Yoooooooooo, Readers!

Author nongol nieh

Dah berapa tahun aing kaga kesini?

Author bawa chapter baru

Baca ya say~

Naruto milik Masashi Kishimoto

"Anda syaiton?": berbicara

'Eyyyyy tidakkkkkkkk': berfikir/membatin

"Hm gila kan?" : hewan kuchiyose/bjiuu berbicara

Enjoy~


Sehubung ketiga murid masih berada di Konoha seperti biasa mereka mempunyai acara masing – masing. Semisal si rambut ubanan teman dari si ular, dia menghabiskan banyak waktunya mengamati bentuk rupawan maha karya dari ciptaan sang maha kuasa di onsen. Si Ular lebih memilih untuk kembali kesarangnya mempersiapkan eksperimen yang dia butuhkan. Berbeda dari rekan – rekannya Tsunade itu tidak aneh – aneh. Pemikirannya simpel ingin bertemu Dan lalu berkencan dengannya. Tak lupa sebagai kakak yang baik, Tsunade ingin bertemu adiknya dan mempertanyakan tingkah laku si bocah saat dikelas.

"Hm~ enaknya kita kemana ya Dan~" Tsunade bersenandung memikirkan hal apa saja yang akan dia habiskan dengan pacarnya.

Kompleks Senju cukup jauh dari kantor Hokage, maka dari itu Tsunade menikmati pemandangan asri yang kakeknya buat untuk Konoha. Diperjalanannya, Tsunade melihat Naruto bersama dengan seorang anak berpenampilan fisik sama dengannya.

"Lah baru juga tadi ketemu. Apakah ini takdir dari Kami-sama?" Entah mengapa pikiran Tsunade melantur sangat jauh. Apakah dia telah kepincut akan ketampanan tokoh utama kita? Tidak ada yang tahu tapi yang terpenting sadarlah wahai wanita anda sudah mempunyai kekasih!


Diperjalan menuju rumah, Minato berbicara berbagai hal pada Naruto. Dia ingin berbagi memori dengan sang ayah. Minato menceritakan awal dia masuk akademi hingga bisa bertemu dengan Naruto. Si pirang tertua terkesima. Dia tidak menyangka kalau anaknya itu mempunyai ingatan yang tajam. Sangking fokusnya mereka berdua, sampai – sampai Naruto lupa arah jalan mana yang mereka gunakan alias kesasar.

"Hm... ini dimana?" tanya Naruto santai pada siapapun yang mendengarnya. Minato melihat tampang kerenz ayahnya yang bingung itu berinisiatif untuk membantu.

"Ayah ini daerah kompleks senju"

"Senju?"

'Wih berarti Klan Senju masih ada di jaman ini... ku kira hanya kenangan aja'

"Kau tuh sebegitu ogebnya atau apa? Tsunade adalah satu satunya senju yang selamat dari perang shinobi ketiga"

'Maksudmu Baa-chan adalah senju terakhir?'

"Iya, apa yang kau lihat sekarang adalah senju yang masih bersemi walaupun tidak sebegitu berjaya pada saat perang dunia pertama"

'Ah! Kurama kau kan pintar dalam sejarah shinobi... kau jadi kamus sejarah berjalan ku aja~'

"Hidih, Kau berani membayarku berapa?"

'Heh! Sadar diri lah! Aku dah memberikan tempat ternyaman didunia!'

"Didalam sini gitu?"

'Ya dimana lagi?!'

"... sumpah aku menyesali pengakuan ku bahwa kau adalah rekanku"

'Woy bijuu nggak tahu diri!'

"Jinchuriki laknat!"

"Ayah?" Fokus Naruto kembali ke realita. Dia melihat Minato memandangnya dengan ekspresi imut.

'Ahhhhh keimutan apakah ini?!'

"Dah mulai dah nih" Kurama melihat Naruto sedang menari ria didepannya.

"Fokus woy!"

"Ehem, jadi ini kompleks Klan Senju?"

"Un, Ayah tidak tahu?"

"Bukan tidak tahu... tapi lupa letaknya dimana" Naruto mengelak. Dia baru paham kalau rumahnya bersebelahan dengan kompleks perumahan Senju yang pasti masih memiliki beberapa anggota didalamnya.

"Hey! kau siapa!? Kau pasti penyusup!" teriak seorang anak kecil yang umurnya sedikit dibawah Minato. Naruto melihat beberapa orang mengikuti anak dari belakang bagai pengawal

"Nawaki-sama! Anda jangan dekat – dekat dengan mereka! Kita tidak tahu siapa dia!" salah satu pengawal itu menarik si bocah yang bernama Nawaki itu kebelakangnya.

'Haduh, ya Tuhan... aku capek baru juga berantem, masak sekarang ronde dua?'

"Yang lebih tololnya lagi kalian semua kan memakai hitaiatte yang sama" Kurama dengan sarkasnya menunjukkan fakta yang ada

'Ehiya bener juga! Ck nggak pinter orang – orang ini'

"Termasuk anda"

Minato menatap aneh orang – orang itu. Dia dan ayahnya hanya melewati jalan. Mereka bukan mau menyerang.

'Emang jalan ini tidak untuk umum?'

Naruto meneliti si bocah yang sedang bersembunyi dibelakang pengawalnya.

'Entah kenapa aku pernah melihat wajah itu.. apalagi si nama! Dimana sih aku pernah mendengar ini!?'

"Coba pasang otak anda dengan benar"

'Anda kira saya dah gila?'

"Setengah otak anda sudah sedeng"

'Sepertinya kau butuh di rasengan Kurama...

"Ck, kalung mu itu begok!" Naruto langsung meraba kalung dibawah vestnya. Setengah jam kemudian otak Naruto baru konek.

'Lah itu adiknya Baa-chan!?' Naruto tak percaya bertemu dengan si adek yang memiliki cita – cita yang sama dengannya. Ingin Naruto menyapa si bocah tapi situasi menjadi tidak bersahabat. Berawal dari kesalah pahaman yang dilakukan oleh seorang bocah menjadi perang tatap muka. Naruto merasa semua orang didepannya sangat mengganggu dan beberapa malah sudah siap menyerang mereka berdua. Dengan sigap rekan Kurama ini langsung menyeret Minato mundur dibelakangnya. Postur tubuh Naruto santai dan itu memancing lawannya untuk menyerang duluan. Satu penjaga mengepalkan tangannya, mengarahkan tinjuannya ke wajah Naruto. Naruto tersenyum miris, berdiri diam disana seperti membiarkan orang itu menghajar wajahnya, namun tinggal 1 cm saja Naruto dan Minato menghilang dan berpindah tempat ke belakang. Hajaran penjaga itu tidak mengenai siapapun. Semua orang terkaget. Mereka tidak menyangka Naruto akan menghindar dengan cepat, bahkan Minato yang tipikalnya berada paling dekat dengannya tidak melihat pergerakan ayahnya sama sekali

'Huh?!'

Tsunade yang tengah bersembunyi di sebuah pohon ikut terkejut.

"Cepat sekali!?"

"Bagaimana mungkin?!"

"Tidak mungkin ada ninja yang bisa secepat itu! bahkan paman Tobirama!" Tsunade berbisik pelan melihat kemampuan Naruto.

"Sudah kuduga... kau bukan ninja biasa, Naruto" Dari awal Tsunade curiga. Pasti ada sesuatu yang spesial hingga Senseinya itu mau mengangkat Naruto menjadi tangan kanannya. Naruto mengelus kepala Minato untuk menenangkan si anak yang kelihatan kebingungan.

"Kami tidak bermaksud untuk membuat kekacauan disini" Naruto lebih memilih jalan damai. Dia lelah dengan kejadian seharian ini. Fisik sih masih kuat untuk menghajar orang seminggu kedepan, tapi mental kerasa kayak menceramahi Obito lagi alias sudah penat dan sebal dengan situasi.

Para penjaga menyerang lagi. Mereka merasa kalau Naruto adalah musuh yang sangat berbahaya jika dibiarkan saja. Bisa saja membahayakan desa.

"Hentikan!" suara lantang seorang perempuan menghentikan gerak para penjaga. Tsunade yang melihat sebagaimana bodohnya penjaga rumahnya, keluar dari persembunyian.

"Tsunade-sama!"

"Lama banget keluar, Tuan Putri. Udah kutungguin dari tadi!" Naruto sedari tadi tahu kalau Tsunade mengintai perdebatan mereka. Dia menunggu Tsunade untuk datang menyelamatkannya dari pembicaraan yang nggak berfaedah.

"Ini biasanya yang menyelamatkan itu pangeran bukan putrinya"

'Lagi mager ane'

'Lu cowok atau bukan sih?!' Tsunade menatap kesal kearah Naruto.

"Kakak!" Nawaki menghampiri Tsunade hendak melapor.

"Orang itu ingin menyerang kita!" Padahal jelas – jelas yang memulai perkeliahan siapa. Nawaki mengira kalau Tsunade akan membelanya tapi sebaliknya ia menerima jitakan keras dari kakaknya.

"Kamu itu! sudah jelas dia menggunakan hitaiatte Konoha! Lagipula dibelakangnya ada anak kecil! Untuk apa penyusup membawa anak kecil!? Lebih baik kalian pergi dari sini sebelum aku mengahajar kalian satu persatu!" Para penjaga dan Nawaki dibuat takut oleh amukan Tsunade. Mereka membubarkan diri. Tsunade nggak habis pikir dengan adik dan penjaga.

"Ketemu lagi baa- ah Tsunade-hime?" Lidah Naruto hampir saja kepeleset memanggil Tsunade.

'Eh? Ayah mengenal tuan putri Senju?' Minato melirik sekilas.

"Maaf tadi hanya salah paham. Adikku itu memang pembuat onar..."

"Heee.. gitu. Nggak papa aku paham" Tsunade melihat Minato.

"Itu anakmu?"

"Iyaa ini Minato, gantengkan?" Naruto memuji anaknya sendiri sambil mengelus kepala Minato. Si bocah yang dipuji malu sendiri.

'Mungkin aku harus terbiasa dengan perilaku ayah yang aneh...

"Ayo singgah dulu ke kompleks klan ku"

"Ahhhhh kayaknya nggak dulu deh banyak sekali yang harus kulakukan"

"Ih jangan sungkan~ aku memaksa! Mumpung kami sedang mempersiapkan makan malam.

"Benarkah? Kuylah~"

'Ayah kok mudah tergoda?'

'Gini amat punya teammate...'


Kompleks perumahan Senju sangat luas diliputi oleh banyak pohon besar dengan daun hijau yang rimbun memberi kesan asri. Mereka bertiga melewati beberapa anggota klan yang menjaga rumah besar salah satu klan pendiri Konoha.

"Eh, lihat Hime-sama membawa seseorang selain Dan!"

"Wah iya tampangnya lain daripada yang lain"

"Apa mungkin orang itu mau nikung?"

"Apakah Hime-sama mau membuat harem?!"

"Sungguh selera Hime-sama sangat tidak bisa ditebak" panas telinga Naruto mendengar bisikan – bisikan syaiton.

'He, pemikiran tolong dijaga ya!' Naruto yang mendengar ini nggak terima dijadikan salah satu harem Tsunade. Dia mah maunya hanya satu untuk selamanya.

"Ya mungkin kau mau dengan Tsunade?"

'Oh, ayolah Kurama. Aku sudah menganggap dia seperti nenekku sendiri. Nggak mungkin aku bisa melihatnya dari sisi yang lain'

"Kalian yang banyak bicara, kenapa tidak membersihkan yang sebelah sana?" Sungguh Tsunade benar – benar tuan putri dari klan ini hanya dalam satu kali ucapan pada bubar semua.

Minato hanya melirik kesana kemari melihat kompleks yang tidak pernah dia masuki. Dia terkagum. Mungkin saja dia akan hidup seperti ini.

"Maaf, Klan Senju sebenarnya nggak seperti ini. Hanya saja setelah sepeninggal kakek Tobirama semuanya berubah cukup drastis" ucap Tsunade tiba – tiba sedih. Naruto merasa tidak enak sendiri.

"Ah, maafkan saya"

"Bodohnya aku. Mengapa aku membuatmu merasa tidak enak. Aku yang mengajakmu kemari"

Mereka bertiga disambut lagi oleh sederet orang berpakaian ala baju zirah jaman Hashirama.

'Aku merasa deja vu'

Semua orang menatap ke Naruto dengan tatapan gelap.

'Woy santai napa. Gua kagak bakal ngembat princess kalian!' Dalam hati Naruto berteriak atas ketidak adilan yang dia dapati.

Tsunade membawa mereka kesebuah ruangan yang cukup lebar tapi tidak terlalu kecil dengan tempat duduk bantal dan meja persegi.

"Kalian bisa mandi di onsen milik kami"

"Ah nggak usah Tsunade. Kami sudah merepotkanmu"

"Aturan rumahku, tidak boleh menolak apa yang kami berikan" Naruto hanya bisa menelan ludah saat melihat ekspresi Tsunade yang jelas – jelas akan membogemnya jika dia menolak sekali lagi. Kalau Minato mah dia sangat gembira saat mendengar onsen.

"YEAY! Anu... dimana onsennya Tsunade-hime-sama?"

"Kau bisa memanggilku Tsunade-san saja, Minato-kun"

"Un!" Senyum cerah Minato menyilaukan mata Tsunade.

'Terlalu silau...'

"Itu onsenya ada dibelakang pintu" si perempuan berambut cream itu menunjukkan pintu kedua selain pintu yang mereka masuki.

"Nikmati mandi kalian dan kau membutuhkannya" Tsunade menunjuk Naruto dan pergi.

'Enak aja main nunjuk, anda kira saya bau?!'

"Lah kan situ belom mandi"

'Diem lo, Kurama. Ngajak berantem?'

"Ayah! Ayo kita mandi di onsen! Minato nggak sabar mau nyobain!" Minato keburu lompat aja ke kolam.

'Et dah nih bocah nggak sabaran amat... kok gua jadi sedih?'

"Kau tak pernah mandi di onsen?"

"Minato pernah sekali diajak Sandaime-sama. Um... Minato tidak punya uang untuk masuk ke onsen.." Minato kecil meringis. Merasa malu memberitahukan ini kepada ayahnya.

Naruto merasa sangat tertohok mendengar penjelasan Minato.

'Please, Ayah. Cukup aku aja yang mengalami pahitnya hidup seorang diri. Aku tak ingin ayah merasakannya juga' Naruto berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan merubah nasib Minato.

"Kamu tenang aja Minato! Mulai sekarang kamu anak sultan! Anak holkay! Kamu harus bangga dengan itu!"

Minato hanya mantuk – mantuk aja tidak mengerti apa yang diomongin ayahnya.

"Kumatkan gajelnya"

Mereka menikmati pemandian panas. Naruto menenggelamkan dirinya hingga hanya rambutnya saja yang terlihat sedang Minato dia berenang kesana kemari layaknya ikan, sangat bahagia dengan hari ini.

'Ini hari terbaik sepanjang masa!' ingin rasanya Minato berteriak tapi takut mengganggu ayahnya yang terlihat lelah.

"Fuwah! Airnya kerasa sampai ketulang!"

"Un" Minato ikut menyetujui.

'Aku berani jamin kalau yang buat ini Shodaime'

"Hilih kayak tahu aja kau"

'Ketebak banget tahu nggak sih... siapa yang nggak suka banyak tumbuhan disini... hanya ada satu orang dipikiranku'

"Iya terserah anda"

Setelah cukup lama berendam Minato dan Naruto memilih untuk menyudahi mandi mereka dengan menggunakan yukata yang sudah disediakan. Mereka kembali keruangan tadi dan disana seorang pelayan telah menunggu mereka.

"Huh?"

"Tsunade-hime-sama sudah menunggu anda" si pelayan membawa mereka ke sebuah tempat yang sepertinya familiar menurut Naruto.

Minato dengan penasaran melihat kesana kemari. Dia ingin sekali memegang vas bunga yang bagusnya luar binasa tapi mengurungkan niatnya takut memecahkan tuh vas. Padahal didalam vas itu ada ninja yang bersembunyi... (selamatlah engkau wahai om ninja, untung si Minato nggak ngecek anda).

Naruto yang udah capek dengan formalitas langsung nendang tuh pintu dan memanggil Tsunade tanpa embel – embel.

"Oy Tsunade! Anda didalem kan?! Saya udah disini nih!" Minato menatap horror kearah ayahnya yang sangat santuy.

"Lama amat?! Yok masok udah laper nih..."

"Wih makan nih? Ada ramenkah?"

"Ya kalik mau makan ramen... ya yang normal!"

"Okidah cekidot saya dah nggak makan sebulan" padahal kenyataan dia udah makan lebih dari enam mangkuk ramen di Ichiraku Ramen. Minato menatap heran.

'Kemana semua ramen yang ayah makan?' tolong dedek Minato jangan dipikirin demi kebaikan mu dan otak jeniusmu.

"Ittadaikimasu!" ketiga orang itu mengucapkans secara bersamaan.

Setengah jam berlalu. Sunyi yang hikmat melanda ke kedua orang yang tengah menikmati makanan mereka. Cuman si tuan rumah sendiri yang mengmikir.

'Ini gimana mem-briefing orang bobrok macam dia? Memikirkannya saja membuatku pusing...' Tsunade membatin disela – sela makannya.

"Terimakasih atas makanannya! Tsunade-hime!" ucap Minato imut dengan nasi yang nempel dimulutnya.

"Minato, itu nggak cool sekali saat ada nasi yang menempel diwajahmu"

"Iya kah?" Micato meringis

Tsunade melihat adegan manis yang melebihi kadar kemanisan yang namanya pacaran.

"Naruto..." Tsunade memberikan tatapan 'ada yang harus kita bicarakan sekarang' sedang Naruto menjawab dengan 'kau tak lihat ada Minato disini! Dia bakal paham apa yang akan kita bicarakan... dia kan jenius~' yang dibalas dengan 'Auk! Pokoknya sekarang!'. Minato yang menjadi figuran pun mengerti apa yang dimaksudkan keduanya.

"KAKAK! KENAPA KAU NGGAK MAU MAKAN DE-" Nawaki dengan tidak elitnya mendobrak pintu. Untung saja Naruto paham kalau itu bukan musuh ... jika musuh udah Naruto lempar pakai shuriken.

"Nawaki! Kau datang di waktu yang sangat tepat! Ajak Minato berkeliling area kompleks kita!"

"Tapi kak..."

"nggak ada tapi tapian. Kalau tidak..." Tsunade mengeluarkan hawa mematikan, Nawaki langsung ciut.

"Ayo!" dengan sebal Nawaki menggeret lengan Minato. Minato melempar puppy eyesnya ke ayahnya tapi sepertinya sang ayah tidak dapat menolongnya. Ruangan menjadi sangat sepi saat para bocah menghilang.

"Jadi apa yang akan kita bicarakan?" Naruto membuka pembicaraan

Tsunade memandang sejenak kearah Naruto

"Dilihat dari wajahmu kau pasti tidak dari klan manapun"

"Nggak juga, aku baru saja akan ke kompleks klan ku" ucap Naruto sambil meminum teh

"Huh? Apa? Baru saja?" tanya Tsunade tak percaya.

"Iya... perintah Jiji" dengan dengusan sebal Naruto memberitahukan event saat si Sandaime memaksanya membangun klan Namikaze.

"Ohhhh jadi kita akan menjadi tetangga begitu? Kompleks kita ... akhirnya sensei menggunakan lahan itu..."

"Emang kenapa?"

"Tidak apa. Oh ya sekedar mengingatkan antar sesama calon ketua klan... atau mungkin kau adalah ketua klan atau apalah itu. Jangan jadi gila hormat" sebagai seorang yang berpengalaman melihat ketidak beresan para ketua klan Tsunade ingin sohibnya ini tetep normal. Ya walaupun Naruto sendiri sudah tidak normal.

"Ya, kalik. Aku gila hormat. Aku bukan seperti orang berambut hitam kebanyakan yang sering menatap orang sebelah mata, padahal sebenarnya mereka juga mau berteman" ucap Naruto ngelantur kemana – mana.

"Huh, maksudmu Uchiha?"

"Nggak juga"

"Ck, aku paham bukan kau saja yang tidak suka Uchiha. Rata – rata semua klan disini tidak terlalu menyukai klan itu. Apalagi sekarang dipimpin oleh ketua klan yang egois"

'Padahal sebenarnya aku nggak benci amat sama mereka...'

"Tapi aku sangat membenci mereka" Kurama menyahut. Sepertinya kalau obrolan mengenai uchiha si rubah ekor sembilan ini dengan semangat sentausa akan melecehkan mereka.

"Ya... tak semua ketua klan itu gila hormat, walaupun mereka pingin banget dapet hormat dari berbagai kalangan..."

"Seperti kedudukan spesial begitu?"

"Ya. Kau tahu kan tentang perseteruan antara Klan Uchiha dengan kami"

"... jadi perseteruan itu masih belum selesai sama sekali?" tidak usah dijawabpun Naruto tahu betul kalau masalah itu hanya akan membengkak sampai terjadi tragedi berdarah itu.

"Sama – sama klan pendiri Konoha... sama – sama ingin mendapatkan dukungan dari berbagai pihak... repot juga masalah klan!" Naruto mengacak rambutnya.

"Tapi bagaiamana kalau klan mu juga sama kuat dengan dua klan yang bertentangan ini" Tsunade mendapatkan sebuah ide dan dia pasti akan membutuhkan bantuan si Nara.

"Maksudmu apa?... jangan eret klanku juga!" Oh ayolah dia baru saja mau mendirikan klan dan belum juga berdiri udah dikasih masalah aja?!

"Hei apa kau tidak sadar? Besok kau akan memperlihatkan sebagaimana hebatnya dirimu hingga bisa menjadi tangan kanan pilihan Hokage sendiri. Aku berani bertaruh kalau Sensei sengaja menciptakan skenario ini agak para Klan tidak gegabah melakukan hal yang aneh... wah hebat juga Sensei" Tsunade kini paham dengan maksud tersembunyi Sandaime.

'Anjirrr keseret lagi ke pertikaian yang lain...'

"Hidupmu kan memang kayak roller coster yang pasti naik turun belokan curam tanjakan curam terus lepas dari relnya"

'Ih kok serem'

"Sereman mana yang itu atau ayang bebeb mu nggak cayang"

'Ya seremen yayang bebeb ku nggak cayang dong~'

"Dahlah balik sana, stress lama – lama aku melihat bodoh mu itu"

'Woy!'

"Kita disini nggak membahas tentang ini saja kan?"

"Ya nggak lah, aku mengajakmu kesini untuk membahas tentang keadaan desa yang akan memasuki perang" Tsunade merengut.

"Perang? Melawan siapa?"

"Perang kita melawan Iwa dan Suna" dan entah kenapa Naruto merasa berat.

"Tidak bisakah kita menghentikan perang ini?" Tsunade hanya mengangkat alisnya. Dia belum menjelaskan sama sekali inti perang ini dan orang didepannya udah mau menutup begitu saja?

"Kau pikir aku tidak berfikiran sama denganmu begitu? Aku juga ingin hidup damai bersama keluragaku yang tersisa... Kakekku sudah berusaha keras untuk menciptakan perdamaaian... tapi lihatlah .. apa yang dia perjuangkan hanya menjadi ucapan belaka" Wanita berambut cream itu menunduk sambil mengingat perkataan kakeknya yang selalu ia ingat.

"Jika kita bisa menghentikannya tanpa ada pertumpahan darah, pasti cukupkan?"

"Dengan cara apa? ... yang ada pasti semua orang tidak menyukai hasil akhirnya..."

"Kita kan punya Klan Nara. Mengapa kita tidak mengajak mereka ngerumpi disini. Supaya otak mereka itu ada gunanya"

"... Sebelum kita membahas soal menghentikan perang lebih baik kamu tahu dulu kondisi Konoha sekarang" Tsunade memfokuskan kembali Naruto yang inginnya tidak membahas perang perangan.

'Ck, aku benci perang'

"Jadi kami kemaren ke perbatasan Iwa melihat situasi disana dan ternyata Ame yang katanya neutral juga mengikuti perang ini" Ucap Tsunade sambil meminum sakenya. Dia dan timnya ke Iwa ingin mengetahui perjanjian yang 10 tahun lalu dibuat oleh Hokage terdahulu dan ternyata ditengah perjalanan mereka diserang oleh beberapa orang yang dilihat dari perawakannya bukan dari desa manapun. Orohimaru mengasumsikan bahwa itu ninja dari Ame yang masih berupa desa kecil tanpa tanda pengenal hitai atte. Jujur saja ini membuat mereka geram. Pasalnya banyak ninja Konoha membantu desa kecil untuk survive dalam perang, tapi mereka malah berbalik melawan Konoha.

"Itu sangat aneh" Naruto berfikir bahwa ada sesuatu dibalik perlawanan Ame. Seperti ada yang janggal

"Hmmmmmm aku mencium bau – bau konspirasi disini"

"Apa mungkin ada seseorang yang mengontrol Ame?"

"Huh? Mengontrol? Untuk apa mengontrol desa sekecil itu?"

"Kalau memang benar kau berkata Konoha sering membantu Ame lalu mengapa mereka malah balik melawan dan mensupport Suna dan Iwa"

"Maksudmu ada orang Konoha yang sengaja berbuat sesuatu di Ame?" Tsunade mulai tertarik dengan arah pembicaraan mereka tapi Naruto nggak tertarik sama sekali. Mereka terdiam kalut dalam pemikiran sendiri. Disini otak Naruto yang rada lemot baru konek kalau dia tengah ditarik ke perang yang lain. Perang yang seharusnya nggak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Perang yang seharusnya udah kelar sebelum Naruto lahir.

'Ame... berarti ada kemungkinan aku akan bertemu Konan, Nagato dan temannya yang mati itu... apa aku bisa merubah takdir mereka? Tapi bagaimana caranya aku bisa membengkokkan jalan takdir ini? Sedang ane sendiri bukanlah orang yang sangat pinter (sadar diri nih orang) Shikamaru! Mana dirimu pas gua butuh otak encer lo!' Naruto terus menggaruk kepalanya yang nggak gatel gegara gemes dengan permasalahan yang dia hadapi. Tsunade ma sans bae melihat kegaje an si orang yang bakal jadi temannya. Hingga sebuah ide baru masok ke otak Naruto.

'Kakeknya Shikamaru! Nggak mungkin aku mau bacot ama Shikaku yang masih bocil seumuran Minato' Naruto mulai me-lay out rencananya.

'Tapi masalahnya siapa kakeknya Shikamaru?'

"Anda merasa bodoh? Saya anjurkan anda bertanya ke orang didepan anda"

'Lah iya juga ya?' Kurama merasa jengkel.

"Ada yang gampang kenapa pakai yang susah?"

'Karena yang gampang terlalu mainstream' dan Naruto mendapatkan jitakan penuh jengkel dari Kurama.

"Adaw!"

"Anda kenapa dah?" Tsunade mulai mempertanyakan kewarasan temannya yang baru ini.

"Nggak papa kok. Btw ketua Klan Nara bakal muncul kah besok?"

"Kayaknya sih dia bakal muncul. Kalok nggak dieret ama ketua klan Akimichi dan Yamanaka" Tsunade paham betul kalau ketua Klan Nara itu malesnya tingkat nasional.

"Ada apa emang?"

"Kita punya jenius dikalangan kita.. kenapa nggak bikin dia sengsara memikirkan ini?" Naruto mengeluarkan senyum sadis. Untuk beberapa saat Tsunade hanya bisa menatap kaget.

"Bener juga... kerjaannya selama ini cuman tidur ama planning yang simpel – simpel muluk. Ayo kita buat dia tersiksa"

"Hayuk~"


Disuatu tempat nan tidak jauh – jauh amat masih dalam wilayah Konoha.

"Hatchi!"

"Napa anda?"

"Entah kenapa aku merasa waktu tidurku bakal berkurang..."

"Mangkanya jadi orang itu jangan tidur muluk, kan banyak yang punya dendam ama anda"

"Woy!"


Bersambung~

Hehehehehehe sowwy

Sampai berjumpa lagi~