Mo Dao Zu Shi hanya milik Mo Xiang Tong Xiu (墨香铜臭)
Warning: EYD tidak benar (mohon bantuan koreksinya), Typo, OOC (terutama Wei Wuxian. Ini diperlukan untuk cerita), bahasa mandarin yang di Indonesiakan.
Jika tidak suka, tolong jangan dibaca. Terimakasih.
###
Di tengah perjalanan, Wei Wuxian menyadari bahwa dia sedang diikuti.
Penasaran siapa yang mengikutinya, Wei Wuxian dengan cerdik memanfaatkan gerobak-gerobak pedagang untuk menyelinap pergi. Setelah agak jauh, dari sudut persembunyiannya ia akhirnya tahu bahwa orang yang mengikutinya adalah Lan WangXian dan Lan WuJi. Hatinya langsung mendesah frustasi, 'ayolah anak-anak, jangan curigai aku lagi! Kepekaan Lan Wangji benar-benar menurun pada kalian rupanya. Tapi—arrrgh! Ayolah anak-anakku yang manis, jangan ikuti aku lagi!'
Bagaimanapun ia adalah ibu mereka. Ia yang mengandung dan melahirkan mereka. Wei Wuxian pun sebenarnya sangat ingin memeluk dan mencium mereka. Walaupun begitu ia harus dengan terpaksa menahan keinginannya. Setidaknya, sampai tugasnya selesai.
Wei Wuxian segera menyelinap pergi setelah memastikan bahwa anak-anaknya tidak lagi menemukannya. Kakinya masih kaku dan terasa kebas, tapi bukan Wei Wuxian jika tidak mengabaikannya. Ia masuk kekedalaman pohon-pohon rindang. Ini menyebabkan hawa terasa dingin dan remang-remang di sekitarnya. Untungnya tidak ada energi kebencian yang terasa.
Seruling kembali dipermainkan diantara jari sambil mencari sebuah dahan rendah untuk duduk. Ia tidak ingin benar-benar kelelahan. Setelah berjalan agak dalam akhirnya ia menemukannya. Sebelumnya Wei Wuxian telah memastikan dahan itu cukup kokoh sebelum duduk dan mulai meniup serulingnya.
Suara merdu terdengar dan disusul oleh suara besi yang bergemerincing. Wei Wuxian menghentikan permainannya dan menatap kearah sampingnya. Sesosok mayat ganas dengan rantai yang mengikat kedua pergelangan tangan dan kaki tengah melangkah kaku kearahnya. Rambutnya terurai kusut, bajunya lusuh dan robek di beberapa bagian. Ada garis-garis gelap yang menjalari pipi hingga lehernya. Manik matanya kosong, tapi gerakan wajahnya seolah menatap Wei Wuxian.
"Halo, Wen Ning, bagaimana kabarmu?" Wei Wuxian tersenyum dan menyapanya, dapat terlihat bahwa sosok yang disapa berusaha ikut tersenyum, yang nyatanya gagal karena otot-otot wajahnya telah kaku. Ia makin tersenyum saat Wen Ning membungkuk padanya. Setidaknya Wei Wuxian tidak perlu berpura-pura di depan mayat ganas ciptaannya di masalalu itu. "Aku membutuhkan bantuanmu."
"Tu-tuan muda Wei,"
Wei Wuxian mendesah dan menepuk-nepuk bahu Wen Ning yang masih saja memperlakukannya terlalu hormat. "Wen Ning, bisakah kamu membantuku untuk mengambil kembali alat-alat kultivasiku?" ia memikirkan keberadaan Suibian, "kamu pasti sudah tahu bahwa ChenQing ada di Lotus Pier. Aku ingin kamu mengambilnya tanpa ketahuan. Dan untuk Suibian... aku rasa kamu harus mencarinya di Koi Tower. Jin Guangshan pasti menyimpannya. Sekalian carikan aku info tentang hubungan Jin Ling dengan Mo Xuanyu, juga alasan Mo Xuanyu diusir dari Lanling."
Wen Ning hanya mengangguk patuh atas perintah semena-mena Wei Wuxian. Bagaimanapun ia juga senang karena setelah tiga belas tahun lamanya, Wei Wuxian akhirnya kembali. "Baiklah, tuan muda."
"Aku menunggumu di Yiling. Tepat di gua yang pernah kalian pakai untuk menolong kami. Jika aku tidak salah ingat, walaupun sedikit tandus bukit itu memiliki energi spiritual yang lumayan. Katakan Wen Ning, apa itu benar?"
"Itu benar, tuan muda Wei. Kalau bukit itu tidak memiliki energi spiritual, kami tidak akan mampu menolong anda dan pemimpin Jiang saat itu." Wen Ning terlihat gelisah sebelum memberanikan diri untuk bertanya, "Tu-tuan muda Wei, apa yang akan anda lakukan?"
Wei Wuxian mengetuk dagu dengan ujung serulingnya, "Aku akan berkultivasi dan membentuk inti Jindan sebelum menyelesaikan urusanku." Ia diam sejenak sebelum kembali membuka suara, "Wen Ning, bagaimana Wen Qing?"
"Jiejie* baik-baik saja, ia sekarang bekerja menjadi tabib di Gusu."
[Jiejie: kakak perempuan. Dalam bahasa Indonesia biasa terdengar 'Cicik' atau 'Cece']
"Apakah dia memberitahumu tentang anak-anak? Wen Qing pasti bercerita padamu kan?"
"... Tuan muda Lan Xin dan nona muda Lan An hidup dengan baik ... mereka sama seperti A-Yuan. Begitu berbakat dan tuan Lan Qiren katanya begitu menyayangi mereka."
"Apakah mereka nakal? Ceritakan padaku apa saja yang kamu ketahui!"
Wen Ning telah didesak untuk menceritakan semuanya dengan singkat, namun bagaimanapun ia tidak dapat menolak keinginan Wei Wuxian. Tuannya itu telah melewatkan terlalu banyak hal termasuk dengan tumbuh kembang anak-anaknya. Jadinya ia menceritakan segala yang diketahuinya, termasuk Wen Qing yang sebelum ini juga memegang posisi sebagai pengasuh dari Lan WangXian dan Lan WuJi.
Wei Wuxian mendengarkan kisah Wen Ning dengan sendu, lega, bahagia dan bersalah sekaligus. Jendral Hantu itu juga mengatakan tentang Lan Wangji yang terus menerus memainkan melodi Inquiry* selama tiga belas tahun setiap malamnya, berharap bahwa ia dapat menemukan roh Wei Wuxian dan dapat berkomunikasi dengannya.
[Inquiry: melodi khas Gusu untuk berkomunikasi dengan roh]
"Haah..." Wei Wuxian menghela nafasnya, bagaimanapun semuanya telah terjadi dan ia seharusnya sudah mati sebelum kembali dibangkitkan oleh Mo Xuanyu dengan mantra pengorbanan. "Wen Ning, apakah A-Xin dan An tahu tentangmu?"
"Mereka tahu... mereka sering meminta kepada saya untuk menceritakan tentang anda."
Wei Wuxian menjerit frustasi didalam hatinya saat mengetahui kenyataan ini. Ia harus benar-benar ekstra menyembunyikan identitasnya, karena Wei Wuxian mengerti karakter Lan Wangji. Pria itu pasti akan menyeretnya dan mengurungnya di Cloud Recessed agar tidak lagi seenaknya bepergian. "Wen Ning, kamu tidak boleh berbicara denganku atau terlihat mengenaliku. Jangan muncul saat aku berada di dekat orang lain, bahkan saat aku didalam bahaya. Kamu boleh muncul kalau hanya ada aku. Sekarang pergilah, ingat, jangan sampai ketahuan."
Namun Wen Ning tidak sepenuhnya pergi, "Tu-tuan muda Wei, apakah anda berniat untuk kembali ke Cloud Recessed setelah tugas anda berakhir?" tanyanya setelah menimbang-nimbang. "Ba-bagaimana dengan tuan muda Lan kedua?"
"Hm... aku belum tahu. Lebih tepatnya aku belum memikirkannya. Dan tentang Lan Zhan... hm, aku menyukainya sebagai seorang sahabat baik. Hanya saja aku belum bisa membalas perasaannya."
Wen Ning mengangguk-angguk, lalu setelah membungkuk hormat ia menghilang di balik pohon.
Sepeninggal Wen Ning, Wei Wuxian masih ingin beristirahat lebih lama. Ia meniup seruling bambunya untuk menghasilkan nada-nada acak tanpa menyinggung melodi Gusu dan merasa tidak puas karenanya. Namun perasaan itu menghilang dengan cepat karena ia merasakan hawa keberadaan orang lain di dekatnya.
Walaupun tubuh Mo Xuanyu ini lemah dalam kultivasi, kepekaannya terhadap hawa keberdaan manusia cukup mengagumkan. Wei Wuxian menimbang-nimbang ingin menyuruhnya keluar atau berpura-pura tidak tahu sebelum sosok dengan kain putih dan ikat dahi muncul dari balik pohon lebar. "Ha-hanguang-Jun?!"
'AAAA! APA YANG LAN ZHAN LAKUKAN DISINI?! TUNGGU, DIA TIDAK MENDENGAR PERCAKAPANKU DENGAN WEN NING KAN?!' batin Wei Wuxian langsung menjerit gila, ekspresinya retak dan Wei Wuxian terlalu terkejut untuk dapat memperbaikinya.
Wajah Lan Wangji masih tetap sama, datar dengan garis dingin. Keadaan sekitarnya cukup gelap untuk menyamarkan ekspresi, namun tatapan emas cair itu tetap menganggunya. Seolah-olah Lan Wangji dapat melihat dengan jelas segala yang dilakukannya.
Lan Wangji melangkah mendekatinya dan memberi hormat, membuat Wei Wuxian cepat-cepat membenahi ekspresi wjahnya dan turun dari batang dahan yang sebelumnya diduduki. "Salam, Hanguang-Jun." sapanya ikut memberi hormat, ia ingin segera undur diri namun tidak tahu apa yang harus diucapkannya. Akan sangat tidak sopan bila ia terkesan lari saat Lan Wangji terlihat jelas ingin menanyakan sesuatu padanya. "Apa ada yang ingin anda tanyakan kepada saya?"
Terkutuklah mulutnya. Terkutuklah kebiasaannya. Wei Wuxian mengerang dalam hatinya, 'mulut sialan, kenapa kamu tidak bisa menahan diri?'
"Kamu... kemarin." Lan Wangji menjeda sejenak sebelum melanjutkan ucapannya saat Wei Wuxian hanya merespon dengan pandangan bertanya. "Darimana kamu tahu nada itu?" yang dimaksud adalah melodi yang kemarin dimainkannya didepan anak-anaknya. Mereka pasti telah memberitahunya tentang ini.
Wei Wuxian hanya mampu tersenyum dengan wajah kaku, bagaimanapun ia sudah melupakan alasannya kemarin. Tidak mungkin baginya untuk berbohong lagi. "Maaf jika saya lancang memainkan lagu dari Gusu, bila Hanguang-Jun tidak berkenan, saya tidak akan memainkannya lagi." Ia memilih untuk memutar otak dan membalas pertanyaan dengan pertanyaan. 'Lan Zhan oh Lan Zhan, kenapa kamu begitu mempermasalahkan melodi kemarin? Apakah tidak ada orang di luar Gusu yang pernah memainkannya atau mendengarnya?'
Kening Lan Wangji membentuk kerutan samar, namun bibir tipisnya tetap bungkam. Ini membuat mereka berdua jatuh dalam keheningan yang tidak nyaman.
'Aiyo, Lan Zhan! Katakan sesuatu! Sial, apa aku sudah salah bicara? Suasana canggung ini tidak enak sama sekali!' Wei Wuxian mengumpat dalam hatinya, kembali memutar otak untuk dapat segera pamit dan pergi dari suasana aneh yang mulai terjadi. Topeng ramahnya mulai luntur hingga Lan Wangji merusaknya.
"Nada itu... khusus dibuat untuk ibu mereka."
Ekspresi Wei Wuxian kaku, mengetahui sebuah kenyataan yang menghantam hatinya dengan rasa bersalah yang berulang-ulang. Pada kenyataannya lagu itu untuknya, setidak peka itukah dirinya? Lan Wangji telah mengumamkan lagu itu untuknya jauh sebelum ia menjadi Patriak Yiling. Jauh sebelum Lan Wangji mabuk dan berakhir mengatakan perasaannya kepada Wei Wuxian sebelum menyentuhnya dibawah pengaruh alkohol. Wei Wuxian tanpa sadar jatuh dalam lamunan, tidak memedulikan Lan Wangji yang masih berdiri di depannya.
Ia tidak tahu harus berkata apa untuk membalasnya. Ucapan maaf? Itu terdengar aneh, karena Wei Wuxian tidak bersalah (setidaknya itulah yang dipikirkannya) karena ia tidak mengetahuinya sebelum ini.
Ledakan sinyal yang terdengar berhasil memutus lamunannya, baik Lan Wangji maupun Wei Wuxian menoleh ke sumber suara. Setidaknya suasana aneh diantara mereka telah hilang digantikan keseriusan. Energi dendam disekitar mereka mendadak meningkat hingga Wei Wuxian merasakan perasaan khawatir menyusupi hatinya. Firasatnya memburuk dan pikirannya otomatis mengarah pada Lan Xin dan Lan An.
Tanpa peduli dengan Lan Wangji, ia langsung berlari menuju arah sinyal itu diledakkan. Semakin mendekat, semakin kuat energi kebencian yang dirasakannya hingga luka pada tubuhnya sedikit bereaksi. Suara pedang yang berdentingan membuat Wei Wuxian tahu ia sudah dekat.
Sesampainya disana, Wei Wuxian melihat para kultivator tengah melawan patung dewi yang menari-nari. Energi kebencian yang pekat berasal dari sana. Wei Wuxian berusaha menekan rasa paniknya saat melihat Lan Xin dan Jin Ling tengah dicekik oleh patung dewi tersebut. Lan An dan beberapa kultivator lain berusaha melawan dan menghindari serangan-serangan lainnya, hanya saja tubuh patung itu terlalu penuh dengan energi gelap. Sehingga Wei Wuxian semakin khawatir dengan anak-anaknya. Hingga akhirnya mengangkat serulingnya dan menggunakan kultivasi gelapnya.
Suara serulingnya tajam dan memecah keributan, hanya saja cukup kuat untuk menahan pergerakan patung setan dan membuatnya melepaskan cekikkan pada Lan Xin dan Jin Ling. Kedua remaja itu lantas ditarik oleh Lan An dan Lan Sizhui untuk menjauh. Setelahnya Wei Wuxian langsung mengubah nadanya.
Ada yang aneh dengan patung dewi itu. Wei Wuxian meneliti sambil berjalan mundur dengan melodi penarik roh. Lengan sang dewi ada tiga, kakinya lincah menari-nari dan gerakan tubuhnya gemulai namun berbahaya. Kedua lengannya digunakan untuk menari ikut sedangkan lengan yang ketiga bergerak tidak wajar seolah-olah melindungi tubuh sang dewi.
Lan Wangji sudah mengeluarkan guqinnya, menyerang dengan melodi penekan sekaligus Bichen yang mencari titik lemah sang patung dewi. Tatapannya tajam mengarah ke lengan yang ketiga.
Srettt!
Klang!
Saat lengan ketiga berhasil ditebas oleh Bichen, Wei Wuxian langsung menggunakan kesempatan itu untuk menekan energi sang dewi, membuatnya retak dan hancur menjadi debu. "Cepat! Tangkap lengan setan itu!" suruhnya pada para kultivator.
Lan Sizhui lah yang pertama kali mendekat dan mengeluarkan kantong qiankun*. Tangannya membentuk segel dan menghisap lengan setan kedalam kantung untuk disegel sementara.
[Kantong qiankun: kantong untuk menyimpan benda-benda, dibuat dengan benang-benang mantra dan cukup kuat untuk menyimpan lengan setan itu]
Disaat yang bersamaan, Wei Wuxian merasakan nyeri menghantam perutnya. Luka pada lengannya juga turut sakit, membuatnya meringis dan memegang luka perutnya tanpa sadar. Pikirannya memikirkan tentang reaksi tubuh Mo Xuanyu yang aneh, mengabungkannya dengan kejadian barusan dan mendapatkan satu kesimpulan.
Dendam Mo Xuanyu berhubungan dengan lengan setan itu. Tapi dendam macam apa yang dapat membuat energi kebencian semacam ini?
Ia terlalu tenggelam dalam pemikirannya hingga sadar bahwa muird-murid Gusu telah mengelilinginya dan Lan Wangji—sejak kapan ia berdiri di sebelah Wei Wuxian?
"Kamu, kamu tidak apa-apa?" Lan Xin bertanya dengan wajah cemas, menarik kesadaran Wei Wuxian kembali utuh di tempatnya. "Kamu meringis dan memegang perut, hei! Wajahmu pucat!"
Wei Wuxian memaksakan senyum canggung, ia mati-matian menahan senyum lebarnya saat rasa nyeri pada tubuhnya berangsur-angsur menghilang. "Aku baik-baik saja, jangan terlalu khawati—uhuk!" sayangnya rasa besi yang kental memenuhi mulutnya hingga membuatnya terbatuk dan berakhir dengan muntah darah. Kepalanya pusing dan pandangannya memburam, tubuhnya juga mendadak lemas dan keseimbangannya goyah.
Ia sudah bersiap menghantam tanah sebelum tangan kokoh melingkari bahunya. Itu adalah Lan Wangji dan Lan An yang menahan tubuhnya. Entah mengapa keadaan disekitarnya malah terdengar semakin ramai hingga di akhir kesadaran yang semakin menipis, Wei Wuxian menemukan Lan Wangji tengah menatapnya dengan pandangan khawatir.
Diam-diam Wei Wuxian tersenyum di sisa-sisa kesadarannya, 'apakah kamu sudah mengenaliku?' tanyanya dalam hati.
###
Tbc.
