Ollaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~

Readers!

Jumpa lagi dengan saya si Author~

Kali ini saya membawakan chapter baru~

Untuk kalian yang menunggu momen fluff Ayah dan Anak... mohon bersabar

Kalau soal kenapa lama upnya... itu gegara hidup

Eheq~

Dahlah monggo dibaca

Naruto: Jadi aku harus teriak gajel gituh?

Karias: Ho'oh

Naruto: Mondar – mandir gituh?

Karias: Ho'oh

Naruto: Sambil gerak – gerak nggak jelas juga?!

Karias: Ho-...

Sakumo: Woy cukup! Kapan selesainya ini?!

"Hadoy": Berbicara

'Tidak~': Membatin/berfikir

"Cukup": Bijuu/Hewan kuchiyose berbicara

Enjoy~


Dengan berat hati, Naruto harus mengakui kalau omongan Sandaime itu memang benar adanya. Dulu pada saat dia masih kecil, orang tua teman – temannya tidak ada yang menjadi guru.

'Atau mungkin Sandaime sengaja melakukan itu... hayooo diriku nggak boleh negative thinking ama kakek sendiri'

"Menurutku, kau berhak berpikiran negative seperti itu. Kau hanya mengetahui kakek yang baik dan penyayang.. bukan Sandaime yang gagah dan muda"

'Apa menurutmu aku telah melakukan sesuatu yang salah?'

"Entahlah... keputusan ada ditanganmu dan kita hanya bisa menjalaninya aja"

'Tumben mendalam banget'

Naruto menatap lekat – lekat si kakek yang masih berumur muda. Hatinya jadi bimbang gegara memberikan informasi dari masa depan tanpa memikirkannya terlebih dahulu.

'Huff... kalau memang terjadi... ya udah terjadilah'

"Kapan aku di bebaskan dari sini?"

"Ya kalau anda mau keluar silahkan"

Hati Naruto berbunga – bunga akhirnya bisa keluar dari nih ruangan. Baru juga Naruto beranjak keluar dari sana ia teringat sesuatu yang sangat penting.

"Eh! Jiji! hampir lupa aku, rumah diku dimana!?"

Nggak mungkin kan orang gans macam Naruto tidur di amperan warung ya, kalik bisa hilang karismanya sebagai ikemen. Alhasil dia minta rumah ke Jijinya, antara nggak tahu malu atau emang lagi kepepet. Si Hokage nepok jidatnya yang kinclong baru mengingat itu juga.

"Hokage masih umur 30-an... tapi kok udah pikun?"

'Maklum salfok ama saya'

"Idih"

'Hilih, jadi hokage itu susah tahu!'

"Kayak yang ngomong pernah melaluinya aja..."

'Saya sudah dilatih sedemikian rupa tapi pada akhirnya terlempar ke masa lalu yang nggak ada sangkut pautnya dengan hidup gua'

"Turut berduka cita"

"Ada rumah besar yang ditinggalkan oleh klan terdahulu, mungkin kau bisa menggunakannya untuk membangun klan baru"

"Lah kok klan baru!? Ane masih belom siap lah!"

"Ayolah, cepat atau lambat nama margamu bakal tersebar seantero dunia... pastinya kau akan ditunjuk untuk membuat klan"

"Astaga! Aku tidak ingin begituan!"

"Mau tidak mau kau akan menjadi ketua klan"

"Tapi Jiji! itu nggak mungkin! Cuman ada aku sama Minato, nggak cukup menjadi sebuah klan!"

"Kata siapa nggak cukup? Anakmu kan laki – laki, berarti kau sudah mempunyai penerus untuk membawa klan"

Naruto menatap horor kearah Sandaime.

'Wanjir... aku benar – benar terperosok kedalam jebakannya'

"Ckckckckck, licik banget"

"Haduh kepalaku tambah pusing"

"Baru juga diberitahu kayak begini, belum nanti kau ikut rapat klan desa nanti"

"Apa wajib ikut?... boleh skip?"

"Wajib hukumnya, jika kau tidak mau rumahmu dan semuanya disita"

Kini Naruto merasa dirinya kena mabuk darat, baru juga ia terdampar dan sekarang sudah mendapat tugas yang berat pula.

"Hiks..."

"Dahlah keluar keberadaanmu membuatku tambah ubanan"

Sandaime memeriksa rambutnya. Dia yakin habis ini dia bakal nemu rambut putih baru. Naruto menatap datar kearah kakeknya yang bukan kakek.

"Dahlah saya mau cari tuh rumah. Awas kalau mau roboh, bakal ku ancurin kantor hokage. Jangan lupa tuh putih belum dikerjain"

Naruto meninggalkan Sandaime yang sedang merutuki kertas putih berhuruf hitam itu. Keluar dari kantor hokage, Naruto bergegas untuk menemukan sang anak.

"Paman! Mana anak saya!"

Naruto yang tidak melihat keberadaan Minato langsung menatap si paman pemilik kedai ramen dengan seksama.

"Tadi Minato langsung meninggalkan tempat ini"

"Waduh... aku kehilangan anak!"

"Baru juga dititipin tadi... bandel juga ternyata, macam bapaknya"

'Woy!'

"Minato!"

Naruto mencari kesana kemari sambil memanggil anaknya berkali – kali hingga mendapat pandangan aneh dari para penduduk yang mendengarkannya.

"Gua malu punya jinchuriki kayak lu"

Sakumo yang kebetulan mampir beli dango tadi melihat gelagat Naruto yang nggak jelas.

'Naruto-san ngapain? Kayak orang ilang aja'

"Haduh anak gua kemana? Mana nggak ada tempat pengeras suara lagi!"

"Naruto-san! Cari siapa?"

Naruto melirik kebelakang berpaspasan dengan si tampang jutek.

"Eh etto..."

Naruto tidak mengetahui nama si silver, lupa mau ngajak kenalan tadi.

"Ah nama saya Hatake Sakumo"

"Ah iya yang tadi ada di kantornya Jiji"

"Jiji?"

"Panggilan khusus ku untuk si Sandaime"

Naruto menjawab dengan wajah tanpa dosa. Sakumo hanya menggeleng nggak jelas dengan nih orang.

"Balik lagi kepertanyaan awal.. Naruto-san ngapain disini? kayak orang keilangan..."

Dengan diingatkanya hal yang menurut Naruto sangat mendesak, reflek dia menarik vest milik Sakumo dan berteriak keras di wajah si korban.

"ANAKKKU HILANG!"

Sakumo terkena cipratan maha dasyat dari Naruto yang histeris.

'Apa Sandaime nggak salah milih orang?'

"Iyuh"

"Terakhir kali kau bertemu dengannya dimana?"

Sakumo melepaskan dirinya lalu mengelap muka handsomenya dan sedikit menjauh dari si maelstrom, kan kasihan kalau nanti kena semprot lagi.

"Aku meninggalkannya di kedai ramen, tapi si bocah malah menghilang"

"Apa kau sudah mencarinya di training ground akademi?"

Naruto memasang wajah bingung.

"Bukankah tempat seperti itu yang sering dikunjungi oleh para murid?"

'Huh? Benarkah?... tapi dulu aku nggak seperti itu'

"Jangan sama kan jamanmu dengan jaman ini. Ingat Naruto, kau berada di zona perang sekarang"

"Aku antar kesana, barang kali kau akan kesasar"

"Nggak akan!"

"Yang bener..."

Sakumo menantang Naruto yang berakhir dengan Naruto pasrah mengikuti arahan Sakumo. Dan ternyata bener, si Minato ada disalah satu tempat latihan.

"Minato!"

Si bocah pemilik nama pun menoleh.

"Ayah!"

Sebelumnya Minato kepikiran kemanakah gerangan bapaknya yang tercinta, sampai befikir yang nggak – nggak seperti ini.

'Ayah dimana ya? Kok lama banget. Apa ayah melupakanku?'

Nah sehabis berpikiran itu, Minato melihat ayahnya bersama dengan seseorang.

'Bukankah itu... Sakumo-san?'

"Anak gua wey!"

Di peluklah sang anak hingga si anak sesak nafas gegara sangking kuat tuh pelukan.

"Anooo... Naruto-san... si Minato..."

Si bapak yang tersadar atas kesalahannya melepaskan pelukan mautnya.

"Maaf, Minato"

'Ugh ayah meluk kuat banget'

"Huff, syukurlah aku bisa menemukanmu"

"Ehe maaf... Minato lupa mau ngasih tahu tadi"

Minato menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Naruto hanya bisa menghela nafas melihat ini.

'Baru juga begini... belum nanti kalau sudah besar. Tambah pusing nih kepala...'

"Udah tugas lu jadi bapak"

"Makasih atas bantuannya, Sakumo"

"Sama – sama ku tinggal ya, jangan tersesat lagi!"

Ucapan Sakumo membuat Naruto ingin membantingnya.

'Hilang sudah cool ku didepan anak!'

"Awas kau! Kalau ketemu lagi bakal kujatuhin tuh dango yang baru kau beli!"

Teriak Naruto melihat Sakumo melambaikan tangannya. Sunyi melanda mereka. Dua orang itu melihat matahari mulai terbenam.

"Wah pemandangan disini sangat indah"

"Iya ayah, makanya Minato senang kesini. Hehehe"

Minato menampakkan senyum manisnya.

'Ahhhhh imutnya~ lengkap sudah hidupku~'

"Permisi sponsor dulu, entah mungkin anda terlalu ogeb atau apa... kenapa lu nggak pakai tuh sage mode pas tadi nyari Minato?"

Naruto hampir terjungkal mendengar usulan telat yang diberikan sang partner.

'Lah iya... kenapa nggak kepikiran?! Waduh payah sampai teriak teriak gua tadi... hancur sudah image ku'

"Bodoh"

'Hiks'

"Ayah kenapa?"

"Nggak papa kok, cuman mikirin rumah pasti bakal berantakan banget"

"Bocil, jangan percaya ama bapak anda yang sesat ini"

'Sshhht diem!

"Wah! Minato bakal punya rumah beneran!"

Si bocil girang sampai lompat.

"Sungguh kasihan sekali anak kau, Naruto. Mengapa kau menelantarkannya?"

'Bacot lu! Bukan gua yang ngelantarin!'

"Besar kah? Atau sempit? Mini? Atau megah ata-.."

"Ditahan dulu semuanya, Minato. Ayah juga nggak tahu"

"Loh, kok bisa Ayah nggak tahu?"

"Hokage menjual rumah Ayah, jadinya dia sekarang memberikan rumah baru pada kita"

Naruto menjelaskan asal –asalan. Disebuah ruangan seseorang tengah bersin hebat.

"Siapa yang berani ngomongin saya?!"

Balik lagi.

"Jadi nggak ada foto Ayah, Ibu dan Minato?"

Minato tadi sudah berharap untuk melihat foto – foto kenangan yang mungkin orang tuanya simpan, tapi pupus sudah harapannya.

"Maafkan Ayah, Minato. Itu semua dilakukan demi keamananmu"

"Keamananku?"

"Ayah punya banyak musuh. Ayah takut nanti kau malah yang diincar ... cukup Ibumu saja"

"Jadi... ibu..."

"Dia mengorbankan nyawanya demi kamu, jadi jangan sedih lagi ada Ayah disini"

Naruto memeluk Minato saat sang anak mulai terisak menemukan kenyataan pahit bahwa sang bunda telah tiada.

"Hiks... iya Ayah..."

"Jangan sedih dong, kita kan mau ngeliat rumah baru. Yang ceria! Semangat! Ibumu pasti tidak suka melihat kamu sedih seperti ini"

Minato menatap senyum sedih dari ayahnya.

'Ayah teguh sekali, aku harus teguh seperti Ayah!'

"Un!"

"Wih mulut anda sangat licin, selicin sabun cuci"

'Aku nggak bermaksud untuk membuat anak gua sedih'

Naruto jadi ikut mewek juga.

"Udah terlanjur... dah cabut sana cari rumah"


Bersambung

Sampai sini~

Author out