Heeeeelllloooo. Readers Author yang bertabah menunggu kemunculan chapter baru!

Author sangat terhura dengan kalian semua uhuhuhuhuhu...

Cukup, pasti para readers bertanya – tanya kenapa lama banget updatenya?

Karena ... itu rahasia Author

Naruto milik Masashi Kishimoto!

Naruto: Wey, Author lama amat

Karias: Sabar bang ini lagi berusaha

Naruto : Berusaha apaan?

Karias: Berusaha untuk melewati sesatnya dunia ini

Naruto : Udah jangan ikut – ikut Kakashi-sensei, tambah terperosok nanti


Tak lama setelah Sakumo memikirkan kedatangannya ke kantor Hokage, datanglah murid sang Hokage dengan penuh spektakuler.

"Prang..."

Kaca di samping Sandaime hancur berkeping – keping, membuat kertas – kertas yang menumpuk di meja berterbangan kemana – mana. Sakumo dan Anbu yang bersembunyi langsung dengan sigap berada di samping Sandaime melindunginya dari sergapan musuh yang akan menyerangnya. Sedang Sandaime hanya menghela nafas mengetahui siapa yang menyebabkan kerusuhan ini.

"Sensei, kuharap kau memiliki alasan yang tepat, karena aku sangat terburu – buru ke Konoha"

Jiraiya dengan spektakulernya memecahkan kaca kantor Hokage dari luar dengan kakinya hanya untuk melampiaskan amarahnya karena tidak bisa melanjutkan aksi observasinya.

"JIRAIYA! Sudah berapa kali kubilang gunakan pintu! Apa kau tahu berapa banyak Ryo yang harus dikeluarkan hanya untuk mengganti kaca ini!"

Sandaime naik pitam, menjitak muridnya yang bandel dengan keras. Ia ingin sekali membakar muridnya menjadi abu lalu ia taburi ke pepohonan yang ada di Konoha, supaya masih bisa memberikan manfaat yang berarti. Akibat penyerangan palsu tadi, Sakumo melihat adegan di depannya dengan seyuman kaku dan para Anbu mengambil tempat persembunyian mereka kembali karena baru mengetahui bahwa yang melakukan kerusuhan adalah salah satu Sannin.

"Adoh... sensei, mengapa harus menjitakku? Apa salahnya aku menghancurkan kaca?"

"Itu salah bodoh!"

"Oh..."

'Ku harap anakkku nanti tidak seperti Jiraiya-san'

Pikir Sakumo saat Jiraiya merasa dirinya tidak bersalah memecahkan kaca Hokage. Oh, Betapa salahnya kau Sakumo. Lihatlah nanti di beberapa tahun yang akan datang.

"Dimana Tsunade dan Orochimaru?"

"Hah? Lah iya, mereka kemana?"

Mungkin jika Jiraiya menjadi seorang pelawak pasti ia sukses besar, iya sukses dilempari kunai.

"Kami disini Sensei"

Tsunade berada di depan pintu dengan Orochimaru di belakangnya. Tidak seperti Jiraiya, Tsunade dan Orochimaru masih tahu sopan santun untuk menemui pemimpin mereka terlebih guru mereka.

"Mengapa kalian lama sekali kesini?"

Tanya sang Sandaime melihat baju mereka yang lusuh. Tsunade memasang muka masam ke arah Jiraiya. Jiraiya hanya nyengir tak bersalah. Orochimaru menghela nafas melihat tingkah kedua timnya ini. Sakumo merasa seharusnya ia tidak ada disini dan ingin sekali keluar dari ruangan ini.

"Si bodoh ini dengan ceroboh terkena jebakan ninja air membuat kami harus melawan mereka dulu"

Orochimaru menjawab dengan faktual menggunakan kata yang paling menusuk atas kebodohan temannya ini. Ia tidak habis pikir mengapa si Jiraiya ini bisa lulus dari akademi ninja. Jebakan yang nampak saja si bodoh ini tidak tahu, apalagi nanti di medan perang, bisa – bisa si ubanan ini KO duluan sebelum hajar menghajar berlangsung. Entah mengapa indra pelecehan Jiraiya terangsang dan ingin menampol orang yang menjelek – jelekkan namanya. Jiraiya tahu bener siapa yang lagi menghardik jati dirinya yang sangat keren ini *huweee*. Seperti kemistri yang benar terjadi mata Orochimaru dan Jiraiya saling bertemu, diselang itu ada kilatan energi keluar dari masing – masing mata mereka. Terjadilah perang mata antara si ular dan si katak yang ke-79 kali pada hari itu hanya saja tempatnya sekarang berada di depan meja hokage. Sandaime meratapi nasibnya yang na'as mempunyai murid macam begini, si ubanan yang pikirannya penuh dengan hentai tak tertolong, satu lagi si blonde main judi gak pernah menang, dan satu lagi si pucat yang senengnya bereksperimen sambil ketawa evil. Memang benar susah punya murid macam begini. Tapi, sebagai sensei yang baik dan tidak sombong, Sandaime masih menganggap mereka murid tersayangnya meski 'keterbatasan' yang mereka miliki.

"Jadi Sensei ada apa menyuruh kami kembali ke Konoha?"

Tanya Tsunade dengan nada malas sehabis menghajar Orochimaru dan Jiraiya. Menurutnya itu sudah menjadi hobi baru semenjak misi yang tiada henti ini.

"Pastikan ini sangat penting Sensei! Aku membuang waktuku yang berharga hanya untuk kembali kesini, padahal kemaren itu pas seru – serunya!"

Dasar otak mesum si rambut ubanan membuatnya menerima tatapan kosong dari semua orang yang ada diruangan ini.

"Apaan yang berguna? Kerjaan mu cuman mengintip onsen membuat nama Konoha jelek aja"

Timpal si pucat yang sudah siap untuk gelut dengan si ubanan. Si blonde sudah mulai lelah dan memilih untuk membiarkan para cowok se timnya baku hantam sesuka mereka.

"Sudah cukup kalian semua! Kalian tidak malu dilihat oleh Sakumo"

Sudah berapa kali Sandaime naik pitam hari ini, pasti kalau bukan Hokage ia sudah menghajar habis – habisan anak didiknya ini membuat malu dirinya saja. Sakumo yang merasa namanya terpanggil mengalihkan pandangannya dari korban kejahatan Jiraiya, si kaca besar tak bersalah menuju kearah mereka setelah di kacangin selama setengah jam lamanya.

"Aku menyuruh kalian berempat berkumpul karena ada suatu hal yang ingin ku kenalkan kepada kalian"

Semuanya terdiam saat sang Hokage menggunakan mode seriusnya.

"Jadi Konoha tidak diserang!"

Teriak Jiraiya geram karena ia harus terburu – buru kesini. Bukannya bersyukur tempat tinggalnya tidak kenapa – napa, kini dia mengutuk sang sensei karena berani – beraninya mengganggu aksinya. Awas saja dia tidak akan menerbitkan buku edisi baru icha – icha paradise di bulan ini.

"Syukurlah ku kira Konoha diserang sampai kami tergesa – gesa kesini"

Ucap Tsunade saat tahu kalau Konoha baik – baik saja. Nah, ini baru contoh yang baik.

"Maaf kalau membuat kalian panik, tapi ini tak kalah pentingnya. Aku menemukan seseorang!"

"Seseorang?"

"Ya, sesorang yang bisa mewarisi tekad api!"

"Huh?"

Tanya ke-empat jounin tak lupa Anbu yang sedang ikut menguping.

"Aku ingin kalian berempat bertemu dengannya langsung!"

Sandaime mengucapkannya dengan antusias. Sandaime menyuruh beberapa Anbu untuk mencari dan memanggil orang itu kemari, sedang Sandaime menjelaskan sedikit orang ini ke mereka.


"Si pak tua itu pasti bakal menyesal kalau tahu kelakuanmu macam ini"

Kurama melihat Naruto yang sedang asik – asiknya memakan ramennya yang ke-6 tak lupa Minato yang sedang memakan ramennya yang ke-3. Sungguh ada yang aneh dengan keluarga Naruto dan entah mengapa Kurama sudah sangat kebal dengan ketidak masuk akalan bernama kehidupan semenjak ia menjadi partner Naruto. Jujur saja selama hidup panjang yang harus ia akui emang monoton, baru kali ini ia menemukan partner yang kekonyolan sangat luar biasa sampai mengenai dirinya sendiri. Bahkan pada saat dirinya berada di Kushina, tidak pernah satu kalipun terkena imbasnya. Entah karma apa yang dimiliki Kurama kepada Rikudou Sannin hingga ia bisa sehidup semati dengan Naruto dan mohon jangan anggap Kurama itu jatuh hati gara – gara itu. Mohon maaf saja kalau urusan itu tanyakan kepada si gadis bermata pucat atau si pria berambut pantat ayam yang pastinya tidak akan pernah mereka jawab karena berbagai hal. Sungguh sangat kompleks sekali hidup bersama orang hiperaktif berambut kuning yang kerjaannya melakukan sesuatu yang di luar akal. Sumpah Kurama ingin sehari saja ada kenormalan di hidupnya. Si empu pemilik ruangan tempat si rubah bersemayam tak mengambil pusing perkataannya. Naruto dengan semangat sentausa memakan ramen dengan cepat, tak lupa ia melirik ke arah sang anak yang dengan nikmat menghayati setiap seruputan ramen yang masuk ke mulutnya. Terlihat sekali perbedaan kedua orang ini saat menyantap makanan yang menurut Naruto makanan para dewa itu. Naruto agak malu saat dilirik oleh dua orang laki – laki yang menatapnya dengan tatapan tak percaya. Mungkin kedua orang itu bertanya – tanya di pikiran mereka bagaimana Naruto bisa menghabiskan ramen dengan cepat tanpa jeda dan kemana semua ramen itu berakhir. Well, Naruto kan pemegang rekor kedua saat lomba makan ramen terbanyak se Konoha. Iya, Naruto dapet yang kedua, yang menjadi juara ialah... kalian cari sajalah sendiri.

"Paman tambah satu lagi ramennya!"

Minato heran bagaimana ayahnya ini bisa dengan cepat memakan ramen. Apa mungkin ayahnya ini lama sekali dalam misi sampai – sampai tidak bisa memakan ramen. Kasihan, kan makanan ini wajib dimakan setiap hari.

"Baiklah, satu ramen akan segera siap!"

Jawab sang paman antusias melihat pelanggannya dengan lahap memakan ramen buatan kedainya.

"Bagaimana Minato enak bukan?"

Tanya Naruto melirik ke arah Minato yang sedang menyeruput kuah ramen

"Mm-hmm-mm!"

Minato mengangguk mengiyakan.

"Ini pertama kali saya melihat wajah baru"

Ucap pemilik kedai sambil menyiapkan ramen.

"Ehe, namaku Namikaze Naruto, aku akan menjadi pelanggan tetap di kedai ini"

"Benarkah?"

"Iya, ramen disini adalah yang paling enak dari segala penjuru negara shinobi!"

"Wah berarti Naruto sering keluar desa ya? Pantas tidak pernah melihat rambut kuning selain Minato"

Timpal pemilik kedai antusias mendengarkan semarak Naruto.

"Ah, pantas Ayah tidak pernah ada di desa, jadi Ayah sering ditugaskan keluar?"

Minato ikut angkat bicara.

"Iya,banyak hal diluar sana yang menarik tapi Konoha tetap yang nomor satu!"

Ujar Naruto saat mengetahui kalau mata Minato berbinar – binar. Jujur saja Naruto sudah pernah merasakan tour keliling dunia dan melihat beberapa tempat indah, aneh, fantastis, maupun seram. Tapi gimana pun tempat itu, tidak bisa dibandingkan dengan tanah api Konoha.

"Loh, Naruto ayahnya Minato? Iya juga ya kalian memiliki rambut blonde yang sama dan mata blue saphire yang mirip"

Si pemilik kedai nongol di balik tirai pembatas melirik ke arah dua pelanggan yang mirip banget kayak boneka.

"Setidaknya Minato ada yang bisa diajak kemari mulai saat ini"

Minato tersenyum malu saat si pemilik kedai mengutarakan salah satu curhatan hatinya, ya walaupun tidak eksplisit.

"Berarti Minato punya marga sekarang"

"Iya! Namaku sekarang Namikaze Minato!"

Nada riang keluar dari mulut Minato. Semua orang ikut tertawa bahagia melihat tingkah laku Minato yang imut itu. Dari percakapan ini Naruto tersadar sepertinya sejak dulu keluarga paman Teuchi ini memang telah mengawasi keluarga Naruto bahkan sebelum ayahnya dan ibunya jatuh hati.

"Ah iya, seru sekali berbicara sampai lupa. Perkenalkan aku Seta pemilik Kedai Ichiraku Ramen"

"Salam kenal Paman Seta"

"Aku tak terlalu tua untuk dipanggil paman"

"Tak apalah, Paman Seta cocok sekali dipanggil seperti itu"

Naruto meringis senang saat pesanannya berada di hadapannya, langsung saja ia sabet. Paman Seta hanya mengeleng kepala suka.

"Kau makan banyak sekali! Jangan lupa dibayar nanti!"

Ucap remaja beranjak dewasa yang membantu si paman. Dia sedari tadi diam saja mendengarkan obrolan mereka.

"Jangan ucap begitu, Teuchi!"

Naruto pun dibuat tersedak saat mendengar nama yang ia kenal dengan baik. Karena Minato adalah anak yang baik dan tidak sombong, ia mendekatkan se gelas air kehadapan sang ayah sambil menepuk – nepuk pelan pundak ayahnya. Naruto langsung meminum air di gelas sampai habis, tenggorokannya terasa panas. Naruto hampir tersedak meminum air saat melihat ekspresi dan perlakuan imut dari anaknya. Ya lord, bisa – bisa ia mati tersedak kalau begini terus. Kan nggak lucu pahlawan yang menamatkan perang dunia meninggal gara – gara tersedak. Naruto merinding disko saat membayangkan ini, Tsunade-baachan pasti akan menghajarnya tanpa ampun. Segera si Naruto was – was melihat sekitarnya dan memfokuskan perhatiannya pada remaja yang dipanggil pemilik kedai. Ya, remaja di depannya bertampang garang ini adalah Paman Teuchi pemilik Kedai Ramen Ichiraku di dunianya. Jauh sekali ternyata tampangnya yang masa lalu dengan masa depan. Naruto menatap lurus kearah Teuchi yang dibalas dengan tatapan tajam.

"Tenang kawan, gini – gini gajiku besar kok. Nanti ku bayar!

Naruto kembali tersenyum menatap geli kearah remaja Teuchi. Ternyata sedari dulu paman Teuchi itu punya eksperesi yang sama saja.

"Yang benar saja, wujud seperti chunin mana punya uang banyak"

Teuchi melirik sinis kearah Naruto, Naruto yang diremehkan hanya tersenyum jahil. Minato sebenarnya masih tidak tahu segimana kaya Ayahnya ini dan pangkat apa yang Ayahnya duduki sekarang. Tampang biasa gini Naruto punya harta yang melimpah. Naruto dibuat bingung mau menghabiskan uang sebanyak gitu, meskipun ia sering mengajak makan bareng teman – temannya tetap saja uang itu menumpuk atau jangan – jangan dia punya stalker lagi. Sebelum ia bisa menjawab ucapan Teuchi, ia merasakan beberapa ninja menuju kearah Kedai Ichiraku.

'Kuharap bukan apa yang kupikirkan'

Batinnya berharap.

"Kutebak itu bersebrangan dengan apa yang kau pikirkan"

Kurama sebagai makhluk hidup yang tercipta dari kekuatan murni alam, tahu siapa ninja yang sedang kemari. Dia hanya akan bangun jika sesuatu menarik akan terjadi, tapi ini tidaklah menarik.

'Jika benar Kakek menyuruh mereka kemari kan kusuruh Anbu itu yang membayar semua tagihan'

"Boleh juga, tapi kurang sadis"

'Lu aja yang suka sadis dan masochist'

"Jangan sembarang ngomong. Lu kan yang takut di tempelin sama si mata pucat. Baru ditempel aja udah tepar, malu dong jadi laki – laki"

'Cukup Kur, luka lama jangan diungkit lagi!'

Hati Naruto merasa tertohok saat mengingat kembali adegan manisnya bersama dengan gadis berambut lavender bermata silver putih. Pada saat kejadian, Naruto masih sangat lugu jadi mohon dimaklumi itu pertama kalinya dia merasakan seberapa halus dan kenyalnya bidang yang menempel ke dadanya itu.

'Aaaaaaaahhhhhhh, kau membuatku mengingatnya!'

"Kau tuh laki – laki atau nggak sih, bukannya seharusnya kau balik lawan malah cabut pergi, mana jiwa lelakimu"

Dengan sadis Kurama membuka kembali luka lama yang Naruto pendam. Ia melihat dari dalam tempat bersemayamnya si partnernya ini lari dari hadapan si gadis dan segera mencari air untuk menghilangkan rasa malu dan pikiran erotis yang mulai muncul dibenak Naruto. Masalah asmara Naruto membuat Kurama terheran – heran, apakah Naruto ditakdirkan untuk menjomblo seumur hidup?

"Woy namaku bukan Kur, aku Kurama lah! "

Kurama mengingat kalau namanya disingkat bagai orang memanggil ayam. Dia ini makhluk terhormat oke, bukan sembarang makhluk hidup.

'Eh, Kurama bicara soal hati, bagaiman caranya ibu dan ayahku bisa jatuh cinta. Tidak mungkinkan aku menjadi mak comblang kan?'

"Biarkan cinta bersemi tanpa bantuan"

'Tumben kok bijak"

"Jangan ikut urusan cinta, biarkan Kushina yang bertindak"

'Huh? Ibu yang bertindak? Payah ayah'

"Makanya didik tuh anak dengan baik, supaya nggak tepar kayak anda"

'Aku berjanji akan mengajari Minato kesuksesan dalam menangani para gadis, batin ini sebagai saksinya'

"Halah ngurus wanita satu aja sudah kayak cacing kepanasan"

Ucapan Kurama yang savage membuat Naruto pundung di pojokan dengan merutuki hubungannya dengan para gadis.

"Lagi pula ngapain kau bertanya persoalan yang masih lama, pikirkan yang sekarang"

Kesadaran Naruto tertarik ke dunia realita. Ia dapat mendengar candaan tawa Minato dengan Paman Seta. Tak jauh dari tempatnya duduk Naruo merasakan seseorang ingin menggenggam pundaknya. Dengan refleks yang smooth Naruto memegang erat pergelangan tangan si penyerang dan melemparnya ke tanah sangat keras samapi tercipta retakan kecil. Anbu yang mendapat perintah dari Sandaime untuk menemukan orang ini, tidak tahu kalau Naruto tipe orang yang tidak senang diberi kejutan. Akibatnya si Anbu tepar masih tidak paham dengan situasinya saat ini. Naruto baru paham kalau yang dilawannya adalah Anbu yang tadi dibicarakan oleh Kurama. Ketiga orang di dalam Kedai terkejut dengan event yang terjadi didepan mereka.

"Aku menang taruhan"

'Oy, sejak kapan kita main taruhan!'

"Sejak kau mengajakku ke dunia ini!"

'Bukan maksudku untuk pergi ka jaman ini, Kurama'

"Bodoh, ladeni yang didepanmu"

Anbu yang tadi tengah terkapar kini berdiri dengan penuh wibawa. Well, si Anbu merasa bersalah karena mengagetkan Naruto.

"Ah, maaf. Refleks bertarung "

"Tidak apa, salah saya juga"

Canggung menjalar ditempat itu. Naruto dengan senyum pepsodentnya berusaha mencairkan suasana.

"Ah, Sandaime-sama memanggil anda ke ruangan Hokage"

Ternyata tebakan Kurama tepat pada sasaran.

"Ayah?"

Minato melirik ke ayahnya. Minato takut kalau Ayahnya telah melakukan sesuatu yang membuat Hokage marah.

"Tenang saja Minato. Tidak apa – apa"

Naruto mengelus kepala Minato. Ia paham kalau Minato pasti sangat ingin menempel dengannya.

"Paman ini uang ramennya"

"Tapi uangnya lebih"

Seta menatap Ryo yang banyak didepannya

"Tak apa, mungkin Minato masih mau makan lebih. Paman aku titip Minato sebentar!. Minato jangan berkeliaran kemana – mana ,oke?"

"Iya Ayah!"

"Ayo!"

Naruto dan Anbu menghilang dari hadapan mereka dengan kepulan asap yang tebal.


Dan selesai!

Yeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

Tunggu update berikutnya!

Author balik pulang!