[[ A]]
I'm in love with you
Masashi Kishimoto
Nafdes
BoruSara
T
Romance, Teenlith
AU
Gaje, OOC, Typo(s), aneh, abal, etc
Oneshoot
Anak perempuan itu berjalan dengan tergesa-gesa, dimana langkah kakinya tampak tidak konstan satu sama lain. Dalam dekapannya, tertumpuk banyak buku dengan total berat yang tidak bisa dipercaya, mampu dibawa gadis sekecil dia dengan lincah.
Uchiha Sarada baru akan mengeluh dan meletakkan semua buku-buku itu ketika seorang laki-laki, seniornya, mendekati Sarada dengan langkah yang ringan. Onyx-nya berputar panik, gadis itu baru akan berbalik pergi ketika kakinya tersandung anak tangga.
Dan semua bukunya terjatuh. Menciptakan keributan di koridor sekolah yang sepi itu.
"Biar kubantu, Sarada." Laki-laki itu, Uzumaki Boruto, menunduk dan memungut semua buku Sarada, membawa dalam dekapannya sendiri, "Kau mau kemana?"
"Tidak perlu." Sarada membenarkan letak kacamatanya, entah mengapa, ia menjadi gugup, "Aku mau mengembalikannya ke perpustakaan, Boruto-san."
Boruto meliriknya, menolak ketika Sarada mengulurkan tangan, meminta semua bukunya kembali. Alih-alih menuruti keinginan Sarada, Boruto berkata, "Aku juga sedang menuju perpustakaan, kok. Jadi, mari bersama."
Sarada belum sempat protes, karena kakak dari sahabatnya itu, Himawari, sudah berjalan terlebih dahulu sambil mendekap semua buku yang dipinjam Sarada. Gadis Uchiha itu berusaha mengimbangi langkah Boruto yang lebar dan cepat.
"Jadi, bagaimana kabar paman Sasuke dan bibi Sakura?" Tanya Boruto, ketika mereka berjalan bersisian. Jantung Sarada sudah tidak waras sejak tadi, tetapi ia berusaha mengabaikannya.
"Baik..." Sarada mengukir senyum, dan detik selanjutnya, ketika keduanya sama-sama masuk ke perpustakaan, Sarada diam di samping rak besar berisi buku-buku filsafat. Dipandanginya punggung tegap Boruto.
Darahnya berdesir.
Bukan rahasia lagi, jika diantara Sarada dan Boruto, terjalin sesuatu yang krusial. Sarada sudah menyukai Boruto sejak kecil—, sejak mama membawanya berkunjung ke rumah sahabatnya, rumah paman Naruto dan bibi Hinata. Laki-laki itu tampan, sangat perhatian, dan Sarada suka cara Boruto menatap dirinya.
Sampai ketika Sarada duduk di bangku SMP, ia mendengar dari mulut Himawari jika kakaknya sudah memiliki kekasih.
Sejak saat itu, Sarada sudah malas berkunjung lagi ke rumah Himawari, dan berusaha mati-matian menjauhi Boruto, serta menghancurkan perasaannya.
Dan semua usahanya, sia-sia. Sarada masih sangat menyukai Boruto.
"Ada lagi yang kau perlukan, Sarada?" Pertanyaan Boruto membuat Sarada kembali ke dunia nyata.
Sarada menggeleng, "Tidak, Boruto-san. Aku mau pulang saja."
"Ya sudah, mari pulang bersama." Ajak Boruto. Sarada terbelalak, alasannya agar menjauh dari Boruto malah menjadi bumerang tersendiri. Gadis itu melompat masuk ke dalam sela-sela rak buku.
"Aku pikir aku harus mencari buku lain untuk bahan belajar, Boruto-san," kata Sarada, "Kau bisa pulang lebih dahulu."
Sarada tidak menunggu balasan, justru langsung melenggangkan kakinya, meninggalkan Boruto, lantas tenggelam di antara rak-rak buku.
Gadis berambut hitam raven itu baru saja akan hanyut dalam kegiatannya membaca-baca buku, ketika diliriknya dari sudut matanya, Boruto masih berdiri di ujung rak. Sarada tergagap, lantas membuang pandang dan berjalan menjauh, tetapi sulung Uzumaki itu justru mengikutinya.
"Kau sangat suka membaca buku, ya?" Mulai Boruto, "Hima bilang kau sering meminjam buku-buku padanya."
"Hn."
"Aku bisa merekomendasikan beberapa buku yang bagus untukmu," lanjut Boruto, "Kaa-san memiliki perpustakaan pribadi di rumah, ia baru saja membangunnya dua tahun lalu."
"Hn."
"Kapan kau berkunjung lagi, Sarada? Sewaktu kecil kau sering datang ke rumahku dan bermain dengan Hima."
"Tidak."
Sarada kekeuh berusaha mengacuhkan. Ketika gadis Uchiha itu baru akan berbelok menuju rak buku-buku sastra, mendadak saja Boruto menarik lengannya, mencekal lembut, dan mendorong gadis itu hingga punggungnya menempel di tembok.
Boruto menunduk, meraih bibir Sarada yang merah mekar dan mengulumnya. Sarada terbelalak, wajahnya memerah ketika dilihatnya wajah Boruto begitu dekat dengannya, dengan poni rambut kuningnya yang jatuh di sepanjang dahi sampai sedikit menutupi matanya yang sudah tertutup sempurna.
Sarada berusaha melawan, tetapi Boruto justru menekan tangan gadis itu dan menaikkannya di atas kepala. Ciuman laki-laki kuning itu semakin dalam, semakin berani, sampai tidak sadar, Sarada membalasnya.
Ketika ciuman itu terlepas, nafas keduanya terengah-engah. Tubuh Boruto masih menempel erat dengan Sarada, ia enggan berinisiatif mengambil jarak.
"Sial, kau membuat pengendalian diriku hancur, Uchiha."
Sarada mendongak, onyxnya menatap Boruto yang jauh lebih tinggi, "Apa yang kau lakukan, Boruto-san?"
Laki-laki itu diam, masih mengatur ritme nafasnya, lalu bergerak menjauh dengan berat hati, "Gunakan suffix kun, Sarada. Jangan memanggilku seformal itu."
"Kenapa?" Tanyanya heran, "Aku memanggilmu begitu karena aku ingin bersikap sopan padamu."
"Aku kakak sahabatmu!"
"Tapi—"
Boruto menunduk, mencuri cium dari bibir Sarada, "Ketika kecil, kau sangat menggemaskan karena selalu menuruti perkataanku. Mengapa sekarang kau berubah?"
Sarada yakin, pipinya sekarang bertransformasi semerah rambut mamanya, Sakura. Gadis itu menepis pelan tangan Boruto, lalu lekas-lekas pergi dari sana.
"Dia mempermainkanku, Hima!" Sarada menghela nafas, menelungkupkan kepalanya di atas meja kantin, dua hari setelah Boruto mencuri ciuman pertamanya, "Kau bilang Boruto-san berpacaran dengan kakak Inojin, tetapi mengapa ia memperlakukanku seperti itu?"
"Aku pikir mereka sudah lama putus, soalnya nii-chan jarang lagi terlihat dengan Sanma-san." Balas Himawari, wajahnya mendadak berubah, "Sial, perutku sakit lagi. Kau mau tetap di sini atau menemaniku ke toilet?"
"Di sini saja," balas Sarada, masih sambil mempertahankan posisi kepalanya tertidur di meja kantin. Himawari berdiri, lantas terbirit-birit ke toilet. Lain kali, ia pasti akan mendengar nasihat kaa-san supaya tidak makan ramen yang pedas lagi.
"Kau tidak jadi ke toilet?" Ketika Sarada merasakan seseorang duduk di kursi kantin sebelahnya, ia menghela nafas. Masih sambil menelungkupkan kepala, gadis itu mengira yang datang adalah Himawari, "Apa yang harus kulakukan, Hima? Aku benar-benar bingung mengapa Boruto-san menciumku. Apakah dia membalas perasaanku? Apakah dia juga memiliki perasaan sama denganku?"
"Sudah kubilang, kan, berhenti gunakan suffix itu dan panggil aku, 'Boruto-kun'!"
Suara bariton itu menyentak kepala Sarada. Ia tertegun ketika sadar, orang yang duduk di sampingnya bukan Himawari, melainkan Uzumaki Boruto!
Wajah Sarada benar-benar merah. Sial.
"Gomen, aku... aku harus pergi!" Sarada sudah bersiap bangkit berdiri ketika lengannya ditahan Boruto, dan laki-laki itu memaksanya kembali duduk.
"Aku mau menjawab pertanyaanmu, Sarada."
"Pertanyaan yang mana?" Sahut Sarada gugup.
"Mengapa aku menciummu, dan apakah aku membalas perasaanmu." Boruto mengulang pertanyaan Sarada, menikmati gadis dihadapannya yang sedang salah tingkah.
"Ano, itu..."
Cup. Boruto menempelkan bibirnya di atas milik Sarada cepat. Onyx gadis itu membelalak, ketika detik selanjutnya, Boruto menelangkup pipinya, mengecup bibir Sarada berulang-ulang. Suasana kantin yang tadinya ramai, langsung berubah hening ketika sadar apa yang dilakukan kedua penerus keluarga Uchiha dan Uzumaki itu.
"Astaga, apa yang mereka lakukan?"
"Berani-beraninya Boruto mencium Sarada-chan!"
"Kyaa~ So sweet!"
"Tidak, tidak boleh, Boruto-kun hanya milikku!"
Sarada terpekur, memfokuskan pandangannya pada safir Boruto yang menatapnya lembut.
"Ya, Uchiha." Bisik Boruto, "Sejak dahulu sekali. Mengapa kau baru menyadarinya, hm?"
"Tap... tapi..." Suara Sarada tersangkut di tenggorokan, "Kau berpacaran dengan Yamanaka-san..."
"Ah ya, soalnya aku ingin tahu reaksimu." Boruto melepas jarak mereka, membuat Sarada merasa kehilangan, "Dan kau justru menghindar. Setidaknya, aku sudah tahu perasaanmu sekarang."
Pipi Sarada memerah.
"Kau jatuh cinta denganku, kan, Uchiha Sarada?" Safir Boruto itu menatap nakal. Jantung Sarada seperti mau melompat keluar dari rongga dadanya.
Anak Uchiha Sasuke dan Uchiha Sakura itu tersenyum, "Tentu saja, Boruto-kun!"
Dan jarak mereka langsung terhapuskan karena Boruto langsung membawa gadisnya ke dalam pelukannya. Tidak peduli jika seisi kantin menatap mereka dengan berjuta-juta ekspektasi, tidak peduli jika di ujung lorong, seseorang tersenyum lebar.
Himawari bersorak, berbisik pada dirinya sendiri, "Misi berhasil!"
#END
