Readers!
Bagaimana kabar kalian?~
Author balik membawakan Up terbaru!
Wwwwwwwwwuuuhhhhhuuuuuuuuu~
Terimakasih udah pada mau nungguin, menyukai, dan support~
Bagi kalian yang nunggu scene fluff antara bapak dan anak... harap sabar menanti
Maaf kalau humornya garing karena Author juga udah berusaha
Semangat untuk kita semua!
Naruto milik Masashi Kishimoto
Sandaime: Kapan selesai nih casting?
Author: Masih lama kek, emang kenapa?
Sandaime: Dah laper... ambilin makan gih
Author: Oci~
Enjoy~
"Oy!" : berbicara
'Sial' : berpikir/membantin
"Bodoh" : bijuu/hewan kuchiyose berbicara
"Mulai sekarang kalian akan bertemu dengan dia terus"
Ucap Sandaime sambil menyembulkan rokoknya. Dia sangat membutuhkan asupan nikotin untuk menghadapi kegilaan hari ini. Mereka semua terkaget tidak akan menyangka mendapatkan partner baru dalam urusan misi.
"Tunggu maksudnya kita bakal bekerja sama dengan dia?"
Jiraiya tak percaya dengan realita yang menamparnya.
"Muka masih kayak bocah begini? Melihatnya saja membuatku muak"
Untuk ini saja Orochimaru mau sependapat dengan si ubanan.
"Kurang ajar! Anda minta di kubur ular?"
Tangan Naruto gatal ingin menghajar si pucat.
"Hayok! coba saja kalau berani!"
Terlihat percikan ketidak sukaan di antara mereka. Jiraiya mah sumringah akhirnya si rival yang katanya memilik IQ tinggi ini mau mengalah menjadi sekutunya.
"Ano... Naruto-san sebenarnya anda dari mana saja? Kami tidak pernah bertemu dengan anda?"
Sakumo mempertanyakan asal – muasal Naruto yang membingungkan.
"Jangan – jangan kau itu penyusup!"
Orochimaru angkat bicara.
"Mana ada! Sumpah kau ingin minta dihajar pucat?"
'Seharusnya ku rasengan aja dia dari tadi daripada Jiji harus pusing – pusing memikirkan anak didik nggak guna macam dia'
Naruto merutuki pemikiran Orochimaru yang menyudutnya.
"Bukankah kau ingin mengubah beberapa skenario, Naruto?"
'Hiiisshh haruskah aku menolong nih orang?'
"Pikirkan mungkin saja bila si pucat itu tidak membelot maka Konoha mendapat bantuan yang sangat besar"
Kurama memberikan gambaran besar dari rencana yang akan dilakukan Naruto.
'Betul juga usulmu'
Naruto mengiyakan.
"Tapi kalau kau malas, menurutku sih sikat aja sekarang mumpung belum jadi biang kerok"
Seringai muncul di wajah Kurama. Dia sudah berandai – andai apa yang akan dialakukan pada si ular jika Naruto menyetujui usulannya.
'Sebenarnya kau ini ingin memberiku solusi yang baik atau nggak sih?'
Naruto bingung dengan pemikiran Kurama yang agak plin plan. Kadang memberi saran bagus tapi dia juga sering memberi saran yang mengerikan.
"Saya kan tidak suka dengan semua yang berbau Uchiha dan ular"
Kurama menjawab enteng.
'Jadi menurutmu mereka semua harus dibasmi?'
"Iya..."
'Ya janganlah Kurama!'
Naruto jantungan.
"...kalau bisa. Kau belum mendengarkan semua yang kuucapkan"
"Kuylah baku hantam saja, kita lihat apa kau itu benar – benar salah satu dari ninja Konoha atau nggak!"
Jiraiya memanas – manasi keadaan.
"Bukankah aku sudah menggunakan Hitaiatte Konoha!"
Naruto menunjuk kepingan logam di kepalanya. Setahunya tidak ada perubahan lambang hitaiatte sejak Konoha dibangun. Bahkan lambang itu sama persis dengan yang mereka pakai.
"Vestmu sangat berbeda dengan apa yang kami pakai"
Tsunade menolak untuk percaya begitu saja.
"Ya gimana nggak beda, aku kerjaannya keluar desa muluk!"
Naruto mulai sebal ditanyakan terus.
'Emang aku kelihatan beda banget?'
"Setahuku sih kau kelihatan aneh banget"
'Nggak tanya pendapat anda'
"Betulkah itu Sandaime-sama?"
Sakumo beralih ke Hokage yang katanya telah memberikan misi tanpa libur ke Naruto.
"Iya aku menugaskan dia keluar desa karena dia lebih cocok dalam urusan seperti ini"
Naruto mendelik menantang siapa aja yang berani melawan perkataan Sandaime.
"Dengan rambut pirang mencolok begitu?"
Jiraiya nggak percaya.
"Harap jangan bawa – bawa warna rambut saya!"
Naruto paling sebal jika seseorang mempertanyakan warna rambutnya. Rambut ini kece tau nggak sih! Nggak ada yang nyamain!
'Tapi kan anda masih seumuran dengan saya? Bagaiamana bisa Sandaime-sama memberikan misi spesial ke anda?'
Sakumo membantin merasa kalau dirinya tidak lagi 'agen' favorit sang Hokage.
"Terus kau sudah kemana saja?"
Tsunade tertarik dengan petualangan Naruto mengunjungi negri lain.
"Bukankah kau bakal diserang kalau melintasi perbatasan?"
Orochimaru ikut serius dengan diskusi mereka.
"Aku sering menuju kepedalaman saja, tidak mendekati desa sebelah. Aku tidak ingin dikejar dan dikira pengintai oke!"
Naruto menjawab singkat. Dia tidak ingin memberikan informasi lebih, takut ditanyakan lebih lanjut.
"Lah misi luar desa itu, bukannya mengintai?"
Jiraiya merasa ada yang aneh. Naruto mulai bingung harus berkata gimana. Dia harus berimprovisasi terus supaya ni orang nggak curiga.
"Sandaime hanya memberikan misi rahasia kepadaku saja, dan aku tidak bisa memberitahu kalian"
Naruto menjawab dengan mode serius. Kata Kakashi-sensei pada saat dia memasuki mode ini, orang yang melihatnya bakal langsung tegak dan ikut serius. Sandaime harus mengakui jika Naruto mempunyai apa yang dibutuhkan untuk menjadi Hokage.
'Kok tiba – tiba serius ya?'
Jiraiya merasakan sensasi aneh yang mengaharuskannya untuk fokus pada pertemuan ini.
"Kau sangat mencurigakan"
Orochimaru masih kekeh pada pendiriannya.
"Jika kau tidak percaya, tanyakan saja langsung pada yang buat acara ini"
Akhirnya fokus mereka kembali pada kepala suku.
"Sudah kubilang aku yang mengutusnya untuk misi keluar desa"
Hokage angkat bicara.
"Tapi ini aneh, kau bisa menggunakan Anbu untuk misi sekaliber pengumpulan informasi luar desa"
Orochimaru tidak terima kalau eksitensinya sebagai murid terjenius di kalangan angkatannya bakal diambil oleh orang yang keberadaanya tidak diketahui sama sekali. Kan tercoreng nanti dia.
"Mengapa kalian mempertanyakan pilihanku? Apa kalian memiliki hak untuk melakukan itu"
Serentak mereka dan Anbu yang masih menguping merinding mendengar nada bicara Sandaime berubah menjadi sangat rendah dan dingin.
"Bukan maksud kami untuk mengejek maupun mencemooh pilihammu Sensei, tapi aku harus menyetujui Orochimaru. Semua ini terlihat sangat aneh"
Jiraiya agaknya mengerti maksud Orohimaru, ya walaupun salah banget.
"Kami hanya memastikan kalau Sensei tidak dipegaruhi oleh orang ini"
Tsunade ikut membela Orochimaru.
"Dipengaruhi?"
Sakumo penasaran dengan ucapan Tsunade
"Apa yang kau temukan di perbatasan desa?"
Hokage merasa curiga.
"Kami menemukan beberapa ninja yang terkena pengaruh oleh suatu jutsu"
"Maksudmu genjutsu?"
Naruto merasa familiar dengan jutsu itu.
"Tidak mungkin klan Uchiha membelot"
Sakumo menimpali.
"Kalau dilihat dari sejarah mereka, aku tidak akan kaget jika suatu saat klan itu akan menikam kita dari belakang sama seperti apa yang Madara Uchiha lakukan pada Hashirama Senju"
Orohimaru memiliki spekulasi yang sama dengan Sakumo. Sejarah telah berkata dan kini klan Uchiha masih dalam pengawasan yang ketat. Mereka juga masih memiliki kedudukan yang tinggi dalam desa. Itu semua berkat ketua klan mereka Madara Uchiha yang menjadi salah satu pendiri Konoha.
'Woh ini omongan berat'
Naruto menyadari diskusi ini membelok kearah yang dalam.
"Tak kusangka bakal beralih kesini"
Kurama juga ikut menyimak.
'Ada yang aneh dengan pengucapan si pucat'
"Napa?"
'Bentar deh, sepertinya aku pernah membahas pembelotan Klan Uchiha dengan Sasuke'
"Tumben kau tidak berantem dengan si pantat ayam"
'Ishh udah kelar kelahinya...Kurama kau membuyarkan konsentrasiku!'
"Halah, kau saja yang punya sirkuit mengingat yang hampir putus"
'Ah! Kutukan Uchiha! Aku harus memikirkan ini'
Naruto mengambil pose berfikir.
"Terserah kau saja, aku tidak mau ikut campur dengan semua yang berkaitan dengan Uchiha"
"Lupakan masalah klan Uchiha, kita bisa membahasnya lain waktu"
Hokage menghempaskan pemikiran negatif tentang klan yang pernah bersiteru dengan Niidaime.
"Kau selalu berkata seperti itu. Kau selalu menghindar dari pertanyaan yang mengarah ke klan itu. Apa yang akan kau katakan pada rapat urusan desa nanti?"
Sepertinya bukan Jiraiya saja yang cari mati tapi Orochimaru juga yang sedang memojokkan si Sandaime untuk mengungkapkan mengapa klan Uchiha sangat dispesialkan dalam urusan ketata desaan.
"Cukup! Itu bukan urusanmu, Orochimaru. Tugasmu hanyalah menerima misi dari ku"
Sandaime sudah muak dengan pertanyaan itu setiap kali mereka bertemu. Sandaime menatap datar ke muridnya yang mulai berubah. Dari sikap hingga tata bicaranya. Orochimaru mendecih melihat perilaku Sandaime.
'Aku bukan anak kecil yang bisa kau suruh terus'
Ruangan menjadi hening tidak ada yang berani bergerak , bahkan Anbu yang tugasnya dibalik layar pun ikut terdiam. Mereka takut kena imbas dari kemarahan sang profesor.
'Kok tiba – tiba jadi horor?'
"Tanyakan pada awan di atas sana"
"Ehem, Sandaime-sama jadi untuk apa saya dipanggil kesini? Baru juga ketemu sama anak saya yang dikira hilang"
Naruto sengaja mencoba mencairkan suasana yang semula sedingin es milik Klan Yuki di desa sebelah. Dalam benak Sandaime, dia tengah memikirkan latihan apa yang cocok untuk Jiraiya dan Orochimaru karena mereka berdua berhasil membuat dirinya hipertensi akut. Sandaime tidak mau mati muda, jadi dia harus melampiaskan amarah. Menghirup nafas banyak untuk menghilangkan stress.
"Aku ingin mengangkat Naruto menjadi 'Shien' yang nantinya menjadi tangan kanan ku atau angin yang menjadi pengabar Hokage yang menerima misi langsung dariku. Aku ingin memberikan pangkat yang se level atau mungkin melebihi kalian semua. Yang pasti lebih tinggi dari jounin maupun Anbu. Pangkatnya tepat dibawah pangkat Hokage"
Semua orang terkaget, mereka tidak akan menyangka kalau Sandaime akan memberikan kabar yang begitu mengejutkan pada mereka. Tentu saja Naruto ikut terkejut juga.
"Ngapain ikut kaget juga!"
Jiraiya heran dengan nih pemuda.
"WADAW?, WHAT?!, Apa?!"
"Boleh juga"
"Tunggu! Kau tidak membertahuku tentang hal ini!"
Naruto berusaha menolak tawaran itu karena dia sudah terbebani untuk menjadi seorang ayah dan sekarang Hokage ingin menjadikannya tangan kanannya?. Bukankah itu membuatnya menjadi super sibuk.
'Sialan! Apa si Jiji punya dendam kesumat dengan ku?!"
"Sepertinya iya atau emang nasibmu nggak ada yang baik"
'Demi Rikudou-Sanin yang nggak bisa ngomong bahasa gaul! Dari tadi aku diseret terus - terusan di rencananya! Aku juga mau nyantuy wey!'
"Bukankah dikamus mu tiada hari tanpa melakukan sesuatu yang tidak berfaedah? Lagi pula di zaman ini mana bisa santai"
"Halah kalau aku memberitahumu yang ada kau malah langsung menolaknya mentah – mentah"
Hokage tetap pada pendiriannya. Ia mulai memaksa agar Naruto menyetujui ini. Jika pun Naruto tidak menyetujui ini, dia akan memaksa sebagai pimpinan tertinggi desa ini menggunakan jabatannya untuk menjadikan Naruto sebagai Shien. Dia kan terkenal sebagai Sang Professor yang punya banyak rencana. Satu rencana nggak kena masih ada 1000 rencana menanti.
"Nggak masuk akal sama sekali!, aku tidak setuju!"
Jiraiya bersuara.
"Tidak ada yang menanyakan pendapatmu. Kau bukan salah satu dari klan"
Ucapan Tsunade sangat menohok hati Jiraiya, kini dia pundung di pojokan ruangan. Naruto mulai resah melihat tingkah laku nyeleneh dari sang master.
'Ini Petapa Genit belum tuntaskah pubernya? Kok dia gak jelas banget?'
"Baru nyadar? Kemana saja anda selama ini? Anda juga sudah terpapar dengan ketidak jelasannya"
'Aku merasa Klan di zaman ini agak rasis'
"Memang seperti itu dari dulu"
'Sensei sudah mulai lelah kah jagi hokage?'
Menurut Orochimaru dan lainnya mandat ini terlalu terburu – buru seperti ada maksud tersendiri yang Hokage ingin sampaikan pada Naruto saja. Naruto berkeringat dingin dipandang penuh selidik oleh keempat ninja didepannya sedang yang lain mempertanyakan kewarasan sang hokage.
"Sandaime sama apa ajudan anda tahu dengan ini?"
Sakumo agak curiga dengan informasi yang terlihat kosong di penjelasan Hokage.
"Itulah mengapa aku memberitahu kalian dulu sebelum ke mereka"
"Mengapa ke kami? Bukankah itu sudah tanggung jawab mereka untuk mengetahui ini?"
Tsunade ingin tahu apa saja yang disembunyikan oleh senseinya.
"Aku ingin kalian memberitahukan Naruto tentang keadaan situasi dan kondisi saat ini"
"Bukankah sebagai ninja dia seharusnya tahu yang beginian"
Sandaime sukses mengalihkan perhatian mereka ke arah yang ia tuju.
"Naruto mendapatkan misi spesial yang membuatnya tidak tahu apa yang terjadi saat ini. Jadi aku ingin kalian menjadi partnernya sementara sampai dia paham dengan semua ini"
Mendengar ini mereka dibuat bertanya - tanya tentang misi spesial plus rahasia apa yang dilakukan Naruto hingga membuatnya tidak paham dengan keadaan yang sedang menerpa dunia. Naruto menatap penuh jengkel kearah Sandaime. Dia merasa sengaja disudutkan oleh Sandaime.
'Sial tuh Jiji ngelempar semuanya ke aku'
"Jadi kau itu manusia batu yang sampai – sampai tidak tahu situasi sekarang?"
Jiraiya meledek Naruto.
"Mana ada! Kan sudah kubilang, aku mendapatkan misi 'spesial' s-p-e-s-i-a-l! Paham nggak sih dengan kata spesial! Tidak seperti kau"
Naruto meremehkan Jiraiya. Jiraiya ingin sekali menghajar senyum miris yang terpampang diwajah Naruto.
"Ini akan menjadi masalah baru"
Sakumo menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Iya"
Tsunade menyetujuinya.
"Masalah apa?"
"Masalah dimana pangkat melebihi kita semua, bayang kan apa yang akan ketua klan lain katakan"
Orochimaru menjelaskan secara singkat ke temannya yang rada nggak pinter. Semuanya terdiam, mereka tahu omongan Orochimaru itu tepat pada sasarannya.
"Aku tetap pada pendirianku"
Sandaime tidak membuka ruang perdebatan lagi.
"Aku bisa membayangkan segimana heboh nanti saat rapat ketua klan"
Tsunade memijit keningnya yang mulai sakit.
"Kacau"
Bagi mereka yang masih ada sangkut pautnya dengan klan pasti paham apa yang mereka bicarakan. Tsunade dan Sakumo sudah bisa membayangkan segimana nantinya ada adu bacot yang tidak akan kelar dari pagi ketemu pagi lagi. Pasti bakal banyak yang menolak, tapi masih ada yang akan memihak Hokage, ataupun yang ditengah. Lempar perbedaan pendapat pasti terjadi dan pastinya akan berakhir dengan salah satu klan akan merasa terhina (semisal Uchiha).
"Apalagi kita akan berurusan dengan Uchiha"
Sakumo menghela nafas berat. Dia adalah ketua klan Hatake.
"Mereka cerewet!"
Tsunade juga ketua klan Senju dan dia sering ikut adu bacot dengan Uchiha. Hokage memijat kepalanya sepertinya baru memikirkan konsekuensi yang akan dia terima saat rapat desa merangkap ketua klan nanti.
'Oh iya klan uchiha masih ada'
"Kau membuatku ingin menggigit sesuatu"
Naruto baru teringat tentang Klan Uchiha yang masih berjaya di jaman ini. Perdebatan pun muncul kembali dan Naruto hanya menyimak saja. Dia tidak punya urusan dengan hal ini. Pada akhirnya anak didik Professor tidak menyetujui apa yang diusulkannya. Kasihan...
"Bagaimana kalau kita adakan tes supaya tahu seberapa kuat Naruto. Dengan begitu kita bisa menilai apakah dia cocok menyandang jabatan itu"
Tsunade ternyata pintar juga. Hokage tersenyum sumringah sepertinya ia juga ingin melihat sebagaimana kuatnya Naruto.
"Jadi kalau kalian sudah melihatnya?"
"Kami tidak akan menolak"
Giliran Jiraiya mengatakannya, lagipula senseinya ini tidak pernah ceroboh dalam memilih intel. Pasti ada sebab mengapa ia memilih orang ini menjadi tangan kanannya.
"Itupun kalau dia berani"
Orochimaru melirik dengan tatapan menantang.
"Anda nantang saya? Oke! Jangan salahkan aku jika aku menghajarmu begitu kuat"
Naruto menerima tantangan. Tangannya sudah gatal dari tadi ingin mengeluarkan jutsu untuk membuat orang didepannya modar.
'Akhirnya aku bisa menghajar si muka pucat!'
"Baiklah dilaksanakan besok"
Sandaime dengan santai menentukan kapan mereka mengadakan duel.
"HA?!"
Keempat orang berteriak lantang.
"Itu terlalu dekat! Kami baru saja datang dari misi!"
"Ya ampun Jiji! Aku baru datang hari ini! Besok udah mau tanding! Kau tidak mikir seberapa penatnya kepala ku memikirkan ini semua!"
Naruto mengacak – ngacak rambutnya yang udah nggak beraturan.
"Itu masalah anda. Pokoknya saya ingin besok. Titik nggak ada koma. Mandat Hokage!"
"Heeeeeee kau takut? Kau pasti hanya ingin mengulur waktu untuk mempersiapkan rencanamu kan?"
Orochimaru sepertinya senang sekali membuat Naruto marah. Naruto beneran ingin mengubur hidup – hidup si ular dengan seringainya yang menjijikan.
"Lebih cepat lebih baik, agar tidak banyak orang yang nantinya mempertanyakan anda"
Ucap Sakumo, dengan cepat menangkap maksud hokage. Naruto menghela nafas berat.
"Baru juga aku bertemu dengan anakku..."
"Lah muka begini udah punya anak?! ckckckck pasti pas masih muda kau sudah mendorong cewek ya? Gimana caranya? Bagaiamana rasanya? Apa beda dengans sensasi-..."
Pertanyaan Jiraiya diputus oleh Tsunade yang menghajarnya kelantai hingga orang yang berada di lantai bawah bisa melihat kepala Jiraiya.
"Astaga! Ada gempa bumi?!"
"Nggak itu pasti muridnya Sandaime-sama..."
"Oh iya tadi aku melihat mereka masuk kedalam..."
Begitulah perbincangan kedua ninja yang melihat muka Jiraiya dan meninggalkannya.
"Wey ditolong! Jangan ditinggal!"
Tidak ada yang membantu Jiraiya sama sekali. Sungguh na'as sekali nasibmu pak petapa genit.
"Aku tidak akan mengira muka comel macam remaja ternyata udah punya istri"
Tsunade bergumam yang didengar oleh Naruto.
"Ya maaf membuat dirimu kecewa. Makasih loh atas sanjungannya. Aku sekarang masih single kok punya anak satu... tertarik?"
Naruto menggoda Tsunade yang mukanya telah memerah malu.
"Istri anda?"
Sakumo mempertanyakan apakah Naruto ini tipe orang yang mengumpulkan 'harem'.
"Sudah wafat terkena penyakit akut"
Naruto memasang wajah sedih, sesedih dirinya yang sadar bahwa kini dia tidak bisa berjumpa dengan sang pujaan hati. Apakah ia akan menjomblo untuk selamanya? Tidak ada yang tahu.
'Kami-sama berilah hamba jodoh! Hamba tidak ingin perjaka selamanya!'
Batin Naruto berteriak histeris.
"Doa yang nggak beres... moga aja dikabulkan"
Kurama ikut mengaminkan.
"Turut berduka cita"
Sakumo dan Tsunade juga ikut mengucapkan hal yang sama. Sandaime bisa melihat menembus topeng yang Naruto pasang.
'Sungguh hebat caramu memanipulasi perasaan orang'
Dasar Profesor semuanya diteliti.
"Siapa nama anakmu... oh tunggu biar kutebak pasti punya rambut macam kau"
Jiraiya berhasil keluar dari mukanya yang terjebak oleh lantai.
"Yaiyalah namanya juga anak! Ya harus punya ciri khas orang tuanya dong. Namanya Minato"
"Oh... Tunggu?! bukankah dia yang ingin sensei jadikan muridku?!"
Seketika hening melanda. Naruto menatap killer ke arah Hokage yang sempat – sempatnya minum teh. Udah nggak mau bagi – bagi lagi!
"Ditolak! Jangan biarkan si nggak jelas ini jadi guruya anakku"
Protes Naruto pada Hokage.
"Wey mohon maaf! aku ini cocok menjadi guru orang jenius. Aku kan jenius!"
Jiraiya membanggakan dirinya sendiri. Semua orang disitu menatap datar kedirinya.
'Darimananya cobak?'
Mereka berucap serempak dalam hati.
"Maaf ini semua sudah dipikirkan dengan matang – matang. Minato akan dididik oleh Jiraiya"
"Hah! Denger tuh pirang!"
'Oh tidak... aku tidak ingin anakku yang imut dan comel ternodai oleh petapa genit! Tidakkk!'
"Kau terlalu drama banget. Si nggak jelaskan emang senseinya Minato dari dulu"
'Tapi aku masih nggak percaya membiarkan anakku satu satunya dididik oleh orang nggak jelas macam dia!'
"Oh jadi anda sekarang overprtective sama anak?"
Kurama menyeringai setan.
'Biar dikata apapun, ku tampol semua orang yang berani memberikan efek negatif pada anakku'
Lirikan mata Naruto menjadi sangat sinis.
"Kumat"
Setelah perdebatan panjang dan dirasa sudah, Hokage membubarkan si trio. Trio murid pergi melakukan kegiatan mereka sendiri – sendiri, maklumlah mereka sudah tidak pulang ke desa selama 3 bulan jadi mereka rindu dengan desanya yang mereka cintai~. Sakumo masih dengan setia menunggu perintah untuk dibebaskan, tapi sepertinya dia dilupakan lagi. Saat itulah Hokage menanyakan tentang bagaimana keadaan Naruto saat bertemu dengan Minato.
"Bagaimana dengan Minato?"
"Apanya yang bagaiamana?"
"Kau tahu apa yang kumaksud, Naruto..."
Hokage menatap malas kearah Naruto. Dengan senyum matahari Naruto menceritakan pengalamannya.
"Jiji! Dia sangat bahagia melihatku! Dia langsung memelukku... kukira aku bakal di lempar kunai dan shuriken tadi..."
Naruto sudah siap kalau dia akan dihajar atau dilempari barang lancip. Dia teringat pada saat pertama kali bertemu dengan sang ayah. Naruto langsung meninju perutnya karena kesal. Naruto disini bukan ayah asli dari Minato dan dia tidak ingin merasakan hal itu, terima kasih.
"Ku kira kau akan dihajar"
Ngarep banget si Hokage melihat Naruto menderita.
"Oh jadi itu sebabnya kau menitipkan Minato ke panti asuhan?"
Sakumo ikut nimbrung.
"Yang bener aku menitipkan anakku ke Sandaime. Eh malah sama dia ditaruh di panti asuhan"
Giliran Naruto memojokkan sang Hokage setelah tadi dipojokkan. Sandaime memasang wajah tak bersalah.
'Sialan kau Naruto'
Sakumo memandang kearah Hokage yang sedang mengumpat si pirang.
"Ah maaf, Sakumo. Kau bisa keluar"
Akhirnya Hokage memperbolehkan Sakumo keluar dari ruangan itu. Naruto yang masih tahu diri akhirnya menyudahi acara memojok dengan menukar pembahasan mereka.
"Tidak bisakan dirunding lagi? Hatiku tidak tenang melihat anakku dididik oleh si petapa genit"
Hokage mengkuti arahan si Naruto.
"Kau masih mempermasalahkan tentang Minato?"
"Ya iyalah! Sebagai orang tua saya khawatir!"
"Tapi anda kan belum pernah menjadi orang tua?"
"Bukankah kau sendiri yang bilang kalau ayahmu memang dididik oleh Jiraiya? Lagipula jika pun aku mengganti gurunya yang pasti bukan kau"
"Hiks... ucapanmu menohok hatiku"
"Memang bukan begitu cara pengajarannya. Seorang anak lebih baik diajarkan oleh orang lain, agar anak tidak terlalu manja dengan orang tua mereka"
Hokage memberikan nasihat pada Naruto yang tidak digubris sama sekali.
Bersambung~
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Author out~
Ketemu lagi~
