Sorrow in Four Act
A naruto Fanfic in Low Medieval Fantasy Universe
Rate M for Safety
Drama
Naruto X Ino
Warning: Typo, AU, OOC, Gore, Etc.
Act I: Pembukaan
Malam. Angin berhembus, membawa daun jatuh. Obor membara, seperti bara api pada perapian. Suara gemertak kayu termakan api, bersinergi dengan suara sepi alam. Bisik-bisik, pembicaraan, tawa, terdengar mengalir pada udara.
Diantara tenda-tenda berjejer yang berisi orang, kesatria-kesatria yang berlutut dan berdoa, mereka yang mengobrol, bercanda, berlatih, keramaian di tengah malam—semuanya menunggu hal yang sama; hari esok.
"Naruto, dan pasukannya akan menyusup dari hutan belakang. Menggunakan kabut, dia akan menaiki menara paling ujung—"
Seseorang memotong, "Dari sana, aku akan melewati—ini", pria berambut kuning itu menunjuk gambar pada map. Jarinya mengikuti garis hingga kemudian, "Aku, dan pasukanku akan membuka kan jalan kemenangan untuk kita."
"Jalan kemenangan, heh" Sinis.
Diantara bara dan bayang, salah seorang yang lebih tinggi dari Naruto berdiri mendekati tenda. Tubuhnya masih terselubungi zirah perak, kilau terpantul pada mata. "Dan aku yang akan membawa kemenangan kepada Konoha".
"Ya. Tentu saja. Kau dan kavalri-mu, Sasuke" Ada desis tidak suka. Berat, Naruto menggigiti bibirnya menahan emosi melihat wajah Sasuke.
"Cukup dengan kelakukan kalian berdua. Kita sudah bertempur lebih dari satu bulan dan aku menolak melihat kalian saling sindir. Musuh kita telah mempermainkan kita berulang kali—"
"Seandainya saja kavalri Sasuke bisa melaksanakan tugas mereka lebih dari setengahnya—"
"Naruto dan pasukannya tidak becus! Mereka tidak mengikuti aturan—"
"Cukup!" Sarutobi berteriak. Pria yang memimpin keduanya melihat dengan wajah lelah. Bukan rahasia lagi bahwa Naruto dan Sasuke saling meyerang pada pertempuran ini, semuanya sudah tahu kedua pemimpin itu tidak saling suka. Tapi, tidak ada yang tahu akan separah ini.
Sarutobi bahkan tidak tahu kenapa menjadi seperti ini. Menjadi seburuk ini. Seandainya saja dia menengahi mereka, menjadi mediator untuk mereka—mungkin perang ini akan berakhir lebih cepat dari yang sekarang. Tapi, tidak—inilah kenyataannya; pemberontakan keluarga Suna yang terjadi tepat setelah koronasi ratu, terjadi dengan tiba-tiba. Sarutobi yang seharusnya telah pensiun di panggil, keluarga bangsawan yang terpecah belah—semuanya dalam kurun waktu satu tahun, kerajaan mereka menjadi berantakan.
"Aku tidak bisa menjelaskan kepada kalian seberapa pentingnya pertempuran besok. Naruto dengan pasukannya akan menjadi faktor penting, begitu juga pasukan Sasuke. Kalian berdua adalah kesatria terbaik kami. Jadi, tolonglah, untuk sesaat saja, kalian berdamai"
Naruto dan Sasuke saling pandang, lama tidak mengutarakan satu kata pun. Ketegangan pada ruangan memeluk mereka, hening—diam, seolah waktu melambat, seolah api yang membara membakar malam, meliuk pelan, menari, sepersekian detik.
Naruto menarik napas, mengangguk. Begitu juga dengan Sasuke. Bahkan tanpa ada satupun kata yang diutarakan, semuanya tahu bahwa untuk saat ini keduanya berdamai. Dan itu cukup, cukup untuk membuat senyum teroreh pada Sarutobi.
Mereka diam, hingga akhirnya Sarutobi membubarkan mereka. Naruto yang paling pertama keluar, memberi hormat dan segela bergegas mengikuti jalan setapak. Melewati tenda, perapian, orang mengangguk melihatnya, beberapa dengan senyum—beberapa lagi dengan sinis. Sudah bukan hal aneh untuk dia dilihat dengan sinis. Bagaimanapun juga, regu pasukannya adalah yang di cap sebagai kambing hitam.
Konoha Irregular. Kumpulan pasukan yang seharusnya tidak lagi berada pada kemiliteran, mereka yang terasingkan, dihukum, kriminal, anak-anak bastard, dan mereka yang dari utara. Pasukan yang tidak memiliki kehormatan, berbahasa kasar, dan tidak memiliki akhlak. Satu-satunya pasukan yang memakai jubah belegam hitam dengan kain kasar, sebilah pedang, dan pisau yang selalu tersembunyi disetiap seluk badan. Pasukan yang bahwasanya, faktor terpenting pada struktur militer Konoha, tapi tidak berada di dalam juridiksi siapapun kecuali jendral perang.
Langkah dari pemimpin irregular itu berhenti tepat di depan biara tua yang hampir menyatu dengan alam. Setengah atapnya hilang, rumput tumbuh di dalam, pohon Syracuse tumbuh dimana seharusnya altar terletak. Di dalamnya orang-orang dengan pakaian yang seaksen dengan Naruto menunggu, berdiri, duduk, bercerita, tidur, meratapi kejauhan, atau bahkan bersiul pelan.
Mereka memberi hormat. Salah seorang mengambil mantel yang digunakan Naruto, dan salah seorang mempersilahkan dirinya untuk duduk. Perlahan, tapi pasti, mereka mulai mengerubuni Naruto, semuanya dengan tatapan penasaran yang sama. Semuanya menunggu pemimpinnya untuk mengutarakan apa yang harus mereka lakukan esok hari, dengan ketidakpastian pada masa depan mereka, kepada rasa takut, kepada apa yang diharapkan oleh mereka.
"Jadi…, apa yang kini para bangsawan itu inginkan?" Rekan Naruto, Kiba, teman sepantarannya sedari saat Naruto masih sangat-sangat kecil membuka suara. Mereka yang mendengar mengangguk setuju, ada krasak-krusuk sesaat lalu hening.
Naruto menarik napas, menahan perkataannya saat seorang mendekatkan obor kepadanya,
"Kita akan…"
Mereka bubar. Meninggalkan Naruto pada keheningan malam dan kesendirian yang menyelimutinya. Hawa dingin mengelus, membelai pipinya yang memerah. Malam terasa lebih dingin dibanding hari-hari sebelumnya, dan Naruto menyadarinya. Dia tidak tahu kapan, tapi dia tahu musim dingin kian dekat.
Dia duduk sendirian hingga Kiba datang mendekat dengan serigala peliharaannya, Akamaru. Memposisikan dirinya di sebalah Naruto, pria itu membakar tembakau yang menyengati hidung pemimpinnya.
"Besok akan menjadi penentuan. Setelah semua ini selesai—"
"Ya. Ya. Aku tahu, kau akan pulang dan menikahi Ino. Demi Tuhan Naruto, kau tidak harus mengingatkanku setiap malam. Aku bahkan sudah menyiapkan pidato yang akan aku baca nanti. Kau akan menangis dan bertanya kenapa dahulu kau menyia-nyiakan kebaikanku ini."
Naruto terkekeh mendengarnya. "beberapa tahun yang lalu kita hanyalah petualang ingusan yang berjalan dari Konoha ke Iwa. Mencari pekerjaan, menyelesaikannya, dan merayakan hari dimana kita tidak jadi mati. Tidak lama kemudian Ino datang dengan ayahnya, membawa proposal yang tidak bisa kita tolak."
"Dan kau temanku—kau akan menjadi kesatria—tidak, tunggu, kau sudah menjadi kesatria. Jadi kurasa maksudku adalah kau akan menjadi—" Kiba diam dan merenung hingga akhirnya Akamaru mengelus kepala pada betis Kiba, "Ah ya, Pria yang paling beruntung di kerajaan ini. Tidak semua orang bisa menikahi bangsawan—terlebih lagi, bila bangsawan itu adalah gadis tercantik di kerajaan, Ino Yamanaka."
"Oh hentikanlah. Apa kau tidak bosan dengan perkataanmu itu? Aku geli mendengarnya"
"Geli? Kau merasa geli mendengar kebaikan-kebaikan yang keluar dari mulutku ini?" Akamaru melolong setuju membuat keduanya tertawa. Sepi kembali merayap pada keduanya, membiarkan mereka pada pikiran hari esok yang akan datang. dan sejujurnya, itu menakutkan—untuk keduanya, tapi mereka tidak mengutarakan satupun rasa takut. Tidak saat mereka pertama kali menjelajah, tidak saat Naruto menjadi kesatria, tidak saat pertempuran pertama mereka, dan tentunya mereka tidak berencana memulai mengutarakan rasa takut itu.
Tidak, tidak sama sekali. Kedua pria kelahiran kota pelabuhan itu tahu dengan baik apa yang rasa takut datangkan pada hari-hari penting. Keduanya telah terlalu berpengalaman untuk jatuh pada lubang yang pada akhirnya mengambil nyawa kawan-kawannya. Bagaimanapun juga, mereka adalah salah satu dari segelintir orang yang dengan berani bisa mengatakan bahwa mereka telah memasuki makam Uzushiogakure, dan selamat untuk menceritakannya. Menjual cerita itu untuk segelas bir, atau sekedar penyemangat, atau bahkan untuk menakuti anak-anak.
"Kita benar-benar telah berjalan dengan jauh, huh" Kata Kiba tidak memperdulikan anggukan Naruto. Perkataannya lebih seperti pernyataan untuk dirinya sendiri. Ada rasa bangga, semangat bergejolak yang dia takut tidak seperti dahulu, yang apinya kian memadam dengan setiap bulan terbenam. "Aku rasa ini akan menjadi petualangan terakhir kita".
"Tentunya kau tidak—"
Senyum Kiba kecut. "Aku takut, itulah kebenarannya temanku. Petualangan kita telah Panjang dan menantang, dan sejujurnya? Aku tidak akan menolak kehidupan nyaman. Untuk bisa terbangun pada pagi hari tanpa rasa takut, berkeluarga, dan menjadi tua—" Suara Kiba tertahan, tercekat. Rasanya pahit, sakit bahkan untuk mengatakannya, untuk mengakuinya bahwa dia tidak lagi seperti dulu.
"Aku merasa seperti pecundang".
"Oh. Ayolah, kau tahu itu tidak benar. Kau Kiba! Temanku. Pemilik dari Akamaru, petualang terhebat sepanjang masa. Kemana kita pergi, orang-orang menyanyikan tentangmu. Dan untuk berhenti melakukan apa yang telah lama kita lakukan? Aku rasa itu tidak aneh. Bukankah awalnya kita berpetualang memang untuk kabur dari kehidupan miskin? Eh? Ingat dahulu? Selokan, si kurang ajar dari gang Teuchi".
"Si Kuning angkuh, kecil, pelik, dan telik. Aku bersumpah Teuchi berteriak dengan pisau mengejarmu, Iruka dengan wajah merah padam. Itu lucu, kau tahu?"
"Dan kau akan membawa Akamaru di kepalamu, melompati gerobak dan pagar hanya untuk mengelabui penjaga. Hah…" Keduanya kembali diam. Kali ini dengan nostalgia yang terputar pelan pada kepala mereka, selayaknya kaset usang yang telah lama tidak digunakan. Berputar, pelan, membuat keduanya tersenyum, dan hati yang sedikit tersakiti karena rindu.
"Aku akan menjaga belakangmu Naruto. Kau tahu itu."
Naruto mengangguk, "Tidak perlu kau bilangpun aku sudah tahu, bodoh."
Akamaru melonglong, dan keduanya tertawa.
Naruto menarik napas. Sekujur tubuhnya lelah, sebagaimana hari kemarin, dan hari kemarinnya lagi. Letih mungkin telah menjadi sesuatu yang Naruto kenal baik—sepanjang hidupnya, terus-terusan ada, susah untuk hilang, dan saat hilang akan menimbulkan perasaan tidak nyaman pada dirinya.
Perhatiannya beralih pada kalung yang diberikan Ino kepadanya sesaat sebelum mereka pergi meninggalkan ibukota. Sebuah benda perak berantai, yang menjadi tanda janji untuk kedua insan yang akan saling selalu merindu. Senyum selalu muncul di wajah Naruto setiap kali dia melihat kalung tersebut. Memorinya kepada Ino terputar, dimulai—seperti halnya theater yang memanggungkan kisah dahulu.
Awal pertemuan mereka, dimana dialog banyak dituangkan, lalu bagian perkenalan mereka yang kerap berjumpa lagi dan lagi; pada festival pedang, pada kastil, pada ulang tahun raja, dan pada akhirnya—pada taman bunga Yamanaka dimana keduanya saling mencium—seolah dunia, akan selamanya malam. Selama mereka tidak melepas tangan.
Tapi seperti halnya pentas lain, semua ada penutup dan mungkin—penutup kisah cintanya adalah sesuatu yang belum jelas. Keduanya berjanji akann menikah, ya—semuanya telah disetujui, semuanya telah direncanakan, tapi kemudian pemberontakan terjadi, dan semuanya harus menunggu karena tugas memanggil Naruto, karena yang mulia ratu memanggil Naruto.
Dan keduanya tahu mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu. Ino Yamanaka yang bersikeras untuk membuat pesta pernikahan terbesar yang mungkin melampaui koronasi ratu, tentunya tidak ingin pestanya terhempit, dan terburu-buru. Karenanya, pernikahan keduanya akan dirayakan setelah mereka membawa pulang kemenangan sebagai hadiah pernikahan, dan untuk Ino—tidak ada yang lebih membanggakan lagi dibanding itu.
Sekali lagi Naruto tersenyum melihat kalungnya.
Suara dari luar memanggilnya, kasat dari balik tenda membuatnya menghela napas berat. "Sir Naruto. Anda dipanggil oleh—"
Dia kembali menghela napas. Mencium kalungnya, Naruto bergegas keluar. Kali ini dengan hati yang mengingat arah masa depannya. Semangatnya yang membuat dia bisa menjalani neraka pada dunia ini.
Langkah Naruto berhenti pada depan tenda putih dengan simbolis dewa. Dua penjaga dengan jubah putih, helm pelindung yang menutupi wajah mereka, dan zirah mereka yang berkilau karena bara, juga tertempel perkamen secara acak. Keduanya memegang tombak Panjang, dengan ujung bilah yang terlihat berat—suara mereka diam, hanya terdengar hela napas dan suara besi berderik saat mereka mempersilahkan Naruto masuk.
Disana, pada altar putih yang bermandi cahaya api. Sasuke duduk, tidak bergeming bahkan saat Naruto yakin dia telah mengetahui kehadirannya. Bau rempah terbakar, bau citrus, pekat, tajam, dengan ujung pahit. Segar, aneh, dan memabukkan.
Naruto mengerinyit hidungnya dan gerakannya yang kaku menjadi begitu jelas pada tenda yang sunyi. Yang hanya ada suara angin, bara terbakar, dan bisik kasat dari doa Sasuke.
"Bukan penganut yang berbakti hm?"
"Tidak. Dan aku tidak pernah mengetahui bahwa kau adalah seorang penganut yang—"
"Yang—" Sasuke menunggu Naruto berbicara, tapi Naruto kehilangan kata-kata. Dia tidak pernah merasa tenang di sekitar Sasuke, tidak setelah apa yang terjadi diantara mereka. Sasuke berdiri, dia berkilau—janggal, aneh pada mata Naruto. Senyum tipis, yang hampir tidak terlihat.
"Kau selalu sama Naruto. Petualang ribut, pemberani—pahlawan dimata orang-orang"
"Dan…, kau ternyata bisa berbicara lebih dari sepatah kata"
"Hn. Juga humoris. Tidak mengherankan Yamanaka membiarkanmu masuk pada keluarga mereka. Pernikahanmu tidak akan membersihkan darahmu Naruto. Kau tahu itu, bangsawan—darah kami, adalah suci, murni, keturunan langsung dari Ootsuki. Sesuatu yang tidak akan pernah kau miliki. Dan dengan kau menikahi Ino—"
"Sebut namanya sekali lagi dan kita lihat apakah darahmu dan dewimu bisa menyelamatkanmu" Sasuke mendengus mendengarnya, tapi kemudian melanjutkan perkataannya yang terpotong.
"Gadis itu. Kau hanya akan mengotori darah mereka."
Naruto duduk pada salah satu kursi. Hempasannya terdengar dan dia mengangkat kakinya pada kursi di depan. Matanya tetap kearah Sasuke, sebisa mungkin mencari celah untuk membuat pria berambut hitam itu untuk kesal.
"Katakan apa maumu. Aku tidak memperdulikan tentang darah ini darah itu. Dan aku tidak akan membatalkan pernikahanku hanya karena kau tidak ingin. Yang mulia"
Sasuke diam, lalu mendekati Naruto. Keduanya bertatapan tanpa ada yang melakukan pergerakan apapun dan untuk sesaat udara menjadi berat. Keduanya memiliki pikiran yang sama, dan keduanya menolak untuk melakukannya. Karena dua hal berbeda. Sasuke menghela napas, lebih berat daripada apa yang pernah Naruto dengar dari pemimpin kavalri itu.
"Aku ingin melakukan genjatan senjata. Hanya hingga hari esok saat kemenangan telah ditangan kita" Kata Sasuke hampir tidak terdengar Naruto. Suaranya pelan, berbisik.
Dan Naruto seperti tidak percaya kepada apa yang baru saja dia dengarkan. Seorang Uchiha, yang paling keras kepala, yang paling merasa agung—ingin, ingin—berdamai? Naruto terkekeh. Berharap apa yang dia dengar adalah sebuah lelucuan, tapi melihat wajah Sasuke yang tidak berubah membuat Naruto meneguk ludah berat. Pria itu serius, begitu juga dengan genjatan senjatanya.
"Hingga kemenangan di tangan kita" Naruto menguluri tangannya dan Sasuke terima dengan kaku bahkan hingga saat mereka melepaskan.
"Aku tidak ingin kemenangan kita terhalangi hanya karena ketidaksukaan atau perbedaan pendapat diantara kita. Dan aku sudah merenung, berpikir. Mungkin kau bukan seorang bangsawan, tapi prestasi militermu adalah sesuatu yang lain. Kau adalah pemimpin yang hebat, yang cerdik, yang mengerti taktik yang tidak aku mengerti. Dan pasukanmu adalah satu-satunya pasukan yang bisa membuka kemenangan untuk perang terkutuk ini. Aku ingin percaya kepadamu bahwa kau akan membukakan pintu kemenangan untukku—untuk kita semua".
Naruto mengangguk. "Kalau begitu aku akan mempercayakan keamanan pasukanku setelah kami membuka pintu kastil".
"Percayalah. Kavalri terbaik Konoha adalah hal pertama yang akan kau lihat begitu pintu kastil terbuka, dan keselamatan pasukanmu akan menjadi salah satu prioritas kami." Sasuke mengakhiri perkataannya dengan nada angkuhnya, arogansi yang biasanya Naruto benci, tapi entah kenapa, kali ini dia tidak merasa begitu membencinya.
A/N: Akan ada beberapa kata yang sebenarnya salah, atau bahkan tidak ada. Dan memang karena disengajakan, karena itu yang terpikirkan atau yang paling mendekati apa yang penulis inginkan. Juga untuk kritik penggunaan tanda ini dan itu yang tidak sesuai ini dan itu tidak akan diperdulikan karena menurutku sendiri menulis adalah sesuatu yang ekspresif dan sudah selayaknya tidak dipersulit hanya sekedar untuk kemudahan pembacanya. Selayaknya lukisan, seorang pelukis tidak akan memperdulikan apakah lukisan itu bisa didapat konsep dan intisarinya atau tidak. Selama seseorang masih bisa membacanya, tidak ada masalah.
Dan lagi, bila ada masukan akan lebih bermanfaat bila itu tentang plot dan karakter. Selain itu terima kasih telah membaca, dan terima kasih lagi bila menyempatkan diri untuk meninggalkan pesan, karena itu adalah salah satu penyemangat.
Aku ingin berterima kasih,
Karena semua hal datangnya dari Tuhan
Terima kasih.
