Pairing: Yuta x Jeno
.
.
.
.
.
.
Mereka semua memanggilnya Pak Yuta. Dia guru yang baik, bahkan terlalu baik, sampai-sampai banyak murid bandel enggan mendengarkannya di kelas. Jeno agak kasihan dengannya, karena Ia menyukainya. Bahasa Inggris memang pelajaran favoritnya, maka dari itu Jeno sangat menikmati kehadiran Yuta di kelas. Yuta memiliki sebuah kebiasaan 'unik'. Sewaktu mengajar di depan kelas, dia suka sekali memegang-megang ikat pinggangnya dan terkadang perutnya. Bagiku, hal itu sangat sensual. Penisnya sering tegang saat melihat Yuta begitu. Hubungan mereka pun sangat baik kareng Ia termasuk murid kesayangannya. Suatu hari, Yuta mengajak Jeno ke rumahnya.
"Saya butuh bantuan kamu untuk memasukkan nilai-nilai ulangan ke buku nilai," kata Yuta, tersenyum manis padanya.
Ia tidak keberatan karena Yuta bersedia menyediakan transportasi. Yuta naik motor, maka Ia berkesempatan memeluk pinggang sang guru. Aahh.. Nikmat sekali. Sepanjang perjalanan, penisnya tegang berat, membayangkan bercinta dengan guru yang berada didepannya. Precum sudah membasahi celana dalamnya, basah sekali.
Sesampainya mereka di rumah Yuta, yang empunya rumah mempersilahkan murid kesayangannya duduk di sofa sementara Ia berganti pakaian. Agak gugup, Jeno pun menurutinya. Sementara itu benjolan di celana panjang abu-abu nya sudah besar sekali. Yuta melihatnya sekilas dan hanya tersenyum saja, tapi Ia merasa sangat malu. Ketika duduk, tonjolan itu masih saja terlihat. Terpaksa Ia tutupi dengan tangan. Tapi tanpa sengaja, Ia malah menyebabkan cairan precum, yang sudah membasahi celana dalamnya, menembus ke celana abu-abu nya.
Maka nampaklah bercak-bercak basah yang kontras sekali dengan celananya. Yuta keluar beberapa menit kemudian dan Jeno hanya melongo saja. Bagaimana tidak melongo? Yuta keluar hanya dengan sehelai handuk di pinggang! Yuta tidak mengenakan pakaian sama sekali. Jeno menelan ludah saat Yuta duduk di sampingnya. Diam-diam, guru itu mencuri pandang dan menikmati pemandangan indah yang disuguhkannya. Yuta hanya seorang pria biasa, badannya biasa-biasa saja. Tapi dadanya kelihatan sangat seksi dengan puting coklat yang berdiri. Ingin rasanya Jeno remas dadanya itu. Untuk beberapa saat, kami berdua hanya duduk tanpa bicara.
"Kamu tidak perlu menutupi tonjolan itu," kata Yuta tiba-tiba, seraya memegangi tangan muridnya. Tentu saja Jeno terkejut tapi juga sekaligus senang.
"Kamu tidak perlu malu sama saya. Lagipula, Bapak juga laki-laki. Saya sering tegang juga. Itu hal yang normal." Lalu dengan lembut, Ia memindahkan tangan yang menutup selangkangan itu dan tersingkaplah tonjolan itu.
Yuta hanya tertawa kecil melihatnya.
"Wah, kelihatannya kamu 'panas' sekali yah?" Jeno tertunduk, malu sekali.
Tiba-tiba, hal yang di luar dugaan terjadi lagi. Yuta mengelus-ngelus tonjolannya itu. Astaga, dia menyukai penis.
"Saya tahu kamu sering melihat saya di kelas. Saya juga sering melihat kamu. Tapi baru saat ini, saya berani mengutarakan isi hati saya kepadamu, Jeno. Saya suka kamu. Saya sayang kamu."
Jantung sang murid pun berdegup kencang mendengar pengakuan jujur guru itu. Ingin rasanya Jeno menciumnya, tapi saatnya belum tepat. Ia pandang wajahnya dan Ia katakan dengan jujur tentang perasaannya.
"Pak, saya juga sayang ama Pak Yuta. Saya ingin bercinta dengan Pak Yuta."
Tanpa menjawab, Yuta langsung memeluknya dan mengelus-ngelus tubuhnya. Bibir itu mencium wajah sang murid. Jeno merasakan napas Yuta yang hangat mendarat di wajahnya. Ia tidak butuh jawaban, Ia tahu perasaan sang guru. Yuta juga menginginkannya sebesar Ia menginginkan Yuta.
"Aahh.. Aahh.." desah Jeno, Ia usap punggung Yuta yang telanjang.
'Ah, hangat sekali tubuhnya.'
"Pak.. I love you.." bisiknya, sambil menciumnya balik.
"Oohh.. I love you, too, Jeno.. Aahh.. Kamu seksi.. Oohh.."
Yuta mulai menelanjanginya. Sambil menciumnya, kedua tangan Yuta yang kekar menjalar ke seragam sang murid dan membuka kancing kemeja itu. Setelah terbuka, Jeno segera melepaskannya dan melemparnya ke sudut ruangan. Kini dada Jeno terbuka dan Yuta dapat menikmatinya. Bagaikan bayi yang lapar, Yuta menyerang puting Jeno dan dengan rakus Ia jilat. Jeno melenguh keenakan seraya menggeliat. Puting Jeno memang sangat sensitif.
SLURP! SLURP!
Kedua puting Jeno langsung menegang, seksi sekali. Sesekali Yuta menggigit dengan lembut kedua putingnya, membuat dirinya makin liar.
"Aahh.. Oohh.. Enak banget.. Aahh.. Jilat terus.. Aahh.." erang Jeno seraya memeluk kepala Yuta.
"Aahh.." Jilatan lidah Yuta benar-benar membuatnya seperti kerasukan.
Jeno harus berpegangan pada Yuta agar Ia tidak jatuh dari sofa. Tahu bahwa putingnya sensitif, Yuta malah semakin beringas.
"Aahh.. Aahh.. Aahh.." Badannya bergerak tidak karuan seperti ikan kehabisan air. Rasa nikmat yang teramat sangat menyetrum tubuhnya.
Puas mengerjai puting itu, Yuta bergerak turun. Lidahnya bagaikan kain pel menyapu permukaan kulit putih bak porselen. Lidahnya kemudian bergerak ke celana panjang itu. Dengan tangkas, Yuta melepas celana panjang itu. Jeno bekerjasama dengannya sehingga celana itu terlepas seluruhnya kurang dari semenit. Celana dalam Jeno yang berlumuran precum juga ikut dilepas sehingga Ia sudah telanjang bulat bagaikan bayi yang baru lahir. Penisnya menjulang tinggi di depan wajah Yuta.
"Penis kamu indah, Jeno. Saya suka," komentarnya.
"Saya paling suka penis," katanya lagi.
Lalu Yuta menelan penisnya yang berdenyut-denyut. Tanpa ampun, penis Jeno dihisap habis dan dijilati. Ia hanya bisa mengerang seraya meremas kulit punggung Yuta.
SLURP! SLURP!
Yuta sangat menikmati penis Jeno, mulutnya mengerjai kepala penis itu yang teramat sensitif itu. Jeno mengejang, menahan nikmat.
"Aahh.. Oohh.. Pak.. Hampir keluar.. Aahh.." Jeno mengerang dan menggeliat.
Tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan rasa nikmat yang Yuta berikan kepadanya. Hisapannya yang bertenaga dan lidahnya yang hebat telah membawa Jeno ke awang-awang. Ketika Ia hampir klimaks, Yuta mundur dan melepaskan hisapannya. Jeno terengah-engah, menenangkan dirinya. Ia tak ingin keluar sebelum acara utama dimulai.
Posisi mereka bertukar. Kini Yuta duduk di sofa sementara Jeno berlutut di depan penis sang guru. Handuk yang tadi melilit pinggangnya sudah dilepas. Penis Yuta luar biasa tegang sampai-sampai kepala penisnya mengkilap, karena precum dari rangsangan. Kepala penis yang berkilauan itu menatap Jeno dengan lubang penisnya. Langsung saja Ia jilati penis Yuta naik turun seperti menjilat batang permen. Yuta hanya mengerang tertahan seraya meremas-remas rambut Jeno.
"Hhoohh.. Hhoohh.. Hhoohh.." desahnya. Bola matanya naik ke atas dan kemudian matanya terpejam rapat-rapat. Tangannya membimbing kepala Jeno agar saya dapat memberikan kepuasan lebih pada penisnya.
Bosan menjilat, Jeno siap mengulum. Mulutnya Ia buka selebar-lebarnya dan penis Yuta pun masuk. Mm.. Enak sekali. Mulutnya penuh dengan penis Yuta sehingga nampak menggembung. Jeno mulai menghisap penis itu dan menyodomi mulutnya sendiri. Mulutnya bergerak naik-turun pada batang penis Yuta, membuatnya mengerang penuh kenikmatan.
"Aahh.. Aahh.. Hisap terus.. Hhoosshh.. Oohh.. Hisap penis saya.. Aahh.." Tiba-tiba Ia klimaks!
"AARRGGHH!!" teriaknya.
Karena Jeno terkejut, Ia melepaskan penis Yuta. Ia bukannya jijik untuk menelan sperma, akan tetapi Ia belum siap. Jika Ia paksakan, Ia pasti tersedak. Penis Yuta menyemburkan sperma dengan liar seperti selang air yang tak terkendali. Sperma hangatnya melumuri wajah Jeno. Aahh.. Nikmat dan hangat. Sebagian yang berada di bibirnya, Ia jilati habis.
"AARRGGHH!! AARRGGHH!! AARRGGHH!!" Yuta terus mengerang dan membiarkan penisnya menguras habis isi spermanya.
Ketika semuanya usai, Jeno merasa seperti 'cum pig'. Cum pig yang berarti babi air mani adalah istilah untuk pria homoseksual yang gemar wajahnya atau badannya disembur sperma. Wajahnya nampak putih dan mengkilap karena sperma Yuta, tapi Ia merasa seksi sekali. Ia senang bisa memuaskan nafsu sang guru. Yuta memang sudah lemas tapi masih bernafsu.
Jeno dibaringkan di atas sofa dengan kedua kaki terangkat lebar-lebar. Lubangnya yang Masih ketat berkedut-kedut penuh nafsu. Ia menantikan saat-saat indah itu. Yuta tersenyum mesum padanya saat penis yang besar memulai ekspedisi menuju lubang Jeno.
"AARGGHH!!" erang Jeno.
Lubangnya terasa seperti disobek. Rasa perih membakar lubangnya saat penis itu bergerak semakin ke dalam. Perasaan aneh seakan-akan Jeno Ingin buang air besar memenuhi pikirannya. Ia tahu hal itu dikarenakan lubang analnya tak terbiasa dengan sebatang penis di dalamnya.
"AARRGGHH!!" erangnya lagi, air mata mulai keluar. Jeno berusaha menahan sakit namun Ia tak bisa.
"Aahh.. Aahh.." desah Yuta keenakan.
"Tahan, Jeno.. Aahh.. Nanti juga enak, kok.. Oohh.. Tahan yah, sayang.. Aahh.. Saya sayang kamu.. Aahh.." Yuta membelai wajahnya.
Jeno merasa damai sekali dibelai olehnya. Rasa sakitnya mulai berkurang seiring berjalannya waktu. Yuta masih terus memompa lubangnya dengan penuh nafsu. Keringatnya berjatuhan di atas tubuh telanjang Jeno. Ia merasa sangat 'telanjang' di hadapan sang guru, dengan penisnya sedang menyodomi analnya.
"Aahh.. Lubangmu enak sekali.. Aahh.. Ketat.. Oohh.." Karena saking nafsunya, penis itu terlepas. Sambil mengeluh kecewa, Yuta kembali berniat untuk menusukkan penisnya masuk ke dalam analnya.
"Hhohh.. Hhoohh.. Hhoohh.." Jeno mendesah, menahan sakit.
Jeno merasa bahwa mendesah sambil disetubuhi itu sangat membantu mengurangi rasa sakit. Dapat Ia rasakan penis Yuta bergerak masuk kembali centi demi centi dan akhirnya batang itu sudah masuk semua. Selama beberapa menit, Jeno dibiarkan untuk beristirahat dan membiasakan diri dengan penisnya itu. Penis Yuta sendiri tegang berat, tegak menjulang, dan terus-menerus mengeluarkan precum. Ia kocok sebentar dan Yuta pun membungkukkan badannya untuk memberinya sebuah ciuman sayang.
"Kamu indah sekali, Jeno.. Dan pantatmu.. Aahh.. Sempit banget.. Aarrggh.. Fuck!" komentarnya, setengah meringis menahan nikmat. Kedua telapak tangannya menjelajahi dada Jeno. Ketika Yuta menemukan puting Jeno, tanpa ampun puting itu dipermainkan.
"Aarggh.. Aahh.. Oohh.. Aahh.." desah Jeno, sambil menggelinjang. Putingnya memang amat sangat sensitif. Untuk sesaat, Yuta mengira Ia sedang kesakitan, tapi belakangan Yuta mengerti.
"Aahh.. Pak Yuta.. Mainin puting saya.. Aahh.. Tarik aja.. Aargghh.. Putar.. Uugghh.. Saya horny banget.. Aarrgghh.. Fuck me again.." Tanpa sadar, Jeno mengucapkannya. Jeno memintanya untuk disetubuhi lagi, lubangnya yang haus penis itu.
Yuta hanya tersenyum mesum saja sambil mencubiti kedua puting Jeno yang keras.
"Oke, saya akan setubuhi lubangmu yang enak ini, ini lubang terenak yang pernah saya rasakan.. Aahh.." Lalu dengan itu, sang guru idolanya pun kembali menggenjot lubangnya.
"Aarrgghh.. Oohh.. Aarrgghh.." penisnya kembali melubangi pantat Jeno seperti bor. Tanpa ampun, penisnya menyerang masuk dan keluar dengan cepat. Hentakan pinggulnya begitu bertenaga sampai-sampai sofanya berdecit seperti pintu rusak. Keringatnya menetes turun, membasahi wajah dan badan Jeno yang juga tak kalah berkeringat.
Seperti pelacur murahan, Jeno mengerang keenakan. Tubuhnya terdorong oleh hentakan penis Yuta.
"Aarrggh.. Aarrgghh.. Fuck me.. Aahh.. Setubuhi saya Pak.. Aahh.. Kerasan lagi.. Yyaahh.. Aarrgghh.. Lebih dalam.. Aahh.. Enak banget.. Aarrgghh.." Setiap kali penis itu memasuki lubang analnya, kepala penis itu menghantam prostatnya. Rasa yang tak terbayangkan. Rasa nikmat menguasai tubuh kecil itu dan penis nya pun terus-menerus mengalirkan precum dalam jumlah yang sangat luar biasa.
"Aarrggh.. Yyeeaahh.. Terus, Pak.. Aarrgghh.. Yyeeaahh... Aarrgghh.." Tekanan-tekanan pada prostatnya sangat luar biasa, memaksa sperma Jeno untuk keluar tanpa disentuh.
"Aarrgghh.. Aarrgghh.." erang Jeno sambil mengejang. Dapat Ia rasakan bahwa orgasmenya akan tiba sebentar lagi.
"Aarrgghh.. Pak.. Mau keluar.. Aarrgghh.."
"Uugghh.. Keluarkan aja, Jeno.. Aahh.. Biarkan Bapak melihat.. Oohh.. penismu klimaks.. Aahh.. Keluarkan saja.. Ayo, Jeno.. Aahh.. Demi saya.. Aahh.. Keluarkan sekarang.." desak Yuta, masih merem-melek menggenjotnya. Napasnya terasa berat dan memburu-buru.
"Aarrgghh.. Baik, Pak.. Aarrgghh.. Ngecret.. AARRGGHH!!" Dengan sebuah erangan panjang, Jeno pun berejakulasi.
Spermanya menyembur berhamburan ke mana-mana. Sebagian besar mendarat kembali ke atas tubuhnya, sebagian lagi mengotori tubuh Yuta. Rasa nikmat menggucang seluruh tubuh Jeno. Tubuhnya mengejang seperti orang kerasukan, namun Yuta menindihnya dan menolongnya untuk menikmati orgasmenya.
"AARGGH!! AARRGGHH!! AARRGGHH!! AARRGGHH!!" erang Jeno, mengikuti ritme ejakulasi penisnya. Fantastis sekali bisa klimaks tanpa menyentuh penis! Yuta memang top, bisa memberinya orgasme. Aahh.. Ia memang pria yang sungguh jantan, meksipun penampilan luarnya tidak mengindikasikan hal itu.
"AARRGGHH!! Sama sampai, Jeno.. Aarrgghh.. Terimalah.. Uugghh.. Terimalah sperma Saya.. Aarrgghh.. Kamu milikku, Jeno.. AaAARRGGHH..!!" Yuta pun akhirnya berejakulasi juga. Penisnya mendadak membesar lalu menembakkan cairan kejantanannya bertubi-tubi.
"AARRGGHH!! OOHH!! AARRGGHH!! AARRGGHH.." erangnya, menggelinjang. Tubuh Jeno jadi ikut terguncang karena Yuta berejakulasi di dalam tubuhnya. Jika pria bisa hamil, Ia ikhlas dihamili oleh Yuta.
"Aarggh!! oohh!!" erangnya seperti kuda jantan yang masih liar. Penisnya masih sibuk menyemprotkan spermanya ke dalam lubang Jeno. Ia hanya bisa melenguh keenakan, merasakan kehangatan di dalam tubuhnya saat sperma Yuta membanjirinya.
"Aahh.." desah Yuta setelah semuanya berakhir. Pelan-pelan, Penisnya ditarik keluar. Spermanya ikut mengalir keluar, membasahi sofa.
"Pak, saya cinta ama Bapak," kata Jeno tiba-tiba.
ia pandangi wajah Yuta yang tampan itu dengan penuh cinta, mengharapkan agar sang guru membalas cintanya. Dan di luar dugaan, Yuta menyambutnya. Bibirnya kembali ditempelkan pada bibir Jeno, dan mereka pun berciuman mesra selama beberapa menit. Kembali, lidah mereka bertarung dan air liur mereka pun saling bertukaran. Oh, Jeno hanya ingin memilikinya saja.
Setelah berciuman, Yuta berkata.
"Saya juga sayang ama kamu. Kalau tidak, buat apa saya mau setubuhi kamu barusan? Nanti, kamu nginap di sini saja, yah? Kita bisa bercinta lagi malam ini. Saya mau kamu menjadi pasangan hidup saya. Mau 'kan?"
"Pak Yuta.." tangis Jeno, bahagia sekali.
Ia peluk tubuh telanjangnya yang bersimbah keringat dan Ia cium dadanya. Ah, akhirnya impian Jeno untuk memiliki dirinya tercapai..
END
