Akibat Dari Tindakan

Summary: Tiga bersaudara (Naruto, Nagato, Menma) tidak sengaja mendengar suara mencurigakan dari ruang ganti wanita. Apa rahasia yang ditemukan oleh mereka?

Disclaimer: Naruto dan Highschool DxD dimiliki oleh pemilik aslinya. Author hanya meminjam mereka demi kepentingan fanfic ini

Warning:

Summary hampir tidak sesuai dengan isi cerita. Adult scene. OOC. Lemon. Porn Without Plot/Porn With Plot(PWP). Minor gangbang.

I Hope You All Enjoy This Story :)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sore hari di sekolah ini, seorang guru olahraga memperhatikan sisa muridnya sedang latihan renang. Dia memakai pakaian renang sekolah ini sehingga memperlihatkan lekukan tubuh indahnya. Nama guru itu adalah Rossweisse.

Kebetulan, mereka merupakan beberapa siswa yang aktif dalam tes renang, sehingga hasil tes mereka terkadang lebih unggul dari murid lain. Ketiganya sampai di garis akhir. Rossweisse meniup peluit.

"Baik, tes hari ini sudah cukup. Kalian semua boleh pulang," kata Rossweisse.

"Baik Rossweisse-sensei!" seru mereka.

Rossweisse mengangguk dengan tenang, kemudian tanpa banyak bicara menuju ruang ganti wanita. Barangkali dia ingin membersihkan badan.

Ketiganya segera naik ke permukaan. Para siswa ini adalah Naruto, Nagato, dan Menma. Tiga saudara dengan ayah dan ibu yang sama. Mereka mendekati meja yang di mana terdapat tiga buah tas. Ketiganya duduk dan mengelap tubuh mereka dengan handuk kering.

"Nii-san, lagi-lagi kau yang pertama sampai duluan," kata Nagato.

"Suatu saat nanti kau dan Menma pasti bisa melampauiku. Aku yakin itu," ujar Naruto.

Menma menggeleng.

"Suatu saat nanti, sama dengan tiga tahun lagi," kata Menma.

"Tuan pesimis akhirnya bicara juga."

"Kau salah paham, Nagato, aku realis, bukan pesimis."

"Terserah."

Naruto terkekeh.

"Sudah, sudah, jangan bertengkar di sini. Nanti saja di rumah," ujar Naruto.

Dua adiknya sweatdrop mendengarnya.

Mereka lalu ke toilet pria, berniat buang air kecil maupun buang air besar. Tidak perlu membutuhkan waktu lama ketiganya keluar dengan kondisi lega. Raut wajah puas bisa terlihat di wajah mereka.

"Tadi itu nyaman sekali, dattebayo," kata Naruto.

"Benar itu," ujar Menma.

"Kalau ditahan lama malah akan terasa sakit," sahut Nagato.

Mereka berjalan dan tidak sengaja melewati ruang ganti wanita. Desahan terdengar dari tempat khusus perempuan itu. Ketiganya melirik satu sama lain, karena 'penasaran'; diam-diam masuk ke dalam ruang ganti wanita. Mereka mengintip dibalik celah pintu. Mereka terbelalak dengan pemandangan ini.

Rossweisse dengan keadaan setengah bugil, sedang meremas payudara kanannya sambil mencolek lubang vaginanya, erangan pembangkit gairah keluar dari bibir seksinya.

"Ahhn… hnggh… ahh…."

Penis mereka bertiga mulai membengkak saat melihat adegan itu. Mereka bersembunyi dibalik dinding.

"Siapa duluan?" (Menma).

"Nii-san tentunya." (Nagato).

"Kenapa harus aku?" (Naruto).

"Jika sensei nanti marah, maka Nii-san seorang yang kena hukuman." (Nagato).

"Cerdas." (Menma).

"Brengsek kalian berdua." (Naruto).

"Terus maunya gimana? Onani doang?" (Nagato).

"Kita pakai mode tawuran." (Menma).

"Ide bagus." (Naruto).

"Kita lakukan bersama-sama." (Nagato).

Mereka melepas celana pendek mereka lalu mengangguk satu sama lain.

"1…" (Menma).

"2 …" (Nagato).

"3 …" (Naruto).

Mereka langsung masuk ke ruangan ini.

""ROSSWEISSE-SENSEI KAMI MAU JOIN!"" seru mereka.

Rossweisse terkejut.

"Eh?!"

Rossweisse tidak sempat membela diri saat Naruto mencium bibirnya. Sedangkan itu, Menma meremas payudara kiri sambil menggesekkan penisnya di paha halus milik Rossweisse. Nagato menyingkap pakaian renang Rossweisse, menekuk lutut lalu menjilat vaginanya yang sudah basah. Lidahnya bergerak bagaikan pembersih kaca mobil yang aktif tanpa dipinta.

"Haah, sensei, pahamu lembut sekali," kata Menma.

Menma masih terus memenuhi fantasinya dengan paha wanita. Tangannya tetap fokus meremas salah satu melon kepunyaan Rossweisse, di saat bersamaan, penisnya naik-turun menggesek paha guru seksi itu.

"Mmnn…. haahn… "

Rossweisse langsung mencium balik secara agresif. Naruto membalas Rossweisse dengan melumat bibirnya. Sambil berciuman, Naruto mencubit puting susu Rossweisse yang belum tersentuh. Naruto memainkan payudara kanan Rossweisse dengan antusias tinggi.

Rossweisse merasa nikmat di bagian liang kewanitaan, buah dada, dan juga bibirnya.

'Mereka benar-benar melakukannya,' pikir Rossweisse.

Rossweisse memang menginginkan ini semua terjadi. Fantasinya untuk dapat gangbang dari murid-murid favoritnya terwujud juga pada akhirnya.

Naruto dan Menma beralih ke buah dada. Keduanya dengan ganas menyedot puting susu Rossweisse. Sambil begitu, Menma masih menikmati kelembutan paha Rossweisse lewat penisnya. Sementara Nagato, dia mulai menyelipkan dua jarinya ke dalam vaginanya.

Rossweisse mendesah, suara desahannya begitu seksi sampai menaikkan hawa nafsu ketiga muridnya. Naruto dan Menma semakin beringas mengisap puting susu Rossweisse. Nagato menggosok liang kewanitaannya tanpa ampun. Rossweisse menjadi tidak tahan lagi.

"A-Aku keluaar!"

Tubuh Rossweisse bergetar hebat, ekspresi wajahnya menunjukkan kepuasan karena sudah keluar.

Naruto dan Menma berhenti menyedot buah dadanya. Nagato perlahan berdiri.

"Karena sensei sudah keluar…" (Menma).

"…sekarang giliran sensei yang…" (Nagato).

"…memuaskan kami." (Naruto).

Rossweisse mengangguk.

"A-Aku akan berusaha," kata Rossweisse.

Rossweisse berlutut, mengulum penis di depan wajahnya sembari mengocok dua penis dengan kedua tangannya. Selang beberapa menit, Rossweisse juga mengisap penis lain, sehingga tak ada penis yang melewatkan kehangatan isi mulutnya. Mereka menyukai yang dilakukan Rossweisse.

"Bagaimana rasa penis kami, sensei?" tanya Nagato.

"Penis kalian(sluurp) enak (uuumm) sensei jadi (sluurp) puas menikmatinya."

Naruto tersenyum tipis.

"Jangan terburu-buru, sensei, nikmati saja dengan tenang," kata Naruto.

"B-Baik."

Naruto meremas melon kanan sementara Menma meremas melon kiri. Nagato mengelus rambut Rossweisse.

"Sensei, mulutmu hangat sekali, dattebayo."

"Rossweisse-sensei, kau hebat."

"Kau terlalu ahli, sensei."

Rossweisse menahan senyumnya, gembira dengan reaksi mereka.

Selang beberapa saat, ketiganya mencapai puncak.

"Sensei…" (Naruto).

"..kami akan…" (Nagato).

"…keluaar!" (Menma).

Mereka muncrat di wajah Rossweisse.

[Line Break]

Mereka berlutut di hadapan Rossweisse.

"Tolong maafkan kami!" seru mereka.

Rossweisse berkedip.

"Aku sudah memaafkan kalian. Jadi gak perlu diperpanjang lagi permasalahannya," kata Rossweisse.

Setelah membersihkan diri dan sadar, ketiganya langsung meminta maaf pada guru olahraga itu. Tepat di tepi kolam renang.

Mereka mengangkat wajah mereka.

"Tetap saja, jika ada sesuatu yang bisa Nii-san lakukan, tolong beritahu kami," kata Menma.

"Itu benar," ujar Nagato.

Naruto mengangguk.

"Tepat sekali- hey!"

Rossweisse terdiam.

.

.

.

"K-Kalau begitu, sensei ada satu permintaan," kata Rossweisse.

"Apa itu?" tanya Nagato.

Rossweisse memerah.

"Sensei ingin… lakukan pegging dengan kalian."

"…"

"…"

"…"

Menma dan Nagato lenyap dalam hembusan angin. Hanya Naruto seorang sekarang.

"Err, Rossweisse-sensei…" Naruto mulai was-was. "…aku lupa ada urusan mendadak. Bagaimana kalau lain waktu saja?"

Rossweisse berseri.

"Mohon bantuannya, Naruto-kun~"

.

.

.

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Jeritan membahana terdengar dari suatu tempat.

[E-N-D]

A/N:

Rossweisse dan beng-beng. Kombinasi tepat itu ;)