Mo Dao Zu Shi hanya milik Mo Xiang Tong Xiu (墨香)

Warning: EYD tidak benar (mohon bantuan koreksinya), Typo, OOC (terutama Wei Wuxian. Ini diperlukan untuk cerita), bahasa mandarin yang di Indonesiakan.

Jika tidak suka, tolong jangan dibaca. Terimakasih.

###

Ia menyapa Lan Wangji seolah-olah sedang menyapa sahabat lama, tidak memedulikan kerumunan orang-orang yang berbisik-bisik satu sama lainnya. "Jadi siapa yang ayah dan siapa yang ibu? Dimana ibunya?"

Ini membuat Wei Wuxian tertawa, "Sudah-sudah! Bubar kalian semua! Ini bukanlah urusan kalian kan?" usirnya dengan tangan yang mengibas-ngibas. Lalu atensinya kembali pada Lan Wangji yang menatapnya tidak berkedip. "Ada apa Lan Zhan? Oh, apa yang sedang kamu lakukan disini?"

"Wei Ying!" ucapnya patah, manik emasnya terlihat khawatir dengan kondisinya yang terlihat lebih kotor daripada dulu. "Kamu? Anak ini?"

Wei Wuxian berkedip, "Lan Zhan oh Lan Zhan, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku lebih dulu? Apa yang sedang kamu lakukan disini?" ia mengulang pertanyaannya kembali—barangkali Lan Wangji lupa atau tidak mendengar pertanyaannya tadi.

"Mn, perburuan malam. Hanya lewat." Jawabnya, lalu wajahnya seolah-olah tengah menantikan jawaban Wei Wuxian akan pertanyaannya barusan.

"Hm? Anak ini? Oh, hahahaha. Dia adalah anakku. Aku yang melahirkannya!" tawanya setengah bercanda. Lalu candaannya kian meledak saat melihat wajah kaku Lan Wangji. "Kamu adalah ayahnya, Lan Zhan. Hm? Apa kamu tidak mau mengakui anakmu sendiri? Hahahahaha."

Lan Wangji antara percaya dan tidak percaya, namun saat melihat tawa Wei Wuxian yang meledak, ia tahu bahwa ia sudah dipermainkan. Telinganya memerah saat memikirkan kembali candaan Wei Wuxian kepadanya. "Wei Ying!"

"Hahahaha, aku disini Lan Zhan! Hahaha, sudah-sudah! Aku tidak bisa lagi—hahaha..."

"Mn."

Wei Wuxian melihat bahwa Lan Wangji sedang menunggunya berhenti tertawa hingga ia memutuskan untuk mengakhiri omong kosongnya dan mengajak Lan Wangji untuk makan siang. "Lan Zhan, ayo makan siang, aku akan mentraktirmu kali ini! Sungguh!" tambahnya ketika melihat wajah Lan Wangji yang menunjukkan ketidakpercayaannya.

"Dan pada akhirnya dialah yang membayarnya... hahaha," Wei Wuxian menghentikan permainannya, tertawa kosong saat ingatannya sampai pada kunjungan Lan Wangji di Burial Mounds. "Hm, lalu setelahnya apa yang terjadi?" bisiknya, mencoba kembali menggali ingatanya yang begitu buruk.

Lan Wangji pada akhirnya membayar pesanan mereka karena Wei Wuxian sudah keburu panik. Kertas mantra yang dibawanya telah habis menjadi abu, menandakan ada sesuatu yang tidak wajar terjadi di Burial Mounds. Dan benar adanya saat mereka sampai disana.

Wen Ning yang dibangkitkan Wei Wuxian memberontak karena kemarahannya. Wen Qing telah pingsan dengan pedang di genggamannya. Sisa sekte Wen terlihat berusaha bertahan hingga Wei Wuxian menyuruh mereka semua untuk mundur.

"Mundurlah! Bawa A-Yuan dan Wen Qing!" suruhnya, lalu segera memainkan Chenqing untuk mengendalikan energi kebencian yang menguasai hati Wen Ning. "Lan Zhan!"

Lan Wangji tidak perlu diberitahu apa yang harus dilakukannya. Ia sudah mengerti apa yang harus dilakukannya saat ia menarik guqinnya untuk memainkan melodi penekan. Disaat yang sama Wei Wuxian menghentikan permainan sulingnya dan melemparkan kertas-kertas mantranya ke tubuh Wen Ning.

Kertas-kertas mantra itu tidak berhasil hingga Wei Wuxian harus menekan titik-titik spiritual di tubuh Wen Ning untuk menyadarkan kesadaran spiritualnya. Ini hal yang cukup sulit karena Wei Wuxian juga harus menghindari serangan-serangan Wen Ning yang brutal.

"GAAAAAAAAAH!" jeritan melengking itu dimanfaatkan Wei Wuxian untuk memasang kertas mantra sekaligus mengetuk titik spiritual pada Wen Ning, membuatnya tersadar tidak lama kemudian dengan kondisi kaku. "Tu-tuan mu-da We-wei..."

"Wen Ning! Kamu sudah sadar!" Wei Wuxian mengusap peluh yang menetes, nafasnya terengah. Bagaimanapun menyadarkan Wen Ning telah menguras energinya. "Bagus-bagus! Jangan biarkan jiejie-mu semakin mengkhawatirkanmu!" ujarnya setengah bercanda sambil menepuk-nepuk lengan Wen Ning.

Mayat ganas itu menunduk, terlihat bersalah walaupun wajahnya telah menjadi kaku dan otot-ototnya mati. Ia diam-diam melirik kehadiran Lan Wangji di belakang Wei Wuxian, dan mencicit pelan menyapanya. "Sa-salam, Tu-tuan muda ke-kedua Lan..."

Lan Wangji hanya menanggapinya dengan anggukan saat teriakan Wen Qing menginterupsi mereka, disusul dengan derap langkah yang lainnya. "A-Ning!"

"Tuan muda Wen Ning!"

"Anda sudah sadar! Syukurlah!"

"Tuan muda Lan, tuan muda Wei, terimakasih banyak sudah menyadarkan tuan muda Wen Ning!"

Baik Lan Wangji maupun Wei Wuxian hanya menanggapi ungkapan terimakasih itu dengan sewajarnya.

"Malam ini, ayo kita merayakan kembalinya tuan muda Wen Ning!"

Entah siapa yang mengucapkannya, tapi Wei Wuxian setuju-setuju saja. Ia bahkan mengajak Lan Wangji untuk ikut bergabung tanpa memedulikan pandangan pemuda Gusu itu tentang Burial Mounds yang sedang dihuni oleh mereka semua.

Paman keempat dari Wen bersaudara juga pintar sekali membuat sup. Rasanya manis dan ringan, tapi mengenyangkan perut hingga Wei Wuxian merasa puas. Setidaknya mereka mencicipi kebahagiaan setelah banyaknya hal mengerikan yang terjadi.

Saat hari telah cukup gelap, Wei Wuxian mengajak Lan Wangji untuk turun karena tidak mungkin ia tinggal semalaman di Burial Mounds. Itu sangat tidak cocok dengan Lan Wangji yang dibesarkan seperti pangeran. Setidaknya pemuda Gusu itu harus tidur di tempat yang lebih layak daripada gua beralaskan batu-batu yang ditutupi rumput kering penuh debu.

"Kamu tidak harus mengantarku, Wei Ying."

"Hm?" Wei Wuxian memutar-mutar serulingnya, bertanya dengan senyuman yang selalu terpasang, "Apa kamu keberatan? Ayolah Lan Zhan, aku juga sedang ingin membeli beberapa kendi arak."

Lan Wangji yang melihatnya tersenyum lebar hanya dapat pasrah. Ia mengikuti kemauan Wei Wuxian hingga di penginapan. Ia telah memesan kamar sebelumnya, jadi mereka hanya duduk—Lan Wangji menemani Wei Wuxian duduk di kursi dengan dua kendi arak didepannya.

"Lan Zhan, katakan, apakah itu benar kalau shijie akan segera menikah?" Wei Wuxian yang bosan menegak arak seorang diri mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan. Ia memiliki 'teman minum' dihadapannya namun yang ditanyai sama sekali tidak ingin meminum arak yang ditawarkannya. "Aiyo, Lan Zhan. Kamu kaku sekali, setidaknya cobalah untuk minum sekali."

Secawan arak disodorkan, baunya manis namun membuat Lan Wangji mengernyit heran dan mengundang tawa dari Wei Wuxian. "Rasanya tidak seburuk itu kok, cobalah. Ini bukan di Cloud Recessed. Peraturan GusuLan-mu itu tidak berlaku." Ia tersenyum lebar saat Lan Wangji akhirnya mengambil cawan arak itu dan menegak seluruh isinya dalam sekali tegukan. Wei Wuxian bertepuk tangan, "Wah! Hebat Lan Zhan!"

Lan Wangji meletakkan kembali cangkirnya, mulai merasa mengantuk hingga ia memejamkan matanya dan memijat ringan pangkal hidungnya. Beberapa detik kemudian ia telah jatuh tertidur.

"Lan Zhan? Astaga apakah kamu tidur?" Wei Wuxian tidak menyangka ini. Toleransi Lan Wangji terhadap alkohol begitu lemah. "Bagaimana bisa kamu tertidur dalam satu cawan kecil? Dan bagaimana caranya kamu bisa langsung tertidur tanpa melewati fase mabuk?" ia bertanya-tanya, Lan Wangji benar-benar tertidur dan melewati fase mabuknya!

Karena Wei Wuxian cukup perhatian, ia memapah Lan Wangji menuju kasur dan membaringkannya disana. Tidak disangka malah mengambil kesempatan untuk memandangi garis wajahnya dengan intens. Rahangnya terlihat kokoh, hidung mancung dan bulu mata tebal yang lentik. Bibirnya tipis dan terlihat dingin, benar-benar terlihat seperti patung giok!

Wei Wuxian masih asik memandangi wajah rupawan Lan Wangji saat kelopak mata itu bergerak-gerak hingga mengibarkan bulu matanya dengan lembut, menampilkan sepasang emas terang dibaliknya. Cepat-cepat ia menarik wajahnya, merasa sudah terlalu dekat dengan Lan Wangji hingga dapat merasakan hembusan nafas tipis yang mengandung hawa panas. "Lan Zhan! Kamu—eh, kamu baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu?"

Anehnya Lan Wangji tidak menjawab pertanyaannya. Pemuda itu hanya memandanginya dengan tatapan tidak fokus. Tidak lama ia beralih menarik lengan Wei Wuxian untuk jatuh menibaninya. "Lan Zhan apa yang kamu lakukan? Tunggu, kamu mabuk?"

Pemuda berkultivasi gelap itu bergerak tidak nyaman, apalagi saat Lan Wangji menarik pinggangnya dan memperbaiki posisi mereka menjadi saling berbaring berhadapan. "Wei Ying," nafasnya terdengar berat dan menggelitik pipi Wei Wuxian, menyebabkan gumpalan merah mewarnai wajah yang rupawan. "Ikutlah denganku ke Gusu."

Lagi-lagi seperti ini. Wei Wuxian tidak mengerti mengapa Lan Wangji begitu kukuh ingin menghukumnya karena kultivasi gelap yang diambilnya. Sebegitu bencikah Lan Wangji padanya? Ia menggeleng kecewa, "Kenapa kamu ingin sekali membawaku ke sektemu, Lan Zhan?"

Tidak seperti Wei Wuxian duga, Lan Wangji malah menyatukan dahi mereka, nyaris menciumnya dengan mata yang tertutup. Dari jarak sedekat ini Wei Wuxian dapat melihat raut sedih Lan Wangji yang sama sekali tidak dapat dimengertinya. "Aku ingin melindungimu... menyembunyikanmu dari dunia..."

"Kenapa kamu ingin melakukannya?" Wei Wuxian menjadi luluh dengan ucapan penuh tremor tersembunyi itu, pelan-pelan tangannya menangkup pipi panas Lan Wangji dan mengusap-usapnya. "Kamu tahu aku tidak suka dikekang, Lan Zhan."

"Wei Ying," suaranya bergetar, "Aku... mencintai..."

"Hm? Kamu mencintai seseorang, Lan Zhan?" Wei Wuxian mulai tidak memahami Lan Wangji ketika perasaannya masih tersentuh dengan kebaikan Lan Wangji yang tidak wajar. Ia cepat-cepat bergerak hingga Lan Wangji berpindah dibawah tekanannya. "Aiyo, Lan Zhan. Apa yang kamu pikirkan? Terimakasih atas kebaikan hatimu, tapi aku tidak bisa menerimanya."

Dibawah remang cahaya lentera yang mulai memudar, telinga Lan Wangji berubah menjadi sangat merah. Lengannya tanpa dapat dikendalikan terangkat dan menekan bibir Wei Wuxian dengan ibu jari. "Wei Ying..." bisiknya disertai geraman rendah.

"Lum Zhum? Upp ymng kmmh-?!" Wei Wuxian tidak dapat berkata-kata dengan benar karena saat ia membuka bibirnya, saat itu pula ibu jari Lan Wangji masuk dan memainkan lidahnya. "Lum Zhuummnh!"

Deru nafas Lan Wangji terdengar semakin berat, ditambah sesuatu yang mengetuk dibawah pantat Wei Wuxian membuatnya semakin bergerak gelisah di atas tubuh Lan Wangji. Lalu tanpa ditahan lagi posisi mereka malah berpindah hingga kini Wei Wuxian terkunci diantara lengan kokoh Lan Wangji. Ia tidak sempat menjerit ketika Lan Wangji membungkamnya dengan ciuman dalam.

Wei Wuxian menjadi kaku dalam keterkejutan, ia tidak menyangka bahwa Lan Wangji akan menciumnya dengan penuh hasrat. Lebih lagi bukannya merasa jijik, ia malah merasa enak dan manis. Tubuhnya mulai panas saat Lan Wangji mulai membuka ikatan pada pinggangnya, mengelupas lapisan pakaiannya dengan sangat lembut. Ia mendesah lembut saat ciuman itu terlepas sejenak untuk menghirup udara.

Kakinya bergerak tidak nyaman, tidak sengaja mengenai sesuatu yang rasanya begitu keras. Wei Wuxian segera saja melotot ngeri. Ia akan segera habis malam ini bila tidak segera melarikan diri! "La-lan Zhan..."

"Wei Ying," Lan Wangji di atasnya berbisik rendah yang sialnya terdengar seksi. "Aku... menyukaimu..."

"Apa...?" Wei Wuxian berhenti memberontak, mendengarkan ucapan Lan Wangji dengan seksama. Karena mungkin ia dapat menggunakannya untuk menggoda Lan Wangji di masa depan. Sungguh, keisengannya tidak dapat ditahan!

"Mencintaimu..."

"Kamu..."

"Hanya kamu..."

"Satu-satunya..."

"Kamu milikku..."

Belum sempat Wei Wuxian bereaksi, Lan Wangji telah kembali menciumnya dalam dan membuka lipatan kakinya hingga mengangkang. Pakaian mereka ditanggalkan, dan pita dahi Lan Wangji diikatkan pada lengan Wei Wuxian.

Baru-baru ini Wei Wuxian mengerti arti dibalik pita dahi sekte GusuLan itu dari Lan Xichen saat ia masih tinggal di YunmengJiang. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa Lan Wangji sebenarnya memiliki perasaan seperti itu kepadanya. Anehnya ia malah menurut, membiarkan Lan Wangji bersenang-senang dengan tubuhnya dan membawa mereka berdua kedalam gelombang nikmat duniawi hingga rasanya ingin pingsan.

Mereka melakukannya nyaris semalaman—Wei Wuxian masih tidak menyangka bahwa Lan Wangji yang polos dapat mengerti hal-hal seperti ini. Pada tubuhnya bahkan telah bertaburan tanda-tanda cinta yang tak terhitung. Ia sudah di ambang kesadaran saat Lan Wangji jatuh disampingnya, tertidur setelah gelombang ledakan mereka entah yang keberapa.

Wei Wuxian memanfaatkan kesempatan ini untuk mengetuk titik tertentu di tubuh Lan Wangji dan memasang mantra agar pria muda itu tidak akan bangun walaupun gunung sedang meletus. Setelahnya ia mengatur nafasnya, nyaris tertidur namun rasa perih di bagian bawahnya berhasil menyadarkannya.

Beberapa saat kemudian Wei Wuxian mencoba bangun dan melepas pelukan erat Lan Wangji di tubuhnya, dengan gemetar mengambil pakaiannya yang terserak dibawah pembaringan lalu pergi membersihkan diri. Tidak lupa ia membereskan kekacauan mereka, memasangkan kembali pakaian Lan Wangji dan membersihkan bekas-bekas cinta mereka. Ia berusaha sebisa mungkin tidak meninggalkan bekas.

Wei Wuxian ingin menangis, tapi biar bagaimanapun ia tidak dapat membenci Lan Wangji. Apalagi setelah mendengar pengakuan Lan Wangji kepadanya. Wei Wuxian benar-benar tersentuh dan tidak dapat membenci pria itu. Ia tidak tahu, apakah Lan Wangji akan mengingat malam panas yang barusaja mereka lakukan atau tidak. Jadi mungkin satu-satunya cara adalah dengan berpura-pura tidak terjadi apapun.

Wei Wuxian mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak lagi mengajak Lan Wangji minum arak. Terlalu beresiko baginya. Setelah semuanya bersih ia pun memutuskan untuk pergi melalui jendela, berusaha mengabaikan rasa perih diantara paha dan pinggangnya. Ia harus kembali ke Burial Mounds.

###

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Wen Qing dan Wen Ning masih menunggunya kembali. Wanita itu duduk di atas sebuah batu besar dengan Wen Ning di sebelahnya. Wanita itu nyaris menghujani Wei Wuxian dengan ratusan pertanyaan, namun terlihat jelas menahan diri saat melihat kondisi Wei Wuxian yang terlihat berantakan.

Mereka membiarkan Wei Wuxian masuk dengan tertatih kedalam celah gua yang menjadi ruangannya dan tidak keluar hingga malam berikutnya. Samar-samar Wen Qing juga dapat mendengar isakan yang terdengar, dan ia merasa kasihan karenanya.

Namun ia tidak dapat melakukan apapun untuk menghibur Wei Wuxian. Pria itu hanya keluar untuk makan dan kembali mengurung diri hingga sebulan lebih. Wen yang lainnya tidak ada yang bertanya, karena Wei Wuxian terkadang memang terlalu fokus dalam melakukan percobaan-percobaan baru. Lalu setelahnya ia baru keluar dengan ekspresi yang lebih baik.

Wei Wuxian sendiri telah disindir oleh sosok iblis hantu yang masih saja mengikutinya dari jarak aman hingga merasa kesal dan mulai melupakan perbuatan Lan Wangji padanya. Bahkan ia berhasil balas menyindir iblis hantu sialan itu tentang kebucinannya pada sang dewa-nya. Ia bahkan membuat patung kecil dari kayu dan membuatkan altar untuk menyembahnya!

Kebetulan, Wen Ning juga membawa kabar baik untuk tuannya itu. Ia membawa Wei Wuxian turun dan memasuki pekarangan rumah kosong, mengundang tanya dari Wei Wuxian. Pertanyaannya terjawab saat memasuki rumah kosong yang ditunjuk Wen Ning itu.

Jiang Wanyin dan Jiang Yanli telah menunggunya.

"Shijie!" Wei Wuxian cepat-cepat menyapa Jiang Yanli, tersenyum lebar saat menyadari bahwa Jiang Yanli telah memakai gaun pengantin berwarna merah cerah. Shijie-nya terlihat begitu cantik dan mempesona hinga Jiang Wanyin memukul bahunya keras-keras.

Ia juga sama sekali tidak menyangka bahwa shijie-nya itu memintanya untuk memikirkan nama kehormatan untuk keponakannya yang baru saja berusia sebulan. Ini membuat Wei Wuxian begitu bahagia. Nyatanya ia masihlah bagian dari keluarga Jiang—terlepas dari semua yang telah ia lakukan di masa lampau. "Bagaimana dengan Jin RuLan?"

Jiang Wanyin dengan segera mengkritiknya dengan pedas, tentu saja. Itu terdengar seperti sekte GusuLan! Dan shijie-nya hanya tertawa dan mengajak mereka untuk memakan sup iga akar teratai sebelum kembali berpisah.

"Benar juga, kalau dipikir-pikir lagi, kenapa aku memberikan nama 'Lan' kepada Jin Ling ya?" Wei Wuxian menggaruk belakang kepalanya dengan bingung, berusaha menemukan alasannya di kehidupan lampau namun tidak kunjung menemukannya. "Hm, harusnya aku memberikan nama Zhencheng saja. Itu terdengar lebih baik."

[Zhēnchéng: 真誠: Tulus]

Ia membuang pemikirannya ini kebelakang kepala dan mulai meniup kembali Heise sambil mengingat masa-masa saat ia mengetahui kehamilannya. Masa-masa yang baginya sangat berat, melebihi saat Lotus Pier dihancurkan dan Jiang Wanyin kehilangan Jindan-nya.

###

Tbc.