Title: Spunky Tableau.
Author: Naftalita Desintamaya.
Disclamer: Naruto©Masashi Kishimoto.
Genre: Hurt/Comfort.
Rated: T+/M (Lime).
Pairing: Sasuke Uchiha x Sakura Haruno *slight SasuIno.
Lenght: Oneshoot.
"Ini hanya perkara pernikahan saja, kau harus tahu walaupun aku tak bisa bersamamu, cinta kita abadi." - Sasuke Uchiha.
Aku meneliti interior gedung dihadapanku, yang dominan ditutupi satin putih yang menjuntai dengan indahnya. Para tamu sudah berdatangan, memenuhi lantai marmer tempat dilaksanakannya pernikahan sahabatku ini.
"Ino-chan, selamat atas pernikahanmu.." Aku bisa mendengar suara Hinata, sementara aku sendiri masih belum siap bertatap muka dengan Ino dan suaminya dipelaminan.
Aku mengelilingi ruangan, memilih melampiaskan kesedihanku dengan mengambil kue-kue coklat diatas meja dan memakannya. Namun sia-sia, karena setiap kue disana ditulis dengan krim keju, 'Sasuke&Ino'.
"Hei, Sakura." Aku tersentak, menoleh dan tersenyum getir kepada Tenten, "Kau belum mengucapkan selamat kepada Ino-chan?"
"Err.." Aku menghela nafas, "Belum."
"Ayo, Sakura. Aku juga belum mengucapkan selamat padanya." Aku pasrah saat Tenten menarikku menuju pelaminan Ino dan Sasuke.
"Ino-chan!" Tenten bersorak gembira, menyalami Sasuke dahulu lalu memeluk Ino, "Selamat atas pernikahanmu! Kau harus secepatnya memyusul Hinata mempunyai anak!"
"Ah, tenten. Baru saja menikah.." Ino lantas melirikku yang masih tegang disamping Ten-ten tanpa berniat melirik Sasuke yang pasti sedang nyalang menatapku. "Eh, Sakura! Aku tak melihatmu dari tadi!"
"Eh," aku tersenyum canggung, menerima uluran tangan Ino yang langsung memelukku. Rasa sakit, kecewa, dan kebahagiaan karena sahabatku senang berkumpul jadi satu, "Maaf, tadi aku sibuk dengan makanannya."
"Tak apa, Sakura."
"Ano, selamat atas pernikahanmu. Semoga kau.." aku menelan ludah, "...berbahagia selamanya."
Walau aku yang harus hancur, tambahku dalam hati.
"Arigatou, Jidat." Ino terkekeh, sama sekali tak paham wajahku menguarkan aura duka, "Nah, beri selamat juga pada Sasuke. Ten-ten kan tadi sudah."
Perlahan aku menoleh dan emerald ini bertemu onyx yang terang-terangan memujaku dalam pandangannya yang tajam. Aku tersenyum tipis.
"Selamat Sasuke-kun, kau pasti akan berbahagia." Aku mengulurkan tangan dan Sasuke menjabatnya dengan erat hingga aku merasakan tanganku basah karena keringat Sasuke. Sepertinya ia tak berniat menyudahi jabatan tangan kami, maka dalam sekali sentak aku berusaha melepaskan tanganku.
"Erm, aku harus pulang." ucapku berdusta, berniat lekas pergi karena hati ini sudah tak bisa menahan perih, "Aku ada perlu di rumah sakit."
Aku tak perlu berbasa-basi lagi. Maka aku berbalik, dan dengan sedikit berlari, kuhapus air mataku yang secara kurang ajarnya berani menetes. Ketika aku sudah diluar gedung resepsi, tangisku benar-benar pecah.
シツ彡
Rasanya aku sudah menanamkan keyakinan aku akan tegar sampai beribu kali namun tetap saja aku merasakan sakit. Aku mendengus, bersandar di kap mobilku sambil menatap langit.
"Sakura." Sebuah suara menyapaku. Aku mengerjapkan mata sembari menghapus sisa air mataku dan menoleh. Seketika tertegun melihat Sasuke berdiri disana masih dengan jas pernikahannya dengan Ino.
"Mengapa kau bisa disini?" Aku tak bisa menutupi keterjutanku. Kupandang sekeliling dan sadar tak ada siapa-siapa selain kami di basement.
"Menemuimu." Sahut Sasuke, ia mendekatiku lalu mengambil tas tanganku secara paksa, menarik kunci mobilku lantas menyeretku masuk sebelum Sasuke duduk dibelakang kemudi.
"Kita mau kemana?" tanyaku panik ketika Honda Jazz ku meluncur dijalan raya, "Bagaimana pernikahanmu?"
"Aku tak peduli." dengus Sasuke. "Aku sudah menuruti permintaan tou-san yaitu setuju dengan perjodohan ini."
"Tapi kalau kau pergi kau akan menyakiti Ino!" bentakku. Nafasku naik-turun, berusaha menghalau tangis.
"Tapi jika aku tetap tinggal, aku akan menyakiti diriku sendiri dan dirimu." Sasuke memutar ucapanku. Mobil kami berhenti dibasement gedung apartemen Sasuke. Baik aku atau pemuda raven ini masih diam.
"Mengapa kau juga memintaku setuju dengan perjodohan ini, Sakura?" Sasuke menghela nafas, memandangku. Dia benar, aku memang memaksanya menerima perjodohan antara keluarga Uchiha dan Yamanaka tanpa mengacuhkan perasaanku sendiri. Tapi bagaimana lagi, Ino menyimpan perasaan sangat besar pada Sasuke! Sebagai sahabat aku tak boleh egois dengan memaksakan diriku.
Lagipula, aku tahu siapa diriku. Hanya anak dari pemilik restaurant kecil. Tak pantas disandingkan dengan seorang Uchiha!
Aku masih diam saat Sasuke membawaku ke apartemennya. Jelas sekali ia masih frustasi denganku.
"Sasuke-kun.." panggilku, dan aku duduk mendekat kearahnya yang sedang melepas dasi diatas sofa, "Gomen.."
"Kau tak bersalah, tapi ini menyakitkan, Sakura." sahut Sasuke, ia menarikku kedalam dekapannya yang hangat, "Aku hanya mencintaimu. Aku tak bisa hidup tanpamu!"
Aku mendekap dada Sasuke, lantas mendongakkan kepala untuk memandang mata onyx yang menatap penuh luka itu, "Aku juga, Sasuke-kun. Aku tak bisa hidup tanpamu.."
Sasuke menunduk dan menciumku, memberi kecupan-kecupan ringan yang kubalas dengan senang hati. Dan lama-kelamaan, ciuman kami berubah menjadi agak kasar dan menuntun. Sasuke mendorongku hingga aku terbaring di sofa dan ia menindihku, masih dengan bibir saling bertaut.
Entah karena gila atau aku memang sudah tak waras, perlahan aku melepas kancing bajunya dan Sasuke sudah merobek gaunku. Udara serasa semakin panas dan ruang menyempit saat Sasuke mengangkatku dalam pangkuannya dan menjelajah leherku sembari memberi gigitan kecil seperti singa yang menunjukkan wilayahnya.
Aku tidak sadar kapan Sasuke berjalan, tapi ia sudah membaringkanku diranjang apartemennya. Kami sama-sama sudah bebas tanpa sehelai benangpun, ketika Sasuke masih menjelajah tubuhku.
"Bolehkah aku..?"
Sasuke menatapku dalam, penuh cinta, dan membuatku hanya bisa mengangguk.
Malam itu, akal sehatku benar-benar hilang. Aku membiarkan jeritan kesakitan dan nikmat menguasaiku tanpa memikirkan hal yang lain. Setidaknya, hanya untuk kali ini saja.
Hanya untuk kali ini saja.
シツ彡
"Mama!"
Aku mengerjap saat tangan kecil disampingku menggoyang-goyangkan bahuku, membuat lamunanku buyar. Mata onyx nya yang tajam menatapku sebal.
"Ya, sayang?"
"Sarada tidak mau pergi, Sarada mau disini!" Anak perempuanku itu mengeluh saat aku memaksakannya menata tas karena hari ini aku akan kembali ke Konoha.
Ya, semenjak malam itu, esoknya aku memutuskan pindah ke Suna, karena merasa bersalah dengan apa yang kulakukan dengan Sasuke. Aku takut memikirkan reaksi Ino jika tahu malam itu kami berselingkuh.
Saat aku genap dua minggu di Suna, aku positif hamil. Dan tak ada yang tahu, bahkan Sasuke, ayahnya. Aku ingin membesarkan Sarada, putriku, seorang diri tanpa suami, walau harus dicecar disana-sini hingga pekerjaanku sempat terancam.
Hingga hari ini, kaa-san menyuruhku pulang karena tou-san jatuh sakit. Ino bahkan menghubungiku setelah mendapat nomor ponselku dari Gaara, oniichan ku.
Selama empat tahun ini, Sasuke dan Ino belum dikarunia anak. Menurut Ino, salah satu dari mereka mandul.
Mungkin Ino berfikir Sasuke yang mandul. Tapi menurutku, Ino lah yang bermasalah reproduksi. Buktinya, aku dan Sasuke bisa memiliki Sarada.
"Secepatnya kita pulang, sayang. Sampai kakek sembuh." Aku ikut membantu Sarada yang masih cemberut sambil menata baju-bajunya.
Ya, kuharap begitu..
シツ彡
"Sarada, hati-hati jalannya!" Aku menarik koperku sembari menggandeng putriku yang masih sempoyongan sehabis turun dari pesawat. Ia tampak tak sehat, tapi aku memilih mengedarkan pandang diantara Konoha Airport mencari keberadaan Ino.
"Mama, Sarada pusing." Ah, sepertinya putri kecilku terkena jetlag. "Sama mau pipis. Sarada mau ke toilet dulu, mama."
"Ya, hati-hati. Mama tunggu sini." Aku melambaikan tangan pada Sarada yang berlari kepalang bertulis 'ladies'.
"Sakura! Jidat lebar!" Aku baru saja menoleh ketika Ino berlari kearahku dan langsung memelukku. Aku baru terkekeh sedikit ketika melihat sosok tegap itu berjalan dibelakangnya.
Sasuke.
"Kenapa kau harus pindah, sih!" gerutuan Ino tak kugubris karena aku masih terpana dengan kehadiran Sasuke. Dia bertambah tampan, dan masih nyalang memandangiku.
"Ayo, kemobil." Ino baru akan menarikku ketika aku teringat Sarada.
"Sebentar, ada yang kutunggu, Pig." Ino manggut-manggut saat aku menunjuk toilet tanpa bertanya.
"Ya sudah, aku ke mobil dulu, ponselku tertinggal. Kau bisa menunggu bersama Sasuke." Ino ngacir sebelum aku sempat menolak. Dengan enggan, aku tersenyum tipis kepada Sasuke.
"Hai, Sakura." katanya "Senang bertemu lagi setelah kau coba menghindariku."
Aku membisu, menghela nafas berat. Bingung menjawab apa.
"Mama, ayo!" Aku tersentak saat tahu-tahu Sarada menarik ujung bajuku. Aku dapat melihat Sasuke melihat anakku dan tertegun.
Sarada sendiri juga meneliti Sasuke lantas mendekatkan diri kearahku dengan takut.
"Ayo." kataku, lantas memandang Sasuke, "Sebaiknya sekarang kita menyusul Ino."
Sasuke mengangguk kaku, lantas aku berjalan duluan sambil menggandeng Sarada yang jalannya semakin sempoyongan. Aku terpaksa meminta Sasuke mendorong koperku dan menggendong Sarada. Baru saja anakku ini menyentuh bahuku, ia sudah tertidur.
"Siapa dia?" tanya Sasuke.
"Anakku." kataku, datar. Lau melanjutkan dengan sesak, "Anak kita, Sarada Haruno."
"Mengapa tak kau beri nama ia Sarada Uchiha?" Sasuke menghentikan langkahku yang memang agak repot karena memang sedikit berat menggendong Sarada yang mulai besar. Lalu memaksa menggendong Sarada. Jadilah Sasuke menarik koperku dengan tangan kiri dan menggendong Sarada yamg tertidur dengan tangan kanan. Dipandanginya Sarada penuh kasih, membuatku menghela nafas.
"Aku tak berhak."
Ino yang menunggu kami dimobil tampak terhenyak melihat anak empat tahun digendongan Sasuke, namun sama seperi tadi, ia memilih diam.
Sasuke duduk dibelakang kemudi, sementara aku menggendong Sarada dikursi belakang.
"Siapa anak itu, Sakura?" Ino bertanya saat mobil sudah meluncur dijalan raya.
"Anakku." jawabku singkat.
"Siapa ayahnya?"
"Aku tidak tahu." Biasanya, jika ada yang bertanya siapa ayah Sarada, aku akan menjawab 'Sudah meninggal'. Tapi sekarang rasanya agak sungkan.
Lalu, hening yang menyiksa. Sarada menggeliat kecil dan dapat kurasakan Ino menaruh curiga atas kemiripan putriku dengan Sasuke.
Aku memilih membatu, tak peduli. Ada penyesalan didalam hatiku karena membohongi mereka, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Karena kalau aku jujur, semua akan menjadi rumit..
Karena Sarada adalah lambang kesalahan dan cintaku kepada Sasuke..
Sebuah kebohongan yang tak akan berakhir.
Selamanya.
FIN~~
