Mo Dao Zu Shi hanya milik Mo Xiang Tong Xiu (墨香铜臭)
Warning: EYD tidak benar (mohon bantuan koreksinya), Typo, OOC (terutama Wei Wuxian. Ini diperlukan untuk cerita), bahasa mandarin yang di Indonesiakan.
Jika tidak suka, tolong jangan dibaca. Terimakasih.
###
Pusing melanda kepalanya, pandangannya kabur dan bau besi bercampur amis memperburuk kondisinya.
Wei Wuxian mencoba fokus dengan keadaannya. Ia ada didalam sebuah ruangan dengan kertas-kertas bergelantungan—yang menurut perkiraannya adalah kertas mantra—dan keadaan kacau disekitarnya. Pemuda itu belum sempat memproses keadaan sepenuhnya saat pintu terbanting keras.
Sedetik setelah suara mengerikan itu, perutnya ditendang hingga tubuhnya terguling beberapa kali dan menabrak dinding. Suara-suara kertas yang dirobek dan benda dibanting terdengar beserta teriakan melengking yang terdengar sombong.
'Siapa dia ini? Berani sekali ia menendang seorang Patriak Yiling.' Wei Wuxian mengumpat dalam hatinya. Ia mengumpulkan tenaganya dan mengerjapkan mata, mencoba memperjelas pengelihatannya dan tubuh gendut seseorang masuk dalam pengelihatan matanya.
"Hah! Akhirnya kamu bangun! Berhenti berpura-pura mati! Kamu pikir nasi siapa yang kamu makan dan uang siapa yang kamu pergunakan?"
Wajahnya sombong, namun itu malah membuatnya makin terlihat seperti babi berdiri.
Wei Wuxian, "Siapa kamu?" kemudian ia terkejut mendengar suaranya yang berubah. Tatapannya tidak sengaja menemukan sebuah mantra yang dilukis dengan darah di bawahnya. Itu adalah sebuah mantra terlarang!
Mantra ini digunakan untuk memanggil seorang hantu ganas, digunakan untuk membalas dendam dengan imbalan sebuah tubuh baru. Namun konsekuensinya adalah mati. Tubuh yang ditinggalkan akan menjadi wadah untuk roh yang dipanggil. Hah, Wei Wuxian tidak tahu bagaimana caranya mantra yang diciptakannya bisa diketahui orang ini. Terlebih, ia bukanlah hantu ganas!
'Aiyah, biarkan aku mati dengan tenang... kenapa sih kamu harus memanggilku kembali?' ratapan Wei Wuxian hanyalah sebuah omong kosong. Ia senang dapat hidup kembali, tapi ia tidak ingin jika harus hidup kembali dengan keadaan seperti ini.
Rambutnya mendadak dicengkram erat hingga kepalanya ikut terangkat demi mengurangi rasa sakit. Wei Wuxian nyaris menyemburkan umpatan saat ucapannya lebih dulu dipotong oleh teriakan dari mulut bau orang yang menganiayanya.
"Mo Xuanyu! Kamu hanyalah anak haram. Nyawamu bahkan tidak berharga dan kamu berani melaporkanku? Aku beri tahu satu hal! Ibuku adalah kepala desa, dan ibuku tidak penah menganggap ibumu sebagai saudarinya!" kepalanya disentak hingga rambutnya rontok beberapa helai. Wei Wuxian mengumpat dalam hatinya karena baru merasakan bahwa setiap bagian dari tubuhnya sangat sakit.
"Tuan muda, nyonya memanggil anda. Para kultivator telah tiba di aula." Seorang pelayan tergesa-gesa memberi hormat, tampaknya begitu mendesak.
"Diruangan ini tidak ada satupun barang berharga, tuan muda. Hanya beberapa kertas lusuh dengan coretan tangan." Sisa lainnya yang dibawanya untuk menggeledah (atau lebih tepatnya menghancurkan) ruangan Mo Xuanyu ini membungkuk hormat dan memberikan laporan.
Babi berjalan yang dipanggil langsung pergi keluar begitu saja setelah membuang ludahnya pada tubuh Mo Xuanyu. "Cih! Lengan potong menjijikkan ini seharusnya dbunuh saja! Kunci dia! Jangan biarkan dia keluar! Dasar orang gila sialan!"
Wei Wuxian tetap diam di tempatnya, mengambil nafas pelan-pelan dan bangkit untuk duduk. Membiarkan mereka mengunci pintu dari luar dan meninggalkannya sendirian.
Ruangan ini kacau dan sempit. Mungkin hanyalah gudang sebelumnya. Darah terciprat di dinding dan kertas-kertas yang bergelantungan adalah kertas mantra untuk pemanggilan. Lalu mantra pemanggilan roh ganas di lantai yang darahnya bahkan belum mengering sepenuhnya. Wei Wuxian menghela nafas prihatin dan mengambil kertas lusuh yang tersebar dan sobek beberapa, isinya adalah tulisan tangan yang begitu berantakan dan tumpang tindih. Ia hampir tidak dapat membacanya.
Nama tubuh ini adalah Mo Xuanyu, ibunya adalah anak dari seorang budak. Dan ayahnya adalah seorang kultivator terhormat yang tinggal di Lanling. Ia entah karena alasan apa diusir dari sekte Lanling dan dianggap gila—yang mana perilaku kejam keluarga Mo malah membuatnya betulan gila.
'Hah! Lalu aku dipanggil untuk apa? Mo Xuanyu, Mo Xuanyu, jika kamu mau memanggilku, setidaknya berikanlah petunjuk untuk dendammu! Apakah kamu ingin aku membunuh mereka atau mempermalukan mereka?' Wei Wuxian bertanya-tanya dalam hatinya. Ia menemukan tiga buah sayatan di lengan kirinya dan satu sayatan di lengan kanannya. Setelah mengecek lebih lanjut, sebuah sayatan juga ada di bagian perutnya. Sudah tidak mengeluarkan darah, tapi akan mengganggunya untuk bergerak gesit bila tidak diobati. Wei Wuxian merasakan sesuatu menempel pada seluruh wajahnya, menemukan bahwa itu seperti kapur berwarna putih. 'Aiyah, Mo Xuanyu. Apakah kamu berniat menjadikan tubuhmu ini sebagai tiruan dari hantu gunung?'
Pikirannya terhenti karena perutnya bergemuruh, ah, sudah berapa lama tubuh ini tidak makan? Tulang-tulangnya juga tampak menonjol. Wei Wuxian merasa kasihan pada pemilik lama tubuh ini.
Pada pintu yang dikunci dari luar, ada sebuah lubang kecil di bawahnya. Tidak cukup untuk sebuah kepala, namun lengan bisa masuk kedalam. Wei Wuxian berniat untuk mengintip saat ada mangkuk makanan yang disodorkan kedepannya. Suara hinaan terdengar, memintanya untuk segera menghabiskan makanan yang terlihat sudah basi.
Tidak ada pilihan. Wei Wuxian berjanji akan merampok rumah ini nanti. Beraninya mereka memperlakukan seorang leluhur Yiling seperti ini. Di tubuh lamanya dulu saja ia masih memakan buah—yang setidaknya lebih baik dari nasi basi dengan sup tanpa rasa. Wei Wuxian curiga bahwa itu hanyalah air biasa yang dicampur dengan potongan sayur bekas. Ia makan dengan cepat dan berusaha mematikan indra perasanya. Rasa makanan ini bahkan lebih parah dari sup akar pahit dari sekte orang yang dikenalnya. Setelahnya ia mencoba merenggangkan tubuh dan menggerakkannya.
Mo Xuanyu ini memiliki tubuh dan kultivasi yang lemah. Jindan*nya bahkan belum terbentuk. Setidaknya Wei Wuxian dengan mudah bisa menguasai tubuh ini dan menyatu dengannya.
[Jindan: inti emas, bisa dikatakan sebagai sumber kekuatan untuk para kultivator]
Setelah terbiasa, Wei Wuxian menendang pintu yang dikunci hingga kuncinya rusak. Keluar dan mulai mencari air untuk mencuci muka. Ia risih dengan tepung yang menempel. Saat menemukannya ia cepat-cepat membasuh wajahnya hingga bersih dan melihat pantulan air.
'Wajah ini tidak terlalu buruk. Lantas kenapa kamu menutupinya dengan riasan mengerikan?' Wei Wuxian mengakui bahwa paras Mo Xuanyu dapat tergolong cantik. Warna matanya mirip dengan milik Wei Wuxian dulu dengan wajah manis. Bibirnya tipis dan bagian bawahnya agak tebal. Mungkin jika ia memakai pakaian wanita, orang-orang akan terkecoh dengan mudah. Tubuh Mo Xuanyu juga ramping dan agak pendek. Begitu cocok dengan kriteria untuk menjadi gadis.
Wei Wuxian langsung bersembunyi dan memasang telinga saat suara langkah kaki terdengar mendekat. Itu adalah para pelayan dan para kultivator muda. Matanya langsung menyipit dan mendesah lelah dalam hatinya. Ingin mengumpat karena melihat pita dahi dan baju putih dengan motif awan.
'Ayolah, apakah keberuntunganku begitu buruk? Aku baru saja dibangkitkan dan harus bertemu dengan murid junior dari sekte GusuLan? Bagaimana jika dia juga datang?' Wei Wuxian mengikuti para kultivator muda itu, melihat saat mereka mulai memasang bendera penarik roh yang menjadi penemuannya. Ia diam-diam tertawa miris dalam hatinya.
Karena walaupun dunia membenci para kultivator bengkok sepertinya, mereka masih menggunakan barang yang menjadi penemuannya. Betapa lucunya!
"Hei, ini adalah penemuan dari Patriak Yiling kan?" seseorang diantara mereka mulai bertanya, tangannya menyentuh bendera penarik roh dan meletakkannya untuk persiapan.
"Iya, kenapa?" pemuda yang sepertinya menjadi pemimpin mereka menjawab, Wei Wuxian mendadak merasakan perasaan familiar menghantam dadanya saat menatap wajah tampan pemuda itu.
"Hmm.. aku hanya penasaran, apakah ia masih hidup." Yang ditanya menjawab, "Tubuhnya tidak ditemukan dimanapun. Kabarnya hilang begitu saja setelah dikerumuni oleh asap hitam. Bukan apa-apa, tapi dunia kultivasi masih mencarinya hingga kini. Tapi ia telah menghilang belasan tahun! Bagaimana bisa ada orang yang menganggapnya masih hidup? Kabar lainnya juga mengatakan bahwa ia telah dibunuh oleh pemimpin Jiang sebelum tubuhnya menghilang!"
"Aku tidak tahu, JingYi. Tapi jika ia masih hidup, itu dapat menjadi jawaban untuk—" perkataannya terputus karena seseorang berteriak tidak jauh dari Wei Wuxian.
"HEI! BAGAIMANA KAMU BISA KELUAR?!" pelayan yang berteriak itu langsung menghampiri dan menarik Wei Wuxian dengan kasar. Mengabaikan tatapan para kultivator muda. "Orang gila ini! Kembali! Pergi dan kembalilah ke kamarmu!"
"Aduh! Tidak usah kasar! Aku bisa jalan sendiri!" Wei Wuxian sedikit memberontak. Ia tidak suka diseret-seret. Terlebih cengkramannya tepat pada luka gores yang diciptakan Mo Xuanyu.
Pelayan itu tidak mendengarkannya, ia menghempaskannya dengan kasar dan kembali mengunci pintu. Wei Wuxian mendesah, tidak mengatakan apapun dan mulai memikirkan hidupnya untuk kedepannya. Bagaimanapun caranya, ia tidak boleh bertemu dengan dia. Tidak sebelum Wei Wuxian menyelesaikan dendam Mo Xuanyu. Ia memutar otak, mencari cara agar dia tidak mengenalinya. Hatinya mengatakan bahwa dia akan langsung mengenali Wei Wuxian dalam sekali pertemuan.
Dalam semua pemikiran itu, ia tidak sadar dengan hari yang sudah berganti menjadi malam.
Acaranya terganggu saat pintunya didobrak kasar dan tubuhnya mendadak diseret menuju suatu aula yang luas oleh beberapa pelayan. Tidak berbelas kasih, tubuhnya dipaksa berlutut dan ditekan ke tanah sebelum salah satu dari kultivator muda menghentikan penyiksaan itu.
"Anda tidak apa-apa, tuan muda Mo?" tanyanya sambil membantunya untuk berdiri.
Wei Wuxian kembali merasakan perasaan yang begitu familiar di dadanya saat melihat wajah kultivator muda itu. Ia merasa penasaran dengannya secara tiba-tiba. "Ah—saya baik-baik saja, terimakasih tuan muda.."
"Kamu!" Wei Wuxian mendadak kembali di tarik oleh seseorang, ia nyaris saja jatuh tapi kultivator muda itu langsung menahan tubuhnya. "Kamu! Beraninya kamu membunuh a-Yuan! Dan suamiku! Kamu pembunuh! Harusnya aku sudah membunuhmu dari dulu!"
Disana, seorang wanita yang diketahuinya sebagai nyonya Mo tengah ditahan oleh kultivator lainnya. Ia terlihat sangat marah dan ingin membunuhnya. Wei Wuxian melangkah mundur dan bersembunyi dibalik kultivator muda yang menolongnya, mulai mengedarkan pandangan dan melihat tuan Mo dan tuan muda Mo Ziyuan yang telah kehilangan kehidupannya.
"Nyonya Mo! Tolong tenang! Bukankah sudah kami katakan bahwa tuan muda Mo Ziyuan menjadi seperti itu karena bendera roh yang dicurinya?"
"Apa katamu?! Lalu kenapa kamu tidak menolongnya?! Kenapa suamiku ikut terkena imbasnya?! Pasti dia! Ayahnya adalah seorang kultivator juga! Pasti ayahnya yang sudah mengajarinya untuk menggunakan sihir gelap!" nyonya Mo mengambil kayu panjang di sebelahnya dan melemparnya kearah Wei Wuxian.
"Sizhui!" kultivator lainnya langsung panik karena Sizhui berada tepat didepan Wei Wuxian. Wei Wuxian bertindak cepat, langsung menarik kultivator muda yang bernama Sizhui itu dengan cepat. Kayu panjang itu terlempar dengan kecepatan diluar nalar dan menghancurkan tembok yang menghantamnya. Wei Wuxian langsung memperhatikan lengan kiri nyonya Mo yang berubah warna dan mengeluarkan energi kebencian.
"Cepat! Lengan kirinya! Roh ganas itu ada di lengan kirinya!"
Semua langsung kacau. Para pelayan menjerit dan lari, kultivator muda GusuLan yang melempar sinyal dan berusaha keras melawan lengan setan yang anehnya begitu kuat. Wei Wuxian ingin mengambil kesempatan ini untuk kabur, namun saat melihat para kultivator muda yang kesusahan, hatinya tergerak.
Wei Wuxian melepaskan mantra pada mayat tuan muda Mo Ziyuan dan tuan Mo, menyuruh mereka untuk menghabisi nyonya Mo yang sudah menjadi mayat ganas. Kultivasi bengkoknya masih terbawa olehnya. Hal ini sudah menyatu dengan jiwanya, jadi tidak bisa dilepaskan lagi. Tapi mungkin Wei Wuxian masih memiliki kesempatan untuk kembali pada kultivasi lurus, mengingat tubuh Mo Xuanyu belum membentuk Jindan dan akan mudah bagi Wei Wuxian membentuknya.
Mayat-mayat saling menyerang, ini membuat kultivator muda kebingungan namun juga bersemangat. Mereka tidak pernah melihat yang seperti ini. Wei Wuxian memperhatikan dari balik pilar, tirai-tirai gelap yang tersapu angin menyempurnakan persembunyiannya. Ia hanya akan membantu jika diperlukan.
Namun kedua mayat yang telah dibangkitkan oleh Wei Wuxian bahkan tidak mampu mengalahkan nyonya Mo. Para kultivator muda tampak tertekan sebelum suara tajam guqin* memecah malam.
[Guqin: bisa disebut qin, merupakan alat musik tradisional yang bersenar tujuh. Sumber dari google.]
Diatas sana, berpijak pada sebuah pedang, sesosok pria dengan baju putih dan pita dahi sekte Lan berdiri kokoh. Pria bernama Lan Wangji itu memetik guqinnya. Melumpuhkan dan memaksa mayat untuk tunduk. Para murid langsung memantrai mereka agar tidak lagi menyerang dan memanggil senior mereka dengan ekspresi penuh kelegaan.
"Hanguang-Jun!"
Wei Wuxian yang melihatnya datang dan membereskan para mayat itu hanya tersenyum kecil, berkata dalam hatinya sebelum melarikan diri. Masuk kedalam kamar yang dianggapnya milik Mo Ziyuan dan mengambil beberapa barang disana. Terutama... sekantung penuh uang. Ia butuh uang untuk membeli pakaian dan makanan saat perjalanan. Setelah mengambil semua uang di kamar Mo Ziyuan, Wei Wuxian beralih ke ruangan kotornya sendiri. Menyembunyikan kantung-kantung uang yang diambilnya dan memutuskan untuk tidur sejenak setelah memeriksa luka sayatan pada lengan dan perutnya.
Luka-luka itu telah berkurang tiga bagian. Hanya tersisa satu di lengan kiri dan satu sayatan lagi di bagian perutnya. Hanya saja Wei Wuxian sama sekali tidak memiliki petunjuk untuk sisa-sisa dari dendam Mo Xuanyu.
Mengabaikan hal ini untuk nanti, Wei Wuxian memejamkan mata dan tidur dengan pulas.
'Lan Zhan tidak berubah. Masih saja memakai pakaian kesopanan itu, tampak seperti hantu di tempat suram dan orang yang berkabung.'
Ia tidak mengetahui, bahwa Lan Sizhui kebingungan mencarinya dan Lan Wangji merasakan perasaan familiar yang tidak asing melihat para mayat ganas saling menyerang.
###
Paginya, Wei Wuxian menyelinap pergi dengan mudah.
Ia pergi ke pasar dan membeli dua potong pakaian, sepasang sepatu dan tentunya beberapa kertas mantra. Tubuh Mo Xuanyu tampak manis dalam balutan pakaian abu-abu gelap dengan garis merah di sisi-sisinya. Kunciran rambut Mo Xuanyu yang dibentuk cepol dilepasnya, mengganti tali hitam tipis dengan pita merah yang selalu menjadi warna kesukaannya dan menguncirnya tinggi. Setelahnya Wei Wuxian memutuskan untuk singgah sejenak di sebuah kedai untuk makan. Mencari informasi mengenai desa Mo dan pergi setelah mendapat apa yang diinginkannya.
Tidak jauh dari desa Mo ada sebuah bukit, yang dibaliknya ada gunung bernama Dafan. Kabarnya disana sering terjadi kejadian-kejadian aneh. Jadi Wei Wuxian pergi kesana untuk mengeceknya. Ia melangkah dengan santai, mencoba melatih stamina Mo Xuanyu perlahan-lahan sambil merasakan cahaya matahari dan menghirup angin segar.
Tadi malam sebelum tidur ia pun telah mendapat ide untuk menyembunyikan jati dirinya. Wei Wuxian akan merubah sifatnya. Toh ia hebat dalam akting, contohnya saja Lan Wangji. Pria itu sudah sering tertipu olehnya di masalalu. Jadi Wei Wuxian merasa bahwa itu tidak akan menjadi masalah.
Sedapat mungkin, Wei Wuxian menghindari pertemuan dengan kultivator Lan yang pasti sedang mencarinya. Ia sedang tidak ingin berurusan dengan orang-orang kaku seperti dia.
###
Tbc.
