Kanojo to Saisho no Tomodachi

(Si Gadis dan Teman Pertamanya)


Naruto by Masashi Kishimoto

Fiction by Izumi Azues


Chapter 2

Pagi beranjak meninggalkan kesunyian malam. Semua orang kembali melakukan aktivitas rutinnya. Tidak terkecuali dengan seorang pemuda berambut kuning.

Bip bip bip bip bip bip

Jam digital pada meja kamar pemuda itu berbunyi, menunjukkan pukul 07:00. Merasa alarmnya berbunyi kemudian pemuda itu beranjak bangun dari tidur nyenyak nya. Terlihat setelah bangun, pemuda itu kemudian menyempatkan untuk membereskan tempat tidurnya sebelum ia beranjak ke lemari pakaiannya. Pemuda itu mengenakan kaos jersey berwarna putih dan celana training selutut.

Kegiatan pagi Naruto tidak lepas dari olahraga, biasanya ia akan jogging mengitari beberapa blok di sekitar rumahnya sebelum ia kembali untuk membuat sarapan.

"Gochisousama", ucap Naruto sambil menangkupkan kedua tangannya kedepan, tanda ia baru menyelesaikan sarapan paginya bersama Kurama. Setelah kegiatan sarapannya barusan, pemuda itu kemudian beranjak pergi untuk sekolah.

"Kurama aku berangkat dulu ya, sampai bertemu makan malam nanti, ittekimasu!", ucap pemuda itu kepada kucing oranye yang mengantar kepergiannya di depan pintu. Kurama hanya mengeong untuk memberi jawaban pada pemiliknya sebelum Naruto benar-benar pergi ke sekolah.

Gadis berambut indigo itu berjalan melewati trotoar di pinggir jalan. Pandangannya menunduk, menyembunyikan mata ungu muda milik gadis cantik itu. Namun wajahnya mendongak, sedikit senyum simpul terpatri di wajahnya ketika pemuda berambut kuning itu berdiri membelakanginya, terlihat pemuda tersebut sedang berdiri di ujung zebra cross untuk menunggu lampu lalu lintas berganti warna.

"Ohayou Naruto-kun", sapa gadis cantik itu pada Naruto.

Pemuda yang merasa dirinya dipanggil oleh seorang perempuan kemudian menolehkan kepalanya ke belakang. Dapat dilihatnya seorang gadis berambut indigo yang dikenalnya menyapanya dengan senyum di wajah cantiknya.

"Ohayou Hinata-chan", balas Naruto pada sapaan Hinata.

"Ternyata kau juga lewat sini Hinata-chan?", ucap Naruto setelah membalas sapaan Hinata.

"Iya Naruto-kun, ini rute tercepat untuk bisa sampai ke sekolah", jawab Hinata sambil mengangguk kecil.

"Bagaimana kalau kita pergi ke sekolah bersama lain kali Hinata-chan? Aku baru sadar rumah kita tidak begitu jauh", tanya Naruto pada Hinata sambil menyebrang jalan karena lampu tanda untuk menyebrang telah berwarna hijau.

HInata yang kaget dengan tawaran mendadak dari Naruto hanya terdiam. Sampai ia sadar bahwa pemuda itu sudah setengah menyebrang. Detik berikutnya gadis itu sedikit berlari kecil untuk menyusul pemuda yang ada di depannya.

"Umm, tentu saja Naruto-kun. Aku menantikannya", dengan senyum dan rona pada wajahnya Hinata menjawab tawaran Naruto tadi, yang mengajaknya pergi sekolah bersama.

Pemuda itu hanya tersenyum mendengar jawaban dari gadis yang kini berjalan di sampingnya.

"Ne, Hinata-chan. Hari ini aku akan mengenalkanmu pada Sasuke dan Sakura seperti yang tadi malam kita rencanakan. Apa kau sudah siap?", tanya Naruto setelah mereka berdua sampai di seberang jalan.

Hinata terdiam sejenak, wajahnya kembali menunduk, mengambil nafas sejenak. Lalu mendongakkan kepala lagi sebelum menjawab ucapan pemuda berambut kuning itu.

"Ha'i, aku siap Naruto-kun. Mohon bantuannya", jawab gadis itu mantap, matanya tertuju pada mata lawan bicaranya. Menandakan gadis itu yakin dengan jawabannya dan siap untuk menambah daftar temannya.

"Yosh! Berjuanglah Hinata-chan", ucap Naruto setelah mendapat jawaban memuaskan dari Hinata.

Setelahnya mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di sekolah. Kegiatan belajar di kelas 1-B berjalan dengan tenang dan penuh konsentrasi.

Ding dong ding dong~ Ding dong ding dong~

Bel tanda istirahat makan siang sudah berbunyi, seketika kelas yang tenang menjadi bising. Sama seperti murid lainnya, Naruto juga pergi beranjak meninggalkan mejanya, kemudian ia menghampiri siswi yang terlihat masih ada di bangkunya.

"Ayo kita lakukan rencana kita, Hinata-chan", ucap Naruto pada Hinata dengan sedikit lirih sambil mengamati sekitarnya.

"A- ano Naruto-kun, apakah ini akan berjalan lancar?", Hinata tidak menjawab, melainkan bertanya pada pemuda itu dengan gugup dan ragu.

"Tenang saja Hinata-chan, aku akan membantumu. Aku yakin juga rencana ini pasti berhasil", ucap Naruto meyakinkan Hinata yang terlihat ragu.

"Umm, baiklah. Mohon bantuannya Naruto-kun", ucap gadis itu saat mendapatkan dukungan dan kata-kata meyakinkan dari Naruto.

"Oke kita mulai rencananya", ucap Naruto kembali setelah melihat Hinata sudah agak semangat. Kemudian pemuda itu pergi, menghampiri dua sahabatnya yang duduk agak berjauhan dengan bangku Hinata.

"Sasuke, Sakura-chan. Apakah kalian punya waktu sedikit untukku? Aku ingin mengenalkan seseorang pada kalian", Naruto berkata sambil merangkulkan tangannya pada pundak Sasuke.

"Siapa yang ingin kau kenalkan pada kami Naruto?", ucap Sasuke bertanya pada sahabatnya.

"Umm, seseorang yang unik? Ahh, pokoknya kalian tunggu di sini menghadap papan tulis ya", ucap Naruto pada kedua sahabat kecilnya sambil mendorong punggung mereka ke depan kelas.

"Kau tidak akan mengerjai kami kan Naruto?", ujar Sakura yang sedang didorong-dorong oleh Naruto.

"Mana mungkin aku mengerjai kalian. Oke tunggu di sini ya", Naruto kemudian meninggalkan mereka berdua dengan posisi menghadap papan tulis.

"Ayo Hinata-chan", ajak Naruto untuk memperkenalkan dirinya pada kedua sahabat pemuda itu.

"U- umm", jawab Hinata gugup, ia mengikuti Naruto ke depan kelas.

'E- eh bagaimana ini! A- aku merasa gugup!', Hinata sedang berperang melawan gugup dan gelisah dalam pikirannya. Tanpa disadari raut wajahnya berubah, kepalanya menunduk, poninya menutupi kedua matanya.

"Baiklah kalian berdua boleh balik badan", ucap Naruto pada Sasuke dan Sakura, menandakan orang yang ingin dikenalkan pada mereka berdua sudah sampai.

"Ha'i", jawab Sasuke dan Sakura serentak. Kemudian membalikkan badan.

Sett

Saat mereka berdua membalikkan badan yang mereka lihat adalah seorang gadis berambut biru kelam yang berada di samping kiri Naruto. Gadis itu menundukkan wajahnya.

'Kalau dilihat-lihat gadis ini mirip dengan… ', tebak-tebak Sasuke dan Sakura dalam pikiran mereka, menyadari kalau gadis yang ingin dikenalkan sahabatnya tidak asing bagi mereka.

Jedaarrrrrr!

'H- Hyuuga H- Hi- Hinata-san', bagai tersambar petir, mereka berdua menyadari bahwa gadis yang ingin dikenalkan Naruto adalah Hyuuga Hinata. Siswa yang membuat hampir seluruh kelas takut padanya saat perkenalan diri kemarin. Mereka berdua terlihat panik, wajah mereka pucat pasi, keringat dingin menetes deras.

"Silahkan perkenalkan dirimu Hinata-chan", ucap Naruto pada Hinata untuk memperkenalkan diri pada Sasuke dan Sakura. Dengan gerakan perlahan gadis itu menegakkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk.

Deg!

Wajah Hinata kembali ke mode dingin dengan tatapan tajam yang dapat membuat Sasuke dan Sakura makin ketakutan.

'Kowai kowai kowai kowai kowai', batin Sasuke dan Sakura berkecamuk saat bertatapan dengan Hinata. Keringat dingin semakin deras meluncur di sekujur tubuh.

'A- aku harus keluar dari situasi ini. Ayolah berpikir Sasuke. Ahh aku punya ide', batin Sasuke memikirkan kabur dari situasi yang mencekam berkat tatapan dingin dan tajam gadis bernama Hinata di depannya itu.

"Na- Naruto, is- istirahat makan siang sebentar lagi habis. A- aku dan Sakura-chan sudah sangat lapar. K- kami mau makan siang dulu. Sampai nanti Naruto", ucap Sasuke terbata-bata sambil menarik tangan Sakura yang ada di sampingnya dengan cepat untuk melarikan diri.

"Ehh? EHHHHHHH?!!", pekik Naruto kebingungan dengan tingkah abnormal sahabatnya itu. Naruto dan Hinata terdiam untuk sesaat.

"Ne, Hinata-chan mau makan siang bersamaku di atap?", tanya Naruto memecah keheningan dengan suara yang agak lirih dan sedikit canggung. Hinata hanya memberi anggukan sebagai jawaban atas tawaran dari Naruto.

Mereka berdua pun makan siang bersama di atap. Tanpa terasa bekal yang mereka berdua bawa dari rumah sudah habis tidak tersisa. Diam masih menyelimuti keduanya, Naruto maupun Hinata belum bisa melepaskan jerat kesunyian diantara mereka.

"Ne, Naruto-kun. Aku gagal berkenalan dengan baik", ucap Hinata memecah keheningan diantara keduanya. Gadis itu menunduk, nada bicaranya bergetar seperti ingin menangis.

"Hinata-cha-"

"Apa kau melakukan semua ini juga karena merasa takut padaku?", potong gadis itu sebelum Naruto menyelesaikan kalimatnya. Bulir air mata menetes di kedua mata gadis itu.

Naruto yang melihat keadaan Hinata semakin buruk sedikit melebarkan matanya. Namun setelahnya pemuda itu tersenyum. Ia kemudian berdiri mengganti posisinya untuk berjongkok di depan gadis itu.

"Aku tidak merasa takut padamu Hinata-chan. Tidak sama sekali. Lagipula aku menyukai senyummu yang tulus. Senyum yang mengingatkanku pada kedua orang tuaku dulu", ucap Naruto dengan nada bicara menenangkan sambil menyeka air mata Hinata.

Hinata yang melihat ekspresi pada wajah Naruto sedikit melebarkan matanya. Gadis itu melihat ekspresi wajah Naruto yang menurutnya sulit diartikan. Ekspresi yang berbeda dari biasanya.

"Hora, jangan menangis lagi Hinata-chan", ucap Naruto kembali, masih menyeka sisa air mata gadis itu.

Setelahnya Hinata berhenti menangis. Ia sudah cukup tenang berkat Naruto.

"Apa kau kau sudah lebih baik Hinata-chan?", tanya Naruto memastikan kondisi Hinata.

"Umm", gadis itu hanya menjawab singkat sambil menganggukkan sedikit kepalanya.

"Syukurlah", ucap syukur Naruto karena gadis disampingnya sudah baik-baik saja.

"Apakah kau masih ingin mendapatkan teman Hinata-chan?", tanya Naruto pelan.

"Entahlah Naruto-kun. Aku tidak percaya diri. Ini semua salahku karena tidak bisa menahan rasa gugup", jawab Hinata, suaranya bergetar. Air mata kembali menumpuk di ujung kedua matanya.

"Kalau begitu, tinggal kita coba lagi saja Hinata-chan. Aku akan tetap membantumu. Dan aku berjanji agar kau menikmati masa sekolah yang tidak datang dua kali Hinata-chan", Naruto berkata dengan penuh keyakinan. Sorot matanya berapi-api, pemuda itu bersungguh-sungguh atas apa yang ia katakan.

Mendengar perkataan Naruto, gadis itu melebarkan matanya. Air mata gadis itu menetes, bukan karena sedih namun perasaan bahagia. Bahagia karena Naruto telah berjanji padanya untuk menemaninya menemukan teman baru dan menikmati masa sekolahnya.

Grep

Hinata kemudian memeluk Naruto untuk menggambarkan rasa bahagianya.

"E- eh, Hinata-chan?"

"Arigatou Naruto-kun. Arigatou", ucap Hinata dalam pelukan Naruto.

Pemuda yang tadinya kaget karena gadis disampingnya tiba-tiba memeluknya kemudian merubah ekspresi wajahnya. Ekspresinya melembut, kemudian membalas pelukan gadis itu sambil mengusap kepala Hinata dengan lembut.

Hinata yang merasakan dirinya dipeluk balik kemudian tersenyum dalam pelukan pemuda itu. Wajah gadis itu merona. Ia merasa aman dan nyaman berada di dekapan pemuda itu.

Drrrtt drrrtt

Getar smartphone milik Hinata memecahkan momen berpelukan mereka. Dengan cepat mereka berdua melepaskan pelukannya. Hinata kemudian membuka smartphone nya, dan melihat ada sebuah pesan masuk.

From : Hyuuga Hanabi

To : Hyuuga Hinata

Onee-san, jangan lupa mengundang Naruto-oniisan malam ini

Deg!

Hinata seketika terdiam membaca pesan dari adiknya. Dirinya lupa dengan perintah ayahnya semalam untuk mengenalkan Naruto pada keluarganya. Ia panik, keringat dingin mengalir di tubuhnya.

"Ada apa Hinata-chan? Apakah sesuatu yang penting?", tanya Naruto setelah melihat ekspresi wajah Hinata berubah sesaat setelah membaca pesan masuk.

Gadis itu menundukkan wajahnya.

"A- ano ne, Na- Naruto-kun", ucap Hinata pelan sambil terbata-bata. Wajahnya merona hingga ke telinganya. Kepalanya menunduk untuk sedikit menyembunyikan rasa gugupnya.

"Mmm, ada apa Hinata-chan?", tanya Naruto penasaran.

"A- apa kah na- nanti malam Na- Naruto-kun sibuk?", gadis itu tidak menjawab pertanyaan Naruto.

"Umm, aku hari ini tidak ada kegiatan apa-apa Hinata-chan", jawab Naruto diiringi anggukan kepalanya.

Hinata yang dapat jawaban dari Naruto kemudian semakin menundukkan kepalanya. Naruto kurang paham pada topik obrolan mereka berdua, ditambah Hinata yang kepalanya semakin menunduk, pemuda itu kemudian berinisiatif.

Tap

Naruto menggenggam kedua tangan Hinata, membuat si gadis sedikit kaget. Dapat Naruto rasakan tangan Hinata dingin, pemuda itu tau kalau gadis yang ada di depannya amat sangat gugup.

"Santai saja Hinata-chan. Lihat aku", ucap Naruto.

Gadis itu perlahan mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah Naruto sesuai dengan perintahnya.

Hinata tertegun. Wajah pemuda itu tersenyum lembut, sebuah senyum syahdu, seolah gadis itu bisa melihatnya selamanya. Sorot mata birunya menghipnotisnya untuk dapat tenang kembali.

Setelahnya gadis itu jadi lebih rileks.

"Apa kau sudah jauh lebih tenang Hinata-chan?", tanya Naruto tanpa melepaskan genggamannya.

"Umm", jawab singkat Hinata dengan sedikit mengangguk.

"Katakan apa yang ingin kau katakan Hinata-chan", ucap Naruto masih dengan posisi yang sama.

"Apakah Naruto-kun berjanji untuk tidak marah padaku?", tanya gadis itu sebelum mengutarakan keinginannya untuk mengajaknya berkenalan dengan keluarganya.

"Umm, aku janji", jawab pemuda itu sambil menyodorkan jari kelingking tangan kanannya.

Hinata yang melihat Naruto menyodorkan jari kelingkingnya kemudian menautkan jari kelingkingnya. Mereka terikat janji kelingking.

"Kemarin, aku menceritakan hariku pada keluargaku saat makan malam. Mulai dari saat aku pingsan sampai Naruto-kun yang mengantarkanku pulang", ucap Hinata setelah janji kelingking mereka sepakati. Naruto hanya diam mendengarkan ucapan gadis itu sedikit mengangguk-angguk tanda mengerti.

"Ayah dan adikku sangat senang saat aku mendapatkan teman baru", lanjut Hinata kemudian berhenti sesaat.

"Karena Naruto-kun adalah teman pertamaku jadi mereka ingin aku mengundangmu untuk bertemu keluargaku. Mereka ingin berterimakasih kepadamu", lanjut Hinata, sedikit memalingkan wajahnya ke kiri untuk memutus kontak mata dengan pemuda yang ada di depannya.

Hening sesaat.

"Aaa, jadi begitu. Aku lega karena bukan sebuah hal yang buruk", ucap Naruto lega. Gadis itu kemudian menoleh, kembali bertatap mata dengan pemuda itu.

"Naruto-kun tidak marah?", tanya Hinata polos.

"Tentu saja Hinata-chan", jawab Naruto mantap sembari sedikit mengacak-acak pucuk kepala gadis dihadapannya karena gemas.

"Mou, hentikan Naruto-kun", gadis itu sedikit merengek saat rambutnya sedikit diacak-acak oleh Naruto. Tetapi ia juga senang mendapatkan jawaban dan perlakuan dari Naruto.

"Aa, maaf maaf", ucap pemuda itu, menghentikan kejahilannya.

"Aku akan datang untuk bertemu keluargamu Hinata-chan", lanjut Naruto.

Hinata yang mendengar bahwa Naruto menyanggupi permintaan ayahnya seketika tersenyum lebar.

"Umm, terima kasih Naruto-kun", ucap gadis itu.

"Tidak masalah Hinata-chan", balas Naruto.

"Oya, apakah tidak masalah jika aku bertemu keluargamu setelah pulang sekolah?", tanya Naruto memastikan.

"Tentu saja Naruto-kun", jawab Hinata. Senyumnya masih terpatri di wajah cantiknya. Naruto yang melihatnya pun ikut tersenyum, ikut senang karena dapat membantu mewujudkan permintaan ayah gadis itu.

Tidak lama setelahnya bel tanda istirahat usai pun berbunyi. Memberi tanda bahwa kegiatan pembelajaran kembali dimulai setelah istirahat makan siang. Di dalam kelas 1-B tampak pembelajaran sedang berlangsung, para murid di kelas itu mengikuti pelajaran dengan serius.

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, pertanda kegiatan di sekolah telah usai. Para murid kelas 1-B pun berhamburan meninggalkan kelas itu untuk pulang, main, atau kegiatan lainnya.

"Naruto, aku duluan. Sakura-chan ingin aku menemaninya pergi belanja", ucap Sasuke memberitahu Naruto padanya kalau ia ingin pulang lebih dulu.

"Ou, tidak masalah Sasuke. Lagipula aku punya acara setelah ini", ucap Naruto.

"Kami duluan ya Naruto. Sampai jumpa besok", kini gadis bernama Sakura yang angkat suara.

"Hati-hati dijalan Sasuke, Sakura-chan. Sampai jumpa besok", balas Naruto sedikit melambaikan tangannya sembari tersenyum pada kedua sahabatnya.

Kemudian pemuda berambut kuning itu menghampiri Hinata yang masih merapikan mejanya.

"Ayo kita pulang Hinata-chan", ajak pemuda itu pada Hinata.

"Umm, ayo Naruto-kun", jawab Hinata sedikit bersemangat. Ia kemudian bangkit dari kursinya, namun saat berdiri matanya melihat ada sebuah kartu tergeletak di lantai dekat meja Sasuke.

Naruto yang melihat Hinata berjalan mendekati meja Sasuke hanya memasang wajah kebingungan.

"Ada apa Hinata-chan?", tanya Naruto penasaran.

"Seseorang menjatuhkan kartu ATM nya Naruto-kun", jawab Hinata sembari berjongkok mengambil kartu itu.

"Apakah ada nama penggunaannya di balik kartu itu?", tanya Naruto bertanya pada Hinata yang masih memegang kartu ATM itu.

"Uchiha Mikoto. Sepertinya kelas ini tidak ada nama seperti ini", jawab Hinata setelah melihat nama yang ada di kolom signature kartu tersebut.

"Aaa, itu milik Mikoto-obasan, ibunya Sasuke", jawab Naruto santai ketika pemilik kartu itu adalah ibu dari sahabatnya.

"E- ehh?!", pekik Hinata mendengar perkataan Naruto.

"Mungkin Sasuke diminta belanja oleh ibunya. Hahh, tumben sekali dia ceroboh. Untung kau yang menemukannya Hinata-chan", ucap Naruto mengabaikan pekikan bingung Hinata.

"Aku akan mengembalikannya pada Oba-san nanti. Untuk sekarang kita pergi ke rumahmu dulu Hinata-chan", sambung Naruto sembari mengambil kartu ATM milik Mikoto dari tangan Hinata kemudian memasukkannya ke kantong celananya.

"Umm, baiklah Naruto-kun", ucap gadis itu setuju dengan ucapan Naruto.

Mereka berdua kemudian meninggalkan kelas untuk pergi ke rumah Hinata. Di perjalanan mereka terlihat asyik ngobrol hingga tidak terasa muda-mudi itu sudah sampai di depan pintu rumah Hinata.

Srekk

Hinata kemudian membuka pintu geser rumahnya. Sedikit berhenti ketika Naruto belum beranjak dari depan pintunya.

"Silahkan masuk Naruto-kun", ucap Hinata mempersilahkan Naruto untuk masuk.

"U- umm, ha'i Hinata-chan", ucap Naruto mengangguk, sedikit gugup ketika ia baru menyadari bahwa pemuda itu akan berkunjung ke rumah teman barunya.

"Tadaima", Hinata mengucapkan salam pada penghuni rumah itu.

"Okaeri Onee-san, Naruto-oniisan. Kalian berdua ditunggu Otou-sama di ruang tengah", ucap Hanabi yang menghampiri mereka berdua.

"U- umm, kami akan kesana. Ayo Naruto-kun", ucap Hinata sedikit terbata.

"Ojamashimasu", ucap Naruto sebelum benar-benar masuk kerumah itu, mengikuti Hinata dari belakang.

Sesampainya di ruang tengah, mereka langsung melihat seorang pria dewasa tengah menikmati segelas teh hijau. Posisi duduk pria itu membelakangi keduanya.

"Aku pulang Otou-sama. Naruto-kun juga bersamaku", ucap Hinata pada pria itu yang membuatnya menolehkan kepalanya kebelakang.

"Aaa, ayo silahkan duduk", ucap Hiashi mempersilahkan mereka duduk.

Hinata dan Naruto kemudian duduk di hadapan Hiashi.

"Jadi, kau yang bernama Uzumaki Naruto?", tanya Hiashi setelah mereka berdua duduk.

Glek

Naruto yang dilontarkan pertanyaan oleh Hiashi menenggak ludahnya sendiri, ia agak takut salah bicara padanya. Kemudian ia menarik nafas dalam untuk menenangkan dirinya.

"Ha'i aku Naruto. Uzumaki Naruto", jawab Naruto yakin.

Setelah mendengar jawaban pemuda itu Hiashi lalu tersenyum. Menundukkan sedikit tubuhnya ke depan.

"Terima kasih Naruto-san. Terima kasih telah menjadi teman putriku", ucap Hiashi masih menundukkan sedikit tubuhnya. Ia sangat berterima kasih dengan hal itu.

"Ahh, bukan masalah Oji-san. Jadi Oji-san tidak perlu menundukkan kepala", ucap Naruto sedikit tidak enak pada Hiashi.

"Seperti yang Hinata bilang. Kau pemuda yang baik", ujar Hiashi sembari tersenyum setelah menegakkan tubuhnya kembali.

"Hinata, tolong buatkan ocha untuk Naruto-san", sambung Hiashi meminta Hinata untuk membuatkan Naruto ocha.

"Ha'i Otou-sama", jawab Hinata, kemudian ia pergi ke dapur untuk menyiapkan ocha.

"Santai saja Naruto-san, anggap saja kita teman ngobrol", ucap Hiashi melihat Naruto yang agak kaku.

"Ha'i aku akan berusaha", ucap Naruto sedikit menaikkan volume suaranya.

"Hahahaha, kau pemuda yang menarik Naruto-san", Hiashi tertawa melihat Naruto sedikit kikuk. Naruto yang dibilang seperti itu hanya menggaruk-garuk belakang kepalanya sambil sedikit tertawa garing.

"Aku sungguh berterima kasih padamu Naruto-san", ucap Hiashi sungguh-sungguh. Naruto tidak merespon.

"Hinata selalu kesepian sejak kecil, dia tidak pernah mendapatkan kesempatan berteman dengan sebayanya. Tidak seperti Hanabi, Hinata sangat pemalu dan kaku. Mirip mendiang ibunya", ucap Hiashi menceritakan tentang Hinata pada Naruto. Pemuda itu mendengarkan dengan seksama.

"Sebelum wafat, ibunya meminta Hinata untuk dapat berteman dengan yang lain. Namun, hal itu juga yang membuat Hinata tambah terbebani. Aku seringkali melihatnya menangis di kamarnya sepulang sekolah. Aku juga tau bahwa putriku dianggap menakutkan oleh teman sekelasnya. Putriku dianggap menyeramkan karena sorot matanya yang dingin, tapi nyatanya dia hanya menyembunyikan rasa malu dan gugupnya. Dia tidak tau cara berinteraksi dengan yang lain karena tidak memiliki teman", sambung Hiashi panjang lebar nada bicaranya berat seperti ingin menangis.

"Aku tidak berdaya, aku tidak bisa berbuat apa-apa padanya", lanjut Hiashi. Kemudian sedikit terdiam.

"Tapi, kemarin saat makan malam, aku bisa melihat kembali putriku tersenyum hangat, sambil menceritakan pengalamannya mendapatkan teman pertamanya. Aku terakhir kali melihat senyum seperti itu ketika ibunya masih ada saat ia kecil. Dan aku bahagia dengan hal itu, akhirnya harapan istriku sudah terwujud", ucap Hiashi kembali sambil tersenyum hangat pada Naruto. Pemuda itu masih diam.

"Maka dari itu, aku mewakili keluarga Hyuuga sangat berterima kasih pada Naruto-san", sambung Hiashi kembali menundukkan sedikit badannya.

"Tidak Oji-san. Aku yang seharusnya berterima kasih pada Hinata-chan", ucap Naruto seketika membuat Hiashi menegakkan badannya. Hiashi terlihat bingung dengan pernyataan Naruto.

"Apa maksudmu Naruto-san?", tanya Hiashi bingung.

"Mungkin, sesuatu seperti yang Oji-san rasakan saat Hinata-chan bercerita kemarin", jawab Naruto sedikit ngambang sambil tersenyum.

"Ohh, seperti itu. Senang mendengarnya", ucap Hiashi tanpa bertanya lebih lanjut.

Setelahnya Hinata kembali dengan membawa nampan berisi dua gelas teh hijau. Selain itu Hanabi juga membuntutinya dari belakang.

"Ini ocha nya Naruto-kun. Silahkan dinikmati", ucap Hinata setelah meletakkan gelas berisi ocha di hadapan Naruto.

"Terima kasih Hinata-chan", Naruto berterima kasih sembari mengambil gelas berisi ocha itu.

"Ne ne Naruto-oniisan. Apakah kau tidak menganggap Onee-san menyeramkan?", tanya Hanabi tiba-tiba. Naruto yang sedang menikmati tehnya kemudian berhenti, tatapannya sedikit bingung.

"Dia putriku yang kedua, adik Hinata. Hyuuga Hanabi", ucap Hiashi yang mengerti wajah bingung Naruto.

"Aaa, Hanabi ya. Hmm, menurutku Onee-san mu tidak seram seperti kelihatannya. Jadi aku tidak menganggapnya menyeramkan", Naruto berkata sambil menggosokkan satu tangannya ke dagunya seperti sedang berpikir untuk menilai sesuatu.

Hinata yang duduk di samping pemuda itu hanya bisa tersenyum, sedikit salah tingkah dengan penilaian Naruto kepadanya. Hanabi yang mendengar jawaban dari Naruto sedikit terkesan dan tertarik menanyakan hal lain.

"Apa Naruto-oniisan jatuh cinta dengan Onee-san?", tanya Hanabi kembali pada Naruto.

Blush

"Eh?", Naruto yang kaget dengan pertanyaan spontan Hanabi hanya mambatu. Ia bingung harus menjawab apa, namun wajahnya sedikit tersipu.

"E- eh? A- apa maksudmu Hanabi?", bukan cuma Naruto yang kaget, Hinata juga ikut terkejut dengan pertanyaan Hanabi. Hinata sedikit panik, nada bicaranya sedikit meninggi, rona merah sudah menyala di wajah cantiknya.

"Ahahahah, sudahlah Hanabi. Jangan buat Naruto-san kerepotan dengan pertanyaanmu", Hiashi angkat bicara sambil tertawa, seolah mengerti kondisi Naruto.

"Ha'i Otou-sama", Hanabi sedikit kecewa karena tidak ada jawaban pasti dari Naruto. Namun ia sedikit tersenyum karena melihat kakaknya dan Naruto tersipu karena pertanyaannya.

"Apakah kau mau ikut makan malam bersama kami Naruto-san?", ucap Hiashi setelah melihat pemandangan di luar yang semakin gelap.

"Aaa, tidak usah repot-repot Oji-san. Lagipula setelah ini, aku ingin mengantarkan barang milik sahabatku yang tertinggal di kelas. Mungkin lain kali saja Oji-san. Terima kasih atas tawarannya", jawab Naruto sopan.

"Baiklah, aku tunggu kesempatan itu", ucap Hiashi setelah mendengar jawaban Naruto.

Tidak lama setelah itu Naruto beranjak untuk pulang. Hinata dan Hiashi mengantarkan Naruto di depan pintu rumah itu.

"Baiklah, aku permisi dulu Oji-san, senang bertemu denganmu. Terima kasih untuk ocha nya Hinata-chan. Sampai jumpa Oji-san. Sampai bertemu di sekolah besok Hinata-chan", ucap Naruto tersenyum mengucapkan kesannya sebelum pergi.

"Aku juga senang bertemu dengan Naruto-san. Sampai jumpa lagi, hati-hati di jalan", ucap Hiashi tersenyum, senang dengan ucapan pemuda itu.

"Ha'i Naruto-kun, sampai bertemu di sekolah. Hati-hati di jalan", ucap Hinata sedikit melambaikan tangannya.

Melihat Hinata yang melambaikan tangan, Naruto juga membalas lambaian tangan itu sebelum berjalan meninggalkan rumah Hinata.

"Hinata, apa kau suka dengan Naruto-san?", tanya Hiashi setelah Naruto pulang dari rumahnya.

Blush

"E- ehhh?", tidak ada hujan tidak ada petir ayahnya menanyakan hal itu, Hinata kaget. Wajahnya bersemu merah hingga telinganya. Kedua tangannya telah menangkup pipinya yang sedikit menghangat karena malu. Kepalanya sedikit tertunduk.

Setelahnya Hinata menegakkan kepalanya kembali. Detik berikutnya ia sedikit kesal setelah melihat ekspresi iseng yang ditunjukkan ayahnya.

"Mou Otou-sama", gerutu Hinata pada Hiashi yang tanpa permisi langsung masuk kembali kedalam meninggalkan ayahnya.

"Ahahaha, ayah hanya bercanda Hinata. Lagipula ayah suka dengan pemuda itu, kalian juga terlihat cocok", ucap Hiashi sedikit tertawa sambil berjalan masuk ke rumahnya.

"Otou-sama!", Hinata sedikit berteriak dari dalam karena masih dapat mendengar perkataan dari ayahnya.