Deru nafas semakin terdengar. Kenapa lift terasa sangat lambat? Parfum yang menyeruak dari tubuh sang pria memperburuk suasana.
Ting!
Pintu lift akhirnya terbuka. Hinata berjalan sempoyongan, namun tergesa-gesa keluar. Tubuhnya kerap kali menabrak dinding karena keseimbangannya sudah mulai goyah.
Naruto yang berjalan di belakang hanya melihat datar. Sungguh, selama pria itu tidak macam-macam padanya, ia tidak peduli sama sekali.
Setelah memencet password pintu, ia langsung masuk ke dalam dengan tergesa. Tubuhnya ambruk ke lantai.
"Aku membenci ini semua."
Otaknya kembali berlabuh pada kejadian yang tadi ia alami. CEO dari agensinya, Tsunade, tiba-tiba saja memintanya untuk datang ke ruangan sang wanita. Tentu saja Hinata tidak bisa menolak. Seorang pimpinan sudah menyuruhnya.
Di dalam sana, ia bisa melihat pria yang sudah terlihat berumur 50-an. Awal mula pembicaraan yang terjadi di antara mereka hanyalah perihal pekerjaan. Namun, sang tamu malah mengajaknya untuk makan di luar bersama. Tentu saja ia menolak dengan halus. Tapi, Tsunade terlihat tidak senang dan menyuruhnya pergi.
Dari sanalah asal muasal semua ini terjadi. Pria tua itu menggodanya di dalam mobil dan memberikannya minum. Ketika sudah sampai restoran, badannya sudah mulai panas. Dengan bantuan otaknya, akhirnya ia bisa kabur.
Tidak bisakah ada seseorang yang peduli padanya?
Kenapa ia selalu dijebak seperti ini?
Membuka baju dan berjalan ke dalam kamar mandi, ia mengisi bathtub dengan air yang super dingin. Ia terduduk termenung dengan tatapan kosong melihat keran yang mengalirkan air dengan derasnya.
Apakah ini sudah saatnya ia pergi?
.
.
.
Berjalan dengan wajah yang masih mengantuk, Samui memasuki unit apartemen Hinata. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Sedangkan, Hinata memiliki jadwal shooting jam 10 nanti.
Menjadi manajer seorang aktris papan atas memang melelahkan. Hampir setiap hari ia bekerja. Tapi, tentu saja ia bangga akan pekerjaannya ini.
Jika kalian berada di kota Tokyo, tidak mungkin dalam jarak lebih dari 5 km kalian tidak melihat wajah Hinata. Wanita itu sangat terkenal. Ia bahkan dijuluki sebagai 'Ratu Perfilman Jepang' karena dirinya yang selalu menjadi pemeran utama di setiap film-film besar.
"Hinata, apa kau su-"
Ucapan Samui terhenti. Ia tidak melihat Hinata di dalam kamar. Alisnya mengernyit heran.
"Hinata..." panggilnya ke seluruh penjuru ruangan. Namun, tidak ada satupun suara yang menyahuti.
Ia berinisiatif untuk membuka satu persatu ruangan. Meskipun ia kerap kali tegas dengan Hinata, tapi sejujurnya ia juga khawatir akan kondisi wanita itu.
Jangan salah sikapnya selama ini pada sang aktris. Ia juga ditekan oleh pihak manajemen agar melarang Hinata ini itu. Pekerjaannya menjadi taruhan jika ia tidak mengikuti.
Dua ruangan tersisa, yaitu kamar mandi dan walk-in closet. Samui pun segera berjalan ke kamar mandi karena ruangan itu lebih dekat darinya.
Deg!
"Hinata!"
Umpatan muncul dari bibirnya. Ia bisa melihat Hinata yang masih dalam keadaan berendam di dalam bathtub dengan wajah yang sudah pucat dan bibir yang membiru.
Dengan sekuat tenaga, ia membawa Hinata keluar dari bathtub dan memanggil dokter. Bersiaplah ia terkena semprotan pihak agensi.
.
.
.
"Ia tidak boleh dibawa ke rumah sakit! Bagaimana jika media sampai tau?!"
Perdebatan itu berhasil membangunkan Hinata dari tidurnya. Ia bisa mendengar suara Samui yang sedikit meninggi. Meskipun demikian, ia tetap memejamkan mata dan berpura-pura untuk tidur.
"Hinata bisa dalam bahaya jika seperti ini. Tidak semua peralatan medis bisa dibawa kemari. Kita harus membawanya ke rumah sakit."
"Agensi tidak menyetujuinya, dokter Kabuto. Kau seharusnya bisa mengerti."
"Imunnya turun dan juga terkena darah rendah. Dia terlalu stress. Katakan pada agensi untuk tidak memfosirnya."
"Iya, aku mengerti. Tapi tetap saja tidak untuk ke rumah sakit."
Rasanya hati Hinata sedang diremas oleh tangan tak kasat mata. Ia harus merelakan kesehatannya hanya demi karir. Menjadi seorang public figure memang tidaklah mudah dan penuh konsekuensi. Tapi, hidupnya terlalu dikekang.
"Aku tak apa, dokter," ucap Hinata sambil mendudukkan diri. "Bisa tolong berikan aku obat saja? Aku masih ada shooting."
"Hinata ta-"
"Tak apa. Aku akan ke rumah sakit jika sudah tidak kuat."
Kabuto memandang Hinata sedih. Ia adalah dokter sekaligus psikiater pribadi sang aktris. Tentu saja ia sangat memahami kondisi fisik dan mental wanita itu. Dan ya, ia tau Hinata sudah hampir mencapai batasnya.
"Samui, tolong siapkan semuanya," pinta sang aktris.
Samui pun pergi meninggalkan kamar, menyisakan dirinya dan juga dokter Kabuto. Efek dari obat perangsang yang ia konsumsi sudah mereda total. Hanya saja, tubuhnya sangat pusing dan lemas sekarang.
Kabuto terduduk di salah satu kursi dan menuliskan sebuah resep obat yang bisa membantu Hinata meredakan rasa nyeri. "Dosis obat mu sudah cukup tinggi."
Hinata terdiam. Ia memang setiap hari meminum obat untuk mengatasi permasalahan mentalnya. Selain itu, ketika dirinya sakit, ia pasti meminta obat dengan dosis tinggi agar bisa langsung beraktivitas.
"Kau juga sudah tidak pernah melakukan terapi lagi."
"Ya, maaf."
"Jangan meminta maaf padaku. Katakan itu pada dirimu sendiri."
Mungkin ia bisa saja melakukan hal itu. Tapi, ia tidak tau apakah ia bisa memaafkan dirinya sendiri atau tidak.
"Berjanjilah untuk datang padaku."
"Ya."
.
.
.
Siang haripun tiba. Dengan tubuh yang sudah cukup membaik, Hinata terus memainkan perannya dengan sangat apik.
"Untuk adegan selanjutnya adalah kissing scene."
"Aku merasa adegan ini masih terlalu datar," ucap sang sutradara. "Perlukah kita adakan adegan ranjang?".
Gaara, sang aktor utama terlihat tersenyum samar dan melirik ke arah Hinata. "Aku setuju. Semenjak membaca dialog, aku juga merasa ada yang kurang."
Tidak-tidak. Hinata bahkan tidak tau jika film ini mengandung unsur dewasa. "Tunggu. Di kontrak tidak ada menyebutkan jika ada adegan ranjang."
"Ya namanya juga improvisasi. Agar feelnya semakin dapat, kita adakan adegan ranjang saja. Tidak perlu bertelanjang bulat. Kalian hanya perlu berciuman, lalu Gaara akan duduk di ranjang dan membawamu ke pangkuannya. Kemudian Gaara akan membuka bajumu. Kau mengenakan bra yang bagus kan, Hinata?"
"Kami hanya akan men-shoot punggungmu saja, Hinata. Tidak perlu khawatir," lanjut asisten sutradara.
Lagi-lagi hal seperti ini terjadi Semua orang bertindak tanpa memikirkan kondisinya. "Bolehkah aku menolak?"
"Kenapa? Apa tubuhmu sedang tidak mulus."
Brengsek.
Pemikiran macam apa itu? Jika ia tau ada adegan seperti ini, ia tidak akan mengambil adegan ini.
"Bukan. Aku tidak mau."
"Ayolah, Hinata. Kau jangan sok suci seperti itu. Kau bahkan menjadi brand ambassador Nike dan berpose hanya menggunakan sport bra. Apa bedanya?"
Berpose menggunakan sport bra bukan berarti ia membiarkan seorang lelaki menyentuh tubuhnya. Jika beradegan ranjang, ia tidak yakin jika sang sutradara akan membiarkan tubuhnya tidak tersentuh sama sekali.
"Kita lakukan rehearsal terlebih dahulu. Gaara, cobalah untuk seintim mungkin dengan Hinata. Kau raba beberapa bagian tubuhnya."
Gaara kembali melihat ke arah sang wanita dan menyeringai kecil, "aku boleh raba bagian apa?"
"Payudara dan paha," ucap sutradara itu.
Hinata terdiam. Ia sudah tidak peduli lagi. Toh tubuh dan jiwanya bukanlah miliknya, melainkan milik para petinggi di agensinya.
TBC~~
