Mo Dao Zu Shi hanya milik Mo Xiang Tong Xiu (墨香铜臭)
Warning: EYD tidak benar (mohon bantuan koreksinya), Typo, OOC (terutama Wei Wuxian. Ini diperlukan untuk cerita), bahasa mandarin yang di Indonesiakan.
Jika tidak suka, tolong jangan dibaca. Terimakasih.
###
"Yiling Laozu Wei Wuxian! Lima koin dapat satu, sepuluh koin tiga!"
Wei Wuxian, "..."
Ia nyaris saja ikut berteriak, untung saja bibirnya terkunci rapat.
'Siapa yang memanggil namaku seperti itu?! Aish, apakah aku harus mencarinya? Lan Zhan ada di sini! Sial, biarkan aku pergi, Lan Zhan oh ya Lan Zhan! Kenapa kamu semakin dewasa semakin mengerikan?! Aku bahkan berpikir kamu sudah mengetahui identitasku!' batin Wei Wuxian mengumpat berkali-kali. Lalu ia menemukan seorang kultivator palsu yang sedang melambai-lambaikan kertas.
"Lima koin dapat satu, sepuluh koin dapat tiga! Harganya murah! Taruh satu di pintu, satu di ruang tamu dan satu di kamar tidurmu! Energi jahatnya akan menawar racun dan melindungimu dari makhluk jahat lain!"
Diam-diam Wei Wuxian melirik Lan Wangji, melihat bahwa tatapan pria itu terlihat tidak nyaman.
Menghela napas, Wei Wuxian melangkah mendekati kultivator palsu itu dan bertanya tentang apa yang dijualnya. Dalam hatinya ia marah-marah pada penipu ini karena wajahnya benar-benar dilukis dengan sangat mengerikan—bahkan lebih buruk dari dewa penjaga pintu! Ia sangat berusaha tidak menyindir dan menyombongkan tentang patriak Yiling.
"Ngomong-ngomong, apakah anda pernah mendengar kejadian-kejadian aneh? Anda berjualan di sini, kan? Atau anda melihat kejadian aneh barangkali?" Wei Wuxian bertanya sambil membolak-balik kertas-kertas berlukiskan 'Yiling Laozu' yang sangat kacau dan buruk. "Saya mendengar gosip tentang putra-putri dari Yiling Laozu yang menggunakan energi kebencian di sini. Apakah itu benar?"
Penipu itu mendengus, "benar. Sekitar dua mil dari sini, ada perbukitan bernama bukit Xinglu. Saya sarankan anda jangan kesana. Bukit itu dijuluki bukit pemakan manusia, dan baru-baru ini dikabarkan kalau disana energi kebencian mendadak meningkat."
Wei Wuxian mengerutkan dahi, "lalu apa hubungannya dengan anak-anak Wei Wuxian?"
"Anda tidak tahu ya? Energi kebencian itu meningkat bersamaan dengan perburuan malam pertama mereka! Bagaimana mungkin itu tidak ada hubungannya?"
"Begitukah? Saya baru tahu. Tapi bukankah Qinghe adalah area milik sekte Nie? Kenapa sekte Nie mengabaikannya? Secara tidak langsung mereka juga menuduh anak-anak Hanguang-Jun dari sekte Lan." Diam-diam Wei Wuxian melirik Lan Wangji yang dari tadi tetap diam dan mendengarkan tidak jauh di belakangnya.
"Tuan, tidak tahukah anda bahwa pemimpin sekte Nie yang baru, si 'penggeleng kepala', terlalu pengecut untuk mengambil tindakan? Ini berbeda dengan pemimpin yang lama. Jika mereka pemimpin yang lama, pada hari dimana gosip itu beredar, hari itu juga mereka akan berkuda dan menyelidikinya." Penipu itu menggelengkan kepala dengan prihatin. "Orang itu terlalu tidak berguna untuk menjadi pemimpin sekte."
Wei Wuxian mengangguk-angguk, "baiklah kalau begitu. Terima kasih informasinya, tuan. Oh dan apakah ini perona wajah? Berikan saya dua."
Wajah penipu itu cerah, "silahkan tuan, apakah anda membelinya untuk istri anda?"
"Ah tidak, saya membelinya untuk anak perempuan saya. Di umurnya sekarang dia suka bersolek, jadi saya membelikannya agar dia bisa berlatih." Wei Wuxian tersenyum kecil, memberikan beberapa keping perak dan bertanya satu hal terakhir. "Dimana arah bukit itu? Saya takut bahwa nanti tidak sengaja mendekatinya."
Penipu itu tercengang, tapi tidak bertanya lebih banyak dan menunjuk suatu arah. Agak mengeraskan suaranya karena suara bising di sekitar mereka. "Kira-kira ke arah sana dua mil. Tuan pasti tidak akan mendekatinya karena energi kebencian Wei Wuxian sangat kua-!?"
Wei Wuxian merasakan sebuah tendangan dari arah belakangnya dan dengan cepat menghindar. Refleksnya sudah lebih baik dari pada terakhir kali. Ini membuktikan bahwa kultivasi tubuhnya telah meningkat! Sayangnya tendangan itu malah mengenai penipu itu hingga dagangannya berserakkan dan dia menabrak kios lain.
Penipu itu melihat ke atas, ingin mengumpat marah tapi nyalinya ciut saat melihat seorang tuan muda yang terlihat kaya raya. Apalagi saat melihat bunga peony yang tersulam di dadanya, nyalinya semakin ciut. Tapi dia tetap tidak terima dan bertanya, "kenapa tuan menendang saya?"
Tuan muda tadi, Jin Ling, menyilangkan tangan dan mendengus kasar. "Seharusnya kamu berterima kasih karena tidak kubunuh! Orang yang menyebut-nyebut nama 'Wei Wuxian' di depanku pantas mati! Kamu malah teriak-teriak!"
Wei Wuxian tidak menyangka Jin Ling akan berada di sini. Dia langsung bergeser menjauh dan mengucap salam pada tuan muda arogan penuh kesombongan itu. "Salam, tuan muda Jin Ling. Tolong jangan marah padanya, sayalah yang bertanya tentang Wei Wuxian padanya."
Jin Ling yang mendengar kata-kata sopan Mo Xuanyu berhenti, ingin mengucapkan sesuatu sebelum Mo Xuanyu kembali melanjutkan perkataannya. "Saya hanya bertanya kebenaran gosip yang beredar tentang sepupu anda, tuan muda. Saya harap anda tidak keberatan."
"Huh! Kamu masih di sini?! Pergi!" usir Jin Ling pada penipu itu, mengabaikan Mo Xuanyu yang kini tersenyum ramah layaknya orang bodoh. "Memangnya kenapa dengan sepupuku?! Itu tidak ada hubungannya denganmu!"
Wei Wuxian menggeleng, tidak bisa menahan untuk tidak membatin, 'dari mana dia belajar ucapan kasar itu? Kenapa sifat buruk ayah dan pamannya menurun padanya? Apakah tidak ada sifat ibunya yang menurun? Shijie, lihatlah anakmu ini.'
"Itu benar. Tapi melihat reaksi anda barusan, sepertinya anda sangat membenci Wei Wuxian. Apakah anda juga membenci sepupu anda?"
Jin Ling menatapnya dengan aneh, lalu memalingkan pandangan dan berujar lirih. "Dendamku pada Wei Wuxian dan Wen Ning tidak ada hubungannya dengan mereka."
Jawabannya ini membuat Wei Wuxian lega, hingga tanpa sadar tersenyum lembut. "Kamu sudah dewasa."
Entah Jin Ling sejak awal tidak menyukai Mo Xuanyu atau dia hanya malu, remaja itu hanya mendengus. Wei Wuxian baru ingin bertanya lagi saat gonggongan anjing memasuki indra pendengaran mereka.
Wei Wuxian langsung merinding, berusaha lari dan berteriak kencang-kencang tapi tubuhnya menolak mendengarkannya. Ia bahkan tidak peduli dengan tatapan Lan Wangji yang lekat padanya. Yang dia inginkan hanyalah segera lari dan menjauh. Kalau bisa bersembunyi dari makhluk berbulu yang kini berlari-lari mendekati mereka.
'AAAAAHHHHHH KUMOHON PERGI PERGI PERGI! LAN ZHAN TOLONG AKU! AAAAAAAAAHHHHHH! PERGIIIIIII!' batin Wei Wuxian berteriak, tapi bibirnya tetap tertutup rapat dan tubuhnya membeku. Ia ingin berlari pergi secepatnya, sungguh! Wajahnya memucat dengan keringat dingin yang muncul. Teriakan batinnya semakin gila saat anjing itu berada tepat di samping kakinya. 'AAAHGDAHLKAAAAAAAAHHH! LAN ZHAAANNNN! PERGI! PERGIII! KUMOHON PERGI! JANGAN GIGIT AKU!'
Tidak lama kemudian, pandangannya menggelap. Jatuh pingsan karena ketakutan.
Lan Wangji yang selalu memerhatikannya langsung menangkap tubuhnya dan membopongnya. Pria itu bertanya pada orang yang lewat tentang penginapan dan pergi setelah melirik Jin Ling dan anjingnya dengan dingin—seolah-olah dendam.
Jin Ling membeku. Di bawah lirikan Lan Wangji, ia cepat-cepat kabur bersama anjingnya sebelum Lan Wangji semakin marah karena sudah membuat Mo Xuanyu pucat hingga pingsan ketakutan. Setelah kejadian dimana Lan Wangji mengamuk di Lotus Pier, Jin Ling tidak ingin berbuat kesalahan.
###
Lan Wangji membawa Mo Xuanyu ke penginapan dan membaringkannya di atas pembaringan setelah melepas pedang dan mengambl serulingnya. Instingnya mengatakan bahwa Mo Xuanyu adalah orang yang dicarinya.
Setelah membaringkan dan mengecek nadi Mo Xuanyu, emas cairnya memerhatikan seruling bernama Heise dan pedang bernama Fuhuo lekat-lekat. Dua benda ini mirip dengan alat kultivasi Wei Wuxian di masa lalu. Tapi ukiran pada pedang dan serulingnya jelas sangat berbeda. Dia mencoba menarik Fuhuo, tapi itu tersegel seolah-olah hanya mengenali satu pemilik.
Gagal menariknya, akhirnya Lan Wangji hanya menaruhnya dengan rapi di atas meja pendek dan memerhatikan keduanya dengan serius hingga sebuah gumaman acak terdengar.
"Lan... Zha..."
Tubuhnya langsung menegang, kepala cepat-cepat menoleh ke arah Mo Xuanyu yang mulai mendapatkan kesadarannya.
Lan Wangji cepat pulih dan langsung menghampiri Mo Xuanyu yang masih mengerjap perlahan, tanpa sadar ikut menggumamkan nama orang tercintanya. "Wei Ying..."
Mo Xuanyu menoleh, mengerjap dan menatapnya aneh. Apakah tadi hanya halusinasi?
Wei Wuxian menatap emas cair yang diisi dengan gejolak rindu yang begitu pekat, membuat hatinya tidak nyaman. Tapi ia melanjutkan kepura-puraannya karena Heise dan Fuhuo yang tergeletak di atas meja. Mungkin saja Lan Wangji menganggapnya 'Wei Wuxian' karena alat kultivasinya yang mirip dengan Chenqing dan Suibian (walau itu memang benar.)
Senyum dipaksa tercipta, "Hanguang-Jun, siapa Wei Ying? Saya Mo Xuanyu." Dia tidak menyadari bahwa senyumnya begitu rusak, terlihat jelas dipaksakan dan begitu sedih.
Lan Wangji menatapnya sejenak, lalu berbalik dan menjauh begitu saja. Wei Wuxian tidak dapat melihat ekspresinya karena pria itu memunggunginya.
Diam-diam Wei Wuxian merasa bersalah karena membohonginya. Tapi semua akan sia-sia jika dia mengaku sekarang. Dendam Mo Xuanyu harus di bereskan lebih dulu. Ditambah lagi, Wei Wuxian yakin jika dia mengaku, Lan Wangji akan langsung menariknya kembali ke Gusu—atau mungkin membantunya menyelesaikan dendam Mo Xuanyu dan setelahnya menyeretnya ke Gusu.
Membayangkannya saja Wei Wuxian sudah merinding ngeri.
Tatapannya lalu jatuh pada Lan Wangji yang duduk memunggunginya, membuatnya merasa harus menjelaskan sesuatu. Tapi Wei Wuxian sendiri tidak tahu apa yang harus dijelaskan. Jadi dia bergeser diam-diam dan melangkah duduk di depan Lan Wangji.
"Em... Hanguang-Jun? Itu... terima kasih karena sudah merawat saya... saya memang takut pada anjing sejak kecil..."
Lan Wangji tetap diam, tapi Wei Wuxian tahu pria itu mendengarkannya.
Memikirkan apa yang harus dilakukan, Wei Wuxian secara spontan mengambil serulingnya di atas meja dan meniupnya, jari bergerak lincah mencipta nada-nada yang membentuk melodi yang Lan Wangji ciptakan untuk dirinya.
Niat awalnya hanya untuk menghibur—Wei Wuxian tidak berani menggunakan kata-kata, identitasnya bisa saja terbongkar jika dia lengah sedikit saja. Toh dia tidak ingin Lan Wangji jatuh dalam kecewa untuk kesekian kalinya.
Lan Wangji membeku, menatapnya dengan rumit. Wei Wuxian hanya bisa tersenyum di akhir lagu, "saya tidak tahu kenapa, tapi anda terlihat sedih, Hanguang-Jun. Saya juga tidak tahu apa yang anda cari, tapi jika anda sabar sedikit lagi, mungkin keinginan anda benar-benar akan terkabul."
"Lagu itu..."
Senyum Wei Wuxian sedikit pudar, menjadi lebih lembut sekaligus sendu seolah-olah mengingat kenangan lama. "Saya mendengarnya di dalam mimpi. Seseorang dengan penuh perasaan menciptakannya dan membuat saya terlena hingga dapat bermimpi dengan baik."
Dia benar-benar tidak sadar bahwa telah memberikan kode untuk Lan Wangji tentang identitasnya.
Ketika mengangkat wajah, Wei Wuxian ingin menampar dirinya sendiri. Tatapan Lan Wangji benar-benar berubah lembut padanya—juga apa-apaan senyum samar itu? Apakah dia berhalusinasi?!
Cepat-cepat dia merubah pandangan, senyuman dan tatapan lembut Lan Wangji benar-benar tidak baik bagi jantungnya. "Hanguang-Jun, bagaimana menurut anda tentang menyelidiki bukit Xinglu sekarang?"
Pria di depannya mengangguk singkat, mengambil pedangnya, BiChen dan bangkit berdiri diikuti Wei Wuxian.
###
Mereka sampai dengan cepat karena menaiki pedang, turun dan berputar-putar sebelum menyadari maze array yang mengelilingi bukit Xinglu, menyesatkan mereka sedari tadi.
Wei Wuxian menarik daun, menggunakan roh dan mereka mengikuti daun itu hingga sebuah bangunan tua berbentuk mangkuk terbalik mulai terlihat. Ada empat pillar yang mengelilingi bangunan itu.
Mereka baru saja akan melangkah lebih dekat saat gonggongan anjing spiritual milik Jin Ling menghentikan langkah Wei Wuxian. Lebih lagi anjing itu berlari mendekati mereka, membuatnya ingin menjerit dan berlari sejauh-jauhnya. Tapi seperti sebelumnya, tubuhnya mendadak membatu begitu saja. Padahal jiwanya sudah menjerit-jerit dan mengumpat berkali-kali.
Untunglah Lan Wangji cukup pengertian dengan bergeser untuk menutupi jarak pandangnya dengan anjing spiritual milik Jin Ling. Wei Wuxian tidak dapat mengatakan apapun atau bergerak walaupun jiwanya bertanya-tanya. 'Kemana Jin Ling?'
Anjing spiritual itu seperti ingin mereka mengikutinya, jadi Lan Wangji menarik tangan Wei Wuxian dengan sangat lembut untuk mengikutinya. 'AAAH! LAN ZHAN APA YANG KAMU LAKUKAN?! TUNGGU—APA KAMU SEPERTI INI PADA SETIAP ORANG? KAMU DULU BEGITU KASAR PADAKU!'
Tubuh Mo Xuanyu tidak menolak, hanya saja bibirnya tetap terkunci dan tidak dapat bersuara.
Mereka dibawa ke sebuah retakan besar yang mengakibatkan lubang. Di depan lubang itu, anjing spiritual milik Jin Ling menyalak gelisah, seolah-olah ada sesuatu di dalam sana. Retakan itu juga terlihat baru. Mungkin Jin Ling yang merusaknya. Dan-mungkin sesuatu telah terjadi padanya!
Wei Wuxian mencoba bergerak, namun tidak bisa hingga Lan Wangji kembali menuntunnya masuk melalui celah yang ada.
Didalam tidak terlalu gelap karena cahaya matahari dari tembok yang rusak masih dapat masuk dan memberi penerangan. Anehnya, anjing spiritual itu tidak dapat masuk. Ini membuat Wei Wuxian semakin cemas dan lega bersamaan.
Mereka mengelilingi ruangan yang lumayan lebar itu dan menemukan tangga menuju ke bawah yang terletak tepat di tengah-tengah ruangan itu. Bisikan-bisikan rendah mulai terdengar di telinga Wei Wuxian ketika dia mendekati anak tangga pertama, membuatnya penasaran alih-alih takut.
Wei Wuxian menarik Fuhuo, membiarkan sinarnya membantu menerangi mereka saat menuruni tangga batu. Pada ujung tangga, mereka menemukan sebuah aula luas dengan altar di tengah-tengahnya. Di atas altar itu ada peti mati. Setelah dilihat lebih dekat, pada dinding atas aula itu juga terdapat beberapa peti mati dengan kondisi yang sedikit lebih kuno dari pada yang ada di depan mereka.
Ukiran pada peti mati itu unik hingga Wei Wuxian menyentuhnya. Tapi sedetik setelah dia menyentuhnya, suara bising langsung memecah telinga. Suaranya lebih bising dari bisikan-bisikan rendah saat di atas. Kali ini suara tangisan bahkan jeritan bergema hingga dia harus menutup kedua telinganya.
Lan Wangji memerhatikannya, terlihat khawatir. "Ada apa?"
Wei Wuxian menyentuh kepalanya yang mulai sakit, lalu bergumam, "sangat... berisik."
Ia tidak ingin mendengar lebih lama lagi. Luka di perutnya mulai bereaksi, mungkin karena dendam Mo Xuanyu ada hubungannya dengan ini semua.
Cepat-cepat didorongnya tutup peti mati di depan mereka hingga terbuka dengan bunyi gedebuk.
'Apa ini? Peti ini hanya berisi pedang?' Wei Wuxian membatin. Ia semakin mengerutkan kening saat suara bising menjadi lebih keras dari yang sebelumnya. Perasaannya mendadak memburuk.
"Jin Ling!" teriaknya, melangkah setengah berlari menuju ruangan lainnya.
Lan Wangji mengikutinya setelah mengembalikan tutup peti ke tempat semula.
Mereka menemukan aula dan altar yang sama, isinya juga sama. Hanya ukiran pada tubuh petinya yang berbeda. Ini membuat Wei Wuxian tidak lagi terlalu memerhatikan peti-peti itu dan mulai mencari-cari Jin Ling.
Remaja itu sama sekali tidak menjawabnya, bahkan hingga mereka sampai para aula terakhir. Tidak ada tanda-tanda kehadirannya juga. Wei Wuxian kebingungan.
Melihat Wei Wuxian yang kebingungan seperti itu, Lan Wangji mengeluarkan guqin dan mulai memainkannya.
"Apakah itu inquiry?" Wei Wuxian bertanya, namun Lan Wangji hanya diam dan ia memutuskan untuk bungkam. Tidak lama kemudian, terdengar jawaban dari senarnya. Ia bertanya-tanya, apa yang Lan Wangji tanyakan pada mereka. Namun hanya mampu diam karena sosok 'Mo Xuanyu' adalah orang yang tenang dan penuh sopan-santun. Ditambah, tidak sopan mengganggu fokus orang lain.
Setelah beberapa waktu, Lan Wangji menatap Wei Wuxian lamat-lamat sebelum membuka suara.
"Dia ada disini. Diamlah ditempatmu berdiri dan berjalan tiap satu langkah ke arah barat daya setiap petikan senar."
Wei Wuxian mengangguk.
Denting senar mulai terdengar dan Wei Wuxian melangkah. Satu, dua, tiga, hingga di langkah ke delapan dentingan itu berhenti. Di depannya hanya ada sebuah dinding yang dibuat dengan baik. Memikirkan Jin Ling ada di dalamnya, Wei Wuxian tanpa ragu menarik Fuhuo dan menghancurkan lapisan batu bata putih abu-abu dengan beberapa serangan.
Dinding itu hancur berantakan, tapi Wei Wuxian tetap menggali tanah kehitaman hingga sebuah wajah muncul di sana. Matanya tertutup, dan tubuhnya tertutupi batu dan tanah. Wei Wuxian langsung menariknya keluar dan memeriksa nadinya. Ia merasa lega karena Jin Ling masih hidup.
Karena tanah yang menutupinya di buka oleh Wei Wuxian, napas Jin Ling kembali. Tapi dia masih belum mendapat kesadarannya.
Wei Wuxian lega karena mereka tidak terlambat. Ia baru ingin meminta Lan Wangji untuk kembali saat pria itu malah memerhatikan dinding yang baru saja dirusaknya. Hal ini menarik Wei Wuxian dan dia pun mengambil Fuhuo, menyodok tanah bercampur lumpur. Mereka lalu menemukan tulang kerangka lainnya tepat di sebelah tempat Jin Ling baru saja terkubur.
"Apa ini?"
###
Catatan;
Agak melenceng dari catatan, tapi biarlah.
Selanjutnya Wei Wuxian akan bertemu Jiang Wanyin dan mereka (Wei Wuxian dan Jin Ling) membohonginya hehehe.
