Naruto © Masashi Kishimoto
Ino bangun terlebih dahulu.
Fakta itu baru diketahui Sai saat dia mengerjap dan menemukan kekosongan menyambutnya di atas tempat tidur. Sai ingat dia tertidur dengan menghadap Ino.
Mereka tertidur bersisian dan menolak mengalihkan pandang. Ino menyunggikan senyum. Pipinya yang merekah seperti buah persik tertarik. Kelopak matanya perlahan menutup, tapi senyumnya yang elok masih bertahan di sana. Mungkin Sai sudah terlalu mengantuk, mungkin halusinasi, atau mungkin efek dopamin yang dihasilkan tubuhnya karena aktivitas mereka beberapa saat yang lalu yang membuat pikirannya terdistorsi, tapi Sai seperti melihat Ino terlingkup oleh cahaya. Membutakan. Tapi hangat.
Sai rasa dia mulai jadi serakah. Dia ingin merekam Ino dalam memoriya sebanyak yang dia bisa sehingga dia bisa membawanya ke alam mimpi saat itu. Dia tidur dengan mengingat sentuhan dan rasa ciuman yang mereka bagi sebelumnya. Ino punya cara sendiri untuk membuat Sai merasakan begitu banyak sensasi dalam satu waktu. Apa yang terjadi diantara mereka tadi malam menjadi malam paling berkesan dalam historinya. Sai bertekad untuk menyimpan malam kemarin dalam ingatan rapat-rapat.
Sai menghela nafas. Dia membiarkan dirinya hanya berdiam di atas tempat tidur untuk beberapa saat. Menghayati. Mengilhami. Tetiba indra penciumannya menangkap aroma menyenangkan dari arah dapur, lagaknya ingin menggodanya untuk membawa bokongnya bangkit dari kasur. Senyum Sai terpulas dengan sendirinya, dan akhirnya dia pun memilih bangkit juga.
Dinginnya lantai kamar menyambut kala dia berpijak. Sinar matahari mulai menyiram tubuhnya yang tak terbalut benang. Sai refleks mencari pakaiannya diantara pakaian-pakaian yang berserakan sembarangan di lantai. Dia hanya memilih menggunakan celana panjang dan membiarkan torsonya terbuka.
Sai menyempatkan mampir ke kamar mandi untuk mencuci muka. Dia basuh wajahnya dengan dinginnya air yang mengalir dari keran, meraih handuknya dan menggantungnya kembali di sebelah handuk ungu milik Ino. Tidak hanya handuk mereka yang bersisian, bahkan sikat gigi, produk mandi, dan skincare mereka pun demikian. Ino memang sering mampir ke rumahnya, dan terkadang barang-barang milik Ino bisa ditemukan dengan mudahnya di sini. Meski begitu, ini adalah pertama kalinya Ino menginap.
Sai gegas menyelesaikan hygiene rutinnya untuk keluar kamar. Makanan yang sudah tersedia di atas meja meraih perhatiannya pertama kali saat dia masuk ke dapur. Ada omurice dan roti tersaji di atas meja.
Sai mengangkat pandang, menemukan Ino tengah berdiri di depan stove, menggoreng sesuatu di atas teflon dan mengaduk entah apa di dalam panci. Kalau dari baunya, sepertinya sausage dan beacon, Sai menebak. Untuk apa yang dimasaknya di dalam panci, Sai tak punya asumsi.
Manik hitam Sai meletakan fokus penuhnya kepada Ino. Bagaimana dia sangat cekatan dan lincah dalam mengimbangi dua pekerjaannya antara teflon dan panci. Bagaimana dia juga sangat telaten membersihkan peralatan yang digunakannya di tempat cuci piring sekaligus. Bagaimana dia juga menyambi membuat kopi dengan mesin coffee maker yang dibeli Sai sebulan yang lalu. Ino adalah alasan utama kenapa Sai merasa perlu untuk membelinya. Dia teringat Ino pernah mengatakan bahwa dia menyukai menikmati kopi di pagi dan sore hari kala dia singgah ke sini. Sai ingin Ino sering singgah ke sini.
Ino melakukan semua pekerjaannya dengan menggumamkan sebuah lagu, menari-nari kecil sampai Sai tak kuasa tersenyum. Sai tidak tahu lagu apa itu, tapi tampaknya menyenangkan. Sai takjub bagaimana Ino bisa melakukan banyak pekerjaannya dalam satu waktu.
Tapi yang paling membuat Sai takjub adalah fakta bahwa Ino mengenakan bajunya. Baju yang dikenakan Sai kemarin. Mungkin dia asal mengambilnya diantara pakaian mereka yang berserakan di lantai kamarnya. Baju Sai tampak kebesaran di tubuh Ino. Ujungnya menyentuh bagian belakang pantatnya. bagian kerahnya sering meleset dari bahu hingga Ino harus berkali-kali membetulkannya, namun akhirnya menyerah dan Ino membiarkannya begitu saja sehingga satu sisi pundaknya nampak.
"Oh, morning, Sai." Ino berbalik. Dia sudah menenteng satu piring dan satu mangkuk di masing-masing tangannya. Dia mengitari meja dan menatanya dengan rapi. Dia berganti meraih cangkir yang telah terisi kopi racikannya, mengenggamnya di kedua tangan.
Ino tersenyum. "Sarapan dulu." Dia mendudukan diri di satu kursi, melipat dua kakinya di atas kursi. Sai mengikuti dengan duduk berseberangan.
"Kau beneran tidak sarapan?" Sai menyadari hanya ada satu piring omurice, satu piring berisi beberapa sausage dan bacon, dan satu mangkuk sup tofu di atas meja. Sai tahu Ino membuatkan sup tofu khusus untuknya. Ino setia dengan kopinya, dan hanya memilih meraih satu slice roti dan melumurinya dengan selai cokelat.
"Aku tidak makan berat untuk sarapan," Ino menegak kopinya pelan-pelan, menghela nafas puas setelah cairan hitam itu melewati kerongkongannya. Dia mengedipkan mata. "Jangan khawatir. Enjoy, Sai. Aku membuatkannya khusus untukmu."
Sai tersenyum, menggumam terima kasih dan mulai menikmati makanannya. Dia memulai dari sausage dan bacon, kemudian beralih ke omurice. Dia akan menyimpan sup tofu-nya sebagai penutup.
"Apa lututmu sakit?" Sai membuka topik obrolan. Dia makan dengan tenang. Tapi dia ingin suara Ino menjadi teman selagi dia makan. Selain itu, Sai merasa perlu untuk menanyakan mengingat posisi mereka kemarin malam.
"Mmm," Ino menegak kopinya sekali, "Tidak apa-apa kok. Sampai sekarang aku tidak merasa pegal atau apa."
Sai mengangguk, lega dengan jawabannya.
"Bagaimana lehermu?" Sai mendongak, melihat Ino yang menatap lurus ke arah lehernya. Dia tidak ingat sejak kapan satu tangannya merangkak untuk memijat area lehernya sementara satu tangannya yang lain menyendok omuricenya. Dia melakukannya tanpa sadar.
"Sewaktu bangun memang agak pegal tapi sekarang tidak apa apa." Sai meraih gelas air putih yang tersaji dan menegaknya.
"Maaf tadi malam aku duduk di wajahmu."
Sai refleks tersedak. Dia terbatuk-batuk kecil. Pandangannya terjatuh kepada Ino yang masih menyesap kopinya dengan tenang. Ujung bibirnya menukik dari balik mug, tapi Sai tak keluputan menangkapnya. Ekspresi Sai tak bisa dijelaskan. Antara kaget, tidak percaya, atau terpana. Sai tak habis pikir akan betapa kasualnya Ino mengatakannya.
"Jangan meminta maaf." Sai akhirnya bisa menjawab dengan nada datar setelah menyeka mulutnya dengan tisu. Sai tidak mengerti kenapa Ino meminta maaf. Untuk apa meminta maaf atas sesuatu yang tidak salah? Atas sesuatu yang sama sekali Sai tidak merasa direpotkan? Mengapa meminta maaf atas sesuatu yang sama-sama mereka inginkan?
Sai menyukai segala sesuatu yang terjadi tadi malam antara dirinya dan Ino. Sai tidak akan menukarnya demi apapun.
"Aku justru yang berterima kasih." Sai memulai, beriring dengan senyummya, "Kau memberiku pengalaman tak terlupakan."
"My pleasure." Ino membalas senyumnya dari seberang. Dia bisa merasakan tangan Ino yang merambat untuk meraih tangannya yang terkulai di atas meja. Sai menautkan jemari mereka, mengenggamnya lebih kuat. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Ino selagi dia melanjutkan makannya dan Ino menandaskan kopinya.
Tetiba suara dering ponsel memecah hening. Mereka berdua menolah serentak ke arah ponsel Ino yang tergeletak di atas meja. Ino memilih untuk melepaskan genggamannya dari mug daripada melepaskan genggaman tangan mereka berdua untuk meraih ponsel. Dia meletakannya di telinga dan mulai bicara di telefon.
Sai tidak bermaksud menguping, tapi dia menduga panggilan itu berasal dari rumah sakit. Dia bisa menangkap Ino yang berkata, "Berapa saturasinya?", "Apakah sudah dilakukan proning?", "Siapa dokter jaga hari ini?","Baik, aku segera ke sana."
Ino mengakhiri panggilan, dan Sai tahu itu adalah tanda berakhirnya sarapan menyenangkan mereka pagi itu. Diia tahu mereka masih punya tugas untuk diemban sebagai ninja. Ino dengan segala tanggung jawabnya, termasuk di rumah sakit. Dan Sai dengan tanggung jawabnya yang lain.
"Aku harus ke rumah sakit sekarang." Dia mengatakan pada Sai dengan mata masih mengarah pada layar, mengetik sesuatu di sana. Mungkin perintah untuk melakukan penanggulan sementara selagi Ino bersiap pergi. Ino bangkit berdiri, dan Sai ikut berdiri bersamanya untuk mengangkut peralatan makan mereka yang kotor ke dishwasher. Dia berniat untuk mencucinya sekalian.
"Sai." Ino memanggil, yang membuat Sai berbalik, mengangkat alis.
Ino tampak ragu. "Aku boleh pinjam bajumu ini? Aku tidak membawa pakaian ganti dan aku tidak punya waktu untuk menggambil ganti ke rumah dulu." Ino tersenyum canggung, "Kau tahu kancing bajuku banyak yang lepas kemarin jadi aku tidak bisa memakainya."
Itu benar.
Kemarin malam, Sai terlalu tidak sabaran sehingga dia tidak memikirkan konsekuensinya.
"Kalau boleh, aku juga ingin meminjam celanamu sekalian." Ino menambahkan.
Sai terpaku untuk beberapa saat. Dia hanya mengamati Ino yang berdiri di ambang dapur dengan baju kebesarannya yang ujungnya menyentuh pahanya yang serupa porselen. Bagian depannya terbuka, tapi dia yakin Ino akan melakukan sesuatu untuk menutupinya. Karena jika tidak, orang lain pasti bisa melihat beberapa tanda kemerahan yang menghias di sekitar lehernya. Meskipun kedodoran, Sai harus mengakui, Ino tetap terlihat sempurna. Bertambah berkali lipat lebih cantik dengan properti Sai yang membungkus tubuhnya. Dan anehnya, meskipun secara tidak langsung bajunya dicuri, Sai sama sekali tidak merasa keberatan. Kalau boleh jujur, Sai justru menyukai pemandangan miliknya yang bisa terlihat pada diri Ino. Dia selalu suka menemukan dunia mereka berdua bertumbuk jadi satu.
Sai berkedip, sadar bahwa Ino menunggu jawaban dan gadis itu tengah dikejar waktu. "Tentu. Tentu saja. Pakai saja." Sai membiarkan piring kotornya sementara, dan bergerak untuk membimbing Ino kembali ke kamar untuk membantunya memgambil celana yang sesuai, "aku akan mengambilkan celanaku yang sudah tidak muat, mungkin akan pas untukmu."
Setelahnya terjadi begitu cepat. Ino pergi dari rumah Sai dengan kecupan selamat tinggal di ambang pintu, gumaman semoga sukses yang dibagi, dan perasaan hangat yang ditinggalkannya.
"Oh, Ino, baju baru?" Sakura bertanya saat mereka telah menyelesaikan tindakan pada pasien di gawat darurat. Mereka sedang berjalan ke hall saat Sakura mengutarakan keheranan yang muncul sejak rekannya itu datang. Sakura melanjutkan jaga sementara Ino pulang ke rumah karena ini adalah hari liburnya. "Aku baru pertama kali ini melihat kau mengenakan warna hitam. Biasanya kau kan selalu pakai ungu."
"Oh?" Ino menunduk untuk mengamati pakaiannya, mengangkat bahu. "Ini baju Sai."
"Baju Sai?" Sakura menekuk kening. "Kenapa kau memakai baju Sai?"
"Bajuku robek dan karena buru-buru, aku meminjam baju Sai karena tidak sempat mampir ke rumah untuk ganti baju."
"Tunggu. Kau menginap di apartmen Sai?" Sakura menghentikan langkah, terpaku. "Tunggu. Tunggu. Aku seperti pernah melihat baju ini. Oh!" Sakura baru mengingat dia melihat Sai memakai baju ini saat menjemput Ino di rumah sakit kemarkn. "Bukannya ini baju yang Sai pakai kemarin... dan kenapa bajumu juga robek...?" bola mata Sakura membesar, sepertinya di berhasil menghubungkan teka teki. "Kalian..."
Ino menyentil kening gadis itu main-main, melempar seringai, "Coba kau pikir dengan jidat besarmu itu kenapa. Sampai jumpa!"
Ino tidak sabar untuk segera pulang ke rumah.
…
-.-
…
now I want to write sasuhina, but saiino has taken over my mind, so here is another saiino. I want to write this in english too, next week. thanks a lot for reading.
