Disclaimer: Sunrise

.

AN: Maaf gabut


"Aku pulang," ucapku seperti biasa begitu aku melewati pintu rumah depan. Tidak biasanya aku pulang di jam segini, lebih awal dari biasanya. Tapi tentu saja aku segera disambut begitu aku tiba.

"Selamat datang, Nyonya." Aku mendapati pelayan yang mengambil barang bawaanku untuk dibawa ke ruangan kerjaku, diikuti dengan Myrna yang selalu menyambutku pulang dengan senyum yang sedikit tidak biasa.

"Ada apa?"

"Sebenarnya…" Myrna mengalihkan pandangannya, berusaha untuk tidak menatapku. Sepertinya ada hal yang disembunyikannya. "Tadi ada telepon dari sekolah Tuan Kiele."

"Telepon?" Aku mengernyitkan dahi. Biasanya sekolah hanya menelepon kalau ada sesuatu yang perlu dibicarakan, seperti kalau ada siswa yang melakukan kesalahan besar, kenakalan… "Apa jangan-jangan Kiele…"

"Sekolah bilang dia bertengkar dengan temannya…"

Kerut di dahiku semakin dalam. Kiele bukan tipe anak yang emosional atau suka bertengkar atau pembenci.

Kecuali pada satu orang sih…

"Dia di mana sekarang?"

"Sejak pulang dia mengurung diri di kamar. Saya panggil untuk makan kudapan atau minum teh pun dia tidak menyahut. Sebentar lagi waktunya makan malam, apa harus kami siapkan untuk di bawa ke kamarnya?"

"Nanti dulu. Biar aku coba bicara dengannya," aku beranjak ke arah tangga untuk menuju kamar Kiele.

"Bagaimana dengan Tuan…?"

"Ah, dia hari ini akan pulang terlambat dan akan makan di mabes, jadi tidak usah."

"Nyonya sendiri?"

"Mungkin hari ini tidak akan apa-apa. Siapkan saja sesuatu yang ringan untukku," aku tersenyum kecil, sedikit merasa tidak enak, dan berlalu ke lantai atas.

Akhir-akhir ini entah kenapa aku lebih mudah lelah dari biasanya. Meskipun begitu, kondisiku berbanding terbalik dengan selera makanku—atau mungkin kondisi lambungku. Rasanya perutku selalu protes pada semua jenis makanan yang aku makan. Sejauh ini cuma teh jahe saja yang bisa masuk ke perutku, sisanya antara keluar lagi atau aku sama sekali tidak ada keinginan untuk memakannya, bahkan menciumnya saja pun asam di perutku langsung bergolak. Aku jadi merasa bersalah pada koki dan pelayan lain yang mempersiapkan makanan untukku.

Dan parahnya adalah tadi sore, ketika aku tiba-tiba tumbang di tengah-tengah rapat Dewan Kepala dengan Representatif Kepala yang sekarang. Sejauh ini cuma pihak dewan dan beberapa penghuni gedung parlemen yang tahu kejadian itu. Aku sudah menyuruh semuanya tutup mulut, tapi aku juga sebenarnya tidak akan heran kalau ada salah satu dari mereka yang mengkhianatiku dan memberitahu suamiku.

Begitu aku tiba di depan kamar Kiele, aku mengetuk pintunya, "Kiele, Ibu boleh masuk?"

Tidak ada jawaban. Aku memanggil namanya, mengetuknya sekali lagi.

Aku menghela nafas. Dia sudah mengurung diri sejak pulang, jadi harusnya dia sudah lebih tenang sekarang. Harusnya tidak masalah kalau kuajak bicara kan?

"Maaf, Ibu masuk ya," seruku sebelum membuka pintunya—yang untungnya tidak dikunci, dan mungkin itu juga pertanda kalau tidak masalah jika aku masuk.

Hari sudah gelap karena waktu sebentar lagi memasuki petang, dan kamar yang tidak diterangi lampu ini pun jadi gelap—hanya sisa-sisa senja saja yang memberi sedikit pencahayaan. Sebelum masuk lebih jauh kutekan saklar lampu di dinding, dan kudapati anak laki-lakiku yang sedang duduk di tempat tidur, memeluk kedua lututnya yang ditekuk sedikit, sambil menumpangkan wajahnya di sana. Ia masih mengenakan seragam sekolahnya, meskipun ia sudah melepas blazer luarannya.

Setelah menutup pintu, aku berjalan ke arahnya, bermaksud untuk duduk di sampingnya. Belum juga aku sampai, aku melihat bahunya yang kecil bergetar sesekali.

Tapi ia tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Mungkin ia baru selesai menangis?

"Kiele…" Aku memanggil namanya sambil duduk sedekat mungkin dengannya, tanganku menariknya ke tubuhku. Gerakanku yang luwes ini terasa seperti sudah ratusan kali kulakukan, namun setelahnya aku tetap merasa sedikit rasa asing yang tidak biasa, seolah masih belum meresapi sebelumnya bahwa ibu dari seorang anak.

Yah, memang kami baru bersama selama setahun lebih sedikit, mungkin waktu yang terbilang masih cukup singkat untuk bonding antara ibu dan anak.

Mendengar suaranya isakan ketika ia menarik nafas seperti mengkonfirmasi tebakanku. Aku bertanya-tanya apa yang terjadi di sekolahnya. Dipikir-pikir sejak aku mengenalnya sampai ia resmi menjadi anakku, aku belum pernah sekalipun melihatnya menangis. Dia anak yang kuat, berpendirian teguh dan pintar, memiliki rasa keadilan dan paham mana yang baik dan buruk meskipun masih di usia muda; salah satu alasan kenapa aku memilihnya untuk kuangkat menjadi anak, untuk dilatih dan dibina demi meneruskan nama keluarga ini.

Jadi aku tidak bisa membayangkan anak baik ini membuat masalah dan bertengkar dengan temannya, bahkan sampai menangis seperti ini.

Meski dia juga sebenarnya ada sedikit sifat keras kepala—suamiku bilang sifatnya yang satu itu mirip sekali denganku—mungkin ini penyebabnya? Aku juga dulu sering berkelahi dengan orang di sekitarku ketika aku bersikeras terhadap sesuatu—Myrna dan Kisaka sering sekali mengurut kepala gara-gara sikapku dulu. Apa ini yang namanya karma? Aku tertawa kecil dalam hati.

"Sudah mendingan?" Aku memutuskan untuk membuka pembicaraanku dengan menanyakan situasi hatinya. Tidak akan ada yang bisa dibicarakan kalau dia masih dikuasai perasaannya, apapun itu.

Begitu ia mengangguk pelan, aku menghela nafas lega. Setidaknya ia sudah tidak selabil seperti saat di sekolah.

"Myrna bilang ada telepon dari sekolah. Apa ada kejadian tidak menyenangkan hari ini?" Aku membelai rambut hitam legamnya, berusaha membuatnya lebih tenang supaya mau bicara denganku. Kiele hampir tidak pernah marah, jadi aku masih belum tahu bagaimana caranya menghadapi emosinya yang satu ini dan bagaimana dia akan bereaksi terhadapku.

Ternyata banyak juga yang aku tidak tahu sebagai seorang ibu, aku membatin, sedikit kesal pada diriku sendiri karena masih belum cukup berusaha untuk anakku sendiri.

"...Aku bertengkar dengan teman…"

"Ibu juga dulu sering bertengkar dengan orang lain," aku mengenang saat-saat dulu ketika aku bertengkar mulut dengan Ayah, melawan perintah Myrna, melanggar aturan-aturan yang dibuat Kisaka demi keselamatanku selama kabur dari rumah, "Ibu bahkan masih bertengkar dengan orang lain sampai beberapa tahun lalu," aku sedikit terkekeh mengingat diriku sendiri yang sering bertengkar mulut sampai menggebrak meja rapat ketika adu argumen dengan Dewan Kepala yang lain. Tapi sekarang sudah mulai berkurang sejak aku bukan lagi Representatif Kepala. Sebagai gantinya, Miyabi yang sekarang sering bertengkar dengan Dewan yang lain. "Ada apa memangnya sampai kau bertengkar dengan temanmu?"

"... Dia bicara buruk tentang Ibu…" Kiele menjawab dengan suara pelan. "Katanya gara-gara ibu banyak orang kehilangan nyawanya…"

Tanganku yang bergerak konstan mengelus kepala Kiele terhenti begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya. Tentu saja, pikirku, kejadian itu adalah kejadian yang menimbulkan luka di hati semua orang. Bukan sebuah luka gores tapi sebuah luka besar yang dalam dan sulit disembuhkan, dan meskipun sembuh ada bekas yang tidak bisa hilang, sehingga mau berapa lamapun waktu berlalu, semua orang akan selalu ingat kejadian yang menimbulkan luka itu.

"Apa boleh buat," ujarku pelan, tak lama tanganku kembali mengulang gerakan yang sempat terhenti, "Itu adalah masa peperangan. Kalau bisa pun, Ibu tidak ingin ada kejadian seperti itu. Sampai saat ini, Ibu benci diri Ibu yang dulu yang begitu lemah sampai tidak bisa melindungi rakyat dan menghilangkan nyawa banyak orang…"

"Tapi itu kan bukan salah Ibu!" Kiele yang sejak tadi menunduk tiba-tiba mengeraskan suaranya dan menoleh ke arahku. "Ibu hanya mempertahankan idealisme Orb, tapi para Dewan Kepala yang mementingkan diri mereka sendiri sampai bekerja sama menyembunyikan penjahat, yang membuat negara kita diincar pasukan gabungan. Ibu kan tidak salah apapun dan Ibu bukannya diam saja! Mereka tidak tahu beban yang Ibu pikul memikirkan apa yang harus dilakukan untuk negeri ini, apalagi selama perang!"

"Itu benar," aku mengangguk membalas tatapan matanya yang begitu polos. Kata-katanya hampir sama dengan apa yang aku pikirkan bertahun-tahun lalu. Tidak, bukan hanya itu. Semuanya, Kiele sekarang ini sama seperti aku di saat itu—gadis polos sehijau pucuk daun, yang baru saja naik ke pucuk pemerintahan.

Apa seperti ini aku di mata Athrun waktu itu? Waktu aku menangis karena tertampar oleh kata-kata Shinn Asuka?

"Tapi rasa sakit hati dan kehilangan mereka juga sama nyatanya. Meskipun apa yang ibu lakukan hanya melindungi Orb sesuai dengan idealisme kita, hal seperti itu tidak akan menyembuhkan luka hati mereka," Aku tidak menyangka situasiku dengan Athrun saat itu akan terulang kembali, terlebih lagi ini terjadi antara diriku sendiri dengan anakku sekarang. "Meskipun apa yang kita lakukan adalah pilihan terbaik dari antara semua pilihan yang ada, pasti akan ada pengorbanan yang harus kita buat. Ibu sudah kotor oleh darah dari orang-orang yang nyawanya kurenggut, baik oleh tangan Ibu maupun ucapan Ibu. Tentu saja aku berharap di masa depan tidak akan ada lagi masa di mana kau harus membuat keputusan yang berat seperti itu. Tapi Kiele…" Aku berhenti sebentar, merasakan beratnya beban yang kelak harus dipikul anak ini sebagai penerusku. Aku tahu betul apa yang akan ia hadapi nanti setelah resmi menggantikan aku. Aku pernah berada di posisi itu, hanya berbekal bimbingan singkat dari pamanku yang kemudian mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawabnya atas keputusan para Kepala Dewan yang sepakat dengan rencana Ayah. Tekanan dari berbagai pihak, malam-malam tanpa istirahat, rasa kesepian karena harus merelakan orang yang kusayangi karena aku merasa yakin ia tidak akan bahagia hidup dalam ketidakpastian bersamaku. Masa depan seperti itu bukan masa depan yang aku inginkan untuk siapapun.

Tapi walau bagaimanapun, harus ada orang yang meneruskan tanggung jawab ini.

"Seperti itulah dunia yang akan kau masuki kelak," Aku menatap mata birunya dalam-dalam. "Menjadi penerus dari salah satu bangsawan tinggi Orb berarti harus siap meneruskan idealisme ini di puncak pemerintahan. Ibu tahu Ibu sudah berkali-kali mengulang ini sampai kau bosan mendengarnya, tapi apa kau benar-benar siap menghadapi semua itu nantinya?"

"Aku… sejak dulu mengagumi Ibu…" Kiele mulai bercerita. "Aku suka negeri ini. Aku selalu berharap bisa menjadi seperti Ibu dan menjadi salah satu dari orang yang melindungi negeri ini. Tapi… Apa aku benar-benar pantas, Bu…?" Kilatan rasa bersalah menyapu matanya sebelum ia menunduk lagi, tidak mau menatapku. "Aku selalu merasa kalau aku pantas, akalu aku bisa. Tapi hari ini… aku bahkan tidak bisa membendung emosiku sendiri. Tapi aku tidak bisa diam mendengar dia berkata hal yang buruk tentang Ibu. Jadi aku memukulnya tadi…"

Aah, jadi karena ia main tangan makanya sekolah menelepon. "Ibu mengerti. Ibu juga pasti kesal kalau ada yang bicara buruk tentang Kakek Uzumi. Kalau Ibu masih seusiamu, mungkin Ibu juga akan meninjunya, mau siapapun orangnya." Meskipun itu bukan hal bagus untuk dicontoh sih.

"Lalu… Guru memanggil kami ke ruang kepala sekolah. Di sana aku baru sadar kalau aku sudah melakukan kesalahan… Jadi aku … menangis di depan semuanya. Aku malu… Ibu guru marah dan berkata kalau aku ujung-ujungnya menangis kenapa aku berbuat seperti itu. Katanya tanganku saja yang kuat tapi hatiku lemah karena menangis seperti itu, tidak seperti anak laki-laki yang seharusnya."

Aku tidak pernah merasa perlu menggunakan kewenangan yang aku punya dengan nama Athha, tapi rasanya aku ingin menggunakannya sekarang juga dan melabrak ke sana. Kalau sekolah menelepon mungkin orang tua yang ditelepon harus menghadap langsung ke sana. Aku harus mencari tahu guru mana yang berani berkata begitu pada anakku. Bukannya menyelesaikan masalah dan membimbing ke arah yang benar tapi malah menambah beban siswanya sendiri dengan kata-kata seperti itu.

Padahal itu sekolah elit khusus tempat anak para anggota pemerintahan belajar, jadi kukira murid-muridnya tahu diri dan gurunya pun bagus. Aku sengaja memasukkan Kiele ke sana supaya ia bisa bersosialisasi dan tidak terkurung di Manor seperti aku dulu yang disekolahkan di rumah. Kalau begini, apa memang sekolah di rumah lebih baik ya? Aku harus konsultasikan dengan dia dulu nanti.

"Jujur, tindakanmu itu memang tidak patut, meskipun Ibu bilang kalau Ibu juga mungkin akan melakukan hal yang sama," aku bisa membayangkan wajah orang-orang kalau tahu apa yang dia lakukan, apalagi Myrna dan Kisaka. Mereka pasti berpikir padahal anak ini bukan darah dagingku tapi sifatnya sangat mirip denganku. Akupun kadang masih takjub dengan beberapa kemiripan kami. Apalagi Athrun, meskipun perasaannya lebih sering bercampur kesal karena sikap Kiele yang keras kepala. Kalau ia mengenalku waktu masih kecil, pasti sikapku sama seperti Kiele sekarang, begitu katanya. "Jadi pastikan nanti kau minta maaf pada temanmu itu ya. Selain kekerasan yang kau lakukan, kalau menurutmu pendapatmu itu benar, kau harus menyampaikannya, tapi lain kali, tidak usah pakai kekerasan."

"Aku mengerti…" Kiele mengangguk patuh.

"Lalu, soal menangis, kenapa kau menangis di depan mereka?"

"Soalnya aku tiba-tiba sadar apa yang sudah kulakukan. Aku tahu itu salah, tapi aku terlanjur melakukannya. Dan waktu kepala sekolah bilang akan memanggil ibu atau ayahku, aku jadi merasa bersalah karena aku bakal merepotkan Ibu karena harus dipanggil ke sekolah. Aku juga merasa gagal karena selama ini aku sudah diajari untuk bersikap yang benar... Aku takut Ibu kecewa padaku…" Dari suaranya ia terdengar seperti mengakui sesuatu yang besar.

Tentu saja, ia mengakui salah satu ketakutannya padaku, Kiele yang selama ini selalu bersikap tegar dan kuat. Tapi mau bagaimanapun dia tetap masih anak-anak.

"Kalau soal apa yang dikatakan gurumu, ibu sedikit kurang setuju. Kata-katanya seolah ingin berkata kalau menangis sama dengan cengeng. Kiele menangis bukan karena itu kan?" Aku menyentuh pipinya, mencoba membuatnya menatap ke arahku lagi.

"Aku cuma tidak mau merepotkan Ibu dan membuat kecewa gara-gara kesalahanku."

"Kau menangis karena menyadari apa yang kau lakukan. Justru bagus karena kau tahu tindakanmu yang salah. Lagipula, menangis tidak selamanya buruk. Menangis bisa jadi satu-satunya caramu melepaskan perasaan berat yang tidak bisa kau ceritakan dengan tepat. Ibu benci ini, tapi mungkin di masa depan, akan ada saat di mana kau merasa kesal, merasa tidak berguna, merasa tersesat atau sendirian. Itu mungkin hal yang tidak bisa dihindari," sekuat apapun aku berjuang sekarang untuk membuat dunia yang damai demi masa depan anak ini dan juga rakyat negeri ini, aku tidak bisa melindunginya dari hal-hal seperti ini. Yang bisa aku lakukan hanyalah mempersiapkannya menghadapi masa-masa seperti itu supaya setidaknya tidak terlalu berat baginya. "Justru di saat seperti itu dengan menangis setidaknya perasaanmu bisa sedikit lebih ringan. Tapi kau juga harus bisa memilih tempat dan juga orang."

"Orang?"

"Benar. Pilihlah pada siapa kau bisa memperlihatkan air matamu. Kalau kau memperlihatkannya di tempat yang salah, kau bisa dianggap lemah. Kalau memperlihatkannya pada orang yang salah, mereka bisa saja berniat untuk memanfaatkanmu." Rasanya ini wejangan yang terlalu berat bagi anak yang sebentar lagi baru akan menginjak usia 10 tahun. Tapi kalau mengingat masa depan seperti apa yang menunggunya, semua waktu yang kami miliki sangat berharga untuk mempersiapkan dirinya.

"Apa Ibu juga dulu seperti itu?"

"Begitulah. Ibu sudah tidak bisa menghitung sesering apa Ibu menangis dulu. Ibu menangis karena benci pada diri sendiri yang lemah ini—" aku terkekeh melihatnya menggeleng kuat-kuat seolah menyangkalku; Kiele selalu menyebutku orang yang paling kuat di dunia, meskipun itu tidak benar. "Ibu sedih karena cuma bisa melihat negeri ini diserang. Tapi semakin kau tahu hal yang menyedihkan, semakin kau tahu hal-hal berharga yang ingin kau lindungi. Kau jadi semakin kuat. Kau bisa melanjutkan jalanmu. Semua orang pasti pernah menangis. Jadi jangan berpikiran buruk pada dirimu sendiri karena hal itu."

Kiele menatap ke satu titik ke arah bawah—ciri khasnya ketika sedang berpikir keras. Entah kenapa yang satu ini—lagi, padahal mereka tidak ada hubungan darah sama sekali—malah terlihat mirip dengan Athrun.

"Orang itu juga?" Kiele tiba-tiba bertanya.

Aku meringis mendengar Kiele menanyakan orang yang baru saja kupikirkan, dan juga panggilan Kiel padanya. Mereka masih tetap tidak akur sepertinya. "Iya, orang itu juga begitu."

"Masa?" dia terlihat lebih terkejut. Mungkin bisa dibilang wajar juga, sebab Athrun selalu terlihat tegas dan keras di matanya, jadi mungkin ia tidak menyangka kalau Athrun juga pernah menangis.

"Benar kok. Waktu itu dia menangis karena ia mengira kehilangan sahabatnya," mataku menerawang jauh mengingat hari itu. Seorang prajurit yang baru aku kenal satu hari, yang terkesan begitu tegar dan kuat, seolah tidak ada keraguan di matanya. Namun di kali berikutnya aku bertemu dengannya dia terlihat hancur sehancurnya; sesal, sedih, marah, semua emosi itu menjadi satu—sampai-sampai ia tidak bisa menahan perasaannya lagi, hingga ia menangis di depanku yang merupakan orang asing baginya. "Kehilangan seseorang, apalagi orang yang benar-benar kita sayangi, itu merupakan kesedihan yang tidak bisa dibandingkan dengan hal lain, apalagi di saat perang. Ibu selalu berharap tidak perlu ada lagi orang yang merasakan hal itu, apalagi kamu."

Kiele terdiam sesaat sebelum menjawabku, "Orang itu beberapa minggu lalu mengajariku menembak. Dia bilang dia keras padaku karena tidak ingin terjadi sesuatu padaku saat ia atau Ibu tidak ada. Dan kalau terjadi sesuatu padaku, maka dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri karena sudah tidak becus melatihku, sehingga apa yang terjadi padaku otomatis menjadi kesalahannya."

Si kepala hamster itu tidak pernah berubah, selalu mencoba menanggung semuanya sendiri. Padahal ia sebenarnya tidak punya kewajiban maupun tanggung jawab seperti itu.

Sebab meskipun Kiele adalah anak angkatku dan aku adalah ibunya secara resmi dan legal, tapi ia tidak punya hubungan seperti itu dengan Athrun. Bagi Kiele, Athrun adalah orang asing yang tiba-tiba datang ke kehidupannya bersamaku. Entah kenapa, mereka berdua lebih sering terlihat tidak akur. Rasanya seperti melihat Athrun bersama dengan Shinn versi 0.2. Dan mereka seperti memaksakan untuk akur hanya karena tidak mau membuatku susah, dan tidak mau membuatku memilih salah satu di antara mereka.

Athrun sering beralasan bahwa hubungan mereka tidak mulus karena Kiele sering sekali membantah apa yang dikatakannya apapun itu, sementara Kiele beralasan kalau Athrun—yang memang karena statusnya sebagai suamiku otomatis menjadi ayah tirinya, namun hanya secara de facto dan bukan de jure—terlalu keras dalam mendidiknya dan selalu berpikir sesuai standarnya yang seorang Coordinator, dan tidak menyesuaikan dengan Kiele yang merupakan seorang Natural.

Athrun tidak mengadopsi Kiele secara resmi karena selain Kiele tidak mau, Athrun masih menggunakan nama lamanya. Makanya ia selalu memanggil Athrun dengan sebutan 'orang itu'; sementara di depan orang lain Kiele akan memanggilnya dengan sebutan formalnya, Admiral Zala.

Selain itu, pada awalnya Kiele ragu karena masa lalu Athrun. Meskipun masih usia dasar, Kiele tahu tentang sejarah perang, dan rumor tentang Athrun—meskipun sudah lama berlalu—masih ada orang yang membawanya ke permukaan. Kiele mulai bisa meredam rasa ragunya setelah berkali-kali kuajarkan, untuk jangan pernah menilai seseorang dari satu sisi. Seburuk apapun masa lalu seseorang yang ia dengar, aku selalu menegaskan untuk menilai dari pribadi orang itu di masa sekarang, dan jika memang perlu tanyakan langsung pada orangnya demi menghindari salah paham.

Setelah itulah Kiele akhirnya merestui pernikahan kami berdua.

"Dia juga bicara buruk tentang orang itu…" Kiele tiba-tiba menambahkan. "Aku masih tidak begitu suka padanya, tapi aku tahu dia bukan orang jahat. Aku tahu dia bekerja sepanjang hari bahkan sampai malam demi menjaga keamanan Orb, sama seperti Ibu. Aku melihat kerja kerasnya. Makanya aku juga kesal karena temanku seenaknya berkata buruk tentang orang itu tanpa tahu apa saja yang sudah ia lakukan."

Aku sedikit terkejut karena itu berarti Kiele bukan hanya mencoba melindungiku, tapi juga Athrun yang tidak ia sukai sejak pertama bertemu.

Apakah ini pertanda kalau ia sebenarnya sudah mulai menerima Athrun sebagai keluarganya dan mulai peduli padanya, sehingga tidak terima kalau ada yang bicara buruk tentangnya?

Aku tahu kalau kugoda pasti ia akan menyangkal mati-matian, dan karena aku ingin mereka berdua rukun untuk ke depannya, kusimpan perasaan itu dalam-dalam.

"Kau tahu sendiri sikap ayahmu seperti apa kan?" Sengaja kuselipkan kata itu, sedikit demi sedikit mencoba membuat Kiele menerima Athrub sebagai ayahnya. Memang karena status adopsinya, Kiele tidak wajib mengakui Athrun sebagai ayah, begitu juga sebaliknya. Tapi aku sangat berharap hubungan mereka berdua bisa sampai ke tahap itu. "Dia sedikit berbeda dengan Ibu, dia lebih lurus lagi orangnya. Ibu masih bisa memahami perasaanmu. Tapi ayahmu orang yang berkepala dingin dan tidak suka kekerasan yang tidak perlu. Jadi sudah pasti dia tidak akan menyetujui sikapmu itu."

"Aku tahu…" wajahnya jadi semakin muram. Aku tahu meskipun mereka saling tidak menyukai, di satu titik Kiele memiliki respek tersendiri terhadap Athrun, terutama karena posisinya yang sekarang. Dan Kiele yang sering dibimbing Athrun pasti juga tidak mau mengecewakannya.

"Tapi Ibu tahu kau sudah memahami kesalahanmu. Berikutnya jangan diulangi lagi, tapi juga jangan kau pendam. Kau bisa bicarakan padaku atau ayahmu kalau ada sesuatu yang mengganjal atau tidak kau sukai terjadi di sekolah. Oke?" Aku membelai lembut wajahnya, berusaha membuatnya menatapku. "Ibu tidak marah. Aku yakin ayahmu juga tidak akan marah padamu—yaaah, mungkin sedikit terkejut karena kau menggunakan kekerasan tadi, tapi yang jelas kami tidak akan kecewa padamu. Tolong ingat itu, Kiele."

Aku menatap puas padanya yang mengangguk patuh, dan terlihat bahwa ia sudah tidak lagi muram seperti tadi. Syukurlah masalahnya tidak serumit yang aku duga. "Kalau begitu, ayo siap-siap. Sebentar lagi waktunya makan malam."

Kiele mengangguk, lalu seperti baru tersadar, ia tiba-tiba berseru. "Ah! Ibu baik-baik saja? Apa Ibu masih merasa tidak enak badan? Ibu benar-benar bisa ikut makan bersama?" Tiba-tiba wajahnya berkerut lagi. "Maaf, aku membuat masalah di saat kondisi Ibu sedang tidak sehat. Ibu tidak jadi tambah sakit karena aku, kan?"

"Tidak, kok. Tidak apa-apa. Setidaknya sekarang Ibu tidak merasa mual membayangkan makan malam kita. Maaf ya, selalu mengganggu waktu makan kalian." Aku juga merasa bersalah padanya dan Athrun yang tiap sarapan harus melihatku muntah-muntah.

Kiele menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak kok. Justru aku tidak tenang makan karena melihat Ibu tidak bisa makan. Ibu kenapa tidak kunjung pergi ke dokter? Kalau ternyata Ibu sakit parah bagaimana?" Wajahnya sekarang terlihat amat khawatir. Aneh, sekarang kenapa justru aku yang ingin menangis melihatnya seperti ini? Padahal sampai tadi aku masih tidak apa-apa.

"Iya, pokoknya dalam waktu dekat Ibu—"

"Besok! Ibu harus pergi besok. Lebih cepat lebih baik! Pokoknya aku tidak mau Ibu kenapa-kenapa!"

Aku terkekeh pelan. Satu lagi sifatnya yang mirip dengan Athrun. Mereka berdua selalu bersikap terlalu khawatir padaku.

"Baiklah. Nah, ayo sekarang bersiap untuk makan. Myrna dan yang lain sudah mempersiapkannya untuk kita."

.


.

Aku sedang bersandar di kursi panjang yang ada di kamar sambil memeriksa dokumen pekerjaan yang aku bawa pulang ketika pintu kamar terbuka tanpa ada suara ketukan atau permisi. Cuma satu orang yang bisa melakukan itu di rumah ini.

"Kau belum tidur?"

"Ada beberapa soalan yang masih ingin aku pelajari untuk besok. Selamat datang," aku menoleh ke arahnya dan mengikuti sosoknya yang berjalan masuk ke ruangan, dan akhirnya duduk di sebelahku.

"Aku pulang," ucapnya pas di saat ia merebahkan diri ke kursi. Tersisa sedikit aroma sabun dari tubuhnya; dia sudah selesai mandi dan sekarang sudah mengenakan pakaian tidur. "Tadi aku ke kamar Kiele sebelum ke sini. Entah kenapa bagian matanya sedikit merah dan agak bengkak. Apa terjadi sesuatu sebelum dia tidur?"

"Mmm, sebenarnya sekolah menelepon, katanya ia bertengkar dengan—"

"Apa? Kenapa?" suara Athrun terdengar begitu kaget. Tentu saja, dia sama tahunya denganku kalau Kiele bukan anak seperti itu.

"Ini aku sedang jelaskan padamu," ucapku tidak sabar karena tiba-tiba dipotong olehnya, "Temannya berkata sesuatu, Kiele tidak terima lalu memukulnya, jadilah mereka dipanggil menghadap kepala sekolah. Dan karena Kiele yang mengangkat tangannya duluan, sekolah jadi menganggap dialah yang salah."

"Apa yang dikatakan temannya? Kiele kan bukan anak yang mudah tersulut oleh hal sepele."

"Yah, pokoknya sesuatu yang sensitif sampai membuatnya marah," aku mengedikkan bahu sambil membereskan berkas yang aku baca sebelum Athrun pulang. Aku merasa tidak perlu memperjelas alasan Kiele marah pada temannya. "Tapi aku sudah mengajaknya bicara, dia paham kalau dia salah, dan dia juga sudah introspeksi terhadap sikap dan caranya mengatasi temannya itu. Nanti aku yang akan menghubungi pihak sekolah."

"Semakin hari dia jadi semakin mirip denganmu waktu muda," Athrun menghela nafas di sampingku.

"Kau memuji apa mencemooh?" aku mendelik ke arahnya, tiba-tiba merasa kesal. AKu mati-matian mengendalikan diri di depan Kiele karena tidak mau membuat situasi jadi lebih buruk, khawatir emosinya sedang labil. Tapi sekarang setelah masalah Kiele selesai, aku tidak bisa menahan emosi di depan Athrun.

"Maksudku selain pintar, sikap beraninya juga sekarang mulai terlihat," Athrun terdengar panik memberikan penjelasannya. "Berani itu bagus, tapi ia harus dibimbing supaya bisa menempatkan sikap itu secara tepat, dan bukannya main tangan pada temannya seperti tadi."

Athrun juga menangkap emosiku yang semakin naik turun akhir-akhir ini. Kadang kalau aku sadar aku bisa mengendalikan dan menahannya. Tapi akhir-akhir ini aku seperti lepas kendali, dan seringnya sasarannya adalah Athrun.

Aku menarik nafas dalam, ujung-ujungnya merasa kesal pada diriku sendiri. Sudah menyusahkan pelayanku karena tidak bisa makan, aku juga menyusahkan suamiku karena sering mendadak emosional begini.

Begitu menyadari kalau aku sudah sedikit lebih tenang, Athrun mendekatiku dan menarikku merapat ke arahnya. "Jadi, apa yang terjadi di gedung parlemen hari ini?"

"Tidak ada kok. Semuanya berjalan lancar hari ini—"

"Maksudku kau, Cagalli. Kau pulang cepat kan hari ini?"

"Jadi aku tidak boleh pulang cepat?" Aku bertanya sambil terdengar kecewa dan tersinggung, padahal dalam hati aku sedikit terkejut, jangan-jangan dia memang sudah tahu.

"Kau tahu bukan begitu maksudku," Athrun menghela nafas, nampaknya ia sedang mencoba memilih kata-kata yang tidak akan memicu emosiku. "Kau tidak pernah pulang cepat mau seperti apapun ajudan atau sekretarismu atau Dewan Kepala lain menyuruhmu untuk istirahat. Kalau kau sampai pulang lebih dulu dari jam biasa, pasti terjadi sesuatu kan? Seberapa parah?"

Tentu saja Athrun sadar betul kondisiku yang menurun akhir-akhir ini. Sudah setengah tahun kami tinggal bersama dalam hubungan yang—akhirnya—resmi di mata semua orang. Jika tidak ada alasan khusus yang membuat salah satu dari kami harus pergi bekerja lebih cepat, setiap pagi kami pasti tidak pernah melewatkan waktu untuk sarapan bersama bertiga; aku, Athrun, dan Kiele. Dan selama dua minggu terakhir mereka berdua menjadi saksi terdekat bagaimana aku selalu gagal memasukan makanan barang sedikit ke dalam perutku setiap sarapan. Tidak ada artinya menyembunyikan ini dari Athrun; bahkan meskipun tidak ada yang melawan permintaanku untuk tidak memberitahu Athrun ia bisa langsung tahu. "Aku diberi infus tadi dan disuruh langsung pulang, aku sudah tidak ada tenaga untuk melawan, jadi kuturuti semuanya." Kalau aku yang dulu pasti aku akan bersikeras kalau aku tidak apa-apa. Tapi tidak bisa makan dengan benar selama beberapa hari membuat tenagaku menipis.

"Tadi kau makan malam dengan Kiele?"

"Cuma sedikit, tapi sampai saat ini tidak ada tanda-tanda akan keluar lagi. Jadi sepertinya aman." Aku sungguh merasa lega akhirnya bisa makan tanpa masalah meskipun sedikit, dan berharap dari lubuk hati terdalam supaya makananku tidak keluar lagi lewat jalan masuknya.

"Besok kita ke rumah sakit ya," Athrun menunduk menatapku dengan mata yang penuh rasa khawatir. Sebelah tangannya membelai pipiku. Athrun selalu seperti ini tiap kali aku sakit, karena ia tidak biasa bersama Natural yang mudah terkena penyakit—hampir separuh hidupnya ia selalu bersama Coordinator yang memiliki imunitas di atas Natural, jadi ia tidak terbiasa menghadapi seorang Natural yang kesehatannya bisa menurun sewaktu-waktu. "Aku sudah mengambil libur setengah hari besok. Sudah berapa lama kau seperti ini dan tidak kunjung sembuh, aku khawatir kalau-kalau sakitmu sebenarnya serius."

Aku juga tidak bisa melawan karena aku pun merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tidak biasanya aku sakit sampai selama ini. Terlebih lagi pola makanku sampai terganggu sehingga membuat pekerjaanku ikut terhambat. Aku harus segera mencari penyebabnya dan segera sembuh supaya bisa bekerja seperti biasa, meskipun sekarang aku sudah bukan Representatif Kepala seperti dulu lagi, jadi beban pekerjaanku bisa dibilang sedikit lebih berkurang dibanding dulu. Tapi tetap saja aku masih anggota Dewan Kepala yang bekerja bersama anggota yang lain dan membantu Representatif Kiou yang sekarang.

"Kapan kau mengajukan cuti setengah hari?"

"Tadi pagi begitu aku datang ke markas. Anehnya, Asisten Simons malah mengatakan sesuatu yang aneh."

"Erica bilang apa?"

"Dia bilang, tidak usah terlalu khawatir. Seharusnya bukan penyakit yang serius. Aku ingin bertanya apa dia ada pengalaman tentang penyakit yang gejalanya sama sepertimu. Tapi dia tidak mau cerita dan berkata pergi cek ke dokter dan pastikan hasilnya."

"Erica memang pengalaman dalam bermacam hal. Kalau dia bilang begitu, setidaknya aku agak tenang. Benar kau tidak apa-apa ikut denganku? Kau tidak ada kerjaan yang mendesak besok?"

"Bisa kukerjakan nanti setelah selesai mengantarmu. Aku harus yakin dulu kau tidak akan kenapa-kenapa. Seharian ini aku khawatir terus padamu sampai tidak bisa fokus bekerja."

"Maafkan aku…"

"Tidak apa, tapi aku akan merasa lebih tenang kalau tahu kondisimu yang sebenarnya. Sekarang ayo kita istirahat dulu." Athrun mengecup puncak kepalaku dan membantuku berdiri. Kubereskan lembaran dokumen yang ada di atas meja dan memasukkannya ke foldernya seperti semula, lalu menyusul Athrun ke tempat tidur.

Berbaring dengan lengannya yang mengunci tubuhku benar-benar membuatku tenang, padahal hari ini banyak hal yang terjadi.

Semoga saja besok aku bisa menemukan jawaban dari perubahan yang aku rasakan ini.


Jadi, Shinku mendadak dapat liburan sampai batas waktu yang tidak ditentukan dan gabut di rumah. Ke depannya mungkin akan ada cerita mendadak yang ga jelas macam ini juga—pure on impulse, ga dipoles jadi banyak dialog yang ga ada deskripsinya. Biasa, menghilangkan stuck buat cerita on-going yang lain. Kebetulan baru baca fic tentang papa Athrun, jadi ingin coba buat versi Cagalli. Kenapa anaknya anak angkat, terinspirasi dari GSD Astray : Princess of The Sky.

Trivia: Kiele berarti bunga gardenia, jadi ibu anak sama-sama ada bunga di namanya

Semoga ga bosan lihat Shinku ya

Cheers~