Mo Dao Zu Shi hanya milik Mo Xiang Tong Xiu (墨香铜臭)
Warning: EYD tidak benar (mohon bantuan koreksinya), Typo, OOC (terutama Wei Wuxian. Ini diperlukan untuk cerita), bahasa mandarin yang di Indonesiakan.
Jika tidak suka, tolong jangan dibaca. Terimakasih.
###
Tubuh Mo Xuanyu itu lemah baik dalam hal kultivasi ataupun fisiknya. Wei Wuxian hanya menggunakan sedikit energi spiritualnya untuk menekan patung dewi dan memikatnya. Namun ia dengan cepat muntah darah dan berakhir kehilangan kesadarannya. Luka sayatan di perutnya yang masih belum mengering sempurna juga menambah parah keadaan tubuhnya.
Saat ia membuka mata, yang pertama kali dilihatnya adalah langit-langit yang terbuat dari kayu gelap. Kamar asing yang ditempatinya hanya menyisakan kesendirian tanpa tanda-tanda orang lain. Wei Wuxian menerka-nerka, siapa yang mambawanya ke tempat ini?
Nama Lan Wangji lewat di kepalanya, Wei Wuxian mendesah lemah. "Apakah dia benar-benar sudah mengenaliku..." ia berusaha duduk dan menyentuh perutnya yang terluka, merasa terkejut akan adanya perban yang melingkari. Luka sayatan di perutnya telah di rawat dengan sangat baik.
Wei Wuxian mengedarkan pandangan dan menemukan pakaian luarnya diatas sebuah meja pendek. Seruiling bambunya juga ada diatasnya. Ia segera mengambilnya dan mengenakannya, berpikir untuk segera melarikan diri. 'Bisa gawat kalau Lan Zhan benar-benar mengenaliku. Aku tidak ingin diseretnya ke Gusu!' batinnya menjerit. Sayangnya belum sempat rencana dadakannya terlaksana, pintu kamar telah terbuka dan Lan Wangji muncul dibaliknya dengan nampan berisi makanan di atasnya.
Memikirkan kemungkinan lainnya, Wei Wuxian lebih memilih untuk melanjutkan kepura-puraannya. Ia bersopan-santun pada Lan Wangji dan berterimakasih atas bantuan yang telah diberikan pria itu. "Terimakasih, Hanguang-Jun, atas bantuan anda kepada saya." Wei Wuxian masih memikirkan alasan untuk pergi sebelum Lan Wangji mulai menata makanan yang dibawanya tadi keatas meja rendah dan duduk dengan tenang.
"Makan." Ucapnya singkat. Wei Wuxian tahu ia tidak dapat menolak atau Lan Wangji akan semakin menaruh curiga kepadanya. Jadi dengan setengah hati ia menurut dan mengikuti cara duduk Lan Wangji yang kaku. Maniknya menatap makanan yang tersaji diatas meja, hanya sayur dan sup. Hatinya mengumpat seketika. 'Lan Zhan oh Lan Zhan, hanya ada sayur disini? Kenapa kamu tidak memberiku daging? Dan demi kemarahan Lan Qiren, Lan Zhan! Cara duduk sektemu ini membuat punggungku sakit!'
Wei Wuxian memutar otaknya dan menatap Lan Wangji yang duduk didepannya, dengan wajah seolah terheran ia bertanya dengan ramah dan nada tidak nyaman. "Hanguang-Jun tidak ikut makan?" ia ingin menggodanya, hanya saja tidak bisa. Jadi Wei Wuxian mati-matian menahan diri dan hanya menampilkan senyum ramah. "Akan tidak sopan bila hanya saya yang memakan makanan ini. Kenapa Hanguang-Jun tidak menemani saya?"
Kening Lan Wangji sedikit mengerut sebelum mengangguk dengan anggun. Menyetujui permintaan Wei Wuxian. Dalam hatinya merasa asing dengan sosok di depannya. Ini di luar harapannya, ia tidak berharap tuan muda Mo akan begitu ramah dengan kesopanan yang dijunjung tinggi.
Mereka makan didalam hening, Wei Wuxian masih mengingat peraturan GusuLan untuk tidak bicara saat makan jadi ia berusaha menahan dirinya untuk mengeroyok Lan Wangji dengan berbagai pertanyaan hingga makanan mereka habis.
"Hanguang-Jun, lengan setan yang tadi ditangkap oleh sekte Lan, bolehkah saya tahu apa yang membuatnya sekuat itu?" ia bertanya setelah meminum secangkir teh. "Tidak apa-apa bila anda tidak ingin memberitahu saya."
Lan Wangji diam dengan dingin hingga berucap singkat tentang Yin Hufu*, ini membuat Wei Wuxian tercekat. Hal itu tidak luput dari emas cair Lan Wangji yang diam-diam selalu memperhatikan setiap bentuk ekspresi wajahnya. "Yin Hufu? Bukankah We—Patriak Yiling sudah menghancurkannya hingga menjadi debu tiga belas tahun yang lalu?"
[Yin Hufu: bisa di sebut juga sebagai 'segel harimau yin'. Alat ini adalah alat kultivasi Wei Wuxian yang sangat kuat dengan energi kebencian yang meluap. Kekuatannya melebihi kekuatan penciptanya, Wei Wuxian. Hingga Wei Wuxian menghancurkannya hingga menjadi debu saat perang di masa lampau.]
Keduanya jatuh dalam hening sesaat setelah Lan Wangji mengangguk. Ini membuat Wei Wuxian kembali jatuh dalam pemikirannya sendiri. Tubuh lemah Mo Xuanyu ini bereaksi dengan lengan setan, sedangkan lengan setan memiliki hubungan dengan Yin Hufu. Kemungkinannya sangat besar jika dendam Mo Xuanyu berhubungan dengan orang yang mengendalikan Yin Hufu. Ia lagi-lagi mendesah pelan. 'Bahkan setelah Yin Hufu telah dihancurkan sesaat sebelum aku mati, masih ada yang membuatnya ulang. Orang ini benar-benar...'
Lamunannya terputus saat menyadari Lan Wangji memperhatikannya. Cepat-cepat ia memperbaiki ekspresinya yang sempat retak, "Terimakasih karena Hanguang-Jun telah menjawab pertanyaan saya. Terimakasih juga karena telah merawat luka-luka saya." Ia membungkuk, memberikan ucapan terimakasihnya dengan tulus.
"Kamu... kamu akan pergi kemana?" entah kenapa Lan Wangji merasa harus membawa tuan muda Mo ini ke Gusu, atau setidaknya menemaninya. Firasatnya mengatakan bahwa ia kenal dengan jelas orang didepannya. Namun ia masih belum yakin tentang itu.
Pertanyaan Lan Wangji membuat tubuh Wei Wuxian menjadi kaku, tidak menyangka akan diberikan pertanyaan semacam itu. Namun ia tetap menjawabnya dengan sopan, "Saya akan pergi ke daerah Yunmeng. Saya memiliki sedikit urusan disana." Wei Wuxian tidak mengerti kenapa ia harus mengatakan tujuannya dengan jelas. Tapi entah mengapa ia tidak dapat berkilah didepan emas cair yang menatapnya lurus.
"Mn." Pria Lan didepannya mengangguk, entah kenapa merasa puas. "Kami akan menemui pemimpin Jiang." Pernyataannya ini mendapat anggukan dan senyum kecil dari Wei Wuxian. Dalam hatinya menjerit-jerit gila karena harus bersama dengan Lan Wangji lebih lama.
'Untuk apa kamu menemui Jiang Cheng?! Lan Zhan oh ya Lan Zhan. Kenapa kamu seolah-olah tidak ingin melepasku?! Dari sikapnya aku yakin dia belum mengetahui identitasku, tapi kenapa dia ingin bersamaku?!' Wei Wuxian pura-pura berpikir dan kembali melontarkan pertanyaan, berusaha mengetahui apakah anak-anaknya akan mengikuti atau tidak. "Apakah putra-putri anda akan ikut dengan anda? Atau mereka akan kembali ke Gusu?"
"En, mereka merindukan nona Jiang Yanli. Yang lain ke Gusu."
Mendengar nama Shijie-nya membuat tubuh Wei Wuxian membeku. Wen Ning sama sekali tidak menjelaskan tentang anak-anaknya dan Jiang Wanyin yang sudah saling mengetahui kalau mereka adalah keluarga. Tatapannya perlahan menyendu dengan senyum sedih mengetahui betapa banyak yang telah dilewatkannya.
Lan Wangji menyadari tatapan Wei Wuxian yang sedih, ikut merasa sedih karenanya. Ia tidak tahu mengapa, hingga akhirnya hanya membereskan bekas makan mereka dalam diam dan pergi meninggalkan Wei Wuxian seorang diri.
Wei Wuxian menghela nafasnya dan mengambil serulingnya, entah sudah berapa kali ia menghela nafas seharian ini? Semuanya begitu mendadak baginya. Kini ia hanya dapat berharap bahwa ia tidak dengan ceroboh menggumamkan sesuatu saat pingsan. Keadaan akan semakin sulit bila Lan Wangji benar-benar sudah mengetahui identitasnya.
###
Keesokan harinya mereka berangkat menuju wilayah Yunmeng setelah sarapan. Seperti ucapan Lan Wangji, separuh dari murid-murid GusuLan mengambil arah yang berbeda dengan mereka. Hanya menyisakan Jin Ling, anak-anaknya dan Lan Wangji sendiri.
Wei Wuxian tidak memiliki keberanian untuk berjalan bersebelahan dengan Lan Wangji, sehingga ia lebih memilih untuk berjalan disamping Lan Sizhui. Anak-anaknya, Lan WangXian dan Lan WuJi juga tampaknya menaruh rasa penasaran kepadanya. Sehingga Wei Wuxian tidak ingin bertindak aneh-aneh dan hanya menanyakan pertanyaan basa-basi dengan kesopanan. "Aku penasaran, tuan muda Jin, kenapa kamu tidak bersama dengan pemimpin Jiang?"
Jin Ling melipat tangannya didepan dada sebelum menjawab dengan ketus. Terlihat jelas bahwa ia tidak menyukai Wei Wuxian. "Jiujiu sudah kembali kemarin. Kemana saja kamu sampai kamu tidak mengetahuinya?!" ucapan ketusnya mengundang tatapan kesal Lan WangXian dan Lan WuJi yang berjalan didepan mereka. Kedua anak kembar itu entah kenapa tidak menyukai nada bicara sepupu mereka pada Mo Xuanyu. Sedangkan Lan Sizhui yang ada di tengah-tengah Wei Wuxian dan Jin Ling tampak tidak nyaman.
Wei Wuxian tidak sakit hati, namun sangat ingin membalas ucapan ketus itu. Sayangnya ia mengingat rencananya dan akhirnya menahan diri. Hanya tersenyum maklum kepada remaja itu. 'Sikapnya ini mengingatkanku kepada ayahnya dan Jiang Cheng.' Batinnya sambil mengingat-ingat merak sialan yang telah menikahi Shijie-nya itu.
Perjalanan dari daerah Hunan ke Yunmeng memakan waktu setengah hari karena tidak menggunakan pedang. Ini membuat Wei Wuxian dan Lan WangXian jatuh dalam kebosanan. Wei Wuxian bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa mereka tidak menggunakan pedang saja untuk pergi ke Yunmeng? Mereka bisa meninggalkannya (itu yang diinginkannya agar dapat bebas berekspresi) dan sampai lebih cepat.
"Hei, aku penasaran dengan patung kemarin. Bagaimana caramu menghentikannya hanya dengan nada-nada itu?" Lan WangXian yang sudah tidak tahan mulai melemparkan pertanyaan kepada Wei Wuxian, "Kenapa kamu bisa menahan energi gelap itu? Oh apa kamu sudah lebih baik? Ayah bilang kemarin luka goresan pada perutmu cukup parah."
Lan WuJi yang berjalan disampingnya menimpali, suaranya halus dan tipis. Terdengar lembut layaknya perempuan terhormat (yang nyatanya ia memang dari keluarga terhormat.) "A-Xin, pelan-pelan."
Wei Wuxian tertawa kecil, anak-anaknya memang manis. Ia jadi ingin menggoda mereka. Namun menahan keinginan karena ada Lan Wangji yang melangkah didepan sana. "Tuan muda, aku—" belum sempat Wei Wuxian menyelesaikan jawabannya, Lan WangXian sudah memutus ucapannya.
"Jangan panggil aku tuan muda. Panggil saja namaku, Lan Xin. Oh, dan ini adik kembarku, Lan An. Tolong jangan terlalu kaku pada kami seperti kakek Qiren itu!" Lan Xin terlihat jelas tidak menyukai kakeknya sendiri, dan itu membuat senyuman Wei Wuxian melebar. Terlebih Wei Wuxian memang ingin memanggil anak-anaknya tanpa kesopanan yang berlebihan.
Uh, oh, dia mendapat partner seperjuangan.
"Baiklah, Lan Xin. Panggil saja aku Xuanyu. Senang bertemu denganmu lagi." Wei Wuxian menautkan kedua tangannya dibelakang tubuh, tertawa kecil hingga matanya menyipit. "Aku memiliki kultivasi bengkok, itu sebabnya aku dapat mengendalikannya. Dan aku baik-baik saja sekarang." Ia mengakuinya dengan gamblang.
Jin Ling yang menutup mulutnya sedari tadi akhirnya ikut bertanya. Melihat sepupu-sepupunya yang entah bagaimana menyukai Mo Xuanyu ini membuatnya merasa tersisihkan. "Aku penasaran. Kalau kamu normal seperti ini, kenapa dulu kamu bisa melakukan hal gila saat masih ada di Lanling?"
Wei Wuxian tidak tahu apa yang sudah pernah di perbuat Mo Xuanyu saat masih tinggal di Lanling. Jadinya ia balas bertanya dengan nada kebingungan yang jelas. "Memangnya apa yang sudah aku lakukan hingga aku diusir?"
Pertanyaannya mengundang tatapan aneh para remaja itu. Bahkan Lan Wangji sampai repot-repot berhenti melangkah dan berbalik menatapnya. "Kamu tidak ingat?" Lan Xin bertanya dengan ekspresi tidak percaya.
Menyadari keanehan ini Wei Wuxian cepat-cepat memutar otaknya dan menambah pertanyaan. "Ada yang salah? Sebagian ingatanku menghilang, jadi aku tidak mengingat beberapa kejadian lain. Aku hanya ingat bahwa aku selalu diperlakukan dengan buruk di rumah Mo." Memang pada kenyataannya hanya itu yang ia ingat. 'Tentu saja aku tidak mengingatnya! Selain karena ingatanku begitu buruk, aku bukan orang yang melakukannya!'
"Oh, pantas saja kamu tidak mengenaliku saat itu." Kata-kata Jin Ling merujuk pada pertemuan pertama mereka di gunung Dafan. "Kukira kamu menyombong karena bebas dari rumah Mo itu."
'Justru kamulah yang menyombong!' Wei Wuxian menahan bibirnya yang ingin mengucapkan itu. Ia tidak ingin menambah masalah dalam rencananya. Jadinya ia hanya tersenyum dan berpura-pura merasa bersalah.
Lan Xin dan Lan An terlihat tidak percaya. Hanya saja mereka menutup mulutnya karena Lan Wangji sudah melanjutkan langkahnya. Kecanggungan yang tidak nyaman kembali mengudara sebelum Lan Xin memecahnya dengan pertanyaan "Xuanyu, kenapa kamu memilih kultivasi gelap daripada kultivasi lurus?"
Ia hanya ingin mengetahui alasan ibunya mengambil kultivasi bengkok. Setidaknya dengan mendengarkan alasan Mo Xuanyu, mungkin ia akan dapat sedikit mengerti tentang ibunya. Sayangnya pertanyaannya terkesan sangat tidak sopan hingga Lan Wangji menatapnya penuh peringatan. "Lan Xin."
"Aku hanya ingin tahu alasannya! Mungkin dengan begitu aku dapat mengetahui tentang ibu lebih jauh..." Wei Wuxian hanya dapat tersenyum mendengarnya. Ia mengerti anaknya itu hanya ingin mengetahui alasan yang tidak akan pernah diberitahukannya. "Xuanyu, ibu kami mengambil kultivasi gelap. Aku hanya ingin mengetahui alasannya mengambil jalan itu!"
"Lan WangXian." Lan Wangji memanggil dengan penekanan, terlihat sedih dan sakit sekaligus. Wei Wuxian cepat-cepat menjawab pertanyaan Lan Xin sebelum sisa perjalanan hari ini menjadi semakin buruk.
"Lan Xin, aku rasa ibumu mengambilnya karena tidak memiliki pilihan. Tuan muda Wei Wuxian terkenal dengan kehebatannya di masa muda. Pasti ada alasan dibalik semua perliakunya. Dan tentang aku, sekalipun aku mengambil jalan ini, itu tidak ada urusannya denganmu kan?" ia menjelaskan dengan senyuman sakit yang terulas, tatapan ramahnya berubah sendu dan kepalanya sedikit menunduk.
Orang-orang Lan yang mendengarkan jawabannya merasakan sakit yang sama di hati mereka. Lan Xin yang juga melihat ekspresi Wei Wuxian segera merasa bersalah. Hatinya tertusuk duri tidak kasat mata. Ia baru saja ingin meminta maaf saat tangan Wei Wuxian telah menepuk pundaknya dengan hangat.
"Maaf, tidak seharusnya aku mengatakan itu." Tatapan ramahnya kembali. Wei Wuxian tahu ia tidak seharusnya menyakiti hati anak-anaknya dengan ucapannya. Namun Lan Xin juga merasa bersalah sehingga segera meminta maaf atas kata-katanya yang kurang ajar.
"Maafkan aku atas ucapanku yang tidak sopan, Xuanyu. Aku mohon."
Wei Wuxian tentu saja memaafkannya. Setiap anak pernah berbuat kesalahan dan Wei Wuxian berharap bahwa Lan Xin akan belajar dari kesalahannya ini. Dengan hangat diusapnya puncak kepala putranya itu sambil tertawa kecil, "Tidak apa-apa, lain kali jangan diulangi lagi ya." Perilakunya itu sukses meninggalkan rasa hangat dan bahagia yang aneh pada hati Lan Xin.
###
Mereka sampai di kota pinggir Yunmeng beberapa jam kemudian. Wei Wuxian menyadari banyak hal yang telah berubah pada kota ini. Ia tidak bisa tidak merasa sedih karenanya. Langkahnya berhenti di pinggiran pelabuhan, memperhatikan Lan Wangji yang menyewa satu perahu untuk membawa mereka ke Lotus Pier.
Tubuhnya membungkuk dan melangkah mundur. Memasang sikap hormat dan tersenyum ramah setelahnya. "Terimakasih atas perjalanannya, tujuan saya berada di kota ini."
Untuk beberapa saat, Lan Xin dan Lan An bertukar pandangan, "Xuanyu, kamu tidak mau ikut kami untuk mampir di Lotus Pier?"
"En, ikutlah dengan kami." Lan An meminta dengan pandangan berharap.
'... aih, anak-anakku yang manis, kalian tidak ingin berpisah denganku. Aah! Aku ingin memeluk kalian!' Wei Wuxian menahan jeritannya didalam hatinya, hanya tersenyum lebar sambil menggeleng. "Urusanku ada disini."
"Kami bisa menunggu hingga urusan anda selesai, tuan muda Mo." Lan Sizhui mengikuti keinginan adik-adiknya, sejujurnya ia sendiri merasa familiar dengan kehangatan dalam kata-kata Mo Xuanyu. "Ikutlah dengan kami."
Namun Wei Wuxian lagi-lagi menggeleng, "Aku akan lama berada di sini. Maafkan ketidaksopananku, tapi tolong izinkan aku pergi." Ia meminta, 'ayolah anak-anakku yang manis, biarkan ibumu ini pergi dan akan masalah ini akan semakin cepat selesai.'
###
Tbc.
