ふたりごと (Futarigoto)

Ensemble Stars Fanfiction by 2U3ShiRo

Disclaimer : Ensemble Stars Happy Elements. Apapun yang diselipkan di dalam fanfiksi ini bukan milik Niumi, hanya dipinjam untuk keperluan nulis.

Warning(s) : OOC, unnamed OC/Reader insert, semi-lokal AU, mengandung adegan self-harm, alur nggak berhubungan dengan cerita asli, Koga kakak kelas, dll.

Ditulis untuk memenuhi asupan pribadi

.

.


"Ada anak anjing yang mati di depan gerbang sekolah tadi pagi."

Kak Oogami berhenti mengunyah satenya, mengerjap-ngerjap dengan mulut sedikit mangap, sehingga aku bisa melihat sisa bumbu kacang yang bertengger di ujung giginya. Wajahnya menampilkan gabungan ekspresi kaget, bingung, dan apapun ekspresi yang ditunjukkan penderita kutu air. Nggak cocok dengan tampangnya yang gahar dan kelakuannya yang mirip anjing gila. Lalu dia merapatkan bibirnya, mendesah pelan, dan berdeham.

"Kenapa?"

Kata "kenapa" di sini bisa berarti "Kenapa anjingnya mati?" atau "Kenapa lo bahas topik beginian pas gue lagi makan?!", tapi aku yakin Kak Oogami lebih ingin tahu mengenai penyebab kematian si kecil yang malang itu. Kak Oogami suka anjing, tentu saja dia akan merasa sedih mendengar kabar mengenai salah satu teman berbulunya yang mati.

"Nggak tahu," kataku. "Kayaknya tertabrak kendaraan yang lalu lalang di depan gerbang. Kak Sena yang pertama menemukannya, tergeletak di depan motornya."

"BANG SENA YANG TABRAK?!"

Aku menggeleng panik, takut membayangkan Kak Oogami nekat pergi ke kelas 3-A dan melabrak Kak Sena pakai gitar listrik besok.

"Katanya, anak anjingnya sudah tak bernapas sebelum Kak Sena datang."

Kak Oogami memandangku lama, sampai aku salah tingkah dan memutuskan untuk memesan es jeruk pada mbak-mbak berbaju kuning yang baru saja meletakkan tambahan sate di piring Kak Oogami.

"Kak Oogami mau juga?" tawarku.

Dia menggeleng sopan. "Lo beneran nggak mau makan?"

Aku balas menggeleng. "Nggak lapar."

Kali ini Kak Oogami merengut. "Es jeruk nggak bikin kenyang, bego. Lo belum makan apa-apa dari tadi malam."

Aku nggak balas merengut. Memang benar nggak ada makanan yang mengisi lambungku selain susu kotak pemberian Kak Oogami semalam dan matahari sebentar lagi akan tenggelam. Seharusnya aku bahas teori konspirasi mengenai warna asli tahi cicak―yang katanya abu-abu―supaya Kak Oogami benar-benar lupa dengan perut kosongku yang enggan kuisi, meski kini terasa gejolak panas yang menusuk-nusuk dari dalam.

"Nih," Kak Oogami menyodorkan satu tusuk sate ke arahku. "Makan. Segigit aja, gapapa."

"Tapi aku nggak suka sate kambing."

Kak Oogami mengerutkan dahi. Dia menggigit sate tadi, mengunyah perlahan, lalu menelan. Dia bisa saja mendampratku dengan kata-kata kasar karena menolak tawarannya, seperti yang biasa dia lakukan. Tapi dia cuma diam dan menunduk seperti kerasukan roh kudus. Mungkin lebih tepatnya roh kuda, karena aku bisa mendengar dengusan halus dari hidungnya.

Sekarang aku mulai gelisah melihat perubahan sikap Kak Oogami. Dia memasang campuran ekspresi bingung dan cemas dengan mata hampir berkaca-kaca saat mengangkat kepalanya. Persis seperti semalam, ketika dia memergokiku sedang melilit senar bass putus di pergelangan tangan sampai berdarah. Benar-benar sebuah kebetulan.

Kebetulan senar bassnya sangat tajam sampai kulitku tersobek-sobek.

Kebetulan Kak Oogami datang ke ruang musik. Kebetulan dia melihatku duduk di lantai.

Kebetulan mata kami bertemu saat itu.


Dia nggak berteriak histeris lalu berlari menghampiriku sambil menangis kemudian berusaha menjauhkan benda-benda tajam terdekat, seperti yang biasa dilakukan orang-orang ketika melihat ada yang hendak bunuh diri di hadapannya.

Kak Oogami mendekat pelan-pelan dan berjongkok di samping. Sebelah tangannya terulur, membelai rambutku dengan sangat lembut seperti sedang memegang tahu sutera, dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Kurasakan dekapannya perlahan semakin erat ketika hangat air mataku membasahi bajunya.

Aku tak tahu sudah berapa lama kami terjebak dengan posisi yang sama, tenggelam dalam pikiran masing-masing, membiarkan angin malam menyelimuti tubuh dingin kami. Mungkin Kak Oogami akan mengomeliku dengan penuh cinta atas tragedi ini nanti. Namun kali ini saja, dia mengizinkanku memeluknya lebih lama lagi.

Kak Oogami melepaskan pelukannya, sepertinya karena aku sudah mengotori bajunya dengan campuran ingus, air mata, dan darah. Aku meringis, berusaha nggak melawan ketika dia mempraktekkan pertolongan pertama pada tanganku, semuanya terjadi begitu cepat sampai aku tak sempat membuka mulut. Kak Oogami mendudukkanku di kursi piano, memaksaku menerima susu kotak penyok dari saku celananya, dan sabar menanti aku menghabiskan isinya.

"Maaf," gumamku pelan, merasa bersalah karena sudah meninggalkan noda yang sulit dibersihkan pada baju dan memorinya.

Kak Oogami menggeleng. Gelengannya barusan bisa berarti: "Gapapa."

Dia sepertinya nggak berniat menanyakan dasar teori yang melandasi aksi di luar nalarku malam ini. Atau mungkin, dia terlalu kaget dengan semuanya hingga tak bisa bertanya. Atau mungkin, angin malam sukses mengikis habis suaranya yang selalu sukses menyaingi megaphone sekolah.

Dan aku merasa tak ingin menjelaskan apapun, termasuk pada Kak Oogami yang sudah menyelematkanku dari mati kehabisan darah. Tapi kurasa dia nggak mempermasalahkannya, ini mengejutkan. Kak Oogami mengambil setelan baju olahraga dari loker di bawah jendela yang disinari cahaya rembulan dan mengganti bajunya yang bau amis, setelah memastikan aku nggak mengintip.

Aku hampir menjerit ketika dia mendekat, hendak memasangkan jaketnya di badanku. "Nggak usah kak," tolakku. "Aku bisa sendiri."

Kak Oogami berdecak. "Diem, nggak usah banyak protes. Ntar luka lo kebuka lagi."

Sebagai ganti pengakuan dosa hampir menghabisi nyawaku yang tak terucap, aku membiarkan Kak Oogami membungkusku dengan jaket hitam-birunya. Perlahan dan hati-hati sekali.

"Gue antar pulang sekarang," katanya. "Kalo nggak kuat jalan, bilang aja. Biar gue gendong."

Aku menarik ujung baju Kak Oogami sebelum dia melangkahkan kaki menuju pintu. Dia refleks menoleh.

"Aku nggak mau pulang," kataku setengah berbisik.

"HAH?"

Dia mulai terlihat panik ketika aku hampir akan menangis lagi. "Oke, oke," katanya pelan-pelan sekali, "Gue nggak akan tanya kenapa, tapi orang tua lo harus tahu soal anak gadis mereka yang nggak akan pulang malam ini."

Aku diam sebentar, lalu mengangguk pasrah. Bagaimanapun juga, aku nggak boleh minta macam-macam lagi setelah merepotkan Kak Oogami sampai sejauh ini. Dia menelepon Mama dengan ponselku, berpura-pura menjadi kakak kelas baik sambil mengarang sejuta alibi busuk, sementara aku dibiarkan kembali duduk manis di kursi piano.

Kak Oogami mengakhiri percakapan mesranya dengan Mama setelah mengucapkan "selamat malam" dan menyerahkan ponsel sambil menepuk pelan kepalaku.

"Kalo masih mau minum, airnya ada di cooler box samping lemari gitar. Kalo mau pipis, toiletnya di pintu sebelah kanan. Kalo mau langsung tidur, pakai aja peti Bang Sakuma."

"Memangnya boleh?" tanyaku sedikit ngeri. Sepertinya Kak Oogami berencana menidurkanku selamanya dalam kasur peti Kak Sakuma sebagai pembalasan.

"Boleh," jawabnya. Lalu menunjukkan pesan dari Kak Sakuma dari layar ponselnya. "Gue udah dapat izin."

Aku berdiri di depan kasur peti Kak Sakuma dan duduk dengan canggung di dalamnya. Di luar dugaan, kasurnya lebih empuk daripada kasur bulu angsa di UKS. "Empuk."

Kak Oogami mendengus geli. "Tentu saja."

"Kak Oogami nggak ikutan tidur?"

"Duluan saja. Gue bakal tidur setelah lo tidur."

Aku menuruti perkataannya dan berbaring dalam peti, nggak menanyakan di mana dia akan tidur nanti. Sebetulnya aku cuma pura-pura tidur karena merasa canggung berduaan dengan Kak Oogami yang sikapnya kelewat out of character seperti barusan.

Kak Oogami mungkin mengira aku sudah benar-benar tidur, jadi diam-diam aku berbalik dan mengintipnya dari sudut peti. Dia masih terjaga, membersihkan bercak darah di lantai dengan kain lap. Bahu Kak Oogami bergetar lembut dihujani sinar keemasan dari angkasa. Tangannya meremas kain lap dengan erat sambil bergumam, "Sial, sial, sial, sial!"

Aku terus mengawasinya sampai dia berhenti meluapkan sisa sisa emosi yang sudah ditahan saat aku menangis tadi dan aku semakin merasa bersalah karenanya. Sekarang Kak Oogami sudah tidur, dia duduk menyandarkan kepala ke dinding terdekat. Terlihat nggak nyaman, tapi dia bertahan tidur dengan posisi begitu.

Aku melangkah keluar dari dalam peti, mendekat perlahan supaya nggak membangunkan Kak Oogami dan berjongkok di depan. Ada sisa air mata yang mengering di sudut matanya. Kuusap-usap rambutnya lalu ikut bersandar di samping, sebelum akhirnya tertidur di bahunya.


Kak Oogami segera memasang ekspresi datar ketika mbak-mbak berbaju kuning datang membawakan pesananku. Ada tambahan sepiring lontong yang sudah dipotong-potong dan sate ayam di atas nampan bersama es jerukku. Aku mengernyitkan dahi.

"Aku nggak pesan makan."

"Gue yang pesen."

Anjir, dia nambah lagi.

"Oi."

"I-iya kak?"

"Itu," Kak Oogami mengarahkan pandangannya pada pergelangan tanganku yang dibebat kasa dan perban. "Masih sakit?"

Aku bisa saja bohong dan bilang kalo tanganku udah nggak sakit. "Masih nyeri, kayak dicapit kepiting dari dalam."

Terkutuklah mulutku yang jujur….

Kak Oogami berdeham sebentar. Dia mulai melepaskan daging sate dari tusukannya menggunakan sendok lalu mencampurnya dengan lontong. Aku hampir melotot saat sendoknya diarahkan ke depanku.

"Kak?!"

"Tangan lo masih sakit, kan? Daripada lo kelaparan, lebih baik gue suapi."

"Malu ih, kak. Nanti dilihatin orang," bisikku.

Kak Oogami mengabaikanku. "Sekarang pelanggan warung ini tinggal kita berdua."

Aku mengedarkan pandangan ke sekitar dan tak menemukan tanda-tanda kehidupan di meja lain. Mbak-mbak tadi duduk di depan warung, mengipasi diri sambil menikmati segelas kopi. Kak Oogami masih (berusaha) sabar menanti dengan sendok di tangan.

"Tapi―"

"Satu suap aja," pintanya. "Gue janji nggak bakal maksa lo buat makan lebih dari itu."

Ingatanku semalam tentang sosok Kak Oogami yang menangis diam-diam saat (mengira) aku sudah tidur kembali membekas dan kini aku mengerti. Dia sedang berusaha terlihat kuat di depanku setelah menyaksikan semuanya. Setelah meninggalkan memori buruk dalam kepala dan menyusahkannya dengan segala hal, aku perlu membiarkannya menyuapiku dengan sekop kebun.

"Satu suap aja, kan?" tanyaku memastikan.

Kak Oogami mengangguk.

Aku diam sebentar lalu mengangguk dengan ragu. Kuterima suapannya dan mengunyah pelan-pelan.

Kak Oogami mengulas senyum tipis melihatku menelan berkat pemberiannya. "Enak?"

"Pedes," ringisku. "Tapi enak."

"Mau satu suap lagi?"

"Mau."

Aku terus mengunyah dan Kak Oogami terus menyuapiku seperti induk burung yang memberi makan anaknya yang tak berbulu. Ingusku kembali terbit setelah beberapa saat karena kepedasan jadi kusedot jus jerukku dengan penuh nafsu.

Kak Oogami beranjak dari kursinya setelah aku menelan suapan terakhir, berjalan ke arah mbak-mbak warung sate, dan mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar menu tadi. Sebagai balas budi, aku akan mencomblangkannya dengan mbak-mbak warung sate di lain hari. Berikutnya dia mendekat dan menyentil keningku dengan penuh kasih sayang.

"KAK OOGAMI KENAPA SIH?! SAKIT TAU!" pekikku.

"LO YANG KENAPA!" dia balas membentak. "KENAPA SIH LO NGGAK MAU BILANG APA-APA?!"

Aku nggak berani membalas. Kak Oogami menyandarkan kepalanya di atasku, lalu meremas bahuku dengan sebelah tangan. Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar hebat dan ikut merasa gugup.

"Gue gak bisa tau kalo lo nggak bilang apa-apa," katanya pelan. "Lo jangan gitu lagi."

Aku mengulas senyum kecut. "Nggak janji."

Kutepuk pelan tangan Kak Oogami yang mulai mengusap-ngusap bahuku seperti sedang menenangkan anak kecil yang menangis hebat.

Dia berhenti mengusap dan mengangkat kepalanya. "Mau pulang sekarang?"

"Dianterin, nggak?"

"Gue bakal antar sampai di depan rumah," jawabnya. "Lo tunggu di sini, jangan bandel. Gue mau ambil motor di parkiran."

Aku menarik ujung bajunya. "Ikut."

"Ck, terserah."

Kak Oogami berjalan lebih dahulu dan aku mengekorinya sambil menghitung berapa banyak utang budi yang harus kubayarkan padanya. Dia nggak seharusnya bermalam di sekolah bersama aku yang mau bunuh diri. Apalagi sampai meminjamkan jaket, mentraktir, dan menyuapiku hingga kenyang. Orang berjiwa anjing seperti dia nggak seharusnya bersikap baik padaku.

Tapi dia melakukan semuanya. Dia juga membiarkanku menggandeng tangannya sepanjang jalan menuju tempat parkir. Kini pipiku merona manis. Dan, bukan karena terpaan cahaya merah-jingga dari ufuk barat.

.

.

.

.


Note :

Damn... i really need this Kogaball to feed me when i'm sad and hungry