Kesenangan Dewasa
Summary: Naruto sudah lama jatuh hati pada Ayame, guru wanita yang terkenal tegas di Konoha High School. Uniknya lagi, bukan dia seorang yang menyimpan perasaan itu.
Disclaimer: Naruto dan Reiko hanya dimiliki oleh pembuatnya masing-masing.
Warning:
Summary hampir gak sesuai dengan isi cerita. Adult scene. Lemon. OOC. Blowjob. Breast Sucking.
I Hope You All Enjoy This Story :)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Menjelang sore hari, banyak pekerja kantoran pulang ke rumah, tidak terkecuali pada sekolah yang disebut sebagai salah satu yang terbaik di Jepang. Nama sekolah itu adalah Konoha High School.
Kebetulan saat ini, keadaan di KHS begitu sepi karena hampir semua murid sudah pergi dari gedung sekolah, dan hanya ada beberapa murid di tempat ini. Sebagai contoh, seorang siswa terlihat berjalan seorang diri di lorong, rambutnya kuning dan iris matanya biru.
Siswa itu bernama Namikaze Naruto, dan sekarang dirinya sedang dalam perjalanan menuju perpustakaan sambil membawa tumpukan buku.
'Aku penasaran kenapa Kaichou membutuhkannya hari ini. Mungkin karena permintaan dari pihak sekolah?'
Naruto berkedip, lalu mengangkat bahu.
'Sudahlah, tidak perlu dipikirkan lebih jauh, lagipula itu bukan urusanku.'
Mengambil arah ke kanan, Naruto tidak sengaja berpapasan dengan seorang wanita berambut lavender sepanjang pinggul dengan iris mata aquamarine. Dia memakai setelan formal abu-abu dibalut jas lab putih.
Wanita ini adalah Himuro Ayame, salah satu guru yang mengajar di sekolah ini, tepatnya pada mata pelajaran kimia. Ayame dapat dikatakan guru yang tegas jika sudah menyangkut tugas, meski begitu, banyak siswa yang diam-diam berfantasi tentang berhubungan badan dengannya. Bukan hal aneh, karena dilihat dari manapun juga Ayame jelas mempunyai bentuk tubuh yang seksi dengan sepasang buah dada besar.
Sebenarnya, Naruto juga mempunyai perasaan terhadap Ayame, tapi tidak seperti mereka, dia memiliki alasan khusus dan bukan hanya sekedar menginginkan tubuhnya saja.
Hanya saja, sejauh yang Naruto tahu, sampai sekarang belum ada siswa yang berhasil mendapatkan hati guru itu. Bahkan ada kabar beredar kalau Ayame sebenarnya sudah punya kekasih dan mereka hanya sedang berpisah karena urusan pekerjaan.
Tentunya itu baru sekedar rumor, tapi, kenyataan kalau Ayame sudah mempunyai tambatan hati mungkin saja benar. Karena bagaimanapun, Naruto belum mengenal Ayame sampai ke tingkat pribadi, jadi wajar memperkirakan kemungkinan itu benar adanya.
"Ah, maaf Ayame-sensei, aku hampir saja menabrakmu tadi."
"Tidak apa, Namikaze-kun, sensei juga minta maaf karena telah mengagetkanmu."
Ayame mengamati buku-buku di tangannya, beralih ke wajah murid itu, mulutnya terbuka saat berbicara lagi.
"Datanglah ke ruanganku sebelum pulang. Ada hal yang ingin sensei bicarakan denganmu," kata Ayame.
"Baik, sensei," balas Naruto.
Ayame mengangguk, berbalik dan tidak mengatakan apapun ketika berjalan menjauh dari Naruto. Naruto mengamati punggungnya dalam diam, menghembuskan nafas sebelum menggerakkan kakinya ke tempat penuh buku tersebut.
'Ayame-sensei mungkin jauh dari jangkauanku, tapi memori waktu itu… masih kuingat dengan jelas.'
Naruto masih ingat kejadian saat itu, terjadi kira-kira enam bulan yang lalu.
[Flashback]
Pada malam hari, dalam salah satu rumah di kota ini, seorang remaja laki-laki yang diketahui adalah Naruto sedang duduk di tepi tempat tidurnya. Naruto terlihat mengamati suhu di termometer yang baru saja dipakainya.
'Demamku sedikit turun, tapi sensasi pusing ini masih belum reda juga, kalau begini caranya sulit juga bagiku untuk membuat makan malam.'
Naruto menghembuskan nafas, mengambil ponsel dan mencari nama seseorang dari daftar kontak.
'Aku jadi merasa tidak enak meminta bantuan Hina-chan, tapi dengan keadaanku sekarang, kurasa aku tidak punya banyak pilihan…'
Sebelum menghubungi nomor itu, Naruto mendengar bunyi bel dari pintu depan.
'Ada tamu? Apa mungkin teman-temanku?'
Naruto mengenakan masker, mencoba berdiri dan berjalan dengan perlahan, melewati ruang tamu hingga sampai ke pintu depan.
"T-Tunggu sebentar."
Membuka pintu, Naruto terkejut ketika melihat Ayame dengan setelan kasual berupa baju lengan pendek dan celana panjang berdiri di depannya. Tidak hanya itu, Naruto mengamati kalau guru itu membawa plastik berisi bahan makanan dan obat.
Ayame menatap Naruto dengan ekspresi tenang.
"Aku tahu ini pertanyaan aneh, tapi apakah boleh aku masuk?"
"Eh? A-Ah, iya."
"Terima kasih banyak, Namikaze-kun."
Naruto membiarkan Ayame masuk, menutup pintu lalu mereka berjalan ke ruang tamu. Ayame bertanya lagi.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Demamku sedikit turun, tapi kepalaku masih terasa pusing, bahkan berjalan saja agak sulit, apalagi buat makan sendiri."
Mungkin karena Ayame adalah seorang guru, maka dari itu Naruto tidak keberatan menjelaskan situasinya kepada Ayame.
Ayame mengangguk. "Garis besarnya aku paham. Sekarang kamu beristirahat saja di kamarmu. Sisanya biar sensei yang urus."
Naruto mengangguk, naik ke lantas atas lewat tangga, dan sekilas melihat Ayame meletakkan tasnya di sofa lalu beranjak menuju dapur.
'Jika siswa lain tahu aku berduaan dengan Ayame-sensei di rumahku, mereka pasti akan cemburu berat.'
Naruto terkekeh, kemudian bergerak lagi ke kamar tidurnya.
'Setidaknya aku sadar diri, mana mungkin sensei tertarik padaku. Tipe tegas sepertinya pasti lebih tertarik ke laki-laki yang sikapnya dewasa, bukan yang suka bercanda dan kekanakan sepertiku.'
Berada di kamar tidurnya, Naruto duduk di tepi kasur sambil menunggu dia datang membawa makanan. Beberapa saat kemudian, Ayame memasuki kamar ini dengan nampan yang di atasnya terdapat semangkuk sup hangat lengkap dengan sendok dan segelas air putih. Ayame meletakkan nampan ke meja samping kasur.
"Dengan keadaanmu yang sekarang, makanan berat tidak terlalu baik untukmu, jadi sensei buatkan sesuatu yang mudah dicerna," jelas Ayame.
"Y-Ya, kurasa lebih baik begitu."
Naruto menyimpan masker ke dalam laci meja, berniat mengambil sendok, tapi baru sadar kalau Ayame sudah memegang sendok itu sebelum dirinya. Naruto keheranan.
"Uhh, sensei?"
"Ya?"
"Aku tidak mungkin makan sup tanpa alat makan, jadi…"
"Jangan khawatir. Sensei yang akan menyuapimu."
Naruto menahan jeritan "Haah!" dari mulutnya, memilih berbicara hal lain.
"T-Tapi, aku bisa makan sendiri, sensei tidak perlu…"
Ayame menggeleng. "Jika benar kau masih merasa pusing, lebih baik simpan tenagamu dan beristirahat. Hal sepele seperti ini biarkan sensei yang urus."
Naruto sweatdrop.
"Tetap saja…"
"Biar sensei yang urus."
"B-Baiklah."
Pada akhirnya, Naruto membiarkan Ayame menyuapinya. Awalnya Naruto merasa canggung, tapi setelah beberapa saat berlalu, Naruto menyadari betapa beruntungnya dirinya karena dirawat oleh wanita secantik dan sebaik Ayame. Ayame begitu tenang meniup, dan menyelipkan kaldu sup ke mulutnya lewat perantara sendok, sama sekali tak ada keraguan dari perbuatannya, seakan menegaskan kalau yang dilakukannya ini sama sekali tidak salah.
Kemudian, setelah sup habis, Ayame meletakkan mangkuk ke meja, tidak lupa menyerahkan gelas air dan beberapa butir obat pada Naruto. Naruto menelan obat-obat itu lalu menghabiskan setengah dari isi gelas.
"Setelah ini beristirahat lah. Sekarang yang tubuhmu butuhkan hanya istirahat yang cukup. Sebelum sembuh, jangan memaksakan diri melakukan kegiatan yang berat-berat."
"Akan kuingat baik-baik nasehatmu, sensei."
Ayame mengangguk, berdiri dari kursi, melihat Naruto telah menarik selimut dan memejamkan matanya.
"..."
"Aku lega penyakitmu tidak separah yang kupikirkan," gumam Ayame.
Menurunkan wajahnya, Ayame mengecup pelan kening Naruto.
"Mimpi indah… Naruto-kun."
Ayame berbalik, keluar dari ruangan ini dengan semburat merah muda tipis muncul di pipinya, tidak lupa menutup pintu kamar secara perlahan.
"…"
Naruto membuka matanya, rona merah muda juga nampak di pipinya.
[Flashback End]
'Rasanya terasa seperti kemarin saja Ayame-sensei menjengukku. Walau kenyataannya kejadian itu sudah lama sekali terjadi,' pikir Naruto.
Tidak perlu waktu lama, Naruto memasuki perpustakaan dan melihat seorang siswi tengah menyimpan buku terakhir ke dalam box yang hampir penuh. Siswi itu menutup box tersebut, menyadari kedatangan Naruto saat melirik ke arahnya.
"Ah, Naruto-kun, maaf aku jadi merepotkanmu," katanya.
Naruto terkekeh, meletakkan tumpukan buku yang di bawanya ke meja di samping box, lalu berbicara.
"Ini bukan masalah, apalagi teman masa kecilku sendiri yang memintanya."
"Terkadang aku lupa betapa baiknya kau ini." Hinata tersenyum tipis.
Naruto terkekeh, memperhatikan tak ada box lain yang kosong, semuanya sudah penuh.
"Kulihat buku-buku yang aku bawa dari rumah tak punya tempat. Apa mereka akan jadi anak tiri nanti?"
"Jangan cemas. Acara pembagian buku gratis akan diselenggarakan minggu depan. Kami masih punya box lain, tapi masih ada di rumah Toneri-kun."
Naruto mengangguk, menunjukkan senyum aneh ke arah Hinata.
"Jadi, kapan undangan tunangan kalian? Aku sudah tidak sabar mau menerimanya."
Hinata merona, memukul pelan pundak Naruto.
"Aw."
"K-Kau ini, nanti juga akan kuberitahu kalau sudah waktunya."
Naruto tertawa kecil. "Baiklah, akan kutunggu kalau begitu."
Kemudian, dia menambahkan.
"Kebetulan aku berpapasan dengan Ayame-sensei di lorong. Beliau memintaku ke ruangannya sekarang," kata Naruto.
Hinata mengangguk.
"Aku mengerti. Hati-hati kalau begitu."
Naruto menunjukkan pose hormat, berbalik ke pintu keluar dan berjalan ke sana, sementara Hinata memperhatikan punggungnya dengan senyuman. Hinata melirik ke arah tumpukan buku yang diberikan Naruto tadi.
"Mungkin akan lebih baik kalau buku-buku ini kusimpan di ruang OSIS, "gumam Hinata.
Beralih ke sisi lain, Naruto berjalan seorang diri di lorong, sekilas mengamati keluar jendela dan melihat matahari sudah mulai terbenam. Naruto berdecak kagum.
"Pemandangan saat matahari tenggelam tidak buruk juga," ujar Naruto.
Dalam diam, Naruto meneruskan perjalanan.
[Line Break]
Sementara itu di ruang kimia, Ayame memeriksa ponselnya dan membaca berita terbaru di internet, walau dari luar terlihat tenang, tapi kenyataannya dia merasa gugup saat ini. Itu semua karena siswa bernama Namikaze Naruto.
Tak banyak orang yang tahu, kalau sebenarnya hati Himuro Ayame sudah menjadi milik Naruto seorang, hal ini disebabkan karena suatu kejadian.
Ayame masih mengingat dengan jelas peristiwa itu, tepatnya satu bulan sebelum Naruto mengalami jatuh sakit.
[Flashback]
Menjelang sore hari, Ayame berjalan di trotoar dengan mengenakan pakaian santai, berniat menuju mini-market karena bahan makanannya habis. Karena jika tidak sekarang, dia tak akan bisa sarapan besok.
Tidak membutuhkan waktu lama, Ayame memasuki mini-market yang berjarak tidak jauh dari rumahnya, berjalan dengan kaki saja sudah cukup untuk sampai ke tempat ini. Pegawai market menyambut dengan ramah.
"Selamat datang. Selamat belanja di N-Mart."
Ayame tidak mengatakan apapun, mengambil keranjang belanja lalu berkeliling seraya mengamati daftar belanja di ponselnya. Awalnya, dia berniat meraih daging dari salah satu pendingin es, tapi orang lain telah melakukannya terlebih dahulu. Ayame terkejut saat melihat wajah orang ini.
"Namikaze-kun?"
"Eh? Ayame-sensei?"
Naruto tidak menyangka bisa bertemu salah satu gurunya di tempat ini. Tentunya bukan berarti Naruto membenci hal semacam ini, daripada itu, Naruto dilanda rasa penasaran sekarang. Ayame memperhatikan keranjang belanja di tangan siswa berambut kuning itu.
"Kamu belanja kebutuhan di rumah?"
"Y-Ya, begitu lah, Kaa-san yang memintaku belanja. Sensei juga sama belanja untuk kebutuhan rumah?"
Ayame mengangguk. "Kalau begitu sampai jumpa di sekolah."
"Ya, sampai jumpa lagi di sekolah."
Setelah mengambil daging ayam, Naruto bergegas ke arah lain, sementara Ayame memilih jenis daging lain yang berbeda. Ayame menghampiri mesin kasir, menyerahkan keranjang belanja pada si pegawai, menyadari Naruto tidak ada di tempat pembayaran.
'Mungkin masih ada barang yang belum diambilnya tadi,' batin Ayame.
Setelah menyelesaikan pembayaran, Ayame keluar dari mini-market, berjalan di jalur pejalan kaki dengan tujuan menuju rumah. Baru beberapa langkah, Ayame mengeluarkan ponsel dari tasnya, berhenti sejenak untuk membaca pesan masuk.
'Menawarkan kosmetik ke nomor asing? Pesan yang aneh.'
Ayame terkejut saat tubuhnya ditarik paksa ke belakang, sesaat setelah itu, sebuah motor menabrak tiang di depannya dengan keras. Terbelalak, Ayame mulai gemetar karena sadar kalau dirinya tidak segera menghindar, tragedi yang tidak menyenangkan mungkin akan menimpanya.
"Ayame-sensei, apakah kamu ada luka?"
Ayame tersadar, melirik ke belakang dan menatap Naruto yang terlihat khawatir dengan kondisinya, lalu berbicara pelan.
"T-Tidak ada, sensei tidak terluka sama sekali."
Naruto yang mendengarnya lega, lalu membalas. "Mari kita cari tempat istirahat sejenak. Sebelum itu, aku ingin mengambil belanjaanku yang tertinggal, apa tidak apa-apa bagimu, sensei?"
"Bukan masalah."
Ayame melihat Naruto kembali ke dalam mini-market, beralih ke samping, menyaksikan sebagian warga menghampiri pengendara motor tersebut dan mencoba membantunya. Salah satu penduduk juga ada yang memanggil ambulan setelah melihat luka-luka yang diderita pengendara tersebut.
Keluar dari tempat itu, Naruto mendekati Ayame, mencoba memanggilnya.
"Ayo, sensei."
"Eh? A-Ah, iya."
Naruto mengerutkan alis, tapi tidak mengatakan apapun, walau terlihat jelas dirinya memahami apa yang sedang dirasakannya.
Mereka berjalan bersama, sampai akhirnya menemukan halte bus yang sepi, tapi dilengkapi beberapa mesin minuman di sebelah tempat itu. Sementara Naruto membeli minuman, Ayame mengisi salah satu kursi yang kosong.
"Sensei, ini kubelikan kopi untukmu."
Berjalan dari mesin minuman, Naruto mencoba menyerahkan sekaleng kopi hangat pada Ayame, lalu memperhatikan kalau Ayame mengabaikan kehadirannya. Pandangan Ayame kosong ke depan, seakan tidak terlalu memperhatikan lingkungan sekitar, entah apa yang ada di pikirannya.
'Mungkin ini akan membuatnya marah, tapi itu lebih baik daripada dia diam terus.'
Naruto menekan kaleng kopi ke pipi Ayame, alhasil membuat Ayame hampir lompat dari kursi karena tindakan itu, menatap tajam Naruto lalu berkata.
"Kalau ini di sekolah, sudah pasti sensei akan menghukummu karena perilaku kurang ajar ini," kata Ayame.
Naruto terkekeh. "Kurasa itu lebih baik, ketimbang melihat sensei melamun dari tadi. Ini ada kopi. Aku yang traktir."
Ayame terdiam, menerima kaleng kopi itu, lalu Naruto duduk di sampingnya. Mereka minum perlahan, lalu untuk beberapa menit ke depan, tak ada yang bersuara di antara, setidaknya sampai Ayame membuka mulutnya.
"Aku minta maaf… atas perlakuanku sebelumnya, dan terima kasih, karena telah menolongku," ujarnya.
"Tidak perlu dipikirkan, lagipula, sensei mungkin saja masih terguncang karena kejadian tadi. Jadi wajar saja apabila sensei refleks bersikap kasar."
Naruto masih bicara. "Dan untuk bantuanku, itu bukan masalah besar. Aku senang bisa membantu yang membutuhkan pertolongan."
Ayame menunjukkan senyuman, berkata. "Lain kali, sensei akan traktir kamu minuman, yang non-alkohol tentunya."
Naruto tertawa kecil. "Aku jadi tidak sabar."
"Ngomong-ngomong, bagaimana bisa kamu menarikku sebelum motor itu?" tanya Ayame.
"Oh, tadi aku tidak sengaja melihat pengendara motor itu bertingkah aneh, dan melihat akan ke mana arah lajunya, aku lekas keluar dan sisanya sensei pasti tahu." Naruto menjelaskan.
Ayame mengangguk, menerima penjelasan muridnya itu. Naruto dan Ayame membuang kaleng bekas minuman ke tempat sampah, berdiri dari kursi lalu berjalan ke arah berlawanan. Akan tetapi, Ayame beralih ke belakang, memanggil nama remaja laki-laki itu.
"Naruto-kun!"
Naruto terkejut, menengok ke arah Ayame.
"Y-Ya, Ayame-sensei?"
Ayame menarik nafas panjang sejenak, berbicara lagi.
"Untuk kesekian kalinya... terima kasih banyak, atas bantuanmu padaku," kata Ayame.
"Sama-sama. Dan juga, aku senang bisa menyelamatkan sensei, karena dengan begitu…"
Ayame kebingungan. "Dengan begitu?"
Naruto menyengir lebar.
"...aku bisa melihat wajah cantikmu lagi besok."
Naruto tidak bercanda soal perkataannya, terlebih Ayame memang guru wanita paling menarik dari segi penampilan. Meski begitu, Naruto sebenarnya hanya berniat mencairkan suasana lewat rayuan gombal itu, tak ada motif lain kecuali menenangkan hati wanita dewasa tersebut.
"…"
Ayame berbalik, segera berlari sambil membawa plastik belanjaannya tanpa menengok ke belakang, meninggalkan Naruto yang keheranan saat melihat tingkahnya.
[Flashback End]
Semburat merah muda tipis nampak di pipi Ayame.
'Semenjak kejadian itu, entah mengapa, aku tidak bisa berhenti memikirkan dia.'
Ayame menengok ke bawah, melihat bra berwarna putih yang telah diturunkan sehingga menunjukkan payudara besar dan sepasang puting merah muda menggoda.
'Apa penampilanku ini sudah cukup? Atau ada sesuatu yang kurang?'
Ayame menggeleng, segera mengancingkan bajunya.
'Seharusnya ini lebih dari cukup. Terutama aku sudah menguatkan tekadku ini.'
Mendengar suara ketukan, Ayame berdeham, lalu berbicara.
"Masuk," kata Ayame tenang.
Membuka pintu, Naruto berjalan memasuki ruangan ini, kemudian menutup pintu itu lagi. Naruto mengarahkan pandangannya ke wajah Ayame, bertujuan agar tidak terlihat kurang ajar karena melirik area bawah, dan berbicara.
"Sensei, boleh aku tahu alasan kenapa aku dipanggil ke sini?" tanya Naruto.
Ayame mengangguk, beranjak dari kursi, lalu berjalan sebentar hingga berdiri membelakangi meja.
"Sebenarnya, kamu telah melakukan kesalahan yang cukup fatal padaku, karena itu aku memanggilmu kemari," kata Ayame.
Demi membuktikan kata-katanya, Ayame melipat lengannya, secara 'tidak sengaja' menaikkan tangannya sehingga menekan buah dadanya yang memantul sedikit. Naruto menelan ludah saat melihat pergerakan itu.
"Namikaze-kun?"
"Eh?"
"Apa kau menyimak yang kukatakan barusan?"
"Y-Ya, aku menyimak, memangnya kesalahan apa yang telah kuperbuat?"
Ayame bersorak dalam hatinya.
'Dari riset yang kuketahui, rata-rata kaum pria memang lebih tertarik pada payudara ketimbang anggota tubuh wanita yang lain, sepertinya Naruto-kun bukan pengecualian.'
Ayame menatap lurus wajah siswa itu, memastikan perhatian Naruto terarah padanya.
'Sekarang atau tidak sama sekali,' batin Ayame.
"Kesalahan yang telah kau perbuat itu adalah…"
Naruto memperhatikan dengan seksama.
"…membuatku jatuh hati padamu."
"…"
"…"
Naruto kaget, tapi tidak lama kemudian, raut wajah lega diperlihatkan olehnya.
"Dan kupikir aku saja yang merasa seperti itu, ternyata pemikiranku salah."
Ayame terbelalak, memastikan kenyataan ini dengan berbicara lagi. "K-Kalau begitu, kamu juga menyimpan perasaan yang sama denganku?"
Naruto menyengir. "Tepat sekali, dattebayo."
Diselimuti perasaan bahagia, Ayame langsung memeluk Naruto, membuatnya hampir terdorong ke belakang karena perilakunya. Merasa cukup, Ayame memastikan wajahnya berhadapan dengan wajah Naruto, kemudian mencium bibir lelaki yang disukainya itu. Meskipun kaget dengan sikap agresifnya, Naruto tanpa ragu mencium balik sembari mengangkat wanita itu, memindahkannya ke meja sementara bibir mereka masih bersentuhan satu sama lain.
Sudah lama seperti itu, keduanya berhenti berciuman, diteruskan dengan Naruto membuka kancing baju Ayame, memperlihatkan buah dada dengan puting merah muda yang terlihat menggoda untuk diisap. Naruto mengagumi ukuran mereka yamg besar, menyadari bahwa Ayame telah menurunkan bra putihnya tanpa campur tangan darinya.
"Sensei, jangan bilang kau sengaja melakukan ini sebelum aku datang?" tanya usil Naruto.
Ayame memerah wajahnya. "K-Kau suka?"
Ketimbang menjawab, Naruto lebih memilih menjilat sekitar areola bagian kanan sambil meremas payudara yang satunya, menghasilkan desahan yang tidak sengaja keluar dari mulut Ayame. Naruto begitu menyukai suara seksi dari Ayame, maka dari itu, Naruto meneruskan dengan menyedot puting susunya, mengakibatkan desahannya semakin kencang.
Sluurp. Sluurp. Sluurp. Sluurp. Sluurph.
"Ahh~ ahn~ ahh~ ahnn~ ahhh~"
Sluurp. Sluurp. Sluurp. Sluurp. Sluurp.
"Hnngh~ ahh~ ahn~ ahh~ ahh~"
Sluurp. Sluurp. Sluurp. Sluurp. Sluurp.
"Ahh~ ahn~ ahh~ ahhh~ ahn~"
"Haah, sensei, oppaimu enak sekali, dattebayo," kata Naruto di sela-sela mengisap.
"K-Kalau begitu (ahh~) kenyot toket sensei (ahn~) lebih keras (ahh~)..."
Naruto berseri, tanpa pikir panjang mengisap puting susu bagian kanannya lebih kencang dan lebih keras dari sebelumnya, alhasil mengakibatkan tubuh Ayame bergetar hebat.
"Aaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhnnnnnnnn~"
Ayame mengambil nafas sejenak, keringat mengalir dari kening ke dagunya, lalu melihat Naruto menurunkan ritsleting celananya, memperlihatkan cd yang basah dan terlihat sebagian cairan mengalir turun tanpa beban.
"Wow, sensei, jangan bilang kau sensitif di bagian payudara?"
"M-Mungkin? Sensei tidak tahu pasti jawaban pertanyaanmu itu."
Terkekeh, Naruto mencium Ayame lagi, yang dibalas oleh wanita itu. Selain mengecup bibir dan saling bertukar saliva, Ayame juga membuka ritsleting celana Naruto, merasakan sesuatu yang keras dan tegak di tangannya. Ayame langsung memompa pelan penis siswa tersebut, sementara mulutnya dikuasai sepenuhnya oleh Naruto.
"Sensei, haah, mulutmu juga tidak kalah enak."
"Mmnn, cium sensei lagi, Naruto-kun~"
"Dengan senang hati, dattebayo."
Karena kebutuhan oksigen, mereka terpaksa berhenti berciuman, diteruskan dengan Ayame yang berlutut di depan Naruto kemudian mengocok penisnya. Naruto mengelus rambut panjang Ayame, dalam diam menyukai yang dilakukan wanita itu terhadap penisnya, lalu berbicara.
"A-Ayame-sensei, ini terasa enak…"
Ayame tertawa kecil. Mengingat hal lain, kali ini Ayame mengulum salah satu buah zakar Naruto, di saat bersamaan memompa lebih kencang penisnya. Naruto dibuat keenakan ketika Ayame melakukan hal tersebut. Merasa cukup, Ayame lalu 'melahap' setengah dari seluruh bagian penisnya, awalnya mengisap dengan lembut sebelum menjadi keras dan kuat. Naruto mendesah karena perbuatan Ayame yang 'bersemangat'.
"A-Aku akan keluar..."
Paham, Ayame masih terus menyedot penis Naruto, sampai akhirnya merasakan sesuatu yang hangat memasuki tenggorokannya. Ayame menelan sejenak, mengeluarkan penis Naruto dari mulutnya setelah itu, tidak lupa mengecup bagian kepala sebelum berdiri. Ayame beralih pada Naruto, menanyakan pendapatnya.
"Bagaimana rasanya orgasme?"
Naruto tertawa canggung. "Kurasa… hebat?"
Ayame puas mengetahui hal ini.
'Tidak sia-sia aku menonton video edukasi di situs dewasa beberapa minggu belakangan ini,' batin Ayame.
Walau rasanya aneh, Ayame tidak mempermasalahkan hal tersebut, selama itu milik lelaki yang disukainya. Kemudian, Ayame naik ke atas meja, menarik sedikit celana dalamnya sampai membuka celah kenikmatan bagi remaja berambut kuning itu. Ayame tersenyum manis pada Naruto, jari telunjuknya mengarah ke liang kewanitaannya yang sudah basah.
"Jangan salah masuk, Naruto-kun," candanya.
Naruto tersenyum tipis, mengarahkan penisnya pada 'pintu masuk' tempat surgawi itu, dan dengan perlahan, terus menekan penisnya ke depan sampai menyentuh sesuatu. Pandangan Naruto fokus kepada Ayame, yang mengangguk, pertanda dia sudah siap. Dengan sekali percobaan, Naruto mendorong penisnya sedikit keras, merobek selaput dara milik Ayame.
Ayame meringis, merasakan perih ketika keperawannya diambil. Meski begitu, tak ada penyesalan yang dirasakan Ayame, terlebih yang mendapat 'mahkota'nya adalah Naruto, bukan orang asing atau lebih buruk, pelaku pelecehan seksual. Bagian lucunya, rasa sakit yang dirasakan Ayame tidak berlangsung lama, mungkin itu karena vaginanya telah basah sebelum penetrasi tersebut dilakukan.
"K-Kau boleh bergerak sekarang, Naruto-kun."
Naruto mengangguk, menggerakkan pinggulnya ke depan dan ke belakang secara perlahan, tujuannya agar liang kewanitaan Ayame terbiasa dengan ukuran alat vitalnya. Setelah merasa cukup, Naruto mulai menambah ritme gerakannya, mendorong keluar-masuk penisnya dengan kencang, tidak seperti sebelumnya yang pelan-pelan. Naruto menyukai kehangatan dan sensasi yang dirasakannya saat ini. Masih terus menggenjot vaginanya, Naruto mengamati Ayame yang tidak menahan desahannya, sehingga suara seksi wanita itu bisa terdengar jelas.
"Ahh~ ahh~ ahn~ ahhn~ ahh~"
"Ahh~ ahh~ ahh~ ahh~ ahhh~
"Ahh~ ahh~ mmnn~ ahh~ ahh~"
'Sial, Ayame-sensei yang sekarang seksi sekali, dattebayo,' batin Naruto.
Beralih ke bawah, Naruto memperhatikan sepasang 'melon'nya berayun ke sana-kemari seperti tengah menggodanya, tanpa ragu dirinya langsung mengisap puting susu bagian kiri dengan keras dan brutal. Merasakan kenikmatan yang bertubi-tubi, Ayame hanya bisa menjerit kencang.
Sluurp. Sluurp. Sluurp. Sluurp. Sluurp.
"AHH! AHH! AH! AHHN! AHH!"
Sluurp. Sluurp. Sluurp. Sluurp. Sluurp.
"AHHH! AHH! AH! AHH! AHH!"
Sluurp. Sluurp. Sluurp. Sluurp. Sluurp.
"AHH! AHH! AHH! AHHN! AHH!"
Ayame menarik wajah Naruto sebelum mencium bibirnya. Tidak mau kalah, Naruto terus menggenjot vaginanya sambil mencium balik, menekan bibirnya rapat-rapat dengan bibir kekasih tuanya itu. Mereka saling mengecup dan bertukar saliva saat lidahnya masing-masing bertemu. Sudah cukup lama seperti itu, keduanya merasakan sesuatu akan datang, lalu berhenti berciuman.
"S-Sensei, aku akan keluar..."
"Y-Ya, mari kita keluar bersamaan..."
Berteriak saat keluar secara bersamaan, mereka mengatur nafas sejenak karena klimaks hebat itu, lalu pihak pria mencabut penisnya dari vagina sang wanita. Ayame melihat sisa cairan putih yang masih tersisa, mendapat ide, berlutut di depan Naruto sebelum menjilat kepala penisnya, turun ke bagian pangkal dan buah zakar, lalu kembali pada kepala. Naruto mengerang pelan.
"H-Haah, sensei, rasanya enak sekali, dattebayo."
Ayame menahan senyuman, mengulang hal yang sama sampai penisnya bersih dari cairan itu, kemudian berdiri sambil menghadap ke arah Naruto.
"Suka dengan yang sensei lakukan tadi?"
"Y-Ya, begitulah."
Ayame senang, kemudian mengamati lantai terdapat kolam kecil hasil perbuatan mereka. Naruto juga memperhatikan hal itu.
"Mungkin sebelum pergi, seseorang harus bersih-bersih di sini."
"Akan kubantu."
"Terima kasih banyak, Naruto-kun."
Mereka membersihkan lantai dengan bantuan pembersih. Setelah cukup, Naruto dan Ayame keluar dari ruangan yang telah terkunci itu, melangkah beriringan di lorong gedung sekolah. Ayame memegang erat lengan Naruto, senyuman tidak pernah pudar dari wajahnya. Naruto menyengir saat melihat tingkah guru wanita itu.
"Padahal kita sama-sama senang, tapi entah kenapa, aku merasa kalau kesenangan sensei jauh lebih besar dariku," kata Naruto.
Ayame tersadar, perlahan rona merah menghiasi kulit pipinya sebelum menyembunyikan wajahnya di bahu Naruto.
"Hehe."
"J-Jangan bicara aneh-aneh."
"Oke."
[E-N-D]
A/N:
Karakter yang fresh dan berbeda dengan nama Ayame Himuro. Mantap lah pokoknya ;)
