UNTIL I FOUND YOU
.
.
.
JELSA
(JACK FROST X ELSA)
RISE OF THE GUARDIANS
X
FROZENS
.
.
.
BAB 1
Dreams University, salah satu kampus terbesar dan paling favorite, bahkan menghasilkan lulusan lulusan terbaik sepanjang masa. Dihadiahi beragam macam rupa dan paras dari banyaknya nona-nona anggun bak primadona kerajaan, juga para adam berparas rupawan. Memang penuh dengan visual. Sepanjang koridor itu, kau tidak akan pernah menemukan satu orang pun yang tidak memikat hati. Semuanya akan jatuh cinta pada pandangan pertama bagi para pendatang yang sekadar ingin berkunjung.
Terutama dengan perkumpulan para BEM dari berbagai jurusan. Khususnya ketua BEM dari jurusan Arsitektur, Jack Frost. Pria bersurai silver yang sangat jahil ini menempati posisi pertama sebagai yang paling tampan.
"Jack!" sapa pria jangkung bersurai cokelat, Hiccup, yang lekas menghampiri Jack sambil setengah berlari.
"Ada apa?" sebelah alis hitam itu menukik, menatap sang rekan dengan sedikit heran. Apakah ini berkaitan dengan Astrid lagi? "Kalau soal Astrid lagi, dengan senang hati botol ini akan menghantam wajahmu."
"Well, bukan sialan!" Hiccup meringis ngeri, "Kau harus tahu… Rapunzel berselingkuh dengan Senior Eugene!"
Tanpa memberikan satupun balasan, Jack justru melangkahkan kaki dengan mantap—mencari sosok gadis pirang itu di seluruh penjuru kampus. Persetan dengan omongan Hiccup, ia ingin memastikannya sendiri.
Gosip itu benar. Begitu kedua kaki nya telah berpijak di kantin, semua pasang mata mulai memandangnya. Berbisik-bisik layaknya bergosip, menatap dengan tatapan penuh iba. Kasihan sekali. Satu gebrakan keras pada meja terdengar mengisi seluruh ruang kantin. Membuat semua orang berhasil mengerubuni meja yang penuh dengan para pemain. Jack berada tepat di depan dengan satu kaki yang berada di atas kursi, sedang Eugene dan Rapunzel tengah asik bermesraan tanpa sedikitpun merasa bersalah.
"KAU MEMANG SELALU MENCARI MASALAH HAH, EUGENE?" tanpa basa basi, Jack mencengkeram kerah baju Eugene dengan kencang. Hendak melayangkan satu tinjuan yang untungnya berhasil diberhentikan oleh Hiccup.
"Jack Jack Jack. Apa kau tidak tahu jika semua ini adalah salah mu?" Eugene bersikeras membela diri. Sebelah alisnya menukik puas dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Tangannya beralih merangkul pundak sang nona di sampingnya, lalu mendaratkan kecupan singkat pada kening itu. "Betul kan, sayang?"
"Jack, berhentilah kekanak-kanakan. Bukankah kau terlalu seperti anak kecil? Hahh, sudahlah. Aku lelah jika harus bersama-sama dengan mu tanpa tujuan. Kau hanya ingin bermain-main Jack, dan aku butuh seseorang yang benar-benar bisa bersama ku dengan sangat serius." Seolah mendapatkan tamparan yang cukup kencang, Jack tersenyum meringis. Salahnya katanya?
"hah… ku pikir kau akan memilih yang lebih baik. Selera mu kali ini benar-benar terlihat seperti sampah. Bahkan, kau rela meninggalkan ku demi… si pencuri? Well, it's good for me. We better to end this shit. Good luck for both of you, then." Derap langkah kaki yang begitu besar, juga nuansa yang gelap seolah mengelilinginya, Jack melangkah pergi.
"Jack…"
"tidak Hiccup, jangan sekarang."
"Jack, dengar. Harusnya aku lebih hati-hati. Harusnya aku yang…"
"CUKUP, HICCUP! Harusnya aku yang berterima kasih pada mu. Berkat kau, aku jadi tahu jika hubungan kami memang sudah tidak sejalan."
"But after all of this, you sure you'll be okay?"
"Probably."
"How about…. Your power?"
"Damn men, I'm fine!"
"Fuck, Don't make me worries!"
"Hiccup, It'll be fine! Kau adalah orang pertama yang akan ku ceritakan. Tenang saja, semua akan berjalan baik-baik saja."
"I hope so. Just… Good luck."
.
.
.
Hari demi hari, gosip itu masih terus beredar diseluruh kampus. Rasanya telinga Jack benar-benar sangat panas, bahkan beberapa kali mencemooh orang-orang yang masih bergosip tentangnya. Entahlah, rasanya pria jahil ini berubah seratus persen menjadi pria yang begitu sensitif. Hiccup menyadarinya, Jack begitu tempramental akhir-akhir ini setelah mengetahui fakta yang menyakitkan itu.
"Hey men, Astrid mengadakan acara di rumahnya. Sebetulnya khusus anak-anak jurusan Theater, tapi aku adalah tamu VIP, dan dia memintaku untuk mengajak mu. Apa kau…"
"No, thanks."
"Really? Bro! Let's having fun a little bit before we attend a big project. Dudeee, you're gonna make me lonesome?!"
"Tsk, Weirdos."
"So…?"
"Hah, Fine. I'm in."
"I know it! Haha, thanks!" Hiccup mendaratkan tepukan pelan pada pundak Jack.
Bersamaan dengan bel berbunyi, dua sejoli ini meninggalkan kelas. Menaruh seluruh barang bawaannya menuju loker mereka masing-masing sebelum berjalan kembali menuju asrama. Ponsel milik Hiccup berdering, jari telunjuk memberi perintah pada Jack untuk diam sejenak. "halo, ibu? Ah yeah, aku bersama Jack. Yeah, tentu saja kami makan dengan sangat banyak! Apa? Pulang? Tidak, tidak bisa. Aku dan Jack akan ada project besar untuk akhir bulan nanti. Apakah toothless baik-baik saja? Ahh, begitu. Baik, sampai jumpa ibu!"
"Bibi baik-baik saja?"
"Tentu. Ibu akan hidup dengan tenang karena bermain dengan para naga."
"Apa Astrid tahu soal itu?"
"Tidak, dan jangan sampai dia tahu."
"kenapa? Bukankah kalian sudah berjanji ingin menceritakan apapun?"
"ssst, kenapa kau jadi banyak bertanya sih? Aku lebih takut Astrid dari pada toothless. Apa kau tidak berpikir bisa saja dia menyerang nagaku?"
"Tidak, ku pikir hubungan mereka akan baik-baik saja."
"akan ku pikirkan lain kali. Sekarang, ayo balik ke asrama."
.
.
.
"Jadi, sudah sejauh mana kau menguasai kekuatan mu, Jackson Overland Frost?"
"lihat ini, kau akan sangat terpukau!" Jack berdiri, menghampiri jendela dan mengukir gambar kelinci di sana. "Perhatikan baik baik!" kedua tangannya seolah hendak menangkup kelinci. Perlahan-lahan, gambar kelinci itu bergerak dan hidup. Berjalan-jalan mengitari ruangan, bahkan bergerak memutari Hiccup.
"WOOOAAH!" keren, batin Hiccup dengan mimik yang sangat bangga dan takjub. "luar biasa! Apa kau benar-benar sudah lihai mengendalikannya? Bagaimana jika… jika kau sedang kesal? Apakah es mu akan bersatu dengan abu kehitaman itu lagi?"
Ucapan Hiccup berhasil melenyapkan kelinci itu, membuat Jack terdiam sejenak. "Kemarin saat kau bertemu Astrid, dan kejadianku dengan Rapunzel, aku tidak sengaja membuat ini di bukit tempat biasa aku mengendalikan kekuatan ku." Jack menunjukan foto yang berada pada galeri ponselnya. Sebuah piramid es yang runcing dan tajam, bahkan lebih besar dari pada sebelumnya. Seluruh emosi yang ia rasakan seolah tergambar dengan jelas melalui puing puing es yang menyeramkan itu. "Aku tidak tahu jika hal itu bahkan bisa semakin menyeramkan dari sebelumnya."
"Jack, ini bahaya. Kau harus bisa mengontrol emosi mu sebelum semuanya berubah menjadi semakin buruk. Sekarang, ayo kita tidur. Hari sudah malam, dan kau sendiri tidak boleh punya banyak pikiran."
.
.
.
Musim semi sebentar lagi akan tiba. Waktu libur yang dinantikan seluruh murid Dreams University akhirnya akan datang. Dan yang paling penting, pesta merayakan musim semi adalah yang paling menarik dari kegiatan kampus! Berbagai macam pesta sudah disediakan oleh banyak murid, salah satunya adalah pesta yang diselenggarakan oleh Astrid. Berkali-kali Hiccup sibuk membantu sang kekasih demi mendekorasi. Tenaganya sebagai arsitektur benar-benar diandalkan, karena perlu perhitungan yang tepat bila tak mau dekorasi yang dirancang mendadak hancur. Tentu saja dia tidak sendiri, Jack Frost selalu menjadi satu satunya orang yang diminta untuk membantu. Sialan, ia selalu terjebak pada hubungan romansa yang menjijikan di antara keduanya.
"Sayang, ini di sebelah sini?"
"Yupp, jangan lupa untuk meletakan pita merah muda di atas sana ya!"
"yo, Astrid! Ini… wooow, apakah kau pengoleksi kapak?!" Jack tercengang mendapati lemari yang dipenuhi oleh beragam macam bentuk kapak.
"Hahaha, tentu saja! Keren kan? Itu peninggalan nenek moyangku. Dulu, mereka semua suka berburu naga." Mendengar penjelasan itu, Jack tertawa. Sial, jadi ingat obrolan waktu itu dengan Hiccup.
"Apa yang kau tertawakan hah? Kau pikir itu lucu?!" Protes Astrid, ia merasa terhina.
"Pffft— maaf maaf! Aku hanya teringat sesuatu. Apa sekarang kerabat mu masih melakukan hal itu?" jadi penasaran, Jack malah tertarik memancing perbincangan yang membuat Hiccup kesal.
"yang benar saja. Memang sekarang masih ada naga? Tentu saja tidak. Kapak itu sekarang digunakan untuk menebang pohon oleh ayah ku. Tapi jika suatu saat muncul naga, ku rasa aku akan mencoba untuk memburunya! Memenggal kepala naga itu dan menjadikannya sebagai dekorasi! Hahaha! Keren sekali kan?" Lagi-lagi, Jack mencoba menahan tawanya begitu melihat wajah Hiccup yang mendadak pucat, sangat pucat dari pada warna tangan yang keriput karena dingin.
"sayang, ini sudah semua. Ku rasa, aku dan Jack akan kembali ke asrama."
"Terima kasih banyak! Aku sangat berhutang budi dengan kalian berdua! Pesta ini pasti akan sangat mengagumkan. Kalau begitu, beristirahatlah, dan sampai jumpa besok malam!" Astrid berakhir memberi kecupan pada kedua pipi Hiccup, lalu melambaikan tangan pada kedua sosok pria yang mulai berjalan pergi.
"MENNNN! SUDAH KU BILANG KAN JIKA DIA SANGAT BERBAHAYA!" Hiccup melambungkan protes. Raut wajahnya berubah sangat tegang dan takut. "Aku bahkan tidak bisa membayangkannya! Sungguh benar-benar mimpi buruk jika Astrid tahu soal tootless!"
"dan aku yang akan menjadi penonton kesedihan mu! PFFFT—Lucu sekali!" Jack tidak bisa berhenti tertawa membayangkan nasib sahabatnya yang sedih soal naga, atau tak ingin mengecewakan sang kekasih.
.
.
.
Rasanya, hari demi hari berjalan semakin buruk untuk Jack. Menerima fakta menyakitkan mengenai hubungan mantan kekasihnya, malah membuat dirinya semakin sial. Seperti saat ini, dengan sengaja pria bernama Hans melemparkan bola kasti dan menimpa tepat di atas tugas maket rumah milik Jack yang setengah jadi itu. Menatap tidak percaya pada apa yang dilihatnya, wajah kepucatan milik sang adam lantas memerah. Kesal, marah. Siapa juga yang dengan bodohnya tidak menutup kembali kaca jendela rapat-rapat? Dia jadi kena batunya. Apa jadinya bila Jack tidak bersama Hiccup, tangan hangat yang mendadak dingin itu lantas kembali mereda. Semua terkendali berkat Hiccup, atau pria bernama Hans itu akan mendadak beku lalu hancur berkeping-keping.
"Oops, my bad. Selamat membangun ulang, Frost!" Hans justru melambai dan menertawakan Jack bersama rekan-rekannya yang lain.
"Jack…. WOW, jangan gegabah men. Tenang, kendalikan dirimu. Kau tidak ingin semua orang tahu soal kekuatan mu bukan? Tenang… aku akan membantumu." Hiccup memohon.
Kedua netra milik Jack terpejam, ia mengatur nafasnya dalam-dalam. "Persetan, Hanss! Lihat saja nanti!"
Setelah menghabiskan waktu dua jam merenungkan nasib maket dan mencoba kembali membangun ulang, kini seluruh siswa sudah boleh kembali pulang. Jack menyempatkan diri untuk pergi ke kantin, sedangkan Hiccup pergi mengunjungi Astrid. Aw, manis sekali. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh Jackson Overland Frost.
Baru saja ia meneguk cairan dari air minum yang baru ia beli, suara familiar terdengar dengan sangat jelas—semakin mendekat menuju arahnya. Jack menoleh, mendapati Rapunzel yang sudah berada tepat di belakang sang adam. "Jack." Suara lembut itu lantas membuat Jack meringis, dengan sigap menutup rapat-rapat minuman dan merematnya kencang.
"mau apa?" ketus, dia benar-benar sudah muak. Bahkan kalau bisa, rasanya ia tidak ingin kembali bertemu.
"Mau mengembalikan ini." Rapunzel menatap datar, seolah benar-benar tidak pernah ada sesuatu yang terikat di antara keduanya. Sang puan memberikan tiga boneka gantung dan satu kalung kepada Jack. Benar-benar gadis yang tidak merasa bersalah.
"Kenapa tidak kau buang saja?"
"Hah? lebih baik kau simpan. Kau bisa memberikannya kepada gadis baru mu nanti."
"Really? Hadiah bekas mu? Hah, aku bisa belikan yang baru untuknya nanti."
Rapunzel menatap malas higga memutar bola mata. "Ayolah Jack, berhenti kekanak-kanakan! Kau pikir, barang yang kau beli tidak mahal? Sekarang, ambil ini. dan aku harap, setelah ini kita tidak pernah memiliki urusan yang lain." Memberikan seluruh barang bawaannya dengan paksa pada Jack, lalu berjalan pergi.
"Apa… Apa kau pikir semudah itu?" suara Jack menghentikan langkah sang nona, membuat Rapunzel menoleh dengan heran.
"Ap—"
"Apa kau pikir akan semudah itu… hah?" Jack tidak mengalihkan pandangan dari Rapunzel, bahkan ia berjalan mendekat.
"Apa maksud mu?" Rapunzel menatap heran. Tidak habis pikir dan bingung dengan segala penuturan yang Jack ucapkan.
"Apa kau berpikir bila aku menyimpan barang-barang ini, semua akan baik-baik saja?" tidak ada balasan dari Rapunzel, dia diam mematung dan hanya mendengarkan.
"Kenapa harus kau kembalikan? Bukankah kau bisa menyimpannya dengan baik?"
"Jack, cukup! Aku tidak mau menyakiti perasaan Eugene jika aku masih menyimpan seluruh barang-barang dari mu!"
"Tapi kau menyakitiku! Kau menyakiti ku, Rapunzel! HAHAHA! Lucu. Lucu sekali mendengar kau tidak ingin menyakiti Eugene, tapi kau sendiri menyakitiku. Kau tidak tahu bagaimana rasanya, Rapunzel. Jangan mengatakan hal itu, kau benar-benar membuat ku merasa kasihan, kau tahu?" Seringai merendahkan terpampang jelas pada rupa sang adam. Jack berjalan menuju tempat sampah, lantas membuang seluruh barang yang berada dalam genggamannya.
"Kau benar. Sekarang, memang lebih baik kita tidak pernah memiliki urusan. Mulai dari saat ini, hingga seterusnya. Pastikan kau tidak mencoba untuk menghancurkan hidup ku yang lain." Berakhir dengan kalimat ancaman, Jack melangkah pergi. Meninggalkan Rapunzel yang mematung di tempatnya.
.
.
.
Pesta di rumah Astrid menjadi pesta paling ramai setelah 3 tahun terakhir. Pasalnya, tidak sesuai dengan yang diucapkan oleh Hiccup. Bahkan banyak sekali siswa-siswi dari jurusan lain yang juga ikut memeriahkan.
"Kau bilang hanya anak theater? Ini ramai sekali, sinting!" Jack setengah berteriak kepada Hiccup yang sedang menari-nari sambil menggenggam secangkir bir.
"Wow, chill meeen. Nikmati saja. Kenapa kau jadi anti sosial begini, sih? Sudahlah, ini adalah saat-saat yang kita tunggu!" Hiccup menjauh, kini berada di tengah-tengah dan berteriak dengan sangat heboh. Sedang Jack, memilih untuk menjauh dari keramaian. Menepi dari kerumunan yang cukup padat merayap.
Secangkir wine ia teguk sambil menatap bulan yang berada di atas sana. Hela nafas lelah terdengar dari sela-sela hidungnya yang kembang kempis. Pasca bertengkarnya kembali dengan Rapunzel di kantin, membuat dirinya benar-benar merasa bodoh. Hal itu refleks membuat Jack mengusak rambutnya dengan sangat kasar. Beruntung, ia juga sudah meneguk beberapa gelas wine dan berhasil membuat dirinya setengah mabuk. Stress dan mabuk memang sangat menguntungkan.
Jack memilih untuk bersandar, mengajukan permohonan pada man in the moon di atas sana. Berharap jika kelak, ia akan kembali bertemu dengan adiknya. Atau setidaknya, ia bisa mendapatkan kebahagiaannya di sini. Hanya sekali, tanpa harus merasa kehilangan kembali. Samar-samar, Jack mendengar deru nafas seseorang. Terdengar cukup panik, dan beberapa kali dihembuskan dengan begitu kasar. Ia mencoba menatap sekeliling, bahkan di tempatnya berdiri sudah diisi oleh banyaknya orang yang berbincang dan menikmati pesta. Meski begitu, sorot matanya mendapati sesuatu. Seperti letak dimana suara itu berasal. Dengan setengah mabuk, Jack berjalan mendekat. Hingga pada akhirnya ia mematung, menatap tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Seorang puan dengan surai perak keemasan yang sedang panik sebab sebelah tangannya membeku.
Jack tidak percaya. Bahkan ia beberapa kali mengerjapkan mata untuk memastikan bila ia tidak salah lihat. Gadis itu membelakanginya, Jack tidak bisa melihat dengan jelas siapa dan bagaimana rupa dari gadis itu. Tapi, apa yang dirinya lihat benar-benar nyata. Sorot mata yang terlihat panik, dan tangan yang membeku itu, lantas membuat Jack tak sengaja menjatuhkan gelas yang ia genggam. Membuat serpihan serpihan beling itu berserakan, dan membuat seluruh orang mengerubuninya.
"Jack? Kau tidak apa-apa kawan?" Pertanyaan Hiccup tidak di jawab, nafasnya masih tidak beraturan. Jack menatap sekitar, gadis yang baru saja dilihatnya sudah tidak ada sejauh mata memandang.
"Jack? Jack, kau baik-baik—"
"M-maaf, aku harus pergi. Sampai jumpa lagi nanti dan terima kasih Astrid! Pesta mu benar-benar sangat luar biasa!" bergegas ia mengemas seluruh barang bawaanya dan pergi meninggalkan pesta.
Kini, hanya satu alasannya mengapa Jack bergegas meninggalkan pesta. Ia harus menemukan gadis itu, secepat yang ia bisa.
.
.
.
.
To be continued…
Haiii! Semoga kamu senang sama ceritaku!
Jangan lupa vote dan beri komentar ya!
