Mo Dao Zu Shi hanya milik Mo Xiang Tong Xiu (墨香)

Warning: EYD tidak benar (mohon bantuan koreksinya), Typo, OOC (terutama Wei Wuxian. Ini diperlukan untuk cerita), bahasa mandarin yang di Indonesiakan.

Jika tidak suka, tolong jangan dibaca. Terimakasih.

###

Wei Wuxian berangkat saat pagi dan sampai di kaki gunung saat hari sudah menjelang sore. Kakinya mulai agak sakit hingga ia memutuskan untuk duduk di depan sebuah kedai teh. Manik abu-abunya memperhatikan sekitarnya dengan ketelitian. Ada sesuatu yang aneh dan membuatnya penasaran. Kaki gunung ini ramai dengan kultivator yang hilir mudik.

'Apakah rumor itu sebegitu hebatnya hingga orang-orang dari berbagai sekte ini berkumpul disini?' ia bertanya-tanya dalam hatinya hingga memutuskan untuk bertanya pada salah satu kultivator muda yang lewat di sampingnya dengan kesopanan yang membuat perutnya geli. "Permisi, tuan kultivator muda, bolehkah aku bertanya sesuatu?"

Kultivator yang dipanggilnya itu menoleh, lantas dengan sopan menangkupkan kedua tangan sejajar dengan dada dan membungkuk, Wei Wuxian berpikir bahwa kultivator muda ini pasti dilatih oleh sebuah sekte yang memegang teguh sopan santun. "Tentu saja boleh, tuan muda. Apa yang ingin tuan muda ketahui?"

Wei Wuxian mengibas tangan dengan ramah, "Tolong jangan terlalu kaku, panggil saja aku Xuanyu," ia melanjutkan pertanyaannya saat melihat kultivator muda telah menyanggupi ucapannya. "Apa yang sedang terjadi di sini hingga tempat ini begitu ramai dengan kultivator yang berkeliaran?"

"Gunung Dafan dikabarkan dipenuhi dengan mayat ganas. Oleh karena itu sekte-sekte, baik besar maupun kecil, sedang berlomba-lomba untuk melakukan perburuan."

"Begitu," Wei Wuxian mengangguk-angguk dan mengucapkan terimakasih, membiarkan kultivator muda itu kembali melanjutkan langkahnya. Tidak lama setelah langkah kultivator itu telah jauh meninggalkannya, ia mendengus geli. Akting sopan-santunnya amat sangat membuatnya ingin tertawa. Perutnya sampai sakit karena harus menahan diri untuk tidak tertawa karena aktingnya sendiri.

Setelah duduk agak lama, kakinya sudah tidak terlalu sakit hingga Wei Wuxian memilih untuk memasuki gunung Dafan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, karena ia sama sekali tidak merasakan energi kebencian. Jika yang dikatakan kultivator muda tadi benar, seharusnya ia dapat merasakan energi kebencian yang meluap dari dalam gunung itu.

Baru saja dirinya melangkah, sebuah suara dibelakangnya menghentikannya.

"Hei! Apa yang kamu lakukan disini?!"

Wei Wuxian berbalik, menemukan seorang remaja berbaju khas sekte LanlingJin tengah melipat tangan didepan dada dan menatapnya dengan pandangan tidak suka. Dibelakangnya, beberapa murid dari sekte YunmengJiang ikut menatapnya. 'Sungguh sekte yang luar biasa sombong.' Batin Wei Wuxian. Namun dengan kepura-puraannya tetap tersenyum dan membungkuk hormat pada tuan muda arogan didepannya. "Saya hanya penasaran dengan mayat ganas yang sedang dirumorkan. Maaf jika saya lancang, tapi siapakah tuan muda ini?" ia bersopan-santun. Nyatanya ia memang tidak tahu nama dari remaja kultivator di depannya. Ia memang pernah tinggal di Lanling—menurut catatan Mo Xuanyu, dan bukan hal yang mustahil bahwa remaja di depannya mengenalnya.

Tuan muda didepannya terlihat syok sedangkan murid-murid sekte YunmengJiang di belakangnya hanya berpandang-pandangan bingung. Remaja itu baru saja ingin mengatakan sesuatu saat sebuah suara yang Wei Wuxian telah hafal mati di kepalanya terdengar.

"A-Ling, kenapa kamu tidak segera masuk dan menemukan mayat ganas untuk dihabisi?"

"Jiujiu*!"

[Jiujiu: paman dari pihak ibu. Pengucapannya dengan dialek bahasa Indonesia adalah 'giugiu' atau 'gyugyu']

Itu pemimpin YunmengJiang, Jiang Wanyin. Kepura-puraan Wei Wuxian nyaris retak. Tuan muda yang dianggapnya sombong barusan adalah anak dari Shijie*-nya. Hal itu terbukti dari panggilan Jiang Wanyin pada tuan muda itu dan sebaliknya. Wei Wuxian bersyukur ia dapat menahan mulutnya dan menyembunyikan jati dirinya.

[Shijie: kakak perempuan dalam perguruan, tidak terikat hubungan darah]

Sungguh, Wei Wuxian benar-benar ingin tertawa. Keberuntungannya sangatlah buruk. Belum genap dua hari sejak ia dibangkitkan, ia sudah bertemu dengan orang-orang dari masalalunya. Dimulai dari bertemu dengan murid-murid dari sekte GusuLan di hari pertama tersadar, hingga kini ia harus bertemu Jiang Wanyin dan anak dari Shijie-nya.

Jiang Wanyin beralih menatapnya dengan tatapan tajam, membuatnya cepat-cepat memberi hormat kepada mantan Shidi*-nya itu. "Salam, pemimpin Jiang. Maafkan kelancangan saya, saya izin undur diri."

[Shidi: adik laki-laki dalam perguruan, tidak terikat hubungan darah]

Melihat anggukkan dari Jiang Wanyin, Wei Wuxian memilih pergi dan menyingkir ke pinggir sungai yang ditemuinya. Air sungai itu jernih, disekitarnya ada bambu-bambu yang tumbuh tidak teratur dan semak-semak penuh beri. Wei Wuxian sadar ia tidak memiliki alat kultivasi apapun hingga mengeluarkan pisau yang diambilnya dari kamar tidur Mo Ziyuan dan mulai menebang sebatang bambu lalu duduk di atas sebuah batu besar tidak jauh dari sana.

Ia mencoba membuat seruling. Setidaknya hingga ia mendapatkan alat kultivasinya kembali dan membentuk Jindan-nya, Wei Wuxian akan menggunakan seruling rapuh ini untuk berjaga-jaga.

Saat seruling itu sudah setengah jadi, Wei Wuxian dapat merasakan kedatangan seorang—tidak, tiga orang dari belakangnya. Mereka tidak memiliki niat jahat, hingga Wei Wuxian tidak meningkatkan kewaspadaannya dan menoleh untuk memuaskan rasa penasaran.

Sepasang remaja dan seorang pemuda dengan pakaian khas GusuLan yang ditemuinya kemarin di kediaman Mo tertangkap netranya, anehnya ada perasaan rindu sekaligus lega saat melihat salah satu wajah yang mirip seseorang itu. Jantungnya berdetak kencang dan pandangannya berkabut.

"Tuan muda Mo," pemuda yang ditemuinya maju mendekat dan membungkuk padanya, "Saya belum mengucapkan terimakasih pada anda atas bantuan anda kemarin."

Wei Wuxian tersenyum, "Aku sama sekali tidak membantu. Dan tolong panggil saja Xuanyu, aku bukan lagi seorang tuan muda. Ngomong-ngomong, siapakah nama kultivator muda ini?"

Pemuda itu menggeleng, "Itu tidak sopan bagi saya, tuan muda Mo." Ia membungkuk lagi dengan sopan, "Nama saya Lan Sizhui, nama kecil saya adalah Lan Yuan. Dibelakang saya ini adalah tuan muda Lan WangXian dan nona muda Lan WuJi, mereka adalah anak kandung dari Hanguang-Jun."

Wei Wuxian membeku mendengar nama kesopanan anak-anaknya. Nama-nama itu terdengar indah, Lan Wangji memang pintar memilih nama. Firasatnya benar. Remaja kembar tidak identik itu adalah putra-putri kandungnya. Anak-anak yang dilahirkannya dengan penuh perjuangan. Ah, Wei Wuxian menjadi sangat ingin memeluk dan mengusap puncak kepala mereka berdua. Dan bagaimana bisa ia melupakan A-Yuan? Keponakan Wen Qing yang diangkatnya sebagai anak itu sudah tumbuh besar hingga menjadi seorang pemuda yang tampan. Sayang sekali, Wei Wuxian telah memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya dari masa lalunya hingga dendam Mo Xuanyu terselesaikan.

"Apa yang sedang kamu lakukan?" terlalu larut dalam gelombang perasaan membuat Wei Wuxian tidak menyadari sosok Lan Wangji versi remaja telah melangkah mendekatinya dan memperhatikan serulingnya yang masih separuh jadi. Manik abu-abu yang begitu mirip dengan miliknya dulu menatap dengan binar penasaran. "Apakah kamu sedang membuat seruling?"

"Ah—ya, aku tengah membuat seruling. Lubang-lubang ini masih perlu dihaluskan." Wei Wuxian tidak dapat menahan senyumnya, putranya mirip dengan Lan Wangji, tapi sepertinya dia mengambil sifat cerianya. Sedangkan kembarannya lebih mirip dengannya versi remaja (dengan postur wajah lebih cantik dan halus, tentunya), dan tampaknya begitu pendiam. Hanya saja binar penasaran di manik emasnya tidak dapat disembunyikan.

Tangan Wei Wuxian dengan cekatan memoles lubang-lubang yang masih kasar hingga halus, lalu mencoba meniup beberapa nada secara acak. "Tidak buruk bukan, seruling buatanku ini?" Wei Wuxian bertanya kepada tiga orang di depannya, senyum ramah bercampur kebahagiaan masih terus terpasang di wajahnya.

"Bagus sekali! Tuan muda Mo, maukah kamu menyanyikan sebuah melodi? Kami ingin mendengarkan permainanmu! Iya kan, An? Yuan-gege*?" Lan WangXian tersenyum lebar, lalu duduk di samping Wei Wuxian tanpa canggung, diikuti Lan WuJi di samping lainnya. Lan Sizhui hanya tersenyum dan menegur mereka dengan lembut. "Ayolah, tuan muda Mo, kami ingin mendengarkan permainanmu!"

[Gege: kakak laki-laki]

"A-Xin, An, jangan terlalu memaksa tuan muda Mo."

Wei Wuxian tertawa dan mengibaskan tangan, "Tidak apa-apa, kurasa mereka terlalu antusias. Aku tidak keberatan. Nah, anak-anak, lagu apa yang ingin kalian dengarkan?" bagaimanapun, ia juga tidak kuasa menolak keinginan anak-anaknya.

Sebenarnya, baik Lan WangXian dan Lan WuJi tidak mengerti dengan diri mereka sendiri. Mereka merasa akrab dengan tuan muda Mo ini. Jantung mereka berdebar dan hati mereka terasa hangat saat tuan muda disamping mereka tertawa. Ada rasa antusias yang muncul bersama dengan kegembiraan yang aneh. Seolah-olah mereka telah lama menunggu untuk bertemu dengan orang ini.

"Apa saja, kami hanya ingin mendengar permainan anda." Itu adalah Lan WuJi yang menjawab. Ia begitu antusias dan penasaran. Mendadak tujuan mereka datang terlupakan begitu saja hingga Lan Sizhui juga tidak dapat menghentikan tingkah adik-adik angkatnya.

Mendengar perkataan Lan WuJi, Wei Wuxian memikirkan sebuah nada-nada hingga ia mengingat sebuah melodi. Diangkatnya seruling barunya dan meniup-niupnya sebelum memainkan sebuah melodi yang membuat tubuh ketiga orang lainnya membeku.

Tidak, bukan karena permainannya begitu sempurna tanpa kesalahan, namun karena melodi yang dibawakannya adalah melodi yang diciptakan oleh Lan Wangji untuk ibu mereka, Wei Wuxian. Lan WangXian dan Lan WuJi bertanya-tanya, bagaimana bisa tuan muda Mo mengetahui lagu itu? Mereka segera berpandangan seolah-olah bertukar pikiran.

Sedangkan Lan Sizhui teringat dengan kenangan masa kecilnya. Ia mengingat melodi itu dengan sangat jelas. Ia ingat sosok 'Xian-gege' yang selalu mengajaknya bermain dan memainkan seruling untuknya. Entah kenapa, Lan Sizhui dapat melihat sosok Wei Wuxian didalam tuan muda Mo. Postur mereka saat bermain juga sangat mirip, bahkan sama persis!

Saat melodi itu selesai, Wei Wuxian langsung menyadari ada yang aneh dengan reaksi mereka. Diam-diam ia menjerit panik didalam hatinya. Ia tadinya tidak memikirkan hingga terlalu jauh. Niatnya hanyalah untuk menyenangkan anak-anaknya. Sepertinya keputusannya untuk memainkan lagu dari Gusu adalah sebuah kesalahan. Cepat-cepat ia berdiri dan membungkuk sopan dengan senyum kecil, berniat pergi sebelum mereka mengintrogasinya. "Sudah saatnya aku pergi."

"Tunggu!" Lan WangXian langsung menahan lengannya sedangkan Lan WuJi menahan lengannya yang lain. "Beritahu kami, darimana kamu tahu lagu itu?"

Wei Wuxian tersenyum kecil, otaknya berusaha mencari alasan yang bagus agar bisa segera keluar dari situasi ini.

"Tuan muda Mo, ini hanya perasaan saya—tapi anda mirip dengan tuan muda Wei Wuxian, ibu angkat saya." Lan Sizhui ikut-ikutan. Ini membuat Wei Wuxian semakin panik.

"Ah-ahaha—aku hanya pernah tidak sengaja mendengar melodi itu dimainkan. Aku begitu menyukainya hingga akupun memainkannya untuk kalian." Wei Wuxian merutuk didalam hatinya, berharap dengan cemas bahwa kebohongannya tidak akan disadari. Pasalnya, Lan WangXian dan Lan WuJi terlihat tidak percaya.

"Ah! Disini kalian rupanya! Hanguang-Jun mencari kalian!" seorang murid Gusu lainnya mendadak keluar dari balik pohon, melambai dan meneriaki mereka.

Wei Wuxian menjadikan ini kesempatan untuknya, "Ayah kalian mencari kalian, segeralah kembali. Aku juga harus pergi." Ia mengusap kepala anak kembar itu dengan sayang, lalu mundur selangkah dan membungkuk sopan sebelum pergi ke arah yang berlawanan dengan mereka. "Sampai jumpa lagi," senyumnya.

Lan WangXian dan Lan WuJi terdiam saat merasakan kebahagiaan dan ketidakrelaan secara bersamaan. Batin mereka sama-sama meneriakkan kekesalan pada Lan Jingyi—teman Lan Sizhui. 'Senior Jingyi mengganggu sekali!'

###

Wei Wuxian menghela nafas kasar sambil menyentuh jantungnya. Rasanya mau mati saat anak-anaknya itu menatapnya penuh selidik. Anak-anaknya itu benar-benar memiliki gen Lan Wangji didalam diri mereka. Sungguh, bila tidak bertentangan dengan karakter yang sedang diperankannya, Wei Wuxian ingin sekali berteriak frustasi dan mengacak-acak rambut panjangnya.

'Nyaris saja. Lain kali aku harus lebih hati-hati. Tidak ada yang boleh tahu bahwa Patriak Yiling sudah hidup kembali. Dan apa tadi katanya? Hanguang-Jun mencari mereka? Itu artinya Hanguang-Jun juga ikut ada di perburuan gunung Dafan!' Wei Wuxian kini benar-benar ingin berteriak. Ia harus secepatnya pergi menjauh dan memanggil Wen Ning, mayat hidup yang diciptakannya. Ia terkenal dengan sebutan Jendral Hantu.

Mempertimbangkan adanya Jiang Wanyin dan Lan Wangji, Wei Wuxian memilih untuk menekan rasa penasarannya dan berbalik untuk menuruni gunung. Ia sedang tidak ingin mengambil resiko untuk bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya.

Wei Wuxian juga membutuhkan waktu untuk mengatur rencana. Pertama ia ingin berkultivasi di gunung yang penuh dengan energi spiritual untuk membentuk sempurna Jindan di tubuh barunya, lalu setelahnya ia ingin mencari tahu dua orang yang menjadi tujuan balas dendam Mo Xuanyu. Pemilik lama tubuh ini dengan bodohnya mengiris tangan dan perutnya sendiri. Lukanya sama sekali tidak menganggu, hanya saja terkadang terasa perih dan hal ini sedikit menganggu pergerakannya. Belum lagi Mo Xuanyu sama sekali tidak meninggalkan petunjuk untuknya. Ini membuat pergerakannya terbatas dan pikirannya menjadi buntu.

Karena terlalu sibuk memikirkan rencananya, Wei Wuxian sampai tidak menyadari bahwa ia telah berada di kaki gunung. Melihat hari yang telah gelap juga membuat Wei Wuxian memutuskan untuk memesan sebuah kamar di penginapan dan mengisi perutnya. Ia akan melanjutkan rencananya setelah makan dan beristirahat. Kakinya mulai terasa nyeri karena dipakai untuk berjalan naik-turun gunung. Belum lagi sebelumnya ia berjalan kaki dari desa Mo ke gunung Dafan.

Dengan pemikiran itupun ia naik ke atas pembaringan setelah makan dan melepas lapisan luar pakaiannya.

"Aku akan memanggil Wen Ning besok. Ia pasti mengikuti anak-anak itu dari jarak aman." Gumamnya sebelum jatuh terlelap.

###

Keesokan harinya, Wei Wuxian bagun dengan tubuh pegal. Sepertinya kakinya belum terbiasa dan fisik Mo Xuanyu benar-benar lemah.

Namun ia cukup terkejut karena bangun saat waktu menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Ini pertama kalinya Wei Wuxian dapat bangun pagi. Di masa lalu, ia sama sekali tidak dapat membuka mata jika belum jam sebelas. Tapi toh, Wei Wuxian tidak terlalu peduli. Ia memang bertekad untuk mengubah kebiasaannya agar lebih mudah berpura-pura.

Ia membersihkan diri kemudian turun untuk makan. Sambil menunggu pesanannya datang, Wei Wuxian memainkan serulingnya diantara jari dengan pikiran melayang. Ia bahkan sama sekali tidak menyadari tatapan intens yang tertuju padanya dari meja tidak jauh dari mejanya sendiri.

Wei Wuxian terlalu larut dalam pikirannya sendiri hingga tidak memedulikan sekitarnya. Saat makanannya datang, ia menyelipkan serulingnya di pinggang dan makan dengan tenang. Ia sibuk mengingat-ingat gunung yang dekat dari daerah ini namun memiliki energi spiritual yang cukup.

Suatu tempat muncul di pikirannya, membuatnya tersenyum puas tanpa disadari. Dengan cepat ia menyelesaikan acara makannya dan membayar. Setelahnya ia melangkahkan kaki keluar dari penginapan menuju gunung Dafan sambil bersenandung acak dan kembali memutar seruling bambunya.

###

Tbc.

Catatan:

xin - : baru;pemikiran filosofis;hati; bintang (Author mengambil kata hati)

ān - : tenang; selamat; aman; menenangkan; memasang; menambah; berniat (Author mengambil kata tenang)

WangXian - : Forgetting Envies (Melupakan Iri Hati)

WuJi - : Untamed/ Unrestrained (Bebas)