DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, 17, 18 dan 19 series (light novel) © Kodansha, 2011-2015. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.


Our Future

.

Chapter 5 – The Fortuneteller's Mistake


"Harus berapa kali kukatakan padamu bahwa aku tidak ingin kau kejar-kejar terus? Kau selalu saja berusaha supaya aku bisa mencintaimu lagi."

"Memangnya kenapa? Toh, kau juga belum menikah dengan Kotake-kun, jadi aku masih punya kesempatan. Memangnya, kau tidak ingin jadi permaisuriku?"

"Maaf, tapi aku tak berminat. Aku lebih suka tinggal disini sebagai manusia biasa, sebagai seorang guru yang dengan senang hati mengajari murid-muridnya, daripada harus bersama seseorang yang tak henti-hentinya berbuat curang."

.

27 Mei 2017…

'Apa menurutmu, aku seburuk itu, Doremi-chan?' pikir Akatsuki saat ia kembali mengingat apa yang terjadi dua bulan yang lalu, saat ia bertemu dengan seorang wanita muda yang diyakininya akan menjadi permaisurinya itu, 'Apa cintamu padaku benar-benar sudah menghilang begitu saja? Apa sekarang… kau benar-benar membenciku? Kenapa sekarang, kau malah menjauh dariku?'

Akatsuki menghela napas, 'Semudah itukah kau melupakan perasaanmu padaku, Doremi-chan? Padahal, dulu kau sendiri yang mengejarku. Kau yang membuatku merasa ingin terus bersamamu. Kenapa sekarang, kau malah memilih pria lain? Kenapa sekarang, malah dia yang kaupilih? Bukankah dulu kau membenci dia? Kenapa… kau malah ingin menikahinya sekarang? Kenapa kau ingin menikah dengan Kotake-kun? Apa istimewanya dia?'

"Akh, sial!" gerutu Akatsuki yang sedang duduk sendiri di dalam kamarnya, "Apa yang kurang dariku? Aku seorang pangeran. Aku jauh lebih tampan dari Kotake-kun! Kenapa sekarang Doremi-chan malah mencintai dia?!"

"Pokoknya aku harus melakukan sesuatu… Doremi-chan harus menjadi permaisuriku, dan dia tidak boleh menikah dengan Kotake-kun. Aku harus menggagalkan rencana pernikahan mereka," simpul Akatsuki, "Masalahnya, apa yang harus kulakukan?"

'Kalau aku menculiknya, Hana-chan akan mengadukan perbuatanku kepada ayahku…' Akatsuki berpikir keras, 'Apa aku harus mempertimbangkan usul dari teman-temanku di kampus? Masalahnya, di satu sisi, aku tak ingin menghancurkan orang yang kucintai, tapi disisi lain, aku ingin sekali memilikinya. Aku ingin menjadikannya permaisuriku…'

'Kalau saja dulu aku sempat melakukannya, saat ia masih mencintaiku… Mungkin sekarang, kami sudah hidup bersama di istana.'

Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di pintu depan apartemen tempat Akatsuki tinggal bersama dengan ketiga orang temannya di FLAT 4.

"Siapa yang datang?" gumam Akatsuki kepada dirinya sendiri, "Kenapa orang itu terus saja mengetuk pintu? Memangnya Leon-kun dan Tooru-kun sudah pergi?"

Pria muda berambut violet itupun akhirnya menghela napas dan bergegas keluar dari kamarnya, "Baiklah, kurasa mau tidak mau, aku yang harus membuka pintu itu."

Akatsuki lalu membuka pintu depan apartemen, yang ternyata diketuk oleh seorang pria berpenampilan mencolok. Pria itu langsung menanyakan sesuatu kepada Akatsuki, "Bagaimana, pangeran? Apa kau sudah menemukan seseorang yang pantas menjadi permaisurimu? Sang permaisuri berhati emas?"

"Okashiide, kebetulan sekali kau datang kemari sekarang. Aku ingin kau menjelaskan sesuatu tentang permaisuriku itu," balas Akatsuki yang malah balik bertanya, "Kau bilang aku akan dengan mudah membujuknya menjadi permaisuriku, tapi kenapa sekarang dia malah ingin menikah dengan orang lain?"

"Masa sih, pangeran? Aku memang hanya bisa menerawang calon permaisurimu itu samar-samar, tapi yang kutahu, kau akan bisa melamarnya dengan mudah," Penyihir lelaki bernama Okashiide yang juga adalah seorang peramal itupun menggaruk kepalanya yang botak, "Memangnya, siapa yang kaubilang akan menikah dengan orang lain? Jangan-jangan kau salah mendekati orang, pangeran."

"Aku yakin aku tidak salah memilih dia. Selama ini aku mencintainya, dan dia juga berhati emas, cocok dengan apa yang kaukatakan," ujar Akatsuki dengan mantap saat mereka berjalan memasuki ruang tamu apartemen itu lalu duduk disebuah sofa berwarna hitam disana, "Dulu, dia juga pernah mencintaiku, tapi sekarang dia malah menjauhiku dan ingin menikah dengan pria lain."

"Itu bukan jaminan, pangeran. Kau harus memberitahuku sesuatu tentangnya," Okashiide lalu mulai mengkonfirmasikan sesuatu, "Dia manusia kan?"

"Iya."

"Seorang gadis?"

"Tentu saja. Kaupikir aku ini homo?"

"Ya, mungkin saja kau mendekati seorang janda…"

"Aku takkan pernah mendekati tante girang, Okashiide," sang pangeran muda menghela napas, "Apa lagi yang ingin kautanyakan?"

"Apa dia… sebatang kara? Maksudku, dia sudah tidak punya keluarga atau bagaimana?"

"Yah, sekarang dia sudah tinggal sendiri di sebuah apartemen. Letaknya agak jauh dari sini," jawab Akatsuki, "Mengenai keluarganya, kedua orangtuanya masih lengkap, dan dia juga punya seorang adik perempuan."

"Pantas saja, pangeran. Kau sudah salah mendekati orang! Dia bukan jodohmu."

"Apa? Tapi kaubilang, aku bisa menemuinya disini," Akatsuki terkejut, "Makanya kupikir, permaisuri berhati emas yang kaumaksud adalah Doremi-chan."

"Tentu saja bukan! Aku memang berkata bahwa permaisurimu berhati emas, tapi bukan berarti permaisurimu adalah sang ojamajo legendaris itu!" Okashiide menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Permaisurimu bukan dia!"

"Jadi siapa orangnya?" tanya Akatsuki jengkel, "Kenapa kau tidak bilang dari awal kalau itu bukan dia?"

"Kupikir kau sudah bisa mengetahuinya sendiri, pangeran. Lagipula, saat aku meramalmu, dia sudah berpacaran dengan orang lain, kan?" balas Okashiide, "Kau sendiri yang salah, pangeran. Kenapa kau malah mendekati pacar orang?"

"Anou ne, Okashiide, mana kutahu kalau aku tidak boleh mengincar pacar orang? Yang kutahu, selama dia masih belum menikah dengan orang lain, aku masih bisa mendekatinya."

"Begitu ya?" Okashiide terdiam sejenak sebelum menyimpulkan sesuatu, "Pangeran, kelihatannya kau masih belum bisa membedakan antara hubungan yang serius dengan hubungan yang hanya main-main saja."

"Apa maksudmu berkata begitu?" Akatsuki merasa tersinggung.

"Ya… maksudku, kau tidak tahu bedanya," peramal berkepala botak itupun mulai menjelaskan, "Apa kau tahu, semua yang terjadi antara si rambut merah itu dengan pacarnya, sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih? Mereka mencoba untuk saling memahami satu sama lain."

"Kau yakin? Toh, Kotake-kun belum tahu kalau Doremi-chan pernah menjadi majominarai…"

"Kau salah, pangeran. Dia sudah tahu."

"Apa? Jadi, Kotake-kun…"

"Ada sesuatu yang dilihatnya di masa lalu, dan pasangannya pun juga sudah mengakui apa yang terjadi. Sudah tidak ada lagi rahasia diantara mereka berdua," peramal itu bangkit berdiri, bersiap meninggalkan apartemen itu, "Hubungan diantara mereka berdua serius, dan kau tidak boleh mengganggu mereka. Kau harus cari gadis lain."

"Itu salahmu," gumam Akatsuki pelan saat ia memandangi peramal itu dengan kesal, "Kau yang tidak memberitahuku tentang hal ini sebelumnya."

"Baiklah, anggap saja aku yang salah. Maaf ya, pangeran," sahut Okashiide, "Untung saja hari ini aku sedang tidak sibuk, jadi aku bisa mendeteksi kekeliruanmu dan memberitahukannya kepadamu."

"Terserah kau saja. Terima kasih atas kehadiranmu," keluh Akatsuki, "Sekarang aku jadi malas mencari permaisuri."

"Jangan begitu, pangeran. Seseorang sedang menunggumu diluar sana," sang peramal botak melambaikan tangannya sebelum bergegas keluar dari apartemen itu, "dan kau tidak akan menyesal saat bertemu dengannya. Dia akan mencintaimu dengan tulus, dan kau bisa membawanya pulang ke kerajaanmu dengan mudah. Dia akan terus mengikutimu kemanapun kau pergi, karena hanya kaulah yang dia miliki di dunia ini."

Saat Okashiide sudah meninggalkan apartemen itu, Akatsuki menghela napas. Ia mengomentari hal terakhir yang dikatakan oleh peramal itu sebelum dia pergi, "Kedengarannya, calon permaisuriku yang sebenarnya adalah orang yang membosankan…"

Sang pangeran berambut violet itupun menutup pintu apartemennya lagi dan berjalan masuk ke kamarnya dengan lesu, "Sekarang, aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan…"

.O.

Malam harinya…

"Kubilang juga apa. Tidak mungkin Doremi-chan yang akan jadi permaisurimu," ujar Tooru setelah mendengar penjelasan dari Akatsuki tentang kedatangan sang peramal aneh tadi sore, "Lagipula, sekarang dia bahkan sudah tidak menyukaimu sama sekali. Kalau dia tidak menyukaimu, mana mungkin dia bisa menjadi permaisurimu?"

"Jadi, menurutmu… apa yang harus kulakukan sekarang? Mencari calon permaisuriku yang sebenarnya?" tanya Akatsuki, "Dunia ini luas sekali. Kalau aku harus mencarinya, bukankah akan jadi seperti mencari sebatang jarum dalam setumpuk jerami? Melihat wajahnya saja aku belum pernah."

"Ya, mungkin kau harus menghubungi semua mantan pacarmu dan bertanya kepada mereka kalau-kalau ada diantara mereka yang ingin menjadi permaisurimu…"

"Aku tidak yakin," Akatsuki menggeleng, "Apalagi, kebanyakan dari mereka putus denganku karena mereka tidak percaya kalau aku adalah seorang pangeran dari kerajaan mahotsukai. Mereka menganggapku gila."

"Jangan pesimis dulu. Siapa tahu, kalau kau bisa membuktikan kepada mereka kalau kau benar-benar seorang pangeran, akan ada satu dari mereka yang bersedia menjadi permaisurimu," Tooru terus mencoba meyakinkan Akatsuki, "Kau tahu sendiri kan, kalau cinta datang dengan cara yang tak terduga? Mungkin juga, nanti calon permaisurimu yang sebenarnya akan datang dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya."

"Hmm, mungkin juga sih…" gumam Akatsuki yang kemudian bertanya lagi, "Lalu bagaimana dengan Doremi-chan? Apa aku harus meminta maaf kepadanya? Setidaknya, walaupun aku sudah tahu kalau dia sudah tidak mungkin lagi menjadi permaisuriku, aku masih ingin bersahabat dengannya seperti dulu. Rasanya tidak enak kalau dia terus-terusan menjauhiku."

"Kalau kau memang masih ingin bersahabat dengannya, kau harus menghargai keputusannya untuk menikah dengan Kotake-kun," jawab Tooru, "Kau juga harus meminta maaf kepada mereka, karena kau telah berkali-kali mencoba membuat mereka putus. Dengan begitu, kau bisa move on dari Doremi-chan dengan mudah."

"Baiklah. Mungkin lain kali, aku harus mengajak mereka bertemu di suatu tempat," simpul Akatsuki, "tapi kira-kira, kapan aku bisa bertemu dengan mereka, ya? Aku dengar-dengar, Kotake-kun sibuk sekali akhir-akhir ini."

"Onpu-chan bilang sih, Kotake-kun hanya punya waktu luang musim panas ini, makanya pernikahannya dengan Doremi-chan baru akan berlangsung akhir Juli ini," jelas Tooru, "Kurasa, kau bisa mengajak mereka bertemu, di musim panas ini. Kalau bisa, kau juga membantu mereka mempersiapkan pernikahan…"

"Aku kurang yakin soal persiapan pernikahan mereka, tapi yang jelas, aku harus meminta maaf kepada mereka," aku sang pangeran muda berambut violet, "Bukan hanya karena aku terus berusaha supaya mereka putus, tapi juga karena aku mengingkari janjiku kepada mereka."

"Soal bertarung dengan adil itu, ya?" tebak Tooru, "Aku juga merasa bahwa kau harus meminta maaf pada mereka karena itu."

"Mudah-mudahan mereka bisa memaafkanku. Aku benar-benar menyesal," Akatsuki menghela napas, "Sekarang, aku benar-benar hanya ingin bersahabat dengan mereka, tidak lebih."

"Aku senang mendengarnya," Tooru tersenyum, "Akhirnya, kau sudah tidak egois lagi, Akatsuki-kun."

"Yah, kurasa aku harus berterima kasih kepadamu dan Okashiide," Akatsuki membalas senyuman Tooru, "Ada untungnya juga aku mengetahui hal yang sebenarnya, tentang calon permaisuriku yang masih berada diluar sana."

"Tenang saja. Aku yakin kau akan menemukannya suatu saat nanti."

"Ya, kau benar, Tooru-kun."

"Tadaima!" tiba-tiba seseorang berjalan masuk ke dalam apartemen mereka. Ia bergumam, "Latihan hari ini melelahkan sekali."

"Okaeri, Leon-kun!" balas Akatsuki dan Tooru yang sedang berada di ruang tengah apartemen mereka, menyambut Leon yang baru saja pulang dari latihan atletik. Mereka lalu kembali membicarakan tentang kedatangan Okashiide beberapa saat yang lalu.

"Aku juga bilang apa? Kalau kau mau gampang dapat permaisuri, kau menikah saja dengan Hana-chan," komentar Leon, "Daripada mengharapkan cinta yang akhirnya bertepuk sebelah tangan."

"Ah, tentang usulmu, mungkin aku harus pertimbangkan lagi masak-masak," sahut Akatsuki dengan nada tak yakin, "Kalau nanti aku sampai salah pilih, akibatnya bisa fatal."

"Baiklah, setidaknya aku senang melihatmu kembali menjadi sosok ketua yang tidak egois," Leon tersenyum, kemudian menoleh kearah Tooru dan bertanya, "Ngomong-ngomong, Tooru-kun, kau sudah menyampaikan salamku kepada Ai-chan, kan?"

"Ya, aku sudah menyampaikannya," jawab Tooru, "Ai-chan juga bertanya padaku, kapan kau bisa bertemu dengannya?"

"Besok aku bisa menemuinya bersamamu," ujar Leon sambil berjalan menuju ke lemari es untuk mengambil sekaleng beer yang dengan cepat diminumnya, "Sampai beberapa hari kedepan, mereka masih akan latihan musik di rumah Hazuki-chan, kan?"

"Begitulah. Mereka masih akan berlatih sampai awal musim panas ini," Tooru mengiyakan, "Apalagi, nanti mereka akan tampil di momen yang spesial."

"Memangnya, mereka mau tampil di acara apa sih?" tanya Akatsuki ingin tahu, "Kelihatannya serius sekali."

"Kau yakin ingin mengetahuinya, meskipun acara itu mungkin akan membuatmu sakit hati?" Leon balik bertanya, tapi kemudian dia menjawab pertanyaan Akatsuki, "Yah, mereka ingin mengadakan penampilan spesial sebagai hadiah kejutan mereka di resepsi pernikahan Doremi-chan dan Kotake-kun."

"Jadi begitu…" ujar Akatsuki dengan tenang, "Kau tenang saja, Leon-kun. Pernikahan mereka sudah bukan masalah lagi buatku, jadi kau tidak perlu sungkan mengatakannya padaku. Aku baik-baik saja."

"Baguslah kalau begitu," komentar Leon, "Aku makin kagum padamu."

"Kau tidak perlu kagum padaku. Lagipula, memang seharusnya begitu, kan? Aku harus menghargai keputusan Doremi-chan, walaupun keputusan itu juga membuatku patah hati…" Akatsuki lalu teringat sesuatu dan menambahkan, "Mungkin memang benar, kalau cinta itu tidak harus memiliki. Kalau memang dia bukan permaisuriku, seharusnya aku tidak perlu bersedih. Seharusnya… aku ikut bahagia melihatnya bahagia bersama dengan orang yang dicintainya dan mencintainya dengan sepenuh hati."

"Baiklah, kau benar. Tapi tidak ada salahnya kan, mengagumi seorang teman dekat yang sudah bisa berpikir dengan bijak sepertimu?" balas Leon, "Setidaknya, sekarang kau sudah membuat keputusan yang tepat."

"Aku setuju," timpal Tooru, "Kau hebat, Akatsuki-kun. Hanya dalam tiga minggu saja, pendapatmu bisa berubah."

"Ini semua karena Okashiide datang dan meluruskan ketidakjelasan ramalannya tadi sore," Akatsuki menghela napas lega, "Sekarang, aku sudah tahu letak kesalahanku."

"Kau tahu? Kupikir Okashiide si peramal aneh itu tidak akan menjelaskan ramalannya lebih mendetail lagi padamu, tapi ternyata, dia datang dan meluruskan masalah ini," aku Tooru, "Untungnya dia menemuimu sebelum kau sempat melakukan hal yang tidak-tidak."

"Ya, aku memang harus berterima kasih padanya," Akatsuki mengangguk, "Saat ia mengatakannya padaku, aku agak kesal padanya, tapi… begitu aku memikirkan apa yang dikatakannya, aku harus mengakui bahwa aku… hampir saja melakukan kesalahan yang fatal, dan dia berusaha mencegahku supaya aku tidak melakukan kesalahan itu, yang mungkin saja bisa menghancurkan kehidupanku."

"Baiklah, sudah cukup bicara seriusnya. Bagaimana kalau sekarang, kita jemput Fujio-kun di perpustakaan lalu pergi makan malam di Burger Shop?" tawar Leon, "Dari sana, kita bisa pergi ke bar untuk minum-minum."

"Idemu bagus juga, Leon-kun," sahut Akatsuki, "Disaat seperti ini, aku memang butuh minum."

"Kalau begitu, ayo kita pergi!" ajak Tooru. Ketiganya pun bergegas keluar dari apartemen mereka.