.
Aku terduduk sembari menutup telinga
Mungkin sejenak membiarkan sembilu menancap terlihat lebih baik
Tapi memang tidak ada yang lebih baik
Ribuan omong kosong
Hanya penduduk bodoh di ujung lorong yang mempercayai
Sayangnya,
Dulu akulah pemimpin mereka
.
A Story by woodvale
.
an elegy
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
(Hope you like and enjoy it ^^)
Naruto menatap lembaran terakhir dari kertas-kertas yang ia baca itu dengan alis meninggi. Yang ini sedikit menarik. Simpel namun menyimpan sisi gelap. Meski belum termasuk yang terbaik—setidaknya dari sebagian besar karya yang ia baca—tapi tetap patut diperhitungkan.
Mata birunya terangkat. Objek pandangannya kini berubah—pada seorang gadis dengan rambut terkepang. Bentuk matanya yang bulat mengerjap penuh harap, seiring pertanyaannya yang terucap. "Bagaimana?"
"Well, tampaknya kau menyelipkan satu karya baru,"
Gadis itu menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. Bibirnya tersenyum malu-malu. "Aku baru membuatnya tadi malam,"
Naruto tersenyum, meletakan tumpukan kertas itu pada meja. "Aku menganggumi tulisanmu, Hinata. Kuakui kau berbakat,"
"Terima kasih," balas gadis itu.
Keduanya bertemu sekitar tiga minggu yang lalu. Hinata memperkenalkan diri sebagai anggota baru dari komunitas mereka. Bibliophile. Sesuai namanya, komunitas ini terdiri dari orang-orang yang memiliki kegemaran terhadap buku. Kurenai, sebagai pendiri, bermaksud memberikan tempat bagi anak-anak muda diluar sana untuk saling berbagi, berdiskusi, atau membahas berbagai ganre buku yang mereka baca. Tapi tak sedikit pula yang menjadikan komunitas tersebut sebagai upaya pemupukan bakat yang dimiliki. Seperti Hinata contohnya.
Lalu kenapa Naruto?
Menurut info yang Sakura berikan, pemuda itu menyukai karya puisi. Tentu tidak ada salahnya jika Hinata meminta pendapat, bukan?
"Sudah coba mengirimnya ke penerbit?"
Hinata menggeleng. "A-aku tidak yakin."
"Kenapa? Takut ditolak?" tebak Naruto. Melihat Hinata mengangguk samar, ia sedikit mendengus. "Seorang J.K Rowling tidak bermain sihir agar karyanya diterbitkan dan mendunia. Bahkan seorang Ray Bradbury mendapat 800 penolakan dari penerbit,"
"Intinya adalah; jangan menyerah,"
Kedipan sebelah mata dari Naruto menjalar ke hatinya bagai bara api yang siap membakar semangat. Ia telah menyimpan tulisan-tulisan itu sejak tiga tahun yang lalu. Ada banyak kesempatan sebenarnya, tapi Hinata tidak yakin akan peluang bagi pemula sepertinya.
Ia kembali menatap Naruto. Pemuda itu menyeruput kopinya hingga tandas. "Kenapa kau suka puisi?"
"Mungkin lebih tepatnya aku senang membaca berbagai macam emosi dari sisi terdalam seseorang melalui hal itu,"
"Jarang aku menemukan laki-laki puitis sepertimu,"
Naruto terkekeh. "Terima kasih. Aku anggap itu pujian,"
Dering handphone milik Hinata berbunyi dan 'Sasori-kun' lengkap dengan emotikon cinta terpampang jelas di layarnya. Memecah suasana dan merubah getaran pada hati seseorang. Entah mengapa.
Gadis itu mengangkatnya. Nadanya ceria dan senyumnya terik bagai matahari di luar sana. Tapi Naruto tidak sekalipun berpaling demi menyaksikan raut wajahnya yang berubah sepersekian detik. Alisnya menurun dan Hinata tampak murung.
Kalimat 'baiklah' dari suaranya tampak mengalah. Lalu menjauhkan handphone itu dari telinganya, seperti telah dimatikan secara sepihak.
Mata bulatnya kembali menatap Naruto.
"Aku harus pergi,"
"Lho, kenapa?"
"Aku... ada keperluan mendadak."
"Tapi Kurenai..."
"Sampaikan salamku padanya karena tidak bisa ikut dalam kelas,"
Dengan langkah yang tampak terburu-buru, Hinata beranjak dari sana. Meninggalkan Naruto dengan segenap tanya. Tapi bahunya segera terangkat, tampak tak peduli meski dusta. Mungkin sedang bertengkar, pikirnya. Setiap pasangan akan begitu bukan? Jangan tanya padanya. Ia single.
an elegy
Jalanan becek dan langit yang mendung. Tidak semua orang menyukai suasana seperti ini. Bapak tua di ujung sana menggerutu hebat sejak sepatunya kotor oleh lumpur, sedangkan gadis remaja disampingnya melipat kembali payung biru yang ia bawa demi merasakan tetes hujan di pertengahan November.
Tidak ada yang benar atau salah. Mereka dengan seleranya masing-masing.
Toko buku di sudut jalan penuh oleh mereka yang senang mengurung diri dalam ruangan dan tenggelam dalam imajinasi. Kadang mengasingkan diri itu menyenangkan, tapi tak selamanya indah hidup dalam kesepian.
Memikirkan itu membuat Naruto kembali mengingat Saara. Bagaimana keadaannya sekarang?
Terakhir kali ia mendengar gadis itu melanjutkan studi ke dataran Eropa. Membawa segala mimpi yang selalu ia agung-agungkan. Mereka putus bukan karena demikian, namun masing-masing merasa tidak ada yang perlu untuk dilanjutkan. Ketidakcocokan? Mungkin iya, tapi mungkin juga tidak. Ada banyak alasan, tapi keduanya tidak menemukan yang tepat.
Naruto menatap gelas kopi di genggamannya. Kini ia tidak ingin gegabah. Biarlah cinta masa mudanya terlewat. Baik ia maupun Saara tidak ada yang mempermasalahkan. Karena bisa dikata mereka kini sudah tak cinta.
"Kemana rekan puitismu?"
Buyar. Lamunannya buyar oleh suara Ino.
"Siapa?"
"Si Hyuuga itu, tentu saja."
Lampu imajinernya menyala. Ia tersadar tak melihat kehadiran Hinata hari ini. Matanya memutari ruangan dan tak menemukan gadis berkepang itu. "Aku tidak tahu,"
"Tidak mencoba menghubungi?"
Naruto menoleh, "Maaf mengecewakan tapi jujur aku tidak memiliki kontaknya,"
Ino tahu ia baru saja mendapat syok terapi. Matanya menatap Naruto seolah pemuda itu baru saja mengeluarkan paku dari hidungnya yang mancung. "Aku tidak kecewa... tapi terheran-heran,"
Jemari yang diperindah oleh kuku berwarna coklat itu membetulkan posisi buku pada rak di belakang Naruto. "Ia tampak seperti gadis penganut sistem patriarki jadi cobalah kau yang berinisiatif untuk meminta,"
"Meminta apa?"
Ino melotot. "Nomor ponselnya, Bodoh!" gadis itu sedikit bergeser. "Atau kau berpikir aku sedang membicarakan hati?"
Alis kiri milik Naruto meninggi seketika. Takjub akan pola pikir wanita, terutama Ino. Kaum mereka senang sekali melebarkan topik pembicaraan. Random dan tidak mudah ditebak.
Melihat respon yang diberikan pemuda itu padanya membuat Ino berkacak pinggang. "Kau pikir aku tidak tahu? Kau tertarik pada Hinata 'kan?"
"Darimana kesimpulanmu itu?"
"The way you look at her. Laki-laki adalah makhluk paling bodoh dalam sandiwara,"
Naruto diam. Meski random dan tidak mudah ditebak, pola pikir wanita itu unik. Radar mereka bisa menangkap berbagai hal tak kasat mata tepat pada sasarannya. Ia kembali menatap gelas kopi. Sedikit malu tapi juga sedikit gelisah. Jika Ino saja tepat sasaran, apa Hinata demikian?
Naruto menggeleng.
"Dia sudah punya kekasih,"
Ino menepuk jidatnya cukup keras. "Siapa peduli! Kau bisa rebut dia,"
"Tidak-tidak, tidak akan. Aku tampak seperti bajingan,"
"Kau kenal kekasihnya?"
Alis Naruto kembali mengerut. "Tentu saja tidak,"
"Lalu bagaimana kau yakin laki-laki itu tidak lebih bajingan darimu?"
"Entahlah, tapi Hinata terlihat bahagia."
Diam.
Tidak ada balasan dari Ino. Gadis itu diam, namun Naruto tampak gelisah. Saat ia menoleh, benar saja, Yamanaka Ino sedang tersenyum bak iblis di sampingnya. Mungkin Naruto harus berdoa agar kuku-kukunya yang tajam tidak bergerak untuk memutus nadi karotis di lehernya.
"A-apa?"
"Pengakuan terselubung, eh?"
Naruto berdecak. Kini tawa Ino seperti algojo baginya. Ia tak menyangka akan menyetujui slogan terkenal milik Shikamaru—teman sekantornya. Perempuan itu merepotkan, begitu katanya.
Naruto memilih beranjak. Mencari buku di rak komedi bukan pilihan yang buruk untuk menjernihan pikiran.
an elegy
Jam 5 pagi.
Bukan suatu hal yang baru bagi Hinata untuk bangun sepagi ini. Ia menggulung rambutnya lalu beranjak ke kamar mandi.
Dapurnya masih temaram oleh lampu kecil di samping wastafel. Ia menyiapkan air untuk dipanaskan. Selagi menunggu, ia mengambil beberapa bahan di kulkas untuk ia olah sebagai sarapan.
Hidup sendiri di ibukota bukan sesuatu yang sulit dijalani. Lagipula ia tidak benar-benar sendiri. Ia merantau terlalu jauh dari rumahnya. Sudah hampir tiga tahun ia tidak pulang. Kabar Ayah serta Adiknya hanya dapat ia ketahui melalui videocall. Banyak alasan yang Hinata utarakan namun tidak benar-benar menjadi alasan. Menyedihkannya, mereka selalu percaya.
Ia memang berengsek.
Ting tong
Dok dokk dokk
"Hinata! buka pintunya!"
Atau justru orang ini yang membuatnya menjadi berengsek?
Ya. Ini jam 5 pagi. Mungkin Hinata akan menerima omelan untuk kesekian kali dari tetangganya. Ditengah kegiatan memotong, Hinata berlari ke arah pintu. Memutar kunci lalu membukanya.
Laki-laki itu ambruk. Hinata limbung hingga nyaris jatuh. Susah payah ia menggotong tubuh yang lebih besar darinya itu ke arah sofa. Membaringkannya sembari melepas sepatu.
Akasuna Sasori.
Kekasihnya.
Pulang pagi dengan keadaan mabuk. Bukan menjadi hal baru ketika bau alkohol seketika menjadi pengharum ruangan di apartemennya.
"Mau kubuatkan teh?"
Keadaannya setengah sadar. Sulit diajak bicara, tapi setidaknya Hinata mencoba.
"Air putih."
Hinata mengangguk mesti tak terlihat lalu segera beranjak. Sasori tidak suka jika ia lamban. Maka dengan cepat ia kembali dengan segelas air putih. Disodorkannya gelas itu yang langsung di minum hingga tandas.
"Terima kasih,"
Hinata tersenyum.
Selalu begini. Entah ia yang terlalu naïf atau memang tidak ada pilihan yang lebih baik. Ia pernah sekali meminta Sasori untuk menghentikan kebiasaan buruknya. Enam bulan yang lalu, bahkan kekasihnya itu harus sampai di rawat karena infeksi hati. Tapi laki-laki itu justru berkata, berhenti mengaturku lalu melengos pergi dengan membanting pintu.
Hinata menatap pemuda yang memejamkan matanya itu. Mengelus lengannya lalu berkata, "Tidurlah. Biar kusiapkan sarapan,"
Tanpa disangka Sasori menoleh dengan mata setengah tertutup. Balas mengelus pipi Hinata. Membuatnya semakin tersenyum.
Ada banyak alasan jika ia memilih pergi dari Sasori. Begitupun sebaliknya, ada beberapa alasan untuk kembali di pelukannya. Meski tidak sebanyak alasan pertama. Hinata tahu ia bodoh. Terlalu bodoh malah. Mencintai seorang Sasori tidaklah mudah. Banyak hal yang sudah ia lewati bahkan bagian terburuknya sekalipun. Pertanyaan dari setiap individu yang ia temui masih sama, kenapa bertahan?
Kembali mengingatkan. Hinata itu bodoh.
Maka jawaban yang ia lontarkan pun tetap sama. Berharap pemuda itu berubah.
Klise? Memang. Meskipun alasan untuk pergi lebih kuat dibandingkan kembali, tapi ia tetap memilih untuk kembali jatuh lalu hanyut.
Ia beranjak kembali ke dapur. Melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Empat tahun menjalin hubungan ini membuat Hinata hilang harapan. Jikalaupun suatu waktu Sasori melamarnya, ia tidak yakin untuk mengatakan iya. Tapi untuknya pilihan hanya ada pada kata tersebut. Sang Ayah disana sudah sering menanyakan perihal itu. Kala ditanya, Sasori tidak pernah menjawab. Lalu bagaimana pula reaksi Hiashi jika mengetahui sifat Sasori?
Ia mengambil gelas, meletakan teh celup lalu menuangkan air yang sudah di panaskan sebelumnya. Aromanya menenangkan. Cukup untuk sedikit meredakan pikirannya yang mulai keluar batas. Itu urusan nanti. Ia tidak bisa mengantisipasinya sekarang.
Setelah memotong beberapa sayur dan daging, Hinata menyiapkan teflon, menuangkan minyak, lalu mulai memasak.
.
Sasori terbangun ketika merasakan sapuan hangat di kening hingga kepala. Saat membuka mata, Hinata sudah tampak rapi.
"Jam berapa ini?" suaranya serak dan kepalanya pusing.
"7.30. Sudah kusiapkan sarapan di meja dapur," jawab Hinata lembut. Parfumnya membaur dengan wangi masakan berhasil menyapa hidung Sasori.
Pemuda itu tidak menjawab. Hanya mengerjap sambil mengerutkan kening akibat pusing.
"Aku pergi dulu, Sasosi-kun." Pamit Hinata. Tapi tiba-tiba ia menggigit bibirnya. "Um, d-dan mungkin akan pulang terlambat,"
Tatapan Sasori menajam. Membuat Hinata berjengit.
"Kenapa?"
"A-aku ada kelas diskusi di komunitas. Sekaligus—"
"Tentang puisi-puisi jelekmu itu?"
Hinata diam. Bagai ditusuk pisau. Kekasihnya menghina karya yang ia buat.
"Kau hanya buang-buang waktu. Lupakan mimpimu sebagai penulis,"
Gadis itu menarik napas. "T-tapi—"
"Sudah sana! Aku ingin tidur lagi. Jangan pulang larut, atau kau tahu akibatnya," setelah mengucapkan kelimat itu, Sasori beranjak menuju kamar lalu menutupnya cukup keras.
Hinata berkali-kali menarik napas. Menghalau cairan yang mungkin saja rembes dari sela-sela mata. Ini bukan waktu yang tepat. Ia harus berangkat kerja dan terlihat bahwa semua baik-baik saja.
.
Aku berdiri kokoh
Membusungkan dada
Tampak menantang cakrawala hingga semesta
Namun lupa diri
Bahwa sedang tersendat-sendat
Oleh derita yang diciptakan sendiri
.
an elegy
Mungkin memang benar. Musim hujan membuat penumpang kereta menjadi dua kali lipat lebih banyak dari biasanya. Entah mengapa. Apa mereka mendadak berubah menjadi amoeba?
Hinata harus berjuang melewati kerumunan manusia. Orang-orang ini pekerja keras. Mereka tepat waktu. Begitupun Hinata.
Ia terdorong masuki gerbong dengan cukup agresif oleh mereka. Dan tak ada tempat duduk yang kosong. Maka ia harus rela terombang-ambing dengan hanya mengandalkan pegangan tangan yang tergantung di langit gerbong.
Hinata bekerja di salah satu perusahaan penerbit di kota. Hanya perlu 20 menit sebelum akhirnya ia sampai di tujuan. Pandangannya tak menentu. Menerawang jauh ke luar jendela. Sesekali lamunannya terbuyarkan oleh desakan penumpang lain.
Kereta yang ia tumpangi berhenti di stasiun ketiga. Itu berarti masih tiga stasiun lagi.
Ia beralih ketika penumpang yang masuk lebih banyak. Bahkan seorang ibu hamil berusaha mengimbangi langkahnya demi menempati kursi khusus yang sengaja dikosongkan. Sebagian dari mereka menghimpit Hinata, membuatnya sedikit terdorong cukup jauh dari awal ia berdiri hingga bahu kanannya mendempet seorang laki-laki.
"Hinata?"
Ia kenal suara ini. Hinata segera mendongak. Benar saja, itu Uzumaki Naruto.
"Naruto -kun."
Jaket pemuda itu tampak lembab oleh hujan. Rambutnya sedikit lepek. Meski hari mendung, namun senyumnya tetap bersinar. "Berangkat kerja?"
Hinata mengangguk. Ia mencengkram pegangannya dengan erat saat kereta kembali berjalan. "Kau juga?"
"Aku sedang cuti sebenarnya,"
Terakhir kali yang Hinata tahu, pemuda ini bekerja di salah satu perusahaan yang menekuni bidang penelitian nuklir. Informasi yang tak sengaja ia dapatkan dari Karin. Posisinya cukup penting dan berpengaruh, katanya. Tapi Hinata angkat bahu kemudian berlalu. Tak baik menguping pembicaraan orang.
"Jadi hendak kemana?"
"Tempat percetakan,"
"Untuk?"
"Ada yang minat dengan designku, jadi aku harus menemuinya."
Hinata bingung, "Design?
Naruto sedikit tersenyum malu, "Yah, semacam cover buku, mungkin?"
Wajah terkejut Hinata sangat jelas, "Kau seorang desain grafis?"
"Bukan-bukan. Sebenarnya aku hanya iseng, tapi temanku menyarankan untuk menjualnya ke percetakan. Jadi kupikir tak ada salahnya," jawabnya sambil tertawa.
Pupil Hinata membesar. Tampak minat dan kagum. "Double job?"
"Anggap saja pekerjaan sampingan. Lagipula hal seperti itu bisa kulakukan di luar jam kerja,"
Hinata tersenyum. Tampak menenangkan dimata Naruto. "Kau hebat sekali,"
"Terima kasih. Senang bisa membuatmu kagum," canda pemuda itu.
Lalu keduanya tertawa.
Naruto memiliki aura yang positif. Hinata tahu itu. Suasana hatinya berubah selama percakapan mereka.
"Kalau ada waktu boleh aku melihatnya?"
"Tentu saja," Naruto memasukan tangan kanannya kedalam saku. "Kau bahkan boleh menawarkannya pada desainer di tempatmu bekerja,"
Hinata otomatis menoleh. Terkejut karena Naruto tahu dimana ia bekerja. Seingatnya ia tidak pernah bercerita pada siapapun mengenai pekerjaannya. "Darimana kau tahu?"
Pemuda itu justru tersenyum miring. Sebelah matanya terkedip. "Ada deh,"
Hinata menatapnya malas. Membiarkan Naruto tertawa di sampingnya. Mungkin ia bertanya pada Kurenai. Membongkar data profilnya yang disimpan wanita itu. Atau menguntitnya. Atau stalking media sosialnya. Entahlah, Hinata tidak peduli. Ia hanya mengangkat bahu.
Stasiun berikutnya adalah tujuan Hinata.
"Aku duluan, Naruto-kun. Sampai jumpa nanti sore,"
Sebelum gadis itu bergeser mendekati pintu gerbong, Naruto menahannya. Tangan yang semula sembunyi dibalik saku, kini tengah menggoyangkan ponsel di udara.
"Boleh minta nomormu?"
Hinata terdiam sejenak. Pikirannya berputar cepat. Kontak laki-laki di ponselnya hanya Neji—kakak sepupunya—dan Sasori. Bagaimana jika kekasihnya itu tahu ia menyimpan nomor laki-laki selain kakaknya. Terakhir kali itu terjadi, Sasori menghapus lalu memblokirnya.
Tapi Hinata tidak bisa menolak. Ia tidak punya alasan, terlebih yang masuk akal.
Melihat gadis itu hanya diam, Naruto melunturkan senyum lebarnya. Menjadi sebuah ringisan tipis tak terlihat. "Tidak apa jika tak boleh,"
Hinata langsung sigap. Terbuyar dari lamunannya sendiri. Suara Naruto yang tersirat akan kecewa membuat pikirannya yang terpola negatif kedepan seketika terhenti. Ia memberikan senyum lalu,
"034889271,"
Dengan wajah kelewat sumringah Naruto mengetik angka yang disebut Hinata dengan cepat di ponselnya. Tak ingin terlewat atau bahkan salah angka. Ia berterima kasih pada Ino dalam hati. Gadis barbar itu benar. Seharusnya ia yang meminta sejak awal.
Tepat setelahnya kereta berhenti di tujuan Hinata. Gadis itu melambai kecil. Mengantri turun bersama penumpang lain.
"Sampai jumpa!"
Mungkin Naruto sedikit berteriak. Beberapa penumpang tampak terganggu. Ibu-ibu yang duduk di hadapannya bahkan menggerutu. Tapi ia tidak peduli. Pintu gerbong kembali tertutup dan Hinata berjalan menjauh.
Kereta kembali melaju. Namun bukan itu yang membuat Hinata berhenti. Ia meronggoh tasnya dan mendapati ponselnya bergetar singkat. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenal.
Kau menggunakan nametag dengan nama penerbit disana. Kukira itu cukup untuk memberikan informasi tanpa bertanya :D
Naruto
Hinata refleks melihat kartu tanda pengenal yang ia kalungkan. Menggeleng bahkan nyaris tertawa ketika sadar. Ia menyimpan nomor itu, lalu kembali melanjutkan langkah.
an elegy
Ia tidak tahu bagaimana caranya menguntit, tapi—hei, apa melirik diam-diam bisa dikatakan menguntit?
Naruto sulit fokus terhadap Kurenai yang sedang mendiskusikan perihal karakter di salah satu buku favorite milik Ino. Ia tidak pernah menyangka jika wajah lelah seorang Hinata bisa terlihat menggemaskan dimatanya.
Amethys itu melayu turun. Kepangannya sedikit berantakan hingga beberapa poni menempel pada pelipisnya. Belum lagi gelagatnya yang berulang kali mengganti posisi duduk demi mengembalikan fokus. Dan—oh, apa itu? Apa gadis itu baru saja menguap?
Sepertinya Naruto sudah gila. Ia tersenyum-senyum sendiri disaat yang lain memasang wajah serius.
"—Uzumaki?"
Ia tersentak.
"I-iya?"
"Menurutmu apa yang lucu dari karakter Voldemort?"
Oh. Sudah ganti topik? Cepat sekali. Atau Naruto yang sudah melewatkannya sejauh itu?
Ia berpikir acak atas pertanyaan Kurenai. "Hidungnya, mungkin...?"
Kini semua manusia di ruangan itu tertawa geli, termasuk Hinata. Kurenai berkacak pinggang. Naruto menggaruk tengkuknya tanpa dosa. Ia sekali lagi melirik Hinata diam-diam. Manis juga tawanya.
Astaga, apa yang kupikirkan?
"Maaf, permisi,"
Naruto beranjak ke arah pantry, meneguk segelas air putih dingin. Meredam suara gemuruh teman-teman yang meledeknya. Meredam gemuruh dalam dirinya. Ia tidak seharusnya begitu bukan? Itu hal yang salah bukan?
Menurut Naruto itu hal yang salah.
.
Kala sanggup menyapa
Kelu meredam asa
Mana lagi yang perlu untuk dirasa
Sejelas bening dalam gelas
Tetapi menampik seperti tak berdosa
.
an elegy
Hinata membuka pintu apartemennya setenang mungkin. Meredam agar tak bersuara. Ia yakin Sasori sudah terlelap.
Ia melepas mantel dan sepatunya di rak depan. Melipir ke arah dapur demi meneguk segelas air dingin. Hinata pulang sedikit terlambat dari jam seharusnya. Belum lagi kemacetan di jalan yang entah karena apa membuatnya sampai di apartemen nyaris tengah malam.
Ia lelah. Itu sudah pasti. Berendam di air hangat mungkin membantu tidurnya lebih lelap.
Hinata meronggoh tas. Alisnya mengernyit ketika tidak menemukan charger yang ia cari. Ia menggigit bibir bawahnya. Mengingat dimana terakhir kali meletakan benda tersebut. Tapi tak berhasil.
Ponselnya yang sudah lowbat tiba-tiba berdering. Tertera nama Naruto disana. Hinata segera mengangkatnya. "Hallo?"
Dua detik kemudian wajahnya nampak sumringah. "Benarkah? Pantas kucari tidak ada... bisa kau simpan?.. ah, tidak perlu, aku bisa pinjam... besok kuambil saat kelas. Terima kasih banyak, Naruto-kun,"
"Naruto?"
Tepat setelah obrolan singkat itu usai dan Hinata mematikan ponselnya, sebuah suara menyahuti dari balik meja bar. Membuat Hinata tampak terkejut.
"S-Sasori-kun, maaf membangunkanmu—"
"Siapa itu Naruto?"
Hinata menahan napas. Nada itu membuatnya waspada. Wajah Sasori menajam, mendesak perempuan itu untuk segera menjawab pertanyaannya.
"T-temanku di kelas komunitas,"
"Dari namanya terdengar seperti laki-laki,"
Hinata mengangguk kecil. Tak berani menatap mata hazel yang kini mengintimidasinya.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"C-chargerku tertinggal," Jantungnya berdegup kencang kala Sasori berjalan mendekat. Dalam hati ia memanjatkan beribu doa. Bukan waktu yang tepat untuk bertengkar. Ia dilanda lelah luar biasa.
"Bagaimana bisa ada padanya?" Sasori tepat di hadapannya. Suara pemuda itu menguasai. Peringatan bagi Hinata jika menyembunyikan sesuatu.
Belum sempat melanjutkan penjelasan, Sasori tiba-tiba mencengkram rahangnya kuat-kuat. Abai dengan Hinata yang mengeluh sakit, pemuda itu menggeram, "Ingin berkhianat, eh?"
"T-tentu saja tidak—"
"Bohong!"
Kenapa? Kenapa ia selalu di tuduh yang tidak-tidak? Hinata bahkan tidak pernah marah jika Sasori pulang larut dengan bau alkohol yang menyengat. Ia hanya menerima telepon dari seorang teman. Naruto adalah teman.
"D-dia hanya teman, Sasori-kun. K-kumohon..."
Dengan sedikit menghentak, cengkraman itu terlepas. Hinata terhuyung ke belakang, nyaris menjatuhkan toples bumbu. Rahangnya sakit. Namun hatinya lebih sakit.
"Satu yang harus kau ingat. Tidak akan ada lelaki yang mau menerimamu sepertiku, Hinata."
Setelah mengatakannya, Sasori pergi. Pintu kamarnya terbanting. Meninggalkan Hinata yang terisak di dapur dengan lampu temaram. Menangisi diri dengan segala kebodohan. Tapi ia tak punya pilihan. Yang Sasori katakan benar. Jikalaupun ia berniat curang dengan Naruto, mungkinkah pemuda itu mau menerimanya?
Hinata mungkin terjebak. Tapi ia sendiri yang membuat perangkap.
.
.
.
.
.
To Be Continued
Notes :
Draf ini sudah tersimpan lama sampai akhirnya nekat untuk di publish. Sedikit warning di awal, mungkin beberapa karakter agak membuat kurang nyaman. Jadi kalau misal ada yang merasa 'kok dia gini, kok dia gitu, yaelah lebay', setidaknya sudah diwarningkan sejak awal. Karena itu demi kepentingan alur cerita :D
Semoga kalian suka. Jangan sungkan untuk mengoreksi dan meninggalkan review yaa.
Jaga kesehatan selalu
Salam,
woodvale
