CONTENT WARNING:
» NSFW
» Soft smut (sedikit eksplisit)
» In bahasa (baku)
» Sasuke x fem!Naruto (M/F) / NL
» Kuchiyose normal ver.

Selamat membaca!


Lust

Sasuke sudah membuatnya berantakan. Pria itu bahkan telah sukses membikin ia separuh telanjang. Lidah yang menggeliat di dalam mulutnya. Lidah yang mencumbu basah jenjang lehernya. Dan, lidah yang bergerak memutar lalu menghisap dadanya kuat seolah ia mengharapkan sesuatu darinya untuk mengenyangkan dahaganya.

Oh, fuck! Sasuke telah benar-benar mengenal titik mana saja di tubuhnya yang bisa membuatnya melenguh nikmat dalam setiap ekstasi yang ia tawarkan.

Tapi, apa-apaan ini? Ia baru saja hendak memandu tangan Sasuke untuk menjamah dadanya yang lain berharap itu akan memberikannya kenikmatan sempurna yang bahkan ia bisa keluar begitu saja tanpa Sasuke harus memasukinya. Namun, tangan pria itu malah menolaknya. Menahan pergelangan tangannya hingga ia merasakan sesuatu tengah merayap di kedua lengannya, membelit, mengunci, mengikatnya, lalu berakhir melilit di antara lehernya. Sampai kemudian ia mendengar sebuah desisan.

Sasuke lantas beranjak perlahan. Meninggalkan saliva yang menjuntai panjang usai mencumbu pada puting merah muda miliknya yang kini telah berada di bawah kendali. Fuck, Sasuke! Naruto lagi-lagi mengumpat. Itu terlampau panas. Dan, ia juga lagi-lagi merasakan pangkal pahanya kembali menghangat.

"Sasuke, apa-apaan ini?" Naruto memprotes di sela antara desah suaranya yang meretih parau. "Aku bukan seorang yang akan menolak untuk bercinta denganmu sampai kau harus mengundang ular kesayanganmu ini untuk mengikat kedua tanganku."

"Aku tahu," balas Sasuke arogan.

Cih! Ia benci kalau Sasuke sudah berlagak sok dominan seperti ini.

"Lalu untuk apa semua ini? Usir saja dia."

Sasuke menyeringai. "Untuk bersenang-senang?"

Naruto mengernyit. Terlihat enggan. "Aku tidak suka BDSM. Dan, tidak pernah setuju. Jangan aneh-aneh."

"Bukan." Sasuke membalas kalem. Sudut bibirnya mengulas senyum simpul selagi kembali merendahkan tubuhnya mengikis jarak. Mengurung Naruto lagi dalam kungkungan kedua tangannya. "Aku hanya ingin menyaksikan pemandangan terindah. Saat dimana kau putus asa ingin menyentuhku ketika aku sedang merawatmu dengan baik." Sasuke mengulum senyum manis. "Menidurimu dengan jariku, misalnya. Atau, lidahku? Ah, dan tentu saja saat aku memasukimu dengan ereksiku — "

"Oh fuckk! Tutup mulutmu dan cepat lalukan." Naruto menukas dalam hela napas yang memberat. Ucapan kotor Sasuke memang benar-benar sialan. Itu sukses membuat miliknya kembali berkedut dan membutuhkan.

"Kau bilang tidak pernah setuju dengan BDSM. Kau tahu itu akan membuatmu tersiksa, bukan?"

"Kurasa itu bukan BDSM." Naruto melengos malu. Wajahnya sedikit merona. Tatapannya beralih ke sembarang arah. "Aku hanya mendadak tertarik."

Mendengar hal itu, jelas saja sepasang netra sehitam jelaga milik Sasuke sontak berkilat pekat. Tetapi entah, pria itu sejenak hanya bergeming. Hanya selang beberapa detik, sebelum kemudian terdengar mendengus kecil sembari mengusap kepala ular Kuchiyose miliknya saat berujar, "Anak yang manis." Dan, ular itu pun kembali mendesis.

"Hei! Tidak bisa begitu, dong." Naruto tiba-tiba memekik tak terima.

Sasuke menaikkan sebelah alis. "Hm, apanya Naruto?"

"Kenapa jadi ular itu yang mendapat usapan di kepala? Dia bahkan tak melakukan apapun."

Sasuke terkekeh, "Cemburu?"

"Menurutmu?"

"Naruto, kau bahkan bisa mendapat sentuhan dariku lebih dari itu. Lucu sekali kau malah cemburu saat aku hanya mengusap kepala Aoda."

"Diam dan — nnghh!" Ucapan Naruto terputus, ia melenguh saat tiba-tiba Sasuke meremas dadanya. Memijatnya lembut. "Tapi tetap saja — akh!" Naruto tak menyerah. "Harusnya aku yang mendapatkan pujian itu."

Persis saat ucapannya berakhir, Naruto terengah. Dan, ia reflek mengerang tertahan manakala Sasuke tiba-tiba terpaksa menarik mulutnya yang baru saja hendak kembali melumat puting payudaranya, demi melihat gadis yang kini berada di bawah kuasanya tersebut tengah menatap kecewa. Ia lantas mendengus dan membalas lirih. "Tak perlu cemburu, Naruto. Hanya kau gadisku yang paling manis. Paling sempurna. Bahkan lebih dari sekedar luar biasa saat aku menyentuhmu dan kau pun mendesah untukku."

"Nngh…fuck, Sasuke!"

Selagi mengucap rayuan itu, Naruto dibuat mendesah keenakkan saat Sasuke membawa perlahan jemarinya turun. Menekan lembut dengan sentuhan sensual manakala miliknya masih berlindung dari kain tipis yang sudah berubah lengket, dan hangat.

"Ya, seperti itu. Kau cantik sekali."

Naruto menengadah. Giginya menggigit bibir bawah saat tahu-tahu tangan Sasuke sudah bergerak turun dan menyelinap di balik celana dalamnya.

"Jangan. Jangan ditahan, Naruto," katanya lagi.

Damn, Naruto! Mendapati gadisnya benar-benar telah basah kuyup bahkan ketika ia belum memasukkan jemarinya satu pun, Sasuke malah ikut menggeram dalam benak. Sial. Ia yang berniat ingin bersenang-senang lebih lama, malah ereksinya sudah mendesak di bawah sana.

Naruto menggeliat gelisah. Lilitan Aoda serasa makin menguat saat ia mencoba melepaskan diri darinya. "Jangan menggodaku — oh, shit! Kubilang jangan menggoda — aanhh!"

Sasuke sengaja masih hanya bermain-main dengan klitorisnya. Ibu jarinya menyentuh lambat, dan itu sukses membuat Naruto terkesiap dan gemetar hebat.

"Aku bahkan belum memasukkannya, dan kau sudah dekat, Naruto?"

Naruto bungkam. Berusaha menahan desahannya demi melirik tajam — sekaligus putus asa — pada Sasuke yang tengah menyeringai puas.

"Lihat, dirimu! Sumpah Naruto, kau benar-benar menjadi lanskap yang sangat indah. Aku tahu betapa kau ingin sekali mendorong dan menuntun jemariku untuk segera memasukimu, bukan?" Sasuke menjeda, memiringkan kepala. "Tetapi, sayangnya Aoda menahanmu untukku. Bagaimana rasanya?"

"Kau senang? Kau sudah mendapatkan kesenanganmu, huh?" Naruto bertanya di sela napasnya yang menyengal. Sasuke benar-benar menyiksanya dengan sentuhan-sentuhan lembut pada daging kecil di pangkal pahanya.

"Belum. Setengahnya saja belum." Tak sampai satu detik usai menyudahi kalimatnya, Sasuke lantas membenamkan jemarinya. Memasukinya. Mendorong ke dalam. Ke luar. Ke dalam lagi. Lalu, ke luar lagi. Lebih cepat. Tanpa kesulitan, bahkan saat ia mencoba menambahkan satu jarinya lagi.

"Oh, gosh! Sasuke, your finger feels so good."

Naruto mendorong kepalanya ke belakang, sesekali berpaling mencari pelampiasan. Sial, ular Sasuke benar-benar menyulitkannya bergerak dengan leluasa. Mulutnya terbuka. Tak mampu menahan erangan nikmat terlebih saat rungunya sayup-sayup mendengar suara-suara basah yang diciptakan oleh jari-jemari pria itu dengan licinnya. Ah, satu lagi. Suara-suara basah itu kini bahkan bercampur dengan desisan dari mulut Aoda. Tunggu. Mungkinkah Aoda juga merasakannya selagi ular itu melilit di lehernya? Yang benar saja.

Di tengah erangannya, Naruto tiba-tiba memekik.

Tunggu. Tiga jari?

"Sa-sasuke, jangan gila! Tiga jari? Itu terlalu berlebihan."

.

.

….dilanjut kalau moodnya udah balik(?) ?