Yo, Readers

Author berterimakasih karena kalian sangat sabar sekali menunggu Up terbaru fanfic ini

Tenang fanfic ini masih bakal dilanjutin sampai selesai nih cerita

Maafkan Author jika banya percakapan yang tidak penting, tapi memang itu semua ada maksudnya

Dan mohon dimaklumi dengan durasi up cerita ini, wey!

Bagi kalian para Readers yang bingung tetang kostum apa yang Naruto kenakan, jadi Naruto memakai baju seperti di Movie The Last dengan sentuhan Vest Jounin model terbaru di movie itu

Minato dan Naruto milik Masashi Kishimoto

Sakumo: Mengapa saya ikut di cerita ini?

Autrho: karena tanpa ketidakjelasan karakter anda, cerita ini akan nampak garing

Sakumo: Nggak nyambung Author!

"Eh, diem!": berbicara

'Wadoh': berpikir/membatin

"Nggak jelas": bijuu/hewan kuchiyose berbicara


Sungguh seorang Ayah yang tak punya akhlak, meninggalkan anak seimut Minato sendirian di sebuah Kedai dengan satu orang pria dewasa dan anak remaja. Emang Minato ini barang, yang dengan mudah dititipkan.

"Wah, sepertinya Naruto-san sangat sibuk"

"Padahal Ayah baru saja menemuiku"

Ucap Minato dengan wajah cemberut. Ini adalah kali pertama ia bisa menghabiskan waktu bersama ayahnya, jadi wajarlah jika sifat kekanakan yang sempat tertutupi oleh kepintarannya muncul. Minato memilih untuk meninggalkan Kedai setelah menghabiskan semangkuk Ramen yang sempat tertunda akibat 'kerusuhan' yang terjadi.

"Paman, aku pergi dulu"

"Eh, bentar Minato!"

"Tidak apa, Paman! Nanti Minato bakal ketemu sama Ayah dijalan"

Pemikirannya menyimpulkan tadi, hanya saja Minato tidak tahu bahwa 'interogasi' yang terjadi dipihak sang Ayah akan berlangsung sangat lama. Dikelilingi desa karena kebosanan yang melanda, Minato berpikir tentang pangkat apa yang Ayahnya miliki, seberapa hebat sang Ayah, asal usul dirinya dan klannya, jutsu yang mungkin turun temurun, dan sebagainya sampai otaknya tidak mengkhawatirkan Ayahnya.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Dari arah belakang Minato, tampak seorang anak seusianya menggaruk malas kepalanya. Tampangnya yang ogah – ogahan, mulut menguap minta tidur, serta mata yang tidak bisa melek seperti di lem. Yak, inilah teman seperjuangan Minato yang bernama lengkap Shikaku Nara. Memiliki marga klan yang digadang – gadang jenius tingkat dewa tapi kemalasan tingkat sultan, membuat beberapa orang malas berurusan dengan klan macam ini. Disampingnya terdapat bocah gembul dengan pipi tembem membawa sebungkus makanan ringan berupa kripik kering dengan lahap memakan tanpa membagikan tuh jajan. Kuy, inilah salah satu rekan Shikaku yang bernama Choza Akimichi yang sukanya ikut bareng dengan Shikaku.

"Shikaku, sedang apa?"

"Aku yang nanyak duluan malah balik nanyak"

"Maap, ini barusan aku dari Kedai Ichiraku"

"Ouhhh yang ramennya sedep itu yah?"

Choza ngiler mendengar makanan.

"Soal makanan nomor satu anda. Mau ikut?"

Minato merasa ada yang aneh dengan tingkah laku temannya ini. Tidak seperti biasanya Shikaku mau mengajak orang ke suatu tempat, biasanya ia terlalu malas untuk berjalan apalagi diajak kemana – mana.

"Oke"

Ke tiga bocah melanjutkan perjalan mereka menuju ke sebuah kedai dango.

"Paman! Dangonya empat lusin!"

"Ashiap! Choza-kun"

"Wih kok banyak banget?"

Tanya Minato kaget mendengar pesanan Choza.

"Itu porsi biasanya"

Shikaku menyabet dango yang baru tiba di meja. Choza menatap geram ke arah Shikaku, Shikaku mengedikkan bahunya. Minato menggeleng kepala melihat adegan di depannya.

"Jadi untuk apa aku diajak?"

"Langsung ke intinya aja, jadi bagaimana?"

"Apanya?"

"Tidak butuh pemikiran jenius untuk menjelaskan apa yang kutanya, Minato"

Shikaku menghela nafas melihat gerak gerik temannya.

"Aku masih belum paham"

"Beneran nih?"

"Aku baru bersamanya beberapa jam, jadi aku tidak bisa memberikan jawaban yang pasti"

"Terus menurutmu bagaimana?"

Jadi sebenarnya apa yang mereka bicarakan ini mengenai ayah baru Minato. Sebelum bubar dari kelas tadi, beberapa bocah yang menjadi teman akrab Minato berbondong – bondong ingin melaksanakan interogasi pada Naruto. Tapi karena tampang Naruto yang kelewat cool dan rada pinter itu membuat mereka mengurungkan niat. Ya, interogasi para bocah berupa prank. Sebagai teman yang baik Shikaku tahu betul bahwa Minato itu bocah yang sangat hati – hati. Lagipula Shikaku hanya memastikan keadaan Minato. Minato bingung harus menjelaskan ke Shikaku. Penilaian Minato untuk Naruto bervariasi bagai 'es teh panas' jadi bingung harus mengatakannya.

"Menurutku dia adalah orang yang kuat, ramah, dan bebas"

"Bebas dalam artian?"

"Ayah tidak suka di belenggu, bagai angin!"

"Oh, nama margamukan ada angin–anginnya"

Choza ikut angkat bicara dalam pembicaraan yang cukup serius di tingkatan para bocah.

"Berarti nanti kau bakal punya klan! Wih bagus nih nanti ayahku harus berkenalan dengan ayahmu!"

"Hadeuh, susah dah kalau soal klan bakal jadi ribet"

"Apa kau tidak senang melihatku bertemu dengan ayahku?"

Tampang mewek dikeluarkan oleh Minato.

"Jadi pangkat ayahmu apa?"

Tanya Shikaku, pasalnya Naruto itu menggunakan vest shinobi yang berbeda dari ninja Konoha pada umumnya. Naruto sendiri tidak sadar bahwa ia sedang mengenakan vest hijau tua yang dimodifikasi pada era pemerintahan Rokudaime, memberikan kesan misterius bagai Anbu.

"Jangan kan kamu, aku aja masih nggak tahu"

"Lah terus daritadi anda ngapain?"

"Makanlah"

"Sumpah sebelas duabelas sama orang disebelahku"

Shikaku menepuk jidat saat mendengar jawaban Minato yang terkesan bodoh amat. Saat mereka asyik berbincang – bincang ada bocah lagi yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Bocah itu berciri – ciri rambut hitam, mata hitam, dan wajah masam bagai minum jus jeruk kecut. Dia adalah Fugaku Uchiha, bocah tampang jutek. Fugaku tidak percaya kalau ayah Minato bisa melebihi pangkat ayahnya. Dia sendiri merasa bahwa tidak ada yang bisa menandingi kekuatan klan Uchiha, menganggap sebelah mata kalau Ayah Minato itu lemah.

"Apa yang hebat dari Ayahmu yang lemah"

Ucapnya ketus. Minato tahu persis siapa pemilik suara ini. Minato dan Fugaku itu rival di segala hal, tapi Fugaku masih unggul darinya karena kekuatan klan dibelakanagnya, sedang Minato bukanlah siapa – siapa. Biasanya Minato memandang tak peduli ke arah bocah jutek ini, tapi setelah ia tahu bahwa ia masih memiliki keluarga dengan marga, Minato tidak mau tinggal diam.

"Aku yakin, Ayahku lebih kuat daripada Ayahmu!"

Tidak mau kalah bacot, omongan Minato ikut bertambah pedas.

"Ayahku masih lebih berkuasa"

Kini Fugaku memunculkan seriangaian. Kalau ini Minato tidak dapat membalas karena ketidakjelasan posisi pangkat Ayahnya.

"Kau tu bisanya bawak nama klan aja"

Shikaku membela Minato dengan watados. Minato tidak suka jika temannya harus menyelamatkannya setiap kali perdebatan yang berakhir ke klan. Minato sendiri tidak suka dengan Fugaku semenjak ia sering menganggap remeh semua orang yang tidak termasuk dalam klannya. Sejak saat itu juga Minato mempunyai ambisi untuk bisa diakui oleh semua orang berkat bakat dan kemampuan, bukan karena klan dibelakangnya.

"Bukan urusanmu Nara"

"Ini menjadi urusanku. Memang benar kau calon ketua klan, tapi apa kau berfikir tindakanmu itu seperti ketua klan?"

Shikamaru menjawab dengan sangat savage. Choza menggaruk pipinya yang tidak gatal. Minato terbelalak mendengar nada sadis keluar dari si pemalas.

"Kau! berani – beraninya..."

"Cukup, Fugaku!"

Seorang anak perempuan menghentikan tindakan yang akan dilakukan oleh Fugaku. Mikoto Uchiha adalah nama gadis itu. ia mencengkram erat tangan Fugaku supaya tidak melanjutkan aksinya.

"Mikoto, apa yang kau..."

"Ketua klan mencarimu!"

Ucapan Mikoto membuat sekujur badan Fugaku mendadak merinding. Fugaku sudah membayangkan apa saja yang akan dia lakukan bersama sang ayah disana seperti, duduk berjam – jam dengan posisi yang sama, mendengar ceramah tak kunjung berhenti, mengerjakan kertas putih yang laknat, dan berbagai latihan calon ketua klan. Sungguh jika Fugaku bisa memilih ia lebih berpihak pada dummy incaran jutsu api dan kunainya.

'Ugh! Latihan lagi!'

"Ini masih berlum berakhir!"

Segera saja ia melupakan adu bacot yang sedang berlangsung dan meninggalkan TKP untuk bergegas menuju rumah. Fugaku tidak mau mendapatkan hukuman yang akan memperpanjang durasi pembelajarannya, oke.

"Adu mulut denganmu mana pernah berakhir"

Ucap Shikaku ketus.

"Mikoto seperti biasa kau datang di saat yang sangat tepat"

Choza memuji gadis yang masih berada di depan mereka. Mereka bertiga bersyukur dengan kemunculan Mikoto, kalau dia tidak muncul bisa – bisa bakal terjadi adu jotos antara Fugaku dan Minato.

"Bukan apa sih, hanya saja Fugaku itu kalau bicara nggak di pikir dulu. Kalau tetua tahu ini, dia bakal dihukum"

Mikoto tidak mempermasahkan apa yang barusan dia lakukan.

"Untung saja, kukira kalian beneran mau berkelahi"

Keempat murid akademi kaget saat mendapati guru mereka tiba – tiba nongol dalam pembicaraan.

"Sentai-sensei! Apa yang kau lakukan disini?"

Mikoto malu kejadian itu dilihat oleh Sensei.

"Ya, Sensei mau ngewarung lah! eh baru dateng ngelihat kalian mau baku hantam, jadinya siap – siap deh"

"Siap – siap apaan Sensei?"

Choza kepo.

"Jewer kalian"

'Syukur Mikoto dateng'

Puji syukur dikumandangkan pada tiga bocah yang hampir mau bikin onar. Mikoto menahan tawanya melihat ekspresi ngeri di wajah temannya.

"Oh ya! Saya harus kembali, sampai jumpa Sensei! Dah!"

Mikoto pamit undur diri karena misinya mencari Fugaku telah selesai. Tiga bocah saling menatap lalu melihat Sensei mereka yang masih berdiri di samping Minato.

"Eh iya Minato, aku ada urusan mendadak nih. Dada!"

"Baru inget, bapak ku mau mainan bareng. Ku tinggal dulu ya!"

Shikaku dan Choza ikut pamit, dengan maksud kabur dari sana. Daripada beneran dapet jeweran maut dari Sensei. Ini nih contoh temen yang tidak berperiketemanan masak Minato dijadikan umpan supaya mereka bisa melarikan diri.

'Hiks, kenapa mesti aku?'

Jadilah Minato ditinggal sendirian dengan gurunya. Sentai tidak ambil pusing memikirkan perbuatan nyeleneh para muridnya, toh dia juga pernah jadi bocah macam mereka.

"Ayo duduk Minato temani aku makan dango"

Sentai mengajak Minato berbincang, karena ada yang ingin dia tanyakan. Minato mengangguk, dia sudah menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Bagaimana perasaaanmu Minato bertemu dengan Naruto-san?"

"Saya sangat senang sekali bisa bertemu dengan ayah, bisa bergandengan dengannya, bisa makan bareng dengan ayah"

Minato menceritakan apa saja yang ia lakukan tadi bersama ayahnya. Minato sangat memercayai Sentai, karena dialah satu – satunya orang yang mendukungnya dikala orang lain hanya melihat. Jujur Minato sangat senang gurunya menanyai kondisinya.

"Baiklah, kalau terjadi sesuatu laporkan saja kepadaku nanti aku akan melaporkan ke Sandaime, biar dia yang mengurusnya"

Ucapan Sentai terdengar sadis di teliga Minato. Minato paham betul, meskipun ia masih anak – anak tapi pikirannya ini sanggup menyerap informasi berat. Minato tersenyum kaku, dilihat dari bagaimana ayahnya dapat membanting anbu yang siap siaga jadi tergeletak apalagi menghajar gurunya. Paling sebelum menyerang gurunya udah tepar duluan. Minato tertawa membayangkannya. Minato pamit untuk menuju tempat latihan yang biasanya digunakan anak akademi untuk berlatih. Dia berpikir jika memang benar ayahnya adalah orang yang hebat sampai – sampai hokage memanggilnya maka ia tidak boleh mempermalukan marga Namikaze ia harus melebihi kehebatan ayahnya atau paling tidak berada sejajar dengannya.

"Aku akan menjadi hebat, sehebat Ayahku!"


Naruto telah sampai pada tempat tujuannya. Pikirannya tidak fokus selama perjalanan menuju kantor hokage. Mengapa? Naruto menggurutu sebal karena waktu makannya dipotong oleh Jijinya.

"Dasar Jiji tidak tahu diri! Waktu makanku disita!"

Komat kamit Naruto terdengar oleh Anbu di belakangnya. Anbu itu menatap naruto dengan tatapan tak percaya.

'Nih orang cari perkara, Hokage dipanggil seperti itu. Emang dia orang penting?'

Pikir sang Anbu yang kedapetan menjemput Naruto dan menerima hantaman nikmat dari orang yang sama pula.

"Hanya kau Naruto orang yang berani tidak memberikan hormat kepada Hokage. Memang minta di hajar kau lama – lama"

Kurama merasa greget ingin menggigit jinchurikinya.

'Asal kau tahu saja ya Kurama aku sangat menghargai jasa mereka yang telah berusaha untuk memberikan kedamaian kepada Konoha. Hanya saja waktunya ituloh nggak pas, baru juga aku keluar dari tempat itu, eh enggak lama diusir malah. Sekarang malah dipangggil terus dikawal lagi kayak orang tahanan aja. Baru kurutuki, belum ku-rasengan ancur nanti tuh kantor!'

"Emang kau beneran berani adu jutsu dengan Sang Professor? kemungkinan yang terjadi kau bakal kalah telak tanpa kekuatanku"

'Eh ya pinjemin dong'

"Ogah, pertarungan nggak guna. Buat apa aku buang – buang energi, mending bobok"

'Kerjaan anda cuman tifur aja, nanti gendut baru tahu'

"Mulutnya harap dikondisikan ya, nanti gua bijuu-dama baru tahu rasa!"

'Mengapa aku selalu salah?'

"Berbicara denganmu menghabiskan waktuku"

Naruto dan Anbu berada di depan ruangan Hokage. Belum sempat Anbu mengetuk pintu, Naruto yang sedang emosi menendang pintu itu sampai engselnya hampir copot. Orang yang berada di dalam ruangan yang sedang mendengarkan penjelasan dari Sandaime, kembali siap siaga jika saja ada yang berani ingin membunuh Hokage. Dalam batin, Sandaime teriak histeris tapi di luar dia menghela nafas lelah.

'Ryo ku... waktuku ... terbuang sudah... barang laknat itu pasti berkembang biak'

Kini bukan jendelanya saja yang rusak namun pintunya juga rusak. Anbu yang mengikuti naruto berkedip tak percaya. Tiga murid yang berada di depan Hokage langsung menyerang Naruto sebelum Hokage sempat menghentikan mereka, mengira dia adalah musuh padahal Naruto hanya melampiaskan amarahnya. Pertarungan pun tidak terelakkan. Naruto dengan refleknya yang beh mantap, menghindari tinjuan dari Tsunade yang mengincar mukanya yang tampan ini. Dia merubah arah jalur hantaman Tsunade ke sebelah tembok di belakangnya. Tak lupa menjungkalkan si baachan, mumpung situasi memungkinkan dia melakukan itu, kapan lagikan bisa berbuat seperti itu. Orochimaru dengan sigap mengeluarkan ularnya yang berbisa guna menghentikan kecepatan lawannya. Naruto menghindari serbuan ular dengan berjongkok saat ular menyambarnya lalu menendang Orochimaru. Naruto masih memiliki rasa tidak senang dengan pengguna ular ini maka ia tidak mengurangi sedikitpun kekuatan tendangannya. Jiraiya yang melihat Orohimaru dengan mudah dilumpuhkan dalam sekali tendangan menggunakan taijutsunya untuk mengambil celah kelengahan Naruto saat fokusnya masih pada Orochimaru. Untung saja Naruto itu cepat menangkap maksud lawan berkat pengalaman yang menempanya, telat sedetik ia mungkin kena hajaran Jiraiya. Naruto kaget bukan main saat berbagi pukulan dengan Jiraiya.

'Aku tidak pernah menyangkan akan bertemu dengannya secepat ini! Jantungku masih belum siap oy!'

"Fokus Naruto! kau ingin mendapat jari lima diwajahmu?!"

Kurama menyaksikan pertarungan yang sedang terjadi, mengingatkan Naruto untuk tetap fokus pada lawannya. Ya, meskipun mereka nggak kuat amat sih.

"Diem jangan banyak bergerak!"

Jiraiya kesal dengan kecepatan Naruto menghindari serangan

'Sumpah sejak kapan, petapa genit jadi bodoh begini?'

Naruto hampir terjatuh tadi mendengar perkataan Jiraiya.

"Lah kalian kan sebelas duabelas"

"SIALAN KAU!"

Naruto menghindari amukan Tsunade. Tsunade ingin membalas perlakuan kasar yang diterimanya. Ruang kantor Hokage bertambah rusak dengan retakan dan bentuk manusia di dindingnya. Jiraiya tambah membabi buta menyerang Naruto. Naruto mulai kewalahan melawan mereka, dia terkena beberapa serangan ditubuhnya.

'Wey! Ini curang! satu vs tiga inih!'

"Salah kau sendiri yang nyari perkara"

Naruto mulai mengeluarkan jutsunya, ia tidak ingin kalah. Orochimaru juga ikut mengeluarkan jutsunya saat Naruto mulai merapal jari jemarinya. Namun, si Profesor sudak muak dengan semua ini.

"BERHENTI BERTARUNG DIDALAM RUANGANKU!"

Amarah Hokage membara bagai tekad Api yang katanya sedang pergi entah kemana. Tentu saja, baku hantam yang terjadi pun berhenti. Mereka takut, sang Hokage bakal mengeluarkan jurusnya dan menghancurkan keseluruhan Kantor Hokage. Kalau terjadi, pasti Kantor Hokage akan direnovasi dengan tampilan gaul dan sentuhan lampu disko. Tak lupa, Sandaime akan membuat ruang rahasia yang digunakannya untuk membaca buku laknat ciptaan muridnya. Hiruzen menatap angker semua orang yang ada di sana, bahkan Sakumo yang tidak ikutan dalam acara hantam – menghantam tadi masih kena imbasnya juga.

'Seharusnya aku tidak kesini tadi, kalau pada akhirnya begini juga'

"Ini salah mereka bertiga! Sudah tahu aku cuman buka pintu, malah diserang!"

Naruto membela diri saat tatapan maut mengarah kepadanya.

"Yang salah kau lah! Sudah tahu Kantor Hokage, pintu di dobrak!"

Jiraiya tidak terima dengan pembelaan Naruto

"Mohon maaf yang ngomong harap sadar diri dulu, liat di belakang anda"

Tsunade mengingatkan kawannya yang telah menghancurkan kaca. Ia masih kesal dengan Naruto yang dengan mudah menetralisir pukulannya.

'Entah mengapa kalian berdua sama – sama bodoh'

Orochimaru udah klub kalau Jiraiya dengan Si Pirang ini memiliki kesamaan yang nggak ketulungan. Anbu yang sempat nongol, pergi dari tempat kejadian perkara. Dikarenakan mereka masih menginginkan profesi menjadi anbu. Jadi mohon maaf saja, perkara ketiga murid plus jounin dengan satu orang aneh ini bakal diambil pangkatnya, sama dengan mereka angkat tangan.

"Gunanya pintu kan buat didobrak!"

Naruto tak mau kalah dalam adu bacot nggak guna dengan Jiraiya

"Kami-sama!"

"Cukup! Yang penting sekarang kita kesini tujuannya untuk apa!"

Orochimaru sudah capek melihat pertengkaran tidak jelas teman setimnya ini.

"Betul juga omongannya si Ular"

"Kau! Ingin kubuat jadi bahan eksperimen!"

"Kalian ingin kubakar?"

Mereka menoleh ke Sandaime yang masih menata kembali paperworknya yang berterbangan kesana kemari.

'Oh, si kakek marah'

"Mampus kau"

"Oi Pak tua, jelasin!"

Jiraiya yang tak tahu dengan situasi saat ini, ditampol dengan tongkat sakti Sandaime yang muncul entah sejak kapan. Teparlah si Jiraiya.

'Untung langsung berhenti'

Pikir mereka yang tidak segila Jiraiya.

"Kesabaranku terkuras gara – gara kalian, daripada aku melihat kalian terus membuat ku ingin muntah, mending aku ngerjain nih benda"

"Mulai strees nih Hokage"

'Rasain!'

Suasana kembali tenang, adrenalin meninggalkan tubuh. Hokage menjelaskan maksudnya untuk mengumpulkan ketiga muridnya dan Sakumo. Menurutnya, mereka adalah segelintir orang yang dia percayai untuk mengetahui keberadaan Naruto. Walaupun Sandaime tidak akan menjelaskan sedetail – detailnya karena semua itu masih masuk dalam privasi Naruto dan Naruto sendiri telah memberitahunya untuk tidak memberitahu kejadian di masa depan kepada siapapun.

"Aku ingin memperkenalkan dia sebagai rekan kalian yang baru"

Hokage menunjuk Naruto. Naruto yang merasa kalau si Jiji memintanya untuk memperkenalkan diri langsung memasang tampang profesional handsome dan tampan.

"Perkenalkan namaku Naruto Namikaze!"

Semua menatap Naruto dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Naruto bergantian menatap wajah – wajah muda para veteran di masanya. Matanya berakhir pada sang guru. Reaksi naruto melihat Jiraiya hidup kembali adalah kaget, senang, sedih, marah, jengkel bercampur aduk menjadi sebuah adonan yang bernama emosi. Naruto bisa melihat bagaimana sang Sensei masih muda sekali, tanpa ada keriput, tanpa ada tanda – tanda penuaan oh udah keliatan sedikit dan yang pasti Senseinya ini bernafas, bergerak, dan sekarang sedang memandangnya dengan sengit pula.

'Petapa genit...'

Ingin rasanya Naruto menangis sekaligus bahagia bisa bertemu sang guru sekali lagi untuk mengucapkan terimakasih atas segalanya. Ia ingin sekali senseinya bisa melihat kalau dia bisa menggunakan kekuatan alam Sage Mode.

"Tahan air mata buayamu itu Naruto. Nanti yang ada kau malah kelihatan aneh"

Kurama paham kalau Naruto sedang dilanda gundah. Untuk menghilangkan kesedihan Naruto berpaling memandang ke Tsunade yang tampangnya sebelas duabelas dengan di dunianya, paling nggak yang membedakan hanya sekarang wajah Tsunade kelihatan agak kusut. Nah kalau si pucat, Naruto malas berkomentar. Menurutnya tidak ada perubahan, tampang Orochimaru membuatnya muak, di dunianya maupun di sini. Biasalah, Naruto punya dendam kesumat dengan si ular.

'Kepingin gua tinju ni orang'

"Dua in"

Kalau sosok yang terakhir ini Naruto tidak tahu.

'Duh kok si silver mirip banget dengan Kakashi-sensei ya?'

"Ya gimana nggak, dia itu bapaknya gurumu bodoh!"

'Uaaappppaaa? Gua baru nyadar, pantes tampang ogah ogahan banget'

Teliti Naruto melihat kesamaan fisik dan cara Sakumo siaga dengan gurunya yang sering kesasar di jalan bernama kehidupan.

'Jangan – jangan sifatnya Kakashi-sensei turun temurun'

"Kami udah tahu namamu, langsung saja ke intinya Sensei!"

Jiraiya merasa muak melihat Naruto yang dapat memikat Tsunade. Tsunade harus mengakui sesuatu setelah menenangkan amarahnya. Ternyata kalau dipikir – pikir lagi, si Pirang ini memiliki wajah yang tampan dengan senyuman manis yang khas. Orochimaru curiga dengan Naruto karena keberadaaanya yang tiba – tiba muncul disaat situasi seperti ini. Sakumo paham dengan maksud Hokage dia tidak akan kaget kalau Sandaime memiliki agennya tersendiri.

'Apakah dia tidak terlalu muda untuk menjadi rekan kami? Apa yang sebenarnya Sandaime rencanakan?'

Pikir Sakumo melihat usia Naruto. Tapi mungkin ini termasuk dalam rencana rahasia Sandaime. Lagipula saat ini desa dibagi menjadi tiga kubu, jadi Sakumo merasa senang kalau hokage memiliki intel lain

'Apa ada yang salah dengan wajahku?'

Naruto dapat merasakan kalau dia tatap terus menerus oleh Sakumo. Padahal Naruto tidak tahu menahu tentang intel. Jika memang benar dia akan dijadikan intel oleh Sandaime, ia tidak mengetahui seluk beluk hal – hal yang fital mengenai perkembang Konoha. Terlebih pada yang menjerumus ke golongannya yang darkside. Mendengar sejarah saja malas apalagi membaca sejarah Konoha.

'Entah mengapa aku bakal menyesal nggak baca sejarah Konoha maupun perang dunia yang lain'

"Derita anda harap ditanggung sendiri"


Iyak, cukup sampai disini dulu

Tunggu chapter berikutnya

Author, balik pulang