DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, 17, 18 dan 19 series (light novel) © Kodansha, 2011-2015. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.
Our Future
.
Chapter 2 – The Marriage Talk
24 Maret 2017…
"Eh?! Jadi senpai akan menikah tahun ini juga?!"
"Yah, begitulah… Kami sepakat untuk menikah di hari ulang tahunku tahun ini," Doremi menjawab apa yang ditanyakan oleh seorang guru junior di sekolah tempatnya mengajar, "Untungnya, setelah itu aku tidak perlu ambil cuti untuk bulan madu, karena kami bisa memanfaatkan sisa libur musim panas…"
"Jujur saja, aku khawatir kalau senpai sudah ingin menikah tahun ini," aku sang junior yang bernama Chikazuki Mia, "Kalau nanti senpai hamil dan harus cuti melahirkan, aku bisa apa?"
"Kekhawatiranmu itu terlalu berlebihan, Chika. Pernikahanku saja masih beberapa bulan lagi, tapi kau sudah memikirkan soal cuti melahirkan saja," Doremi mengerutkan alisnya, "Kalaupun suatu saat nanti aku akan hamil dan mempunyai anak, hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat."
"Senpai, kau selalu saja salah menyebut namaku. Harusnya kan Chikazuki," ralat sang junior yang kemudian bertanya, "Lagipula, memangnya senpai belum pernah melakukan 'itu', waktu kalian berpacaran? Pasti kalian sudah melakukannya, kan?"
"Percaya atau tidak, kami belum pernah melakukannya," jawab Doremi sambil merapikan tumpukan kartu rapor di mejanya, "Mungkin hampir mendekati, tapi belum sampai kesana."
"Maksudmu?"
"Nanti juga kau tahu sendiri. Kurasa aku tidak perlu menjelaskannya padamu."
"Baiklah, rasanya aku sedikit mengerti apa yang kaumaksud, senpai," Chikazuki menghela napas, "Setidaknya, begitu kau sudah menikah, cepat atau lambat, kau pasti akan hamil."
"Jadi, memangnya kenapa kalau suatu saat nanti aku hamil dan akhirnya harus cuti melahirkan?" tanya Doremi, tidak mengerti, "Memang seharusnya begitu, kan?"
"Iya sih, tapi… saat itu pasti aku akan kerepotan," keluhnya, "Kita kan sama-sama mengajar di tingkat kelas yang sama."
"Kenapa kau harus repot? Setahuku, kalau ada guru yang cuti melahirkan, pihak sekolah akan mempekerjakan guru pengganti," ujar Doremi yang sedang memeriksa laci mejanya, memastikan bahwa sudah tidak ada lagi kartu rapor yang tertinggal disana, "dan kau berkata begitu seolah-olah kau punya firasat kalau sekolah akan menyatukan kelas kita, hanya karena aku harus cuti melahirkan dan tidak bisa mengajari murid-muridku untuk sementara."
"Aku tahu, tapi tetap saja akan merepotkan buatku," balas Chikazuki, "Guru penggantimu pasti akan bertanya-tanya padaku terus."
"Kau juga, sampai sekarang masih sering bertanya padaku, kan?" Doremi tersenyum, "Walaupun begitu, aku tidak pernah merasa repot."
"Ya… kau kan seniorku. Aku juga baru mengajar sejak beberapa bulan yang lalu, menggantikan Ichigo-sensei yang pindah ke Hokkaido," sang guru junior itupun mengutarakan alasannya, "Pengalamanku masih kurang banyak kalau dibandingkan denganmu."
"Sebelum kau mengajar di sekolah ini, aku juga bukan guru senior disini. Sama sepertimu sekarang," balas Doremi, "Baru tahun lalu aku diberi kesempatan mengajar disini sebagai wali kelas."
"Tetap saja, aku belum terlalu akrab dengan murid-muridku sendiri, sementara senpai…"
"Sudahlah, jangan seperti orang putus asa begitu," potong sang guru senior yang umurnya tidak terlalu jauh dari juniornya, "Lagipula, dengan adanya guru pengganti itu, kau nanti bisa tahu bagaimana rasanya jadi guru senior… Atau jangan-jangan, kau khawatir kalau nanti tidak akan ada yang membimbingmu saat aku cuti melahirkan. Benar kan?"
"…"
"Tentang hal itu, kau tenang saja. Masih ada guru-guru lain yang lebih senior disini, dan kurasa, mereka bisa membimbingmu lebih baik daripada aku. Bahkan, kau tahu sendiri kalau dua dari mereka sudah mengajar disini, saat aku sendiri masih jadi murid disini."
"Hei, apa yang sedang kalian bicarakan?" secara kebetulan, salah satu dari dua orang guru yang dimaksud menghampiri Doremi dan Chikazuki, "Harukaze, Chikazuki, bagaimana dengan kartu rapor murid-murid kalian? Apa semuanya sudah siap untuk dibagikan?"
"Aku baru saja selesai menyiapkannya, sense- ah, maksudku… senpai," sang guru muda berambut merah panjang tersipu malu, "Sudah hampir setahun aku mengajar disini, tapi rasanya aku masih belum terbiasa memanggilmu begini."
"Wajar saja, karena beberapa tahun yang lalu, kau memang muridku disini," balas sang guru yang lebih senior, "Jadi, apa yang sedang kalian bicarakan?"
"Begini, Seki-senpai… Harukaze-senpai bilang, dia akan menikah tahun ini juga, karena itu aku jadi…"
"Eh, jadi kalian sudah ingin menyusul teman-teman kalian yang sudah menikah duluan, ya?" ujar Seki, menggoda Doremi, "Kau dan teman-temanmu memang beruntung sekali dalam hal percintaan. Padahal, rasanya baru kemarin aku melihatmu bertengkar dengan pacarmu di kelas."
"Sens- eh… Senpai, ayolah… Jangan sarkastik begitu," Doremi makin tersipu, "Lagipula, kami ingin menikah karena kami semua sudah merasa siap untuk memulai rumah tangga."
"Tenang saja. Aku mengerti maksud kalian semua," ia menepuk bahu sang junior yang dulunya adalah muridnya tersebut, "Sekarang, kebanyakan orang berusaha supaya bisa menikah sebelum berumur tiga puluh."
"Sebenarnya sih, aku tidak keberatan kalau harus menikah setelah aku berumur tiga puluh tahun. Hanya saja… Tetsuya ingin supaya kami menikah tahun ini juga."
"Tentu saja. Kotake benar-benar mencintaimu, Harukaze," Seki tersenyum, "Karena itulah, dia tidak ragu-ragu lagi untuk mengajakmu menikah tahun ini."
"Begitulah… dia bahkan langsung mengajakku membicarakan tentang rencana pernikahan kami dengan kedua orangtuaku, hanya beberapa menit setelah dia melamarku."
"Jadi, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?"
"30 Juli."
"Hari ulang tahunmu?"
Doremi mengangguk, "Poppu yang mengusulkannya kepada kami."
"Adikmu memang pengertian sekali," puji Seki yang kemudian bertanya kepada Chikazuki, "Jadi, apa kau keberatan kalau Harukaze menikah tahun ini?"
"Sebenarnya, aku tidak keberatan. Hanya saja… aku khawatir kalau seandainya nanti Harukaze-senpai hamil dan harus cuti melahirkan."
"Kau terlalu berlebihan, Chikazuki. Lagipula, kalau nanti hal itu benar-benar terjadi, kau tidak akan diberi tanggung jawab untuk menggantikan Harukaze di kelasnya. Akan ada guru pengganti yang akan melakukannya selama ia cuti," komentar Seki, "dan kau juga tidak perlu khawatir kalau-kalau nantinya tidak ada yang bisa membimbingmu disini saat itu. Justru aku dan semua guru senior yang lain akan selalu siap membimbingmu disini."
"Begitu ya?"
"Tentu saja. Kau tidak perlu khawatir," ujarnya, "Ngomong-ngomong, sebentar lagi pembagian rapor akan segera dimulai. Bukankah akan lebih baik kalau kalian bergegas menuju kelas kalian masing-masing?"
"Kau benar, senpai," dengan cepat dan hati-hati, Doremi dan Chikazuki membawa beberapa lembar kartu rapor milik murid mereka masing-masing menuju ke ruang kelas lima, dimana murid-murid mereka sudah menunggu, setelah berpamitan dengan Seki.
.O.
"Jadi, sampai sekarang kau masih belum terbiasa memanggilnya begitu? Padahal kan, kalau ditambah dengan masa training-mu di sekolah, kau sudah lebih dari setahun menjadi juniornya."
Seorang wanita muda berambut pirang mengajak Doremi dan tiga orang sahabat mereka berjalan-jalan ke suatu tempat, tak lama setelah pembagian rapor di SD Misora selesai. Di tengah perjalanan, mereka membicarakan tentang apa yang terjadi di sekolah pagi ini.
"Entahlah. Kalian tahu sendiri kalau… Seki-sensei selalu menjadi wali kelasku saat kita masih bersekolah disana," Doremi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Mungkin… aku baru akan terbiasa memanggilnya 'senpai' kalau nanti… aku sudah mengajar disana selama lebih dari lima tahun, atau mungkin bisa lebih dari itu."
"Jujur saja, menurutku kau cukup beruntung mengalami hal semacam ini," komentar wanita berambut pirang bernama Asuka Momoko tersebut, "Yang tadinya gurumu (guru kita), malah sekarang jadi seniormu. Kau tidak akan mengalami hal ini kalau sekarang kau mengajar di sekolah lain."
"Yah, kau ada benarnya juga sih…"
"Hidup ini memang mengejutkan ya?" ujar seorang dari mereka yang sekarang berprofesi sebagai atlet lari, Senoo Aiko, "Sekarang, kita semua sudah bekerja di bidang yang kita inginkan, dan sebentar lagi… kau akan menikah, Doremi-chan."
"Yang lebih mengejutkan lagi, kau bahkan akan menikah sebelum aku," keluh Momoko, "Padahal aku yang lebih tua darimu."
"Ya, kau memang sedikit lebih tua dariku, makanya biarpun kau baru akan menikah di akhir bulan September nanti, kau dan pacarmu sudah sering saling menginap di apartemen masing-masing," balas Doremi, "Jangan-jangan… kalian malah sudah melakukan hal yang tidak-tidak."
"Kau sendiri bagaimana? Aku dengar-dengar… Kotake-kun menginap di apartemenmu saat valentine," tantang Momoko, "Malah katanya, ada yang dengar suara aneh waktu lewat depan apartemenmu."
"E-Eh? Aku… tidak melakukan apa-apa. Lagipula saat itu, Tetsuya tidur di kamar tamu," kilah Doremi sambil tersipu, "Memangnya, siapa yang memberitahumu tentang suara aneh? Aku tidak dengar ada suara aneh malam itu."
"Masa sih? Kenapa rasanya, aku malah meragukan jawabanmu itu, ya?" Momoko terus menggoda Doremi, "Aku tahu kalau kau tidak senaif itu. Kau pasti mengerti tentang suara aneh yang aku maksud, kan?"
"Momo-chan… aku berani sumpah kalau aku… tidak mengerti apa maksudmu."
"Masa sih, Doremi-chan?" Momoko menyeringai, "Akui saja apa yang kaulakukan. Toh, kita semua sudah bukan anak-anak lagi, jadi… kalian boleh saja melakukannya di apartemenmu."
"Aku… memang tidak melakukannya," Doremi terus berkilah, "Kami hanya…"
"Hanya? Hanya apa? Hanya berciuman? Hanya berpelukan? Atau hanya… saling berpangku tangan?"
"Eh?"
"Hihihi, aku hanya bercanda. Tidak ada yang bilang kalau ada suara aneh di sekitar apartemenmu," Momoko tertawa geli, "Aku tidak peduli, kalaupun sebenarnya kalian memang telah melakukannya. Kita semua sudah dewasa, dan tidak ada lagi yang bisa melarang kalian."
"Terserah kaulah," Doremi menghela napas.
"Ngomong-ngomong, sekarang kita mau ke mana?" tanya wanita muda berkacamata yang juga seorang violinist terkenal bernama Fujiwara Hazuki, "Rasanya aneh kalau kita hanya berkeliling saja disini."
"Harusnya sih, ada seseorang yang bisa kita temui di sekitar sini," jawab seorang sahabatnya yang lain yang sekarang sedang berjalan disebelah kiri Hazuki, "tapi katanya, kita harus menunggunya dulu sebentar. Katanya ada urusan penting."
"Seseorang? Maksudmu siapa, Onpu-chan?" tanya Doremi penasaran.
"Nanti kalian juga akan tahu," Onpu tersenyum, "Jadi bagaimana? Apa kita akan terus berkeliling disini?"
"Jujur saja, sekarang aku lapar sekali," aku Doremi, "Sebaiknya, sekarang kita ke restoran saja."
"Aku setuju. Perjalanan kita kesini benar-benar membuatku lapar," sahut Aiko yang kemudian menunjuk kearah sebuah restoran di ujung jalan yang sedang mereka lalui, "Bagaimana kalau sekarang, kita makan di restoran itu? Aku dengar-dengar, ada paket nabe hemat disana."
"Kau tahu saja, makanan yang cocok di musim begini, Ai-chan," puji Momoko, "Aku juga pernah makan di restoran itu, dan harus kuakui kalau masakan disana rasanya enak sekali."
"Walaupun begitu, kita tidak harus pesan beer disana kan? Paket nabe hematnya tidak termasuk beer kan?" tanya Hazuki ragu, "Aku tidak ingin mabuk hanya gara-gara kebanyakan minum beer disana."
"Sebenarnya, aku tahu tentang paket nabe hemat itu, dan mau tidak mau, aku harus bilang kalau paketnya termasuk beer yang bisa di-refill," jawab Momoko, "tapi kurasa, kita tidak akan minum sampai mabuk. Yang penting kita bisa makan nabe kan?"
"Baiklah. Mungkin aku akan meminum beer itu, walau hanya segelas," Hazuki menghela napas, "Mudah-mudahan setelah itu, aku bisa pesan air putih."
"Yosh, kalau begitu, ayo kita masuk," ajak Doremi. Merekapun memasuki restoran yang dimaksud untuk makan nabe bersama-sama, sambil menunggu seseorang yang disebut Onpu akan bertemu mereka disana.
Saat mereka menunggu pesanan nabe mereka siap, Onpu bertanya, "Baik, jadi tahun ini, Doremi-chan akan menikah dengan Kotake-kun di hari ulang tahunnya, sementara Momo-chan akan menikah akhir bulan September nanti… Bagaimana denganmu, Hazuki-chan?"
"Eh?"
"Ya, kapan kau akan menikah dengan Yada-kun?" Onpu memperjelas pertanyaannya, "Dia kan sudah melamarmu di pesta ulang tahunmu, jadi keluarga kalian pasti sudah membicarakan tentang rencana pernikahan kalian, kan?"
"Ah… tidak juga," Hazuki menggeleng, "Masaru-kun masih sibuk tampil di konser tur musik jazz sampai akhir tahun, jadi kemungkinan, kami baru akan menikah sekitar akhir tahun ini atau awal tahun depan."
"Hah, kalau begitu, kenapa dia melamarmu cepat-cepat? Kalau sampai akhir tahun Yada-kun masih sesibuk ini, dia seharusnya tidak perlu buru-buru melamarmu," keluh Aiko, "Kupikir, tahun ini aku akan dapat tiga undangan pernikahan…"
"Bicara tentang pernikahan, aku jadi ingin menanyakan hal ini kepada kalian berdua," ujar Doremi yang kemudian bertanya kepada dua orang sahabatnya yang berambut pendek, "Ai-chan, Onpu-chan, kapan kalian akan menikah? Yang aku dengar, kalian malah sibuk kerja terus."
"Tunggu dulu. Jangan bilang kalau sampai sekarang, kalian belum punya pacar…" duga Momoko. Ia membelalakan matanya, "Kalian mau, jadi perawan tua?"
"Tidak seperti itu, Momo-chan. Aku memang sekarang sibuk mempersiapkan diriku untuk kembali beraksi di olimpiade nanti, tapi bukan berarti aku belum punya pacar," sanggah Aiko, "Aku sudah punya pacar, dan dia juga seorang atlet sepertiku, hanya saja… kami belum sempat memikirkan tentang pernikahan."
"Aku juga sudah punya pacar, hanya saja, kami masih sama-sama sibuk bekerja," aku Onpu, "Kami jadi jarang bertemu sekarang-sekarang ini. Bahkan di hari ulang tahunku, dia hanya bisa mengirimkan kado ulang tahunku lewat pos. Mungkin kami baru akan merencanakan pernikahan awal tahun depan, saat jadwal kami sudah tidak sepadat tahun ini."
"Kalau begitu, susah juga ya?" Doremi bertopang dagu, "Kelihatannya, bahkan pacar kalian lebih sibuk dari kalian sendiri. Buktinya, mereka tidak bisa menemani kalian ke pesta ulang tahun Hazuki-chan."
"Yah, begitulah. Aku sudah mengajaknya pergi, tapi dia masih harus latihan bersama dengan teman-temannya," Aiko mengangkat bahu, "Jadwal latihannya memang lebih padat daripada aku."
"Pacarku juga sama. Sepanjang bulan Februari kemarin, dia sibuk syuting dorama, jadi sebelum ke pesta ulang tahun Hazuki-chan, aku harus menghampirinya dulu di lokasi syuting, hanya untuk memberikan honmei choco untuknya."
"Eh? Syuting dorama? Pacarmu aktor terkenal ya? Siapa sih?" tanya Doremi dengan mata yang berbinar-binar, "Matsuzaka Tori? Sakaguchi Kentarou? Hiraoka Yuta? Atau mungkin… Hayami Mokomichi?"
"Ah, bukan mereka, Doremi-chan. Pacarku belum lama ini main dorama, jadi dia tidak seterkenal mereka," jawab Onpu sweatdrop, "Ngomong-ngomong, kupikir kau tidak punya waktu untuk menonton dorama, tapi kelihatannya, kau sempat menonton beberapa judul dorama baru…"
"Hanya dua saja sih," Doremi mengaku, "Itu juga dua-duanya sudah masuk episode terakhir minggu ini*."
"Kurasa aku tahu dua judul dorama yang kaumaksud," Onpu tertawa kecil, "Aku bisa memperhatikannya dari nama-nama aktor yang kausebutkan tadi."
"Begitulah. Walaupun aku sibuk mengajar, aku kan juga perlu hiburan sesekali."
"Ya, masuk akal sih."
Tak lama setelahnya, nabe mereka pun siap untuk disantap. Setelah meminum sedikit beer yang telah disiapkan dalam lima buah cangkir besar diatas meja, mereka menyantap nabe panas itu dengan lahapnya. Doremi lalu teringat dengan seseorang yang kata Onpu akan menghampiri mereka disana nanti, jadi ia bertanya, "Onpu-chan, apa kita harus menyisakan nabe ini untuk seseorang yang kaubilang akan menemui kita disini? Mungkin saja, saat ia sampai disini, orang itu belum makan."
"Tadi aku sudah menghubunginya lewat chat, tapi katanya, kita tidak perlu menyisakan makanan untuknya," jelas Onpu, "Katanya, dia bisa pesan makanan sendiri disini."
"Lagipula, kelihatannya nabe ini hanya cukup untuk lima orang," tambah Aiko, "Tidak akan mungkin cukup meskipun kita sisakan."
"Benar juga, ya?" Doremi mengernyitkan dahi, "tapi apa tidak apa-apa, kalau kita tidak memesankan makanan apapun untuknya?"
"Hei, ternyata ada kalian berlima disini," sahut seseorang yang baru saja memasuki restoran itu. Ia adalah seorang pria muda berambut violet yang dengan cepat menghampiri meja tempat Doremi dan yang lainnya menyantap nabe mereka, "Aku boleh ikut bergabung kan?"
"Onpu-chan, apa dia orang yang kaumaksud?" tanya Doremi sambil melirik Onpu dengan tajam, "Kau tahu sendiri kalau aku sudah tidak ingin bertemu dengannya lagi, kan? Kenapa sekarang, dia malah…"
"Bukan, bukan dia yang aku maksud, Doremi-chan," jawab Onpu dengan berbisik, "Aku juga tahu kalau kau tidak akan setuju bertemu dengannya lagi."
"Tapi kenapa dia ada disini?"
"Halo, kalian dengar aku, kan? Aku boleh ikut makan disini, kan?" pemuda bernama Shidoosha Akatsuki itu memperhatikan sebuah hot pot yang sudah hampir kosong sebelum akhirnya menambahkan, "Soal makanan kalian, tenang saja. Aku bisa memesan makananku sendiri."
"Aku tidak ingin makan semeja denganmu, Akatsuki-kun, jadi sebaiknya, kau makan di tempat lain saja," sahut Doremi dingin, "Harus berapa kali kukatakan padamu bahwa aku tidak ingin kau kejar-kejar terus? Kau selalu saja berusaha supaya aku bisa mencintaimu lagi."
"Memangnya kenapa? Toh, kau juga belum menikah dengan Kotake-kun, jadi aku masih punya kesempatan," balas Akatsuki, "Memangnya, kau tidak ingin jadi permaisuriku?"
"Maaf, tapi aku tak berminat. Aku lebih suka tinggal disini sebagai manusia biasa, sebagai seorang guru yang dengan senang hati mengajari murid-muridnya, daripada harus bersama seseorang yang tak henti-hentinya berbuat curang."
"Jadi kau masih marah padaku karena hal itu?"
"Tentu saja. Kau yang berjanji akan berlaku adil di pertandingan itu, tapi kau sendiri juga yang mengingkari janjimu," sang guru muda menyilangkan kedua lengannya, "Kupikir kau sudah tidak ingin berbuat curang lagi setelah apa yang terjadi di Kyoto dulu, tapi ternyata, kau terus saja berbuat curang."
"Aku melakukannya karena aku terlalu mencintaimu," Akatsuki membela diri, "Lagipula, saat itu Fujio-kun yang mencederai Kotake-kun, bukan aku."
"Memangnya aku tidak tahu tentang persekongkolan kalian saat itu? Kau yang menyuruh Fujio-kun mencederai Tetsuya, kan?" ujar Doremi jengkel, "Oh ya, mengenai perasaan cintamu padaku, kurasa aku harus minta maaf padamu karena aku tidak akan pernah membalas cintamu, karena sebentar lagi aku akan menikah."
"Apa?"
"Kau tidak lihat cincin yang kupakai ini?" tanyanya sambil memperlihatkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya, "Aku dan Tetsuya sebentar lagi akan menikah, jadi jangan harap aku akan mencintaimu lagi, karena sekarang… aku sudah muak melihat wajahmu."
"Kalau begitu, aku akan membawamu ke istanaku dengan paksa!"
"Jangan coba-coba melakukan hal itu atau aku akan melaporkanmu kepada ayahmu, kalau kau telah melakukan percobaan pemerkosaan!" sahut suara lain yang berasal dari pintu depan restoran tempat mereka berada, dan yang mengatakannya adalah seorang wanita muda berambut pirang terang, "Lebih baik, sekarang kau keluar dari restoran ini."
"Hana-chan…" Doremi menyadari sosok yang baru saja memasuki restoran tersebut, "Jadi… kau yang ingin menemui kami disini?"
"Iya. Aku yang memberitahu Onpu supaya kalian datang kemari," wanita muda yang sekarang berprofesi sebagai seorang dokter itupun mengaku, sebelum mengalihkan perhatiannya kepada Akatsuki dan berkata, "Meski begitu, aku tidak ingin ada yang mengganggu pertemuan kita, jadi…"
"Baik. Aku akan pergi," Akatsuki akhirnya menyerah, "tapi jangan harap aku akan berhenti mengganggu kalian."
Setelah Akatsuki pergi, sang dokter muda bergabung dengan kelima orang wanita muda tersebut di meja mereka.
"Kupikir, kau baru akan menemui kami besok," Doremi tersenyum, "Lagipula, besok kan hari ulang tahunmu."
"Besok aku harus lembur di rumah sakit, jadi aku memutuskan untuk menemui kalian hari ini," jelas Hana, "Ngomong-ngomong, tadi aku tak sengaja bertemu dengan Poppu, dan katanya, kau sebentar lagi akan menikah dengan Kotake-kun. Apa itu benar, Doremi?"
"Ya, itu memang benar. Kami akan menikah musim panas ini."
"Aku ikut senang," sahutnya riang, "Bagaimana kalau kita merayakannya dengan makanan-makanan lezat dan sedikit beer? Kupikir kita semua masih punya banyak waktu sampai larut malam."
"Memangnya, kau tidak ada jadwal kerja di rumah sakit hari ini?"
"Tenang saja. hari ini aku off," ujarnya santai, "Nanti biar aku yang traktir ya? Anggap saja sebagai ganti perayaan hari ulang tahunku besok."
"Boleh saja," Doremi memeluk Hana, "Terima kasih, Hana-chan."
*: dorama yang author maksud adalah 'Virtual Detective Tabito Higurashi' dan 'Tokyo Tarareba Girls', yang minggu ini memang memasuki episode terakhir (dua-duanya favorit author yang awal tahun ini tayang di tv kabel, di minggu yang sama dengan penayangannya di Jepang). Matsuzaka Tori adalah aktor yang memerankan tokoh utama di 'Virtual Detective Tabito Higurashi', sementara nama-nama aktor lain yang disebutkan adalah para aktor yang berakting di 'Tokyo Tarareba Girls'.
