note : manga spoiler! dengan alur yang sedikit saya ubah sesuai keinginan saya (peace)
Haikyuu!! milik Haruichi Furudate
Orange Light
Hinata Shoyo telah kembali, dan tidak bohong Tobio merasa nafasnya seketika sesak ketika mendengarnya—terlalu bahagia. Sebagai teman dan rival —dan seseorang yang disukai, Tobio merasa tidak sabar menanti pertemuannya dengan pemuda kecil itu, ah, Tobio mungkin tidak bisa memakai kata kecil lagi, siapa tahu anak itu sudah tumbuh tinggi atau parahnya lebih tinggi darinya? Walau rasanya tidak mungkin, sih —karena sebetulnya ia telah mengecek profilnya bersama Hoshiumi Korai di website MSBY, dan tingginya tetap tidak lebih darinya.
Hari itu, di pertandingan Liga Voli Profesional Jepang antara Schweiden Adlers dan MSBY Black Jackals yang diadakan di gedung olahraga Sendai, Kamei Arena Sendai, Tobio akhirnya bertemu dengannya, lelaki dengan surai jingga yang akan langsung nampak di matanya bahkan jika Tobio hanya melirik dengan tidak sengaja. Warna khas yang amat mencolok dan terang, seterang sinar matahari yang akan menghangatkan siapapun di sekitarnya.
Saat itu Tobio hanya berpikir tentang kebiasaan seseorang, seperti kebiasan seseorang untuk pergi ke toilet sebelum pertandingan. Kakinya tanpa sadar melangkah, bahkan jika ia tidak merasa perlu pergi ke toilet untuk melakukan sesuatu, sepasang kaki berotot tebal itu terus melangkah, mengabaikan orang yang bertanya-tanya hendak kemana dirinya pergi.
Dan benar, didepan sana, surai jingga yang mencolok —dan sangat dirindukannya— itu terlihat bergerak naik-turun bersamaan dengan pemiliknya yang berlarian kecil di sepanjang lorong menuju toilet. Kulitnya jadi lebih gelap, bahkan lebih gelap daripada kulit Tobio. Meski begitu pesonanya yang membuat banyak orang tertarik bagai mentari itu masih tidak hilang, aura kedatangannya masih membuatnya senang dan tertantang.
"Hari ini perutmu tidak akan bermasalah lagi, kan?"
Tobio tidak mengerti, dari sekian banyak sapaan, entah mengapa hanya kalimat tanya itu yang berhasil keluar. Dan yang satu-satunya berada di sana menoleh ke belakang, menatap Tobio dengan senyuman miring sarat akan persaingan. Tobio turut tersenyum, berikan senyum yang sama guna bangkitkan semangat yang sama. Bahkan jika mereka berada dalam dua tim yang berbeda, pikiran mereka tetaplah sama 'hari ini aku akan menang!'.
"Aku tidak akan sakit perut lagi sebelum pertandingan."
Ah, tetap saja, ia semakin tinggi dan berotot.
Merasa tidak tahu harus dengan apa Tobio menanggapinya, ia hanya berguman dengan wajah tenang, "tentu saja, bodoh."
Sesaat Hinata nampak terkejut, "kau berubah, Kageyama-kun!" gerakannya langsung berubah mengikuti bagaimana dulu Tobio mengatakan setiap kata 'bodoh' padanya.
"Kau dulu seperti ini!"
Tangan Tobio terangkat, bergerak hendak memukul wajah si manusia jingga yang kemudian ditanggapi dengan gerakan menghindar secara refleks yang amat cepat oleh si jingga.
"Aku pasti akan menang jika kita beradu panco sekarang." Hinata mengangkat tangan kanannya seolah memamerkan otot yang memang Tobio akui mulai terlihat menonjol.
"Kau mau coba?" Tobio ikut membalas dengan mengangkat tangannya, namun Shoyo hanya tertawa,
"Kita lakukan lain kali."
"Tobio-kun, bisakah kau tidak berkelahi dengan spiker kami?"
Ah, orang ini..
Miya Atsumu, dengan wajah sombongnya yang menyebalkan datang hanya untuk merangkul bahu Shoyo, memamerkan betapa puas dirinya sebab telah mendapatkan Shoyo dalam timnya.
"Bukan aku, dia yang memulai.."
Pertandingan dimulai dengan Shoyo yang menjadi sorotan sebagai pencetak poin pertama dalam debutnya di tim Black Jackals, pemuda itu berteriak 'aku kembali!' ketika Tobio menatapnya dengan kagum sebelum bergumam,
"Kau terlambat.."
Hari itu, Tobio merasa sangat fokus. Tatapannya untuk mengikuti gerakan lawan sangat cermat, tiap toss yang ia umpankan pada para spiker juga terasa sangat pas. Tapi kenapa? Kenapa rasanya ia tertekan dan begitu dikalahkan? Satu hal yang membuat Tobio merasa pertandingan ini amat memuaskan hanyalah, pertandingannya bersama rivalnya yang akhirnya kembali.
Shoyo benar-benar bertambah hebat. Keseimbangan kakinya saat menginjak lantai, lompatan tingginya serta pukulan secepat kilat itu, semuanya terlihat seolah diasah selama seribu tahun hingga mencapai titik sempurna. Hinata Shoyo, benar-benar membuat Tobio merasa ingin memilikinya. Namun, di seberang sana, Atsumu dengan santainya menyerahkan botol minuman pada Shoyo yang dibalas senyuman hangat oleh pemuda jingga itu.
Ah, menyebalkan..
Pertandingan sudah berakhir, tapi persaingannya pada tim Black Jackals terasa semakin panas. Bokuto dengan teriakan —tiga kali hey— khasnya itu terlihat sangat senang bersama dengan Shoyo yang melakukan gerakan aneh semacam tos, lalu Atsumu yang lagi-lagi seolah cari muka membuat Tobio mengalihkan pandangannya muak.
Ah, sejak kapan aku merasa begini..
Tobio pikir, ketika Shoyo akhirnya pergi ke sisi lain dunia itu membuat dirinya merasa kesepian. Tapi, kenapa saat Shoyo kembali, rasa kesepian itu tidak segera hilang? Seolah sedang berusaha menggapai matahari, Shoyo terasa sangat jauh dan bersinar.
~•~
"Shoyo-kun, apakah kau merasakannya?"
Shoyo menoleh, mengalihkan pandangannya dari iPad yang menampilkan rekaman pertandingan hari ini, menatap Atsumu yang duduk disampingnya dengan senyuman aneh —setidaknya menurut Shoyo.
"Merasakan apa?"
"Tobio-kun.. dia aneh."
Shoyo tertawa canggung, berkata dalam hati, 'kau lebih aneh, Miya-san..'.
"Kenapa dengan Kageyama? Aku tidak merasa dia aneh, ah tidak, aku memang merasa dia aneh, tapi aku tidak tahu dimana keanehannya."
"Dia tidak menyukaiku."
Shoyo menatap Atsumu, memastikan apakah seniornya itu salah bicara karena seingatnya Tobio itu cukup mengagumi Atsumu dan permainannya di lapangan yang cukup hebat. Namun wajah Atsumu masih sama, senyuman aneh yang terkesan seperti sedang menggoda orang dengan sebelah alis terangkat, wajahnya terlihat tidak ragu.
"Tapi kenapa..?"
Atsumu mengangkat bahu, "yah, lebih baik kau temui Tobio-kun dan katakan hal-hal yang baik padanya."
Shoyo mengangguk, sebetulnya tidak mengerti. Tapi dengan begitu akan lebih cepat daripada kembali bertanya-tanya, toh intinya ia disuruh berbicara dengan baik pada Tobio. Itu bukan hal yang sulit asal Tobio sendiri juga bisa berkata-kata dengan baik dan sopan.
~•~
"Tobio-kun.."
"Ya?"
Wah, wajahnya galak, tapi dia bertingkah untuk tetap sopan.
"Haha. Aku menang!"
Tobio tersenyum, "ya, kau menang, Miya-san.."
Atsumu ikut duduk di bangku penonton, di samping Tobio yang —berpura-pura— fokus pada lapangan.
"Bagaimana rasanya dikalahkan oleh temanmu sendiri?"
Tobio menoleh, seolah hendak bertanya seperti 'apa maksudmu?' dan sejenisnya. Atsumu pikir itu masuk akal, ia baru saja membicarakan kemenangannya, jadi Tobio pikir mungkin itu agak aneh mengatakan kata 'teman' diantara mereka.
"Maksudku Shoyo-kun. Bagaimana rasanya dikalahkan oleh temanmu?"
Tobio kembali menatap lapangan, "itu terasa biasa saja karena aku tahu dia semakin hebat."
Atsumu diam, menatap sisi wajah Tobio yang masih menghadap kedepan tanpa berniat memberi tanggapan apapun. Rasanya Tobio masih ingin mengatakan sesuatu.
"Tapi, satu sisi dalam diriku merasa pertandingan ini sangat luar biasa.."
Atsumu tertawa, "tentu saja, Shoyo-kun itu sekarang milikku, aku sudah berjanji akan mengumpan dengan baik padanya."
Dan Tobio menoleh, sangat cepat. Wajahnya begitu tegas dan tidak suka, tidak terima dengan apa yang baru saja Atsumu ucapkan.
"Hinata bukan milik siapapun! Hinata milik dirinya sendiri!"
Atsumu terdiam, menatap wajah Tobio beberapa saat karena cukup terkejut dengan reaksi itu. Reaksi amat marah yang membuat sudut bibir Atsumu perlahan terangkat, ukir senyuman miring yang lagi-lagi terlihat menyebalkan —bagi Tobio.
Tobio-kun sangat menyukainya.
"Dia milikku, dia ada di tim yang sama denganku. Dia milikku." Atsumu merespon santai, masih dengan menatap wajah Tobio.
Merasakan hawa tidak mengenakkan dari Tobio, Atsumu putuskan berdiri dan berbalik, dilanjut melambaikan tangan sambil berujar, "ambillah jika dia benar-benar milikmu, aku menantikannya."
Wah, aku benar-benar memancing di tempat yang salah.
~•~
Tim Bola Voli Nasional Jepang telah dibentuk, memasukkan puluhan pemain terbaik dari tiap tim v.league yang ada di Jepang beberapa tahun terakhir.
Kageyama Tobio, merupakan salah satu pemuda yang jelas akan masuk kedalam tim nasional Jepang setelah diakui sebagai setter paling tidak punya rasa takut. Dan di sana, di tim terbesar di Jepang itu memasukkan Hinata Shoyo yang tak seorangpun akan terkejut dengan kehadirannya didalam tim nasional, termasuk Tobio sendiri. Dengan senyuman mengembang lelaki itu bergumam, "datanglah padaku.."
Miya Atsumu, juga diangkat sebagai setter di tim itu yang mana mau tidak mau Tobio harus berhadapan dengannya sebagai rekan satu tim. Tapi alih-alih merasa kesal, Tobio malah tersenyum.
Di pertandingan internasional, Kageyama Tobio kembali bersatu dengan rekan satu timnya semasa SMA, Hinata Shoyo. Dulu pada awal kemunculannya, mereka dijuluki serangan cepat anak kelas satu, tapi kini, mereka berdiri di lapangan internasional. Disaksikan oleh dunia dan membuktikan pada dunia bahwa usaha yang mereka lalui dengan puluhan atau bahkan ratusan kekalahan, pada akhirnya kaki mereka menginjak lantai gedung olahraga internasional.
Melempar bola, melompat, melakukan smash, memblokir dan berbagai gerakan permainan termasuk melakukan serangan cepat. Tobio menatap Shoyo dengan senyuman lebar, begitupun di jingga dengan wajahnya yang masih tetap bersemangat. Tangan mereka terangkat, mengepal dan menyatukan tinju penyemangat dengan raut yang mengatakan 'kau luar biasa!' untuk satu sama lain.
Di tengah lapangan, tubuh Tobio berjengit sebab mengingat satu hal yang belum dilakukannya. Dan ia menoleh ke arah bangku cadangan dimana seorang setter yang bernama Miya Atsumu, sedang menatapnya dengan senyuman miring yang Tobio balas pula dengan senyuman yang sama. Bibirnya bergerak, mengatakan sesuatu yang membuat Atsumu langsung terbahak.
Dia milikku!
fin
