Kebahagiaan Shizuka
Summary: Shizuka adalah kunoichi yang tangguh, tapi pertemuannya dengan ninja lain membuka jalan baru yang lebih membahagiakan untuk hidupnya.
Disclaimer: Naruto - Masashi Kishimoto
.
.
.
Dalam ruangan tersembunyi pada malam hari, seorang kunoichi bernama Shizuka terlihat tidak sadarkan diri dengan keadaan telentang di atas tempat tidur berukuran lebar, tak ada siapapun di tempat ini selain dirinya seorang. Sampai akhirnya, Shizuka tersadar, mata hijaunya mengamati sekitar.
'Di mana aku?'
Setelah kesadarannya pulih, Shizuka terkejut ketika mengamati keadaannya, bugil tanpa jenis pakaian apapun menutupi tubuhnya, sehingga buah dada besar dan body menggairahkannya terekspos dengan jelas. Tak hanya itu saja, kaki dan tangan Shizuka juga terikat, karena hal ini, siapa saja yang masuk bisa dengan mudah terangsang melihat penampilannya.
"A-Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padaku?"
Dua orang, pria dari segi tampilan, masuk ke ruangan tanpa memakai apapun kecuali topeng motif hewan, tipe Kuma dan Tora, dengan mulut terlihat. Shizuka menggeram pada mereka berdua.
"Kalian! Jadi ini semua ulah kalian!"
Shizuka mulai mengingat kalau dia sedang menjalankan misi, lalu, beberapa ninja ini menyergapnya entah dari mana, semuanya menjadi gelap setelah itu.
Kuma terkekeh bersama dengan Tora. Amarah Shizuka rupanya menggelitik tawa pada mereka
"Tora, lihat siapa yang telah sadar," kata Kuma.
"Hmm, sepertinya pelacur kita ini sudah tidak sabar menjalankan misi barunya," ujar Tora.
Shizuka memperhatikan penis mereka telah menegak dengan keras, menyadari maksud dari perkataan Tora. Tak berniat menyerah, Shizuka mencoba mengalirkan chakra untuk melarikan diri, tapi tidak terjadi apa-apa, sebaliknya, sensasi aneh mulai menjalar ke seluruh permukaan tubuhnya.
"Hnggh…"
Entah mengapa, Shizuka merasakan gatal pada liang kewanitaannya, tak hanya itu saja, puting susunya bahkan telah mengeras dan tubuhnya terasa hangat sedikit demi sedikit. Shizuka juga memperhatikan penis dua ninja ini terlihat nikmat, dan bagaimanapun caranya, ingin dua penis itu menggerogoti kerongkongannya tanpa ampun.
"Wah, Tora, sepertinya efeknya sudah bekerja."
"Lebih cepat dari dugaanku. Tapi ini perkembangan yang bagus."
"S-Sebenarnya, apa yang kalian perbuat padaku?" tanya Shizuka.
Tora dan Kuma hanya tertawa.
"Anggap saja kami punya cairan khusus untuk mengubah aliran efek chakra yang aktif menjadi… menaikkan gairah, sampai ke tahap maksimal," kata Kuma.
"Tidak murah tentunya, tapi sepadan, terlebih..."
Kuma mengelus paha mulusnya, memberikan efek kejut pada Shizuka karena kontak fisik kecil itu. Kuma menyeringai pelan.
"…dengan tubuh senakal ini, bagaimana bisa kami menolak kesempatan menyetubuhimu sepuas kami?"
"Benar sekali itu."
Tora juga naik ke tempat tidur, berada di sebelah Shizuka, satu jarinya menyusup ke bawah, menggosok lubang vaginanya. Shizuka mengeluarkan suara, seperti desahan yang tertahan, menimbulkan tawa dari Kuma.
"Hey, Tora, apa menurutmu pelacur ini layak diperlakukan lemah lembut?"
"Dengan sikap seperti itu? Aku rasa tidak."
"Benar juga yang kau katakan itu."
Tora dan Kuma melirik satu sama lain, secara mendadak, menyedot puting susu Shizuka dengan kencang.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhh!"
Shizuka klimaks sembari menjerit hebat, tubuhnya bergetar tidak karuan saat dua ninja itu mengisap puting susunya sekeras mungkin, sementara vaginanya basah karena cairannya sendiri. Shizuka hanya mampu berteriak, meracau, dan tidak mampu berbuat apa-apa sementara Tora dan Kuma memuaskan hawa nafsunya dengan terus-menerus menghisap tonjolan keras dari buah dadanya. Tora dan Kuma sangat menikmati kegiatan menetek itu, terbukti dengan pre-cum sedikit menetes dari ujung kemaluan mereka.
"Uummph, uummmph, tak keluar juga."
"Haah, ummmph, mungkin belum keras sedotnya."
Kuma menyeringai, menyedot lebih keras dari sebelumnya, begitu juga dengan Tora yang meniru perbuatannya. Kuma dan Tora mengabaikan jeritan Shizuka yang sekali lagi keluar, pada titik ini, Kuma dan Tora hanya tertarik dengan puting susu yang sedang diisap mereka, begitu memuaskan dan tentunya nikmat.
"Uummmph... Haha, mantap, uummph… uummphh…."
"Uummmmp... aku tidak bisa berhenti… uummmpph…"
Shizuka menendang-nendang ke segala arah saat menjerit lagi, pertanda keluar, wajahnya sudah sebagian merah akibat mabuk dengan gairah yang tertunda. Sudah tidak memikirkan apapun lagi, bahkan harga diri dan kebanggaannya sebagai seorang wanita, Shizuka tahu yang harus dilakukannya.
"K-Kumohon…"
Kuma dan Tora terangkat wajahnya, berhenti menetek, menatap Shizuka dengan ekspresi tertarik.
"Maaf? Bisa diulang?"
"K-Kumohon, terserah mau kalian apakan aku, tapi setidaknya biarkan aku menyentuh penis kalian," mohon Shizuka memelas.
Kuma tertawa, pindah ke belahan kaki Shizuka, mengarahkan penisnya ke lubang vaginanya. Shizuka terkejut, hanya sesaat, digantikan dengan senyuman.
"Begini lebih baik. Bukankah begitu, pelacur?"
"Y-Ya, silahkan teruskan."
Kuma langsung mendorong penisnya ke dalam, merobek selaput daranya, dan seketika menggenjot Shizuka tanpa memberikannya waktu beradaptasi. Shizuka mendesah dengan ekspresi bahagia di wajahnya, bahkan air mata sampai menetes dari matanya.
"Ahh! Ahh! Ah! Ahh! Ahn!"
"Gaahh, kau suka diperlakukan seperti ini, pelacur?"
"Yeah! Sugoii! Kimochi! Ahh! Ahh! Ahn! Ahh! Ahh!"
Sementara Kuma sibuk menggenjot, Tora hanya mencopot tali yang mengikat tangan kanan Shizuka, berkat itu, Shizuka mengocok penis Tora sebagai balasannya. Tora mengerang karena merasa enak, dan di saat bersamaan, menyeringai tipis ke arah Shizuka.
"Sial, kocok lebih keras, pelacur."
Shizuka tertawa geli.
"Mmnn, cium aku dulu, sayang."
Tora mencium bibir Shizuka karena sudah tidak tahan, begitu bernafsu sampai air liur menetes dari sela mulut mereka, tapi tak ada yang peduli dan masih terus berciuman. Menyaksikan langsung adegan panas itu, Kuma merasa bergairah, dan menggenjot lubang vagina Shizuka semakin keras sembari mengisap puting susu yang kiri.
"Mmmnn… ahh…. Ahn, sugoi, ahh… mmnnn…"
Shizuka mendesah di sela-sela berciuman dengan Tora, bersamaan dengan itu, mengocok lebih kencang penisnya. Karena mendengar dari dekat desahan Shizuka, Tora menjadi tidak tahan hingga akhirnya keluar, menyelimuti sebagian permukaan tangan Shizuka dengan cairannya. Begitu pula dengan Kuma yang keluar di dalam lubang vaginanya.
"Hah, rasanya lega sekali bisa keluar lendir. Tora?"
Tora, yang merasa puas, menjauhkan wajahnya dari wajah Shizuka sampai benang saliva mereka terputus, beralih kepada Kuma.
"Sama sepertimu. Rasanya memang melegakan."
Kuma dan Tora tertawa bersama, beralih ke arah Shizuka, yang mengamati dengan gairah. Sadar diperhatikan, Shizuka menjilat sisa-sisa cairan Tora di sela-sela jarinya, secara naik turun, sembari mengedipkan matanya pada mereka. Kuma dan Tora menjadi terangsang lagi, segera mendekat, mengarahkan penis mereka ke wajah Shizuka.
"Jilat, pelacur."
"Harus sampai bersih."
Shizuka tersenyum lalu mengangguk, menjilat penis Kuma dan penis Tora secara bergantian, memastikan tak ada cairan yang terlewat dari lidahnya. Sudah bersih, Kuma dan Tora dari tempat tidur, tidak lupa mencopot tali lain sehingga Shizuka terbebas.
"Mulai sekarang kau adalah 'toilet' kami. Setiap kali kami kemari, kau akan memenuhi segala hasrat kami, tidak perlu dipertanyakan, hanya boleh patuh dan menurut."
Shizuka mengangguk, merasa antusias dengan tugas sekaligus tujuan hidup barunya. Niat kabur sama sekali tidak terlintas di pikiran Shizuka. Karena menurut Shizuka, tak ada yang lebih baik, selain memuaskan hasrat dan keinginan dua tuannya ini.
"Bagus, kebutuhan makan-minum, kamar mandi, ada di ruangan lain dalam rumah ini. Untuk pakaian, kami asal beli, jadi pakai saja yang menurutmu pas. Ada pertanyaan?"
Shizuka menggeleng.
"Bagus, sekarang turun ke lantai, dan buka mulutmu lebar-lebar."
Shizuka turun ke bawah, duduk, tidak lupa membuka lebar mulutnya. Kuma menyumbat mulut Shizuka dengan penisnya, diam sejenak, akhirnya merasa lega usai buang air kecil. Setelah Kuma pergi dari ruangan ini, kini giliran Tora, mendorong penisnya ke dalam mulut Shizuka, begitu menikmati sensasi kencing di mulut wanita montok sepertinya.
"Sampai jumpa lain hari, pelacur."
Shizuka hanya tersenyum melihat kepergian Tora. Setelah beberapa saat, Shizuka menghela nafas, tapi senyuman lagi-lagi menghiasi wajahnya.
Inilah hidup yang sempurna baginya.
Tamat
