DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, 17, 18 dan 19 series (light novel) © Kodansha, 2011-2015. Bouningen © Radwimps, 2016. Frankenstein no Koi © NTV, 2017. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.
Author's Note: Tidak semua bagian dari lirik lagu 'Bouningen' yang author tulis disini, supaya adegan mendengar lagunya terkesan realistis. (saat Leon dan Tooru berbincang-bincang sambil mendengarkan lagu, lagu tersebut menjadi backsound dari percakapan mereka. Silakan readers bayangkan sendiri lagunya sambil membaca percakapan tersebut)
Our Future
.
Chapter 4 – Their Mysterious Boyfriends
7 Mei 2017, sore hari…
"Nee, boku wa ningen janaindesu
hontou ni gomen nasai
Sokkuri ni dekiteru mon de
yoku machigawareru no desu"
"Oi, Tooru-kun!" sapa seorang pemuda berambut pirang kepada seorang sahabatnya yang sedang duduk santai sambil mendengarkan musik dari smartphone miliknya lewat earphone, "Kau sedang dengar lagu apa? Kelihatannya, kau serius sekali mendengarkan lagu itu."
"Ah, aku sedang mendengarkan lagu yang berjudul 'Bouningen'," jawab Tooru, "Kamu tahu kan, band Radwimps?"
"Hmm, 'Bouningen' ya… Kalau tidak salah, banyak orang yang mengartikannya sebagai 'Stick Figure', ya kan?" tebak si pirang, Leon, "Apa lagunya bagus sekali? Aku hanya pernah dengar judulnya saja, tapi aku belum terlalu tahu lagunya seperti apa."
"Lagu ini lumayan bagus menurutku… ah, atau mungkin aku harus bilang kalau lagu ini bagus sekali? Kurasa sekarang, ini lagu favoritku," ujarnya, "Lagu ini sudah keluar sejak akhir tahun lalu, dan tahun ini, lagu ini menjadi lagu soundtrack sebuah dorama."
"Eh? Benarkah?"
Tooru mengangguk, "Judul dorama itu 'Frankenstein no Koi'. Aku juga menonton doramanya, dan ceritanya juga tidak kalah bagus."
"Frankenstein ya?" Leon berpikir sebentar, kemudian bertanya lagi, "Apa ceritanya tentang zombie?"
"Mungkin bisa dibilang begitu, tapi dalam dorama ini, sang tokoh utama lebih banyak disebut sebagai monster," jelas Tooru, "Dalam ceritanya, sang tokoh utama sudah berumur 120 tahun tapi masih terlihat muda."
"Seperti penyihir saja," komentar Leon, "Mungkin seabad lagi, kita juga masih terlihat seperti ini."
"Ya, tapi seperti judulnya, sebelum 120 tahun yang dilaluinya itu, sebenarnya dia sudah mati," balas Tooru, "Seorang ilmuwan berhasil menghidupkannya lagi, seperti Frankenstein, hanya bedanya, tokoh utama dalam dorama ini… aduh, bagaimana menjelaskannya ya?"
Tooru memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan cerita dorama tersebut kepada Leon, kemudian membisikkannya kepada salah seorang sahabatnya itu.
Setelah mendengar penjelasan dari Tooru, Leon mengangguk-anggukkan kepalanya, "Jadi begitu ceritanya? Sang tokoh utama jatuh cinta pada seorang manusia biasa. Jadi seperti kita saja…"
"Aku juga berpikir begitu, makanya aku akan terus menontonnya sampai selesai," Tooru menghela napas, "Kau juga mau dengar lagu ini, Leon-kun?"
"Tentu saja. Kedengarannya, lagu itu menarik juga," ujar Leon. Tooru pun melepas earphone miliknya, membiarkan lagu yang didengarnya sampai ke telinga Leon.
"Boku mo itsu no hi ni ka hontou no ningen ni narerunjanai ka nante
Sonna yume wo miteimashita
yume wo mitemashita"
"Mungkin tidak ya?"
"Eh?" Tooru menyadari apa yang digumamkan Leon, "Apa maksudmu?"
"Yah, kuakui aku selalu ingin menjadi manusia seutuhnya, seperti yang disebutkan dalam lagu ini," aku Leon, "dan aku tidak mau hal itu hanya terjadi dalam mimpi. Aku benar-benar ingin menjadi manusia seutuhnya, supaya aku…"
"Supaya kau bisa menikahi Ai-chan, kan?" Tooru menyeringai, "Kalau begitu, kau sama saja denganku. Aku juga ingin sekali menikah dengan Onpu-chan dan hidup bahagia dengannya disini, di dunia manusia."
"Tapi, bagaimana caranya?" tanya Leon, "Aku benar-benar ingin tahu."
"Aku juga," kali ini, Tooru tersenyum tipis, "Kalau saja kita mengetahuinya sekarang…"
"Boku mo ningen de iindesu ka?
Nee dareka kotaete yo
Miyou mimane de ikiteru boku wo yurushite kuremasu ka?"
"Apa akan ada yang marah, kalau suatu saat nanti kita bisa jadi manusia seutuhnya?" gumam Leon, "Aku juga ingin mengetahuinya."
"Hanya Tuhan yang tahu," Tooru menghela napas.
Tak lama kemudian, pintu apartemen mereka terbuka, tepat saat mereka mendengarkan bagian terakhir dari lagu tersebut.
"Nandomo akirameta tsumori demo ningen de aritai no desu"
"Kalian dengar lagu apa, sampai suaranya dikeraskan begitu?" tanya Akatsuki yang baru saja memasuki apartemen itu dengan heran, "Apa lagunya sebegitu bagusnya, sampai-sampai kalian ingin mendengarnya dengan sangat jelas begitu?"
"Yah, kau sudah tahu tentang lagu ini, Akatsuki-kun. Aku sudah memberitahumu," jawab Tooru, "Lagu tema 'Frankenstein no Koi'."
"Ah, 'Bouningen' ya… lagu tema 'Frankenstein no Koi' yang sekarang jadi favoritmu itu," Akatsuki tersenyum, "Aku juga menyukainya, baik itu lagunya maupun doramanya."
"Meskipun keadaanmu jauh berbeda dengan apa yang diceritakan dalam dorama itu? Juga dengan lagunya?" tanya Tooru, "Akatsuki-kun, bukalah matamu. Orang yang kaucintai sudah bahagia dengan orang lain, dan kau tidak mungkin bisa menjadi manusia seutuhnya. Ayahmu akan marah padamu."
"Bukankah itu sesuai dengan apa yang diceritakan dalam lagu yang baru saja kita dengarkan, Tooru-kun?" Leon kembali menggumam, "Makanya sang vokalis…"
"Kau tidak mengerti apa maksudku, Leon-kun," Tooru menggeleng, kemudian kembali memusatkan perhatiannya kepada sang pangeran muda, "Akatsuki-kun, suatu saat nanti, kau yang akan menjadi raja Mahotsukai menggantikan ayahmu. Kau sendiri mengetahuinya, kan?"
"Tentang hal itu, kalian juga sudah tahu sendiri kan, kalau aku diberi kesempatan untuk mencari permaisuri yang bisa kubawa pulang ke kerajaan? Aku bisa membawa pulang siapapun yang kucintai, yang pantas menjadi permaisuriku, dan orang itu adalah Doremi-chan."
"Tapi bukan berarti kau bisa membawanya dengan paksa. Kalau orang yang kaucintai nyatanya sudah tidak mencintaimu lagi, kau tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubahnya. Cinta tidak bisa dipaksakan, sekalipun kau adalah seorang penerus kerajaan. Kau bukanlah Tuhan yang mengatur siapa yang akan dicintai oleh seseorang, atau siapa yang akan membuatnya bahagia. Kau seharusnya menyadari hal itu sekarang."
"Jadi, kau ingin aku menyerah?" Akatsuki menyilangkan kedua lengannya, "Tooru-kun, apa kau lupa kalau Doremi-chan pernah mencintaiku?"
"Perasaan bisa berubah kapan saja, Akatsuki-kun," balas Tooru, "dan itulah yang terjadi sekarang. Saat kita tidak bertemu dengan mereka selama bertahun-tahun itu, Doremi-chan menyadari bahwa ada seseorang didekatnya yang memperhatikannya, dan orang itu selalu ada disisinya, sementara kau… aku bahkan sempat tidak yakin apa kau masih mencintainya atau tidak. Saat kita masuk SMP Fukui pun, kau malah pacaran dengan beberapa teman sekolah kita disana."
"Itu… Hei, kau dan Leon-kun juga sering tebar pesona saat itu, kan?"
"Walaupun begitu, kami tidak pernah berpacaran dengan gadis-gadis di Fukui. Saat Onpu-chan pindah ke Hokkaido pun, aku minta tolong Oyajide supaya ia mencari tahu tentang keberadaan Onpu-chan, walaupun pada akhirnya, ia tidak bisa menolongku terlalu banyak karena kesibukannya mengurusi TK," sanggah Tooru, "Leon-kun juga… terkadang diam-diam pergi ke Osaka hanya untuk sekedar melihat Ai-chan dari kejauhan."
"Kau benar, Tooru-kun," tambah Leon yang kemudian tersenyum tipis, "Saat itu, aku menemukan bahwa sebenarnya, Ai-chan pernah berpacaran dengan orang lain, tapi saat itu, aku tidak keberatan. Asalkan orang itu bisa membuat Ai-chan bahagia, aku tidak akan menghalangi mereka. Rasanya, melihat Ai-chan bahagia saja, sudah membuat diriku sendiri bahagia…"
"Kalian naif sekali," ujar Akatsuki dengan sinis, "Aku tidak akan pernah membohongi diriku sendiri seperti itu. Aku akan tetap berjuang mempertahankan cintaku…"
"Meskipun teman-teman satu sekolah kita di Fukui menganggapmu sebagai seorang playboy ulung, begitu?" potong Leon, "Kalau kau memang ingin mempertahankan cintamu, bagaimana bisa kau berpacaran dengan gadis-gadis itu saat kita tinggal di Fukui? Kalau kau tidak mencintai mereka, artinya kau sudah memainkan perasaan mereka."
"Aku mencoba mencintai mereka, tapi aku tak bisa. Kalau keadaannya seperti itu, apa yang bisa kulakukan?"
"Silakan saja kau bicara begitu, Akatsuki-kun. Aku yakin, walaupun kau mengatakan hal itu kepada Doremi-chan, dia tetap tidak akan luluh padamu," tantang Tooru, "Yang ada, dia akan menanyakan padamu tentang alasanmu memacari gadis-gadis itu sekalipun kau sudah tahu bahwa kau tidak akan bisa mencintai mereka sepenuhnya, dan tentu saja, apapun jawabanmu, dia tidak akan pernah bisa menerimamu lagi."
"Terserah kalian saja," sahut Akatsuki dengan nada bosan. Ia lalu memasuki kamarnya sendiri dengan kesal, "Toh sekarang, masing-masing dari kalian juga memacari Ai-chan dan Onpu-chan."
"Itu berbeda. Kami berpacaran karena mereka juga mencintai kami," kilah Leon, "Lagipula, kami bukan pangeran sepertimu. Kami tidak perlu membuat orang yang kami cintai meninggalkan keluarga yang mereka sayangi hanya untuk tinggal bersama kami, karena keluarga kami tidak akan keberatan kalau kami menetap disini, di dunia manusia."
"Diam kau!" seru Akatsuki yang kemudian membanting pintu kamarnya, "Aku tidak akan pernah peduli dengan apa yang kaukatakan, karena satu-satunya yang harus kuperhatikan hanyalah kebahagiaanku. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama seorang permaisuri di kerajaanku."
"Dasar egois," keluh Tooru, "Tak kusangka, Akatsuki-kun sekarang menjadi seseorang yang egois begitu. Tadinya ia tidak seperti ini."
"Semua ini karena ulah peramal asing itu," Leon menggelengkan kepalanya, "Permaisuri berhati emas? Aku tidak percaya orang aneh seperti peramal itu bisa mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti itu."
"Aku juga tidak habis pikir, kenapa Akatsuki-kun dengan gampangnya menganggap bahwa permaisuri berhati emas yang dimaksud adalah Doremi-chan, padahal peramal itu bahkan tidak memberikan penjelasan yang lebih detail tentang permaisuri berhati emas yang dikatakannya… Peramal itu tidak bilang kalau permaisuri yang dimaksudnya itu seorang manusia atau penyihir," ujar Tooru sambil mematikan fitur pemutar musik di smartphone miliknya yang berwarna hitam, "Doremi-chan memang berhati emas, tapi kurasa, masih banyak orang di dunia ini yang juga berhati emas seperti dirinya."
"Hmm, kalau memang Akatsuki-kun menginginkan pernikahan yang jauh dari konflik, kenapa dia tidak menikah dengan Hana-chan saja sih?" ujar Leon dengan polosnya, "Malah dengan begitu, kerajaan penyihir bisa bersatu."
"Ehm, mungkin itu usul yang bagus buatmu, tapi…" Tooru menjawab dengan nada tak yakin, "Akatsuki-kun bukan pedofil."
"Oke, aku tahu kenapa kau tidak setuju dengan usulku, tapi kau juga harus lihat keadaannya seperti apa sekarang," Leon mencoba menjelaskan gagasan yang dikemukakannya barusan, "Hana-chan sekarang sudah berhasil membuat dirinya terlihat sepuluh tahun lebih tua dari usianya sekarang. Di umurnya yang sekarang baru 17 tahun saja, dia sudah bisa jadi dokter, dan orang-orang disini (di dunia manusia) hanya tahu bahwa umurnya sekarang sudah sekitar 26 atau 27 tahun."
"Tapi kan…"
"Cinta tidak mengenal umur," simpul Leon, memotong apa yang ingin Tooru katakan, "Lagipula, selama kita tinggal di dunia manusia, aku sudah sering melihat pasangan suami-istri yang jarak umurnya bahkan lebih dari sepuluh tahun."
"Terserah kaulah," Tooru menghela napas, lalu bergegas ke kamar mandi, "Sekarang aku ingin mandi saja, setelah itu aku akan menjemput Onpu-chan dari rumah Hazuki-chan, supaya kami bisa makan malam berdua malam ini."
"Ah, benar juga. Aku juga mau jemput Ai-chan."
"Lho, kau bukannya ada jadwal latihan lari hari ini, Leon-kun?"
"Oh, iya juga ya," kali ini giliran Leon yang menghela napas, "Kalau begitu, aku titip salam buat Ai-chan ya?"
"Tenang saja. Akan kusampaikan salammu itu, Leon-kun."
.O.
Malam harinya…
"Konbanwa!"
"Eh? Momo-chan, kenapa kau datang kesini?" tanya Doremi tidak mengerti begitu ia mengetahui bahwa Momoko datang berkunjung ke apartemennya, "Kita kan sudah bertemu kemarin, dan aku juga sudah memberikan kado ulang tahunmu…"
"Aku hanya ingin datang berkunjung saja," jawab Momoko sambil tersenyum, "Kau tidak sedang sibuk kan?"
"Hmm, tidak juga sih, tapi besok kan sudah mulai masuk sekolah lagi," Doremi membalas senyuman Momoko, "Baiklah, ayo masuk. Aku hanya sedang mempersiapkan materi pembelajaran untuk besok. Sebentar lagi juga selesai."
"Baguslah kalau begitu," Momoko dengan cepat menyusul Doremi ke ruang tamu, "Bagaimana dengan Kotake-kun? Kau sudah tahu keadaannya di Spanyol bagaimana?"
"Dia baik-baik saja, dan seperti biasa, sibuk berlatih. Untung saja aku masih sempat video call dengannya," jawab Doremi sebelum kembali fokus kepada materi pembelajaran yang sedang disiapkannya untuk keesokan harinya, "Kalau tadi aku tidak mengontaknya, mungkin sekarang aku belum bisa fokus menyiapkan materi pembelajaranku."
"Yokatta ne?" komentar Momoko, "Ngomong-ngomong, Doremi-chan, apa kau benar-benar tidak tahu, siapa pacar Ai-chan dan Onpu-chan?"
"Eh? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu? Aku benar-benar tidak mengetahuinya," Doremi mengangkat bahu, "Sejak kita tahu mereka punya pacar, aku sama sekali belum tahu siapa pacar mereka, sampai sekarang."
Doremi berpikir sebentar, kemudian bertanya, "Memangnya kenapa? Kalau kau benar-benar penasaran dan ingin tahu tentang hal itu, kenapa kau tidak tanya mereka langsung saja? Kenapa kau malah bertanya padaku?"
"Yah, sebenarnya aku sudah tanya mereka langsung, tapi… mereka sepertinya tidak ingin memberitahukannya padaku. Mereka hanya bilang kalau aku nanti juga akan tahu sendiri, begitu aku melihat mereka di pesta pernikahanmu nanti," jawabnya, "Mungkin saja, mereka memberitahumu nama pacar mereka, supaya kau bisa mencantumkan nama mereka di undangan pernikahanmu."
"Ya, memang sih, mereka janji akan membawa pacar mereka masing-masing ke pesta pernikahanku, tapi… mereka belum mengatakan padaku dengan jelas siapa sebenarnya pacar mereka itu," aku Doremi, "Misterius juga ya?"
"Kau benar. Mereka misterius," sahut Momoko dengan serius, "Jangan-jangan nama pacar mereka juga Mr. Rius…"
"Ehm, Momo-chan, kau tidak perlu serius begitu menanggapi hal ini. Lagipula, mana ada orang yang namanya… Rius?"
"Kurasa itu masih mungkin. Orang-orang akan memanggil mereka 'Rius-san'," komentar Momoko yang tiba-tiba berseru, "Ah, atau jangan-jangan mereka saudara kembar?! Atau mungkin, mereka sepupuan?! Jangan-jangan Rius itu nama keluarga mereka…"
"Anou, Momo-chan… kurasa bicaramu tambah ngawur. Mana mungkin ada yang mau punya nama keluarga seaneh itu? Rius?" Doremi lalu menghela napas, "Sekarang, aku tidak tahu lagi, apa kau sedang serius membicarakan hal ini atau sedang main-main…"
"Habisnya, tadi Onpu-chan dijemput pacarnya, tapi pacarnya itu menunggunya di tempat yang agak jauh," tanpa pikir panjang, Momoko berkata, "Anehnya, Ai-chan langsung ikut menyusul Onpu-chan ke tempat pacarnya menunggu, padahal…"
"Stop! Jadi tadi kau bertemu dengan mereka? Memangnya kalian sedang apa? Kalian bertemu dimana?" potong Doremi yang akhirnya terus bertanya kepada Momoko, "Kenapa kalian tidak bilang padaku, kalau kalian ingin bertemu?"
'Ups, aku keceplosan. Doremi-chan jangan sampai tahu tentang latihan musik kami di rumah Hazuki-chan,' pikir Momoko yang akhirnya menjawab, "Ya, tadinya aku juga tidak tahu kalau mereka mau datang ke toko kue milikku. Kebetulan saja mereka datang tadi sore, jadi ya… aku melayani mereka di toko. Mereka beli beberapa potong kue di tokoku."
"Oh, begitu. Kupikir kalian janjian ketemuan dimana…"
"Tentu saja tidak seperti itu. Kau tahu sendiri kan, kalau aku lumayan sibuk di toko, sekalipun ini hari Minggu."
"Aku tahu," Doremi tersenyum, "Tentu saja, selalu ada banyak orang yang suka kue-kue buatanmu dan ingin membelinya di tokomu, Momo-chan. Kau kan pembuat kue yang handal. Kuliahnya saja di Perancis."
"Haha, kau bisa saja, Doremi-chan," balas Momoko, "Kau juga… guru yang baik untuk murid-muridmu."
"Tentang hal itu, terserah kau sajalah," Doremi tertawa kecil, "Jadi, sekarang kau kesini hanya untuk menanyaiku tentang pacar Ai-chan dan Onpu-chan?"
"Tidak juga sih. Aku juga ingin menginap di apartemenmu. Habisnya, pipa air panas di apartemenku sedang diperbaiki, padahal aku membutuhkannya untuk mandi," jawab Momoko sambil memperlihatkan sebuah tas tangan berukuran sedang yang dibawanya, "Aku juga boleh numpang mandi disini kan?"
"Boleh saja. Justru aku senang kau menginap disini," Doremi mengangguk, "Terkadang, aku kesepian juga tinggal di apartemen sendirian."
"Memangnya, kau tidak berencana untuk kembali tinggal sebentar di rumah keluargamu? Setidaknya, sampai hari pernikahanmu mungkin?" tanya Momoko, "Nanti kalau ada acara lamaran bagaimana?"
"Ah, maksudmu youhin… atau apa itu namanya ya? Aku pernah lihat di internet, tapi aku tidak begitu tahu tentang hal itu," sahut Doremi yang kemudian menjawab, "tapi bukannya, itu hanya berlangsung di acara perjodohan saja? Aku dan Tetsuya kan memang sudah berpacaran sejak di kelas 3 SMA, jadi kurasa… tidak perlu ada acara lamaran yang seperti itu. Kalaupun memang harus ada… paling-paling kami akan mengadakannya di bulan Juni, sebulan sebelum pernikahan."
"Memangnya kamu nggak kangen sama Poppu-chan? Atau ayah dan ibumu?"
"Ya, kadang aku merindukan mereka, tapi… aku kan sudah memutuskan untuk pindah ke apartemen ini," jawabnya sambil membereskan pekerjaannya yang sekarang sudah selesai, "Lagipula, aku juga sudah bayar sewa sampai bulan Juni ini. Kalau aku kembali ke rumah keluargaku sekarang, uang bayarannya jadi sia-sia saja kan?"
"Hmm, benar juga sih," Momoko mengangguk setuju, "Baiklah, rasanya sekarang aku mau mandi. Kau sudah mandi belum?"
"Sayangnya, aku sudah mandi setengah jam yang lalu, baru setelah itu aku menyelesaikan materi pembelajaranku," jelas Doremi, "Kau mandi saja sekarang. Biar nanti aku yang menyiapkan makan malam kita."
"Okay!" seru Momoko yang kemudian berjalan memasuki kamar mandi, "Tapi masakanmu harus enak, ya?"
"Serahkan saja padaku," Doremi tersenyum, lalu bergegas ke dapur untuk menyiapkan bahan-bahan makanan yang akan dimasaknya, "Aku jamin masakanku pasti enak."
"Aku percaya padamu."
