Kuoh Town : Main Street, Morning 06.55

Tap! Tap! Tap!

Bunyi langkah kaki tersebut berhenti beriringan dengan pemiliknya yang saat ini sedang berdiri menatap sebuah bangunan besar di seberang jalan tepat di depannya, sebuah bangunan yang cukup besar dan megah, serta di kelilingi oleh pagar beton yang kira-kira tingginya 2,5 meter.

Dengan tulisan timbul yang berjejer rapi berwarna emas yang tercetak di samping gerbang besar bangunan tersebut.

Tulisannya? Kuoh Academy

"Ah.. Sekolah baru. Masalah baru."

Kalimat barusan keluar dengan nada malas dari pemuda yang kini sedang menatap bosan bangunan tak jauh didepannya. Ciri-ciri pemuda tersebut bisa dilihat memiliki rambut pirang pendek, iris mata berwarna biru cerah, serta wajah yang bisa dibilang tampan jika ekspresi bosan dan nggak niat yang tercetak di wajahnya saat ini ia hilangkan, tinggi badannya sekitar 173cm. Pakaian yang dikenakannya saat ini adalah seragam khas sekolah Kuoh Academy, yakni kemeja putih, dasi merah, di balut dengan Blazer hitam beraksen garis-garis warna emas di beberapa bagian, memakai celana kain berwarna hitam polos serta memakai sepatu kulit formal berwarna hitam.

Dan jika kita lihat dari Name Tag yang tertulis bagian dada sebelah kanan, kita akan mendapati sebuah nama lengkap dari pemuda itu. Nama yang tercetak di sana bertuliskan Namikaze Narutolol.

Ekspresi yang tadinya bosan dan nggak niat diwajahnya sekejap langsung berubah ekspresi menjadi kesal karena baru menyadari kalau ada sebuah lakban kecil berwarna hitam sama seperti warna blazer yang bertuliskan [lol] pas dibelakang namanya.

"Adik feeder noob brengsek! pantesan tadi orang-orang bergelagat aneh saat berpapasan denganku." Sembari bergumam menyumpahi adiknya, sosok yang bernama asli Namikaze Naruto itu seketika mencopot dan meremas lakban kecil tersebut lalu membuangnya secara sembarang. "Awas saja kau nanti!" desisnya.

Ah~ haahh~

Baru saja ia akan memikirkan cara untuk membalas keusilan adiknya, niatannya berhenti total ketika mendengar nada desahan yang sangat ia kenal berasal dari suara Handphone di saku celananya.

"Emm.. bang, suka sih suka aja sama desahan Illumia , tapi nggak dipake buat nada notif juga kali."

Rasa malu yang tadinya cuman sedikit seketika meroket ketika mendengar suara di belakangnya, tepatnya suara yang berasal dari seorang pemuda yang usianya lebih muda darinya, lengkap dengan wajah yang seolah mengatakan 'Dafuq!' menempel di wajah pemuda tersebut.

Pemuda yang tadinya hanya berjalan melewatinya seketika berhenti ketika mendengar suara desahan khas salah satu Hero Mage dari game Moba yang berasal dari Handphone Naruto.

"Umm.. sori dek, kayanya Hp saya jadi korban keusilan adik saya." Pemuda itu pun mengangguk paham dan meng- Oh-kan perkataan Naruto yang saat ini mukanya merah padam karena malu, lalu pemuda itu pun lanjut berjalan menjauhi dirinya.

"Adik Setan! Awas saja nanti. Kampret!" dan untuk beberapa detik setelahnya, kita akan mendengar rentelan kata-kata mutiara dari mulut Naruto kepada adiknya yang saat ini sedang ngakak parah dirumah mereka.

Setelah selesai dengan kalimat sumpah serapahnya, Naruto mengambil dan membuka kunci Handphone miliknya dan melihat notif yang ternyata adalah notif WeCh*t. Setelah membuka aplikasinya, Naruto mendapati total 21 pesan dari 3 sumber yang berbeda.

1 pesan belum terbaca dari kontak yang betuliskan Nagatolol '-')

12 pesan belum terbaca dari grup yang bertuliskan PPQ (Para Pecinta Qi)

8 pesan belum terbaca dari Grup KKPPAJ (Keluh Kesah Para Pemain A*V Jepang)

Naruto mengabaikan 2 grup nyeleneh di aplikasinya itu dan langsung membuka pesan dari Nagatolol '-'), atau kita sebut saja nama salinya Nagato.

[Elu di mana sih ngab! Lama bener!] Itulah isi pesan dari Nagato.

[Dah sampai depan gerbang Academy, elu yang di mana?] Setelah selesai membalas chat tersebut, Naruto mengunci layar Handphone nya dan kembali memasukkannya kedalam kantung celananya.

Namun beberapa detik setelahnya, mata Naruto melebar dan langsung dengan secepat yang ia bisa kembali merogoh Handphone miliknya karena baru sadar dia belum mengganti na—

Ah~ haahh~

—da noti.. not..iff

'ANYING!' raung Naruto dalam hati, merutuk dirinya sendiri karena dengan bodohnya ia tidak langsung mengganti nada notif Handphone miliknya. Ironisnya juga, nada suara Handphonenya saat ini berada di volume max nya.

Lebih parahnya lagi,

"Weddehhh nada notif elu GG bang! Bagi dong!"

Mendengar kalimat yang berasal dari sampingnya barusan, Naruto langsung mengalihkan pandangannya kesamping, saking cepatnya mungkin beberapa dari kita mendengar suara 'Crack!' yang berasal dari tulang leher pemuda pirang tersebut.

Dan dari penglihatan Naruto saat ini, terlihat seorang pemuda dengan pakaian yang sama sepertinya, berambut coklat berstyle C. Tsubasa serta bermata coklat, name tag yang terlihat di blazernya bertuliskan [Hyodou Issei, pemuda tersebut saat ini sedang menatap binar dan aneh Naruto sambil menyodorkan Handphone miliknya yang saat ini Bluetooth nya sudah ON.

Naruto yang rasa kalem dan sabarnya sudah terbakar habis akibat keusilan adik dan kebodohannya sendiri langsung melotot ke arah pemuda di depannya.

"Elu pilih, elu diem di depan gue, muka lu penyok sama bogem gue. Atau elu cepet-cepet minggat, muka lu tetep kinclong nggak jadi sasaran bogem gue, Mesum sialan!" bentak Naruto yang saat ini sedang menyodorkan kepalan tanggannya didepan wajah Issei yang sudah pucat pasi.

Melihat raut wajah Naruto yang saat ini sudah memerah menahan amarah dihiasi beberapa perempatan urat di wajahnya, Issei dengan nyali yang sudah ciut duluan langsung kabur detik itu juga.

'Dipanggil mesum sama orang yang make desahan cewe jadi nada notif nya. Yeah, dimana logika dan adilnya itu nying!' umpat Issei ditengah-tengah langkahnya menjauhi pemuda Pirang tersebut.

Sedangkan Naruto saat ini sudah kembali fokus ke layar Handphone miliknya, masih dengan ekspresi kekesalan yang senantiasa tercetak di wajahnya. Setelah mengganti nada notifnya, ia langsung membuka chat dari Nagato yang menjadi biang kerok munculnya suara desahan Ilumia barusan.

[Okeh.. gue tunggu di gerbang ngab.]

Setelah membaca pesan singkat tersebut, Naruto kembali mengalihkan pandangannya kearah gerbang sekolah. Karena jaraknya nggak terlalu jauh, Naruto bisa melihat seorang pemuda seumurannya yang memiliki rambut merah yang bergaya sok ke-emo-emoan melambaikan tangan kearah dirinya yang saat ini berada ditengah-tengah gerbang.

"Entah kenapa aku merasa kalau kehidupanku tidak akan baik-baik saja mulai hari ini." Setelah selesai bergumam sendiri dan menghela nafas lelah, Naruto langsung berjalan kearah gerbang sekolah dengan langkah malas.


•••

Naruto : High School of Weirdos

•••

Disclaimer : Masashi Kishimoto x Ichie Ishibumi

•••

Storyline : bucutelu

•••

Genre : Humor, School Life, Friendship, Romance, Slice of Live, more.

•••

Rated : M (Humor dewasa, bahasa 'strong', Dark Joke) MA (Adult content, more)

•••

Warning : OC, OOC, School Life Theme, Bahasa Tidak Baku, Kemungkinan Typo di beberapa tempat, ini rate M (yang baca sesuikan sama umur ae lah), mungkin garing, mungkin Cringe, dll.

Extra Warning : Bacanya pelan pelan ae, melompati beberapa bagian bisa berakibat cepet selesai bacanya :)

Ultra Warning : mungkin beberapa dari elu ada yang suka cerita ini, harap memaklumi updateannya, cerita ini di buat dan dilanjutkan hanya saat author senggang, nggak cepet nggak lambat, tergantung dari sudut pandang elu pada :)


Chapter 1 : Entering the new school, big bad weird school.



"Muka lu sepet amat ngab. Salah makan apa gimana?" tanya pemuda bernama lengkap Uzumaki Nagato itu kepada Naruto ketika sepupunya itu sudah berdiri di depannya.

"Menma," jawab Naruto sambil menghela nafas.

"Pfftt... Kali ini tu biang kerok ngapain elu ngab?" tanya Nagato lagi sambil menahan tawa karena sudah paham betul sama sepupunya yang satu itu.

Dia sudah paham betul dengan apa yang Naruto sebut tadi, yakni si Menma. Bocah sableng yang masih duduk di bangku SMP itu punya hobi yang agak ekstrim, yakni ngerjain keluarganya. Mulai dari Naruto kakaknya, sampai kedua orang tuanya tak luput dari korban keusilan bocah tengil itu.

"Selain nyemplungin cicak mati di kopi ayah tadi pagi sampe ngebuat tu orang tua melotot terus teriak-teriak kaya om-om sagne, si kampret ngubah notif Hp gue make suara Ilumia yang lagi mokad."

"PFFFTTHH!"

Kalau bukan karena Nagato tidak mati-matian nahan tawa buat jaga Image di depan umum, mungkin saat ini dia bakalan guling-gulingan di tanah sambil meraung terbahak-bahak memegang perutnya. Untungnya dia berhasil, dan hanya memperlihatkan ekspresi aneh menahan tawa di wajahnya.

Naruto yang melihat itu pun kembali kesal. "Kalo lu masih ketawa aja dan nggak nganterin gue ke ruangan kepala sekolah, gue sogok tuh si kampret buat ngerjain elu selama seminggu full," ucapnya dengan nada mengancam.

Nagato yang mendengar itu pun langsung berubah ekspresi dari menahan tawa menjadi pucat macam mayat, dia pun langsung memegang bahu Naruto dengan kedua tangannya. "Jangan Nar, gue mohon jangan! Elu inget terakhir kali tu bocah ngerjain gue? Sebulan full gue nggak berani keluar rumah gara-gara tuh bocah ngebotakin bagian belakang kepala gue ampe kinclong! terus.. terus," rengeknya dengan nada melas sambil membayangkan dirinya yang di kerjai Menma, dibotaki sampe kinclong terus di tempeli tato semi-permanen bergambar sepasang kambing lagi kawin, lengkap dengan wajah sagne aneh di kedua gambar kambing tersebut.

"Malunya setengah mokad di liat sama cewe ama ortu gue Nar! Setengah mokad!!" sambungnya sambil menggoyang-goyang tubuh Naruto dengan keras karena histeris.

Orang-orang yang berjalan di sekitaran mereka berdua bahkan satpam setempat menghentikan aktivitas mereka dan mengalihkan pandangannya ke arah Nagato dan Naruto saat ini, sambil memandang aneh mereka berdua.

Nagato yang menyadari hal itu langsung menghentikan guncangannya, melepaskan Naruto, dan berdehem untuk menghilangkan ekspresi ketakutannya. "Ehe-ehem! Pokoknya jangan Nar, entar gue beliin lu Quota buat lu maen. Yang penting gue aman dari adik lu," ucap si kepala merah itu.

"Deal!" Naruto dengan cengiran di wajahnya langsung menyetujui dan menyalami sepupunya tersebut setelah melihat orang-orang kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Nagato menghela nafas lega mendengarnya.

"Okeh, sekarang elu ikutin gue." Nagato yang rasa panik dan was-wasnya sudah menghilang, langsung menyuruh sepupunya itu mengikuti dirinya menuju kearah ruangan Kepala Sekolah.

"Hey! Tunggu Namikaze- kun!"

Naruto dan Nagato yang baru saja berjalan dua langkah dari tempat mereka sebelumnya kembali berhenti lalu menengok ke belakang. Dimana tak jauh dari tempat mereka berdua, seorang gadis berwajah ayu berambut pirang bob, dengan lengkukan tubuh, dan ukuran dada yang membuat hidung Nagato kembang-kempis tengah berjalan dengan cepat mendekati mereka berdua.

'Ahh si wajah es bernenen gede, salah satu kembang sekolah. Joni gue auto berontak nying!' batin Nagato diiringi matanya yang auto-fokus kearah dada cewe yang sedang berjalan ke arah mereka.

Dan disini kita tahu kalau Nagato adalah salah satu proud-member fraksi Mesum yang secara rahasia dibangun oleh salah satu guru sagnean dan selalu berpikiran kotor di sekolah ini, si guru Biologi mesum akut Jiraya.

Ok, kembali ke cerita. Jiraya dan Fraksi mesumnya kita bahas nanti.

"Hah.. hah.. hah.."

Naruto yang sedari tadi menaikkan sebelah alisnya heran, saat ini masih diam menunggu apa yang di mau oleh gadis yang tengah mengatur deru napas di depannya. Entah kenapa sosok didepannya itu tidak asing. Apa mungkin mereka pernah bertemu sebelumnya?

Menoleh ke arah sepupunya di samping, Naruto berkeringat jatuh melihat Nagato yang kedua matanya naik-turun masih dalam mode auto-fokus kearah dada cewe didepan yang masih mencoba mengatur deru napasnya. 'Simesum dungu, ketahuan Konan mampus kau,' pikirnya.

"Ano.. Pagi Namikaze- kun, Uzumaki- san," ucap gadis itu membuyarkan lamunan Naruto dan kembali memperhatikan gadis.yang sedang tersenyum manis di depannya.

"Ah.. Pagi juga em.. situ siapa ya?" balas Naruto diakhiri kalimat bertanya, masih menaikkan sebelah alisnya, mengabaikan Nagato yang masih dengan aktivitas absurdnya.

Greb!

Seeettt!

"Ah! Ahhh! Telingaku! Telingakuu sobek! Ahh!"

Sebelum si cewe menjawab pertanyaan Naruto, dari arah samping tiba-tiba sebuah tangan dengan cepat menjewer dan menarik telinga Nagato dengan keras hingga membuat si pemilik meringis kesakitan. Si pemilik tangan tak lain dan tak bukan adalah si cewe berambut biru pendek Konan kesayangan si Nagato.

"Gini nih punya cowo mata keranjang! Murid favorit si mesum Jiraya- sensei! Ditinggal 5 menit aja langsung jelalatan kemana-mana! Sekarang lu ikut gue dan terima hukuman lu layaknya pria sejati!" seru Konan marah pada kelakuan pacar mesumnya.

Tanpa ada aba-aba pun, Konan langsung menarik tubuh Nagato lewat daun telinganya tanpa mempedulikan si pemilik kuping yang teriak-teriak kesakitan.

Si cewe pirang berwajah es bernenen gede, kata si Nagato, saat ini terlihat berkeringat jatuh melihat pasangan remaja nyentrik tersebut. Sedangkan Naruto tertawa terbahak-bahak sambil mengacungkan jari tengahnya kearah Nagato yang saat ini berteriak meminta pertolongan dirinya.

Setelah melihat Nagato dan Konan menjauh, Naruto mengalihkan pandangannya ke arah gadis didepannya, "Ah iya, maaf ngebuat mbak keganggu dengan tawa saya. Tapi seriusan, mbak ini siapa ya?" ucap Naruto meminta maaf lalu kembali mencoba menanyakan siapa gadis itu sebenarnya.

"Umm.. mungkin Namikaze- kun lupa sama saya. Tapi, empat hari yang lalu Namikaze- kun menolong saya saat sedang di ganggu dan hampir dilecehkan sama anak-anak geng yang di sebelah Whirpool Clothes Store malam itu."

Naruto yang mendengar perkataan gadis di depannya ini memegang dagunya sambil mengingat kejadian 4 hari yang lalu. Whirpool Clothes Store katanya? Itu kan toko baju milik ibunya yang baru beberapa minggu ini di buka. Hmm... Cling!

"Ohhh.. jadi mbak yang malam itu ya? Haha maaf-maaf, saya nggak ngenalin mbak karna malam itu mbak kalau nggak salah rambutnya panjang sama kalo saya ingat waktu itu mbak pake masker," ucap Naruto sambil cengengesan, sambil menggaruk belakang kepalanya. Gadis pirang itu sedikit memerah melihat tawa Naruto yang menurutnya tampan dan mempesona.

"Umm, nggak apa-apa Namikaze- kun, saya maklumin kok," ucapnya membalas perkataan Naruto. "Dan tujuan saya sekarang, saya mau berterima kasih sekali lagi atas apa yang telah Namikaze- kun lakukan waktu itu. Sekali lagi terima kasih Namikaze- kun," sambungnya sembari membungkukkan tubuhnya.

"Err.. nggak apa-apa dan nggak pake bungkuk hormat juga mbak, santai aja. Lagian kan emang tugas kita yang membantu orang yang butuh bantuan kita kan ya," kata Naruto tidak enak melihat gadis di depannya masih membungkukkan badannya.

Gadis itu pun kembali menegakkan tubuhnya dan tersenyum manis setelah mendengar ucapan Naruto barusan, lalu setelah itu ia langsung mengulurkan tangannya kedepan sambil mempertahankan senyumnya.

"Perkenalkan, nama Saya Senju Samui, kelas 12-B, senang bertemu lagi denganmu Namikaze- kun!" ucapnya dengan nada riang setelah Naruto menyalami tangannya.

"Ahaha.. senang bertemu denganmu juga Samui. Maaf agak lancang, tapi gaya bahasa dan komunikasi saya tidak cocok memakai bahasa formal. Jadi panggil saja Naruto ya, salam kenal," kata pemuda pirang tersebut.

"O-oke Naruto.. kun?" tanya gadis bermarga Senju itu dengan semburat merah di pipinya, meminta persetujuan pemuda tersebut.

"Ahh itu lebih baik, hehe," ujar Naruto senang. "Oh iya, saat saya lagi mau ke ruangan Kepala sekolah, bisa minta tolong Samui buat nunjukin janannya nggak? Hehe" lanjutnya dengan sedikit malu.

Karena si kampret Nagato udah nggak bisa di harepin lagi, jadi dengan agak malu ia minta tolong ke gadis di depannya ini untuk menuntunnya kearah kantor kepala sekolah.

"Oke! Kalau gitu ikuti saya Naruto- kun!" setelah mengatakan itu, Samui yang masih berjabatan tangan dengan Naruto langsung menyeret pemuda itu untuk ikut dengan dirinya menuju kantor kepala sekolah.

Sepeninggalan kedua remaja barusan, tempat itu hening. Bukan, bukan karena sepi, melainkan orang-orang yang sedari tadi menonton di sekeliling Naruto dan Samui masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri.

" Ara.. Aku baru pertama kali melihat Samui- kun bisa seakrab dan seceria itu sama orang asing, ne Rias?"

"Entahlah Akeno, aku juga syok melihatnya. Seingatku baru pertama kali ini aku melihat Samui senyum, apa lagi di hadapan laki-laki."

"Dan juga gaya rambutnya berubah, kau tahu apa penyebabnya Akeno?"

"Ufufufu.. entahlah, hanya Samui- kun dan Author fic ini yang tau."

Suara itu terdengar dari arah 2 cewe cantik yang tidak kalah semok dari Samui, dua duanya sama sama ber-nenen gede, satu berrambut merah bernama lengkap Gremory Rias, satunya berrambut hitam bernama lengkap Himejima Akeno.

Mendengar kedua cewe cantik barusan semua yang berada di situ langsung ricuh menyetujui ucapan Rias dan Akeno barusan.

Hebohnya suasana saat ini dikarenakan si wajah es ber-nenen gede Senju Samui memanglah sesuatu yang lumrah. Mengingat Samui adalah salah satu Kembang sekolah idaman para laki-laki di semua kalangan, dari yang baru masuk sebagai murid baru sampai guru bangkotan macam Hiruzen Sarutobi dibuat kesem-sem sama keayuan keturunan Senju tersebut.

Dan karena terkenal akan wajah dan sifat dingin yang dimiliki gadis itu, semua yang pernah mencoba mendekatinya mati kutu dan kena mental karena ditolak mentah-mentah oleh Samui. Bahkan salah satu pangeran sekolah bernama Kaguya Kimimaro, langsung pundung di pojokan ruang UKS karena menerima penolakan pahit dengan nada dingin dan jutek si Senju muda.

Beralih ke Naruto dan Samui yang saat ini sudah berada di depan ruangan yang bertuliskan kantor kepala sekolah.

"Ini dia ruang kepala sekolah Naruto-kun," ucap samui tak henti-hentinya menebar senyum manisnya kepada pemuda di depannya.

"Terima kasih atas bantuannya Samui, aku menghargainya." Naruto membalas perkataan Samui sambil menyampaikan rasa terima kasihnya.

Samui yang mendengar itu kembali bersemu merah lalu menganggukkan kepalanya. Dan secara kebetulan atau apa bel masuk kelas berbunyi dengan nyaring di sepenjuru sekolah, hal itu membuat Samui mau tak mau harus meninggalkan Naruto dan segera untuk memasuki ruang kelasnya.

"Oke Naruto-kun, saya harus ke kelas sekarang. Sampai ketemu lagi," ucap Samui sambil melambaikan tangannya sebelum gadis itu berbalik dan berjalan menjauhi dirinya.

"Ya, sampai ketemu lagi Samui," balas Naruto sambil membalas lambaian tangan Samui.

Setelah melihat Samui menghilang di balik koridor, Naruto mengalihkan pandangannya kedepan, kearah pintu masuk ruangan kepala sekolah, dan langsung mengetuknya.

Cklek!

Naruto membuka pintu tersebut setelah mendengar suara perempuan dewasa yang menyuruhnya masuk.

Didalamnya Naruto mendapati desain ruangan yang mewah dan berkelas, dimana saat ini wanita yang tadi menyuruhnya masuk sedang berdiri membelakanginya sambil melihat keluar jendela.

"Permisi dan selamat pagi Bu Kepala Sekolah," ucap Naruto sopan.

Sang kepala sekolah yang dimaksud pun langsung berbalik dan mendapati Naruto yang saat ini berdiri didepan meja kerja miliknya. "Ah selamat pagi juga, dan silahkan duduk," balasnya sambil mempersilahkan Naruto untuk duduk.

Untuk sesaat, waktu seakan berhenti bagi Naruto, karena saat ini dia menemukan pemandangan yang di luar dugaannya.

Dimana didepannya saat ini penampilan kepala sekolah yang dalam pemikirannya seharusnya adalah seorang wanita tua berumur 50 tahunan yang sudah pasti mempunyai keriput sana-sini, beberapa gigi yang sudah wassalam dengan gusinya, ubanan, dada yang sudah penyok termakan usia, dan kulit burik kelewat lentur khas orang tua, salah total!

'Jauh banget melesetnya bund!' raungnya dalam hati, tidak terima dengan apa yang di lihatnya.

Yup, pemikiran yang melesetnya kebangetan dengan fakta di lapangan.

Saat ini yang berada didepannya adalah Milf cantik berambut pirang, bertubuh semok dengan lengkukan-lengkukan yang haram untuk diterawang dan dipikirkan oleh orang yang bukan muhrim nya. Oh dan jangan membahas dad— dadanya! Mata Naruto melotot dan langsung terpaku pada dada Milf tersebut.

'Ne-nenennya segede bola voli anjir!' dengan rasa tidak percaya yang kebangetan. 'mana keliatannya masih kenceng lagi,' sambungnya dalam hati.

Namun karena Naruto adalah pemuda yang cekatan dan tahu laju arus situasi dan kondisi, dalam sekejap ia membuang jauh-jauh pemikiran-pemikiran kotor barusan dan mengatur raut wajah, gestur, dan bahasa tubuhnya ke mode 'normal dan polos', meskipun agak terlambat karena kepala sekolah sudah terlanjur melihat pemuda itu menatap dadanya.

Naruto saat ini sudah duduk dan mengeluarkan berkas yang berada didalam tas miliknya, langsung saja ia serahkan berkas-berkas itu kepada kepala sekolah yang bernama lengkap Senju Tsunade tersebut.

'Yup, Tsusu na gede. Nama dan body yang support satu sama lain, mantap djiwa!' batin Naruto lagi setelah memastikan kepala sekolah sedang fokus kepada berkas perpindahannya.

Tok! Tok! Tok!

Beberapa saat setelahnya, Tsunade dan Naruto yang tengah berada dalam aktivitas masing-masing langsung mengalihkan pandangan mereka kearah pintu masuk ruangan tesebut setelah mendengar bunyi ketukan barusan.

"Silahkan Masuk."

Cklek!

"Selamat pagi Bu Senju."

Setelah pintu terbuka, terlihatlah sosok wanita tinggi besar yang langsung menyapa kepala sekolah.

"Ah.. selamat pagi juga bu Dimitrescu. Silahkan duduk di sofa, dan mohon untuk menunggu sebentar," kata Tsunade mempersilahkan wanita dewasa yang tingginya lebih dari 2 meter itu untuk duduk di sofa yang ada di ruangan miliknya.

Sedangkan untuk Naruto sendiri. Sekali lagi waktu seakan berhenti baginya, matanya kembali melotot dan kali ini hampir lepas dari rongga matanya karena tidak mempercayai apa yang dilihatnya saat ini.

Dilihat dari sudut pandang manapun, wanita dewasa berambut hitam tersebut sudah pasti akan masuk ke dalam list paling atas dalam daftar [Milf Super] di buku jurnal rahasia si Namikaze muda. Montok, semok, gitar spanyol, jam pasir, dan apapun yang menggambarkan kemolekan lekukan tubuh wanita cantik berlipstik hitam sensual tersebut saat ini berseliweran di kepala Naruto.

Terus jangan tanya lagi soal ukuran da—

'ANJAYANTO!! Gue yakin itu nenen lebih gede dari bola basket anjing!' batin Naruto meraung seakan tidak terima dengan apa yang dia lihat. 'Dan gue berani taruhan sebelah biji gue, itu nenen putingnya pasti segede bola ping-pong sat!' sambungnya.

Dan kembali sekali lagi, karena Naruto adalah pemuda yang cekatan dan tahu laju arus situasi dan kondisi, dalam sekejap ia kembali memfokuskan pandangannya kearah Milf yang ada didepan badannya itu. Dalam sekejap ia membuang jauh-jauh pemikiran-pemikiran kotor barusan dan mengatur raut wajah, gestur, dan bahasa tubuhnya ke mode 'normal dan polos' (lagi), meskipun agak (lagi) karena wanita dewasa semok bernama lengkap Alcina Dimitrescu itu sudah terlanjur melihat pemuda itu menatap dalam tubuh dan dadanya.

Namun wanita itu tersenyum misterius setelah melihat Naruto yang sudah membalikkan badannya menghadap kepala sekolah. Entah kenapa namun sekarang Author pura-pura saja tidak tahu dulu ya.

"Baiklah, Murid Namikaze Naruto. Silahkan ke ruang guru dan cari pak Morino Ibiki, berikan surat rekomendasi ini pada beliau, lalu sisanya beliau yang menangani sisanya." Tsunade mengatakan hal barusan sambil memberikan sebuah kertas kepada Naruto.

Setelah menerimanya, Naruto langsung berdiri dan mengambil tasnya yang ia letakkan di sebelah kursi tadi. "Terima kasih atas waktunya Bu Senju, dan mohon maaf atas waktu anda yang saya ambil hingga membuat anda menunggu Bu Dimitrescu," katanya dengan nada hormat sambil membungkukkan tubuhnya hormat kepada Tsunade dan Alcina bergantian.

Setelah mendapat respon yang positif, Naruto langsung permisi dan meninggalkan kedua Milf tersebut dan karena sudah tahu letaknya berkat Samui tadi, ia langsung melangkah ke ruang guru.

Sedangkan untuk kedua Milf yang masih belum beranjak di tempat mereka masing-masing.

"Nfufufu... Pemuda yang menarik eh, Tsunade?" tiba-tiba Alcina tertawa misterius sambil mengatakan itu pada kepala sekolah.

Tsunade yang mendengar itu pun ikut terkekeh. "Ya, aku setuju denganmu." Tsunade lalu mengalihkan pandangannya kearah berkas data diri Naruto yang masih ada diatas mejanya. "Aku juga penasaran apa anak itu bisa menjadi penakluk seperti ayahnya," sambungnya sambil memperhatikan nama ayah kandung Naruto di berkas tersebut.


Kelas 12-B

Suasana di ruang kelas terlihat ramai seperti biasa, para penghuni kelas saat ini sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Terlihat di bagian pojok barisan meja depan, geng perempuan tercantik di kelas (termasuk Samui) sedang mengobrol heboh dengan topik perubahan gaya rambut Samui yang baru.

Di barisan tengah geng siswa laki-laki sedang heboh dan tanpa malu dengan sekitar membicarakan masalah Author/Komikus [Butcha-U] dan [olto] baru-baru ini sama-sama merilis komik one-shot terbaru mereka yang elu pada pasti tau apa itu.

Di pojok belakang terlihat Nagato yang sedang err.. dicekik oleh Konan, entah karena masalah apa dan sudah berapa lama, karena terlihat saat ini wajah Nagato sudah nampak membiru.

Cklek!

Mendengar suara knop pintu ruang kelas tiba-tiba bersuara, para penghuni kelas itu dalam sekejap sudah duduk manis di bangku masing-masing. Karena berhubung hari ini jam pertama mereka adalah mata pelajaran Sosiologi, otomatis yang menjadi pembimbing mereka adalah Guru terkiller, terkejam, dan terganas Kuoh Academy. Siapa lagi kalau bukan Pak Morino Ibiki.

Tidak ada yang berani berkutik dihadapan beliau, sekali kau berbuat kesalahan yang disengaja apalagi kenakalan pada saat jam pelajaran beliau, kelar idup kau.

Dan sekarang terlihatlah beliau sedang berdiri dihadapan para murid dengan tatapan tajam khasnya.

"Selamat pagi anak-anak."

"Selamat pagi Sensei!"

Menganggukkan kepalanya setelah sapaannya dibalas dengan semangat oleh para anak didiknya, guru yang mengenakan pakaian serba hitam itu pun mengangguk dan melangkah menuju bangku miliknya. Setelah duduk, Pak Ibiki melihat ke seluruh ruangan untuk mengecek apakah ada yang belum datang atau tidak. Setelah selesai dan tahu bahwa semua muridnya sudah di kelas semua, beliau pun mulai berbicara.

"Baiklah, semuanya sudah ada di sini. Namun, sebelum memulai pelajaran kita hari ini, kita kedatangan murid baru." Para murid yang mendengar itu pun mulai berbisik-bisik tentang teman baru mereka, ya walaupun ada beberapa yang sudah tahu tentang siapa anak baru tersebut. "Silahkan masuk Namikaze- san!" sambung Pak Ibiki sambil mengarahkan pandangannya ke pintu kelas.

Setelah mendengar namanya di panggil, Naruto yang menunggu di luar langsung membuka pintu dan masuk ke kelas barunya.

Melihat para murid yang akan jadi teman sekelasnya, hanya tiga orang yang Naruto kenal. Samui yang saat ini sedang melihat ke arahnya dengan senyum dan semburat pink tipis di pipinya, Nagato yang saat ini tengah mengacungkan jari tengah sambil meng-glare dirinya, well mungkin karena kejadian tadi di gerbang. Dan terakhir Konan, pacar Nagato yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan natural.

"Baiklah, silahkan perkenalkan dirimu dihadapan teman-teman kelasmu yang baru sebelum kita mulai pelajarannya Namikaze-san," ucap Ibiki setelah Naruto berdiri di hadapan para sisiwa.

"Baiklah, nama saya Namikaze Naruto, murid pindahan dari Tokyo. Yang saya sukai adalah hang out, main game, dan Live-Streaming. Yang tidak saya sukai adalah, orang-orang pemaksa, orang-orang yang tidak bisa diajak main slow, dan dikerjai adik saya. Untuk mimpi dan keinginan di masa depan.. hmmm.. saya masih tidak terlalu mekikirkannya," jelas Naruto diakhiri cengiran khas miliknya.

"Baiklah, karena pelajaran akan segera kita mulai, Sensei akan memberikan kalian kesempatan untuk mengajukan 2 pertanyaan. Satu orang satu pertanyaan, dan Namikaze-san yang akan menunjuk dua diantara kalian semua."

Sebelum para murid mulai memberondong Naruto dengan pertanyaan-pertanyaan aneh dan meributi kelasnya, Ibiki langsung saja menutup kesempatan ribut mereka dengan perkataannya barusan.

Dan secara serempak, hampir semua murid perempuan dan beberapa laki-laki secara bersamaan mengangkat tangan mereka. Naruto yang melihat itu agak kaget, apa lagi saat melihat Nagato yang juga ikut-ikutan angkat tangan sambil nyengir. Lalu pandangannya beredar kearah dimana Samui berada. Dan ah, cewe Senju itu adalah bagian dari sedikit murid yang tidak angkat tangan.

"Baiklah, rambut merah di pojok belakang." Naruto menunjuk dan menatap Nagato dengan tatapan 'jangan-tanya-aneh-aneh-lu-anying'. Nagato yang melihat itu pun memperlebar cengirannya. Para murid lain langsung mengalihkan pandangannya ke arah keturunan Uzumaki tersebut.

"Denger-denger dari grup, lu udah putus sama pacar lu si Hyuuga itu ngab. Jadi sekarang lu masih jomblo apa udah ada yang baru?"

Mendengar apa yang dikatakan dan di tanyakan oleh Nagato. Semua cewe di kelas itu langsung menatap Naruto dengan tatapan yang menakutkan, ya setidaknya itu yang dilihat Naruto sekarang.

'Si gobloook! Nyesel gue nunjuk lo babi!' umpat Naruto dalam hati, namun ia tetap senyum di luar, meskipun perempatan urat di pelipisnya kelihatan jelas.

"Err.. gimana yah." Naruto menggaruk kepalanya gugup. "Saat ini sih masih belum. Ya walaupun masih belum kepikiran buat nyari lagi sih, soalnya saya lagi fokus sama konten streaming." sambungnya.

Mendengar jawaban pemuda rambut pirang pendek tersebut, semua cewe di kelas itu sekarang menatap dirinya semakin menakutkan, bulu kuduk Naruto sampai berdiri dibuatnya.

"Baiklah. Pertanyaan terakhir, silahkan di tunjuk Namikaze- san." Ibiki yang sudah mulai bosan dengan sesi tanya-jawab khas ABG yang menurutnya mainstream itu kembali menyuruh Naruto menunjuk.

Anak-anak di kelas itu kembali angkat tangan, kecuali beberapa orang termasuk Nagato yang masih nyengir dan sedang menatap dirinya dengan tatapan yang seloah mengatakan 'gue-sengaja'. Hal itu membuat Naruto makin kesal pada sepupunya.

"Ooke~ mbak di pojok kanan depan silahkan," tunjuk Naruto pada cewe berambut hitam panjang berkacamata yang menurut Naruto paling normal diantara para penghuni kelas itu. Cewe itu bernama Shinra Tsubaki, yang kebetulan juga adalah wakil ketua OSIS di sekolah ini.

Tsubaki yang di tunjuk mengangguk dan tersenyum ramah, setelah membetulkan letak kacamatanya, Tsubaki mulai bertanya.

"Tipe gadis idaman Namikaze- san seperti apa?" Naruto langsung menepuk jidatnya sendiri, "Akan lebih lengkap jika menyertakan ciri-cirinya juga,' sambung Tsubaki.

Para cewe di kelas itu mengangguk setuju dan langsung memasang telinga baik-baik, siapa tau salah satu diantara mereka masuk dalam kategori yang akan menjadi jawaban Namikaze muda tersebut.

"Hmmm.. cewe idaman ya.." gumam Naruto sambil memegang dagunya. "Kalau saya sih, yang penting bikin nyaman aja kali ya, nggak bawel, nggak banyak maunya, dan nggak bikin malu. Terus kalau masalah ciri-cirinya sih, tinggi nggak apa-apa, pendek juga nggak apa-apa. Ah! Yang paling saya suka adalah cewe kalem dan punya potongan rambut bob sih haha," sambung Naruto sambil agak malu menyebutkan ciri-ciri cewe idamannya.

Set!

Semua cewe-cewe yang ada disana pun langsung membengkokkan kepala mereka kearah tempat satu-satunya cewe berrambut bob di kelas itu, siapa lagi kalau bukan Samui.

Gadis keturunan Senju itu pun mengangkat sebelah alisnya, pura-pura polos dan nggak tahu apa-apa. Padahal dalam hati dia berasa malu banget ditatap seperti itu, buktinya saja semburat tipis dan hampir tak kasat mata di kedua pipinya.

Teman-teman Samui yang berada di belakangnya seperti Rias dan Akeno pun sama-sama membentuk huruf O di mulut mereka masing-masing seolah sudah tahu jawaban mengapa teman mereka mereka yang satu itu mengganti gaya rambutnya, tak lupa juga dengan mata yang menyipit yang saat ini melihat gadis pirang Bob itu.

"Baiklah. Karena sesi tanya-jawabnya sudah berakhir. Kalian semua silahkan menyiapkan buku dan modul kalian karena pelajaran akan kita mulai. Dan Namikaze- san, silahkan untuk duduk di kursi kosong di sebelah Claire Redfield di bagian belakang."

Dan sekali lagi, untuk mencegak keributan anak-anak perempuan kelasnya yang berpotensi besar membuat telinganya sakit, ibiki langsung menyuruh mereka untuk bersiap dan menyuruh Naruto untuk duduk di sebelah murid transferan dari amerika yang sedang menatap Naruto dengan tatapan tertarik.

"Tunggu dulu sensei." Ibiki langsung memandang Naruto lagi setelah pemuda itu angkat berbicara, ia mengangkat sebelah alisnya.

"Sebelum kita mulai pelajarannya. Saya sebagai murid baru disini hanya ingin mengatakan bahwa.."

Ada jeda sejenak, yang membuat semua orang terdiam dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh pemuda tersebut.

"Light Is Fleeting!"

"Darkness Is Forever!!"

Naruto nyengir dan mengacungkan jempul tangannya mendengar raungan gajenya di sambut oleh empat suara berbeda di kelasnya.

Yang pertama tentu saja Nagato, yang saat ini berdiri ditempatnya. Yang kedua adalah teman teman duduknya sendiri, Claire Redfield si murid transferan yang juga berdiri di tempatnya. Yang ketiga adalah cewe berambut hitam bernenen gede Himejima Akeno yang saat ini berdiri mengejutkan Rias yang duduk di sebelahnya.

Dan yang terakhir adala—

Semua murid disana secara berbarengan dan serempak menatap kearah Pak Ibiki yang barusan merespon teriakan dadakan Naruto dengan nada suara paling besar di antara keempat suara tadi.

Ibiki yang ditatap oleh para muridnya saat ini tengah banjir keringat, karena grogi dan malu melihat para murid yang seakan menunggu apa yang akan dia katakan.

"Eee.. Ehem! Ja-jadi gini.."

Cut!


Silahkan klik Favorit, Follow, dan Review cerita ini jika kalian suka.

See you in the next chapter!

Bye!