Kenapa Seseorang Bunuh Diri?

Disclaimer: DMM.

Warning: OOC parah, typo, mengandung unsur ketidakjelasan (?), dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan kado untuk reauvafs! (10/10/2022)


Kume Masao sempat bermimpi buruk. Bunga tidurnya yang semula hanya berkelopak hitam, dan kosong, tiba-tiba saja memunculkan bau terbakar yang mengganggu segalanya. Tanpa Kume menggerakkan kakinya pun ia dibuat mendekat, semakin dekat, sampai akhirnya Kume dapat menyaksikan Akutagawa Ryuunosuke dilahap api biru. Mulutnya tidaklah berteriak. Ia sekadar mendongak entahlah menatap apa sebelum akhirnya, Akutagawa hilang tanpa sisa.

Akan tetapi Akutagawa yang terbakar itu, dan matanya yang walaupun menatap ia justru tak menemukan apa-apa, sama sekali tidak lenyap dari ingatan Kume. Masih saja terbawa membuatnya memandang pagi dengan warna biru. Terdapat pula sedikit aroma gosong ketika sosok Akutagawa Ryuunosuke terlintas, dan ia hangus jika Kume membayangkannya berlama-lama.

Seolah-olah Kume-lah yang menyebabkan Akutagawa menyerahkan dirinya pada api biru. Api yang akan menghilangkan jiwa dibandingkan raga, membuat Kume menunduk yang lambat laun merasa disentil perasaan bersalah.

"Kume! Apa kamu masih tidur? Ayo sarapan."

Seruan dari Kikuchi Kan setidaknya datang pada saat yang tepat. Kume dapat melepas diri dari lamunannya yang menyebalkan, dan beraktivitas seperti biasanya kah? Kalimat satu itu, tidak salah lagi memang diakhiri dengan tanda tanya. Bukankah wajar Kume ragu-ragu? Apalagi ia dapat bertemu Akutagawa setiap saat, selama mereka dipersatukan di perpustakaan yang sama atas nama sastra.

Kume harus bagaimana untuk menghadapi Akutagawa?

Sehari-harinya saja sudah sulit, dan kali ini walaupun Kume menghindar seperti biasanya, mimpi itulah yang akan menatap Kume. Semua persoalan tentang Akutagawa itu, kenapa selalu menyebalkan sebenarnya? Mengapa Kume yang sedemikian membenci Akutagawa, senantiasa dihukum sekejam-kejamnya oleh dewa?

Jika ia hanya dipermainkan dengan diberikan kebencian, bukankah dewa bahkan lebih menyayangi Akutagawa? Padahal Akutagawa bunuh diri, dan itu tergolong dosa besar, tetapi dia tidak pernah dibebankan perasaan yang berat. Malah Kume yang sedikit-sedikit kena hukum, kendatipun membenci merupakan hal manusiawi.

"Ada apa, Kume? Dari tadi kamu melamun terus." Kan memang baik. Meskipun pikiran-pikuran Kume tidaklah sepenting Akutagawa, dari ekspresinya Kume tahu Kan benar-benar cemas. Baguslah dia tak membawa-bawa Akutagawa ke dalam percakapan ini.

"Singkatnya aku sempat mimpi buruk. Parah banget kagak hilang-hilang."

"Mau bercerita? Mungkin dengan begitu Kume lebih lega."

Biasanya juga, Kume dan bercerita adalah satu kesatuan utuh. Entah itu mabuk, atau kebetulan sekali seseorang di dekatnya menjalani kesendirian, Kume akan mencekoki pendengaran mereka dengan kata-kata milik perasaannya. Namun, untuk kali ini Kume yang seumpama buku terbuka pun tampak meragu. Kan jadi ikut bingung yang ketika ia hendak melanjutkan langkah, Kume akhirnya membuka mulut.

"I-itu ..." Senyuman hangat yang Kan berikan membuat Kume menggeleng-geleng. Mungkin dibandingkan menceritakannya, karena siapa tahu ujung-ujungnya Kan sekadar menjawab jangan dipikirkan, Kume bisa memilih kata-kata lain. Pokoknya apa pun yang berhasil mengusir mimpi buruk itu jauh-jauh.

"Iya, Kume?"

"Menurut Kan ... kenapa seseorang bunuh diri?"

Diksi yang dipilihnya itu turut membuat Kume membeliak. Semoga saja Kan tidak menyadarinya, atau Kume terlihat macam orang bodoh.

"Bagaimana kalau membicarakannya dengan Ryuu?"

"Lah?! Kok jadi bawa-bawa dia, sih?"

"Kalau bertanya pada Dazai, kupikir enggak masuk akal. Kalian saja tidak memiliki hubungan apa pun di masa lalu, dan jika Kume mengungkit-ungkit Ryuu palingan dia membela Ryuu mati-matian."

Bahkan kebetulan sekali Akutagawa langsung berada pada jarak pandang mereka. Kan pun sedikit menyikut lengan Kume, sebelum ia membalas sapaan dari Akutagawa dengan duduk di sebelahnya. Obrolan antar Shinshichou mulai terjalin yang selama Kume sedikit menontoninya, ia justru meninggalkan ruang makan. Padahal Akutagawa telah menyisakan terong untuk Kume seorang, dan mendapati punggungnya yang diseret-seret kesedihan jelas mengkhawatirkan.

"Terjadi sesuatu, kah, padanya?" tanya Akutagawa yang belum apa-apa sudah cemas. Yamamoto sendiri sekadar menggeleng-geleng karena menurutnya, palingan Kume merasa tidak dibutuhkan dalam obrolan Shinshichou. Baper seperti biasanya saja.

"Katanya Kume bermimpi buruk. Untuk detail lebih lanjutnya, tanyakan saja pada Kume setelah sarapan."

Tanpa diberitahu pun Akutagawa pasti melakukannya. Semangkuk nasi, lauk pauk berupa ikan, dan sup miso, bahkan Akutagawa libas dengan kecepatan kilat yang hebatnya, dia tidak tersedak. Kekuatan bucin memang berbeda membuat Yamamoto cukup terkagum-kagum, walau kegetiran yang bersembunyi dan diam-diam selalu mengikuti, pasti segera menghancurkannya.

"Melihat Ryuu mengejar Kume itu, memang tidak pernah tidak menyedihkan, bukan?"

Kapan Kume mau sadar, Akutagawa tak pernah mudah dalam mengangkat kakinya untuk mengejar Kume? Namanya saja yang mengejar Kume, tetapi dibandingkan selangkah lebih dekat dengannya, pemikiran-pemikiran buruk justru lebih merapat. Semakin Akutagawa berusaha menyusul, ia hanya mendengar dirinya tidaklah penting. Eksistensinya merupakan kesia-siaan, dan semua salah Akutagawa karena ia bunuh diri.

Walaupun raganya hidup di perpustakaan ini berkat kekuatan alkemis, kematian yang disebabkan bunuh diri adalah kematian yang selamanya, karena diinginkan. Jangan harap Akutagawa dapat mengejar seseorang yang hidup sampai akhir, seperti Kume Masao, sehingga bagaimana mungkin Kan serta Yamamoto tidak cemas ketika Akutagawa terus berlari?


"Duh ... kenapa aku bodoh banget? Kalau menjauh seperti ini, kan, Akutagawa-kun bakal menyusul."

Musim gugur di taman perpustakaan, jelas membuat udara menjadi lebih dingin. Dengan pakaiannya yang biasa, dan fedora yang sekadar memperindah kepala, Kume mana mungkin tidak menggigil sekaligus menggerutu. Tubuhnya pun terus meminta balik yang benar-benar cerewet, bagi hatinya yang bersikukuh menetap di sini. Jika Kume balik sekarang, memangnya dia harus menjabarkan apa? Kalau ia terus mempertahankan tingkahnya yang ambigu juga, nanti dicecar oleh komentar-komentar sinis.

Mereka itu memang tega sekali, terutama Yamamoto yang baru membayangkannya buka mulut saja, Kume langsung ingin marah-marah. Sedikit-sedikit bilang Kume ini kerjaannya menciptakan drama. Sedikit-sedikit menjuluki Kume ratu opera sabun. Pokoknya Kume menolak kembali walau diminta.

"Kume! Kamu di mana? Kume?!"

"Tuh, kan, dia nyusul. Aku menyesal gara-gara kabur gitu aja, tapi aku bingung mau ke mana lagi."

Mungkin untuk sekarang sebaiknya Kume bersembunyi dulu. Namun, baru dua kali melangkah saja Kume tersandung pot tanamam. Mampuslah dia karena ini merupakan tanaman kesayangan Miyazawa Kenji.

"Setelah membuatku seperti melukai Akutagawa-kun, aku juga dijadikan villain, nih, gara-gara merusak tanaman Kenji-kun? Jahat banget! Padahal aku hanya ingin menjalani hari dengan tenang."

"Bagaimana kalau kita ke toko bunga sekarang? Kenji-kun pasti paham, kok, Kume tidak sengaja."

Suara yang menyahutnya dengan enteng ini, tidak salah lagi milik Akutagawa Ryuunosuke. Ungu di sepasang netranya pun menyipit sebal ke arah Akutagawa yang tak mengerti apa-apa. Sebaiknya Akutagawa segera paham Kume ini mau sendirian, dan jangan menyentuh bagian tubuhnya yang mana pun terutama–

"Jangan bengong terus, Kume. Nanti keburu ketahuan Kenji-kun."

Tampaknya mereka benar-benar ke toko bunga. Akutagawa sampai bilang, biar dia yang ganti rugi dan meminta maaf, meski sesuai dugaan Kume perasaannya yang rela berkorban itu akan jauh dari keren. Keberadaan dompetnya saja seperti dongeng terlalu lampau. Kume pun tambah misuh-misuh membuat Akutagawa menunduk, sedangkan pemilik toko melayangkan tatapan sinis.

Sangat tidak bersahabat, seolah-olah Kume adalah penindas super keji. Akutagawa bahkan lebih tinggi daripada Kume, dan dia lahir duluan, tetapi lagi-lagi Kume-lah yang mengalah. Dirinya ini kapan berhenti malang?

"Iya, iya, aku, mah, salah mulu." Dua lembar seribu yen dikeluarkan dari dompet. Perkara merusak pot bunga saja bisa se-rumit ini, membuat Kume sangat memohon agar Akutagawa berhenti berjanji untuk mengembalikan uang. Palingan Akutagawa meminta ke Kan yang jika begitu, Kume bisa melakukannya sendiri.

"Ayo pulang. Jangan cari perkara terus kamu."

"Tunggu sebentar, Kume."

"Apa lagi? Kau juga mau beli bunga?"

"Bukan itu. Aku hanya merasa bunga tersebut cantik." Telunjuknya mengarah pada bunga merah menyala yang rasa-rasanya familier. Pemilik toko pun menjelaskan tanpa diminta, bahwa kecantikan yang Akutagawa kagumi adalah higanbana. Tanaman perlambang kematian yang ketika Akutagawa mendengarnya, ia sehening renungan malam.

"Legendanya menarik, lho. Tentang sepasang kekasih yang tidak bisa bersatu bernama Manju dan Saka, karena mereka melanggar perintah Amaterasu. Manju harus menjagabunga, sedangkan Saka melindungi daun, sehingga keduanya dilarang meninggalkan tempat. Namun, mereka malah bertemu dan saling jatuh cinta. Amaterasu pun marah yang sebagai hukumannya, mereka dilarang bertemu selama-lamanya."

"Tidak bisa bersatu, ya ..."

Bukankah sama seperti Akutagawa dan Kume? Menurut imajinasinya, mereka itu ibarat Manju dan Saka ketika bertemu lagi; tetap saja tidak diizinkan bersatu yang ujung-ujungnya, hanya tersisa pilihan untuk saling melukai selama perjumpaan terus merekahkan keduanya. Akutagawa pun menghela napas berat, barulah ia menyetujui ajakan Kume. Namun, sepertinya malah Kume yang berubah pikiran gara-gara melihat momiji tempura.

Perutnya jelas lapar sekali, mengingat Kume belum memakan apa pun yang hanya sarapan dengan mimpi buruk.

"Mampir sebentar untuk makan tidaklah masalah, bukan?"

Akutagawa takkan meminta. Selama Kume tidak mengusirnya untuk pulang duluan, Akutagawa pasti diam agar Kume makan dalam ketenangan. Namun, pada akhirnya entahlah Kume kasihan atau apa, ia membelikan momiji tempura yang harus Akutagawa habiskan. Niatnya sengaja berbaik hati supaya Akutagawa betul-betul memegang janji, sebab Kume amat mengharapkan yang satu ini.

Karena rasa-rasanya jika mereka mengobrol, mimpi buruk itu nyata dibandingkan menghilang.

"Soal mimpi burukmu pun aku tidak boleh bertanya, ya."

"Tahu dari mana?"

"Kan yang memberitahuku. Walaupun Kume tidak ingin bercerita padaku, seenggaknya aku boleh mengkhawatirkanmu, kan?" Chazuke yang berada di sendok berbaur lagi dengan yang di mangkuk. Ternyata benar dugaannya Akutagawa mana mungkin diam. Kume yang terus menghindarinya, dan akhirnya mereka hanya berdua, pasti merupakan kesempatan emas yang menyesal jika dilewatkan.

"Memang iya aku sedikit menyinggungnya, tetapi itu bukanlah apa yang benar-benar kukatakan."

"Jadi?"

"Yang benar-benar kukatakan adalah, kenapa seseorang bunuh diri? Pertanyaan itu bisa muncul karena, ya ... pokoknya ada hubungannya dengan mimpi buruk tersebut."

Akutagawa yang bunuh diri itu sebenarnya retorik bagi Kume. Kendatipun sekarang ini mereka berseberangan, dan Kume memusuhi Akutagawa secara pihak, masa lalu yang mengisahkan keduanya sebagai teman akan selalu benar. Kume tetaplah tahu kehidupan Akutagawa itu berat. Akutagawa yang letih lesu pada selembar foto monkorom, dan lebih membekas di ingatan seolah-olah Kume baru memotretnya kemarin, mustahil berubah yang ujung-ujungnya pasti berpulang kepada, siapa sangka Akutagawa memilih bunuh diri.

Pada akhirnya meskipun Kume tahu kehidupan Akutagawa itu berat, ditambah ia takut darahnya mengikuti jejak ibunya yang menderita skizofrenia, Kume mungkin tidak benar-benar paham. Jadilah ia bertanya lagi, lagi, dan lagi yang suatu hari nanti, apakah Kume betul-betul mengerti?

Apakah pula Kume begini, sebab sesungguhnya ia tak sanggup menerimanya? Ulang tahun Akutagawa bahkan terngiang-ngiang lagi, di mana Kume justru meninggal pada hari kelahirannya. Jika ia mau memikirkannya menggunakan jalan yang berbeda, tidakkah sebenarnya itu merupakan sinyal ingin hidup dari Akutagawa? Dia mau membawa Kume supaya mereka hidup di keabadian, mengingat Akutagawa sempat bersikukuh menitipkan Aru Aho no Issho pada Kume.

Kutukan yang tercipta ketika menjadi penulis bersama Akutagawa itu, sepertinya bukanlah Natsume Souseki yang takkan pernah memuji Kume, melainkan takdir milik Kume tidak dapat menepikan Akutagawa, bukan?

"Iya, ya ... kenapa saat itu kau tidak menjemput Kan saja di tanggal satu Maret? Kenapa harus aku yang kau ajak hidup dengan cara lain?"

Jadi selama ini Kume kabur dari apa?

Jadi selama ini Akutagawa mengejar siapa, jika sedari awal Akutagawa memiliki Kume? Bagaimana pula ia lari dari Akutagawa, semenjak Akutagawa "hidup" pada satu Maret dan mengajak Kume tinggal bersamanya?

"... Kume?"

"Lupakan saja. Setelah kamu menjawab pertanyaanku, aku bersumpah kita tidak akan mengobrol lagi."

Isi kepala Akutagawa pun mengumpulkan faktor-faktor yang memungkinkan. Katakanlah seperti ekonomi, tekanan keluarga, masyarakat, atau bahkan cinta yang dipatahkan kekasih. Untuk setiap orang, penyebabnya pun berbeda-beda. Akutagawa juga mempelajari tidak ada hati yang kuat di dunia ini, melainkan semuanya rusak sejak awal yang semakin rapuh, ketika seseorang beranjak dewasa.

Sesuatu yang dinamakan hati, bahkan tidak pernah hadir dalam tubuh manusia menurut Akutagawa. Diri kita itu sebatas diisi oleh kalimat, "baik-baik saja" agar bisa lahir, lalu semakin hari semakin mengecil sebelum akhirnya meledak, dan yang tertinggal hanyalah keabadian berwarna kesedihan, kekecewaan, ataupun amarah. Suka atau benci, begitulah bentuk kehidupan yang sebenar-benarnya. Sering kali juga gagal dilalui, sebab manusia tak dapat bergantung lagi pada dongeng tentang hati kuat yang sukses menanggung segala-galanya.

Pada akhirnya manusia tidak pernah berdampingan dengan apa pun yang berasal dari kehidupan.

Kebahagiaan yang diberikan oleh kehidupan, dan ia letakkan pada kalimat baik-baik saja itu, sebenarnya merupakan racun agar manusia semakin cepat mengakhiri semuanya. Setelah mengenali orang baik, tutur yang memedulikan, dan tindakan yang indah, wajah asli kehidupan (luka) akan lebih mudah menyerang. Buat apa mempertahankan manusia, kalau mereka saja dibesarkan oleh sihir yang suatu saat nanti menjadi kebohongan; monolog "baik-baik saja."

Sia-sia sekali bagi kehidupan yang berkuasa, karena ia dapat berada di mana saja.

"Hati yang sebenarnya tidak pernah ada, dan kalimat baik-baik saja dalam diriku yang hancur lebur, menjadi penyebab bunuh diriku, Kume. Saat aku merasa seperti itu, kalian pun hilang. Tahu-tahu aku sudah meminum obatnya, dan meninggal."

Karena Kan, Kume, Yamamoto, dan anggota Shinshichou yang lainnya menghilang, Akutagawa pun tidak tahu ia harus pulang ke mana, setelah kehilangan satu-satunya kalimat, "baik-baik saja" dalam dirinya. Ia ingat hanya terdiam. Baru berjalan sebentar saja Akutagawa terhenti lagi, sebab ia mendengar yang lebih ribut dibandingkan perang, dan menangisi kehilangan.

Suara-suara itu seingatnya bertanya, dari manakah nama demi nama yang Akutagawa sebutkan? Benarkah mereka hadir sebagai manusia di muka bumi? Bukan semata-mata khayalan yang dipinjamkan oleh kegelapan, agar Akutagawa terbuai? Lalu di manakah Shinshichou itu, istri, atau anaknya, jika semuanya bukan sekadar angan-angan dari sang hitam yang akhirnya kembali padanya ketika ia memutuskan, Akutagawa usai saja?

Ketika ditanya seperti itu, Akutagawa tidak dapat menjawab apakah mereka khayalan yang didatangkan kegelapan, dan berpulang pada kegelapan, atau benar-benar nyata. Mulutnya bukan terkunci, melainkan menggambarkan ketidaktahuan yang anehnya sangat murni sehingga diputuskan, Akutagawa sekadar berdelusi. Karena sudah meminjam kekuatan sehebat bayangan yang bisa dibentuk sebagai pemandangan, manusia, ataupun keluarga, wajar saja jika ditarik kembali apalagi Akutagawa terlalu lama memakainya.

Setelahnya Akutagawa pun bunuh diri dalam keadaan melupakan segalanya. Ia berkata tidak memiliki rumah, teman, ataupun keluarga terkasih, sehingga kematiannya teramat hampa padahal selama Kume memasang telinga, ia menganggapnya begitu menyedihkan.

Pikiran orang di depannya ini, kenapa muram sekali walaupun ia memiliki semua yang tidak Kume genggam? Apa yang membuatnya tidak bahagia, dan lebih sulit untuk mengingat

"Karena Akutagawa-kun tidak bisa melihat kami, ya ..."

"Begitulah. Apa Kume marah?"

"Lebih tepatnya aku bingung, kenapa Akutagawa-kun tidak bahagia? Pujian dari Natsume-sensei bukankah membuatmu senang? Walaupun Akutagawa-kun akan mengidap skizofrenia seperti ibumu, sebenarnya masih ada Kan. Enggan merepotkan dia pun, Akutagawa-kun pasti dirawat olehnya."

"Memiliki sahabat sebaik Kan, apa tidak membuatmu bahagia?" sambung Kume dengan pelan yang kian memelan. Semua poin yang Kume rangkum, mula-mula Akutagawa jawab dengan senyuman kecut. Jujur saja dia pun tak habis pikir terhadap dirinya sendiri, tetapi Akutagawa merasa ia selalu mengantongi jawabannya.

"Mungkin sebagai bayaran karena aku memiliki kemampuan menulis yang dianggap luar biasa, aku dibuat tidak bisa merasakan kebahagiaan lagi. Semakin aku mendapatkan pengakuan dari orang-orang atas karyaku, maka sebelum kegembiraannya tiba padaku itu dilenyapkan duluan."

"Rasa-rasanya kayak bahan bakarku untuk menulis, adalah pikiran burukku terhadap kehidupan, bukan? Entahlah Kume percaya atau enggak, tetapi begitulah yang kurasakan."

"..."

"Maaf, Kume. Dari tadi perkataanku terdengar berat, ya?"

"Mengobrol denganmu kapan, sih, enggak berat?" Kehidupannya saja seperti itu, dan Kume campur aduk terhadap Akutagawa. Adakalanya ia membenci. Adakalanya ia ingin bersimpati, karena jika tidak untuk apa Kume menyeriusi sebuah mimpi?

"Tetapi untuk sekarang, dan mungkin seterusnya, kupikir akan baik-baik saja. Aku bisa melihat kalian, menganggap kalian rumah, dan kalau Kume tidak keberatan ... maukah kamu mendengar khayalanku?"

"Memangnya apa?"

"Ini bodoh, sih, tetapi aku pernah berkhayal aku hanyalah anak kecil, dan Kume sudah dewasa. Aku selalu menghampiri Kume yang sedang menulis. Kamu terlihat lelah, kemudian aku berkata, 'Suatu hari nanti aku akan menjadi penulis, dan biar aku yang menggantikanmu lelah dengan duduk di kursi itu.'"

"Bodoh banget, bukan? Di satu sisi aku terhibur, dan bukannya aku mau menyingkirkanmu atau apa pun, lho. Ceritanya, kan, itu pemikiran polos anak-anak."

"Terserah Akutagawa-kun saja, deh. Lagi pula aku tidak bisa berpikir aneh-aneh sama anak kecil."

Chazuke yang tersisa Kume habiskan dengan cepat. Sebaiknya mereka pulang, atau Kan membawa pasukan yang mengkhawatirkan Akutagawa. Tanaman hias yang tidak sengaja Kume pecahkan pun, harus segera digantikan agar Kenji tak bertanya-tanya. Akutagawa jelas setuju karena sudah ia bilang, ia tak mempermasalahkan tujuan selama Kume tak mengusirnya.

"Untuk sekarang, mimpi buruknya sudah menghilang setidaknya."

Akutagawa tidak akan dengan cerobohnya membakar jiwanya. Saat menatap langit biru seperti sekarang pun, Kume mendadak berpikir apakah ia menemukan pertanda? Seperti petunjuk kapan Akutagawa akan terpikir untuk bunuh diri, dan jika Kume membiarkannya apa yang ia lihat dalam pejaman mata menjadi nyata?

Jika benar seperti itu, Kume betul-betul tidak bisa lepas, bukan? Setidaknya untuk sekarang dia bangga saja, karena sesungguhnya perkara Akutagawa lebih merepotkan dibandingkan Kume.


Tamat.


A/N: Selamat ulang tahun buat reav. Aku seneng masih bisa ngasih tahun ini, walaupun masih ada komisi yang harus dikerjakan sebenernya. Ide fic ini terinspirasi dari obrolan di grup wa. Soal stage bunal di mana aktgw bakar jiwanya sendiri, dan semua itu gegara kume secara kasarnya. Kemudian aku kepikiran soal, kenapa kume ga bertanya-tanya aja soal penyebab bunuh diri aktgw walaupun itu klise? Kayak, kok aktgw semudah itu buang nyawa sampe dua kali? Lalu akhirnya lahirlah fic ini yang semoga aja, Akkm-nya gak terlalu OOC.

Harusnya aku menghadiahkan fluff, iya, tapi aku tidak kepikiran apa-apa lagi sejak tau spoiler stage. Tadinya mau bikin di fandom tokrev juga, cuma lebih buntu. Selama nulis ini sebenernya cukup lancar sih entah kenapa. Mungkin gara-gara udah lama juga gak post fanfic di bunal, karena sekarang lebih fokus OC sama komisi.

Semoga reav suka sama hasilnya. Aku minta maaf sekali ini mah karena memberikan angst. Tahun depan fluff deh kalo aku kepikiran sesuatu tapi.