Disclaimer:

Karakter yang dipakai dalam cerita ini diambil dari serial Naruto karya Masashi Kishimoto.

Ide dipungut dari lingkungan sekitar.


Rainy Fall

.

.

.

oleh:

ForgetMeNot09


Gerimis tak menyurutkan niatnya untuk melangkah. Setelah turun dari bus, ia bergegas membuka payung ungu untuk melindungi kepala dan tubuhnya. Sembari sebelah tangan mengeratkan jaket cokelat muda yang dia pakai, mata piasnya menatap langit. Ia mendesah.

Ia menengok ke kiri dan kanan, langkahnya mulai dipercepat menyeberangi jalan raya yang tak terlampau ramai. Sepasang kaki yang berjalan itu terhenti di depan sebuah kafe, yang terletak di antara deretan toko yang berjajar.

"Terlambat lagi?"

Suara bariton yang menyapa membuatnya mendengus. Ia menoleh, mendapati wajah tampan dengan senyum mengejek.

"Apa aku baru saja mengatakan tampan? Yang benar saja!" batinnya miris.

Gadis berambut cokelat panjang itu berdiri dan berjalan cepat melewati pria yang masih saja menatapnya jenaka.

"Yah … aku diabaikan. Oh sakitnya hati ini," ujar si pria, tangannya meremas dada seolah-olah ia benar-benar merasa tersakiti.

Sang gadis pura-pura tidak mendengar. Setelah memakai apron, ia meraba-raba saku bajunya, mencari sesuatu. Kenapa tidak ada? Duh, apa ia menjatuhkannya di bus tadi saat mengambil kartu?

Mendadak ia kaku, saat merasa rambutnya sedang ditarik pelan.

"Konohamaru!"

Ia hendak mengelak, tapi rambutnya malah semakin tertarik membuatnya mengaduh.

"Diamlah Hanabi! sebentar lagi selesai," titah Konohamaru.

Hanabi terdiam, mau tidak mau ia mengalah, membiarkan Konohamaru mengikat rambutnya dari belakang.

"Lagi pula, tidak sopan kau ini selalu memanggilku begitu saja," lanjut Konohamaru.

Mata pria itu memandang Hanabi tajam.

"Aku ini lebih tua darimu, seharusnya kau memanggilku …."

"Baiklah, Paman. Terima kasih sudah membantuku."

"Hai, aku belum setua itu."

Hanabi tersenyum meledek.

Sementara itu, seorang pria menatap mereka tak suka.

"Selalu saja ribut, apa mereka tidak sadar bisa saja pelanggan terganggu?" gumamnya kesal.

Hujan memang identik dengan kesedihan. Beberapa orang merasa terganggu pekerjaannya ketika hujan turun. Namun di sisi lain, ada pula yang diuntungkan dengan tetesan air yang menghunjam bumi ini.

Kafe Your Friend salah satunya, sebab hujan turun, banyak pejalan kaki yang memilih mampir. Meski sebagian besar niat berteduh, bukan menghangatkan badan dengan secangkir kopi atau mengganjal perut dengan sepotong cheesecake.

Sepanjang hari, seiring hujan yang tak kunjung berhenti, para pelanggan memasuki kafe ini silih berganti.

"Dua hot latte, strawberry cake dan cinnamon cake," teriak Asuma dari balik mesin kasir.

Pria dewasa itu tidak memedulikan bagaimana dua orang karyawannya sedang berjibaku.

"Dasar, apa dia tidak ada niat menambah karyawan?" omel Hanabi, tangannya sibuk mengoleskan selai stroberi di atas potongan kue.

Konohamaru tertawa. Tangannya belum lepas dari alat penggiling.

"Asuma orang yang sangat perhitungan, dia tidak akan melakukan sesuatu yang menambah pengeluaran. Lagi pula, kafe ini ramai hanya saat-saat tertentu seperti sekarang."

Hanabi menoleh dan memandang sengit.

"Apa?" tanya Konohamaru bingung, dia salah lagi?

"Kau protes saat aku memanggilmu tanpa embel-embel, tapi kau bahkan memanggil pamanmu dengan nama saja?"

Konohamaru tergelak. Siapa sangka ucapannya akan menjadi bumerang. Iris gelapnya sempat melihat rambut Hanabi yang sudah mulai berantakan. Beberapa helai keluar dari ikatannya.

Tawanya reda terganti senyum yang menyemat bibir. Sejenak ia melepas sarung tangan dan meninggalkan pekerjaannya, lalu kembali membantu Hanabi mengencangkan ikatan rambut.

Hanabi terkejut tapi bergeming. Entah kenapa perlakuan Konohamaru yang tiba-tiba ini bisa membuat detak jantungnya kian cepat.

"Apa tadi kau sengaja tidak kencang mengikatnya?" tanya Hanabi sinis, berusaha menutupi rona pipinya dengan menunduk.

Konohamaru menaikkan sebelah alis, "Apa? tidak ada ucapan terima kasih?"

"Terima kasih," balas Hanabi singkat, sambil berjalan melewati pria itu.


Rainy Fall


Akhirnya gadis itu bisa menyandarkan tubuhnya. Hari ini sungguh melelahkan. Pelanggan tak henti-hentinya datang. Asuma sampai terpaksa menutup kafe karena stok kue memang sudah habis. Kalau saja masih ada, mungkin bisa sampai pagi kafe itu buka.

Hanabi menatap langit yang masih meneteskan sisa air. Kemudian melirik jam tangan. Sudah jam 9, tapi busnya belum juga datang? Ia membuka ponsel dan iseng membuka portal berita. Benar saja, bus terakhir malam ini dihentikan karena ada kerusakan jembatan di jalur yang dilalui.

Kalau begini, naik taksi jadi satu-satunya pilihan. Terpaksa harus berkorban lebih uang, tak masalah daripada ia terjebak di sini.

Tiba-tiba sebuah motor berhenti di hadapannya. Motor besar yang sudah terlalu sering ia lihat. Terutama sebab pemiliknya ialah orang yang sangat ia kenal.

"Tidak ada bus kan? Ayo kuantar," kata Konohamaru dengan senyum lebar.

Hanabi mendesah, inginnya menolak tapi bukankah tawaran ini sangat menggiurkan? Lumayan untuk menghemat pengeluaran.

"Aku tidak punya helm," kilahnya tak mengacuhkan batinnya yang memprotes.

Konohamaru turun dari motor, membuka bagasi kecil di bagian samping, dan mengeluarkan sesuatu yang membuat batin Hanabi berteriak gembira.

"Selalu ada persiapan, begitu kan seharusnya?"

Tak menanggapi, sang gadis merebut helm tersebut dan memakainya.

"Bukankah ini namanya terlalu persiapan?" teriak Hanabi berusaha mengalahkan suara angin.

"Maksudnya?"

"Kenapa kau membawa helm cadangan? Berarti kau berniat mengajak seseorang kan?"

Konohamaru tertawa, ada-ada saja gadis ini.

"Ya begitulah, tapi maaf membuatmu kecewa, aku bawa cadangan kalau sewaktu-waktu Asuma mau membonceng," jelasnya.

Hanabi diam, tiba-tiba saja ada rasa tak suka merayap ke dadanya.

"Kenapa aku harus kecewa?" gumamnya.

Dalam perjalanan itu mereka lebih banyak diam. Mungkin Konohamaru fokus dengan kendaranya, tetapi Hanabi memikirkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehnya akan sangat mengganggu.

Apa pria di depan ini sedang mempermainkannya? Sejak bekerja di kafe Asuma, ia mengenal Konohamaru. Pria itu suka sekali menjahilinya, meski sering juga dia menjadi baik, seperti membantunya. Yang menjadi masalah adalah perasaan Hanabi yang mendadak rentan ketika berhadapan dengannya.

Sejak dahulu, Hanabi bukanlah gadis yang lemah. Ia bahkan tidak percaya dengan yang namanya cinta. Pun ketika melihat Hinata-sang kakak-yang sedang jatuh cinta, Hanabi masih berpikir itu hanyalah bentuk kenyamanan karena laki-laki yang selalu memberikan perhatian. Dan menurutnya, setiap laki-laki yang memberikan kenyamanan kepada seorang gadis, artinya dia mengharapkan sesuatu dari gadis itu.

Hell, there's no such thing as a free lunch.

Baginya, pria yang tulus menyayangi seorang gadis adalah keluarga.

Pikirannya itu mendominasi tatkala Hinata akan menikah. Ia menyatakan keberatannya, tapi tentu saja tidak ada yang mendengar. Semua orang menganggap pendapatnya bersumber dari ego semata.

Hanabi kian mengeraskan hati. Ia bersikukuh terhadap pendiriannya. Kendati begitu, sempat ia luluh, saat melihat bagaimana Naruto-pria yang menjadi suami Hinata-memperlakukan kakaknya. Naruto bisa menjadi pengganti sosok sang ayah, bagi Hinata.

"Kau melamun?"

Hanabi tersentak. Ia melihat Konohamaru yang berdiri menatapnya bingung.

Apa sudah sampai?

Hanabi menoleh dan mendapati sesuatu yang sama sekali membuatnya tak paham.

"Kenapa kita ke sini?"

Konohamaru mengerucutkan bibir, "Kau benar-benar melamun tadi ya? Aku sudah bilang minta ditemani makan."

"Apa? kukira kau mau mengantarku pulang," sergah Hanabi.

"Iya, setelah makan kuantar pulang, oke?"

"Kau memaksa?"

"Ya, aku lapar, lagi pula di jalan tadi juga perutmu bunyi, apa kau tidak sadar?"

Ya Tuhan, gadis itu merasa hangat di belah pipinya. Apa benar? Wajar sih, ia belum sempat makan malam kan?

"Baiklah," ujarnya pasrah pada pria Sarutobi yang langsung menyambutnya semringah.

Hanabi membiarkan Konohamaru berjalan lebih dahulu.

Dia bagaimana?

Apa dia seperti Naruto yang bisa menyayangi Hinata, mengerti Hinata?

Tidak mungkin.

Konohamaru jauh lebih tua dari dirinya. Asuma bilang, bulan lalu adalah ulang tahun keponakannya yang ke 35. Hanabi ingat, saat itu ia langsung memutuskan untuk memanggil Konohamaru "paman". Tidak salah kan? Pria itu sepuluh tahun lebih tua darinya.

Hanya … kenapa sikapnya masih seperti anak muda? Hanabi menepuk dahinya sendiri.

Namun apa yang salah dengan pria tua itu? Selain sepuluh tahun age gap?

Mendadak tatapannya nanar pada punggung Konohamaru.

Pria itu … sudah beristri.

"Hanabi! apa kau mau tetap di situ?"

Baikkah jika Hanabi memperturutkan egonya? Sebab disadari atau tidak, perhatian Konohamaru sedikit demi sedikit memberinya kenyamanan. Ini … membuat hatinya goyah.

"Apa kau mau menolongku?"

Langkah Hanabi terhenti paksa, "Hah?"

"Celanaku basah saat tidak sengaja menginjak genangan di depan kafe."

Hanabi menoleh ke bawah, benar saja, celana Konohamaru basah dan bertanah di bagian bawah.

"Aku malu kalau masuk ke dalam sana dengan celana seperti ini. Aku titip ya?"

Ketika kata "titip" merasuki pikiran Hanabi, membuatnya berusaha mencerna apa maksudnya, Konohamaru malah dengan sigap melepas celana. Ternyata pria itu memakai celana jin pendek di dalam. Tanpa aba-aba ia memasukkan celana basahnya ke tas Hanabi yang memang berukuran sedang.

"Hah?"

"Ayo masuk," ujar Konohamaru tanpa merasa bersalah, sembari menarik tangan Hanabi. Tidak peduli Hanabi sudah emosi dan berteriak tertahan.

"Tasku jadi kotor dong!"


Rainy Fall


Selama seminggu setelah makan bersama, Konohamaru tiba-tiba menghilang bagai ditelan bumi. Pria itu tidak menampakkan diri di kafe. Saat bertanya pada Asuma, pemilik kafe itu berkata bahwa ada urusan yang membuat keponakannya tidak datang. Untunglah, Asuma menyalahartikan kegelisahan Hanabi. Ia mengira Hanabi takut kerepotan kalau bekerja sendiri, lalu membawa Kurenai, istrinya, dan Mirai, anaknya. Dasar tidak mau rugi!

Mirai tak menjadi perkara bagi Hanabi. Gadis itu supel, ceria, dan selalu klop bekerja sama dengan Hanabi. Sekali waktu bahkan mereka berdua menghabiskan waktu bersama, membantu menyelesaikan tugas akhir Mirai. Beruntung jurusan kuliah yang diambil anak Asuma itu sama dengan dirinya dahulu, Hukum Ekonomi.

"Kenapa Kakak malah kerja di sini?"

Pertanyaan Mirai membuat Hanabi tertawa. Susah payah ia menjelaskan sebuah kosa kata bernama idealisme. Ya, Mirai bingung, idealisme seharusnya membuat Hanabi bekerja sesuai dengan apa yang dipelajarinya saat di bangku kuliah. Namun bagi Hanabi, idealisme adalah kebahagiaan. Kenikmatan dan kenyamanan menjalani kehidupan, adalah juga perwujudan idealisme Hanabi. Melakukan sesuatu yang tidak disukai, demi uang banyak sekali pun, tidak akan bisa membawa kebahagiaan. Yang mana itu sangat jauh dari standar idealisme yang dimilikinya.

Mirai hanya geleng-geleng kepala.

Cengkerama keduanya terhenti saat pintu kafe terbuka. Keduanya menoleh, Hanabi seketika terkejut. Pria yang baru saja dikatakan menghilang ditelan bumi, sekarang muncul lagi di permukaan bumi.

"Wah Kak Konohamaru!"

"Yo Mirai, kau menggantikanku di sini?"

"Begitulah, ini teman-temanmu?"

Konohamaru mengangguk. Tatapannya bertemu dengan iris pucat Hanabi. Pria itu tersenyum lebar.

"Yo Hanabi!"

Hanabi masih memasang wajah datar seperti biasa. Ia membungkuk sejenak sebelum berjalan cepat ke dapur.

Susah payah gadis Hyuga itu menenangkan dadanya yang bergejolak. Tangannya sibuk meracik kapucino, tapi kepalanya penuh dengan hal lain. Telinganya mendengar bising bincang-bincang dan canda tawa mereka, tapi tak menyerap apa yang mereka bicarakan. Asuma, Kurenai, Mirai, Konohamaru dan dua temannya. Bukan ia kesal karena bekerja sendiri, toh ia yang tidak mau dibantu dan menyuruh Mirai untuk bergabung dengan mereka.

Kekesalannya lebih untuk hatinya sendiri, yang semakin susah ia kendalikan. Mata kebanggaan Hyuga itu bahkan sudah berkaca-kaca.

Lalu ia mendengar langkah kaki mendekat. Hanabi menggigit bibirnya kuat-kuat.

"Kubantu."

Suara itu … sudah seminggu ia tidak mendengarnya, bahkan Hanabi berpikir ia sudah lupa dengan suara itu.

"Tidak perlu," seraknya.

Namun Konohamaru memaksa. Ditariknya nampan dari tangan Hanabi. Dia sendiri yang menata cangkir-cangkir yang mengepul serta pisin berisi kue ke atas nampan, lantas membawanya.

"Kau bantu menyajikan ya?"

Terpaksa Hanabi menurut. Sampai di meja, Hanabi menjadi objek tatapan kedua teman Konohamaru. Gadis itu pura-pura tidak tahu saat mereka berdua tersenyum entah karena apa.

"Oh ya Hanabi, celanaku masih di tempatmu ya? Nanti malam kuambil ya."

Suasana tiba-tiba hening, tapi sinyal bahaya Hanabi mengaum.

"Wah wah wah … rupanya begitu, Konohamaru?"

Suara itu bernada meledek. Disambut tawa ramai dari yang lain.

"Kalian ini! biarkan saja! Mereka sudah sama-sama dewasa," timpal Asuma.

Hanabi mendelik ke arah bosnya. Lalu membungkuk sebentar dan berjalan pergi.

Langkahnya berhenti di ujung dapur. Beruntung kafe ini punya dapur yang unik, di mana salah satu sudutnya berada di tepi jendela besar yang menghadap langsung ke jalan.

Hanabi membuka pintu jendela dan keluar menuju satu tempat duduk di balkon.

Pandangannya menerawang, seakan membelah batas langit, menuju pada sesosok yang ia rindukan. Ia keraskan hatinya. Bagaimana pun, tak boleh ada air matanya yang menetes.

Lantas ia melirik, saat sadar ada seseorang yang duduk di sampingnya.

"Kau marah?"

Hanabi menghela napas dalam. Matanya memejam erat.

"Jangan didengarkan! Mereka biasa bercanda seperti itu!"

Sang gadis terkesiap, "Apa mereka biasa bercanda merendahkan orang lain?"

Dahi Konohamaru berkerut, "Merendahkan orang lain bagaimana? Aku tidak mendengar mereka merendahkanmu."

"Kau dan mereka sama saja. Kau mengatakan apa tadi? Dan itu membuat mereka berpikir kalau aku sudah tidur denganmu. Ya Tuhan, bahkan mereka tertawa."

Di luar dugaan, Konohamaru malah tertawa.

"Kau juga ikut tertawa," geram Hanabi.

"Hai," Konohamaru mengacak-acak kepala sang gadis, "umurmu berapa sih? Aneh, hal seperti itu malah dibesar-besarkan."

"Kalian yang aneh, hal seperti itu dibuat bercanda!"

"Hal seperti apa? Tidur bersama?" pancing Konohamaru.

Hanabi memilih diam. Tidak ada gunanya berdebat dengan pria ini. Ia akan lelah sendiri karena menggunakan otot alias emosi, sedangkan pria ini malah menganggapnya bahan tertawaan.

"Aku kecewa … kukira kau marah karena aku tiba-tiba pergi dan tidak mengabarimu," lanjut Konohamaru.

"Bukan urusanku! Bagiku yang penting ada yang membantuku bekerja," jawab Hanabi. Suaranya kembali stabil, seakan-akan emosi yang baru saja meluap, teredam habis.

"Kaaannn … semakin kecewalah aku. Apa kau tidak merindukanku?"

Hanabi menoleh cepat. Pandangannya sengit.

"Kau gila?"

Konohamaru mengendikkan bahu. Tatapannya beralih ke ramainya jalanan di hadapan.

"Ya aku berharap seperti itu, karena aku merindukanmu."

Hanabi tertawa miris.

"Apa kau sama sekali tidak menyukaiku, Hanabi?"

"…."

"Kupikir tatapanmu padaku sudah berubah dibanding pertama kali kita bertemu."

Angin berembus lembut seakan ingin menenangkan jantung keduanya yang bergetar hebat.

"Jangan seolah-olah kau serius, Konohamaru."

Konohamaru menatap bingung, "Aku serius!"

"Kau punya istri!" sergah Hanabi tertahan.

Air mata yang sekian lama ia redam, luluh juga.

"Dan Asuma tidak memberitahumu kalau Remon sudah meninggal?"

Hanabi mengusap air matanya, "Aku sudah tahu."

"Lalu? di mana masalahnya?"

Detik demi detik dalam diamnya Hanabi, terasa lama bagi Konohamaru. Sungguh ingin sekali ia mengguncang-guncang bahu Hanabi agar segera memberi penjelasan.

"Apa kau tidak mencintainya?"

Oh rupanya lebih baik Hanabi diam daripada menanyakan perasaannya kepada mendiang istrinya.

"Menurutmu aku akan menikahi orang yang tidak aku cintai?"

Hanabi menyadari, ada perubahan pada sikap Konohamaru. Pria itu terdengar serius, suaranya berat. Rahangnya mengeras, wajah itu bahkan tak lagi memiliki kelembutan. Ini mengerikan.

"Kalau kau mencintainya, kenapa kau tadi bilang merindukanku. Kau tidak merindukannya?"

Konohamaru mengusap wajahnya kasar, "Ya Tuhan, Hanabi! Tentu saja aku mencintainya, karena itu aku menikahinya, hidup bersamanya, mendampinginya sampai Tuhan mengambilnya dariku!"

"Lantas …."

"Lantas apa aku tidak boleh jatuh cinta lagi bahkan setelah istriku mati?"

Sentakan Konohamaru mengerdilkan nyali Hanabi. Gadis itu tidak pernah melihat Konohamaru semarah ini. Pria itu lebih banyak bercanda dan tertawa, hingga menjahilinya. Jadi ketika wajah tampan itu memerah karena amarah, Hanabi takut.

Bibirnya bergetar ingin menjawab, tapi ….

"Sudahlah, lupakan saja!" pungkas Konohamaru.

Pria itu pergi meninggalkan Hanabi yang air matanya semakin deras.


Rainy Fall


Hari berikutnya dan berikutnya, tepatnya sudah empat hari ini, Hanabi tidak pergi ke kafe. Ia meminta izin kepada Asuma untuk cuti karena sedang sakit.

Ya, bukan fisiknya yang sakit, melainkan hatinya. Emosinya berkecamuk sejak pertengkarannya dengan Konohamaru. Saat itu bahkan Konohamaru langsung pergi, tanpa mengatakan sepatah kata pun. Meninggalkan Hanabi yang terpaksa menyusun penjelasan palsu untuk Asuma dan yang lain.

Selama itu dia hanya berdiam di rumah, keluar jika bahan persediaan makanan sudah habis. Hari-hari ia lalui dengan menonton film atau drama komedi. Bibirnya mampu tergelak, tapi hatinya tidak. Satu bagian ia merasa kesal dengan diri sendiri, satu bagian ia merasa bersalah pada Konohamaru, dan bagian lain ia memikirkan keluarganya.

"Kau yakin Kak? Kasihan ayah loh, bekerja sendirian. Aku harus ke kampus beberapa hari ini untuk bimbingan dan ibu tidak bisa membantu banyak karena cepat lelah. Kak Konohamaru … sama sepertimu, tidak pernah datang lagi. Apa yang terjadi dengan kalian?"

Suara Mirai di telepon tadi masih terngiang-ngiang. Hanabi menghela napas dalam.

Ia turun dari ranjang, setelah berjam-jam lamanya menghabiskan waktu di sana. Langkahnya gontai, mengantarnya ke dapur untuk minum. Belum sempat air memenuhi kerongkongan, ia mendengar bel pintu berdering.

"Siapa?" gumamnya.

Mungkin Hinata berkunjung. Sudah dua minggu sejak terakhir sang kakak datang ke apartemennya dan membujuknya untuk ….

ia terkejut saat membuka pintu.

Namun tetap bergeming, tidak bisa berkata-kata.

"Kau tidak mempersilakanku masuk?"

Meneguk ludah gugup, Hanabi menepi, memberi jalan Konohamaru untuk masuk. Pria itu duduk di sofa, sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang. Mulutnya berdecak kagum.

"Tak kusangka kau orangnya berantakan, padahal di kafe kau rapi sekali."

Hanabi mengutuk dalam hati, kau pikir gara-gara siapa jadi berantakan begini?

"Oh ya, bahkan pakaianmu pun," Konohamaru menghentikan ucapannya. Matanya menelusuri figur Hanabi dari ujung kepala hingga ujung kaki, niatnya, karena pandangannya malah terhenti di dada sang gadis, "wow," lanjutnya dengan mata berbinar.

Sontak Hanabi bereaksi, dilepasnya sandal bulu yang sedang dipakai dan dilempar ke kepala Konohamaru, "Mesum!" lalu berlari masuk.

Konohamaru tertawa. Salah siapa menemui tamu dengan gaun tidur tipis dan terbuka begitu? Mengundang birahi saja.

Tak sampai dua menit Hanabi sudah duduk di hadapannya. Konohamaru mendesah pura-pura kecewa.

"Lebih cantik seperti tadi padahal," ujarnya.

Hanabi mendecih. Tanganya bersedekap, pandangannya penuh pertanyaan pada pria di depan.

"Kau tahu dari mana aku tinggal di sini?"

"Asuma."

Jawaban itu membuat Hanabi merasa bodoh. Tentu saja dari Asuma, siapa lagi? Ketika mendaftar bekerja di kafe Asuma dahulu, ia harus mengisi borang yang isiannya sangat lengkap.

"Ada … perlu apa?" lirih Hanabi ragu.

Pria itu menatapnya tersenyum. Senyum yang selalu bisa mencabik-cabik perasaan Hanabi.

"Aku akan mengatakan kalau aku merindukanmu, tapi nanti kita jadi bertengkar lagi. Jadi aku hanya menjawab, Asuma menunggumu," jelas Konohamaru.

"Kau sekarang kaki tangannya?"

Pria itu mengendikkan bahu, "Begitulah, lebih tepatnya aku juga tidak mau bekerja sendirian."

"Bukankah kau juga tidak masuk kerja sejak saat itu?"

Konohamaru terkekeh, "Mirai memberitahumu ya? dasar!"

Hanabi merasa ada sedikit beban yang runtuh dari dadanya. Suasana ini, seperti suasana sebelum hari itu. Ringan dan ini melegakan.

"Awalnya aku juga malas kembali ke kafe. Bagaimana pun aku takut bertemu denganmu dan canggung. Namun, Mirai terus meneleponku dan berkata aku keponakan yang kurang ajar. Membiarkan pamannya kewalahan dengan urusan kafe bla bla bla. Jadi … tadi pagi akhirnya aku ke kafe."

Pria itu diam sejenak. Pandangannya mengamati Hanabi yang memilih menunduk melihat meja.

"Asuma bilang, hanya aku yang bisa membujukmu kembali, karena aku yang punya masalah denganmu. Duh, pria tua itu benar-benar cerewet. Dia bilang tidak mau mempekerjakan orang lain selain kau. Katanya, walaupun kau suka mengomel, pekerjaanmu rapi dan dia suka."

Hanabi tersenyum. Tanpa ia sadari, senyum itu mengacaukan isi kepala Konohamaru saat ini.

"Kau jujur sekali," tawa Hanabi.

Gadis itu berdiri sejenak, "Mau minum apa?" tawarnya.

"Air putih saja."

Hanabi mengangguk dan pergi ke dapur. Rasanya ingin Konohamaru mengekori, tapi tungkainya malas diajak berdiri.

"Sebenarnya aku tidak sepenuhnya jujur," ucapnya saat Hanabi kembali.

"Hah?"

Setelah Hanabi duduk, Konohamaru menatapnya serius.

"Aku ingin meluruskan masalah kita."

Tubuh Hanabi menegak, kaku. Ia antara siap dan tidak siap mendengar kelanjutannya.

"Aku mencintai Remon, kalau kau ingin tahu. Aku sangat mencintainya."

Hanabi menahan napas. Namun enggan menyela.

"Itulah sebabnya aku menikahinya, kurasa kau sudah mendengar bagian ini, saat kita bertengkar."

Mata Konohamaru melembut ketika bersitatap dengan ungu pudar Hanabi.

"Kau juga mungkin sudah mendengar dari Asuma, tentang dia yang sakit. Dia wanita yang kuat. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah menangis, dengan penyakitnya. Justru berkebalikan denganku yang seorang pria."

Pikiran Hanabi membayangkan sosok seseorang nun jauh di sana.

"Ketika hari-hari terakhirnya, aku tidak pernah beranjak sedikit pun dari sisinya. Aku menemaninya, saat dia tidur pun aku tak bisa memejamkan mata. Aku takut kalau aku lalai, Remon diambil dari sisiku."

Konohamaru tertawa, "Aku mungkin bodoh berpikir bisa membodohi Tuhan."

Sesaat keduanya terdiam. Tampak jelas di mata Hanabi, pria di depannya sedang mati-matian menahan perasaan.

"Ternyata Tuhan menunjukkan kepadaku bahwa Dialah yang Paling Berhak "Membodohi" makhluk-Nya."

"…."

"Remon mengembuskan napas terakhirnya di pagi hari, tepat setelah ia membangunkanku tidur," helaan napas dalam kembali terdengar, "ia bahkan tersenyum, dan sempat mengatakan bahwa meski tanpanya, aku harus melanjutkan hidup dengan baik, aku harus membuka hati dan menerima jika ada cinta yang menghampiri. Dia bilang, aku harus bahagia."

Hanabi merasa jantungnya diremas kuat, tatkala melihat air mata menetes di pipi Konohamaru.

"Sepeninggalnya, hampir 6 bulan aku seperti mayat hidup. Asuma mungkin tidak akan menceritakan ini, tapi kau bisa bertanya padanya."

Pria itu mengusap pipinya.

"Aku merasa seperti cahaya ditarik paksa dari kehidupanku, dan aku dibuat buta. Ke mana aku melangkah, untuk apa aku di dunia ini, semua seperti tidak ada artinya. Aku tidak menyalahkan Tuhan, aku tidak pernah berani, tapi perasaan terpuruk itu benar-benar ada … dan itu tidak bisa, digambarkan."

Hanabi bergeming. Ingin sekali rasanya ia mendekat dan memeluk Konohamaru. Namun ego dan logika menahannya. Cerita ini, bagaikan film lama yang diputar ulang di kepalanya.

"Untungnya Tuhan kirimkan aku orang-orang baik. Udon dan Moegi, yang datang ke kafe bersamaku saat itu, selalu menarikku untuk kembali ke kenyataan," Konohamaru tertawa, "Moegi bahkan menamparku dan mengatakan aku justru membuat Remon sedih jika tetap begitu."

Ia mengambil gelas dan meneguk habis isinya.

"Paman Asuma … mengajakku berbicara, berpura-pura sedang putus asa karena baru saja diberhentikan dari pekerjaan. Dia terus saja membual tentang membangun sebuah kafe, dan impian-impian lainnya. Membuat kepalaku tidak sempat memikirkan Remon barang sedetik. Ya, dia sengaja melakukan itu. Gila kan? Aku sudah mati-matian memikirkan bagaimana caranya, dari mana modalnya, dan ternyata dia sudah punya konsep sendiri, yang bahkan bisa diwujudkan tanpa aku."

Pria itu terkekeh.

"Dia pakai uang pesangonnya untuk modal."

Konohamaru menghela napas dalam, matanya beralih kepada Hanabi. Ia tersenyum.

"Apa pun mereka lakukan untuk membuatku bangkit kembali, hingga hampir setahun setelah Remon pergi, aku baru benar-benar menyadari makna kata-kata terakhirnya."

"…."

"Kami saling mencintai, tulus sampai menganggap bahwa kami harus sama-sama bahagia. Remon meninggalkanku dengan kebahagiaannya, karena bisa membahagiakanku. Aku … juga harus bahagia meski dia sudah tidak ada."

Hanabi menunduk. Pikirannya benar-benar berkecamuk sekarang.

"Tidak pernah terpikirkan olehku, untuk berbahagia dengan cinta, Hanabi."

Hanabi mendongak.

"Aku mulai menikmati hidup dengan pandangan yang berbeda. Aku mulai memiliki tujuan hidup lagi, membesarkan kafe yang dirintis oleh Asuma. Aku bekerja di sana, bukan sekadar bekerja. Aku mempelajari segala sesuatu tentang kopi, kue dan apa pun yang dibutuhkan kafe Asuma. Semakin lama, semakin dalam, aku semakin menikmatinya, sampai bisa menanamkan modal di sana. Ya saat ini setengah saham kafe itu milikku," Konohamaru tertawa, "dan sadar atau tidak, aku bisa mewujudkan impian mendiang istriku. Aku melanjutkan hidupku dengan baik, bukan hanya demi diriku sendiri, tapi juga demi Remon."

Hanabi terpaku. Untaian kata demi kata yang meluncur dari bibir Konohamaru seakan memicu sesuatu di dalam kepalanya. Ditatapnya mata gelap pria itu dalam, mata yang seolah mampu mengunci pergerakan jiwa dan raganya.

"Tapi …."

Hanabi meneguk ludah, menunggu pria itu melanjutkan ucapannya.

"Ada sesuatu yang terasa kosong. Di sini, Hanabi," Konohamaru memegang dada kirinya, "awalnya aku tidak tahu itu apa. Sampai saat Udon dan Moegi memberitahukan rencana pernikahan mereka kepadaku. Pikiranku sedikit terbuka, tapi ketika itu aku masih belum yakin. Lalu … satu waktu aku melihat Asuma sedang bercengkerama dengan Bibi Kurenai. Suasana itu … seperti tidak asing. Tiba-tiba saja aku merindukan sesuatu untuk mengisi kekosongan ini. Terlebih saat melihat mereka bersama pasangan masing-masing, perasaanku seperti ditinggalkan dan aku merasa sendirian."

Kedua pasang mata kontras itu saling menatap. Mencoba menyelami arti tatapan masing-masing.

"Mungkin kau berpikir aku bisa dengan mudahnya mengatakan itu, tapi sama sekali tidak. Setiap hari aku bahkan menyisakan isi kepala untuk berpikir, apakah boleh aku mencintai lagi? Memang benar, Remon mengatakan jika aku harus membuka hati dan menyambut jika ada cinta yang datang, tapi … apakah aku mampu mencintai orang lain, yang bukan dirinya?"

"Aku terus meragukan itu, sampai kau hadir di kehidupanku," pungkas Konohamaru.

Setelah itu suasana hening. Suara detak jarum jam mendadak terdengar lantang, menyeruak di keheningan itu. Hanabi yang tidak mampu berkata-kata dan Konohamaru yang menanti tanggapan Hanabi.

Getaran ponsel di meja yang memutuskan kegiatan saling menatap mereka. Konohamaru bergegas mengangkat ponsel itu dan menjawab panggilan telepon.

"Ya?"

"…."

"Ah, iya aku tahu. Besok saja, aku sedang ada urusan sekarang."

"…."

"Oke."

Konohamaru mendengus sambil pura-pura mau membanting ponsel. Apa yang dilakukannya membuat Hanabi tertawa. Tawa pertama yang terdengar di telinga Konohamaru dari awal dia datang ke apartemen ini.

"Kenapa tertawa?"

"Banting saja ponselnya! Sementang sudah punya 50% saham di kafe."

Mau tidak mau pria Sarutobi itu ikut tertawa. Sungguh di luar dugaan, yang diharapkannya adalah tanggapan serius atas ceritanya, tapi Hanabi malah melawak.

"Lega rasanya melihatmu seperti ini, ini Hanabi yang aku kenal," ujarnya tersenyum.

Hanabi berhenti tertawa, menyisakan senyum di bibir dan rona merah di pipinya.

"Apa kau tidak merasa mengkhianati Kak Remon, jika kau mencintai yang lain?" tanya gadis itu tiba-tiba.

Konohamaru terkejut, tapi ia sudah menyangka akan mendapat pertanyaan seperti ini.

"Tidak, sama sekali tidak. Aku hanya memenuhi ruang kosong di hatiku yang pernah terisi oleh rasa cintaku padanya, dengan rasa cintaku pada yang lain," senyum terurai lebar di bibir sang pria, "sementara aku tetap mencintainya dengan jenis cinta yang berbeda."

Hanabi terperangah. Otot tubuhnya melemas memaksanya bersandar pada sofa. Kata-kata Konohamaru menusuk jauh jantungnya, lebih dari yang pria itu kira. Tanpa sadar, air mata sang gadis menetes.

"Jadi, aku mencintaimu, Hanabi, bukan berarti aku mengkhianati Remon."

Tangis Hanabi menjadi. Bahunya terguncang hebat, ia terguguk. Dibenamkan wajahnya ke sepasang tangannya yang bergetar.

Konohamaru salah tingkah. Rasanya ia hanya menceritakan tentang dirinya, kehidupannya, tapi kenapa Hanabi terbawa perasaan sampai menangis begini?

"Begitu dalamkah Hanabi mencintaiku?" pikirnya ge er.

Insting dewasanya bekerja. Ia beranjak dan mendekati Hanabi. Memosisikan diri duduk di samping sang gadis dan memeluknya.

"Apa aku mengatakan sesuatu yang menyakitimu? Atau kau ingin membantahku?"

Hanabi merasa bulu kuduknya berdiri saat sisi kepalanya dipaksa bersandar ke dada bidang Konohamaru. Mau menolak, tapi ia tak punya tenaga. Emosi melahap habis seluruh energinya.

Yang ia lakukan hanya menggeleng.


Rainy Fall


"Selamat pa …"

"Selamat pagi, Paman Asuma."

"Hanabi, akhirnya kau kembali."

Asuma setengah berlari menyambutnya di pintu masuk.

"Syukurlah, aku kira aku akan gila menjalankan kafe ini sendirian," ujar pria tua itu.

"Jangan berlebihan Sayang! Aku juga membantumu di sini," teriak Kurenai dari meja kasir.

Hanabi tertawa melihat tingkah lucu mereka. Suasana seperti inilah yang mungkin dirindukan Konohamaru dan juga ….

"Ayah," gumamnya.

"Kemarin kau memanggilku paman, dan sekarang ayah?"

Hanabi menoleh, mendapati Konohamaru sudah menyeringai di sampingnya. Bibirnya mengerucut tak suka. Lantas ia beranjak menuju dapur. Pria yang lebih tua darinya tapi tak kunjung dewasa itu mengikutinya dari belakang. Berdiri sejajar dengan Hanabi, demi bisa menatap raut gadis itu.

Tak bisa dipungkiri, binar bahagia jelas tercetak di wajah cantik yang telah menjeratnya. Konohamaru tersenyum.

"Terima kasih mau menerima cintaku," ucapnya hati-hati.

Hanabi mendongak menatapnya, "Aku tidak bilang menerima cintamu, Paman!"

"Aku tidak perlu kata-kata, wajahmu saja sudah cukup menjadi jawaban untukku."

Konohamaru mengaduh ketika Hanabi menyikut pinggangnya.

"Jangan terlalu percaya diri, Paman!"

"Aku tidak terlalu percaya diri, aku hanya yakin bahwa kau juga mencintaiku dan … hei, kau kemarin memanggil Remon "kak", tapi kau memanggilku "paman"?"

"Tentu saja, aku bisa membayangkan Kak Remon yang cantik, muda dan belia. Sedangkan kau," Hanabi menatap mengejek, "TUA."

"Enak saja tua, lagi pula Remon itu seumur denganku tahu?"

Keributan kembali terdengar dari dapur. Asuma yang berada di balik meja kasir mendesah kasar, "Seharusnya mereka berdua tidak usah kembali."

Kurenai yang sedang menyiapkan nampan tertawa, "Lalu kau akan kewalahan lagi melayani pelanggan."


Rainy Fall


"Ya tunggu sebentar."

Hanabi tersenyum sabar, menunggu pintu di depannya terbuka. Saat terbuka, mata yang menatapnya membelalak.

"No … Nona Hanabi!"

"Hai, Ko, apa kabar?"

"Baik-baik saja, Nona. Bagaimana dengan Nona?"

"Aku juga baik-baik saja. Apa aku boleh masuk?"

Ko membungkuk dan mempersilakan Hanabi masuk, "Te … tentu saja, Nona."

Hanabi duduk di tatami ruang tamu. Pandangannya berkeliling, tidak ada yang berubah sejak ia meninggalkan rumah ini.

Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari bagian dalam rumah.

"Ada tamu ya Ko? siapa?"

Hanabi berdiri mendekati orang yang hendak menyambutnya, sedangkan muka Ko terlihat pucat.

Saat bertemu pandang, Hanabi tersenyum hangat, membungkuk memberi salam kepada sosok wanita yang sedang terkejut.

Wanita yang pernah ia benci. Wanita yang ia anggap merebut posisi ibunya. Wanita yang dinikahi ayahnya enam bulan lalu.

"Aku pulang, Ibu."

.

.

.

Selesai