note : cerita ini sepenuhnya fanfiksi dan tidak ada sangkut pautnya dengan anime / manga
Haikyuu!! milik Haruichi Furudate
volleyball and you
Akaashi tahu jika Bokuto itu populer, popularitasnya melebihi seantero sekolah karena bahkan beberapa penjuru negeri sakura tahu siapa Bokuto Kotaro ini —tentu saja bagi orang-orang yang mengikuti voli. Dan karena popularitasnya itu, Bokuto kerap menerima pernyataan cinta baik secara lisan maupun tulisan, yang diucapkan dengan memberanikan diri menampakkan wajahnya dan yang diungkapkan melalui surat dengan stiker-stiker lucu berbentuk hati di pucuknya atau sebagai perekatnya.
Beberapa kali Bokuto mengeluh tiap membuka lokernya yang dipenuhi surat dan makanan manis dari para penggemar, dan Akaashi yang tidak memiliki ide apapun hanya memandang, tidak tahu harus melakukan apa.
Sore itu, seusai bel pulang sekolah berdering, Akaashi datang ke gedung olahraga untuk latihan sore seperti biasa. Pemuda berparas manis itu meletakkan tasnya dan berniat mengganti pakaian sebelum Konoha berteriak, "dimana Bokuto!?"
Akaashi menoleh, menyapu pandang pada seisi gedung olahraga dan baru menyadari ketidakhadiran sang ace Fukurodani.
Disamping Akaashi, Washio bersuara, "apa kau tau kemana Bokuto pergi?"
"Tidak, aku langsung datang dari kelas."
Dan seperti Akaashi yang biasanya, pemuda itu mulai banyak berpikir dalam satu dan dua menit yang berlalu, mulai merasa khawatir dengan Bokuto. Beberapa pikiran buruk mengganggu hingga akhirnya putuskan untuk keluar gedung guna mencari Bokuto yang masih tidak menampakkan diri.
Sekolahan sudah sepi, jika masih ada beberapa anak pun sudah tidak didalam kelas, semua orang sudah diluar ruang kelas dan hampir semua pintu kelas sudah tertutup. Akaashi mengirim pesan untuk orang di gedung olahraga, menanyakan apakah Bokuto sudah kembali, tapi jawaban 'belum' didapat dari semua orang yang ditanyai.
Berniat kembali setelah berpikir cukup lama, Akaashi mendapati salah satu ruang kelas dengan pintu terbuka. Kakinya melangkah dengan yakin sebelum suara perempuan samar-samar menyapa telinganya, Akaashi berhenti melangkah tepat didepan pintu.
"Baiklah, kalau begitu.."
Suara lembutnya bergetar, terdengar seperti menahan tangis.
"T-tapi, Bokuto-senpai. Bisakah kau beri tahu aku alasanmu.." ada jeda sebelum gadis itu kembali melanjutkan, "a— maaf aku tidak sopan! A-aku hanya—"
"Aku.." kini suara serak Bokuto yang sejak tadi menjadi bahan pikiran Akaashi terdengar, pemuda itu setia menyimak sampai Bokuto melanjutkan, "aku mungkin menyukai orang lain. Aku tidak ingin memaksakan diri untuk berkencan dengan orang selain dia."
Suasana hening, sang gadis yang Akaashi tidak ketahui siapa itu juga tidak menyambung dengan kata apapun. Tentu saja, ditolak dengan alasan terang-terangan karena menyukai orang lain itu sangat menyakitkan.
"Dan aku ingin fokus pada voli. Aku ingin masuk tim nasional, jadi saat ini aku hanya akan fokus pada voli."
Tidak sadar, Akaashi tersenyum. Bangga mendengar bagaimana kakak kelasnya itu dengan mantap menyerukan tekadnya.
"A-ah begitu.. kalau begitu, tidak ada yang bisa aku lakukan.." gadis itu kembali bersuara, nadanya juga lebih bersemangat dan tidak lagi bergetar.
"Aku akan menjadi pendukungmu sampai akhir, Bokuto-senpai. Jadi pastikan kau menjadi ace untuk tim nasional nanti."
"Aku pasti akan melakukannya!"
Akaashi sedikit menyingkir saat gadis itu berjalan keluar, dan seperti keberuntungan gadis itu berjalan kearah lain yang membuat mereka tidak bertemu pandang. Toh gadis itu terus menunduk, walau mereka harus berhadapan sekalipun sepertinya gadis itu tidak akan repot mendongak.
Kini Akaashi melangkah maju, berdiri di ambang pintu dan menghadap kedalam dimana Bokuto berdiri dengan sebuah bingkisan di tangannya. Keduanya saling pandang beberapa saat sebelum Akaashi memberi senyuman kecil, "kau tidak mungkin melupakan latihan sore kan, ace timnas?"
Bokuto tertawa, "lupa latihan voli itu tidak ada di dalam kamus hidupku, Akaashi!"
Akaashi tersenyum, sedikit lebih lebar sampai matanya menyipit.
"Kalau begitu ayo kembali, semuanya sudah menunggu."
"Akaashi."
Langkah Akaashi tertahan saat suara Bokuto yang terdengar serius memanggilnya. Akaashi berbalik dan menatapnya lagi, memandang lurus pada iris keemasan milik yang lebih tua.
"Ada apa?"
"Kau mendengar semuanya?"
Akaashi mengerjap, berpikir tentang apa gerangan yang Bokuto pikirkan saat ini. Apakah Bokuto takut jika orang lain tahu dia menolak gadis lagi? Atau Bokuto malu jika Akaashi tahu ia menyukai seseorang? Akaashi pikir Bokuto bukan tipe orang yang terlalu memikirkan pandangan orang lain pada dirinya, karena Bokuto itu orang yang bebas.
"Bahkan jika aku mendengar semuanya, aku tidak akan mengatakan pada siapapun. Jadi jangan khawa—"
"Tentang aku menyukai orang lain, kau mendengarnya?"
Ucapan Akaashi terpotong oleh Bokuto yang kembali bertanya. Dan karena agak terkejut, Akaashi hanya mengangguk. Masih benar-benar tidak tahu apa yang dipikirkan ace timnya itu.
"Jika aku mengatakan kalau aku menyukai laki-laki, apa kau akan menjauh dariku?"
Akaashi menggeleng, "aku tidak berhak melakukan apapun atas itu."
"Lalu bagaimana jika aku mengatakan padamu, jika aku menyukaimu?"
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Akaashi merasa otak cerdasnya tidak bisa berpikir untuk beberapa saat. Ucapan Bokuto barusan, apakah ditujukan untuk dirinya? Atau ada orang lain di ruang kelas itu dan ia hanya salah sangka?
Tapi Bokuto menatapnya dan wajahnya serius. Tidak mungkin wajah itu ditunjukkan ketika bercanda.
"A-aku?"
Merasa jaraknya terlalu jauh, Bokuto putuskan mendekat, tatap wajah Akaashi lebih jelas dalam jarak dua langkahnya. Mata Akaashi melebar dan bolak-balik menatap kedua mata Bokuto dengan tatapan tidak percaya. Namun masih mempertahankan raut seriusnya, Akaashi akhirnya mengerjap. Pemuda manis itu menetralkan detak jantungnya yang entah sejak kapan sudah berdebar begitu cepat. Senyumnya kembali dikembangkan dengan lembut, khas Akaashi yang akan selalu Bokuto sukai.
"Aku tidak keberatan."
Akaashi berbalik, "kalau begitu ayo kembali, semuanya sudah menunggu."
"Lalu, apa kau mau jadi pacarku?"
Wajah Akaashi mulai panas, pemuda itu tersenyum dan menunduk untuk menyembunyikan wajahnya sesaat, berpikir pasti wajahnya sangat memalukan saat ini.
"Bukankah kau berjanji akan fokus pada voli dan memasuki timnas?"
Akaashi berbalik dan berjalan keluar kelas, "sebaiknya persiapkan dulu untuk timnas.."
Akaashi melangkah lanjut menetralkan debaran di dadanya di sepanjang lorong dimana dirinya berjalan dengan Bokuto di belakang.
"Lalu, apa kau mau menunggu sampai aku masuk timnas?"
"Aku akan menunggumu."
"Oi, Akaashi! Tunggu, jalanmu cepat sekali!"
"Kau yang lambat, Bokuto-san!"
"Kalau begitu kau mau jadi pacarku setelah aku masuk timnas?"
"Aku sudah bilang akan menunggumu, jadi bisakah berhenti membicarakannya sekarang?"
Langkah Bokuto terhenti sesaat dengan wajah terkejut sebelum berteriak dengan lantang,
"AKAASHI, KAU MILIKKU! HEY HEY HEY!!"
"BOKUTO-SAN!!"
volleyball and you
—fin—
saya nggak tau ini nulis apa, tiba-tiba kangen bokuaka tengah malam :)
sebenernya mau saya buat pair kagehina karena ingat seberapa besar cinta kage buat voli, tapi nggak tau kenapa malah jadi burung hantu.
anyway, jangan lupa minum and stay healthy dimanapun kalian berada!!
