Catatan : Italic = Alur mundur.

Bab ini masih bagian dari bab 33. Mulai dari bab inilah aku akan mengutamakan point' of view Sasuke ya.

Dan aku juga telah mengubah bagian akhir bab 33, Hinata yang mengungkapkan cintanya itu tak terjadi di bab 33 melainkan lamunan semata. Awalnya emang ingin kubuat seperti itu, Hinata tak pernah mengungkapkan perasaannya sampai hal buruk terjadi (sedikit bocoran) pada bab depan nanti Hinata baru mengungkapkan cintanya, tapi karena lelah aku mempersingkatnya.

Dan karena waktu sendiriku tak banyak, jadi aku tak bisa mengupdate seperti biasa. Aku jadi sering tidur cepat karena kecapean. Ingin hiatus pun, justru semakin membuatku malas melanjutkan kembali. Jadi mohon maaf klo fiksi ini jadi slow update ya.

Segitu aja dulu ya.

Jangan lupa bersyukur, dan selalu jaga kesehatan.

Salam manis,

R-daisy.


Disclaimer : Masashi kishimoto

Baby breath by R-daisy

M for safe

Warning : AU, OOC, Crackpair, Gaje, Typos, terkadang tidak sesuai EYD, slight Sasusaku etc.

DLDR!


"Mencintai istri sendiri bukanlah suatu dosa Hinata. Aku hanya mencintai istriku sendiri, aku mencintaimu Hinata," bisik Sasuke yang sedikit menggebu.

Meskipun berapa kali Sasuke mengungkapkan cintanya, namun getaran di hatinya semakin terbakar. Dan selama apapun Hinata terdiam, Sasuke tak akan memaksa

Sasuke mengamati Hinata yang tengah tenggelam dalam lamunannya. Sepertinya, Hinata sedang ada pergulatan besar di dalam benaknya. Bunyi dentang jarum jam menguasainya kesunyian, dari jarak yang seperti ini Sasuke sangat menyukai pemandangan yang tersuguhkan.

Hinata sangat cantik.

Hinata kemudian menutup matanya. Sasuke berkesiap. Hinata mengalung tangannya ke lehernya —mendekap erat sehingga tak ada ruang yang membuat kecanggungan masuk. Dan tindakan selanjutnya membuat Sasuke menjadi salah tingkah, dengan satu tarikan napas, Hinata menciumnya.

Sasuke mencoba memproses apa yang terjadi, akan tetapi getaran kecupan di bibirnya menunjukkan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Melihat Hinata yan mencoba memberanikan diri, membuat semangat di diri itu tersulut.

Hingga ciuman manis itu berakhir, Sasuke menyeringai.

"Apa ini sebuah sinyal, hn?" tanyanya seusai melewati ciuman yang menggetarkan jiwanya.

Dengan ujung bibir yang masih bersentuhan, bayangan di mata Sasuke terlihat Hinata yang sedikit malu itu. Pipinya yang merona tertangkap olehnya. Dan Sasuke merasa sulit bernapas, Hinata kini menggigit bibirnya. Sasuke yang memiliki kesabaran yang setipis kertas itu lantas mengecup singkat bibir yang merah itu.

"Tunggu dulu, a-aku masih ingin mengatakan sesuatu," Bisik Hinata yang menaruh jari di depan bibir Sasuke.

Sasuke menurunkan jari itu dan mengecupnya, "Hn, majulah."

Gerakan canggung Hinata yang menyisir anak poninya terlihat sangat manis. Melihat hal ini Sasuke hanya bisa tersenyum teduh.

Apalah jadinya jika Hinata tak ada di sampingnya? Jangankan kebiasaan kecil Hinata yang seperti memainkan tangannya kala gugup bahkan setiap napas dan suara Hinata yang mencicit selalu saja dicarinya. Jika saja tak ada perjanjian perceraian, Sasuke bahkan rela menukarkan jiwanya asalkan bisa melihat Hinata selalu di sisinya dan tersenyum ceria.

"Hinata...?"

Sasuke memanggil Hinata tampak menikmati dengan lamunannya. Apalagi ia melamun dengan mata yang terpejam serta pipi yang dihiasi warna semu merah muda. Ini membuat Sasuke penasaran, entah lamunan seperti apakah gerangan yang ada di benak istrinya tersebut.

"Apa... Apa yang mau kau katakan Hinata?"

Perlahan Hinata yang duduk santai di pahanya menegang. Lalu tak lama ekspresi wajahnya berubah murung. Hinata seakan ingin mundur kembali setelah melihat sesuatu di depannya.

Dan ini membuat Sasuke menjadi sedikit takut. Sebenarnya apa yang ingin Hinata katakan dengan wajah itu.

"Hinata?"

Sasuke kembali membangunkan Hinata dari lamunan. Raut sendu di wajah manis itu membuat Sasuke tergelitik untuk bertanya. Namun, rasa pengecut mampu mengubur keberaniannya. Ia terdiam dan Hinata menggigit bibirnya.

"Jika suatu saat hal terjadi, baik atau buruk... Bisakah Sasuke berjanji untukku?"

Hinata pasti menyinggung ke arah sana. Perbincangan kedua istrinya waktu itu sontak terlintas di benak. Sasuke pun juga teringat amarah dan tangisan yang dikeluarkan oleh Sakura.

Ia sadar telah menyakiti Sakura adalah kesalahan. Tapi ia tak menyesali pengakuannya terhadap Sakura, daripada ia harus menyembunyikannya. Tak selamanya kenyataan itu indah, baik dirinya, Sakura bahkan Hinata harus menerimanya meskipun itu pahit.

"Hn, aku siap."

Meski bibirnya berkata seperti itu, namun tak ada artinya jika ia begitu takut.

"Teruslah berada di sisi Sakura, meskipun Sasuke-kuntahu perasaanku."

Dan meski Hinata berkata demikian, apakah ia akan diam saja?

"Memang seperti apa perasaanmu, hm?"

Sungguh Sasuke sangat penasaran. Bilamana Hinata juga memiliki perasaan yang sama, bolehkah Sasuke memetik dan menyimpannya sedikit?

Sasuke sontak memeluk pinggang Hinata saat istrinya tersebut menghindari tatapannya. Bulu matanya lebat bergetar seakan memberikan sinyal betapa berat perasaan yang ia pikul.

"Apa hal itu begitu berat?"

Suara lembut Sasuke membuat Hinata berpaling wajah. Sasuke sungguh menyayangkan sikap Hinata yang lebih menjaga hati orang lain. Tapi, begitulah Hinata, ia terlalu baik hati.

"Karena aku sudah berjanji pada Sakura."

Sasuke hanya bisa terdiam. Meskipun ia tidak suka perjanjian antara Hinata dan Sakura, namun mungkin ini cara yang terbaik untuk mereka.

Hingga Sasuke menarik dagu Hinata, di saat itulah wajahnya tercermin di manik bulan Hinata. Dan ia pun tanpa sadar tersenyum.

"Baiklah, jangan dipaksakan." Ujar Sasuke dengan lembut.

Akan tetapi, setidaknya ia ingin mengetahui sedikit bocoran tentang perasaan Hinata padanya. Tak peduli perasaan cinta itu sekecil debu yang berterbangan di udara, bagi Sasuke itu adalah hal luar biasa baginya.

"Meskipun aku tak tahu pasti, tapi aku merasa yakin kalau kau ada sedikit perasaan cinta untukku."

Hinata yang memeluknya adalah jawaban yang positif bagi Sasuke. Akan tetapi, kebahagiaan dan kesedihan menjadi satu bagian hidup. Sasuke hanya tak mau tertidur polos tanpa tahu kesedihan telah menyelinap ke dalam mimpinya.

"Jika kau memintanya untuk berpura-pura untuk melihat, maka aku akan melakukannya."

Bagai sebuah kabar gembira, anggukan kecil dari Hinata membuat tali kekhawatiran yang melilit jantungnya melonggar.

"Terimakasih atas semuanya Hinata." Ujar Sasuke kemudian menarik Hinata berbaring ke atas kasur dengan posisi Hinata di atas tubuhnya.

"Terimakasih."


Dalam tidur yang tenang, Sasuke terbangun dengan keringat yang membasahi tidurnya. Napas yang sedikit tersengal hingga debaran jantung mengakhiri mimpi buruknya.

Sasuke sontak terbangun, ia kemudian menengok ke arah Hinata yang tertidur tenang di sampingnya. Ia menghela napas, dan pergerakan yang membelai rambut istrinya justru telah membangunkannya.

"Sasuke-kun..."

Melihat keringat yang membasahi kening Sasuke, Hinata segera mengelapnya dengan ujung piyamanya.

"Kau mimpi buruk?" Tanya Hinata yang menyadari ada sesuatu yang aneh dengan raut wajah pria itu. Kedua alisnya mengernyit khawatir.

"Aku memimpikan..." Sasuke menggantungkan kalimatnya, ia terlihat ragu ketika menyebutkan nama istri pertamanya akan menyinggung perasaan Hinata.

Ia lantas menutup mulutnya, dan merasa kejam jika tak memberi makan rasa penasaran Hinata.

"... Sakura."

Dan benar saja, Hinata hanya terdiam mendengar nama Sakura. Sama seperti wanita lainnya, Hinata juga tak ingin mendengar nama wanita lain dari mulut suaminya dengan nada lembut seperti itu. Tapi, apa yang harus di cemburukan olehnya, Sakura juga istri Sasuke.

"Apa Sasuke-kun sudah menghubungi Sakura?" Tanya Hinata setelah terdiam beberapa saat.

Sasuke yang menatap Hinata yang bangun dari tidurnya sontak menunduk, ia memijit pangkal hidungnya.

"Aku sudah mencoba berbagai upaya, tapi kau tak tau betapa keras kepalanya Sakura kalau sudah marah, bahkan orang tuanya sendiri tak bisa menyentuhnya."

Sasuke mendesah. Semenjak nikah, Sakura memang tak pernah marah-marah seperti yang ia lakukan saat mereka masih bersahabat, namun ketika sudah menikah marahnya Sakura yang diam itu lebih mengerikan. Sasuke jadi serba salah. Entah kenapa ia merindukan luapan amarah yang dilakukan Sakura saat masih muda itu.

"Kalau begitu Sasuke-kun jangan sampai menyerah!" Seru Hinata yang memegang tangan Sasuke.

Raut khawatir bercampur sedih terlihat jelas di wajahnya. Sasuke tercenung. Jika ia berada di posisinya Hinata, mungkin ia akan bersorak-sorai melihat pertikaian itu, namun tidak dengan Hinata.

"Apalagi Sakura tengah mengandung anakmu..."

Sasuke menatap intens Hinata yang menundukkan kepalanya. Suaranya ketika mengatakan tentang kehamilan Sakura bergetar. Tangannya yang lebih kecil darinya itu mengenggamnya erat, menyalurkan kehangatan di pagi yang sedikit hangat itu.

Apa Hinata memiliki kecemburuan terhadap Sakura?

Jika itu benar, maka tak sulit untuk Sasuke merasa sedikit bahagia. Walaupun ia tahu tahu kalau dirinya begitu kejam.

"Aku hanya bisa melakukan ini untuk hubungan kalian. Kau telah berjanji kan?"

Bibir Sasuke pun tersenyum simpul. Ia mengambil balik genggaman Hinata yang terlepas tadi.

"Hn, aku akan mencobanya lagi."


"Ini laporannya bos."

Sasuke membuka map coklat berisi laporan yang Suigetsu berikan. Ia kemudian mendapat beberapa foto ayahnya dengan seorang pemuda yang memiliki kulit yang lebih pucat darinya.

"Jadi ini sosok anak yang disembunyikan oleh Ayah."

"Namanya Sai Amsel, dia diadopsi oleh orang asing berkebangsaan Jerman sejak umur 10 tahun. Ibu biologisnya adalah seorang pelacur di kawasan Shibuya dan ia langsung meninggal dalam kecelakaan setelah menjual anaknya kepada pasutri yang tak memiliki anak. "

"Lalu apa pekerjaannya sekarang?"

"Fotografer yang cukup terkenal di Jerman tapi melihat media sosialnya beberapa tahun belakang ini dia telah berkeliling dunia."

Sasuke kemudian terdiam. Mendengar kata berkeliling dunia, ia pun teringat keinginan Hinata setelah mereka bercerai lagi. Ia menghela napas berat lalu menaruh foto-foto itu kembali ke tempatnya.

"Memangnya apa yang Fugaku inginkan dari anak yang tak pernah dianggap seumur hidupnya?" Tanya Suigetsu yang ia sendiri bisa menebak jawabannya.

Sasuke memutar kursinya, ia memandang bangunan di bawahnya dengan banyak pikiran yang bekerja di otaknya.

"Tentu saja untuk menjadikannya 'boneka' baru yang akan dimainkannya."

Sasuke pun berbalik lagi menghadap Suigetsu yang sedikit terganggu dengan tatapan tajamnya. Ia kemudian menatap map coklat itu dengan tatapan yang memperhitungkan.

"Kalau begitu cari tahu lebih dalam lagi tentang profilnya."

Suigetsu mengangguk.

"Aku ingin tahu, apakah dia bisa di ajak bekerja sama?"

Setelah mengatakan itu, Suigetsu lantas menghilang dari hadapan Sasuke. Dan malam yang di nanti pun datanglah jua. Sasuke diam-diam tersenyum. Gambaran Hinata memakai gaun baru yang ia beli terbayang di benaknya.

Malam ini mereka berjanji makan bersama di kapa pesiar. Dengan pikiran yang melayang pada satu tujuan lantas terpotong oleh satu panggilan telepon. Sasuke menggenggam erat iphone-nya, menatap layar ponselnya. Tapi sayangnya deringan panggilan itu tak berlangsung.

("Teruslah berada di sisi Sakura, meskipun Sasuke-kun tahu perasaanku.")

"Maaf Hinata, aku harus menunda makan malam kita." Bisiknya.

Sasuke tahu Hinata pasti kecewa atas pembatalan ini, namun ia juga tahu bahwa Hinata akan memaafkannya. Saat ini, prioritas utamanya adalah mengikat kembali hubungannya dengan Sakura. Karena ia tak mau hubungannya dengan Hinata longgar hanya karena Sakura.

Baru saja Sasuke hendak menelpon balik, iphone-nya sudah berbunyi kembali. Tanpa keraguan pun Sasuke segera mengangkatnya. Dan begitu mengangkatnya, suara Sakura yang memanggil namanya telah menggetarkan hati.

Sasuke menghela napas.

"Hn, aku pulang sekarang."