Hola, Reader-san udah lama kita tidak berjumpa. Masih kah kalian kangen sama Karias? *Karias_auto_dikroyok_sama_reader* maafkan hamba wahai kalian yang paling benar atas segala hal. Maafkan Karias gak pernah update karena Karias tersesat di jalan yang bernama Kehidupan *auto_ditabok _sama_Kakashi* aduh keliatannya Karias banyak di maki deh di chapter ini. Ya udahlah ya, kali ini Karias membawa chapter baru, yey. Warning! Naruto punya Masashi Kishimoto-sama.

Karias : Guys, udah pada siap

Naruto : Siap apaan?

Karias : loh kan mau lanjut ceritanya

Minato : ku kira mau dibuang nih cerita

Karias : Mengapa kalian jahat sama Karias?

Naruto & Minato : Karena kamu udah jahat sama kita!

# # # # # # # # # # # #

Tampak tiga orang berpangkat jounin dengan cepat melesat dari satu pohon ke pohon lainnya. Mereka tidak lain adalah murid dari Hokage ke-3, Sang Tiga Sannin yakni, Jiraiya, Tsunade, dan Orochimaru. Ketiganya tampak tergesa – gesa menuju tempat tujuannya

"Sialan... bener nih Sensei menyuruh kita untuk segera kembali ke Konoha"

Rutuk pria bersurai putih panjang bagai duri, Jiraiya sangat kesal dengan Senseinya karena memberikan pemberitahuan singkat tanpa tahu bahwa ia sedang melakukan *observasi*.

"Diam, bodoh! Kerjaanmu hanya melihat sesuatu yang tidak berguna"

Jawab satu – satunya perempuan berketurunan senju di tim itu, Tsunade tahu betul apa yang ada di otak Jiraiya saat ini. Ini membuatnya ingin memukulnya dengan keras sampai Konoha.

"Hah... mengapa aku harus se tim dengan kalian?"

Hela napas keluar bersamaan dengan rasa jengkel, jujur saja Orochimaru juga memiliki acaranya sendiri namun mau bagaimana lagi Sensei mereka menginginkan mereka untuk segera mengakhiri misi dan kembali ke desa secepatnya.

"Oy... tenang Hime, aku hanya merasa aneh dengan panggilan mendadak ini. Apa mungkin terjadi sesuatu di Konoha?"

Setelah Jiraiya mengatakan itu, ketiganya merasa ada yang tidak beres dan segera mempercepat langkah mereka.

# # # # # # # # # # # # #

Naruto dan Minato melewati banyak penduduk yang menatap heran kearah mereka. Entah itu karena rambut mereka yang mencolok atau senyum mereka yang bisa menandingi matahari, kedua orang itu tak memperdulikan bisikan – bisikan yang ada di sekitarnya.

"Tunggu dulu ... sepertinya ada yang kulupakan"

Naruto berhenti sejenak mengingat hal yang seharusnya ia ingat sejak membawa Minato. Merasa orang yang ditungganginya berhenti Minato membungkuk kebawah menatap langsung ke mata Naruto.

"Jangan bilang kau lupa untuk menanyai dimana tempat tinggal kau sekarang, ke pak tua itu"

Kurama terbangun dari tidurnya akibat Naruto terlalu keras berpikir. Tak lama kemudian tatapan horor terpampang di wajah Naruto yang membuat Minato menatapnya dengan aneh. Kurama mengangguk menang karena tebakannya tepat pada sasaran, sungguh Naruto pasti tidak memikirkan hal – hal yang seperti itu.

"Sialan..."

"Oy, Gaki ingat tuh yang kau gendong siapa"

'Bodoh...'

Naruto baru menyadari kalau sang anak yang di gendongnya mendengarkan apa yang baru saja ia katakan. Bukankah anak seusia Minato tidak boleh mendengarkan kata – kata ini? Minato mendengarkan ucapan Naruto hanya mengerjapkan matanya tidak mengerti.

"Sialan?"

Kedua kalinya Naruto menatap horor ke arah Minato yang mengucapkan kata itu dengan sangat polosnya. Oh, anaknya yang imut ini mengatakan sesuatu yang tidak bagus untuk di ucapkan. Ia telah gagal menjadi seorang ayah di hari pertamanya

"Oh, jadi begini caramu mengajari anakmu yang baru kau temui, hah? Naruto?"

Kurama menyeringai, menaburi garam di atas penderitaan Naruto, membuat Naruto ingin melemparkan Rasenshuriken ke arah Kurama.

"Ah, Minato, lupakan apa yang baru saja aku katakan ya?"

"Um..."

Sebenarnya Minato tahu arti kata itu, tapi jika ayahnya menyuruhnya untuk melupakan perkataan itu, ya... mungkin untuk kali ini saja Minato akan melupakannya (Minato-kan jenius). Minato kembali melihat langit membandingkan warna langit dengan warna matanya dan ayahnya, mungkinkah warna iris matanya genetik?

"Um...Tou-san?"

Tanya minato malu – malu, ini pertama kalinya iya memanggil seseorang ayahnya.

"Hm? Iya, ada apa?"

Naruto keluar dari pergulatannya dengan pikiran mengenai tempat tinggal, toh Naruto bisa langsung saja menuju kantor Hokage meminta Jijinya untuk memberikan rumah baru atau Naruto bisa membelinya sendiri. Ya, Naruto termasuk orang yang berkucupan dengan harta yang lumayan berlimpah dari Perang Dunia Shinobi Ke-Empat dan harta warisan orang tuanya, namun meskipun begitu Naruto masih belum memiliki jodoh sama sekali, malah ia memiliki anak sekarang. Memikirkannya saja membuat hatinya teriris. Naruto dapat mendengarkan tawaan Kurama yang sangat senang sekali hostnya jomblo, apa Kurama tidak ingin membagi Naruto dengan yang lain?

"Gah... apa yang baru saja kau pikirkan Naruto! Kau pikir aku gay? Bukannya kau yang gay dengan si pantat ayam"

'Gah, jangan angkat – angkat persoalan itu! aku tidak dan bukan gay sialan! Aku laki – laki tulen! Aku masih mau dengan perempuan!'

"Tou-san!"

Suara keras Minato, mengagetkan Naruto membuatnya berhenti mendadak. Minato serasa akan jatuh dari pundak Naruto.

'Whoops'

"Ya, Minato? Maaf aku tidak mendengarkanmu dari tadi"

Ingin rasanya Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, mencoba mengalihkan pemikirannya dari gumaman tidak jelas Kurama.

"Kita mau kemana?"

Minato melanjutkan pertayaan yang sempat terpotong karena Naruto *mengacanginya* dan mereka hanya mengelilingi tempat yang sama sedari tadi. Apakah ayahnya Minato ini terlalu lama melaksanakan misi sampai tidak tahu kembali arah jalan pulang? Sebenarnya Naruto masih bingung dengan keadaannya sekarang maka dari itu ia dari tadi berjalan tanpa arah yang akhirnya tertuju ketempat favoritnya dari kecil sampai kini ia menginjak kepala dua.

"Kau lapar? Ayo kita ke tempat itu"

Naruto menunjuk kedai ramen yang sangat ia cintai yang ternyata telah ada dari jaman ini! Jangan – jangan kedai ramen Paman Ichiraku sudah buka dari jamannya Rikudou Sannin. Minato mengangguk mengiyakan kata ayahnya, perut kecilnya berbunyi mengeluarkan suara bagai harimau yang kelaparan membuat Minato tersipu malu mendengar tawaan dari Naruto.

'Ramen-ramen-ramen... aku datang kepadamu oh, ramenku tercinta...'

"Dasar bocah udah tua masih mikirin ramen mulu, pikir tuh yang ada dipundak"

Perkataan pedas Kurama tidak digubris sama sekali oleh Naruto yang telah terjatuh keranjau yang bernama *ramen* dengan Minato yang melantukan kata ramen bagai nyanyian perjuangan.

# # # # # # # # # # # # #

"Hm?..."

Seorang pria beramput perak menerima burung pembawa pesan yang mengitari dirinya. Ia mengelus dengan kasih dan mengambil pesan dari kaki burung itu.

"Hokage mencariku? Apa ada misi baru?"

Pria itu segera kembali menuju gerbang desa yang tidak begitu jauh dari lokasinya berdiri dan memikirkan untuk apa Hokage memanggilnya.

# # # # # # # # # # # # #

"Sksksksk..."

Suara alat tulis bertemu dengan sang kekasih kertas bedengung di ruang Hokage nan sepi. Tampak Hokage ke-tiga Konoha mengerjakan dengan *giat* kertas – kertas yang menumpuk semenjak kedatangan Naruto yang entah berantah.

"(Bruak !) Kenapa Tobirama-sensei memberiku pekerjaan ini! "

Teriak Sandaime muak mengerjakan barang yang di anggapnya laknat itu, membuat Anbu yang tak terlihat di ruangannya facepalm tidak percaya kalau itu Hokage mereka.

"Ini semua gara – gara Naruto! Aku tidak bisa tenang mengerjakan ini semua!"

Sang Sandaime menyalahkan pemuda berambut kuning yang membuatnya pusing tujuh keliling. Pertama, informasi dari Naruto yang begitu akurat membuatnya khawatir sekaligus bahagia akan apa yang terjadi terhadap Konoha di waktu yang akan datang. Kedua, ia memaksa murid – muridnya untuk kembali dan pastinya mereka akan menuntut jawaban yang mengakibatkan rusaknya sarana dan prasarana di dalam ruangan. Ketiga, jika ruangannya hancur total maka barang laknat itu akan berkembang biak melebihi kantor Hokage itu sendiri. Saat ini Sang Profesor merasa kelamnya kegelapan selain dari peperangan.

"Knock-knock-knock"

Mendengar suara dari belakang pintu, Sandaime bergegas untuk merapikan bajunya dan mengumpulkan kewibawaannya yang sempat terbuang entah kemana. Tidak mungkinkan ia tidak menunjukkan kewibawaannya, bisa – bisa ia di cemooh sama dewan rapat lainnya, meskipun Anbu yang ada di tempat itu sudah kehilangan rasa hormat mereka terhadapnya.

"Ehem, masuk"

"Maaf mengganggu anda Hokage-sama"

Masuklah pria dengan rambut perak kuncir bawah, membawa pedang pendek di punggungnya. Ia sangat sopan di depan Hokage orang terpenting di desanya.

"Ah, Sakumo kau datang tepat sekali"

Ya, iyalah Sakumo Hatake, pria yang ada di depan gerbang Konoha tadi, salah satu Jounin Jenius yang Konoha miliki. Termasuk jounin yang kuat dapat menandingi Sannin, pintar dalam IQ dan situasi darurat apapun, membuat klan Nara ingin sekali melemparinya tugas mereka, dan ahli dalam bertarung. Sandaime sangat bagga ketika ada Jounin lain yang hebat dapat menandingi muridnya walaupun tidak di bawah didikannya.

"Kalau saya boleh tahu, apa ada sesuatu yang darurat Hokage-sama?"

"Sakumo, apa kau percaya dengan perdamaian tanpa ada peperangan?"

Sakumo terkejut saat dihadapkan dengan pertanyaan sulit itu. Baginya perdamaian tanpa ada peperangan adalah sebuah lelucon yang tidak lucu sama sekali. Perdamaian saat ini hanya sementara satu atau tiga bulan mendatang peperangan akan pecah kembali menelan korban didalamnya yang tak terhingga. Jujur, di hati kecil Sakumo masih mengharapkan perdamaian yang kekal untuk masa depan anaknya beserta generasi selanjutnya. Namun harapan itu akan sangat susah dilaksanakan di masa ini, mereka membutuhkan seseorang yang dapat membuka jalan baru, membuka penglihatan mereka bahwa perang itu hanya memberikan dampak negatif, mereka membutuhkan orang yang dapat memenuhi harapan itu.

"Hokage-sama, mungkin suatu saat nanti ada yang namanya perdamaian abadi"

"Bahkan kau hanya bisa berharap heh, Sakumo?"

"Tidak ada salahnya kita untuk berharap Hokage-sama. Bagaimana menurut anda?"

"Hm, mungkin Konoha akan menggapai masa itu ketika ia telah menemukan Apinya"

Wajah tertegun Sakumo, memberi Hokage isyarat bahwa ada seseorang yang mengerti apa yang ia ucapkan. Sakumo tersadar, Tekad Api! Ia tidak mau sombong bahwa ia mengerti dengan Tekad Api tapi Sakumo pernah merasakan bara dan panasnya Tekad Api saat Konoha dalam bahaya. Mungkin karena Tekad Api itu turun temurun dari generasi ke generasi, hanya saja generasinya yang tidak menghidupkan Tekad Api, atau Apinya saat ini tertidur menunggu seseorang yang lebih berhak menerimanya. Sakumo tidak tahu persis dengan pemikiran Hokage tapi ia dijalur yang tepat.

"Jadi, Hokage-sama generasi saya dan anda kekurangan Api ini?"

"Apinya padam seiring dengan banyaknya perang yang kita lalui, tapi aku percaya pada Hashirama-sama kalau Api itu selalu ada di setiap langkah kita"

"Ah..."

Sungguh orang yang ada di depan Sakumo ini pantas diberi gelar Sang Profesor, tapi ia masih tidak tahu dengan tujuannya kemari untuk apa, sedang Sandaime-sama dengan gagah melihat konoha dari kaca tembus pandang kantornya.

'Apa tujuanku kesini?'

Tanya Sakumo dalam hati.

# # # # # # # # # # # # #

Bersambung

Yak, begitulah peran kali ini

Gimana Reader-san udah gak marah lagi kan sama Karias?

Maafkan Karias Reader-san

Sampai ketemu in the next chapter

Bye bye