Apakah kalian tau seberapa hecticnya dapur hotel di pagi hari?
Pasti tidak tau.
Semua orang sibuk bekerja. Suara teriakan sang executive chef terus menggema memaki para junior chef yang terus menundukkan kepalanya takut.
"Kalian hanya menghabiskan bahan masakan! Apa yang bisa kalian pertanggung jawabkan?!"
Hotel berbintang lima haruslah memiliki makanan yang sepadan. Setidaknya, itulah yang dipikirkan oleh seorang executive chef, Uzumaki Naruto.
"Ulang sekarang! Berikan saja makanan itu pada anjing."
Sial, rasa-rasanya menjadi seorang chef bisa membuatnya naik darah. Padahal, ini adalah hari pertamanya bekerja di hotel tersebut dan sudah sekacau ini.
"Chef," panggil salah seorang koki takut-takut pada Naruto. "Nasi habis."
Hah?
Bagaimana bisa hotel mewah begini kekurangan nasi? Apa yang dilakukan oleh executive chef sebelumnya sampai tim koki seberantakan ini?!
"Ulangi."
"N-nasi habis."
Brak!
Semua orang ternganga melihat pemandangan tersebut. Sebuah spatula melayang membentur dinding dapur.
"Bagaimana bahan paling krusial bisa habis, sialan?!"
"Sedang dimasak, chef."
"Aku tidak peduli apapun alasannya. Mau sedang dimasak atau tidak, nasinya tetap tidak ada!"
"Maaf."
"Tidak berguna kata maafmu!"
Sumpah serapah terus ia lontarkan. Memang kehidupannya yang dulu lebih mudah. Jika saja Kushina dan Minato tidak mengancam nya untuk pulang, ia pasti masih di Paris sekarang.
"Ambil air panas lalu didihkan di kompor. Gunakan air itu untuk memasak beras di rice cooker."
"Baik, chef."
Waktu berjalan dengan sangat cepat. Waktu sarapan sudah hampir usai. Meskipun demikian, ia tidak melonggarkan fokusnya sedikitpun.
"Waktu tinggal sejam lagi. Jika masih ada kesalahan lain, aku benar-benar akan mengevaluasi kalian semua, tanpa terkecuali."
.
.
.
Lelah.
Satu minggu yang lalu, ia baru saja kembali ke Jepang. Menghabiskan hampir setengah dari hidupnya di Paris, terkadang membuatnya berpikir untuk berpindah kewarganegaraan.
Tapi, tentu saja hal itu tidaklah mudah.
Kushina dan Minato tidak pernah mendukung karirnya sampai detik ini. Mereka selalu mendorongnya untuk terjun ke dunia bisnis dan melanjutkan usaha keluarga. Padahal, bisa dikatakan jika ia juga seorang pebisnis. Hanya saja, ia bergerak di bidang kuliner.
Menjadi seorang michelin chef, Naruto sudah memiliki belasan restoran yang tersebar di benua Eropa. Pencapaian tersebut tidaklah mudah mengingat umurnya yang baru memasuki kepala tiga.
"Bagaimana?"
"Apanya?"
"Menjadi chef di hotelku."
Ingin sekali berdecak, ini adalah salah satu pengalaman terburuk sang pria. Jika bukan karena paksaan sang ibu, ia tidak akan kembali ke Jepang dan tidak akan pernah bekerja di hotel berbintang milik sang ayah.
"Buruk."
"Kenapa?"
"Manajemen buruk. Apa yang chef sebelumnya lakukan? Tim koki benar-benar tidak becus."
"Jika begitu, bekerjalah di hotel."
"Tidak. Ayah dan ibu sudah cukup memaksaku pulang."
Minato membuang nafasnya kasar. Memang benar ia memiliki seorang anak. Tapi, rasanya seperti tidak memiliki sama sekali.
"Kau tidak kasihan melihat ayah dan ibu di sini, Naruto? Ayah sudah mulai tua. Bagaimana dengan perusa-"
"Berhenti berbicara tentang perusahaan. Harus aku ucapkan berapa kali jika aku tidak tertarik?"
"Jika begitu katakan, siapa yang akan memimpin perusahaan nantinya jika ayah sudah mati?!" Ucap Minato dengan nada yang sudah meninggi.
Untung saja ruangan CEO di Namikaze Group kedap suara. Jika tidak, dipastikan orang-orang di luar sana dapat mendengar pembicaraan mereka.
"Kau egois, Naruto!"
Naruto berdecih. Egois? Ya, dia memang egois.
Dia durhaka kepada kedua orang tuanya karena telah mengejar impiannya, membiayai sendiri pendidikannya dari remaja hingga dewasa, membuat berbagai restoran, menjadi michelin chef, dan menolak perjodohan yang sudah direncanakan.
Benar sekali dia salah!
"Aku memiliki hidup sendiri. Kenapa kalian terus mengaturku?!"
"Demi kebaikanmu!"
"Apanya demi kebaikanku?! Kau lupa bahkan aku harus mengganti marga ketika menolak menjadi penerusmu?! Aku menjadi pelayan bar untuk membiayai pendidikanku sendiri hanya untuk kau caci maki! Jika demi kebaikanku kau seharusnya mendukung impian anakmu ini. Apa salahnya mengejar cita-cita?!"
Sudah cukup. Ia akan naik darah jika lama-lama di sini.
Dulu Minato selalu berkata menjadi seorang chef tidak akan memiliki masa depan. Ia pun akhirnya berjuang mati-matian untuk membuktikan jika ia mampu berdiri sendiri tanpa bantuan kedua orang tuanya.
"Kembali kau, Naruto!" Panggil sang ayah ketika dirinya sudah mencapai pintu.
"Untuk apa? Tidak ada satu hal pun lagi yang bisa kita bahas."
Membuka pintu lalu menutupnya keras, ia disambut oleh tatapan dari sekretaris sang ayah yang melihatnya kaget.
"Kenapa?" Ucapanya dingin.
"Tidak ada apa-apa, tuan."
Ck. Mood Naruto semakin buruk saja.
Ia harus keluar dari rumah ayah dan ibunya secepat mungkin. Untung saja peristiwa ini sudah bisa ia tebak. Jadi, ia sudah menyiapkan satu unit apartemen apabila terjadi apa-apa.
.
.
.
Jam masih menunjukkan pukul 4 sore. Memang masih terlalu cepat untuk pulang. Tapi, energinya benar-benar sudah habis. Sepanjang hari ia habiskan dengan marah-marah.
Membelah jalan dengan mobil sport, tentu saja tujuan utamanya adalah apartemen. Sebelum itu, ia sudah meminta Lucas, sang tangan kanan, untuk pergi ke Jepang dan menyiapkan hunian untuknya tinggal.
Setelah sampai di basement, ia segera memarkirkan mobil dan masuk ke dalam gedung. Jujur saja, pengamanan apartemen ini sangat tinggi. Bahkan melebihi apartemen yang ia tinggali di Paris yang sudah masuk ke dalam jajaran apartemen mewah.
Ia dimintai kartu identitas dan bukti kepemilikan atas unit apartemen. Lalu, menandatangani beberapa berkas mengenai perlindungan privasi.
"Baiklah, tuan. Terima kasih atas kerjasamanya."
"Apa semua apartemen di Jepang juga seperti ini?"
Sang resepsionis pun menaikkan sebelah alisnya. Berdasarkan dari namanya, Naruto itu merupakan orang Jepang. Tapi, kenapa pria itu seakan-akan tidak mengerti?
"Ah.. aku baru tinggal kembali di Jepang setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun di negara lain."
"Oh.. begitu," ucap sang resepsionis mengangguk-angguk. "Tidak semua apartemen memiliki pengamanan seperti ini. Apartemen kami dijuluki sebagai apartemen paling aman di Jepang dalam hal menjaga privasi. Kebanyakan penghuni adalah selebriti dan pebisnis yang tidak ingin diganggu."
Baiklah. Tidak heran jika harga satu buah unit saja mahal.
"Jika tuan membutuhkan sesuatu, anda bisa langsung menelpon kami. Selamat beristirahat."
Naruto pun segera melangkah pergi. Ia memencet tombol lift yang bergambarkan panah ke atas.
Drrt.. Drrt..
Getaran ponsel mengambil alih atensinya. Tertulis sang penelpon yang diberi nama 'ibu'. Tapi, apa ia akan menjawabnya?
Tentu saja tidak. Ia ingin beristirahat.
Ting!
Pintu lift terbuka. Wajahnya mendongak dan tak lama kemudian, alisnya mengernyit melihat pemandangan di dalam.
Seorang wanita berpakaian tertutup dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, menunduk dengan tubuh yang disandarkan ke dalam lift.
Ck, mabuk di sore hari.
Tanpa memperdulikan hal tersebut, ia segera masuk ke dalam dan sedikit kaget karena ternyata orang itu memiliki tujuan yang sama dengannya, yaitu lantai 11.
"Ke-kenapa kau tidak memencet tombol lift?" Ucap sang wanita dengan suara yang sedikit bergetar.
"Lantai 11. Kau sudah memencetnya."
"Bohong!"
Suara gertakan itu tidak menakutkan Naruto sedikitpun. Ia hanya berdecak dan tak mengacuhkan orang di sampingnya.
Deruan nafas berat terdengar dengan jelas. Tapi, hal tersebut bukanlah berasal dari si pria. Wanita indigo dengan bibir kemerahan lah yang menghasilkannya.
Naruto pun melirikkan matanya diam-diam. Ia bisa melihat tubuh perempuan itu bergetar dengan tangan yang dikepalkan erat.
Ia tidaklah bodoh. Ia sudah hidup di Paris yang dinobatkan sebagai salah satu kota teromantis di dunia. Ia mengerti apa yang terjadi.
Ya, ini adalah efek dari obat perangsang.
TBC~~
