'Aku baper.'

Itulah isi pesan yang dikirim Ranpo ke grup chatting mereka barusan. Sontak saja setiap personil kantor agensi detektif yang telah hadir disana saling menatap was-was satu sama lain. Adegan tatap-tatapan itu terhenti saat Fukuzawa membuka kasar pintu sambal memperlihatkan wajah tegang.

"Ranpo?" tanyanya.

"B-belum datang, Pak!" jawab Atsushi gagap karena kaget. Mungkin di antara mereka semua, hanya Atsushi—dan Kyoka—saja yang tidak mengawatirkan isi pesan Ranpo itu.

Fukuzawa mengangguk. "Baik, kita rapat darurat sekarang!"

Atsushi mengerjap, saling pandang dengan Kyoka yang sama-sama bingung juga. Tetapi melihat para senior mereka bangkit dari tempat duduk dan mengikuti bos mereka ke ruang rapat, jadi Bocah Harimau itu ikut juga.

.


.

Disclaimer: Bungou Stray Dogs adalah ciptaan Asagiri Kafka dan Harukawa Sango, Author tidak mengambil keuntungan.

Warning: oneshot, drabble, no pairing

.

.

Ranpo sedang Baper

by Fei Mei

.


.

Semua duduk di kursi ruang rapat dengan tegang. Bahkan Kunikida yang biasa tetap bisa memasang wajah tenang di saat genting pun sekarang malah tampak gugup. Dazai yang biasa cengengesan malah memasang tampang takut juga.

"Anu," mulai Atsushi, karena mereka telah duduk disana selama tiga menit dalam hening. "Ada apa, ya?"

"Tuan Ranpo kita sedang baper, Atsushi," jawab Dazai dengan nada serius.

"Lalu?" tanya Atsushi lagi.

" … Ah, benar juga, kau dan Kyoka belum pernah menghadapinya, ya?" ucap Kunikida.

"Menghadapi apa?" tanya Kyoka bingung.

Dokter Yosano menghela, bukan karena lelah, tapi karena ia agak sesak mengingat pesan singkat rekannya tadi. "Ranpo itu tidak boleh sampai punya perasaan negatif, atau hanya sekadar baper."

Mata Atsushi dan Kyoka menyiratkan kata 'kenapa?'.

"Dia akan, luar biasa, merepotkan," ujar Junichiro.

"Terakhir kali Ranpo-san ngambek, ruang kantor butuh setidaknya seminggu untuk bisa dipakai lagi," kata Kenji.

"S-sebegitunya?" cicit Atsushi.

Fukuzawa mengangguk. "Karena itu, kita akan rapat. Tolong ingat-ingat lagi, sebelum pesan tadi masuk, apakah ada yang melakukan sesuatu padanya? Atau ada yang tahu jika dia mengalami apa?" Kompak, semua orang di ruangan itu menggeleng. "… repot, ya …."

Kyoka mengangkat setengah tangannya. "Anu, lalu kita harus bagaimana?"

Yosano memijat pelipisnya. "Tahu pencetusnya saja belum tentu membuat semuanya mudah, apalagi jika kita tidak tahu penyebab bapernya, kan?"

"Biasa kalau orang baper bukannya karena ditolak gebetan?" celetuk Dazai.

"Memangnya Dazai-san punya gebetan?" tanya Kenji.

"Bisa jadi. Tapi, siapa?" Junichiro.

"Entah—"

—BRAK!

Kaget, semua pasang mata langsung melirik kea rah pintu yang dibuka mendadak. Entah karena terkejut atau takut, Atsushi dan Junichiro langsung menjerit bersamaan melihat ada Ranpo yang membuka pintu.

"Lhooo, ternyata kalian disini?" ujar Ranpo. "Memangnya ada jadwal rapat, ya, hari ini?"

"Ah, enggak, anu, itu—" Kunikida tidak mampu menyelesaikan perkataannya, tidak yakin juga akan bisa menjawab dengan kebohongan apa.

Dengan riang seperti anak kecil, Ranpo malah langsung duduk di kursi kosong di samping Atsushi yang wajahnya sudah pucat. "Hm? Atsushi-kun kok, pucet? Sakit? Mau permen?"

"A—enggak! Makasih, Ranpo-san!" jawab Atsushi setengah berteriak.

"Heee…." Ranpo mengeluarkan permen lollipop dari sakunya, membuka bungkusan yang ada dan memasukkan permen ke mulutnya. "Jadi, kalian lagi ngomongin apa?"

Hening, tidak ada yang berani menjawab, sampai akhirnya Fukuzawa mengeluarkan sebuah kebohongan sederhana. "Kami sedang mengadem disini, mumpung sedang tidak ada klien."

"Oh, gitu!" sahut Ranpo riang. "AC di ruang rapat memang selalu paling sejuk, ya!"

"Ha—hahaha, kalau begitu, mari kita keluar sekarang," ajak Kunikida. Mereka memang belum tahu penyebab baper Ranpo maupun bagaimana menanganinya, tetapi mereka jelas sudah tidak bisa membicarakan itu lagi jika yang bermasalah sudah ada di antara mereka sekarang.

Walau baru datang, Ranpo ikut mengangguk dan berjalan menuju pintu bersama yang lain. Belum sempat Kyoya membuka pintu, Sang Detektif Handal lebih dulu membuka suaranya.

"—Oh iya, hari ini aku baper."

Semua selain Ranpo langsung mematung, makanya ia jadi bingung. Ranpo mengerjap, memerhatikan rekan-rekannya satu-persatu.

"Baper," ulang Ranpo, "banyak banget, jadi kalau kalian mau, bakal kubagi."

" … sori?" tanya Kunikida.

"Baper, ih, masa' kalian gak tau?"

"Gimana ceritanya bisa baper banyak?" tanya Junichiro.

"Pake tas gede!" jawab Ranpo riang.

Disitu Fukuzawa semakin bingung, tapi akhirnya dia berpikir bahwa mungkin dia salah paham. "Ranpo, baper itu apa?"

"Hm?" Ranpo menoleh pada bosnya. "BAwa PERmen!"

YAELAH BOCAH, BIKIN JANTUNGAN AJA LU!

.


.

Selesai

.


.

A/N: Entah kenapa kemarin Fei bisa kepikiran tentang 'baper' bisa aja kependekan dari sesuatu yang lain selain 'bawa perasaan'. Terus saat dapet 'bawa permen', Fei langsung mikirnya ke Ranpo gitu, wkwk.

Jangan lupa cek shopee/tokopedia: angelafeimei, Fei ada jual mystery box anime (harga mulai dari 10K) dan beragam stiker waterproof (terutama HQ) mulai dari 5K.

Review?