note : cerita sepenuhnya fanfiksi dan tidak ada sangkut pautnya dengan anime/manga

Haikyuu!! milik Haruichi Furudate


Rule : don't get drunk!


"Tidak."

"Oh ayolah.."

Tobio berbalik dan kembali melangkah, mengabaikan Shoyo yang masih memasang tampang memohon sambil menyatukan kedua telapak tangannya didepan dada. Tidak menyerah, si rambut jingga buru-buru menyusul dan kembali menghentikan langkah yang lebih tinggi.

"Sekali ini saja. Ya?"

"Beri jaminan supaya aku tidak perlu repot-repot menjemputmu!"

"Aku janji tidak akan mabuk!"

~•~

Kageyama Tobio selalu merasa dirinya ini bisa berpendirian teguh dan tidak mau kalah beradu pendapat dengan orang lain, sekalipun itu pacarnya. Garis bawahi, sekalipun itu pacarnya! Yah, setidaknya jika pacarnya itu tidak memasang wajah memohon yang membuat Tobio merasa bisa mimisan kapan saja saking gemasnya melihat wajah kecil itu.

Sayangnya, berkali-kali wajah itu menjatuhkan kesialan padanya, seperti saat ini.

Dipinggiran jalan raya Kota Tokyo yang sudah mulai sepi, tengah malam. Hinata Shoyo, dengan wajah merah dan bibir pucat akhirnya terlihat bisa bernafas lega setelah berkali-kali memuntahkan isi perutnya.

"Dasar bodoh! Sudah aku bilang, jangan mabuk!"

Shoyo mendongak, menatap langit dengan matanya yang berkaca-kaca dan tatapan lelah seolah ingin bunuh diri. Hanya wajahnya yang sedikit merah saja yang membuatnya terlihat lebih hidup, selebihnya terlihat seperti mayat hidup. Langkahnya juga terseok-seok sebelum akhirnya tadi ambruk di pelukan Tobio dan mengotori pakaian lelaki itu dengan isi perutnya yang menolak untuk dicerna.

"Kageyama-kun.. ah, kau tampan sekali.."

Ck, sial! Jangan goyah!

"Bangun! Jalan yang benar! Apartemen kita tinggal didepan sana!"

Tobio jalan lebih dulu, tentu saja pura-pura, tidak mungkin ia meninggalkan pacar kecilnya itu tengah malam dalam kondisi mabuk berat begitu, yang ada anak itu hilang dan dijual di pasar gelap dengan harga mahal. Kenapa mahal? Hey, lihat betapa indahnya manusia jeruk itu! Tentu saja akan mahal jika betulan dijual!

Tobio menoleh, berniat memastikan keadaan Shoyo sebelum dibuat melotot kaget karena si jingga sudah masuk kedalam tempat sampah.

"Bodoh! Hinata bodoh!"

~•~

Shoyo membuka matanya saat merasa angin dingin menyapu kulitnya, pusing di kepala masih tersisa dan saat hendak beranjak duduk, bagian belakang tubuhnya rasa nyeri menjalar di tubuh bagian belakangnya sampai refleks lelaki kecil itu terlonjak dan memekik.

"Ah—"

"Oh, kau masih hidup?"

Shoyo menoleh, mendapati Tobio tengah memilih pakaian dari lemari dengan celana jeans yang sudah membalut bagian bawah tubuhnya, lelaki itu nampak baru saja mandi dengan rambut yang masih basah. Merasa tidak ada yang aneh, Shoyo menoleh lagi kearah luar jendela, hendak memastikan waktu tanpa harus melihat jam, dan ia dapati sinar matahari dari timur telah nampak dengan percaya diri.

Menatap tubuhnya yang sejak tadi terasa dingin, Shoyo dibuat terkejut saat mendapati dirinya memakai piyama tidur berwarna biru gelap milik Tobio yang terbuka di bagian dadanya. Secepatnya pemuda itu menutupi dadanya dan seperti ada kabel yang baru tersambung, otaknya yang sejak tadi belum bisa mengerti keadaan akhirnya menyadari sesuatu.

Pinggul dan bagian belakangnya terasa sakit, ia tidak memakai celana dan malah memakai piyama tidur milik Tobio yang kebesaran. Jadi kesimpulannya, apa yang terjadi?

"Kageyama-kun.. apa yang kau lakukan padaku?"

"Apa masih sakit?"

"Aku tanya apa yang kau lakukan padaku, bakayama!!?"

Tobio menatap Shoyo dengan raut tenang selama sekian detik lalu tiba-tiba mengalihkan pandangannya dengan pipi memerah, Shoyo melotot kaget.

"Yah, jangan salahkan aku. Kau sendiri yang membuatku tidak bisa menahannya."

Masih dengan mata melebar Shoyo bertanya, "apa yang.."

"Semalam kau mabuk padahal sudah janji tidak akan mabuk. Kau tahu apa yang kau lakukan saat mabuk? Kau terus memanggil namaku dan benar-benar membuatku tidak bisa menahan diri."

Shoyo mundur sambil menutupi mulutnya, "lalu kau.. kau melakukannya?"

Kini Tobio yang menoleh dengan raut lebih kaget, "kau.. tidak ingat?"

Shoyo menggeleng pelan, masih dengan wajah kaget dan mulut ditutupi. Tobio sendiri hanya menghela nafas dengan raut kesal.

"Kau.. semalam kau terlihat sangat menikmatinya, bagaimana bisa kau tidak ingat, bodoh!?"

Shoyo melempar bantal, "bakayama mesum! jangan katakan dengan jelas begitu! lagipula kenapa kau melakukan itu saat aku mabuk!?"

Bantal yang dilempar itu ditangkap dengan sigap lalu dilempar lagi kearah ranjang, sedang Tobio pilih mendekati Shoyo untuk menahan kedua tangannya dan menindih tubuh kecil itu.

"Jaa.. kalau begitu biar aku lakukan sekarang biar kau mengingatnya.."

"A-apa yang mau kau lakukan!?"

"Memperkosa dirimu."

"Ap— tidak! Nghhh.."

~•~

Shoyo menatap tubuhnya di pantulan cermin, wajahnya luar biasa merah saat semua pakaiannya terlepas dan memperlihatkan kulitnya yang ternoda bercak merah dan bekas gigitan di setiap jengkalnya. Berpikir, pantas saja beberapa bagian dari kulitnya terasa perih, ternyata banyak sekali bekas gigitan yang terlihat cukup dalam di sana.

"orang gila, bagaimana bisa dia membuatnya sebanyak ini.." gumamnya dengan wajah luar biasa panas —memerah malu.

Shoyo beranjak mencari plaster di kotak p3k dan menempelkannya di beberapa bagian tubuhnya yang terluka —termasuk putingnya yang terasa kebas dan perih.

Shoyo sangat bersyukur saat seseorang menelepon Tobio barusan, jadi lelaki yang sedang kelebihan nafsu itu tidak jadi memperkosanya lagi pagi ini.


fin