DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, 17, 18 dan 19 series (light novel) © Kodansha, 2011-2015. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.
Our Future
.
Chapter 3 – Business vs Tradition
"Senpai, kau yakin mau menikah di musim panas? Padahal biasanya kan, kebanyakan orang menikah di musim semi atau di musim gugur, dan mereka cenderung menghindari pertengahan musim panas."
"Mudah saja bagimu untuk mengatakan hal itu. Memangnya menurutmu, kami tidak mempertimbangkan untuk menikah di musim semi atau musim gugur seperti yang kaukatakan? Asal kau tahu saja ya, kalau saja Tetsuya tidak sibuk latihan sepak bola musim semi ini, mungkin kami sudah menikah sejak libur musim semi kemarin."
"Eh? Jadi dia sudah sibuk bahkan sejak libur musim semi? Tapi memangnya, kalian tidak bisa menikah di musim gugur?"
"Kami mau saja menikah di musim gugur, hanya saja, turnamen akan dimulai tepat sehari setelah pernikahan sahabatku, dan aku tidak ingin menikah di tanggal yang berdekatan dengan tanggal pernikahan sahabatku sendiri."
Sejak memasuki tahun ajaran baru, di ruang guru, Chikazuki selalu saja mengajak Doremi bicara tentang rencana pernikahannya yang menurutnya agak tidak lazim tersebut, hanya karena pernikahan tersebut akan dilangsungkan di musim panas yang biasanya disebut-sebut sebagai musim yang tak lazim untuk melangsungkan pernikahan bagi orang Jepang.
"Memangnya, kau tidak takut kalau nanti banyak yang tidak mau datang ke pesta pernikahanmu? Apalagi, kalau nanti ada gelombang panas lagi tahun ini," tantang Chikazuki, "Memangnya, kalian tidak takut kena demam nanti?"
"Kalau masalahnya hanya cuaca ekstrim saja sih, kurasa hal itu masih bisa diatasi," sahut Doremi tenang, "Bisa saja, kami menikah di tempat lain yang cuacanya lebih bagus. Yang penting kami masih bisa menikah dengan tenang, tanpa harus dihantui dengan kesibukan dalam pekerjaan kami masing-masing."
Ia lalu teringat sesuatu dan menambahkan, "Kalau tidak salah, biaya sewa hotel di musim panas juga biasanya lebih murah daripada di musim semi atau musim gugur, jadi dengan begitu, kami juga bisa sedikit berhemat."
"Memangnya kalian tidak ingin mengadakan pesta pernikahan yang mewah? Apalagi pacarmu pemain sepak bola terkenal."
"Justru Tetsuya sendiri yang ingin supaya kami menikah tahun ini. Dia tidak ingin kami menunggu lama sampai tahun depan, hanya supaya kami bisa menikah di musim umum pernikahan seperti di musim semi atau di musim gugur."
"Apa kalian tidak takut, kalau nanti pernikahan kalian tidak akan berjalan dengan mulus?" tanya Chikazuki yang tetap berpegang teguh dengan pendapatnya, "Orangtuaku pernah bilang, kalau pernikahan di waktu yang tak lazim bisa berujung pada perceraian."
"Sebentar. Orangtuamu masih percaya mitos yang seperti itu?" Doremi balik bertanya dengan heran, "Tahun lalu, ada teman sekelasku di kampus yang menikah di pertengahan musim panas, tapi sampai sekarang, pernikahannya lancar-lancar saja. Rumah tangga mereka baik-baik saja, bahkan temanku sebentar lagi akan melahirkan."
"Mungkin di tahun pertama, mereka masih bisa harmonis, tapi siapa yang tahu kehidupan mereka di tahun-tahun berikutnya akan jadi seperti apa," kilah sang guru junior, "Kau seharusnya…"
"Kelihatannya, kau sudah mulai kelewatan, Chika," simpul Doremi yang sudah selesai menyiapkan dirinya untuk pulang, "Besok sudah mulai Golden Week dan kau masih terus saja ingin ikut campur soal pernikahanku. Kalau Tetsuya sibuk di musim semi dan musim gugur tahun ini, aku bisa apa? Bahkan di Golden Week tahun ini pun, Tetsuya tidak punya waktu untuk menemuiku. Kau jangan sok tahu begitu, padahal kau tidak tahu bagaimana susahnya kami menyesuaikan waktu luang kami masing-masing hanya untuk bertemu."
"Ah, senpai, namaku…"
"Baiklah, Chikazuki, aku harus pulang sekarang," ralat Doremi yang mulai berjalan kearah pintu ruang guru, "Kuharap lain kali, kau bisa lebih memahami keadaan orang lain sebelum kau mengutarakan pendapatmu, jadi tidak akan ada yang tersinggung hanya karena mendengar ucapanmu."
"Eh, senpai tunggu. Aku juga mau pulang," sahut Chikazuki yang kemudian menyusul ke pintu, "Hari ini kita bisa pulang sama-sama, kan? Gedung apartemen kita kan berdekatan."
"Tidak bisa. Aku ada janji dengan temanku, jadi aku harus pergi ke tempat lain dulu."
"Ke mana?"
"Ke izakaya milik teman sekolahku, yang di dekat stasiun."
"Oh, baiklah. Aku ingin langsung pulang saja," ujar Chikazuki saat mereka berjalan keluar sekolah, "Maaf kalau perkataanku tadi benar-benar menyinggung perasaanmu, senpai. Aku hanya ingin mengutarakan pendapatku saja."
"Tidak apa-apa. Aku tidak benar-benar marah padamu kok," Doremi tersenyum tipis, "Wajar saja kalau kau tidak begitu mengetahui keadaan kami yang sebenarnya. Kau tidak tahu bagaimana kami bisa memilih tanggal yang tidak biasa untuk pernikahan kami, dan aku memakluminya."
"Yah, aku hanya tidak ingin melihat pernikahan kalian hancur, hanya karena kalian memilih tanggal yang tidak biasa sebagai tanggal pernikahan kalian," aku Chikazuki, "Baru-baru ini, ada seorang sahabatku yang bercerai dengan suaminya, dan… dulu mereka menikah beberapa hari setelah natal."
"Aku tahu kau peduli padaku, tapi kau jangan khawatir. Aku dan Tetsuya akan berusaha keras supaya pernikahan kami bisa bertahan lama."
"Kuharap begitu."
Mereka pun berjalan ke arah yang berlawanan setelah saling berpamitan.
.O.
Beberapa menit kemudian, di sebuah izakaya…
"Untungnya disini ada wine, jadi aku tidak harus pesan beer murahan disini," keluh seorang wanita muda berambut pirang berombak, "Kenapa sih, kita tidak janjian di bar wine yang di ujung jalan sana saja? Wanita elit sepertiku kan tidak cocok makan dan minum disini."
"Apa kaubilang…"
Seorang pria muda yang juga pemilik izakaya tersebut merasa tersinggung dengan apa yang wanita muda itu katakan, namun saat ia ingin memarahi sang wanita muda, seseorang mencegahnya dan berkata, "Eh, Takeshi-kun, kau tidak perlu memarahi Tamaki-san gara-gara hal ini."
"Tetap saja, Mucchan. Dia ini dari dulu selalu saja begitu."
"Tapi kau harus ingat kalau dia datang kemari sebagai pengunjung," ujar seseorang yang tadi dipanggil 'Mucchan' oleh sang pemilik izakaya, "Kau jangan memarahi pengunjung."
"Menyebalkan sekali," sang pemilik izakaya bernama Hasebe Takeshi itu kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Doremi yang sekarang sedang duduk disebelah wanita pirang itu, "Kupikir kau akan bertemu dengan yang lain disini. Kenapa kau malah mengajak Tamaki kesini sih?"
"Ya, aku mau saja pergi ke bar wine yang disebelah sana, tapi disaat seperti ini, mau tidak mau aku harus berhemat," Doremi mengangkat bahu, "Kalian tahu sendiri kan, kalau sebentar lagi, aku akan menikah."
"Padahal aku yang ingin bertemu denganmu," keluh sang wanita pirang bernama Tamaki Reika, "Memangnya kaupikir aku tidak bisa mentraktirmu?"
"Bukannya begitu. Kebetulan saja, aku ingin makan yakisoba disini, jadi tidak apa-apa kan?" balas Doremi, "Selain itu, aku juga sekalian ingin melihat keadaan Hasebe-kun dan Mucchan disini."
"Kami baik-baik saja kok, Doremi-chan," ujar Mutsumi (Mucchan), yang sudah menjadi istri Hasebe sejak musim gugur tahun lalu. Ia tersenyum, "Kalau boleh jujur, aku senang melihatmu disini."
"Sayangnya, Tetsuya tidak sedang berada disini sekarang," Doremi menghela napas, "Pasti akan seru kalau kita semua bisa berkumpul disini."
"Harukaze-san, sebenarnya… aku hanya ingin membicarakan tentang sesuatu kepadamu. Sesuatu yang bersifat pribadi," aku Tamaki, "dan aku hanya ingin bicara denganmu saja."
"Memangnya, kau ada masalah apa, Tamaki?" tanya Doremi, "Ya, tapi kalau kau mau bicara tentang rumah tanggamu dengan Tachibana-senpai, kurasa sebaiknya kau jangan membicarakannya denganku. Kau kan tahu sendiri kalau aku baru akan menikah beberapa bulan lagi, jadi aku masih belum punya pengalaman dalam berumah tangga."
"Bukan soal itu," kali ini giliran Tamaki yang menghela napas, "Ini tentang sepupuku, Erika-chan."
"Eh? Erika-chan? Ada apa dengannya?"
"Makanya ayo kita pindah ke tempat yang lebih bersifat pribadi, supaya aku bisa lebih leluasa membicarakannya denganmu."
"Kau tenang saja, Tamaki-san. Kami tidak akan membeberkan masalah sepupumu kepada siapapun kok. Justru aku malah ingin ikut membantumu, kalau memang kau punya masalah dengan sepupumu," Mutsumi mencoba menenangkan Tamaki, kemudian menyodorkan seporsi yakisoba yang baru saja matang kepada Doremi, "Ah, iya. Ini yakisoba pesananmu, Doremi-chan."
"Terima kasih, Mucchan," ujar Doremi. Ia kembali bertanya kepada Tamaki, "Kau dengar sendiri kan, Tamaki? Kau tidak perlu sungkan membicarakan tentang Erika-chan disini. Memangnya, Erika-chan punya masalah apa sih, sampai-sampai kau agak ragu membicarakannya disini?"
"Masalahnya, ini tentang pacarnya. Pacar Erika-chan… ternyata punya hubungan dengan gadis lain, dan sejak seminggu yang lalu, Erika-chan memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan pacarnya itu."
"Bukankah itu bagus? Setidaknya Erika-chan mengetahuinya sekarang, saat mereka masih berpacaran. Itu lebih baik daripada kalau Erika-chan baru mengetahuinya saat mereka sudah bertunangan atau sudah menikah," Doremi mengutarakan pendapatnya, "Jadi, apa masalahnya? Mereka sudah putus, kan?"
"Kelihatannya, Erika-chan belum bisa move on dari mantan pacarnya itu. Sejak seminggu yang lalu, dia jadi sering melamun," jelas Tamaki dengan wajah yang murung, "Tidak mau makan, tidak mau minum… Bahkan sejak kemarin, dia jatuh sakit. Demamnya tinggi… dan aku khawatir kalau-kalau nanti sakitnya akan tambah parah hanya karena dia terus-terusan memikirkan tentang mantannya itu."
"Hmm… masalah susah move on ya…" Doremi berpikir, tapi kemudian ia berkata dengan nada protes, "Eh, tunggu. Kenapa kau malah menanyakan hal ini padaku? Apa ini karena dulu… aku…"
"Ya, kupikir kau mungkin saja bisa memberitahuku kiat-kiat khusus supaya aku bisa dengan mudah membujuk Erika-chan supaya bisa move on. Lagipula, setidaknya sekarang… kau sudah keluar dari 'masa suram'mu itu kan?"
"Oke. Harus kuakui kalau dulu, aku memang kurang beruntung dalam hal itu," Doremi menghela napas, "Tentang Erika-chan, kurasa kau hanya perlu menyemangatinya saja, supaya dia tidak terlalu larut dalam kesedihan. Katakan padanya bahwa dia hanya perlu mencari pasangan yang lebih tepat untuknya, dan buat dia yakin kalau suatu saat nanti, dia akan bertemu dengan orang yang tepat, yang jauh lebih baik daripada mantannya itu. Setelah itu, kau pelan-pelan harus memotivasi Erika-chan. Alihkan perhatiannya dengan hal-hal yang dia sukai, misalnya… kau bisa ajak dia belanja, atau pergi ke taman hiburan, atau… kegiatan-kegiatan lain yang disukainya."
"Aku juga sependapat dengan Doremi-chan," tambah Mutsumi sambil menyajikan makanan yang dipesan Tamaki, "Kalau kau peduli dengan sepupumu, kau harus menyemangati dia melakukan hal-hal yang ia sukai, supaya sepupumu bisa termotivasi."
"Kalian benar juga," gumam Tamaki yang akhirnya mengalihkan perhatiannya kepada makanan yang dipesannya dan menghela napas lega, "Sekarang aku jadi lapar. Salad ini kelihatannya enak juga."
"Mou, tadi siapa yang protes supaya kita pindah ke bar wine," sahut Doremi yang juga ingin mulai menikmati sepiring yakisoba dihadapannya, "Baiklah, sebelum kita bicara hal yang lain lagi, lebih baik kita makan saja sekarang."
Selama beberapa menit, kedua orang teman yang tadinya sering bermusuhan itupun menghabiskan makanan mereka masing-masing sambil sesekali mengobrol santai dan minum wine disana. Sesekali, Hasebe dan Mutsumi juga ikut menanggapi apa yang mereka bicarakan, sampai pada akhirnya mereka sibuk mengurusi pengunjung yang lainnya.
"Jadi, bagaimana keadaanmu dengan Tachibana-senpai?" tanya Doremi kepada Tamaki, "Kelihatannya, hubungan kalian berdua baik-baik saja."
"Begitulah, hanya saja… sampai sekarang, kami masih belum dikaruniai anak," jawabnya, "Mungkin karena kami masih sibuk bekerja, jadi… walaupun kami sudah menikah sejak musim semi tahun lalu pun, kami hanya punya sedikit waktu untuk bertemu."
"Rasanya, aku sedikit mengerti apa yang kaurasakan," komentar sang guru muda, "Sekarang, aku jadi penasaran. Kalau nanti aku sudah menikah dengan Tetsuya, apa nanti aku akan mengalami hal yang sama dengan apa yang kaualami sekarang ya?"
"Kelihatannya sih, begitu," Tamaki kemudian balik bertanya, "Bagaimana dengan rencana pernikahanmu, Harukaze-san? Aku dengar-dengar, Kotake-kun ingin supaya kalian menikah tahun ini juga."
"Ya, memang benar, tapi kami terpaksa harus menikah di musim yang tak lazim, hanya karena Tetsuya sibuk di musim semi dan musim gugur."
"Kalau menurutku sih, tidak masalah buat kalian untuk menikah di musim panas," Tamaki mengutarakan pendapatnya, "Kalau memang kalian hanya punya waktu luang bersama-sama di musim panas, kenapa tidak? Kalau kalian sama-sama sudah merasa siap untuk menikah, kenapa pernikahan kalian harus diundur hanya gara-gara musim? Masalah cuacanya bagus atau tidak, kalian kan bisa menyiasatinya dengan berbagai cara."
"Untunglah kau bisa mengerti keadaan kami, Tamaki," Doremi menghela napas lega, "Jadi, kau bisa datang ke pernikahanku kan?"
"Tentu saja. Kita bisa saja tidak akur beberapa tahun yang lalu, tapi sekarang, aku tidak menyesal berteman denganmu," Tamaki tersenyum, "Aku juga penasaran, kira-kira… hadiah kejutan apa yang sekarang sedang disiapkan oleh Poppu-chan, Asuka-san dan para sahabatmu yang lain untuk pernikahanmu ya?"
"Eh? Kau tahu dari mana kalau sekarang… mereka sedang menyiapkan kejutan untuk pernikahanku?" tanya Doremi heran, "Aku jadi penasaran."
"Ya, kau tidak perlu tahu dulu dari mana aku mengetahuinya, tapi yang kudengar sih, mereka menyiapkan sesuatu yang spesial untukmu dan Kotake-kun," ujarnya, "dan seingatku sih, setiap kali mereka membuat kejutan untukmu, kejutan itu pasti akan jadi kejutan yang paling spesial yang kaudapatkan."
"Tentu saja. Poppu kan adikku, sementara Momo-chan dan yang lainnya sahabat terbaikku, dan aku bersyukur memiliki orang-orang yang seperti mereka disekitarku."
"Aku mengerti," sahut Tamaki, "Kurasa, apa yang membuat kita tidak akur dulu adalah… karena aku iri padamu, Harukaze-san."
"Untuk apa kau harus iri padaku? Toh keluargaku tidak sekaya keluargamu."
"Ini bukan soal materi," koreksi Tamaki, "Aku iri padamu karena kau selalu punya banyak teman dimana-mana. Jarang sekali aku melihatmu berjalan sendiri ke suatu tempat. Kau lebih sering pergi kemana-mana dengan sahabat-sahabatmu, atau kalau tidak, dengan teman-teman kita yang lain, sementara aku…"
"Sudahlah. Yang penting, sekarang kau sudah tidak iri padaku, kan? Lagipula kulihat, sekarang kau juga sudah punya banyak teman."
"Baiklah," Tamaki tertawa kecil, "Intinya, aku bersyukur punya teman yang baik sepertimu."
"Sebenarnya, kau juga orang yang baik, Tamaki," balas Doremi, "Kau hanya perlu mengurangi 'kadar' kesombonganmu saja."
"Hei, siapa bilang aku sombong?"
"Tadi buktinya? Kau sempat tidak mau makan minum disini."
"Kalau aku tahu disini ada wine berkualitas bagus dan salad yang enak, aku tidak akan pernah menolak makan minum disini."
"Baiklah. Terserah kau saja."
Mereka pun akhirnya tertawa bersama.
