Mo Dao Zu Shi hanya milik Mo Xiang Tong Xiu (墨香)

Warning: EYD tidak benar (mohon bantuan koreksinya), Typo, OOC (terutama Wei Wuxian. Ini diperlukan untuk cerita), bahasa mandarin yang di Indonesiakan.

Jika tidak suka, tolong jangan dibaca. Terimakasih.

###

Setelah beberapa bujukan lembut (dan erangan frustasi dalam hatinya), akhirnya anak-anaknya itu mau melepaskan Wei Wuxian. Mereka menaiki perahu untuk sampai ke Lotus Pier. Wei Wuxian hanya menemani mereka di pinggir dermaga sambil melambaikan tangan hingga mereka menghilang dari pandangan. Setelahnya Wei Wuxian mulai mengambil langkah menuju pasar untuk membeli beberapa perbekalan.

Uangnya mulai menipis—entah kenapa. Wei Wuxian tidak tahu apakah ia mengambil terlalu sedikit atau hanya terlalu boros dalam membelanjakannya. Jika begini terus, Wei Wuxian tidak yakin dapat hidup selama beberapa bulan kedepannya. Tapi mengingat bahwa ia hanya akan berkultivasi—dimana ia hanya perlu bermeditasi dan mengasah energi spiritualnya, Wei Wuxian merasa cukup.

Sehabis membeli perbekalan yang cukup (termasuk arak, tentunya) dan memasukkannya kedalam kantung qiankun, ia bersenandung sambil menumpang pada kereta barang. Wei Wuxian mengingat apa yang dulu pernah di lakukannya dan berharap bahwa uang yang dulu diambilnya dari sekte Wen masih tersisa di Burial Mounds.

Ia sama sekali tidak tahu ada kekacauan yang terjadi di Lotus Pier akibat ulahnya.

###

Umpatan dan teriakan penuh amarah terdengar dari aula Lotus Pier. Ini membuat Lan Wangji, Lan Sizhui, Jin Ling, dan kembar Lan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan Pemimpin Jiang.

"Pe-pemimpin Jiang sedang murka—ada penyusup yang masuk dan-dan—" salah satu murid YunmengJiang yang menyambut mereka terlihat gelagapan. Ia tidak tahu bahwa orang-orang Lan akan berkunjung disaat yang sangat tidak tepat.

"Dan apa?! Cepat katakan! Apa yang terjadi sesuatu pada ibuku?!" Jin Ling yang tidak sabar menarik baju depan murid itu. Hatinya dirayapi rasa panik. Takut bila penyusup yang berhasil masuk itu telah melukai ibunya.

"Seruling Chenqing—itu-itu—hilang!"

Detik itu juga Lan Xin dan Lan An berlari masuk kedalam Lotus Pier tanpa memedulikan aturan pada sekte mereka sendiri. Jin Ling mendengus, melepaskan baju murid itu dan kembali bertanya, sedangkan Lan Sizhui mengejar adik-adiknya setelah menunduk pada Lan Wangji. "Bagaimana itu bisa hilang? Penyusup itu belum tertangkap?!"

Murid itu menggeleng, mengundang decihan dari Jin Ling. Ia menoleh ke arah Lan Wangji yang sudah mengeluarkan aura beku. Raut wajahnya yang datar semakin datar dan Jin Ling dapat merasakan tatapan murka disana. Remaja itu semakin ngeri saat Lan Wangji balas menatapnya dengan luar biasa dingin.

"Ha-hanguang-Jun..."

"Bawa aku masuk."

Detik itu Jin Ling tahu, ia tidak boleh berbicara atau melakukan sesuatu yang akan menyinggung Lan Wangji. Akibat yang akan ditimbulkan akan terlalu mengerikan.

###

Suasana di aula Lotus Pier begitu tegang, penuh hasrat membunuh yang mengerikan. Jiang Yanli kebingungan untuk menenangkan Lan kembar yang menangis karena hilangnya seruling hitam peninggalan Wei Wuxian. Jin Ling hanya mampu mendengus, sedikit banyak memikirkan akan melakukan hal yang sama semisal pedang peninggalan ayahnya dicuri. Lan Sizhui ikut membantu Jiang Yanli sedangkan Lan Wangji dan Jiang Wanyin tengah beradu pandang.

Selama ini, Chenqing diletakkan di aula utama. Tidak ada yang akan berani menyentuhnya karena aula utama adalah tempat dimana murid-murid YunmengJiang hilir mudik didepan pintu masuknya. Juga tempat dimana Jiang Wanyin paling banyak menghabiskan waktunya.

Namun hari ini, Chenqing mendadak hilang. Tidak ada yang tahu kapan pastinya penyusup itu datang dan pergi. Tidak ada jejak yang tertinggal dan tidak ada barang lain selain Chenqing yang hilang.

Lan Wangji begitu murka. Ia marah pada Jiang Wanyin karena kelalaiannya. Andai saja Wei Wuxian tidak meminta agar Chenqingnya dijaga oleh Jiang Wanyin, Lan Wangji sudah pasti memintanya untuk membawanya bersamanya.

Jiang Yanli sendiri merasa sangat sedih dan kecewa dengan dirinya sendiri. Terutama saat melihat keponakannya sendiri menangis dengan wajah kecewa dan amarah yang menyertai. Bagaimanapun, itu adalah satu-satunya benda peninggalan Wei Wuxian yang masih ada. Mereka tidak memiliki yang lain selain Chenqing, karena Suibian juga telah menghilang keberadaannya. Tidak ada yang tahu dimana alat-alat kltivasi Wei Wuxian itu berada saat ini.

###

Di sisi lainnya, Wei Wuxian telah sampai di tempat tinggalnya bersama sekte Wen dulu, Burial Mounds.

Tempat itu kini telah hancur berantakan. Array yang dipasang Wei Wuxian telah diruntuhkan oleh alat spiritual belasan tahun yang lalu. Saat naik keatas, tempat yang dulunya pernah menjadi tempat tinggal itu telah menjadi abu. Sisa-sisa abu gelap masih tersisa, gua-gua juga belum runtuh sepenuhnya. Hanya saja suasana di tempat itu begitu suram.

Wei Wuxian mengelilinginya beberapa kali hingga akhirnya memutuskan untuk masuk ke celah gua yang pernah menjadi ruangannya. Didalamnya masih sama, hanya saja lebih berantakan dan kotor. Kertas-kertas mantra masih bertebaran, kain-kain berbercak darah yang digunakannya selama persalinan pun masih ada disana.

'Tempat ini telah hancur. Tapi ini lebih baik. Bagaimanapun saat itu adalah saat-saat terberat bagi kami semua.' Wei Wuxian mengusap kain kusam yang tergeletak diatas rumput-rumput kering yang dulu menjadi pembaringannya, lalu melangkah menuju celah kecil dibaliknya. Tangannya meraba-raba celah itu dan menemukan beberapa kantung sekepalan tangan. Saat dibuka, isinya adalah batu perak dan emas. Dengan semua uang ini dia akan hidup berkecukupan hingga satu tahun kedepan.

Wei Wuxian mengambil dua kantong dari lima kantong yang ada. Membiarkan sisanya untuk keperluannya dimasa mendatang. Setelahnya ia kembali turun dan melangkahkan kakinya menuju gua tempat perjanjiannya dengan Wen Ning.

Dendam Mo Xuanyu memang harus segera diselesaikan. Tapi membentuk kembali stamina dan Jindan pada tubuh ini jauh lebih penting.

Perjalanannya tidak memakan waktu terlalu lama. Jarak antara Burial Mounds dan gua tersembuyi itu memang jauh, namun bukan Wei Wuxian namanya bila tidak dapat menemukan alternatif mudah untuk menapai tujuannya. Di gua yang dijanjikan, Wen Ning telah menunggunya dengan Chenqing di tangan.

"Tu-tuan muda Wei..." jendral hantu itu langsung menunduk dan menyerahkan Chenqing pada Wei Wuxian.

Wei Wuxian mengambil Chenqingnya, mengetahui bahwa seruling itu masih terawat dengan baik. Ia tidak dapat menahan senyum kecil yang terulas. "Mereka merawatnya dengan sangat baik..." ujarnya. Lalu Wei Wuxian menyalurkan energi spiritualnya untuk mengubah ukiran gelap pada badan Chenqing.

Seruling yang berwarna hitam pekat itu kini terdapat garis-garis merah pada bagian tubuhnya. Lalu gantungan rumbai merah yang dipasangi giok berwarna hijau dilepasnya dan diganti dengan rumbai berwarna biru dan giok putih. Warnanya menjadi sangat kontras dengan warna merah dan hitam pada tubuh Chenqing.

"Namanya sekarang adalah Heise*." Ia menggumamkan dengan puas. Bila ada yang mengenali serulingnya sebagai Cheqing, bisa-bisa terjadi keributan. Itu sebabnya ia mengubah bentuk Chenqing dan mengganti namanya. Wei Wuxian baru saja ingin memainkan Heise diantara jemarinya saat rasa pusing dan besi memenuhi indranya. "Huek!" lagi-lagi Wei Wuxian memuntahkan seteguk darah, membuat Wen Ning cepat-cepat menopang tubuh Wei Wuxian yang melemah.

[Hēisè - 黑色: hitam. Wei Wuxian hanya menambahkan namanya, menjadi Chenqing Heise]

"Tuan muda Wei! Anda berdarah-!" Wen Ning terhenti saat Wei Wuxian hanya melambaikan tangan dengan tawa kecil.

"Aku baik-baik saja. Hanya perlu beristirahat sebentar karena tubuh ini terlalu lemah dengan energi spiritual." Wei Wuxian duduk bersandar pada dinidng gua dibantu Wen Ning, terkekeh kecil karenanya. "Katakan, sejak kapan A-Xin dan An tahu bahwa Jiang Cheng adalah paman mereka?"

"Saat mereka berusia sebelas tahun, tu-tuan muda Wei. Pemimpin Lan yang membawa mereka dan memperkenalkannya kepada pemimpin Jiang. Pe-pemimpin Lan sendiri yang menjelaskan bahwa tuan muda Xin dan nona muda An adalah anak anda dengan tuan muda Lan kedua." Wen Ning menjeda ceritanya, "saya tidak tahu detailnya, ta-tapi sejak saat itu mereka sering bertanya tentang anda dan pemimpin Jiang di masa lalu kepada saya dan jiejie."

Wei Wuxian telah menepuk jidatnya, "Kenapa kamu baru menceritakannya? Kamu tahu, aku nyaris saja ketahuan! Haah. Info apa lagi yang perlu aku ketahui? Apa yang kamu dapat tentang Mo Xuanyu?"

Nyali Wen Ning telah menjadi ciut karena Wei Wuxian memarahinya, tapi ia tetap mengatakan apa yang diketahuinya. "Se-seminggu setelah kematian anda, jiejie mengatakan kalau tuan muda Lan kedua membuat sebuah altar disamping Jingshi*. Dari kabar yang terdengar, ada seseorang yang memberikan abu tuan muda Wei kepada tuan muda Lan kedua."

[Jingshi: ruang sunyi, kediaman Lan Wangji]

"Itu pasti dia. Sosok gelap yang mengambil tubuhku saat aku mati di Nightless City." Jawab Wei Wuxian, mengingat-ingat sosok yang pernah tidak sengaja ditolongnya. Sosok itu pertama kali ditemuinya di Burial Mounds dalam keadaan terikat mantra-mantra rumit. Wei Wuxian saat itu hanya tidak sengaja melepaskan mantra-mantra yang mengikatnya dan malah membebaskannya. "Sepertinya hantu aneh itu sudah menuruti permintaanku."

"Lalu tentang Mo Xuanyu. Apa yang kamu dapatkan tentangnya?"

"Saya hanya mendengar sedikit..." Wen Ning menunduk, tampak seolah-olah Wei Wuxian sudah membulinya. "tuan muda Mo Xuanyu diusir karena telah dituduh melakukan pelecehan kepada istri dari Lianfang-Zun, Qin Su. La-lalu setelahnya menjadi gila karena perlakuan keluarganya yang buruk."

"Kenapa Mo Xuanyu bisa berada di Lanling?" sejak awal Wei Wuxian telah mencari tahu jawabannya. Ia penasaran akan keberadaan Mo Xuanyu yang bisa berada di LanlingJin.

"Tuan mu-muda Mo adalah anak haram dari pe-pemimpin Jin yang sebelumnya."

Wei Wuxian memutar Heise, mulai mencoba menggabungkan informasi yang diterimanya. 'Kemungkinan Mo Xuanyu memiliki dendam dengan Jin Guangyao karena diusir dengan kejam. Lalu kenyataan tentang dendam yang berhubungan dengan Yin Hufu ini... apakah ada yang membuat ulang Yin Hufu dan memakainya?' ia duduk dengan serius, mencoba untuk memikirkannya lebih jauh. 'Kalau Yin Hufu benar-benar dibuat ulang, maka tidak heran jika namaku yang tercemar sekalipun aku tidak pernah melakukannya.'

"Wen Ning, sebaiknya kamu mencari Suibian. Sekte LanlingJin dulunya sangat berambisi untuk menjadi Wen kedua. Bukan tidak mungkin mereka berhasil membuat replika Yin Hufu." Wei Wuxian menoleh ke arah Wen Ning yang setia menunggunya memberi perintah. "Aku akan tetap berada disini untuk bermeditasi dan meningkatkan kultivasi. Ingat, jangan sampai ketahuan."

Jendral hantu itu mengangguk, dengan cepat pergi meninggalkan Wei Wuxian sendirian didalam gua yang dulunya menjadi bukti hilangnya Jindan dari dalam tubuhnya.

Sepeninggal Wen Ning, Wei Wuxian mulai memasang posisi lotus* dan bermeditasi untuk mengatur nafas dan energi spiritualnya. Membentuk Jindan bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Tapi Wei Wuxian juga telah melakukan kultivasi sepanjang hidupnya. Tubuh Mo Xuanyu juga cukup mudah dikendalikannya sehingga Wei Wuxian tinggal menyesuaikan dirinya dan Jindan akan perlahan-lahan terbentuk.

[Sikap Lotus: sikap dasar dalam melakukan meditasi]

###

Sekitar sebulan kemudian, Wen Ning kembali datang dengan membawa Suibian yang keadaannya nyaris hancur. Untunglah keadaan pedang spiritual itu mulai membaik saat Wei Wuxian memberinya energi spiritual. Bilahnya bersinar kemerahan seakan-akanbahagia tuannya kembali hidup dan memakainya. Namun Jindan Wei Wuxian belum terbentuk, hanya saja ketahanan tubuhnya telah berangsur membaik sehingga ia tidak perlu merasakan pusing atau kembali memuntahkan darah ketika menggunakan energi spiritualnya.

"Wen Ning, ayo turun ke pasar." Wei Wuxian membersihkan debu yang tertempel pada selongsong pedangnya, memperhatikannya sejenak sebelum mendesah pelan. "Aku harus memodifikasi Suibian. Kondisinya sudah terlalu parah."

Dengan begitu mereka berdua turun ke pasar, menemui ahli pedang dan memodifikasi Suibian. Selongsong pedangnya yang telah pecah di beberapa bagian diganti dengan yang baru, lalu hulu pedang yang berkarat diganti dengan giok hitam yang mengkilat dan berbobot ringan namun ketahanannya luar biasa. Saat Wei Wuxian menyentuh dan mengalirkan energinya pada Suibian, bilahnya bersinar kemerahan dan warnanya cocok dengan hulu pedang yang baru ini. Lalu ujung gagangnya diberikan gantungan berupa rumbai warna putih. Ada dua mutiara hitam kecil yang menyambungkan benang-benang rumbai itu. Nama pedang barunya ini adalah Fuhuo*.

[Fùhuó - 復活: dibangkitkan. Disini aku menjadikannya nama depan Suibian dan menarik kesimpulannya jadi 'Fuhuo Suibian' yang berarti 'dibangkitkan secara acak']

Kali ini Wei Wuxian mengganti semua nama alat kultivasinya, sehingga tidak akan ada orang yang mengenalinya sebagai Wei Wuxian. Pada saatnya nanti, ia akan membuka identitasnya. Hanya saja tidak untuk sekarang.

Selepas Fuhuo dimodifikasi (yang biayanya cukup menguras kantong Wei Wuxian), mereka kembali ke gua dimana Wei Wuxian mengisolasi dirinya selama sebulan. Wei Wuxian dengan tidak sabar mengeluarkan Fuhuo dari sarungnya dan menyalurkan spiritualnya. Pedang itu bereaksi dengan positif, dengan cepat menyelaraskan diri dengan energi Wei Wuxian.

Wen Ning yang memperhatikan kesenangan tuannya merasa ikut lega dan bahagia. Setidaknya kali ini Wei Wuxian memiliki kesempatan untuk kembali pada jalan kultivasi lurus.

"Wen Ning,"

Yang dipanggil langsung mendongak—karena ia dari tadi dalam posisi menunduk. "Iya, tuan muda Wei?"

"Sudah berapa lama kamu tidak kembali ke Gusu? Wen Qing pasti mencarimu, kan? Kembalilah ke Gusu." Wei Wuxian menyarungkan pedangnya, puas dengan respon pedangnya yang sama sekali tidak berubah, kecepatannya juga bertambah pesat. "Jangan beritahukan apapun. Jika kamu ditanya, bilang saja kamu mengawasi anak-anakku dari jauh. Apa kamu mengerti?"

Wen Ning mengangguk cepat, dalam hatinya bertekad untuk tidak mengatakan apapun kepada jiejienya. "Ka-kalau begitu saya akan kembali..." izinnya, lantas melangkah keluar setelah Wei Wuxian melambaikan tangannya.

"Kuharap dia benar-benar tidak akan mengatakan apapun." Desah Wei Wuxian, lalu kembali memasang sikap meditasi untuk kembali melatih energi spiritual dan membentuk Jindan-nya. Setelahnya ia juga mulai memainkan Fuhuo dengan lihai, mencoba melatih kembali kecepatan dan refleksnya yang telah tertidur selama belasan tahun.

###

Tbc.