Mo Dao Zu Shi hanya milik Mo Xiang Tong Xiu (墨香)

Warning: EYD tidak benar (mohon bantuan koreksinya), Typo, OOC (terutama Wei Wuxian. Ini diperlukan untuk cerita), bahasa mandarin yang di Indonesiakan.

Jika tidak suka, tolong jangan dibaca. Terimakasih.

###

Wei Wuxian merasakan kegembiraan hingga ia mengoceh pada Wen Ning yang setia menemaninya.

Namun saat ia telah tiba di Burial Mounds, perutnya mendadak merasakan mual dan ia tidak dapat menahan keinginan untuk muntah. Wen Ning dengan panik menopangnya dan mengusap-usap punggungnya. Bertanya dengan nada datar yang terselip kecemasan kental didalamnya.

"Tuan muda Wei!"

"Hoeek! Hoek! Ugh..." Wei Wuxian merasakan kepalanya dipukul ratusan palu dan penelihatannya berkunang-kunang, hingga tanpa disadari kegelapan telah menelannya.

"Tuan muda Wei!"

###

Wei Wuxian terbangun karena mencium aroma herbal yang menenangkan. Ia masih merasa lemas hingga hanya mampu melirik orang yang duduk menungguinya. "Wen Qing...?"

Wen Qing adalah seorang tabib, ia cukup membantu Wei Wuxian dalam mengatur emosi dan spritualnya yang kosong. Jadi tidak heran jika wajahnya tampak marah—dia tidak marah? Wei Wuxian jatuh dalam kebingungan hingga suara Wen Qing membuatnya nyaris melompat ngeri.

"Selamat, kamu hamil." Ujarnya sambil membawa cangkir kusam berisi ramuan. "Usianya masih enam minggu."

Rasa-rasanya ada petir yang menyambar di hari yang cerah. Wei Wuxian tidak dapat menahannya hingga hanya dapat tertawa kikuk. "Itu mustahil. Aku laki-laki. Bercandaanmu buruk sekali."

Wen Qing menggeleng, meletakkan cangkir kusam yang sejak tadi dipegangnya disamping pembaringan Wei Wuxian dan menyentuh perutnya. "Kamu tidak merasakan adanya energi spiritual disini?"

Wei Wuxian masih dalam ketidakpercayaan hingga terpaksa menelan kenyataan pahit. Ia bertanya-tanya bagaimana caranya ia bisa hamil sedangkan ia adalah laki-laki. Dan lagi... kenyataan bahwa Lan Wangji adalah ayah dari janin ini membuatnya semakin sakit kepala.

Wen Qing duduk di sebelahnya, mengirim energi spiritual agar pria muda itu tidak syok berlebihan. Lalu setelahnya mulai memberikan hipotesisnya, bahwa kemungkinan didalam tubuh Wei Wuxian memiliki rahim seperti perempuan—Wen Qing juga mengingatkan tentang 'penyakit'nya, yang ternyata biasa terjadi pada perempuan yang sudah memasuki masa awal kedewasaan. Wanita itu tidak memberitahu sebelumnya karena masih tidak yakin dengan kemungkinan itu.

Ia mulai mengusap-usap perut datarnya saat Wen Qing selesai memberikan hipotesisnya. Dalam hatinya merasa sangat senang—ia memiliki anak! Wen Yuan akan punya adik dan akan ada yang mengalihkan semua pemikirannya. Tapi disisi lain, Wei Wuxian merasa tidak pantas. Ia tidak yakin bisa memberikan kehidupan yang baik bagi anaknya kelak. Terlebih lagi, Wei Wuxian ragu ingin memberitahu Lan Wangji tentang ini.

Pria muda itu adalah orang yang lurus. Ia tidak tahu apa yang akan Lan Wangji lakukan bila ia mengetahui hal ini. Menyuruhnya membuang anaknya terasa tidak mungkin. Pria muda itu sudah mengatakan bahwa ia mencintai Wei Wuxian. Berarti kemungkinan lainnya adalah meninggalkan GusuLan dan semua reputasinya.

"Aku tidak bisa membiarkannya merusak nama baiknya sendiri..."

Wen Qing terlihat mengetahui apa yang ada dipikirannya dan siapa yang menjadi 'ayah' dari janin Wei Wuxian. Namun wanita itu memilih untuk diam dan menyodorkan cangkir berisi cairan hitam pekat, menyuruhnya untuk menghabiskannya untuk mengurangi rasa mual yang dihasilkan serta untuk lebih banyak beristirahat.

###

Secara bertahap, Wei Wuxian mengurangi kegiatannya untuk turun ke pasar—bahkan ia sudah tidak pernah turun lagi sejak perutnya semakin membuncit. Ia tidak bisa membiarkan keanehan bahkan rahasia kehamilannya tercium oleh para kultivator. Dunia kultivasi membencinya, ia tidak bisa membiarkan kultivator-kultivator itu tahu dan membunuh anaknya. Jadi ia menyerahkan urusan menjual lobak dan membeli bahan makanan kepada paman ke tiga dan paman Zhu.

Para Wen sudah diberitahu oleh Wen Qing tentang kondisi Wei Wuxian, dan merasa ikut gembira karena keluarga mereka akan bertambah. Wen Yuan bahkan suka mengusap-usap perut buncit itu sambil berceloteh riang tentang adiknya kelak.

Selama masa kehamilannya, Wen Qing dan Wen Ning yang mengurusnya. Mereka kerap membuatkannya ramuan untuk mengurangi rasa mualnya, bahkan memberikan apa yang Wei Wuxian minta. Sayangnya Wei Wuxian telah kehilangan minat untuk permintaan-permintaan aneh yang pernah dipikirkannya.

Ia sama sekali tidak rewel, sungguh. Hanya saja terkadang ia jadi sangat menginginkan buah di malam hari, atau sup iga akar teratai yang pedas. Wen Qing berkata bahwa itu adalah perubahan suasana hati yang biasa terjadi saat kehamilan. Jadi Wei Wuxian tidak terlalu memikirkannya.

Waktu berjalan cukup cepat, hingga tanpa disadari kehamilan Wei Wuxian telah mencapai puncaknya.

Wei Wuxian masih ingat, saat akan berdiri setelah duduk memainkan Chenqing di atas batu mendadak ia merasakan nyeri pada perutnya. Pantatnya juga mendadak basah dan paman Zhu yang tidak sengaja melihatnya langsung membantu Wei Wuxian untuk kembali ke ruangannya.

Ia tidak terlalu ingat semuanya karena rasa nyeri pada perutnya mulai menjadi-jadi. Kepalanya berdenyut sakit hingga rasanya ada kerikil yang mengalir melalui nadi kepalanya. Yang Wei Wuxian ingat, perutnya dibelah dan ia harus tetap sadar atau nyawa anaknya akan melayang. Rasanya masih sama menyakitkan saat Jindan-nya diambil keluar. Lebih lagi kali ini isi perutnya harus diambil.

Wei Wuxian berusaha untuk tetap bangun hingga bintik-bintik hitam memenuhi pengelihatanya. Kesadarannya sudah dibawah rata-rata saat sebuah tangisan melengking memasuki telinganya.

"Laki-laki!" Wen Qing melihat jenis kelamin bayi merah itu sebelum memberikannya pada Wen Ning yang dengan sigap mengambil bayi merah itu dari Wen Qing dan memandikannya, nafas Wei Wuxian terengah dan ia nyaris tertidur saat Wen Qing menampar pipinya. "Bangun! Masih ada satu anak lagi!"

Matanya melebar, tidak menyangka bahwa anak yang dikandungnya adalah kembar! Ia mulai kembali fokus, mencoba untuk mengarahkan rasa ngilunya pada kain yang melapisi pembaringannya.

"Perempuan! Nenek!" Wen Qing mengangkat bayi merah kedua dan membiarkan Nenek Wen pergi untuk memandikan bayi itu sedangkan ia mulai menjahit perut Wei Wuxian dan memberikan sedikit energi spiritual agar darahnya cepat membeku.

Kepala Wei Wuxian sangat pusing dan tubuhnya lemas hingga mati rasa. Ia nyaris tidak dapat bergerak banyak, bahkan untuk sekedar mengangkat tangan. Ia hanya bertanya-tanya, kenapa ia tidak mendengar tangisan anak bungsunya?

Wen Ning tidak lama kembali dengan buntalan putih di lengannya. Mayat itu meletakkan anak sulung Wei Wuxian pada lengan kanannya, dan Nenek Wen di belakangnya meletakkan anak bungsunya di lengan kirinya. Saat melihat kedua bayi itu, hati Wei Wuxian dipenuhi kegembiraan hingga air matanya meleleh.

Kedua putra-putrinya terlihat sehat dan tampan. Buntalan pada tangan kanannya bergerak-gerak dan bayi laki-lakinya merengek pelan. Ini membuatnya tertawa kecil dalam kegembiraan tak terkira. Dikecupnya lembut pipi bayi itu, membisikkan namanya dengan penuh cinta.

"A-Xin. Namamu adalah Lan Xin, yang berarti hati. Aku berharap kamu menggunakan hatimu untuk kebaikan dan selalu memiliki hati yang tulus." Lalu setelahnya ia beralih pada lengan kirinya, mengecupnya juga dan memberikan namanya. "An-er. Lan An. Namamu berarti tenang, sama seperti ketenanganmu ini. Aku berharap kamu selalu tenang dan dapat mengucapkan apa yang ada didalam hatimu tanpa ragu."

[Note: untuk kanji(?) namanya, bisa dilihat di bab 2 bagian akhir]

Wen Qing telah membuatkan susu, mengingat Wei Wuxian adalah laki-laki. Ada kemungkinan bahwa ia tidak bisa menyusui. Ia mengajari Wei Wuxian cara meminumkan susu itu pada anak-anaknya dan Wei Wuxian dengan sangat hati-hati memeluk kedua anaknya.

Mereka semua termasuk warga Wen ikut dalam kegembiraan itu. Mereka merayakannya dengan memasak sup iga dan beberapa masakan lainnya. Wen Yuan bahkan menangis segukkan saat melihat adik-adik barunya. Bocah itu berkali-kali mengatakan tampan pada Lan Xin dan cantik pada Lan An sambil mengusap matanya. Membuat Wei Wuxian tertawa kecil melihat kelakuannya, begitupun para Wen yang ikut melihat kedua bayi itu. Sosok iblis hantu yang secara mendadak ada di sampingnya setelah beberapa saat menghilang juga mengucapkan selamat. Ia bahkan tidak tahu bahwa seorang iblis pun memiliki senyuman yang meneduhkan saat berhadapan dengan bayi.

Namun keadaan itu tidak berlangsung lama karena Wei Wuxian merasakan tekanan kultivasi gelapnya terganggu. Cepat-cepat ia menyerahkan Lan Xin dan Lan An pada Wen Qing dan nenek Wen. Ia takut anak-anaknya terkena energi gelapnya yang mendadak terganggu. Wei Wuxian bertanya-tanya, kenapa mendadak energinya tidak stabil?

Saat itu Wen Ning datang padanya, berbicara dengan nada gagap bahwa Burial Mounds mendadak diserang oleh para kultivator. Sosok iblis hantu yang berada disampingnya mendadak juga memalingkan pandangan ke langit-langit gua, tampak terganggu atas sesuatu. Sedetik kemudian, keberadaannya menghilang.

Para Wen panik, bertanya pada Wen Ning kenapa bisa mereka diserang padahal sebelumnya mereka tidak menyinggung kultivator manapun. Wei Wuxian baru saja melahirkan dan sama sekali belum pulih dengan benar, mana bisa ia memaksakan diri untuk melawan para kultivator itu?

Ditengah-tengah kepanikan itu, Wei Wuxian memaksakan diri untuk turun dari pembaringannya. Ia mengambil Chenqing dan menenangkan mereka semua dengan senyum cerah. Tapi para Wen tidak buta. Wajah Wei Wuxian masih terlihat pucat dan mereka berusaha mencegah Wei Wuxian untuk pergi.

"Aku akan baik-baik saja. Wen Ning ada di sampingku. Dan Burial Mounds memiliki beberapa mayat ganas yang menyimpan dendam disini. Aku bisa menggunakannya untuk melawan mereka. Ini adalah Wei Wuxian, aku akan baik-baik saja." Ucapnya menenangkan, hingga mereka akhirnya melepasnya untuk pergi dengan permintaan agar kembali dengan selamat.

###

Wen Ning benar. Sekitar seratus kultivator datang padanya dan berusaha menghancurkan array yang dipasangnya di Burial Mounds. Mereka mengangkat pedang dan mengumpatinya dengan kata-kata 'tidak tahu terimakasih!' dan 'serigala bermata putih!'

Wei Wuxian tentu saja bingung, ia tidak melakukan apapun hingga mereka semua mengumpatinya. Ia bahkan sudah tidak pernah memunculkan batang hidungnya.

"Pembunuh tak berhati! Kamu bahkan sudah membunuh ayah dari keponakanmu sendiri!"

"Kamu membuat nyonya Jin dan Jiang Yanli menderita! Kamu serigala bermata putih!"

"Menjijikkan! Tidak tahu terimakasih!"

"Ada bekas energi gelap di lokasi terbunuhnya Jin Zixuan! Hanya kamu yang pernah bersinggungan dengannya dan hanya karena itu kamu membunuhnya!"

"Padahal dia hanya ingin mengundangmu ke pesta tujuh hari kelahiran tuan muda Jin! Tapi kamu malah membunuhnya!"

"Mati seribu kali pun kamu tidak akan dapat menebusnya!"

Tubuh Wei Wuxian menegang kaku, rasanya seperti ada air dingin yang disiramkan keatas kepalanya.

"Hm? Benar juga, siapa yang sudah membunuh merak sombong itu? Jika diingat-ingat lagi, aku sama sekali tidak bisa datang saat itu karena melahirkan. Lalu siapa yang menggunakan kultivasi gelap dan menggunakannya untuk memfitnahku?" Wei Wuxian tersadar dari ingatannya. Saat itu ia tidak menerima undangan dan tidak datang ke tempat pembunuhan. Bagaimana bisa itu salahnya?

Wei Wuxian mendesah lelah. "Saat itu aku terlalu sombong dan memamerkan kekuatan. Tentu saja mudah bagi seseorang untuk menggunakan namaku untuk menutupi kejahatannya. Tidak akan ada yang percaya bahkan bila aku mengatakan bukan aku yang melakukannya." Ia memperhatikan Chenqing Heise di genggamannya sebentar sebelum kembali bersandar nyaman di pinggir kereta barang yang membawanya.

Ia tidak tahu bagaimana pertarungan itu berakhir. Tatapannya kosong dan jejak sakit terlihat jelas pada ekspresinya. Wen Qing sudah menamparnya—ia tidak tahu apa yang wanita itu katakan. Wei Wuxian sama sekali tidak dapat mengingatnya.

Yang dia tahu, hanya beberapa hari setelah kejadian itu, ia mengumpulkan para Wen dan memberikan uang yang disimpannya diam-diam. "Kalian... pergilah, gantilah nama kalian dan hiduplah dengan damai tanpa perlu berlari-lari dalam ketakutan seperti ini..."

Wei Wuxian merasa cukup. Penderitaan mereka sudah terlalu banyak. Para kultivator pasti akan menyerangnya lagi cepat atau lambat. Dan prinsip Wei Wuxian sejak dulu tidak pernah berubah. Dalam pertarunagn, ia akan menyerang lebih dulu.

"Gantilah nama kalian dengan Ziyou* dan pergilah mengembara. Entah kemana, temukan tempat tinggal yang layak untuk kalian... kalian harus hidup..." ucapannya terdengar seperti orang tidak sadar. Tapi para Wen tahu bahwa ucapan itu serius. "Wen Qing, Wen Ning, bisakah aku meminta bantuan kalian untuk membawa Lan Xin dan Lan An ke gua tempat kalian dulu pernah membantuku?"

[Zìyóu - 自由: Bebas]

Gua yang dimaksudnya adalah gua dimana ia kehilangan Jindan. Gua di daerah Yiling, milik kekuasaan sekte QishanWen dulu. Cukup jauh jika jalan kaki, sebenarnya. "Jika kalian ikut dengan mereka, kalian akan dengan cepat dikenali. Terutama kamu adalah Jendral Hantu dan sang tabib Wen yang dikenal hebat, Wen Qing. Aku... hanya ingin kalian semua hidup dan selamat. Jadi biarkan aku melindungi kalian untuk yang terakhir kalinya."

"Tuan muda Wei..."

Wei Wuxian tidak dapat mengingat apa yang mereka katakan. Otak jeniusnya kosong, ia sudah terlalu lelah. Terlebih keselamatan anak-anaknya kini terancam. "Kalian... harus hidup bahagia di sisa usia kalian."

Para Wen—Ziyou membungkuk dan memberikan hormat pada Wei Wuxian, "Terimakasih banyak, tuan muda Wei. Berjanjilah, kita akan bertemu lagi!"

"Tuan muda Wei, berjanjilah kamu akan kembali dengan selamat. Ingatlah tuan muda Lan Xin dan nona muda Lan An yang masih membutuhkan ibu mereka!"

Paman ke dua dan nenek Wen bahkan memeluknya erat. Wei Wuxian tahu mereka semua diam-diam menangis. Tapi inilah yang mampu dilakukannya sekarang. "Terimakasih, semuanya." Lalu tatapannya jatuh pada Wen Yuan yang memegang ujung jubahnya dengan berliang air mata. "A-Yuan, ikutlah dengan nenek."

Wen Yuan menggeleng, air matanya jatuh mengaliri pipi dan ia menangis segukkan. "Tidak mau! A-Yuan mau dengan Ibu! Wuwuwuwu... Ibu tidak boleh meninggalkan A-Yuan!"

Sesungguhnya, Wei Wuxian cukup terkejut dengan panggilan ibu yang diberikan Wen Yuan. Ia menoleh pada nenek Wen dan menerima senyuman hangat, "Tuan muda Wei, seorang anak itu harus bersama dengan orangtuanya."

Wei Wuxian tidak menyangka jawaban itu akan diberikan oleh nenek Wen. Ia menyangka nenek Wen tidak akan membiarkan Wen Yuan bersamanya. Tanpa disadari air matanya leleh, ia balas membungkuk dan memberi hormat kepada mereka. "Terimakasih... dan maafkan aku..."

Wen Qing masih menggendong Lan An dan Wen Ning menggendong Lan Xin bahkan hingga para Ziyou telah meninggalkan Burial Mounds melalui jalan setapak yang pernah Wei Wuxian temukan tidak sengaja.

"Wen Qing..."

"Tidak apa-apa. Lalu apa yang ingin kamu lakukan setelah ini?" Wen Qing memberikan Lan An pada gendongan Wei Wuxian, memperhatikan ekspresi rumit yang muncul pada wajah Wei Wuxian saat memeluk putrinya. Ia hanya dapat menghela nafas lelah karenanya. "Sudahlah, tidak perlu memberitahu. Bagaimana lukamu?"

Wen Ning ikut memberikan Lan Xin pada gendongan Wei Wuxian, membiarkan ibu muda itu memeluk putra-putrinya dengan kasih sayang tidak terkira. Setelah puas (dimana sebenarnya ia sama sekali belum puas dan tidak akan pernah puas) memeluk, Wei Wuxian membiarkan mereka kembali digendong oleh Wen Qing dan Wen Ning. Sebelumnya ia telah memberikan mantra dan array saat memeluk anak-anaknya. Hanya untuk berjaga-jaga. "Aku baik-baik saja sekarang. Lukanya sudah mengering."

"A-Yuan, aku akan pergi beberapa saat. Apakah kamu bisa membantuku untuk menjaga meimei* dan didi*?" Wei Wuxian ganti memeluk Wen Yuan, tidak lupa juga memberikan mantra yang sama dengan kedua putra-putrinya. "Oh, dan jangan merepotkan bibi Qing dan paman Ning, ya?"

[meimei: adik perempuan. Dalam penggunannya dalam nada Indonesia biasanya berubah menjadi meme.

Didi: adik laki-laki. Dalam penggunannya dalam nada Indonesia biasanya berubah menjadi titi.]

Wen Yuan mengangguk dan memberikan jari kelingkingnya, "A-Yuan akan menjaga didi dan meimei dengan baik!"

Wei Wuxian tertawa kecil dan membalas janji jari kelingking itu. "Bagus, A-Yuan akan jadi gege yang baik!"

Sebelum mereka pergi meninggalkan Wei Wuxian sendirian, ia memerintah Wen Ning untuk melindungi Wen Qing dan anak-anaknya dengan segala cara. Wei Wuxian ingat dia berkata bahwa ia akan memberikan bantuan kepada mereka semisal ia tidak dapat kembali.

###

Tbc.

Catatan:

Jujur saja, rasanya lama-lama bingung. Hua Cheng itu sebenarnya iblis hantu, raja setan, dewa setan, raja iblis, atau dewa hantu? (FYI aku belum baca HOB karena belum ada waktu luang)

Nah, karena aku bingung, kuketik saja jadi iblis hantu. Toh dia memang iblis dan memang hantu (kabarnya.)