Disclaimer: Super Sentai adalah buatan Toei Company, Ishimori Production, dan TV Asahi. Author tidak mengambil keuntungan materiil.

Warning: oneshot, drabble, era Gokaiger, Marvelous x Ahim.

.

Dongeng tentang Tuan Putri

by Fei Mei

.


.

Kalah suit, Marvelous dan Ahim harus pergi ke supermarket berbekal uang dan daftar belanjaan dari Hakase. Ahim, sih, tidak masalah, toh dia bisa sekalian jalan-jalan. Sang Kapten pun tidak masalah untuk pergi jalan, tapi pemikiran 'harus belanja' itu membuat langkahnya lebih berat—ucapan Luka bahwa seorang gadis biasanya memakan waktu untuk belanja lebih lama daripada kaum Adam membuat Marvelous semakin bergidik ngeri.

Untungnya, Ahim tidak tahu bagaimana cara bersenang-senang dalam kegiatan belanja layaknya para gadis pada umumnya. Entah mungkin karena berasal dari planet yang berbeda, atau mungkin juga karena Ahim bukanlah 'gadis pada umumnya'—Ahim de Famille sejatinya adalah seorang putri. Jadilah, ketika ia dan Marvelous telah selesai memasukkan barang yang tertulis di daftar dalam keranjang belanja, tanpa ba-bi-bu mereka segera mengantri dan membayar di kasir.

Ahim baru menghentikan langkahnya saat mereka keluar dari supermarket. Seseorang sedang menjajakan buku-buku di terpal yang telah tergelar di pinggir jalan samping tempat mereka berbelanja. Dari tempatnya berdiri, walau tidak begitu bisa membaca tulisan judulnya, Ahim bisa melihat buku warna-warni dan gambar-gambar kartun yang lucu.

"Marvelous-san, kita lihat itu sebentar, ya?" pinta Ahim.

Karena nyatanya mereka memang sedang tidak buru-buru, Marvelous mengangguk, dan keduanya menghampiri apa yang ingin Ahim lihat.

Ditaruhnya belanjaan di pinggir, Ahim mulai meraih buku-buku yang ada di tumpukan teratas. Ternyata buku-buku yang menarik perhatiannya itu adalah buku dongeng. Ahim tidak mengenali satupun judulnya, mungkin karena dongeng anak di bumi berbeda dengan dongeng yang ada di planet Famille.

Ahim melihat-lihat sinopsis di sampul belakang tiap buku dongeng yang ia pegang. Mungkin sudah yang kesepuluh, wajah tertarik Ahim berubah menjadi kecewa, dan Marvelous menyadari perubahan itu.

"Kenapa? Tidak ada yang menarik?" tanya Si Kapten.

Tersenyum kecil, Ahim mencoba mengambil buku yang selanjutnya. "Kupikir semuanya menarik, kok, apalagi aku belum pernah membaca dongeng versi planet bumi."

"Lalu kenapa kamu kayak gak tertarik lagi?"

"Hmmm, mungkin karena hampir semua punya satu hal yang sama di dalamnya jika tokoh utamanya adalah anak perempuan, terutama tuan putri."

Marvelous mengernyit.

Sang Putri menaruh buku di tangannya dan merapikan semua yang tadinya sempat ia ambil untuk lihat, lalu menatap seniornya dalam bidang perbajaklautan itu. "Cerita tentang tuan putri yang ada di dongeng, mereka diselamatkan oleh pangeran. Banyak cerita seperti itu di planet Famille, ternyata di planet ini pun sama saja."

"Yah, bukannya memang para gadis biasanya ingin diselamatkan pangeran?" tanya Marvelous acuh.

"Aku bukan gadis biasa, kalau begitu," gumam Ahim sambil tersenyum pada rekannya. "Aku lebih memilih untuk diselamatkan oleh seorang Bajak Laut, seperti yang telah kualami sendiri."

Kaptennya menyengir lebar. "Hooo, kau bisa menulis dongeng baru tentang itu nantinya. Cerita tentang tuan putri yang berencana untuk membalaskan dendam planetnya sampai bergabung dengan komplotan bajak laut."

Ahim terkekeh, lalu mengambil kantung belanjanya lagi. "Ayo kembali ke Gokai Galleon, Marvelous-san, sayang waktunya jika aku masih terus melihat-lihat disini."

Marvelous mengangguk dan berjalan duluan. "Aku, sih, gak sayang sama waktunya, ya."

"Eh?"

"Daripada sama waktu, aku lebih sayang sama kamu, sih."

" … eh?"

Pemuda itu menoleh pada Ahim yang lebih dulu menghentikan langkahnya di belakang, mungkin karena ragu akan pendengarannya. Marvelous tersenyum lebar dan menatap lurus gadis itu. "Kisah romansa seorang putri dengan pangeran itu sudah biasa di fiksi, kan? Mau coba buat kisah romansa tuan putri dengan kapten bajak laut versi nonfiksi?"

"A—eh?" Rona merah terpancar di pipi Ahim. Entah karena malu atau terkejut.

"Kupikir, mungkin sudah termasuk takdir kalau kamu jadi GokaiPink, soalnya aku adalah GokaiRed."

"K-kenapa?"

"Warna merah terkesan lebih kuat daripada warna merah muda, kan? Jadi biar aku yang lebih kuat ini melindungimu, ya?"

Ahim akhirnya terkekeh, "Ampun, Marvelous-san, belajar analogi seperti itu darimana, sih?"

Marvelous yang masih tersenyum kemudian mengisyaratkan dengan dagunya agar mereka kembali berjalan pulang, dijawab anggukan kepala rekannya.

"Ah, seandainya kita lagi gak sama-sama bawa barang," celetuk Marvelous. "Kan, kita jadi bisa gandengan."

"A—Marvelous-san!"

.


.

Selesai

.


.

A/N: Gak nyangka ternyata lewat dari 500words, uhuy. Fei terinspirasi novel Winter dari The Lunar Chronicles karangan Marissa Meyer, ada perkataan dari Winter yang komentar bahwa dongeng yang dibacain oleh bapaknya hanya tentang perempuan yang diselamatin pangeran saja padahal dia pengennya diselamatin dokter (karena gebetannya bercita-cita jadi dokter). Padahal Fei juga bukannya lagi baca ulang novelnya loh, cuman tiba-tiba keinget adegan itu aja saat tiap lihat adegan Marvelous dengan Ahim. Eksekusi fict ini beda banget dengan rencana, dan gombalan Marv itu bener-bener mendadak astaga. Dan Fei berusaha untuk membedakan gaya bicara Marv dengan Ahim, semoga terasa ya.

Jangan lupa cek shopee/tokopedia: angelafeimei, Fei ada jual mystery box anime (harga mulai dari 10K) dan beragam stiker waterproof (terutama HQ) mulai dari 5K.

Review?