dalam perjalanan pulang mereka, Naruto memikirkan tentang pembicaraan yang baru saja Kurama katakan pada saat di kelas Minato.

Flasback

Naruto berada di belakang deretan meja bersama beberapa wali melihat seberapa kemampuan yang anak mereka miliki. Yang tak pernah disangka Naruto bahwa ia akan bertemu dengan para ketua Klan dari masing – masing Klan yang ada di Konoha.

'Uchiha...'

Pikir Naruto saat pandangan matanya jatuh pada pria yang mengenakan baju berlambang kipas yang menoleh ke arahnya dengan tatapan dingin.

"Kemungkinan orang itu adalah kakek si mata merah itu"

Sambung Kurama saat melihat jenis orang yang sangat ia tidak sukai.

"Ne... Kurama kau tahukan di sini banyak sekali orang bermata merah, meskipun mereka belum menguasainya"

"Bodoh maksudku itu kakeknya si pantat ayam"

Kurama ingin sekali memukul kepala Naruto dengan pernyataan kalemnya. Sedetik dua detik tiga detik dan sampai semenit baru Naruto memberikan responnya.

"Pantat ayam?...Sasuke?...oh... kakeknya Sasuke? Ngomong dong, aku tak pernah bertemu dengannya walaupun pada saat kecil kita sering berpas – pasan. Kurama apa Kakeknya Sasuke ini meninggal sebelum bertemu dengan Sasuke?"

Ungkap Naruto seraya mengalihkan perhatiannya ke depan ruangan. Kurama benar – benar akan menjitak Naruto sehabis acara ini. Pria yang ditatap berlambang kipas tadi merasa curiga dengan gerak – gerik Naruto.

" Ingat Naruto jaman yang kau pijaki sekarang adalah era peperangan. Pastinya kakeknya si pantat ayam itu tahu betul apa yang akan terjadi pada zaman seperti ini"

Naruto mengerutkan dahinya, Naruto tidak suka dengan perang apalagi ia sudah merasakannya di perang dunia Shinnobi ke empat. Naruto tahu jelas bagaimana rasanya kehilangan saat temannya sendiri melindunginya berharap perang ini akan usai jika dirinya tetap hidup, itu membuat hatinya terenyuh. Menelusuri deretan meja di depannya mata Naruto tertuju pada bocah yang sering mangambil perhatian banyak orang disekitarnya.

"Ini hanya perasaanku saja atau apa, Minato itu emang beneran jenius?"

Mengalihkan pembicaraannya dari hal – hal yang berbau sedih Naruto menilai kemampuan 'anaknya'.

"Duh. Aku tidak mau mengatakan ini tapi aku mau mengakui kalau Minato itu memang jenius hingga ia bisa menyegelku ke dalam dirimu walaupun menggunakan bantuan dewa kematian. Tidak seperti kau yang otaknya hanya memikirkan Ramen si Pak Tua itu lalu berbuat ulah yang aneh. Kau hanya mendapatkan tampilan yang menyerupai Minato tapi pemikiran dan tingkah laku seperti Kushina. Anehnya sampai sekarang aku masih memikirkan kenapa aku bisa tetap waras bersamamu, jika tidak aku sudah membom Konoha dari dulu"

Tak memperdulikan sautan Naruto yang merasa di lecehkan, Kurama terus mengenang bagaimana ia setiap kali harus menyelamatkan si jinchurikinya ini dari nasib sialnya ini. Namun apa daya Kurama tidak bisa selalu menyelamatkan Naruto bahkan dirinya juga ikut merasakan nasib sialnya Naruto seperti saat ini.

"Woi! Ini udah dari gen jadi ya terima apa adanya. Itu aku yang dulu aku yang sekarang tidak terlalu lugukan? Lagi pula kau akan hidup bersamaku sampai ajal menjemputku"

Jawab Naruto sewot mendengar rutukan Kurama. Tiba – tiba petir menyambar di mindscape Naruto atau lebih tepatnya di kurungan Kurama.

"Sialan..! aku baru mengingatnya. Aku bersama Naruto. Sudah cukup aku bersama Kushina dan sekarang bersama Naruto sampai ajal menjemput. TIDAK!"

Kurama meratapi nasibnya yang kesialannya merivali Naruto. Naruto tak memperdulikan ratapan Kurama, Naruto memilih untuk menanyakan hal yang lebih penting lagi.

"Kurama! Berhenti meratapi seperti itu, kau itu bijuu terkuat jika yang lainnya melihat kau seperti ini pasti mereka tertawa apalagi si Shukaku"

Seperti sihir Kurama berhenti melakukan kegiatan yang semula ia lakukan dan memikirkan latihan apa yang harus ia lakukan kepada Naruto supaya Naruto merasakan bagaimana rasanya berada di tempat Kurama. Naruto bergidik ngeri melihat tatapan Kurama yang seperti ingin menghajarnya sampai babak belur.

"Aku ingin menanyakan ini sejak kita sampai di kantor Hokage. Jika kau disini Kurama lalu dirimu yang ada di Ibu bagaimana?"

Sentak pertanyaan Naruto membuat Kurama terdiam. Selama lebih 30 menit Naruto menunggu dan Kurama masih belum memberikan jawabannya membuat Naruto bosan. Beberapa wali yang ada di sampingnya melirik Naruto terus yang dibalas dengan senyuman oleh Naruto membuat beberapa dari mereka berteriak tidak jelas, tapi tenang saja tingkah mereka tidak membuat keramaian, walaupun yang berada di luar kelas telah bernasib sama dengan staff yang Naruto temui di koridor beberapa jam yang lalu. Naruto bersama ketua klan bertepuk tangan saat ada beberapa murid yang dapat menjawab dengan benar termasuk Minato. Minato hanya tersipu malu melihat Ayahnya bertepuk tangan paling keras.

"Naruto, Naruto!, NARUTO!"

Karena terlalu bersemangat bertepuk tangan, Naruto sampai melupakan keberadaan Kurama yang memanggilnya.

"Wops... ya Kurama?"

"Kau mau tahu jawabannya tidak!, kalau tidak aku mau tidur saja. Berbicara denganmu selalu menghabiskan tenagaku"

"Kurama kerjaanmu kan cuman bangun, tidur, mencari – cari emosi, terus.."

"Lupakan saja aku mau tidur"

Merasa sebal Kurama menyiapkan dirinya untuk tidur.

"T-tunggu Kurama iya deh aku salah"

"Nah begitu. Ini hanya perkiraanku saja Naruto, ada tiga kemungkinan yang kupikirkan. Pertama diriku yang ada di Kushina mungkin telah menghilang dan bergabung menjadi satu denganku. Yang kedua adalah aku dimasa ini telah terhapus oleh waktu itu sendiri. Yang ketiga Ibumu menjadi Jinchuriki lain"

Kurama menjelaskan dengan perlahan agar Naruto paham dengan apa yang di maksudnya. "Kalau begitu, apa kita bisa menghubungi saudaramu, Kurama?"

"Untuk saat ini aku tidak bisa menghubungi mereka, mungkin jika kita berpas – pasan dengan salah satu dari mereka kita bisa saling berkomunikasi itupun kalau mereka tidak di kurung dengan kurungan yang erat. Kita lanjutkan saja nanti, aku mau tidur mataku sudah mengantuk selamat malam"

'Kurama ini masih sore'

Tepat setelah Kurama mengakhiri pembicaraan itu, bel berbunyi menandakan telah berakhirnya kegiatan yang ada di sekolah. Ruangan yang semula sunyi berubah menjadi riuh karena obrolan anak – anak yang bercanda dengan temannya atau yang berlari kebelakang menuju wali mereka. Naruto melihat bagaimana Minato dikerubungi olah beberapa anak yang pastinya ingin tahu tentang Naruto.

End Flasback

Naruto tidak terlalu suka untuk memikirkan hal seperti itu, tapi mau bagaimana lagi. Naruto harus tahu bagaimana keadaan bijuu lainnya beserta Jinchuriki mereka karena ia merasa bahwa itu tanggung jawabnya semenjak tahu bahwa ia masih keturunan dari Ootsusuki Hagoromo. Di lain hal Naruto masih memikirkan bagaiman cara yang tepat untuk merawat sang anak. Pemikiran yang menumpuk di otak Naruto membuatnya tak sadar memegang erat tangan Minato yang mungil seperti takut sang anak akan berkeliaran dan tersesat, padahal Minato tahu persis dimana ia sekarang yang pastinya lebih tahu dari Naruto. Seberapapun perbedaannya desanya yang ia kenang dan sekarang, Naruto tahu kemana mereka mengarah. Minato terdiam mengikuti orang yang memegangnya dengan erat, ia tak terlalu memikirkan akan kemana tapi ia bisa melihat Pria yang memiliki mata biru langit yang sama dengannya.

'Jadi begini rasanya dipegang erat oleh ayah'

Pikir Minato saat melihat ayahnya mengerutkan dahinya seperti berpikir keras. Membiarkan Naruto dengan pemikirannya sendiri Minato mengarahkan pandangannya keseorang anak yang digendong di kepala ayahnya. Minato sangat ingin merasakan bagaimana rasanya di gendong seperti itu. Merasa pergerakan mereka terhenti, Naruto melirik ke arah Minato yang perhatiannya ke kedua orang di seberang mereka. Tersenyum kecil tahu maksud yang di inginkan Minato, Naruto mengelus – elus kepala Minato dan mendapatkan pandangan tanya dari Minato.

'Ouch... terlalu imut'

Naruto merasa kecewa karena tidak mempunyai kamera. Tapi apa di jaman ini ada kamera? Naruto harus mencari tahu keberadaan Kamera jika ada Naruto akan segera membelinya jika tidak itu sangat gaswat darurat.

"Apa kau ingin di gendong seperti dia?"

Tanya Naruto usai berdebat dengan dirinya sendiri tentang kamera. Minato merasa malu karena ayahnya yang baru saja ia kenal bisa mengetahui apa yang ia inginkan.

'Sial dimana keberadaan kamera saat aku membutuhkannya?'

Kembali Naruto memperdebatkan keberadaan kamera. Dengan mata penuh harap Minato mengangguk pelan.

'Oh... Tuhan yang maha kuasa kenapa ayahku bisa seimut ini? Kenapa aku tidak seimut dia? Pemandangan apa yang sekarang ku lihat ini? Apa ini yang dinamakan puppy eyes? Pantas aja setiap kali aku melakukan ini semua orang radius 100 meter pasti mengatakan iya dengan apa yang aku mau. Ternyata ini diturunkan dari ayah, sekarang aku tidak bisa menolaknya sama sekali. Dimana kau kamera kawanku saat aku membutuhkanmu?'

"Jika Minato menginginkan sesuatu, Minato bisa meminta langsung ke ayah"

Naruto berkata sambil mengangkat Minato ke daerah kepalanya. Minato terkejut saat Naruto tiba – tiba menaikkannya tanpa ada peringatan apapun. Dari atas sini Minato dapat melihat dunia yang berbeda dari yang biasa ia lihat. Naruto terkekeh kecil saat mata berbinar – binar muncul di wajah.

"Un"

'Kamera...'

Dari sudut pandang penduduk mereka melihat dua orang, ayah dan anak sedang tersenyum yang silaunya mengalahkan matahari membuat semua orang yang melihat ke arah mereka merasakan kehangatan tiada tara

# # # # # # # # # # # # #

Bersambung